Gila.
Mereka bilang, ia sudah tersesat dan kini sedang berada di jalan yang salah. Shinichi Kudo akan bergelak geli menyaksikan berita-berita itu, karena media hanya mencatat sosoknya sebagai pahlawan yang terlahir di keluarga kaya dengan intelektual tinggi dan memiliki kisah cinta sederhana, seperti, teman sejak kecil yang berganti status sebagai cinta pertama, pertemuan kembali setelah perpisahan, yang sebenarnya tidak benar-benar terjadi karena ia adalah Conan Edogawa yang selama ini terus berada di samping sosok itu, Ran Mouri saat itu. Sering orang-orang tidak menyadari bahwa realita kehidupan tidak seperti cerita fiksi, bahwasannya cinta pertama hanyalah transmisi menuju cinta sejati, dan jatuh cinta pada teman sejak kecil adalah cinta karena kebiasaan, bukan cinta dari dalam hati seperti yang saat ini sedang ia rasakan. Dan, ketika sosok yang memiliki segalanya itu menemukan dunianya runtuh secara tiba-tiba karena sebuah penolakan, akal sehat seorang detektif jenius pun bisa berbalik dari kepala pindah ke kaki.
Mereka bahkan tidak tahu ada dunia yang gelap di luar sana, bukankah mereka begitu?
Untuk pertama kalinya hati Shinichi dipatahkan dan didera penderitaan. Masa-masa itu begitu kelam dan membuatnya merasa kesepian. Seseorang yang dincintainya, Ai Haibara, menjaga jarak darinya, membatasi interaksi mereka, dan mengajukan persyaratan gila mengenai pernikahan untuk membalas budi Ran jika Shinichi ingin membuat Haibara bahagia, yang akhirnya juga tidak membuahkan kebahagiaan apapun di antara mereka. Malahan, pengorbanan Shinichi dibalas dengan kekejaman. Haibara menolak sekedar untuk mempertemukan mata mereka, mengabaikannya, dan tidak lagi mau bertukar kata, yang semua itu dilakukan hanya dari jarak satu pagar di rumah mereka.
Dunia Shinichi gelap seketika. Ia tidak bisa menemukan jalan keluar dari kegelapan itu, atau sekedar melihat kemana kakinya melangkah. Ia hanya terus berjalan tanpa arah, bertahun-tahun lamanya, hingga suatu hari menemukan diri berdiri di tepi jurang dan memutuskan melompat, membunuh dirinya sendiri, membunuh Shinichi sang pahlawan, dan membunuh takdir yang terus Haibara eluh-eluhkan.
Sekarang, ia terlahir kembali hanya sebagai Shinichi. Shinichi tanpa hati. Shinichi yang mereka sebut-sebut sudah gila karena cinta. Shinichi yang menciptakan takdirnya sendiri untuk dijalani. Tapi, Shinichi itu kini merasa bahagia di dalam kegelapan karena telah memiliki Ai Haibara di dalam pelukannya.
Shinichi tidak lagi tersesat sendirian.
Baru lima belas menit lalu mereka keluar dari rumah keluarga Kudo dengan pertikaian mengenai hubungan gelap mereka yang tidak mendapatkan restu dan diusir keluar oleh ayah Shinichi, lalu ia sekarang sudah berada di atas ranjang hotel dengan ditindih pria itu bersama pelukan dan ciuman penuh napsu. Padahal belum sempat salah satu dari mereka menyalakan lampu, tapi bahkan tanpa itu pun jari-jari Shinichi tahu dimana letak kancing-kancing kemejanya, menanggalkannya satu per satu lalu meraih resleting celananya dan menariknya terbuka.
Cumbuan Shinichi terasa kasar dan memaksa, memaksanya mendesah ditengah pertarungan lidah dengan lidah dan gigi yang sesekali menggigit bibirnya. Ia digulingkan dan ditelanjangi, kemudian diisi dengan libido yang bercampur rasa sakit serta panas tubuh mereka yang menjadi satu, menjadikannya panas yang sesak sampai ke dalam paru-paru.
Haibara mencoba meraih salah satu tangan pria itu yang menariknya, tapi tenaganya tidak cukup untuk melawan dan ia berhasil dinaikan ke atas tubuh lawan. Shinichi menyetubuhinya dari belakang, dari bawah tubuh Haibara yang diangkat perlahan-lahan. Di tengah sakitnya dobrakan berkali-kali yang Shinichi berikan, ia masih bisa memikirkan perkataan orang-orang bahwa hubungan mereka dipenuhi napsu dan ambisi, dan hanya mengatasnamakan cinta untuk melanggar hukum batasan usia. Ia tidak bisa lebih setuju dari itu sekarang, karena dibanding berbagi perasaan dari hati ke hati, atau sekedar bercengkrama untuk mengungkapkan rahasia, yang lebih sering mereka lakukan adalah bercinta. Haibara sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali Shinichi telah menggagahinya dalam kurun waktu satu bulan, karena terkadang pria itu bisa menariknya dua kali ke atas ranjang dalam sehari, seperti hari ini, bersenggama di waktu siang, dan mengulang begitu malam menjelang. Lalu dari pada menghentikan, Haibara akan terbawa napsu dengan melupakan fisiknya yang masih rentang untuk berhubungan badan.
"Kudo..." Ia tidak lagi tahan, mengerang, merenggut tangan-tangan Shinichi yang mengangkatnya untuk terus bergerak mengejar kepuasan. Ia diremas habis-habisan sampai panas dan sesak napasnya mencair dan membasi ranjang.
Belum putus desahannya ketika pria itu kembali menggulingkannya, merentangkan tubuhnya yang terlentang dan ganti menaikinya. Mata Haibara terpejam menerima kekuatan badai yang mengguncang tubuhnya gila-gilaan. Ia yakin, ia akan segera pingsan. Namun di saat itulah ia merasakan cambukan keras pada bagian terdalam tubuhnya, diikuti gigitan yang sakitnya tidak main-main—
"Ah!"
... lalu terdengar suara kekehan paling menyebalkan yang sering kali mengejeknya di saat-saat seperti ini.
Tiba-tiba saja Haibara menyesali sudah membuka mata saat melihat lebarnya senyum yang membentuk bibir Shinichi, sembari pria itu mengangkat kepala menjauhi dadanya yang pasti ditanami bekas gigi-gigi. Mungkin karena tidak ada cahaya lampu, dan sumber penerangan satu-satunya di kamar hotel lantai dua puluh dua ini hanyalah cahaya lampu-lampu gedung dari seberang, ia juga tidak tahu apakah yang membasahi ranjang itu adalah cairan mereka berdua atau malah lagi-lagi cairannya sendiri. Guncangan keras Shinichi membuat Haibara tidak dapat membedakan antara sakit dengan kulminasi.
"Enak?" Ia juga benar-benar benci saat Shinichi berbisik cabul di saat seperti ini. "Kau sudah keluar dua kali. Kau pasti sangat menikmatinya."
"Hentikan omong kosongmu, Kudo..." Hampir setengah suaranya hanya udara saat ia berkata.
Tapi tentu saja Shinichi tidak berhenti. Pria itu bergerak pelan mencoba mengikis kembali berahinya. Haibara menahan gemelitik geli di bagian tubuh bawahnya, lalu memejamkan mata saat mata pasangannya mulai mendekat.
"Aku ingin mendengarmu memanggilku Shinichi." Kalimat itulah yang kemudian berbisik di telinga Haibara.
"Kau lebih cocok dipanggil Ecchi—ngh!" Usahanya untuk membalas, ditekan kuat-kuat oleh pria itu. Menghentikan tidak hanya suara, namun juga napasnya.
"Panggil aku Shinichi, atau aku tidak akan menariknya." Shinichi mengancam. Seringaian licik tergambar di bibirnya.
"Kita akan ketinggalan pesawat ke Osaka..." Kalimat itu diucapkan Haibara seraya menahan diri untuk tidak bernapas secara manual yang bakal terdengar tersenggal-senggal karena sesak dan perasaan meletup-letup di dalam dadanya. "Cepat lepaskan aku..."
"Aku bahkan belum keluar." Balasnya, dengan meninggalkan pertemuan pandang mereka dan kembali berbisik di dekat telinga Haibara.
"Kalau begitu cepat selesaikan, dua jam lagi—ngh! Baka!" Lagi-lagi Shinichi menekannya, memperdalam diri di ambang batas terdalamnya.
"Aku tidak perduli." Shinichi menukas sambil memeluk Haibara, mengangkat tubuh kecilnya dan membuat mereka menyatu tanpa celah. "Aku tidak akan melepaskanmu kalau kau tidak mengatakan kata kuncinya."
Mendengar persyaratan itu Haibara mendesis dengan geram. Dicakarnya punggung Shinichi yang masih berlapis kemeja. Bukannya ia tidak mau memanggil nama depan kekasihnya, ia hanya tidak mau mengikuti permainan konyol ini.
"Kudo..." Haibara tersentak dan mendesah penuh penekanan saat merasakan isi perutnya diaduk pelan, sementara pelakunya kembali tertawa, mengejeknya.
"Ai-chan..." dua suku kata yang membuat Haibara merinding seketika itu diikuti cumbuan tertubi-tubi pada telinga dan lehernya, dengan masih diselingi kekehan Shinichi sesekali. "Ai-chan... aku benar-benar tergila-gila padamu..."
Haibara tidak langsung membalas kali ini. Kepalanya bergerak melawan arah gerakan bibir yang terus berbisik di batang lehernya. Ia kemudian menarik tangan Shinichi ketika merasakan dadanya juga ikut menjadi sasaran jahil pria itu, menahan desahan yang kini berasal dari bulu kuduknya yang berdenging. Perasaannya tidak lagi meletup-letup halus kini, melainkan berdebur seperti gelombang pasang pada tebing samudera. Panggilan nama kecil dari Shinichi itu menggempur hatinya.
"... Ai-chan..." Shinichi kembali menghembuskan topan mini, memporak-porandakan perasaannya.
Haibara akhirnya membalas setelah merasa tidak sanggup lagi, "Baiklah, kau menang..." Ia mendengar suaranya sendiri gemetar saat ini. "... Shinichi..."
Tidak perlu menunggu, tepat pada detik itu juga Shinichi langsung melepaskannya sembari tertawa kesenangan, kemudian menggulingkannya dan mulai bergerak liar. Dengan cepat rasa sakit kembali menyerang Haibara. Desahan dan erangan keluar dari mulut mereka berdua, dan suara napas-napas keras yang bergantian menyela. Guncangan dan gempa. Sampai akhirnya ranjang yang hampir kering itu basah lagi, kali ini basah oleh lendir dan sperma.
"Ai..." Panggilan yang tidak juga terasa nyaman bagi Haibara itu setengah berseru, setengah menderu, mendera tubuhnya yang tidak bisa melakukan apa-apa kecuali terengah-engah dan menerima tubuh Shinichi yang jatuh di atasnya. "Aku sudah keluar..."
Haibara membuka mata selagi mendesah tanpa tenaga, lalu menatap kegelapan kamar yang mulai terbiasa bagi pandangannya. Tidak pernah ia merasa tenaganya terkuras sebanyak ini sebelumnya. Shinichi benar-benar sudah gila. Ia merasa kesal. Ia bersumpah akan membuat pria itu membayar dengan sangat mahal.
"Dasar manusia sesat..."
"Kudo?"
Tidak sampai sehari setelah mereka meninggalkan Beika, Haibara sudah kembali ke tabiat aslinya. Shinichi meninggalkan pemandangan dari gadis belia bergaun bunga-bunga itu ke arah dinding kaca toko, menatap orang-orang yang berjejal di atas ekskalator. Mereka kini sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan di Osaka yang tidak jauh dari letak mansion mereka. Haibara bilang ingin membeli sesuatu saat mereka sarapan tadi, dan Shinichi tidak pernah merasa keberatan sebenarnya, meski setelah ia ditarik ke dalam toko perhiasan ia akhirnya juga tahu bahwa yang ingin wanita itu beli adalah sesuatu yang tidak murah. Ia hanya kesal karena sejak tadi Haibara masih memanggilnya dengan nama marga. Padahal Shinichi sudah memanggil wanita itu dengan nama kecilnya.
Ia mengerti jika kekasihnya tidak terbiasa. Ia juga mengerti, bahkan tanpa merubah panggilan masing-masing pun perasaan indah bernama cinta itu menghiasi hati keduanya. Akan tetapi orang lain tidak mengerti. Orang lain akan terus berpikir ada yang salah dengan hubungan mereka karena mereka selalu terlihat dingin satu sama lain, dan Shinichi sudah cukup muak mendengar tuduhan mereka mengenai hubungannya dengan Haibara yang hanya berdasarkan seksualitas belaka.
"Shinichi-kun?"
Panggilan itu sukses menghapus kekesalan serta wajah cemberut Shinichi, dan langsung membuatnya menengok sambil memasang senyuman. "Kau perlu sesuatu, Ai-chan?"
Ai Haibara justru yang kehilangan senyuman setelah itu. Wanita tersebut menggeleng pelan sebelum meraih sebuah kalung dari kotak perhiasan di atas meja kaca toko, menggelungnya pendek di atas telapak tangan sehingga liontin berbentuk bulat berhias berlian di kalung itu terlihat jelas.
"Aku mau yang ini." Kabarnya kemudian, dengan nada datar andalan.
Shinichi lebih dulu melirik dua kalung lain dalam kotak perhiasan yang berdekatan dengan kotak yang sudah kosong itu. Mungkin kalung-kalung itu terlihat lebih berkilau dari yang Haibara pegang karena berwarna kuning, tapi Shinichi tahu, sesungguhnya emas berwarna putih seperti yang dipegang kekasihnya bakal jauh lebih mahal. Akankah ia menghabiskan separuh dari tabungannya jika membelikan kalung itu untuk Haibara?
"Berapa harganya?" Senyum Shinichi sedikit turun. Dikeluarkan salah satu tangannya dari dalam saku untuk bersandar pada meja, mencari pegangan sekedar untuk berjaga-jaga seandainya nanti terjatuh setelah mendengar nominal yang tidak masuk akal.
"Seratus enam puluh ribu yen."
Shinichi tidak terjatuh, hanya senyumnya yang tiba-tiba terasa amat sangat berat untuk dipertahankan. Dengan segenap tenaganya, pria ini berdiri tegak, melepaskan tangan dari pegangan untuk beralih ke belakang kepala dan menggaruk tengkuknya pelan, lalu memaksakan otot-otot bibirnya untuk membentuk senyuman.
"Kau yakin tidak ingin yang lain?" Ia bertanya sedikit gugup.
"Kalau begitu..." Haibara melampiaskan kalung di tangannya kembali ke kotak seraya memutus kontak mata mereka. "... aku akan memilih rumah atau mobil saja."
Kali ini, Shinichi benar-benar terjatuh. Ia nyaris menabrak meja kaca di dekatnya andai saja tidak memiliki otot kaki yang kuat setara pemain sebak bola.
"Setelah aku pikir-pikir, lebih baik kau membeli kalung saja..." Ia berkata sambil memegang lengan Haibara, membuatnya kembali mempertemukan pandangan mereka.
"Baiklah." Balasnya singkat dengan tersenyum puas, lalu mendongak pada penjaga toko wanita di balik meja kaca itu, yang sedari tadi menonton mereka.
Tangan Shinichi melepaskan lengan kekasihnya untuk ganti merogoh dompet. Entah imajinasinya saja, atau memang kartu kredit yang terselip di dalam dompetnya kini berubah sangat berat. Kartu itu tersangkut seolah-olah tidak mau ditarik keluar. Ia masih berusaha menariknya saat tiba-tiba Haibara meraih kartu berwarna hitam itu dengan cepat dan tanpa kendala apapun, kemudian menyerahkannya pada orang asing yang bakal menguras habis uangnya. Rasa-rasanya Shinichi ingin menangis saat melihat kartu itu digesek dengan kasar pada sebuah mesin.
160.000 yen resmi lenyap dari tabungannya. Kami-sama!
"Kenapa kau kelihatan sedih sekali?" Haibara menengok sambil tersenyum lebar, dengan memegang kantong belanja berwarna hitam yang baru saja diserahkan oleh penjaga toko, yang berisi kalung seharga 160.000 yen itu. "Shinichi-kun?"
"Tidak, aku tidak..." Shinichi memaksakan sebuah tawa yang benar-benar berat. Ia mungkin akan mengumpat kalau tidak mendengar namanya dipanggil dengan begitu mesra. Wanita ini benar-benar licik dan susah dikalahkan.
"Jadi kau tidak keberatan membelikanku baju dan sepatu kan setelah ini?" Tanya Haibara dengan suara manis seraya melingkarkan lengan ke lehernya, dengan masih memegang kantong berisi kalung seharga 160.000 yen tentu saja.
"Oi, oi... kau benar-benar mau memerasku sampai tidak tersisa?" Shinichi lelah berpura-pura tertawa dan membiarkan bibirnya merengut.
Ganti Haibara yang tertawa pelan, menarik salah satu tangannya dari leher Shinichi lalu menaruh kartu kredit hitam yang ia pegang ke dalam saku baju pria ini.
"Kau juga memerasku sampai tidak tersisa semalam." Dengan mempertemukan pandangan mereka, wanita licik itu berkata, menggunakan nada yang sama liciknya.
"Setidaknya bawa sebagian kantong belanjanya!" Dari arah pintu masuk toko, suara milik seorang laki-laki menyela tiba-tiba.
Shinichi sangat mengenalinya, bahkan sebelum menengok. Saat ia menengok nyaris bersamaan dengan gerakan Haibara, suara wanita tidak kalah familiar menimpali seraya sosok pemiliknya membalas tatapan mereka dengan sorot mata tajam.
"Lihat siapa yang sedang menghabiskan uang untuk selingkuhannya." Seringaian tidak menyenangkan menyambung kalimat itu.
Kepala Heiji yang semula menunduk menatap kantong-kantong belanja di tangannya, kini mendongak menatap Shinichi dan Haibara. Pria Osaka berkulit gelap itu kemudian berhenti berjalan, berdiri di samping sosok tunangannya. Haibara menurunkan tangannya dari leher Shinichi, setelah itulah Shinichi justru melingkarkan lengan di perut kekasihnya seraya memutar badannya sekigus badan wanita itu untuk menghadap Heiji dan Kazuha.
"Kalian sedang belanja?" Ia memasang seringai tipis dan mencondongkan kepala ke kepala Haibara, bertanya tenang dan kasual.
"Oh, Kudo! Kebetulan sekali!" Heiji menjawabnya lalu berjalan mendekat, terlihat kerepotan membawa tas-tas belanja besar yang ukurannya dua kali lipat dari tas yang Haibara pegang. "Si bodoh ini memaksaku mengantarnya mentang-mentang aku sudah cuti, padahal aku ingin menonton bola. Kau sediri sedang apa?"
"Aku mengantar Ai membeli perhiasan." Shinichi menjawab dengan nada dan gestur yang sama, namun mendapat reaksi berbeda dari lawan bicaranya. Heiji terlihat sedikit terkejut, mungkin karena nama yang ia sebut, sementara Kazuha berjalan mendekati mereka sambil menyilangkan tangan di depan perut.
"Dia mulai memerasmu lagi karena kau tidak jadi dipecat?" Wanita berkuncir itu berkata, bukan bertanya. Dan seringai tidak bersahabat masih terpasang di wajahnya.
"Ini adalah hadiah." Nada datar itu asalnya bukan dari Shinichi, melainkan Haibara. "Aku yang sudah membantu Shinichi memenangkan sidang, jadi aku pantas mendapatkannya."
Kazuha mendengus geli, seketika. "Penggali emas menjadi lebih nekat dan berani setelah menemukan tambang yang menjanjikan. Tapi sebaiknya kau hati-hati, karena semakin dalam kau menggali, kau akan semakin dekat dengan neraka."
"Kalau hanya emas, kau bisa menemukannya di tepi sungai sekali pun." Haibara langsung membalas dengan tatapan dingin dan berani. "Aku menggali neraka sedalam ini bukan untuk menambang emas, tapi untuk membangkitkan kembali seseorang yang sudah mati."
Sebagai pemirsa, Shinichi menggantikan Kazuha mendengus geli karena wanita tunangan Heiji itu kini meluruskan ekspresi. Seraya menegakan kepala, pria ini pun menimpali, "Dari pada kau melihat dari tempat setinggi itu, kenapa kau tidak turun untuk ikut menggali, Toyama? Mungkin kau bisa sedikit merasakan bagaimana sulitnya mengais sekeping emas dari dalam kegelapan."
"Hei... Hei..." Himbauan pelan Heiji mengintruksi mereka kali ini. "Hentikan, kalian..."
Shinichi hanya bergelak tawa setelah itu.
Setelah pertemuan mereka di toko perhiasan kurang lebih sepuluh menit setelahnya, Ai Haibara duduk di salah satu kursi dalam satu set meja yang sama dengan mereka, pada sebuah cafe minimalis yang terdapat di lantai tiga pusat perbelanjaan ini. Shinichi dan Heiji yang sama-sama memutuskan untuk singgah, dan Haibara hanya mengikuti kekasihnya, sementara Kazuha sempat berdebat kecil dengan tunangannya sebelum bergabung dengan terpaksa. Haibara memilin gagang dari cangkir teh yang masih setengah isi di atas meja seraya mengarahkan mata ke dinding-dinding kaca cafe, menatap jauh ke horizon langit Sakishima yang seolah-olah menyentuh lautan. Disadarinya, ia telah menjadi pusat perhatian orang-orang ketika berjalan beriringan dengan Shinichi sepanjang perjalanan ke cafe ini. Media telah memberitakan kasus Shinichi Kudo secara besar-besaran. Nyaris tidak ada orang di Jepang yang tidak tahu. Dan satu fakta lagi, identitas Haibara benar-benar tersebar di internet. Sepertinya, atas dalih itu semua orang menatapnya, merasa penasaran seperti apa gadis yang sudah membuat pahlawan legendaris mereka menjadi gila.
"Aku melihat beritanya di televisi kemarin. Aku yakin pengadilan pada akhirnya akan memutuskan bahwa kau tidak melanggar kode etik."
"Mungkin. Tapi aku berpikir untuk mencari surat pindah tugas begitu perintah pengadilan turun. Kami tidak bisa tinggal di Beika, terlalu banyak yang mengenal Ai di sana."
Mendengar namanya disebut, Haibara pun menengok mereka. Jarinya melepaskan gagang cangkir yang tanpa disadarinya masih ia pegang sejak tadi. Ia mendongak Shinichi yang saat ini bertukar pandangan dengan Heiji.
"Kau akan pindah kemari?" Tanya pria Osaka itu dengan sedikit terkesiap.
"Kalau aku bisa memilih, aku akan pindah kemari. Kalau tidak, aku akan pindah kemana pun ketua Megure memindahkanku." Jawaban Shinichi terdengar pasrah seraya sosoknya memejam sesaat. Saat membuka kembali matanya, pria itu meraih cangkir kopi di atas meja, lalu menyesap isinya.
"Mungkin aku bisa mengatur hal itu." Tandas Heiji langsung sambil membuat cengiran lebar.
"Heiji!" Kazuha lekas menukas. "Berhenti membantunya! Dia itu sama sekali tidak pantas dibantu!"
"Kazuha..." Suara Heiji memanggil tunangannya itu pelan, lalu mempertemukan pandangan mata keduanya. "Apa kau tidak merasa menyesal juga karena telah mengantar istri Kudo dan temannya untuk memukuli Oneesan? Gara-gara hal itu, Oneesan mengalami hematoma. Apa bahkan kau tahu bahwa kondisi hematoma pada telinga itu tidak bisa disembuhkan?"
Bersamaan dengan kalimat Heiji itu, Haibara merasakan pandangan Shinichi yang menyorotnya. Ia menemukan mata kekasihnya dipenuhi luka setelah mempertemukan pandangan mereka. Kini, ia tahu mengapa sehari sebelum Shinichi berangkat ke Beika, ia menemukan sorot mata yang sama seperti itu. Dengan cepat, Haibara kemudian memalingkan muka menghindarinya.
"Oneesan? Kenapa kau memanggil dia seperti itu?"
"Eh? Ha-Haibara-san maksudku! Ahahaha... Karena dia pacar Kudo, jadi—"
"Dia hanya selingkuhannya!"
"Cukup, Toyama."
Suara dingin Shinichi menggantikan suara-suara yang saling berhasutan di dalam telinganya itu, membuatnya kembali memperhatikan lalu mendapati kekasihnya menatap lurus-lurus pada Kazuha dengan tatapan geram.
"Kalau bukan karena memandang Hatori, aku pasti juga sudah memberi pelajaran padamu." Shinichi berkata kejam dan penuh keseriusan. "Kalau kau tidak bisa menghargai hubungan kami, setidaknya hargai Ai sebagai seorang wanita. Bukankah kau bekerja di lembaga hak asasi wanita?"
Kazuha merengut, masih tersisa juga kemarahan di wajahnya. Ia menatap Shinichi penuh tantangan seraya menegakan posisi duduk. Ada jeda setengah menit sebelum wanita muda itu mengeluarkan suara penuh penakanan.
"Aku tahu sekarang..." Kazuha memincingkan mata sedikit selagi berkata. "Kau adalah orang yang sudah mengirim foto-foto Sonoko kepada Kyogoku-san. Iya, kan Kudo?"
Seketika, Haibara terperangah. Cepat-cepat pandangannya dialihkan pada Shinichi setelah mendengar hal tersebut. Ia tidak yakin bahwa kekasihnya segila itu. Akan tetapi balasan berikutnya jelas-jelas mematahkan keyakinannya.
"... ya." Shinichi menarik seringaian tipis di antara suaranya yang berlanjut. "Tapi itu juga tidak sebanding dengan apa yang Ai rasakan. Kyogoku tidak sampai memukul Sonoko meski pria itu tahu bahwa istrinya pernah bermain gila dengan laki-laki lain sebelum mereka menikah. Mungkin seharusnya aku melakukannya sendiri."
Begitu suara Shinichi berhenti, Haibara langsung meraih lengan pria itu. Ia berdiri sekaligus menarik Shinichi. Dicengkramnya dengan kasar lengan kekasihnya seraya berjalan keluar dari cafe. Haibara akhirnya berhenti saat langkah mereka mencapai lorong sepi yang merupakan jalan menuju toilet di dalam gedung itu.
"Apa yang sudah kau lakukan, Kudo?" Ia tidak berusaha menutupi kemarahan pada dinginnya nada di pertanyaan itu, juga tatapan tajamnya. "Hal gila apa lagi yang tidak aku tahu dari tindakanmu?"
Kontras, Shinichi yang menerima semua itu justru mendengus kecil seraya mengantongi kedua tangan dan membalikan badan. Melihatnya, Haibara kembali menarik lengan pria itu sehingga mereka berhadapan lagi.
"Jawab aku, Kudo!"
"Apa kau benar-benar hanya seorang penggali emas?" Jawaban dari bentakan keras Haibara adalah pertanyaan main-main dari Shinichi yang dikeluarkan bersamaan tatapan bosan pria itu. "Kau memanggilku Shinichi saat kau butuh uangku, dan sekarang kau memanggilku Kudo. Kalau kau tidak benar-benar mencintaiku, setidaknya kau bisa berakting lebih baik dari ini."
Hati Haibara mencelos. Ia tidak tahu letupan halus di dalamnya yang dipenuhi cinta pada Shinichi bisa berubah sesakit ini, seperti ada kerikil-kerikil tajam yang muncul ke permukaan dan menggores perasaannya dengan kejam. Sakitnya dalam gambaran tidak terbataskan. Membuatnya kerongannya terasa kering, membuat akal sehatnya hilang sehingga tidak dapat menemukan kata-kata untuk dirangkum suaranya.
"Aku juga sudah muak dengan tabiatmu, Haibara."
Itu adalah hal terakhir yang Haibara dengar sebelum sosok Shinichi berbalik, memunggunginya, lalu berjalan pergi meninggalkannya.
16.
A/N: selamat datang di dunia pasangan gila yang kerjaannya cuma bertengkar dan bercinta! Ahahaha :'D Sebenarnya, chapter ini seharusnya nyambung sama chapther sebelumnya, tapi kemarin waktu ngetik wordsnya udah kehitung 7k+ dan kasian yang baca, jadi saya hentikan, dan mumpung masih ngefeel banget langsung saya ketik lagi hari ini juga.
Thanks for read! And dont forget to review!
