Warning: fanfiction ini mengandung hal-hal sensitif yang (mungkin) bertentangan dengan hukum dan adat di Jepang. Tidak benar-benar sesuai dengan manga/anime aslinya. Hal-hal di dalamnya sekedar karangan untuk hiburan dan kebutuhan cerita.


Out of fate.

A fanfiction by ikanteri43kg.


Cinta Kotor.

Untuk kedua kalinya dalam kedua hidupnya, Ai Haibara jatuh cinta pada Shinichi Kudo.

Tidak seindah cinta pertama gadis-gadis seusianya, ia tidak jatuh cinta melalui pandangan mata ke mata di dalam kelas selama pelajaran berlangsung, atau malah bertabrakan di koridor sekolah dan tangan mereka bersentuhan tanpa sengaja. Di usianya yang ke delapan belas tahun, ia justru menjelma menjadi anak kecil, buronan organisasi mafia yang bersembunyi di bawah perlindungan korban dari racun buatannya, dan jatuh cinta di tengah jalan dengan ledakan bom, kobaran api, asap, bau mesiu, dan, darah. Itu bukan tempat yang tepat untuk orang menemukan sosok pria impian, Haibara tahu, dan ia juga tidak merasakan kupu-kupu memenuhi dadanya lalu tiba-tiba dunianya berubah indah begitu saja. Dadanya dipenuhi gelombang kejut kinetic saat itu, dan dunianya yang hitam hanya bertambah satu warna, warna merah dari sebuah pengorbanan.

Namun, Haibara juga diserang gelaja dimabuk cinta sama seperti yang lainnya. Mabuk itu begitu mirip dengan mabuk setelah menengguk habis sebotol sherry, membuatnya melayang-layang, membuatnya meninggalkan daratan dan bermimpi terlalu tinggi dan mulai meyakini cinta dan harapan, dan kehidupannya yang baru adalah kehidupan sebenarnya. Bukan hidup seorang wanita mantan organisasi mafia, bukan. Ia hanya Ai Haibara, sejak itu. Ia lupa.

Ia lupa kalau ia adalah Sherry dan Conan Edogawa adalah Shinichi Kudo karena beberapa tetes darah yang pemuda itu tumpahkan untuknya, dan mungkin juga karena sosoknya yang tampan, ditambah dengan kharisma di setiap senyumnya, cara berpikirnya yang cedas, dan kegigihannya dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Ia lupa bahwa seorang mantan penjahat tidak pantas bersanding dengan seorang pahlawan, dan semua pengorbanan Shinichi untuknya hanya bentuk kegiatan sosial, sekaligus jaminan agar bisa mendapatkan obat penawar. Ia lupa pemuda sehebat Shinichi telah ditakdirkan bersama seorang perempuan baik hati dan kuat, yang tidak akan pernah memilih bunuh diri sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah, atau diam menunggu bantuan setiap menghadapi bahaya, atau berlari dari kenyataan.

Ia lupa, dan masih dimabuk cinta, sehingga terus mengejarnya. Ia lupa, terus dimabuk cinta, dan tidak tahu malu karena merebut Shinichi Kudo dari wanita baik itu. Ia lupa, semakin dimabuk cinta, tidak lagi punya rasa malu, dan jatuh cinta untuk kedua kalinya pada Shinichi sampai membuatnya berani melawan takdir, yang semua itu ia lakukan seraya meraih dan menggenggam tangan Shinichi, lalu melangkah melewati orang-orang yang menentang cinta mereka berdua, termasuk istri sah dan mertua dari Shinichi sendiri, menuju pintu, menuju takdir yang baru, dan menanggalkan obsesinya sebagai orang baik seperti kakaknya untuk menebus dosa-dosa, serta membiarkan diri kembali menjadi penjahat dalam kisah kepahlawanan Shinichi Kudo, kekasih hatinya.

Ia jatuh cinta pertama kali dengan darah dan pengorbanan, dan jatuh cinta kembali dengan luka dan pengkhianatan.


Ai Haibara ingat setelah membuka mata. Pengadilan yang kini tengah berlangsung sedang mengadili Shinichi Kudo atas nama kode etik polisi karena perselingkuhan dan pelecehan seksual yang melibatkan dirinya. Para penuntut umum tidak punya ampun menuntut Shinichi dipenjarakan, menuduhnya melakukan pelecehan pada gadis di bawah umur, dan menggiring opini orang-orang mengenai hal-hal yang mereka percaya sudah paling benar mengenai pelaku yang memperdaya korban dengan memanfaatkan statusnya sebagai polisi. Haibara memperhatikan semua itu melalui tempat duduknya yang membelakangi pemirsa sidang, sekaligus menghadap lurus hakim ketua beserta dua hakim anggota di kanan dan kiri, di sebelah kirinya sendiri adalah meja para jaksa dan penuntut umum yang masih terus berbicara, sementara Shinichi menempati meja di sebelah kanannya bersama pengacara.

Gadis berambut pirang kemerahan itu menunduk menatap jari-jarinya yang bertahutan di atas pangkuan. Tersembunyi di balik meja dimana sebuah mik hitam berdiri, yang nanti bakal memperkeras suara kesaksiannya ke seluruh penjuru ruang pengadilan. Tanpa senyum ia kemudian menengok pengacara Shinichi, Matsuya Yagami, pria berambut hitam dengan setelan jas abu-abu nyaris putih tersebut berdiri setelah suara penuntut umum berhenti dan sosoknya mendudukan diri.

"Ai Haibara-san telah mencapai usia empat belas tahun dan akan menginjak usia lima belas tahun tahun ini, dan menurut undang-undang tahun 1907, Haibara-san telah memiliki hak atas dirinya sendiri. Haibara-san juga merupakan siswi yang cerdas. Hasil dari tes IQ dan EQ Haibara-san di atas rata-rata. Haibara-san sepenuhnya sadar akan hubungannya dengan Kudo-san, tidak ada penipuan maupun pemaksaan." Matsuya menjelaskan penuh keyakinan. "Mohon persilahkan Haibara-san untuk bersaksi."

"Dipersilahkan." Ketua hakim meresponnya dengan segera.

Haibara mengangkat wajahnya lurus-lurus, tidak sekalipun matanya berkedip. Ia mengarahkan kepala mik ke dekat mulut setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan hasilnya diam-diam, dan berkata tenang, "Tidak ada penipuan maupun pemaksaan. Saya sepenuhnya sadar, dan kami menjalin hubungan karena saling mencintai."

"Mohon izinkan saya mengajukan pertanyaan, Yang Mulia." Suara milik penuntut umum yang menjadi familiar baginya sejak satu jam yang lalu itu menambahkan, dan hakim ketua segera mempersilahkan. "Haibara-san, apakah Anda dan Kudo-san sudah berhubungan intim?"

Pertanyaan tanpa basa-basi itu membuat Haibara diam untuk waktu yang cukup lama. Tanpa menengok, ia bisa merasakan semua tatapan menujunya saat ini, menunggu sebuah jawaban yang paling membuat mereka penasaran.

"Belum." Pada akhirnya ia menjawab setelah hampir setengah menit berlalu.

"Apakah Anda memiliki data visum sebagai bukti atas kesaksian Anda?" Penuntut umum itu langsung menimpali.

"Tidak. Saya menolak melakukannya." Kali ini tidak perlu waktu lama baginya untuk menjawab.

"Apakah Anda menolak melakukan visum karena keinginan Anda sendiri atau ada orang lain yang memaksa atau menyarankan hal itu?" Pertanyaan yang masih diajukan oleh orang yang sama itu kini terdengar lebih agresif, dan karenanya Haibara menengok, mempertemukan pandangan mereka yang sama-sama dipenuhi tekad dan keyakinan. "Anda berada di sini untuk menjadi saksi bagi Kudo-san, bukankah akan lebih menguntungkan jika Anda melakukan visum untuk benar-benar membuktikan bahwa kalian belum pernah berhubungan intim? Tapi kenapa Anda malah menolak?"

"Saya keberatan, Yang Mulia." Matsuya dengan segera berkata, seraya berdiri meninggalkan kursinya. "Pertanyaan penuntut umum bersifat menggiring dan memojokan saksi."

Hakim ketua tidak langsung menjawab, melainkan berdiskusi dengan kedua hakim di kanan dan kirinya. Haibara menunggu seraya menatap ke arah mereka, sampai akhirnya keheningan ruang sidang digantikan oleh sosok paruh baya yang merupakan orang paling berwenang itu sendiri.

"Keberatan diterima." Katanya dengan berwibawa. "Pertanyaan yang bersifat menggiring tidak diizinkan, mohon Penuntut Umum untuk membatasi pertanyaan. Untuk saksi, dipersilahkan menjawab hanya untuk pertanyaan pertama."

Haibara mengangguk samar menanggapinya, sementara Matsuya dan Penuntut umum itu mendudukan diri secara bersamaan.

"Tidak ada yang memaksa, semua itu keinginan saya sendiri." Ia berkata dengan tenang sama seperti sebelumnya, namun menambahkan seraya melirik meja jaksa sekilas, "Saya memiliki hak atas tubuh saya sendiri dan saya menggunakan hak itu untuk menolak. Alasannya sederhana, saya adalah gadis yang polos dan pemalu, saya merasa keberatan jika melakukan pemeriksaan yang mengharuskan saya membuka baju apalagi membiarkan orang lain menyentuh saya pada bagian tertentu. Selain itu, menurut saya melakukan visum tidak akan membantu."

Haibara seakan-akan bisa melihat seringaian geli Shinichi melalui sudut matanya saat ia kembali meluruskan pandangan pada hakim, bersamaan itu ia juga melihat hakim ketua berserta hakim anggota di depannya menatap heran, meski tidak juga mengintruksi. Mungkin mereka sebenarnya sedang menunggu waktu yang tepat sehingga tidak terkesan menyela, namun kesempatan itu justru Haibara pergunakan untuk terus bicara.

"Wanita yang sudah pernah berhubungan intim ataupun belum, tidak bisa dibedakan hanya dari karakteristik fisik organ intimnya semata, seperti utuh atau tidaknya selaput darah. Tidak menutup kemungkinan juga wanita yang belum pernah berhubungan, selaput darahnya sudah robek atau tidak terdapat sama sekali sejak lahir, misalnya karena variasi genetik, karena cidera, karena efek samping prosedur medis, dan ototnya tidak kencang, misalnya karena kurang olah raga, atau karena pengaruh hormon. Pada akhirnya, data dari visum juga akan sia-sia meski saya melakukannya." Ia berhenti sekedar untuk memberi waktu agar orang-orang bisa mencerna perkataannya, dan setelah lima detik, menuruskan, "Terlebih lagi saya masih empat belas tahun, dan saya yakin orang-orang juga percaya bahwa remaja seusia saya belum memiliki pemikiran sejauh itu. Remaja seusia saya percaya bahwa sebuah hubungan hanya dibangun dengan cinta dan perhatian, bukan yang lain. Saya juga merasa yakin bahwa semua orang tahu Shinichi Kudo adalah polisi yang sangat menjunjung tinggi keadilan selama ini, yang tidak mungkin akan melewati batasan hukum. Itulah alasan mengapa saya juga tidak melakukan visum sebagai saksi. Meski harus saya akui, saya cukup heran setelah tahu ada pihak-pihak yang memiliki pemikiran bahwa hubungan kami yang murni karena cinta, dikait-kaitkan dengan hubungan seksualitas."

Ruang sidang itu kemudian senyap pada bagian tempat duduk pesertanya, kontras dari tempat duduk pemirsa yang mulai dipenuhi bisik-bisik halus yang tidak dapat Haibara dengar dengan jelas. Para jaksa dan penuntut umum sepertinya kehilangan kata-kata sekaligus kehilangan muka, sedangkan Shinichi dan pengacaranya tersenyum puas.

"Saksi dimohon untuk menjawab hanya dengan jawaban yang diperlukan." Hakim ketua akhirnya memberikan teguran padanya.

Dengan masih meluruskan ekspresi, Haibara mengangguk pelan. Sebenarnya, ia pun tahu dimana batasnya, namun semua itu ia katakan bukan sebagai saksi, tapi sebagai sosok gadis yang para jaksa pikir adalah korban, agar mereka tahu bahwa Ai Haibara bukan anak kecil yang sedang diperdaya dan butuh bantuan.

"Ada pertanyaan lain dari pihak penuntut umum?"

"Tidak, Yang Mulia." Pria yang mewakili kepolian itu menjawab singkat.

"Saksi dipersilahkan meninggalkan tempat." Kata hakim ketua setelahnya.

Mendengarnya, Haibara segera berdiri dan membungkuk hormat. Ia lalu berjalan ke arah meja Shinichi dan duduk di sebelah kursi pria itu. Masih menyertakan seringaian di senyum puasnya, Shinichi terus menatap Haibara.

"Izinkan saya memanggil saksi terakhir dari pihak kepolisian, Yang Mulia."

"Dipersilahkan."

"Istri dari Shinichi Kudo, Ran Kudo-san."

Dan, menit berikutnya, ruang sidang kembali senyap, bahkan lebih senyap dari sebelum-sebekumnya, ketika sosok wanita yang baru saja meninggalkan salah satu kursi dari tempat para pemirsa, melangkah menuju tempat duduk yang baru saja ditinggalkan Haibara. Wanita yang merupakan istri sah Shinichi itu, kini duduk di depan hakim, menatap lurus dan yakin, tanpa menengok ke arah Haibara, maupun Shinichi sendiri. Wanita itu disumpah, dan diperingatkan untuk hanya mengatakan hal-hal yang sebenarnya. Ai Haibara merenggut salah satu tangan Shinichi dari balik meja selama memperhatikan, meremasnya kuat dan memberinya kekuatan. Kemudian, Shinichi meremasnya balik seolah mengatakan, mereka siap menghadapi apapun, bersama-sama.

"Kudo-san, apakah Anda secara langsung, maupun secara tidak langsung, mengetahui sejauh apa hubungan suami Anda dengan Haibara-san?"

Detik-detik itu terasa panjang, dan tanpa sadar Haibara menahan napas sebelum Ran menjawab pelan.

"Tidak."

Dari posisinya yang menghadap lurus penuntut umum yang masih berdiri di belakang mejanya itu, Haibara dapat melihat dengan jelas bahwa jawaban barusan membuat pria tersebut sedikit terkejut. Sosoknya yang tinggi dan gagah terdiam seraya mengulum bibir, menarik garis lurus nyaris melengkung ke bawah, terlihat tidak senang.

"Apakah selama ini suami Anda masih melaksakan kewajibannya sebagai seorang suami? Baik sacara material maupun moral?"

Ran kembali mengambil waktu cukup lama untuk menjawab pertanyaan penuntut umum itu. Setengah keyakinan Haibara tahu apa yang akan istri Shinichi jawab. Dan keyakinannya terbukti tidak sampai satu menit kemudian.

"Masih."

Pandangan Haibara meredup. Di sampingnya, Shinichi justru terkesiap. Haibara sudah tahu. Ia tahu Ran begitu mencintai Shinichi Kudo dan akan berusaha keras mempertahankan rumah tangganya. Akan tetapi melihatnya sampai berbohong demi Shinichi, seperti apa yang juga ia lakukan tadi, membuatnya merasa iba. Ran Kudo tidak hanya sedang berusaha melindungi suaminya, namun juga berusaha mendapatkan kembali cinta pria itu.

"Apakah suami Anda, pernah melakukan tindak kekerasan pada Anda? Baik sebelum, maupun setelah suami Anda menjalin hubungan perselingkuhan dengan Haibara-san?"

Ran lagi-lagi terdiam. Kali ini kepalanya bahkan menunduk dan membiarkan satu menit berlalu dalam keheningan. Haibara mencuri pandangan ke arah Shinichi selagi menunggu. Ia tidak berpikir pria itu pernah melakukan kekerasan pada seorang wanita, apa lagi pada Ran, karena pada Haibara yang keras kepala sekali pun, Shinichi dapat menahan diri. Akan tetapi tatapan mata pria itu saat ini menggelap dan tekun, membuatnya memiliki berprasangka berbeda.

"Kudo-san?" Panggilan penuntut umum itu melanjutkan pertanyaan yang belum terjawab, sekaligus memecah keheningan dan menarik kembali perhatian Haibara.

Ia menemukan Ran masih tidak bergerak, masih tertunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah dan tatapan matanya dari semua orang. Pada detik-detik itu Haibara mengendurkan genggamannya pada tangan Shinichi, nyaris melepaskannya andai Ran tidak lebih dulu bicara.

"Tidak pernah."

Medengarnya, benar-benar membuat Haibara merasa lega.

"Tidak ada lagi yang ingin saya tanyakan, Yang Mulia." Suara penuntut umum itu berubah lemah seperti menyerah, lalu sosok pemiliknya mengambil duduk dan langsung menunduk. Haibara tahu, biasanya para jaksa dan penuntut umum menghadirkan saksi yang hanya mereka yakin akan menguntungkan saja, seperti halnya saksi yang dikirim dari pihak Kenji di awal persidangan. Mungkin... mungkin saja, Ran telah mengganti semua kesaksian pada detik-detik terakhir untuk memenangkan simpati Shinichi.

"Saksi dipersilahkan meninggalkan tempat."

Ran berdiri dari duduknya satu detik setelah intruksi dari hakim ketua tersebut. Dengan melangkah pelan, wanita itu menengok ke tempat mereka, menatap Shinichi. Haibara merasa tidak sanggup melihat tatapannya yang dipenuhi luka, karena ia pernah berada di posisi itu, dulu, sewaktu Shinichi hanya melihat pada Ran tanpa melihat perasaannya, sehingga ia menundukan kepala, lalu menemukan tangannya yang digenggam Shinichi secara erat.

"Menimbang keterangan para saksi dan melihat minimnya bukti..."

Sebuah perasaan meletup-letup di dalam dadanya saat ini, tidak tahu malu dimabuk cinta pada saat seseorang terluka. Genggaman tangan Shinichi membuktikan bahwa Haibara adalah yang paling berharga, yang paling dicinta, yang akan selalu dilindunginya dengan pertaruhan nyawa. Genggaman tangan itu terus menariknya, mengajaknya memasuki babak takdir yang baru, menjajikan sebuah kebahagiaan beserta seorang pasangan hidup.

"... sidang memutuskan..."

Ia memutuskan untuk melupakan apa yang benar, dan kembali mengeratkan genggaman tangan mereka.

"... membebaskan Shinichi Kudo dari tuntutan denda dan tuntutan penjara yang diajukan oleh para jaksa..."

Kemudian, menegakan kepala.

"... dan memerintahkan penyelidikan ulang pelanggaran kode etik polisi yang Shinichi Kudo lakukan, sampai dua puluh tiga april dua ribu sembilan belas."

Duk.


Sebulan berlalu bagai membuka lipatan tangan, dan ketika Haibara mendongak wajah Shinichi yang lelah seraya menghitung tiga puluh hari ke belakang yang penuh hal-hal mengejutkan, ia masih serasa tidak percaya.

Keduanya memilih singgah di restoran bersama Matsuya Yagami setelah sidang sebagai tanda terima kasih pada pengacara muda itu. Dan satu fakta yang baru Haibara tahu, bahwa Matsuya adalah seseorang yang pernah Shinichi selamatkan dari kasus penculikan bersama adik perempuannya, yang kini juga sedang berada di satu set meja yang sama dengan mereka. Perempuan itu masih mengenakan seragam SMA. Hanya sedikit perbedaanya dengan Matsuya. Keduanya duduk berdekatan di depan Haibara dan Shinichi, di seberang meja.

"Sepertinya sekarang saya mengerti mengapa Kudo-san bisa jatuh cinta pada Anda." Kata Matsuya dengan menatapnya. "Anda adalah gadis yang sangat cerdas. Anda juga bersikap sangat tenang di pengadilan tadi. Saya hampir tidak percaya Anda dua tahun lebih muda dari Makiko-chan."

Haibara tersenyum formal, menatap Makiko Yagami sejenak sebelum kembali membalas tatapan kakak gadis itu. Salah satu tanganya memegang sumpit dan tangan lainnya menaruh piring berisi daging panggang yang baru saja ia ambil dari panggangan, ke meja di depan Shinichi. Kekasihnya itu terlihat benar-benar lelah sehingga ia merasa perlu sedikit memperhatikan kesehatannya.

"Anda pun sangat cerdas Yagami-san. Terima kasih banyak sudah membantu kami." Balasnya setelah meletakan sumpit di depannya sendiri.

"Bagaimana dengan sekolah Anda, apa Anda tidak akan melanjutkannya?"

Untuk kali ini Haibara sedikit terkesiap. Ia bukan mengharapkan kembali bersekolah, sebenarnya. Namun pertanyaan itu mengingatkannya pada kehidupannya yang baru sebagai Ai Haibara, yang telah ia korbankan untuk membantu Shinichi keluar dari masalah hukum.

"Haibara akan meneruskan sekolah setelah aku menyelesaikan semua permasalahan." Shinichi tiba-tiba membuka suara, menyela pembicaraan mereka seraya ganti meraih piring Haibara dan mengisinya. "Kami baru bisa menikah setelah dia genap enam belas tahun, jadi dia masih punya waktu untuk menamatkan SMP."

Perkataan itu diselesaikan bersamaan dengan pemiliknya menyerahkan piring yang sudah berisi potongan daging panggang ke pada Haibara, dan Haibara menerimanya seraya berpikir. Itu bukan ide yang bagus menurutnya. Tujuannya bersekolah selama ini juga bukan untuk mencari ilmu, melainkan untuk menjalani hidup normal seperti anak-anak lainnya. Dan dengan statusnya sekarang, kehidupan normal impiannya itu tidak mungkin akan terjadi.

"Apa Anda tidak ingin meneruskan ke SMA, Haibara-san?" Kali ini Makiko yang bertanya.

Terlebih dulu Haibara meletakan piring dari Shinichi ke meja, lalu menarik napas panjang diam-diam. Meski enggan membahas permasalahan ini di depan orang lain, tetapi ia tetap harus menjawab agar mereka berhenti.

"Saya belum memikirkan hal itu, saya akan menunggu seraya melihat situasinya." Katanya dengan suara berubah datar, sekaligus meluruskan senyuman.

Yagami bungsu itu sepertinya telah paham bahwa pembahasan mereka cukup pribadi sehingga gadis tersebut tidak bertanya lebih lanjut. Haibara kemudian menengok Shinichi yang lagi-lagi terdiam seperti memikirkan sesuatu, dan itu benar-benar membuatnya penasaran. Seraya menyentuh pundak lelaki itu, ia akhirnya melontarkan pertanyaan.

"Kau tidak napsu makan, Kudo?"

"Oh, tidak." Shinichi terkesiap sebelum mempertemukan pandangan mereka. "Aku hanya sedikit lelah."

"Anda bisa beristirahat di rumah saya sambil menunggu penerbangan ke Osaka, Kudo-san." Sela Matsuya, dengan cepat menarik perhatian Shinichi dan Haibara. "Saya akan merasa senang jika dapat membantu lebih banyak."

"Terima kasih, aku menghargainya. Tapi aku sudah memiliki satu kamar di hotel ini, dan Haibara akan bersamaku." Jawab Shinichi yang lagi-lagi memutuskan sesuatu tanpa persetujuan Haibara, sesuatu yang kembali dirasa gadis itu bukan ide yang bagus, dan ia juga harus menahan diri kali ini.

Dengan melepaskan tangannya dari Shinichi, Haibara menegakan duduk dan menghadap meja. Ia tidak kembali meraih sumpit untuk memulai makan siang seperti yang lainnya, melainkan terdiam, menahan diri untuk tidak menarik napas panjang, lagi. Ia menyadari terlalu sering melakukannya, khususnya satu bulan terakhir ini. Satu bulan yang merubah seluruh hidupnya, dan juga Shinichi. Banyaknya masalah sepertinya telah membuat mereka berdua menjadi gampang emosi.

Saat Haibara melirik di menit kedua masih dengan memikirkan semua, ia menemukan Shinichi mengunyah makanan seperti tidak bernapsu. Ada sesuatu, yang sangat mengganggu kekasihnya, ia tahu.

Ia akhirnya meraih juga sumpitnya setelah itu, memutuskan untuk memulai makan siang agar ia bisa segera menyelesaikannya sehingga dapat meninggalkan meja, lalu dapat menanyai Shinichi secepatnya. Haibara hanya makan sedikit karena dengan cepat kehilangan napsu. Shinichi pun tidak jauh berbeda, di atas piring pria itu makanannya hanya setengah habis. Meletakan sumpit dan menyudahi makan siangnya, ia kemudian menatap Matsuya.

"Yagami-san, kalau tidak keberatan, kami akan pergi sekarang, Kudo sepertinya kurang enak badan." Katanya, pria muda itu pun menatapnya.

"Silahkan, saya akan menyelesaikan makan bersama Makiko-chan." Ia membalas tanpa sangsi maupun memiliki gambaran penasaran di wajahnya, seperti halnya Shinichi yang juga langsung meletakan alat makan, kelihatan sepaham.

Haibara berdiri mendahului Shinichi. Setelah ia menyempatkan diri memberi salam pada Matsuya dan Makiko, ia berjalan meninggalkan restoran dengan diikuti kekasihnya. Mereka pergi ke lift yang kemudian mengantarkan mereka ke lantai atas pada Hotel dan Restoran mewah ini, kemudian berhenti di depan salah satu ruang dan berjalan. Shinichi mendahului Haibara saat itu seraya merogoh kunci kamar dari dalam saku, berhenti di depan sebuah pintu lalu membukanya, mereka berdua masuk ke dalam kamar secara beriringan.

Segera setelah menutup pintu, Haibara meraih kedua sisi wajah kekasihnya, dan bertanya pelan, "Ada apa, Kudo? Ada yang menganggu pikiranmu?"

Tidak seperti Shinichi biasanya, pria itu malah memalingkan wajah dan melepaskan diri dari Haibara. Sosoknya yang tinggi dan terlihat lesu kemudian berjalan ke ranjang dan duduk di sana. Haibara mengikutinya, kembali meraihnya, meraih kedua belah pundaknya kali ini.

"Bukan apa-apa." Jawaban ambigu Shinichi membuat Haibara tertegun sesaat.

"Kenapa kau selalu merahasiakan sesuatu dariku, Kudo?" Ia menambahkan pertanyaan baru. "Kita berjuang sejauh ini bersama-sama, tapi kau tetap menyimpan segala masalahmu sendiri. Apakah yang kita jalani ini benar sebuah hubungan asmara, atau hanya hubungan seksual seperti yang orang-orang itu pikirkan?"

Shinichi mengenggam tanganya balik, lalu mendongak mempertemukan pandangan.

"Kalau kau berpikir seperti itu, kenapa kau juga tidak membagi masalahmu padaku?"

"Aku tidak punya masalah."

Perkataan itu langsung disambut tatapan dingin pendengarnya, sekaligus cengkraman kuat pada pergelangan tangannya, dari Shinichi. Tepat saat itu, Haibara menyadari tidak akan lama lagi mereka akan berdebat seperti biasa. Ia segera mengalihkan lengannya untuk bergerak merengkuh pria itu ke dalam pelukan, menenggalamkan wajahnya di dada.

"Bukankah kita ini seperti api dan bom?" Ia mengatakannya dengan sabar. "Aku bisa membuatmu meledak, dan kau bisa membuat apiku berkobar semakin besar. Hanya jika aku bisa menahan diri, kita berdua tidak akan menyakiti siapapun. Bukan aku, kaulah bom itu, Kudo. Kau yang harus melepaskan masalahmu, sementara aku harus menahannya."

"Kau terbakar, Haibara." Shinichi membalas perkataan dan juga pelukannya. "Padamkan apimu lebih dulu."

Mata Haibara terpejam, lalu terbuka dalam menit yang sama seraya menghela napas di belakang mata Shinichi, diam-diam. Shinichi jelas tidak begitu saja bercerita, pria itu sangat keras kepala. Ia merasakan wajahnya terbenam lebih dalam, seolah-olah mencari kenyamanan. Haibara mencoba bersabar seraya menahan api di dalam dadanya, sehingga tidak menyulut bom dalam pelukannya ini.

"Aku berpikir, untuk tidak melanjutkan sekolah." Haibara membuka suara perlahan. Ia menyadari, harus ada salah satu dari mereka yang memulai. "Tidak ada gunanya bagiku untuk meneruskan hidup sebagai anak-anak..."

Haibara menghentikan diri sendiri dan mencengkeram bagian belakang jas Shinichi. Ia seolah memerlukan sebuah pegangan yang dapat menahan keputusannya untuk tetap berada di satu titik. Kembali menjadi sosok penjahat dalam cerita cinta seseorang bukan pekara mudah setelah bertahun-tahun ia berusaha menjadi seorang pahlawan. Ia bahkan mengorbakan cinta berserta pria yang ia cinta untuk mewujudkan obsesinya itu.

"... karena aku sudah memutuskan untuk hidup bersamamu." Ia melanjutkan dengan suara nyaris berbisik. "Aku ingin menebus tahun-tahun yang sudah kau korbankan, dengan berada disisimu setiap waktu."

"Kau tidak akan lari meski keadaannya akan lebih sulit dari sekarang?" Suara Shinichi sama pelannya, namun lebih kuat dan penuh penekanan.

"Tidak akan. Aku tidak akan lari lagi. Aku mencintaimu lebih dari yang aku duga sebelumnya." Haibara dapat sedikit menarik senyuman saat ini, ia mengingat bagaimana Shinichi datang di saat ia benar-benar dipojokan oleh Sonoko dan Ran, beserta kedua orang tua dari wanita (istri Shinichi) itu.

"Kalau begitu, lakukan apa yang ingin kau lakukan." Terdengar tarikan napas halus dari pria itu setelah menyelesaikan kalimat barusan.

"Bagaimana denganmu?" Haibara menuntut, sedikit tidak sabar. "Apa yang membuatmu terganggu?"

"Ran." Nama yang Shinichi sebutkan membuat Haibara terkejut. Ia nyaris menarik diri seketika andai suara pria itu tidak meneruskan dengan cepat. "Dia tidak akan menceraikanku, aku tahu itu setelah melihatnya di pengadilan. Dan jika kami tidak segera bercerai, orang-orang itu akan terus punya alasan untuk mengganggumu."

Haibara tidak dapat menemukan balasan di dalam otaknya mendengar semua itu. Ia terdiam dalam kebimbangan. Bahkan setelah memutuskan untuk menjalani takdir yang Shinichi pilihkan untuknya, ia tidak berpikir untuk memiliki pria ini seorang diri. Yang Haibara inginkan sebenarnya, hanya berada di dekat Shinichi selamanya, tidak perduli jika ia harus berbagi.

"Media mulai memberitakannya besar-besaran, dan identitasmu juga tersebar di internet."

Kali ini, Haibara benar-benar menarik diri sampai pelukan mereka terpisah. Ditatapnya mata Shinichi yang redup dengan tatapan terkejut.

"Semuanya akan semakin sulit bagimu, Haibara, dan semakin sulit bagiku untuk mempertahankanmu tanpa membuatmu terluka." Lanjut Shinichi dengan suara sendu.

Seketika itu, Haibara merasakan getir pada lidahnya. Ia menelan ludah selagi berusaha mengumpulkan kata-kata.

"... aku bisa menahan semuanya asal aku bersamamu."

"Sebenarnya, ada satu cara untuk menghentikan semua ini." Perkataan Shinichi yang familiar ini membuatnya menahan napas.

Shinichi kemudian menggenggam tangannya. Saat Haibara mengikuti tarikannya, Haibara berakhir di atas pangkuan lelaki itu bersama sebuah pelukan yang tidak terlalu erat. Sembari mata biru samudranya sendiri menatap mata biru langit Shinichi yang semakin dekat, pemikirannya mulai menebak cara gila apa lagi yang akan kekasihnya gunakan. Sejauh ini, cara-cara Shinichi sangat brutal dan penuh dengan pengorbanan.

"Izinkan aku mengajukan perceraian lebih dulu." Bisikan itu, adalah bisikan permohonan dan rayuan melalui sebuah ciuman lembut di bibir Haibara. Shinichi berlaku pintar dengan merobek pelan-pelan sisa-sisa nurani yang berusaha gadis itu simpan, menceriaberaikannya, agar dapat menceraikan istrinya.

Mabuk Haibara belum terlalu tinggi di atas logika yang membatasi hati dan nurani. Ia tidak menahan diri atas nama kebenaran atau kepercayaan pada takdir yang mengikat Shinichi dan Ran. Tidak, tidak lagi. Ia sudah menjadi penjahat yang menghancurkan takdir itu. Yang menahannya hanya satu, yaitu harga sebuah keluarga.

"Bagaimana dengan anakmu?" Ia menahan leher Shinichi untuk menjaga jarak mereka. Anehnya, sekarang ini leher Haibara yang terasa tercekik.

"Aku akan melawan Ran beserta keluarganya di pengadilan untuk mendapatkan hak asuh Ichigo."

Berdenging, sekujur tubuh Haibara merinding. Mungkin bukan dirinya yang akan kembali duduk di depan meja hijau hakim, akan tetapi, lagi-lagi ia adalah alasan yang membuat Shinichi harus bertarung dalam pengadilan. Shinichi Kudo adalah seorang pahlawan sebelum memilih Ai Haibara sebagai pendamping, yang ironisnya kini terus terjerat masalah hukum.

"Tapi persidanganmu melawan kasus pemerasan belum selesai, Kudo. Seandainya orang-orang masih menentang kembalinya statusmu sebagai polisi, kau juga akan menjalani sidang kode etik lagi bulan depan." Haibara menggunakan seluruh tenaganya yang hampir tidak tersisa untuk menyelesaikan semua itu.

"Aku akan baik-baik saja, selama aku bersamamu." Pekataan Shinichi membungkam Haibara kembali.

Seharusnya sejak awal ia tahu, dengan memulai semuanya lebih dulu, pria cerdik itu akan mengakhirinya sama persis menggunakan cara Haibara. Sekarang ia tidak dapat membantah karena Shinichi menyetarakan posisi mereka. Haibara seolah-olah berdiri di tempat pria itu, menghadapi masalahnya, dan merasa berani melawan karena memiliki seseorang yang dicintai bersamanya.

"Lakukan apa yang mau kau lakukan." Haibara berkata, pelan suaranya.

Pada akhirnya, ia terus terjebak di dalam kegilaan kekasihnya. Tapi ia tidak menyesal, karena setidaknya Shinichi tersenyum setelah itu. Setelah itu Haibara melepaskan pertahanannya, membiarkan Shinichi kembali menghapus jarak di antara mereka, mencumbunya dan membisikan kata-kata cinta sebagai hadiah karena telah memberikan kebebasan pada pria itu untuk melakukan apapun.

"Aku ingin melihat kepolosan dan kemaluanmu." Shinichi terkikik, dan Haibara tersindir sedikit.

"Ecchi."


Murid-murid SMP Teitan berhamburan keluar dan Haibara menyelip di antara mereka. Ia terlihat berbeda bukan hanya karena kemeja kasual berwarna soft-pink yang dikenakannya dengan paduan celana panjang berwarna putih, ekspresinya yang lebih dewasa dan tinggi tubuhnya yang di atas rata-rata siswi SMP juga membuatnya mencolok. Bagian koridor sekolah itu semakin sepi seiring langkah Haibara semakin jauh menyusurinya, melewati tangga, berjarak dua kelas, hampir di tengah-tengah bangunan pada lantai dua. Haibara berhenti dan menatap ke dalam salah satu kelas, kelasnya. Berbeda dari sebagian kelas lain yang rata-rata sudah ditinggalkan murid, kelas itu masih berisi satu siswi dan dua siswa. Ketiganya berdiri di sebelah jendela seraya menghadap arah berlainan, dua di antaranya berhadapan, sementara salah satunya memunggungi Haibara.

"Haibara-san seharusnya di Beika seka—"

"Ai-chan!" Suara Ayumi Yoshida memotong perkataan Mitsuhiko Tsuburaya, membuat pemuda jangkung itu menengok, diikuti Genta Kojima yang berbalik badan menghadapnya. Ayumi berdiri tegak dari sandarannya di meja dan berlari, menyergapnya dengan pelukan tiba-tiba yang kuat dan hangat.

Haibara menarik senyuman seraya membalas pelukan itu.

"Apa kau merindukanku, Yoshida-san?" Ia berkata lembut, namun tipe suaranya yang dalam membuatnya terdengar kurang meyakinkan.

"Aku sangat merindukanmu!" Jawab Ayumi setengah berseru.

Mitsuhiko dan Genta berjalan mendekatinya saat itu. Haibara melepaskan Ayumi untuk menatap balik kedua pemuda yang menatapnya dengan setengah terharu. Ia pun, merasa rindu.

"Haibara-san, kau baik-baik saja?" Pemuda yang paling tinggi di antara mereka itu bertanya.

"Ne, aku baik-baik saja." Ucapnya seraya menatap Mistuhiko, lalu membalas tatapan Genta dengan menarik senyuman lebih tinggi. "Apa kau juga merindukanku, Kojima-kun?"

"Tentu saja tidak!" Pemuda yang dulunya tambun yang kini telah berubah gagah dan tinggi itu menjawab dengan bentakan, namun tidak dapat menyembunyikan tatapan matanya.

"Aku tahu kalian pasti sangat mengkhawatirkanku, maka dari itu aku ingin menemui kalian untuk yang terakhir kali." Haibara pun tidak dapat menyembunyikan tatapan matanya yang berubah sedih, maupun sekedar menjaga garis bibirnya agar tetap melengkung tinggi.

Ia kemudian melihat ketiga temannya itu bergantian, membiarkan senyumnya hilang perlahan-lahan. Pertemanan tidak dibatasi usia maupun memandang intelegensi, bahkan bagi Ai Haibara sendiri. Mereka bertiga bagai keluarganya, yang selalu menemani dan menjaganya.

"Ai-chan, apa kau akan pindah sekolah?" Suara Ayumi kembali terdengar.

Haibara terlebih dulu menatapnya sebelum menjawab, "Aku akan pindah ke luar kota."

"Kenapa?" Tanya gadis itu lagi.

Mendengar dan melihat kekhawatiran pada Ayumi, Haibara mencoba kembali membuat senyuman.

"Aku akan tinggal bersama Kudo." Ia yakin sudah menjawab dengan cukup pelan, namun ternyata hal itu tidak cukup untuk mencegah teman-temannya dari keterkejutan.

"Haibara-san, kau dan Kudo-san benar-benar..." Perkataan Mistuhiko tidak berlanjut, seperti tidak sanggup.

"Maafkan aku." Haibara merasa telah membuat mereka kecewa dan perlu meminta maaf akan hal itu. Ia juga tidak sanggup menatap salah satu dari mereka tepat di mata. Tidak menunduk, pandangannya yang tegak lurus hanya kamuflase belaka. "Aku bukan gadis baik-baik seperti yang selama ini kalian pikirkan."

"Tidak, Ai-chan!" Ayumi menyentaknya dengan suara berserta tarikan tangan di lengannya. "Kau gadis baik-baik, aku tahu itu! Kau selalu menjaga dirimu dan menjagaku! Kau bahkan terus mengingatkanku untuk tidak terjebak oleh laki-laki! Pasti, pasti... pasti Kudo-san yang telah menjebakmu!"

Hati Haibara terasa ditusuk pisau dengan beringas mendengar hal itu. Tanpa sadar senyum terhapus dari wajahnya.

"Benar! Aku akan menghajar paman mesum itu demi melindungimu!"

"Tidak..." Selanya bernada lemah, menghentikan seruan marah Genta. "Tidak seperti itu. Ada hal-hal yang tidak bisa aku beri tahu pada kalian tentang hubungan kami, akan tetapi, aku pastikan Kudo tidak bersalah dalam hal ini."

"Tapi..." Ayumi bergumam. Haibara menemukannya menunduk dalam-dalam saat mengarahkan padangan ke arah gadis itu. "... kau bukan gadis seperti itu."

"Jika kau percaya padaku," ia meraih tangan Ayumi yang hampir melepaskannya. "... tetaplah berpikir seperti itu, Yoshida-san. Karena hanya kau satu-satunya temanku yang paling mengerti diriku selama ini."

Gadis yang lebih pendek dari Haibara itu mendongak menatapnya tepat di mata, terdiam cukup lama sebelum mengangguk dengan kuat. Segera, Haibara bergerak memeluk Ayumi. Setidaknya ada satu orang yang mempercayainya, dan itu benar-benar cukup bagi Haibara sekarang.

"Aku juga percaya padamu." Saat itu Mistuhiko menambahkan.

"Terima kasih." Ia mengucapkan setelah melepaskan Ayumi.

"Pokoknya, kalau ketemu akan aku hajar paman itu!"

"Kudo bisa bela diri dan menggunakan senjata api, Kojima-kun." Balasan Haibara sukses membuat Genta meneteskan setitik keringat dari kepalanya, dan melihat hal itu, Ayumi dan Mistuhiko tertawa.

"Aku tidak takut!" Sahut pemuda yang tingginya sama dengan Haibara tersebut.

Haibara ikut tertawa, meski kecil, setelahnya. Namun di dalam hatinya ia benar-benar merasa lega. Mungkin, mereka jugalah yang membuatnya merasa berat memilih Shinichi pada awalnya.

"Terima kasih, aku tidak akan melupakan kalian." Perkataannya dengan cepat merubah tawa semua orang menjadi kesedihan.

Kali ini, ia membiarkan, karena kesedihan mereka memang seharusnya dicurahkan selagi waktu masih mengizinkan mereka bertemu. Haibara kembali dipeluk oleh Ayumi setelah itu, sementara Mitsuhiko menahan air mata selagi mengusap punggung Ayumi yang mulai menangis, dan Genta menepuk punggung Haibara dengan pelan sebagai dukungan.

Gambaran mereka sangat berharga di bawah cahaya senja yang menyorot melalui jendela. Ingin rasanya Haibara mengenang saat-saat ini, selamanya.


"Aku membawa surat percerian untukmu."

Percerian. Simbol dari runtuhnya rumah tangga secara sah. Berada dalam penderitaan menahan rasa sakit hati dari pengkhianatan dan perlakuan kasar Shinichi, Ran tidak perduli. Ia bercermin dari orang tuanya yang sempat berpisah dan kini telah kembali bersama. Harapan di dalam hatinya terus membuatnya kuat dan bertahan. Ada anak mereka. Banyak kenangan indah. Dan penantian panjangnya sebelum mereka akhirnya menikah.

Sesekali Ran ingin menyerah. Tapi cintanya juga sekuat harapan. Ai Haibara tidak benar-benar mencintai Shinichi, tidak sebesar ia mencintai suaminya itu, ia hanya perlu bersabar sedikit lagi. Banyak kesempatan selama ia menunjukan bahwa ialah wanita yang selalu ada untuk Shinichi. Banyak orang yang akan membantu dan mendukungnya karena ia berada di jalan yang benar. Ran juga telah mengorbankan harga dirinya di pengadilan dengan memberikan semua kesaksian palsu itu. Kini, yang diperlukannya hanya menunggu.

Shinichi Kudo, pasti akan kembali setelah menyadari kesalahannya. Haibara mungkin akan menyerah setelah melihat sekeras apa masyarakat menentang perselingkuhan. Kedua orang tuanya dan kedua orang tua Shinichi akan melindungi statusnya sebagai seorang istri. Teman-temannya akan terus mendukungnya.

Ya, ia akan baik-baik saja.

"Aku tidak akan menandatanganinya." Ran merobek surat yang Shinichi lemparkan ke mukanya.

Ia bisa melihat kemarahan di wajah itu setelahnya. Tangan Shinichi meremas dan menggenggam keras di bawah cahaya senja yang merah. Semerah mawar di atas meja yang mulai layu tidak terurus. Semerah bibir Shinichi yang terkulum geram. Semerah mata Ran yang basah.

"Apa yang masih kau harapkan dari pernikahan ini?!" Teriakan emosi, tatapan kejam, dan perlakuan Shinichi yang tidak pernah lagi menunjukan belas kasih, sudah mulai membuat Ran terbiasa, dan ia bisa menerimanya. "Apa kau tidak punya harga diri?! Kau akan tetap bertahan meski aku dan Haibara sudah tinggal bersama?!"

"Ya..." Jawaban dari semua pertanyaan menyakitkan itu Ran keluarkan dengan pelan. "Aku tahu kau akan kembali, Shinichi."

PRANK!

Pecahan vas bunga yang kering dan bunga mawar layu di dalamnya terpelanting dengan suara keras. Shinichi menepisnya dari atas meja, menatap Ran yang duduk tegang di sofa pada bagian seberangnya. Ia mungkin terbiasa dengan yang lain, tapi tidak dengan amukan gila suaminya yang seperti ini.

"Kau benar-benar membuatku muak." Dinginnya suara di nada Shinichi membuat ketegangannya bertambah.

Ran menggenggam erat-erat rok dari baju terusan yang dikenakannya, mencari pegangan untuk bertahan. Ia kemudian menggunakan tenaganya yang hanya tersisa sedikit untuk berdiri dan mensejajarkan pandangan mereka. Mungkin Shinichi akan kembali menamparnya, maka dari itu ia menyiapkan diri.

"Tahukah kau, Shinichi, bahwa kau akan sangat menyesali semua ini saat kau menyadari bahwa Haibara hanya mempermainkanmu?" Ran berkata dengan suara sedikit gemetar, dan air mata yang mulai jatuh daras. "Saat itu, kau juga akan menyadari bahwa akulah satu-satunya yang mecintaimu, dan Haibara hanyalah pelacur yang mengejar uangmu. Tapi aku akan tetap menerimamu karena aku mencintaimu."

Shinichi telah bergerak dari tempatnya berdiri seraya mengangkat tangan, dan Ran tahu apa yang akan terjadi. Tanpa dapat dicegahnya sendiri ia menutup mata. Telinganya mendengar langkah-langkah cepat sebelum sebuah suara pelan bertipe rendah dan dalam menggantikan.

"... damu."

Setelah Ran membuka mata satu menit setelahnya, ia menemukan Haibara menarik tangan Shinichi, menghentikan suaminya.

"Aku mengizinkanmu melalukan apa yang kau mau, tapi bukan berarti kau bisa bertindak semaumu." Gadis empat belas tahun itu bicara, dan Shinichi menatapnya. "Kau bukan lelaki kalau kau berani memukul seorang wanita, Kudo."

"Siapa yang mengizinkanmu masuk ke rumahku?" Ran tiba-tiba mendapat kekuatannya lagi, menyatakan pertanyaannya dengan dingin dan emosi, sama persis seperti yang digunakan sosok gadis muda itu.

"Aku tahu aku tidak punya hak. Aku hanya takut terjadi sesuatu setelah mendengar pecahan kaca dari luar." Haibara kini menatapnya.

"Yang pecah bukan hanya kaca!" Dengan cepat Ran menyela. "Rumah tanggaku juga pecah, dan itu karenamu!"

Ia dapat melihat mata biru gadis itu menatap tanpa gentar, tidak seperti sebelumnya. Seraya melepaskan Shinichi pemilik mata itu mengalihkan pandangan, entah apa yang dipikirkannya.

"Sudah cukup." Suara dingin Shinichi kembali menggema. "Kalau kau tidak mau menandatanganinya, kau bisa menemuiku di pengadilan." Suaminya menambahkan.

"Kau lihat?" Ran setengah berseru dari balik air matanya yang ingin menetes lagi, menatap Haibara benci dan geram. Ingin rasanya ia menarik gadis itu dari sisi suaminya, mengusirnya keluar dari rumahnya, dari rumah tangganya. "Kau menghancurkan semuanya! Kau bahkan tidak ingat aku telah sering menolongmu! Apa kau tidak punya malu, Haibara?"

Tanpa disadarinya, Shinichi kembali bergerak. Saat sadar, Ran tahu-tahu melihat tangan Haibara sudah memegang lengan suaminya lagi. Gadis remaja itu juga telah menatapnya, seolah-olah tidak terima. Tapi bukankah memang seperti itu wajahnya? Haibara selalu menyorot orang-orang dengan tatapan mata dingin dan kejam. Ran tidak mengerti bagian mana darinya yang tidak lebih baik dari Haibara di mata Shinichi.

"Kalau kau memang ingin memperhitungkan, aku juga akan menghitung semua hutang yang sudah aku membayar agar kau tahu kita sudah impas." Balasnya seraya mengangkat dagu dengan tidak tahu malu. "Yang membuat Kudo menikahimu dan bertahan selama ini, adalah aku."

Kalimat itu tidak serta merta Ran percaya, namun tidak berarti tidak menyakitinya. Pedih dan perih menoreh pada bagian di dalam dadanya, seketika. Ketika ia menatap Shinichi untuk sedikit mengais harapan, yang ditemukannya hanya tatapan dingin pria itu. Seolah-olah... seoalah-olah tidak menyalahkan apa yang Haibara katakan.

"Shinichi..." dengan lemah ia memanggil suaminya. "Katakan bahwa itu tidak benar, Shinichi..."

"Aku dan Haibara sudah berhubungan sejak tujuh tahun yang lalu, itulah kebenarannya."

Perkataan itu tidak hanya menyakitkan, ia membayangkan dan merasa jijik secara tiba-tiba. Tujuh tahun yang lalu saat Shinichi kembali dari balada panjangnya, Ai Haibara bahkan masih anak-anak.

Bagaimana bisa?

Ran mengangkat tangan dan menutupi separuh wajahnya, memejamkan mata. Tanpa disengaja, gambar-gambar masa lalu itu menyeruak dalam ingatannya. Di suatu waktu pada malam Shinichi mabuk dan pertama kali sekaligus terakhir pria itu menyentuhnya sebagai seorang suami, suaminya menggumamkan nama Haibara, tidak hanya sekali.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi kau terus menyudutkanku." Suara itu membuat Ran kembali ke waktu sekarang, dan membuatnya menarik tangan dari depan wajahnya perlahan-lahan untuk menatap Haibara lagi yang sedang bicara. "Aku juga punya batas, Kudo-san."

Mereka seperti kembali ke awal pertemuan dengan saling memanggil nama marga, dengan tatapan dingin Haibara. Bedanya, Ran saat ini sama sekali tidak ingin memperbaiki interaksi mereka.

"Kau bohong..." Ia merasa tubuhnya gemetar bersamaan dengan suaranya, berkata nyaris tidak bertenaga seraya menatap mereka berdua. "Kalian bohong..."

Ran akan berlari dari sana, dari kenyataan, dan dari pandangan dingin suaminya, andai saja masih memiliki kekuatan. Kenyataannya, ia terjatuh tidak berdaya tanpa bisa menghentikan air matanya.


Mata itu digunakannya untuk menatap satu per satu wajah di depan selagi tangannya menjaga dan memberi perhatian pada bocah tiga tahun yang terlihat sangat merindukannya. Ichigo bermain-main dan bergelayut di lengannya, tidak paham sedang adanya pertikaian pada orang-orang dewasa di sana.

Sejak lima menit yang lalu bocah itu masuk dan menerjangnya, orang tuanya menghentikan ia dan kekasihnya yang hendak pergi meninggalkan Ran. Ini adalah sidang mini, yang merupakan reka adegan sidang tadi pagi. Ayah dan Ibunya duduk di sebalah kiri Ran yang masih meneteskan air mata sesekali, sementara ia masih berdiri, menahan Ichigo di tangan kanannya, dan menghentikan kepergian Haibara dengan tangan kiri.

"Kau bilang kau tidak akan lari lagi." Shinichi merengut. Tidak ada sisa kebaikan di hatinya karena ia terbakar emosi semenjak Ran mempersulit keadaan. Padahal Haibara sudah berhasil ia kendalikan setelah ia begitu banyak berkorban, tapi kini istrinya yang justru jadi penghalang.

Siapa yang bertanggung jawab atas kekacauan ini kalau bukan Haibara sendiri?

"Ran-chan, bawa Ichigo-chan naik." Ia mendengar suara Ibunya berkata saat itu, menarik perhatiannya untuk menatap tiga sosok di atas sofa.

Ran kemudian berdiri dan mendekat, lalu meraih Ichigo ke dalam gendongannya meski bocah itu sedikit menolak dengan memeluk tangan Shinichi erat-erat.

"Duduklah, Shin-chan." Wanita yang sudah berumur namun masih kelihatan awet muda itu memberi tahunya. "Kau juga, Ai-chan."

Terlebih dulu Shinichi menatap kekasihnya dan menunggu. Setelah melihat gadis itu mengangguk, ia pun menarik tangannya untuk bersama-sama berjalan ke arah sofa. Mereka mendudukan diri di bagian yang terpisah, namun tangan Shinichi tidak melepaskan tangan Haibara.

"Kami tidak akan ikut campur kalau kau tidak di luar batas, Shin-chan." Ibunya memulai dengan hal-hal yang sudah Shinichi duga, dan suaranya tidak biasanya tidak ceria. "Kau belum bercerai tapi kau sudah tinggal dengannya, kau bahkan memukul istrimu. Apa kau benar-benar sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan yang tidak?"

Saat ibunya mengatakan kejadian yang selama ini Shinichi rahasiakan, ia merasakan tangan Haibara melepaskan diri dengan paksa dari tangannya, sekaligus merasakan tatapan tajam wanita itu. Shinichi bertahan meluruskan pandangan pada ibunya karena tahu bahwa Haibara akan menyimpan apapun pemikirannya selama ada orang lain di antara mereka.

"Aku sudah mengajukan perceraian, tapi Ran menolaknya. Selain itu." Ia menghentikan suaranya yang tenang dan datar saat melirik menemukan kepalan tangan Haibara yang bergetar. Bayangan pertengkaran hebat langsung menyergap pemikirannya saat itu. Shinichi benar-benar benci karena tidak dapat menjalani hubungannya dengan Haibara secara tentram, meski hanya sehari. "Selain itu, aku tidak bisa membiarkan Haibara hidup sendiri di luar kota. Hanya sehari saja aku meninggalkannya, Ran membawa teman-temannya untuk memukuli Haibara. Sampai sekarang pendengaran Haibara bahkan masih terganggu akibat penganiayaan mereka."

Tidak hanya kedua orang tuanya yang terkejut, Haibara pun. Haibara tidak tahu bahwa Shinichi tahu segalanya termasuk pengobatan yang wanita itu lakukan secara diam-diam. Di hari pertama keberangkatannya ke Beika, ia telah mengutus Heiji untuk mengikuti sekaligus menjaganya.

"Tapi bukan berarti kau bisa memukul seorang wanita." Suara tegas itu menyahut, tersulut sedikit amarah yang bisa Shinichi rasa, dari ayahnya. "Kalau kau tidak bisa melihatnya sebagai istrimu, setidaknya lihat dia sebagai ibu dari anakmu."

Shinichi tidak dapat menjawab kali ini. Akan tetapi ia masih bertahan dengan kepala tegak. Mungkin ia memang bersalah, tapi alasanya tidak salah. Tidak salah jika ia membalas penderitaan kekasihnya dengan membuat orang-orang itu menderita. Tidak salah ia sangat mencintai Haibara. Tidak salah, ia menjadi sedikit gila karena sampai sekarang pun ia tidak benar-benar merasa bahagia sebab ia dan wanita yang dicintainya terus bertentangan ideologi karena penghakiman orang yang tidak tahu apa-apa tentang mereka.

"Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan karena kau sudah dewasa, Shinichi, tapi jangan melanggar peraturan hukum." Pria yang mirip dengannya itu kembali berkata. "Tunggu sampai kau dan istrimu bercerai, baru kau boleh tinggal dengannya."

"Aku tidak bisa melakukannya." Dengan cepat Shinichi membalas kali ini.

"Dia tidak harus pergi ke luar kota. Apa yang membuatnya tidak bisa tinggal bersama Profesor? Kau bahkan masih bisa jika sekedar ingin menidurinya."

Buk!

Telapak tangan Shinichi langsung menumbuk meja kayu yang menghalangi mereka, menatap penuh tantangan pada ayahnya sendiri. Sudah cukup, ia muak akan pandangan mereka yang terus menuduh hubungannya dengan Haibara merupakan hubungan seksual belaka. Shinichi tidak mempertaruhkan seluruh hidupnya hanya karena napsu.

"Apakah kau tidak bisa memandang lebih tinggi pada putramu sendiri?" Ia tidak menyembunyikan emosi dan amarah yang bercampur pada pertanyaan itu.

"Aku bisa, kalau kau bisa menahan dirimu." Orang tua itu mulai berkata arogan seraya mengangkat dagunya. "Seberapa pun kau mencintainya, kalau kau benar-benar masih waras kau tidak akan menidurinya dalam keadaanya yang seperti ini. Apa ada alasan lain selain napsu yang membuatmu sampai melupakan fakta bahwa usia fisiknya masih empat belas tahun?"

Seorang Shinichi Kudo lagi-lagi dibuat kehabisan kata-kata. Ayahnya jelas yang mewariskan otak jenius itu padanya, kejeniusannya bahkan mungkin di atas Shinichi sediri sehingga ia terus dibungkam tanpa celah. Seraya menggertakan gigi dan meremas tangannya dari atas meja, ia menegakan badan perlahan-lahan.

"Ya, aku memang sudah tidak waras." Ia mengakui tanpa gentar sedikit pun, bahkan menatap dengan berani. "Maka dari itu aku tidak akan perduli dengan pandangan orang lain, aku akan tetap tinggal bersama Haibara."

"Bagaimana denganmu?" Kali itu ayahnya justru mengalihkan pandangan pada Haibara. "Kau juga sama tidak warasnya?"

Shinichi menatap kekasihnya seketika. Ia hanya berharap Haibara tidak akan mengingkari kata-katanya sendiri siang ini. Untuk waktu yang lama wanita itu masih menundukan kepala dengan kepalan tangan yang gemetar, membuat sebagian harapan Shinichi menguap dalam bentuk gas beracun dan membuat dadanya sesak.

"Aku masih cukup waras, aku rasa."

Dilihatnya gadis itu baru mengangkat kepala setelah berkata, dan tangannya yang gemetar telah diam menguat di atas paha. Tapi tidak menangis, tidak ada air mata di pelupuk Haibara. Hanya ada kemarahan dan emosi di sana. Saat itulah, Shinichi baru mengetahui bahwa kekasihnya tidak perduli pada tuduhan ayahnya. Wanita itu, lebih perduli mencari cara untuk memenangkan pertengkaran yang pasti akan mereka mulai setelah ini.

"Dan karena aku masih cukup waras, aku harus tetap bersama Kudo untuk mencegahnya berbuat hal-hal gila." Balasan dari Haibara itu bersamaan dengan pandangannya yang lurus, membalas pandangan ayah dan ibu Shinichi.

"Kalian benar-benar cocok." Ayahnya mendengus dingin dan memejam sesaat. "Silahkan kalian keluar dari rumahku, dan jangan pernah kembali ke sini lagi."

"Anata!" Wanita di sebelahnya langsung menukas.

"Aku tidak mau melihat orang-orang yang melanggar hukum dengan mengatas namakan cinta." Tukas pria itu balik tanpa memandang istrinya. "Cinta adalah hubungan yang suci, bukan hubungan yang kotor dan dipenuhi napsu dan ambisi."

Shinichi benar-benar tersinggung kali ini. Mereka semua hanya orang-orang yang hidup dengan segala kebahagiaan sejak lahir. Ayahnya bahkan tidak memiliki pengalaman sakit hati. Mereka tidak tahu rasa sakitnya saat ditinggalkan seseorang. Tidak semua cinta itu berwarna putih dan suci. Cinta yang dipenuhi rasa sakit dan penantian panjang seperti cintanya dengan Haibara berbeda. Cinta mereka terlalu dalam sehingga cahaya pun tidak dapat meneranginya, menjadikannya cinta yang gelap, membusuk bertahun-tahun lamanya, dan menjadi racun yang meracuni pemikiran mereka.

"Aku juga tidak akan tinggal lebih lama bersama orang-orang yang tidak mengerti cinta kami." Shinichi bergerak seraya menyelesaikan perkataannya, lalu tanpa berhenti, menarik tangan Haibara dan membawanya pergi.

"Shin-chan!" Seruan ibunya itu terdengar saat mereka hampir melewati pintu, membuat Shinichi berhenti dan juga membuat Haibara menahan diri. "Kau tidak seharusnya menanggapi kemarahan ayahmu dengan emosi, kau adalah seorang anak, Shin-chan."

Shinichi menengok samar.

"Dan aku adalah seorang kekasih, aku tidak bisa meninggalkan orang yang aku cintai."

Segera setelah menjawabnya, Shinichi kembali melangkah bersama Haibara. Langit sudah menggelap saat mereka meninggalkan pintu rumah itu, seperti gelapnya mata dari wanita yang sedang ditariknya ini. Dengan menarik napas, ia menahan untuk tidak mempertemukan pandangan mereka. Shinichi benar-benar tidak siap menghadapi Haibara sekarang.

"Sejak kapan kau tahu?"

Tapi, suara itu jelas sebuah pertanda bahwa harapannya tidak akan terkabul. Ia bahkan merasakan Haibara menahan diri di detik berikutnya, menentang tenaganya. Shinichi melepaskan tangan itu sebelum mengantongi kedua tangannya sendiri ke dalam saku dan menatap pohon cemara yang menjulang tinggi di pekarangan rumah Kudo.

"Sejak aku pulang malam itu." Ia mencoba bersabar dengan membuat suaranya keluar perlahan-lahan tanpa penekanan. Ia sudah cukup gila karena Ran dan ayahnya, ia tidak butuh tambahan dari Haibara.

"Kenapa kau tidak memberi tahuku? Apa yang telah kau lakukan, Kudo?" Suara Haibara yang rendah dan dalam tidak membuat emosi pada kalimat itu tenggelam, Shinichi masih bisa merasakannya.

"Kenapa aku harus mengatakannya kalau kau juga tidak mengatakannya?" Ia menengok wanita itu melalui pundaknya, mengirimkan tatapan tajam yang sudah cukup jika sekedar untuk membuktikan adanya beragam emosi di sana. "Hubungan kita hanya hubungan seksual, dan yang kita bagi hanya tubuh dan ranjang. Tidak yang lainnya."

Itu adalah kalimat sindiran yang paling jahat yang pernah Shinichi keluarkan pada Haibara, sampai-sampai membuat pendengarnya terdiam beku. Seraya meluruskan kembali pandangannya ke depan pria itu menahan gejolak di dadanya yang bergemuruh bagai topan. Haibara adalah orang yang memulai semuanya sejak awal. Wanita itu menyembunyikan segalanya, merahasiakan luka paling besar dari Shinichi.

"Pada akhirnya, aku benar-benar membuatmu meledak, Kudo." Haibara kembali bersuara setelah satu menit lebih. Kemudian meraih pundaknya, membuatnya menengok dan menemukan tatapan mata itu. Tatapan mata sendu yang lemah dari amarah. "Aku benar-benar takut meninggalkanmu sekarang."

Shinichi tidak benar-benar mengerti apa yang membuat Haibara berubah. Biasanya, kekasihnya akan bersikukuh menyalahkan Shinichi dan menyuruhnya memperbaiki semua yang salah. Alih-alih meneruskan berdebat, Haibara sekarang justru memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepala di punggungnya.

"Mungkin sejak awal, melepaskanmu adalah sebuah kesalahan." Shinichi merasakan kuatnya dekapan Haibara saat perkataan itu terdengar.

"Perlu lima tahun bagimu untuk menyadari hal sesederhana itu?" Ia berkata, kemudian berbalik perlahan-lahan.

Shinichi menatapnya cukup lama selagi tidak adanya bantahan maupun komentar. Ia lalu ganti memeluk Haibara, menguncinya erat-erat dengan kedua lengan. Dari balik mata kekasihnya, ia menarik sebuah seringaian.

Ia menang.

Ia telah memenangkan pertarungannya melawan kekejaman Ai Haibara.

15.


A/N : Terima kasih untuk semua yang masih mengikuti cerita ini, terlebih untuk kamu yang berkomentar dan mendukung, terima kasih banyak! Semoga belum bosan dengan cerita ini ya ;')