Keluarga

Shinichi Kudo mendesak kerumunan dan tidak perduli pada korban-korban yang tertabrak siku kuatnya. Masing-masing kedua tangannya menyelip di dalam saku celana, mengepal geram di dalam. Ia lalu menginjak anak tangga ekskalator seraya memejamkan matanya yang berkilat emosi seiring pijakannya bergerak turun, dan seiring pelepasan panas di dalam hatinya yang sempat mendidih, bersamaan gas oksigen yang ditariknya pelan-pelan, juga ludah pahit yang ditelannya saat ini.

Saat matanya terbuka kembali, kilat kemarahan di sana telah sedikit berkurang, namun kesedihan justru beranjak mendominasi.

'Kalau kau tidak benar-benar mencintaiku, setidaknya kau bisa berakting lebih baik dari ini.'

Gigi-gigi Shinichi mengerit ngilu. Tidak ada yang lebih mencintainya dari Ai Haibara, ia tahu. Ia tahu. Ia tahu saat mata sebiru samudera wanita itu menatapnya dipenuhi cinta. Ia tahu saat tubuh kecil itu terkurung di laboratorium bawah tanah setiap malam hanya untuk membuatkannya penawar racun. Ia tahu saat pertama kali wanita itu mempercayakan nyawa padanya. Ia bahkan tahu, saat Haibara melepaskan diri dari cinta yang mengikat mereka, Haibara juga merasa tersiksa.

Shinichi tahu semua, tapi ia hanya tidak bisa melihat Haibara memendam semua penderitaan seorang diri, membuatnya merasa tidak berguna sebagai laki-laki, membuatnya membenci diri sendiri, membuatnya merasa tidak dicintai karena tidak pernah dipercaya lagi.

Ia tidak hanya ingin mereka hidup bersama dan bercinta, lalu berbagi makan dan mengulang pola hidup itu seperti binatang. Yang Shinichi inginkan mereka bahagia bersama, dan jika harus, (ia tidak ingin, sebenarnya, tidak seharusnya) namun jika harus menangis, ia ingin menangis bersamanya. Yang ia inginkan hanyalah memberi Haibara sebuah keluarga, menemaninya di saat sedih dan bahagia, yang akan memeluknya hingga Haibara tidak mengenal lagi rasa kesepian, dan menjalani hari penuh mimpi dan harapan. Yang paling Shinichi inginkan, adalah melindunginya.

Dan ketika ia adalah penyebab dari luka Haibara, ia merasa begitu marah. Marah dan ingin menghancurkan seluruh dunia sehingga semua orang merasakan penderitaan yang sama seperti yang dirasakan kekasihnya. Ia sangat marah, sampai-sampai mengatakannya.

'Aku juga sudah muak dengan tabiatmu, Haibara.'

Tidak.

Tentu saja tidak.

Shinichi mungkin muak dengan pertengkaran mereka. Mungkin juga ia muak terus disalahkan. Tapi ia tidak benar-benar muak pada tabiat Haibara. Ia bisa merasakan sendiri di setiap amarah Haibara ada cinta dan perhatian yang menjadi dasar. Ia juga tidak akan pernah bisa muak pada Haibara karena sosok wanita itu begitu indah di matanya. Sebenarnya, Ai Haibara adalah satu-satunya yang dapat menyulut api cinta di dalam diri Shinichi hingga membara penuh gairah. Membuatnya terbakar dalam napsu. Membuatnya meledak-ledak dan menghanguskan nuraninya sendiri. Membuatnya terlempar dari bumi dengan adrenalin. Membuatnya kehilangan akal dan terus mengejar birahi. Membuatnya gila.

Ia tidak muak pada Haibara.

Shinichi justru, tergila-gila.


Haibara menyeka setitik air mata di sudut kelopaknya dan menarik napas. Sosok di depannya merupakan replika dari dirinya sendiri, tapi tidak benar-benar mampu menunjukan jati dirinya yang asli. Ia menegakan kepala dan berbalik meninggalkan pandangannya dari bayangan di dalam kaca, berjalan menuju pintu keluar toilet dan langsung berhenti pada langkah ke lima karena menemukan sosok lain di depannya.

Ia terperangah.

Sosok yang tidak lain adalah Shinichi itu meninggalkan sandaran dinding lalu menegakan badan. Kedua tangannya terselip di dalam saku celana dengan sebuah tas belanja kecil menggantung di salah satunya. Haibara menarik dan menghembuskan napas tipis saat lelaki itu mendekat. Padahal belum ada sepuluh menit yang lalu Shinichi pergi begitu saja, tapi sekarang sudah kembali dengan wajah tenang seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka. Mengeluarkan tangannya dari dalam saku, pria itu kemudian menyodorkan tas belanja pada Haibara tanpa sebuah kata.

Tidak ada sisa kesabaran saat Haibara menerimanya tanpa bersuara juga. Sebenarnya, tidak ada sisa perasaan apapun di dalam hatinya saat ini kecuali sakit. Tapi hal itu pulalah yang membuatnya tidak dapat lagi meneruskan perdebatan mengenai Sonoko dan Ran, sehingga ia berjalan dengan menundukan kepala, mengikuti Shinichi yang berjalan mendahuluinya.

Disadarinya setelah itu langkah Shinichi mengarah ke dalam cafe yang sudah mereka tinggalkan tadi. Haibara berhenti di depan pintu masuk seraya mendongak Kazuha dan Heiji yang masih menempati meja yang sama. Shinichi berjalan seorang diri mendekati keduanya, sementara Haibara memutar langkah dan berbalik. Namun hanya dalam persekian detik saja, ia menengok arah yang baru ditinggalkannya karena merasa yakin sempat melihat Shinichi meraih tas belanja hitam yang sama persis seperti tas yang sedang dipegangnya saat ini, kemudian kini ia mendapati kekasihnya sudah kembali berjalan ke padanya seraya membawa tas itu.

Selagi Shinichi terus memperpendek jarak mereka, Haibara menunduk menatap tas kertas di tangannya. Menyelipkan tangan masuk dan menarik keluar isinya, ia mendapati sebuah kotak hitam yang jauh lebih kecil dari kotak kalung yang dibelinya sebelum ini. Ia lalu membuka kotak itu, dan melihat sebuah cincin emas putih tanpa mata bertabur berlian disemua sisi permukaannya.

"Kau mau belanja apa lagi?" Saat mendengar pertanyaan ini dari Shinichi, Haibara masih menatap lekat-lekat cincin emas eternity itu.

Ia baru menatap balik sosok Shinichi yang tinggi dan tampan, lima detik kemudian, yang membelakangi pemandangan horizon langit biru menuju ujung lautan, yang seharusnya persamaan bagi kebersamaan mereka. Haibara berpaling dari kedua langit cerah itu seraya menutup kotak cincin di tangannya, menahan bayangan-bayangan imajinatif yang menggambar halo circular matahari di atas permukaan samudera. Bayangan itu terlalu indah untuk hubungan gelap mereka. Dan ia membayangkan hal muskil itu hanya karena... cincin?

"Aku mau pulang." Ia menjawab dan berjalan.

Shinichi mengikutinya dalam diam, dan Haibara tidak tahu seperti apa raut wajah pria itu saat ini. Ia juga tidak tahu apa maksud kekasihnya memberikan sebuah cincin tepat setelah menuduhnya sebagai penggali emas. Haibara tidak tersinggung dengan tuduhan itu sebenarnya. Yang membuatnya sakit hati adalah perkataan Shinichi yang menuduhnya tidak mencintai pria itu. Haibara tidak bertahan dengan semua penderitaan ini hanya untuk uang. Ia tidak sebegitunya matrealistis sampai-sampai menukar kebebasan dengan kebencian semua orang. Ia mencintai Shinichi, amat sangat. Dan karena itulah, ia sakit hati saat cintanya diragukan.

"Haibara?"

Panggilan itu menghentikan pemikirannya. Tapi tidak menghentikan langkahnya. Mendengar Shinichi memanggilnya seperti biasa, entah mengapa hatinya terasa semakin sakit. Ia merasa diasingkan, setelah diikat begitu kuat.

"Kau tahu?" Suara itu berlanjut. Pelan nada dan intonasinya justru mampu membuat Haibara berhenti kali ini. "... apa makna sebuah cincin?"

Pendengar satu ini berbalik mengikuti arah suara, kemudian mendapati pemilik pertanyaan itu berdiri diam di antara orang-orang yang berlalu-lalang melewati jarak yang memisahkan mereka. Shinichi masih mengantongi kedua tangannya, membiarkan tas belanja yang mirip seperti yang digenggam Haibara bergelantung di pergelangan tangan. Tangan Haibara sendiri meremas tali tas yang terbuat dari pita itu seraya membiarkan waktu berjalan tanpa jawaban.

Waktu itu, waktu terasa berhenti bagi mereka, sementara orang-orang terus berjalan melewati keduanya. Seolah-olah, Shinichi dan Haibara terperangkap dalam dimensi yang berbeda.

"Mengikat. Keabadian. Tanpa batas." Ketiadaan jawaban dari Haibara digantikan oleh perkataan dari sosok pemilik pertanyaan itu sendiri.

Haibara mengulum sedikit bibirnya, melihat Shinichi melangkah mendekat, dengan kedua tangan merentang perlahan-lahan. Bibir pria itu kembali bergerak menggumamkan kalimat selagi orang-orang mulai sadar kehadiran seorang legenda di tengah-tengah pusat perbelanjaan. Mereka berdua berada di bawah perhatian semua mata, dan Haibara tidak siap mendengarnya.

"Aku ingin mengikatmu dalam keabadian, tanpa batas."

Shinichi merengkuh dan menciumnya, mereplika pemandangan langit dan laut di balik dinding kaca dengan pandangan mata ke mata milik mereka. Mata Haibara nanar seperti permukaan air di tengah-tengah samudera, menemui mata Shinichi yang penuh kepastian. Seperti langit yang pasti akan membagikan cahaya seluruh alam semesta padanya.

"Aku ingin kau menjadi pasangan hidupku selamanya."

Haibara tidak bisa membedakan antara ketakutan dan keharuan setelah itu. Ia juga tidak bisa memalingkan mata sekedar untuk melihat seberapa banyak orang yang sedang menonton mereka. Setelah itu, Shinichi merenggut tas di tangannya dan mengeluarkan kotak hitam dari sana. Tangan kiri Haibara kemudian diraih, lalu digenggam. Dan Shinichi menyelipkan cincin di antara jari-jarinya, mengikat jari manisnya tidak hanya dengan emas dan berlian, juga dengan kepastian dan jaminan.

"Aku melamarmu, Ai Haibara."

Senyum yang terlihat berangsur mengganti keseriusan di wajah Shinichi kemudian, bahkan lebih menjanjikan harapan ketimbang langit yang kadang-kadang akan berubah gelap gulita di saat gerhana. Haibara benar-benar dibuatnya melayang saat itu juga. Dibuatnya terbang dengan dimabuk cinta. Ia meninggalkan bumi menuju kahyangan. Tidak ada manusia di sana. Tidak ada siapa pun selain mereka berdua.

Walaupun sampai akhirnya ia tidak pernah membalas dengan kata-kata, tangannya yang menggenggam balik tangan Shinichi setelahnya, mengatakan semua.

Ia menerimanya.


Putih dan cahaya kemilau tidak cocok dengannya, mereka bilang. Ia dan Shinichi memang memulai segalanya dengan warna merah darah, dan berakhir dalam hubungan gelap perselingkuhan. Mereka yang tidak tahu apa-apa bilang, ia dan Shinichi tidak cocok dengan warna putih yang suci, dan lebih cocok dengan warna-warna kelam yang syarat akan penderitaan. Haibara tidak setuju kali ini. Ia merasa cocok dengan cincin putih bercahaya berlian yang Shinichi berikan. Ia menyukainya, dan dapat tersenyum hanya dengan melihatnya.

"Berhenti melihat berita-berita bodoh itu." Shinichi menghentak laptop, menutup layarnya secara kasar.

Setelah mereka makan malam, Haibara membaca artikel-artikel online yang membahas hubungan mereka sebelum kekasihnya datang mengganggu. Pria itu menarik laptopnya yang telah terlipat di atas pangkuan, lalu memindahkannya ke atas meja di dekat ranjang. Dengan pandangan bosan, Haibara menatapnya.

"Bukankah kau melakukan hal itu dengan sengaja agar semua orang membicarakannya?" Ia menebak terang-terangan. "Kau melakukannya agar istrimu menyerah dan menceraikanmu, kan? Tuan Detektif yang licik dan kejam?"

"Bodoh." Shinichi langsung memaki pelan. "Aku bahkan tidak sengaja melakukannya."

Mata Haibara memincing tidak percaya, sementara pria lawan bicaranya memejam seraya memalingkan muka. Shinichi membuka matanya setelah menjatuhkan diri di tepi ranjang yang dekat dengannya, lalu menghela napas tertahan.

"Aku sudah mengatakan hal-hal konyol itu. Aku takut kau akan meninggalkanku karena merasa aku tidak cukup pantas untuk kau perjuangkan. Karena aku sudah meragukanmu, bahkan setelah kau menderita sebanyak ini untukku." Tambahnya sambil menengok. "Aku pikir, aku perlu memberikanmu sebuah komitmen sebagai jaminan. Tapi saat kau tidak mengatakan apapun setelah melihat cincin itu, aku semakin takut."

Haibara mendengus geli, "Aku tidak tahu bahwa ada hal yang kau takuti."

"Aku takut kita bertengkar begitu sampai di rumah dan aku tidak akan pernah memiliki kesempatan." Shinichi menyentuh garis rahang Haibara secara lembut saat berkata dengan suara yang berubah pelan. "Makanya tanpa pikir panjang aku melamarmu di sana."

Mendengar hal itu, Haibara menarik senyuman tipis seraya menarik tangan Shinichi, lalu menarik diri ke dalam pelukan pria itu. Sebenarnya ia tidak sampai berpikir untuk meninggalkan kekasihnya. Meski kata-kata itu sangat menyakitkan sampai membuatnya menangis, ia tahu Shinichi masih mencintainya dan sangat pantas untuk diperjuangkan. Karena pengorbanan Shinichi sendiri jauh lebih banyak.

"Makanya aku bilang kau harus menceritakan semua masalahmu, Kudo." Kata Haibara kemudian, seraya menahan geli saat memergoki Shinichi cemberut akan nama panggilan itu. "Kau selalu saja meledak dan melakukan hal tidak terduga."

"Masa bodoh." Shinichi balas memeluknya, dan Haibara bisa mendengar detak jantung pria itu dengan sangat jelas sekarang.

"Aku sangat terkejut saat tahu kau sudah memukul istrimu. Tapi kemudian aku pikir kau hanya bertindak spontan, karena kau memang sedikit emosional akhir-akhir ini." Ia melanjutkan seraya memejam, lalu ingatan-ingatan dari pertengkarannya dengan Shinichi muncul begitu saja di dalam benaknya. Shinichi bahkan hampir menamparnya waktu itu. "Tapi saat aku tahu kau juga melakukan sesuatu pada Sonoko, aku benar-benar takut karena membayangkan ada begitu banyak hal gila yang telah kau lakukan di belakangku."

"Yang mereka lakukan padamu jauh lebih gila." Suara Shinichi terdengar sedikit emosi. Hal itu juga dibuktikan dengan bertambahnya tenaga yang digunakannya untuk memeluk Haibara.

Seraya mengusap punggung kekasihnya dengan pelan, ia kemudian bertanya, "Apa ada hal lain yang belum aku tahu?"

"Tidak ada." Terdengar suara tarikan napas tipis setelah pria itu menjawabnya.

Haibara diam dan memikirkan dengan tenang, selagi mereka juga dalam suasana hati yang baik. Mereka tidak bisa meneruskan hubungan seperti ini. Mereka memang saling mencintai. Haibara juga yakin bahwa ia tidak akan meninggalkan Shinichi lagi, begitu pula sebaliknya. Namun cinta dengan dua jalan yang berbeda akan sulit untuk dijalani. Hubungan beracun seperti hubungan mereka ini, akan membuat keduanya cepat mati.

"Kenapa kau ingin aku memanggilmu dengan nama kecil?" Haibara mengajukan pertanyaan lain masih dari dalam pelukan kekasihnya.

Dirasakan setelahnya, pelukan Shinichi mengendur diikuti kepala pria itu yang menyandar di atas kepalanya. Butuh waktu cukup lama sampai Haibara mendengarnya kembali bersuara.

"Karena orang-orang hanya meyakini apa yang mereka lihat."

"Itu sebabnya kau marah saat aku terus memanggilmu Kudo?"

"Hm."

Haibara kembali tersenyum saat Shinichi meremas pundaknya kuat-kuat. Seraya mendongak dan melihat pria itu yang memejamkan mata, ia menarik salah satu tangannya dari pelukan yang mengikat mereka, mengangkatnya untuk meraih kekasihnya mendekat, lalu menciumnya.

"Mulai sekarang, katakan semuanya padaku." Ucapnya setelah melepaskan ciuman perlahan-lahan, dari jarak wajah mereka yang hanya sejengkal tangan. "Aku juga akan mengatakan semuanya, aku janji. Kita hanya memiliki cinta sekarang ini, kita tidak punya siapa pun. Kita akan hancur bersama kalau terus berusaha memenangkan ego masing-masing."

Shinichi membuka matanya dan memperlihatkan ketiadaan emosi di sana. Namun pandanganya redup seperti lampu tidur di kamar mereka. Haibara tahu saat melihatnya, di dalam hati Shinichi masih hidup sosok kepahlawanan pria itu, dan sosok kepahlawanan itu mengingikan Haibara hanya sebagai tokoh yang didominasi. Akan tetapi Ai Haibara yang hidup sekarang ini berbeda dari yang dulu. Sekarang, ia telah setegar batu karang, karena setelah bertemu Shinichi, yang dipelajarinya bukan hanya arti sebuah kehidupan. Ia juga telah belajar mengenai pengorbanan, cinta, dan juga bagaimana caranya menahan rasa sakit.

"Seperti kau yang ingin selalu melindungiku, aku juga ingin melindungi, Shinichi." Suara Haibara datar dan serius saat mengatakannya, membuatnya terdengar tulus.

Tanpa senyum, Shinichi kemudian menciumnya sebelum berkata, "Aku mengerti."

Haibara benar-benar berharap mereka akan berbagi mulai saat ini. Apapun. Meski pun, banyak masalah-masalah yang bakal membuat mereka emosi dan kembali pada idiologi sendiri-sendiri.

Dengan lembut Haibara lalu menjauhkan diri dari ciuman mereka, menatapnya, langit tanpa awan yang menggambarkan ketinggian. Kini, Haibara tidak takut lagi terjatuh, dan memutuskan untuk menggantungkan harapan di sana.

"Bisa kita bercinta sekarang?"

"Aku sedang menstruasi."

"Hah?!"

Haibara tidak menahan untuk terkikik geli melihat wajah cemberut Shinichi kali ini.


Ai Haibara adalah samudera, dan Shinichi ingin menyelaminya sampai ke bagian terdalam, secara harafiah.

Wanita itu berdiri di depan dinding kaca, mengenakan yukata putih tanpa motif sepanjang mata kaki dengan pita kecil mengikat di bagian pinggang. Rambutnya yang merah karena terkena pias cahaya matahari pagi begitu indah. Cincin emas putih yang dikenakannya mengkerlip bagai air di tengah samudera, menyalin permukaan lautan Sakishima yang menjadi pemandangan di luar mansion mereka. Tubuhnya kecil dan ramping, begitu pas di dalam dekapannya.

"Saat kau melihatku seperti itu," Pemandangan indah Shinichi beranjak berganti seringai mengejek seiring suara itu berkata, diikuti sosok pemiliknya yang mendekat, membelakangi cahaya. "... aku tahu kau sedang bergairah."

Shinichi tertembak telak. Ia membuang muka selagi mendecah lidah.

Haibara sampai di depannya lalu mengalungkan lengan ke lehernya, membuatnya bisa mencium bau wangi yang lembut dan nyaman. Saat Shinichi mempertemukan pandangan mereka, ia menemukan mata biru itu kontras dari bibir merah muda Haibara. Birahinya serasa tidak tertahan saat itu juga. Ia menarik kekasihnya dengan cepat dan kuat, mencumbu bibir itu penuh napsu dengan bayangan-bayangan adegan ranjang telah memenuhi benak.

"Aku mencintaimu, Ai-chan..." Bisiknya di sela-sela ciuman.

"Sudah aku bilang aku sedang menstruasi." Haibara tiba-tiba menjauh, mendorong dadanya pelan. "Selain itu aku tidak suka mendengarmu memberiku nama sebutan. Itu terdengar menggelikan karena kau hanya menggunakannya saat kau merasa terangsang."

"Ini sudah tiga hari, kenapa menstruasimu belum selesai juga?" Ia melepaskan wanita itu dan mengantongi tangannya di dalam saku seraya merengut dengan wajah berpaling ke samping. Haibara lagi-lagi menembak tepat ke hati Shinichi. Sesungguhnya ia memang sengaja memberikan sebutan akhir di nama Haibara setiap merayunya, karena ia menyadari bahwa Haibara menyukai hal itu. Meski, wanita itu juga tidak akan pernah mengaku.

"Jangan bodoh, proses pelepasan lapisan dinding rahim itu perlu saktu tiga sampai tujuh hari. Bisa jadi lebih." Suara itu membalas dengan nada malas-malasan sebelum sebuah helaan napas mengakhiri. "Aku jadi heran kenapa kau hanya punya satu anak dengan tingkat kemesumanmu yang seperti ini. Istrimu tidak seperti harus membatasi kehaliman juga."

Perkataan itu membuat Shinichi kembali menatapnya, menggunakan tatapan yang sama seperti tatapan mata Haibara. "Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi mumpung kau membahasnya, akan aku katakan."

Salah satu alis wanita itu naik dengan penasaran, melihatnya membuat Shinichi menarik satu sudut bibirnya membentuk seringaian.

"Aku hanya pernah menidurinya sekali, dan itu saat aku mabuk. Tepat di hari kau mengusirku dari kamarmu malam itu." Saat mengatakan ini, ia memergoki Haibara terkesiap. Wanita itu pasti masih ingat kejadian empat tahun lalu, tepatnya setahun setelah Shinichi menikahi Ran untuk memenuhi kesepakatan mereka.

Saat itu, Haibara berjanji akan menjaga hatinya hanya untuk Shinichi selama menunggu usianya mencapai usia dewasa. Katanya itu juga demi Shinichi agar orang-orang tidak menganggapnya gila karena mengencani anak kecil berusia sembilan tahun. Sampai akhirnya mereka mencapai kesepakatan, dan Shinichi bersedia berkorban untuknya, dan pengorbanan itu adalah menikah dengan Ran. Namun setelah ia benar-benar berkorban, Haibara justru memutus hubungan mereka, tepat di hari pernikahannya. Malahan setelah itu terus menghindar dan tidak mau mengajaknya bicara sedikit pun. Shinichi benar-benar merasa dipermainkan, dan atas dalih itu, setahun setelah pernikahannya, di malam setelah pesta penerimaannya di kepolisian, ia mendobrak masuk ke kamar Haibara. Ia tidak bisa mengingat dengan jelas wajah Haibara di usianya yang ke sepuluh, waktu itu. Tapi ia ingat, malam itu adalah ciuman pertama mereka.

"Sialnya, kami berdua sangat subur dan hanya dengan satu kali berhubungan, dia hamil." Shinichi menambahkan sambil menahan tawa miris. "Kalau dipikir-pikir, aku jadi merasa kesal karena kau tidak berhasil kuhamili waktu itu."

Haibara meluruskan ekpsresi sembari berkata pelan, "Keadaannya akan lebih buruk jika aku hamil dengan tubuh ini."

"Siapa peduli." Ia mendengus kecil dengan wajah berganti datar dan sedikit menunduk. "Kau saja tidak perduli padaku saat itu."

Sampai lima detik kemudian, Shinichi tidak mendengar balasan atas perkataannya itu, membuatnya mencuri lirikan sambil bersiap memasuki pertengkaran babak baru. Ia mendapati wajah Haibara masih tanpa ekspresi memandangnya. Wanita itu tidak seperti terpancing emosi, malah setelah setengah menit berlalu, ia mendapati mata itu terlihat sendu.

"Aku tahu aku yang salah." Haibara menambahkan. Lengannya kembali mengalung di leher Shinichi, lalu memberikannya ciuman kecil di pipi. "Aku juga mencintaimu, Shinichi-kun."

Shinichi menatap wajah cantik itu lekat-lekat. Haibara sepertinya telah memendam egonya yang tinggi hingga tidak lagi berusaha mendominasi. Shinichi justru merasa kalah kali ini. Ia kemudian mencium bibir Haibara seraya menariknya lebih dekat. Tangannya sudah beranjak dan hampir meremas dada Haibara saat tiba-tiba ia di dorong lagi.

"Kita akan terlambat." Ucap wanita itu segera. "Kau tidak mau ketinggalan upacara pernikahannya, kan?"

Butuh seluruh stok kewarasan agar Shinichi tidak menggulingkan Haibara ke atas ranjang di belakangnya saat itu.


Lima belas menit kemudian, mereka telah berada di kuil, berdiri pada bagian belakang orang-orang yang sudah memenuhi ruang upacara, di luar pintu masuk yang terbuka lebar. Shinichi dan Haibara resmi terlambat, saat mereka sampai, Heiji dan Kazuha sudah bersimpuh di depan pendeta untuk memulai upacara meminum tiga cangkir sake. Tapi bagian terbaiknya, mereka tidak perlu bertatap muka dengan Sonoko maupun suaminya yang saat ini duduk bersimpuh di barisan paling depan. Dan bagian terburuknya dengan datang paling akhir, mereka menjadi sasaran empuk wartawan yang menunggu di depan gerbang kuil ini, yang ingin meliput pernikahan sang Polisi Hebat dari Barat.

Mereka memutuskan untuk tidak masuk karena takut mengganggu ritual upacara yang sedang berlangsung. Ritual itu sangat hening kecuali suara cangkir sake yang berbenturan dengan teko keramik. Heiji dan Kazuha kemudian berdiri untuk upacara selanjutnya. Pengantin wanita menyerahkan sebuah sisir ke pengantin pria. Hingga sampailah mereka ke ujung upacara dimana Heiji membacakan sumpah mewakili kedua mempelai.

Saat itu, Shinichi meraih tangan Haibara seraya berbisik padanya, "Suatu hari nanti, aku akan membacakan sumpah yang sama padamu."

Haibara menengok. Shinichi menyeringai begitu dekat dengan wajahnya, menghembuskan napas hangat sehangat matahari pagi yang menyorot punggung mereka.

"Saat kita menikah nanti."

Senyum beranjak menghias di wajah wanita itu. Seraya meluruskan pandangan, ia lalu menangkap dan menggenggam balik tangan Shinichi, menautkan jari-jari mereka dengan erat tanpa celah. Ia akan membiarkan dirinya membayangkan mereka menikah. Rasa-rasanya, langkahnya dan Shinichi juga sudah sangat dekat dengan hari itu. Haibara sudah tidak memiliki keraguan, dan Shinichi telah melamarnya.

"Kita akan menikah di geraja." Ucap Haibara beberapa detik setelahnya. Ia seolah-olah bisa mendengar bunyi lonceng saat itu juga. "Aku akan memakai gaun, dan membawa buket bunga, menunggumu di altar."

"Tidak ada lagi yang menunggu." Ucap Shinichi tanpa ragu. "Kita akan berjalan bersama."

Menganggukan kepala, Haibara saat ini menyetujuinya. Ia menyandarkan tubuh ke lengan Shinichi dan menatap Heiji dan Kazuha yang telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Ia jadi sedikit terharu melihat mereka. Atau mungkin, ia terharu karena membayangkan dirinya sendiri dan Shinichi yang sedang berada di sana. Mungkin juga, karena janji-janji kekasihnya.

"Papa..."

Lalu, suara panggilan itu, adalah suara panggilan yang membangunkan keduanya dari mimpi-mimpi pernikahan, yang juga menarik Shinichi dari Haibara, memisahkan genggaman tangan mereka. Haibara secara spontan menengok pada kehadiran konstan seorang anak laki-laki berusia tiga tahun beserta sosok yang hadir bersamaan dengan anak itu. Haibara saat ini menemukan, Ichigo Kudo dan Ran Kudo yang saling bergandengan, dan menggandeng Shinichi Kudo yang dipisahkan darinya.

"Papa..." Anak itu memanggil dan merengkuh Shinichi penuh rindu, tanpa melepaskan genggaman tangannya dari sang ibu.

"Ichigo..." ucap pria itu. Senyumnya merekah dan ia segera menarik bocah tiga tahun itu ke dalam gendongan.

Sosok Shinichi Kudo terlihat hidup dan penuh perasaan. Ayah muda itu kemudian mengecup pipi anaknya yang gembil, lalu mereka berdua tertawa, diikuti tawa kecil dari wanita yang memegang status ibu di keluarga mereka.

"Ichigo rindu sekali sama, Papa." Suara Ichigo berceloteh lucu.

"Papa juga rindu sekali." Shinichi langsung membalasnya tanpa menghentikan tawa.

Mereka terlihat sangat bahagia, seperti gambaran sempurna sebuah keluarga. Kesempurnaan itu juga bertambah ketika Heiji datang bersama istrinya dari belakang Shinichi, memukul punggung pria itu main-main untuk mendapatkan perhatiannya.

"Aku pikir kau tidak datang!" Seru pria Osaka tersebut, tidak kesal.

Lalu tidak lama, beberapa orang dari dalam kuil juga ikut berjalan keluar mendekati mereka. Pihak keluarga dari Heiji, lalu pihak keluarga Kazuha. Sampai yang terakhir, Sonoko bersama suaminya. Kumpulan orang-orang itu seolah-olah memagari keluarga Shinichi yang berada di tengah-tengah.

"Kami sedikit terlambat, jadi dari pada mengganggu kami menunggu di luar." Balas Shinichi seraya menengok.

"Ran!" Saat itu, Kazuha mengambil tempat di sebelah Heiji, menarik pemilik nama dengan ceria.

"Kazuha! Selamat!" Ran tertawa kecil, memeluknya.

Tidak hanya sampai di sana, dari dalam kerumunan Sonoko merangsek seraya menarik suaminya ke tengah-tengah kerumunan. Wanita berambut pendek tersebut melepaskan Makoto Kyogoku untuk merangkul kedua temannya, lalu mereka bertiga tertawa bersama.

"Ayo kita ambil foto bersama, mumpung semua pasangan ada di sini..." Kata Sonoko seraya terkikik.

"Benar juga!" Kazuha menyahut semangat.

Tanpa menunggu, mempelai wanita yang masih mengenakan kimono pernikahan itu menarik lengan Heiji maju, bersamaan itu Sonoko juga meraih kembali lengan suaminya. Kedua pasangan tersebut berdiri masing-masing di kedua sisi Shinichi yang masih menggendong Ichigo, dan juga Ran yang berada di sebelah suaminya.

"Tousan, tolong ambil foto kami!" Kazuha berseru.

Ketiga pasangan muda itu bersanding serasi dengan berdiri di atas hubungan yang suci. Pasangan pengantin baru, pasangan suami dan istri dengan anak mereka, dan pasangan muda yang mesra.

Ai Haibara mengulum senyum dari samping kerumunan, tersisih, menyaksikan semua. Ia disisihkan oleh orang-orang yang terikat hubungan keluarga. Saat itu juga, ia menyadarinya, bahwa keluarga memang hal yang paling berharga.

Sebagai satu-satunya orang asing di antara mereka, wanita ini berpaling dan berjalan. Langkahnya pelan meninggalkan kuil, meninggalkan mereka, meninggalkan kekasihnya. Haibara tidak menengok sedikit pun, dan tidak ada yang mencegah kepergiannya. Namun ia masih berjalan di bawah langit biru yang terang, sehingga ia tahu jalan yang diambilnya ini adalah jalan kebenaran.

17.


A/N: I tried writting a sad part but ended in failure. This is the best i can do :'))))