Kembali ke Asal.
Ternyata, ia masihlah Ai Haibara yang dulu. Pengecut, dan hipokrit. Kadang-kadang, ia juga menyesal. Ia merasakan disonansi kognitif.
Seandainya ia tidak terlahir di keluarga ilmuan yang bekerja di dalam organisasi mafia, mungkin saja ia masih menjadi Shiho Miyano, dan dengan kekuatan cinta, ia akan tetap dipertemukan dengan Shinichi Kudo. Mungkin juga mereka teman sejak kecil di kehidupan itu, dan sekarang mereka telah menikah dengan dua atau tiga anak yang lucu. Atau mungkin, ia tetap sebagai pihak ketiga di kisah cinta Shinichi, namun terlahir dalam keluarga biasa dan memiliki sifat sedikit agresif dalam hubungan asmara, sehingga berusaha keras mempertahankan sosok yang dicinta karena tidak pernah belajar melepaskan orang-orang terdekatnnya. Tapi kenyataannya, ia hanya, Ai Haibara. Ai Haibara yang berjalan di bawah langit biru yang terang, dan dapat melihat jalan kebenaran. Ia tidak tersesat seperti Shinichi. Ia tidak akan masuk ke jurang hanya karena didera penderitaan akibat perpisahan. Ia sudah terbiasa. Ia sudah terbiasa sehingga akan baik-baik saja jika semua terulang.
Haibara selalu menganggap Shinichi bagai langit cerah. Dari senyum, cumbuan, dan rayuan pria itu, ia merasa bagai terbang di atas awan. Ketika hari itu ia merasakan egonya terluka, ia hanya sedikit lupa bahwa kehidupan memiliki hukum karma. Ia juga begitu dimabuk cinta setiap kali Shinichi mengisinya dengan janji dan harapan, sampai-sampai tidak menyadari kehadiran seorang anak tanpa dosa yang nyaris terpisah dari keluarganya.
Cahaya mendadak yang terlalu terang di dalam kegelapan, justru membuat mata manusia mengalami buta sesaat, dan itulah yang dialaminya.
Cincin emas eternity itu juga halo matahari yang membutakannya. Dari kilauan itu ia memupuk mimpi-mimpi. Haibara melepaskannya. Dengan tenang. Tanpa luka. Ia tersenyum. Melepaskan takdir barunya.
"Papa..."
"Ichigo..." Shinichi menatap bocah tiga tahun yang sedang memeluk kakinya dengan erat. Mata Ichigo merupakan replika mata birunya sendiri, namun lebih polos dan hangat. Merasakan kerinduan yang memuncak, ia menarik dan mengangkat putranya ke dalam gendongan di depan dada, lalu mengecup pipi gembilnya dan tertawa.
"Ichigo rindu sekali sama, Papa." Celotehnya yang terdengar lucu.
"Papa juga rindu sekali." Ia membalas gemas dan memeluknya erat-erat.
Dari sudut mata, Shinichi memperhatikan Haibara yang terpaku dengan senyuman kecil. Mungkin kekasihnya pun membayangkan hal yang sama, saat mereka menikah nanti, Ichigo akan menjadi bagian dari kisah cinta mereka. Ia akan membawa putra kecilnya itu mendekati kekasihnya saat tiba-tiba punggungnya ditepuk dari belakang dan membuat pandangannya teralihkan secara spontan.
"Aku pikir kau tidak datang!" Seru Heiji begitu ia berbalik. Bersamaan itu juga, ia mendapati Kazuha berdiri di samping pria Osaka tersebut, lalu diikuti beberapa keluarga serta kolega dari pasangan pangantin baru ini.
"Kami sedikit terlambat, jadi dari pada mengganggu kami menunggu di luar." Balasnya seraya menengok Haibara. Kini ia mendapati wanita itu di belakang beberapa orang, terlihat terdorong ke belakang. Shinichi sudah mengangkat kakinya untuk melangkah, namun Kazuha yang berjalan maju menghalanginya.
"Ran!" Gadis itu menarik pemilik nama yang tidak disadari keberadaannya oleh Shinichi. Dan melihat Ran tiba-tiba di sana, sedikit mengejutkannya.
"Kazuha! Selamat!"
Meninggalkan pemandangan dari dua wanita yang sedang berpelukan itu, Shinichi memutar langkah ke belakang mereka. Namun lagi-lagi jalannya di halangi, kali ini oleh Sonoko dan Makoto yang merangsek ke tengah-tengah.
"Ayo kita ambil foto bersama, mumpung semua pasangan ada di sini..."
"Benar juga!"
Pandangan Shinichi terhalangi oleh sosok Makoto yang tinggi. Tapi ia yakin Haibara masih di sana karena melihat helaian rambut wanita itu yang merah di sela-sela pundak orang-orang yang berkerumun. Dengan menjaga punggung Ichigo dari tabrakan orang, Shinichi berusaha mencari jalan. Saat itu Heiji dan Kazuha justru menghimpitnya, diikuti tubuh Ran yang didorong oleh Sonoko hingga menabraknya. Shinichi bercedak geram dan berpikir untuk menabrak semua orang saja agar bisa cepat keluar dari sana dan menghampiri Haibara, akan tetapi Ichigo yang berada di dalam gendongannya mulai mengeluh kesakitan.
"Papa..." Bocah itu merengek pelan seraya mengusap-usap matanya yang basah.
"Tousan, tolong ambil foto kami!" Suara Kazuha berseru, bersamaan dengan tangis Ichigo yang menderu.
Shinichi lekas mundur dan kembali ke dekat Heiji, kembali pula berada di tengah-tengah pasangan-pasangan gila itu. Satu-satunya jalan saat ini hanya di depannya, yang sialnya di sana berdiri seorang pria yang sedang membawa kamera. Untuk yang terakhir Shinichi menengok ke arah Haibara sekedar memastikan bahwa kekasihnya masih di sana, sebelum dengan terpaksa berpose diam bersama orang-orang yang sedang berfoto itu.
"Sekarang, giliran pasangan senior yang berfoto sendiri!"
Tepat setelah kilat kamera mengabadikan gambar mereka, Sonoko mendorong Ran kembali ke dekatnya, diikuti sosok wanita berambut pendek itu sendiri yang menjauh bersama suaminya, lalu Heiji dan Kazuha yang juga mengambil jarak dari mereka. Merasa cukup dengan semua kegilaan itu, Shinichi langsung mendorong Ichigo dari gendongannya kepada Ran sebelum melangkah memutari kerumunan orang-orang.
"Shinichi!" Sonoko berteriak dan meraih tangannya, menghentikannya. "Mau kemana kau!"
"Bukan urusanmu, sialan!" Shinichi menepis tangan wanita itu, namun begitu melepaskan diri, Makoto melangkah ke depannya dan lagi-lagi menghalangi jalan.
"Bicaralah yang sopan pada wanita." Pria itu menahan pundaknya sehingga ia tidak bisa maju.
Mendapat perlakuan itu, dengusan Shinichi tidak lagi tertahan. Ia meremas dan menarik tangan Makoto dengan kuat, lalu setelah melepaskannya, menatap pria itu tajam penuh tantangan. "Kalau kau mau berkelahi denganku, akan kuladeni sekarang juga."
"Kyogoku-san, kumohon hentikan..." Ran tiba-tiba berdiri di sebelahnya dan menghentikan lawan Shinichi. "Aku minta maaf mewakilinya."
Makoto terlihat menarik napas dalam sebelum menyisih dari hadapan Shinichi. Namun Shinichi dalam tingkatan amarah tertinggi sehingga enggan menarik pandangan matanya dari pria itu. Jika tidak ingat pada tujuannya semula, ia pasti sudah menghajar suami Sonoko sekarang juga.
Shinichi akhirnya meninggalkan sosok pria tinggi besar itu setengah menit setelahnya, setelah itu berjalan melewati orang-orang dan mendapati... tidak ada siapa pun... di bagian belakang kerumunan. Tidak ada. Haibara. Disana.
Mata Shinichi terbelalak dan langsung berpaling ke segala arah! Tidak mendapati juga sosok kekasihnya di area depan kuil, ia berlari ke gerbang saat itu juga. Namun sialnya, jalannya kembali terhalang. Wartawan-wartawan langsung menyerbunya.
"Kudo-san, bagaimana pernikahannya?"
"Apa Anda ingin mengucapkan selamat pada teman Anda?"
"Kenapa kekasih Anda pergi seorang diri, Kudo-san? Apa kalian bertengkar—"
Pertanyaan itu langsung dilanjutkan Shinichi dengan meraih dan meremas mik yang dipegang pemiliknya. Ia mendorongnya turun seraya menatap tajam, dan bertanya, "Kemana dia pergi?"
Dengan gugup, pria wartawan itu menunjuk arah belakangnya, arah di depan Shinichi. Ia mendorong mik itu lagi, kali ini mendorongnya mundur ke arah pria tersebut, lalu berlari cepat ke arah kepergian Haibara. Shinichi tidak tahu apa yang membuat wanita itu tiba-tiba pergi. Namun setiap Ai Haibara menghilang secara tiba-tiba, akhirnya tidak pernah bagus bagi mereka. Mungkin ini memang salahnya karena melepaskan tangan kekasihnya. Ia juga salah karena tidak berusaha lebih keras untuk keluar dari kerumunan. Hanya saja ia tetap berharap bahwa Haibara tidak akan terlalu marah padanya.
Sial.
Sial!
SIAL!
"HAIBARA!" Ia melihatnya. Ia melihat Haibara duduk di halte bis dekat jalan besar, di ujung persimpangan jalan ini.
Gadis itu menatapnya balik lalu berdiri. Namun kemudian sebuah bis yang sedang berjalan, berhenti tepat di depan wanita itu, menghalangi pandangan mereka.
"HAIBARA!"
Dengan sekuat tenaga Shinichi berlari. Tidak perduli paru-parunya mulai panas dan sesak. Tidak perduli sama sekali. Ia tidak bisa membedakan apakah sakit yang sedang dirasakannya ini berasal dari sesak napas kekurangan udara, atau perasaan takut karena berpikir Haibara akan meninggalkannya. Sampai ia sudah begitu dekat, dan bis itu berjalan lagi, lalu langkah kakinya perlahan-lahan berhenti.
Untuk sesaat, jantung Shinichi juga serasa berhenti saat itu. Atau memang sempat berhenti? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, saat itu Haibara masih di sana, masih berdiri di depannya seraya tersenyum dan itu membuatnya merasa hidup kembali.
"Haibara..." Shinichi memanggilnya menggunakan separuh suara, separuhnya berupa udara.
"Kau memanggilku Ai-chan saat merayuku, dan memanggilku Haibara sekarang." Katanya, terdengar familiar.
Shinichi menghela tertahan dan kembali berjalan, tanpa tahu dari mana lagi rasa sesak di dadanya, apakah lega atau malah haru. Ia meraih wanita itu, merengkuhnya dengan segera.
"Kenapa kau pergi tiba-tiba dan menakutiku seperti ini?" Ia berbisik tidak bertenaga di belakang kepala kekasihnya.
"Aku hanya merasa sedikit bosan, dan memutuskan untuk jalan-jalan." Nada dan suara itu terdengar tenang, membuat Shinichi melapaskan pelukan untuk membuktikan melalui matanya sendiri. Lalu, menemukan senyum Haibara masih terpasang. "Apa itu benar-benar menakutimu?"
"... ya." Ia tidak menyangkalnya sedikit pun. Bahkan raut wajah dan sorot mata Shinichi yang ketakutan masih tersisa sampai sekarang. "Aku takut kau meninggalkanku."
"Sudah kubilang, aku akan melindungimu dari sekarang." Haibara menarik dirinya sendiri ke dalam pelukan Shinichi kali ini. "Kau tidak perlu takut."
Seraya memejam, Shinichi menarik napas dalam-dalam dalam paru-parunya yang terasa kering. Ia menghelanya perlahan, bersamaan dengan kedua lengannya yang memeluk wanita itu balik.
Tepat sembilan jam kemudian, Haibara memeluknya dari belakang selagi Shinichi menikmati makan malamnya yang berupa tokatsu yang dibuat oleh wanita itu sendiri. Masakan Haibara selalu enak seperti biasanya, dan Shinichi sangat menikmati. Apalagi ditambah perlakuan kekasihnya yang begitu mesra akhir-akhir ini. Tepatnya setelah ia memalar wanita itu.
"Kemana cincinmu?" Shinichi menyadarinya saat melihat kedua lengan yang memeluk lehernya itu terlihat polos tanpa perhiasan apapun.
"Aku menyimpannya." Balas suara Haibara, disusul kecupan kecil di pipinya. "Aku takut menghilangkannya. Harga cincin itu bahkan dua kali lipat dari kalungku."
"Aku lebih suka kalau kau memakainya." Katanya setelah itu, lalu memasukan potongan tokatsu ke dalam mulut dan mengunyahnya.
"Shinichi..." Bisikan itu adalah bisikan tidak biasa dari Haibara, mendengarnya membuat Shinichi berhenti dan menengok nyaris seketika. "Aku ingin kembali ke Beika."
"Apa?" Ia terkejut terang-terangan, memandang balik mata biru Haibara yang redup tentram.
"Aku mengkhawatirkan Profesor, aku takut dia makan sembarangan. Fusae-san juga selalu sibuk dan jarang pulang ke Jepang." Lanjutnya dengan suara pelan yang sama, yang masih terasa aneh bagi pendengarnya.
"Maksudmu, kita akan tinggal bersama Profesor?" Shinichi tertanya seraya meletakan sumpit di tangannya ke meja. "Apa itu tidak akan membuatnya merasa tidak nyaman?"
Haibara menggelang segera setelah pertanyaannya berhenti, lalu memejamkan mata seraya menyandarkan kepala ke pundak Shinichi, hal yang membuat pria ini tidak dapat bangkit berdiri untuk meluruskan pandangan mereka.
"Kau bisa tinggal di rumahmu sendiri, jaraknya hanya lima langkah, selain itu—"
Shinichi menarik lengan Haibara hingga melepaskannya saat itu juga. Ia memutar posisi duduknya di atas kursi, dan kini mereka berhadapan lurus. Haibara membuka mata untuk membalas tatapannya satu detik kemudian.
"Omong kosong apa lagi yang sedang kau bicarakan, Ai?" Tanya Shinichi serius dan sedikit emosi.
Namun mendengarnya, Haibara justru tersenyum dan membalas tenang, "Kalau begitu kita bisa tinggal bersama di rumahmu, bagaimana?"
"Kenapa?" Shinichi mencengkram lengan kekasihnya tanpa sadar.
"Karena rumahmu yang paling dekat dengan rumah Profesor, jadi mudah bagiku untuk mengawasinya." Katanya, mengatakan semua omong kosong itu seolah Shinichi akan percaya.
Shinichi tidak percaya tentu saja. Ia membiarkan Haibara bicara hanya untuk mendapatkan waktu selama mengamati mata biru wanita itu. Mata birunya sangat tenang. Ketenangan yang justru terlihat menakutkan untuk seorang Ai Haibara yang biasanya tidak bakal bisa menahan gunjingan orang mengenai hubungan gelap mereka. Dan dengan kembali ke Beika dimana semua orang mengenal mereka, gunjingan itu pasti akan terdengar begitu dekat dan lebih menyakiti kekasihnya.
"Bukan itu." Shinichi berkata saat sadar tangannya telah mencengkram tangan Haibara, lalu setelahnya justru memperkuat tenaga cengkramannya. "Kenapa kau tiba-tiba tidak perduli pada orang-orang yang akan membicarakanmu? Apa kau juga tidak akan perduli jika ayahku mengusir kita lagi?"
"Sudah aku bilang, karena Profesor—ngh..."
Shinichi mencakar lengan kecil itu tanpa ampun seraya berkata geram, "Jangan membawa-bawa nama Profesor dalam omong kosongmu! Aku tidak akan mengampunimu kalau kau berusaha menipuku lagi, Ai!"
"Apakah kau tidak ingin aku lebih dekat dengan Ichigo?" Balasnya sambil menahan sakit, namun tidak terlihat emosi. Shinichi melepaskan cengkraman dan menarik mundur tangannya setelah itu. "Kau juga akan menghadapi banyak persidangan dan akan kembali bekerja, kita hanya akan membuang waktu dan tenaga kalau terus bolak-balik dari Osaka ke Tokyo. Masalah orang tuamu, kau pasti juga akan bisa menyelesaikannya. Ayahmu bukan benar-benar orang yang kejam. Selain itu, semua orang sudah tahu wajah dan identitasku. Dimana saja kita tinggal, tidak akan ada lagi bedanya."
Shinichi masih menatap curiga. Kau pasti juga akan curiga saat kekasihmu yang berego tinggi tiba-tiba meletakan harga dirinya di bawah kaki orang lain. Selain itu Haibara juga bukan wanita yang benar-benar mampu menerima kebencian banyak orang. Wanita itu adalah pengecut sejati yang selalu terobsesi menjadi orang baik hati. Shinichi bersumpah, jika Haibara menipunya lagi, ia akan menghancurkan semuanya saat itu juga sehingga tidak ada satu pun orang yang bisa tersenyum di atas penderitaannya.
"Kalau begitu aku akan mencari rumah di sekitar blok untuk kita tempati bersama." Ia berkata tanpa senyuman dan masih dengan menatap lurus-lurus mata kekasihnya.
"Aku ingin pindah besok, Shinichi..." Haibara kembali memberikan pelukan seraya berkata.
Shinichi memejamkan mata selagi berharap ini bukan salah satu akal-akalan licik wanita itu. Seharusnya Haibara juga sudah menyerah. Mungkin ia saja yang terlalu paranoid saat ini. Mungkin kekasihnya memang sudah berubah dan ingin belajar menyesuaikan diri dengan keadaan. Mungkin juga, keadaan akan lebih baik setelah mereka kembali ke Beika.
"Baiklah." Katanya kemudian, lalu membalas pelukannya.
Matanya kembali dipergunakan untuk menatap ayahnya yang berdenging geram di atas sofa, sementara ia dan Haibara berdiri di depan pintu seraya menggenggam gagang koper di tangan masing-masing. Selama hidupnya, ini untuk pertama kali Shinichi Kudo menjilat ludahnya sendiri, dan itu hanya demi Haibara beserta ide-ide konyol kekasihnya.
Shinichi juga tidak akan sampai begini kalau memiliki sedikit waktu untuk mencari tempat tinggal, atau Haibara bersedia tinggal di hotel. Tapi katanya, terlalu jauh dari rumah Profesor Agasa. Dan blok 2 di Beika juga merupakan pemukiman padat penduduk sehingga sulit untuk mencari rumah kosong di sana.
"Aku tidak bisa memutuskannya seorang diri." Pria berkaca mata dan berkumis itu melepaskan genggaman tangannya yang sempat mengepal kuat, dan berkata. "Itu adalah hak istrimu untuk memutuskan apakah dia bisa tinggal di sini atau tidak."
Shinichi mengalihkan pandangan matanya pada Ran saat itu juga, mendapati wanita tersebut masih berdiri menunduk seraya memeluk anak mereka yang bergelayut manja di sampingnya.
"Tidak perlu khawatir. Kalau kau menolaknya, kami bisa tinggal di rumah Profesor." Kata Shinichi yang tidak sabar menunggu, kemudian tangan Haibara menarik tangannya setelah itu, berusaha menghentikannya. "Kau tidak seperti akan tinggal di sini dalam waktu yang lama. Setelah kita bercerai kau pasti juga akan angkat kaki. Jadi nikmati saja waktumu."
Segera, setelah menyelesaikan perkataan itu, ia menarik balik tangan Haibara dan menuntunnya berbalik. Mereka sudah akan mencapai pintu saat akhirnya suara wanita itu terdengar.
"Kalau itu satu-satunya cara agar kita bisa tinggal bersama lagi, aku akan menerimanya."
Wajah Shinichi sepenuhnya tanpa emosi. Sebenarnya, ia mulai muak dengan kegigihan wanita itu. Namun itu juga yang membuatnya tidak dapat merasakan kekesalan lagi. Ia sudah bosan menanggapinya.
Dengan merangkul pundak Haibara, Shinichi kembali berbalik. Ia menggumam samar dan mengangkat dagu sebelum berjalan melewati orang-orang itu. Shinichi membawa kekasihnya naik ke lantai dua, melewati anak-anak tangga dan berjalan lurus ke lorong, lalu berhenti di bagian paling ujung di depan pintu kamar yang terbuka.
"Shin-chan..." Adalah Ibunya yang berkata dari dalam kamar itu. "Aku sudah membersihkannya, aku tahu ayahmu dan Ran-chan akan mengizinkan kalian."
Ini juga untuk pertama kalinya, Shinichi bersyukur karena memiliki ibu yang setengah gila sepertinya. Ia tersenyum dan kembali melangkah bersama Haibara.
"Terima kasih, Kaa-san." Ucapnya begitu mereka berada di depan wanita berambut ikal itu.
"Jangan sungkan, aku sudah siap punya cucu lagi." Balasnya seraya terkikik jahil dan berkedip penuh arti. Bersamaan itu, Shinichi melirik kekasihnya yang sedang menunduk malu.
Benar-benar manis, batinnya. Ini adalah kejadian langka bagi Shinichi.
"Tapi..." Ibu dari Shinichi itu bergumam pelan, dan kini raut wajahnya sedikit sendu. "Jangan terlalu jahat pada Ran-chan. Dia adalah wanita yang baik."
"Hm." Balas Shinichi berupa gumam datar.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang." Ibunya berkata lagi, kali ini sambil berjalan. Shinichi dan Haibara mengikutinya melalui pandangan mata, lalu wanita itu menambahkan seraya menyelip di antara daun pintu yang ditariknya dari luar. "Jangan lupa turun untuk makan malam."
"Aku mengerti." Jawabnya untuk yang terakhir kali, dan Ibunya tersenyum sebelum menutup pintu kamar mereka rapat-rapat.
"Ai-chan..." Shinichi menyeringai ke arah sosok di dalam rangkulannya, kemudian mengeliminasi jarak di antara wajah mereka dengan tangan melepaskan gagang koper.
"Jangan mulai, Shinichi." Haibara berpaling dari cumbuan. Wanita itu juga melepaskan diri sebelum berjalan ke arah jendela dan membukanya.
"Dari sini..." Shinichi menyergap kekasihnya dengan pelukan dari belakang saat itu juga. "Selama lima tahun aku terus berpikir, kapan hari ini akan datang..."
"Dasar penguntit." Jawab Haibara main-main diiringi tawa kecil.
Shinichi menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kepala wanita itu. Rasanya masih seperti mimpi. Ia bahkan tidak pernah berani berkhayal hari ini akan datang. Shinichi benar-benar merasa sangat bahagia sekarang.
"Ai-chan..." bisiknya, merayu sekali lagi.
"Aku masih menstruasi, Shinichi..."
Mendengar alasan yang sama kesekian kalinya, Shinichi mulai berpikir untuk mencari obat yang bisa membuat wanita berhenti menstruasi dalam waktu setidaknya setahun.
Sudah satu minggu, Shinichi sangat yakin itu karena ia sendiri yang melakukannya, akan tetapi pengadilan tidak juga memproses surat percerian yang ia ajukan.
Siang itu setelah menghadiri persidangan terakhir melawan kasus pemerasan, Shinichi mencoba mengeceknya, dan betapa terkejutnya saat ia menemukan fakta bahwa surat perceraian yang ia ajukan telah dibatalkan satu hari sebelum pengadilan hendak memprosesnya, tepatnya di hari ia kembali ke Beika bersama Haibara, tiga hari lalu, dan pembatalan itu dilakukan oleh Shinichi sendiri, dengan cap stempel dan tanda tangannya menjadi bukti. Tidak. Tidak. Shinichi tidak menjilat ludahnya sendiri dua kali. Ia tidak membatalkan perceriannya. Ia justru tidak sabar menunggu pengadilan memanggilnya untuk memulai persidangan pertama. Yang menjadi pertanyaan sekarang, siapa orang brengsek yang berani memboikot pengajuan perceraian dan memalsukan data dirinya?
Dengan langkah menghentak Shinichi melangkah masuk ke rumah sepulang dari pengadilan. Ia menyeruak masuk ke ruang tengah dimana Ran dan anak mereka berada, sementara ia belum sempat mencari tahu dimana keberadaan Haibara saat ini. Tapi Haibara bisa menunggu, sedangkan tidak dengan amarah Shinichi.
"Kau yang melakukannya!" Ia menyebar kertas-kertas di tangannya ke udara, menghujani Ran yang berdiri dalam keterkejutan.
"Apa maksudmu?" Tanya wanita itu dengan wajah terlihat bingung.
Mata Shinichi memincing tajam. Ia tidak tahu kenapa dulu bisa memandang Ran sebagai sosok yang manis saat kenyataannya tingkah itu sangat memuakan. Wanita itu bahkan tidak memiliki latar belakang mengenaskan seperti Haibara, tapi selalu menangis dan menunjukan kelemahannya. Haibara yang bangkit dari neraka saja, mampu menyembunyikan semua luka di balik topeng dingin wajahnya.
"Kau memanipulasi surat perceraian yang aku kirim ke pengadilan!" Shinichi tidak punya hati untuk bersabar kali ini, meski ia cukup tahan untuk tidak bertindak kasar.
"Aku tidak, Shinichi..." jawabnya pelan, bersamaan itu, Ichigo berlari ke dekat Shinichi.
"Papa! Aku ingin main!"
Melihat dan mendapati putranya tersenyum, Shinichi mencoba menahan diri. Ia menarik napas dan meraih bocah kecil itu ke dalam gendongan. Sebelum pergi, Shinichi menatap Ran dengan tajam sekali lagi. Ia pasti akan membuat perhitungan dengan wanita itu nanti.
"Oh, kau sudah pulang, Shinichi-kun?" Haibara datang dari pintu depan saat itu, dengan kedua tangannya memeluk bunga mawar di depan dada.
"Kau dari mana?" Ia bertanya dengan suara yang sudah jauh lebih tenang.
"Aku tadi belanja lalu memasak makan siang untuk Profesor." Balasnya sambil tersenyum. "Aku membeli bunga untuk kutaruh di kamar."
"Hm." Gumamnya pendek sebagai persetujuan.
"Kau sudah makan?" Kali ini, Haibara berjalan menuju tangga.
Shinichi mengikutinya masih dengan menggendong Ichigo. Saat menaiki tangga, ia menjawab pelan, "Kau bahkan tidak memasak untukku."
"Aku tidak bisa memasak dua kali setiap jam makan, kau tahu?" Katanya tanpa menengok. "Selain itu istrimu selalu memasak untukmu, kan? Jika aku juga memasak di sini, itu hanya akan membuang-buang makanan."
"Kau bisa membawa makanan dari rumah Profesor untukku." Shinichi mendengus, saat itu mereka telah sampai di depan kamar. Namun Haibara seolah tidak perduli dan sibuk membuka buket bunga mawar untuk dipindahkan ke dalam vas kaca. "Kenapa aku merasa kita malah semakin jauh setelah pindah kemari."
"Itu hanya perasaanmu saja." Haibara baru menengok setelah mengatakan hal itu, tersenyum simpel tanpa arti di mata Shinichi.
"Kau bahkan tidak tidur disini semalam." Tambahnya sedikit kesal. "Aku rasa kita sebaiknya pindah saja ke rumah Profesor karena kau juga lebih banyak menghabiskan waktu di sana."
Haibara menatap dan mendekat saat itu, kemudian meraih tangan mungil Ichigo yang memutar-mutar mainan. Melihatnya, Shinichi langsung tahu apa yang akan wanita itu gunakan sebagai alasan.
"Anakmu perlu menghabiskan waktu bersamamu, Shinichi..." perkataan pelan Haibara jelas membenarkannya. "Kau sudah makan Ichi-chan?"
"Sudah!" Ichigo menjawab mantap. "Susu. Apel. Dan sayur buatan Mama."
"Apa masakan Mamamu enak?" Suara Haibara diselingi tawa kecil, dan Shinichi tiba-tiba merasa hangat mendengarnya.
"Enak sekali! Neesan, mau?"
"Ichigo..." Shinichi menyela perkataan bocah itu seraya menunduk. Mata mereka bertemu setelah Ichigo mendongaknya. "Panggil dia Kaasan mulai sekarang."
"Itu tidak perlu." Haibara justru adalah orang yang menjawabnya. Wanita itu mundur satu langkah sebelum berjalan ke dekat jendela dan menatap ke arah luar.
"Kenapa?" Tanya Shinichi heran.
"Hanya belum waktunya, Shinichi." Jawabnya dengan mengok sekilas.
Mungkin terasa samar, tapi secara pasti Shinichi merasakan jarak yang Haibara buat. Rasa-rasanya wanita itu tinggal di satu rumah yang sama dengannya hanya sebagai kedok agar Shinichi tidak meninggalkan Ichigo. Sejak mereka di Beika, Haibara juga terus menghindar dari hubungan badan. Shinichi tidak percaya wanita itu masih menstruasi. Ia hanya tidak ingin bertengkar sehingga mencoba bersabar. Dan, ia juga akan mencoba bersabar selama Haibara tidak mencoba menipunya.
"Ajak Ichigo main sebentar." Ia mendekat pada Haibara dan mengangkat putranya ke dekat wanita itu. "Aku mau ganti baju dulu." Lanjutnya, sementara Haibara meraih Ichigo ke dalam gendongan sambil tersenyum.
Nanti malam akan menjadi pesta ulang tahun Ichigo Kudo yang ke empat. Shinichi cukup membantu dengan memasang dekorasi pesta sederhana, karena ia juga menolak rencana ibunya yang ingin mengundang banyak orang, dan berakhir hanya mengundang Profesor Agasa dan orang tua Ran, dan tentu saja, teman-teman terdekat wanita itu, Sonoko berserta suaminya, dan Kazuha beserta Heiji yang baru kembali dari bulan madu.
Shinichi merengut sebal sepanjang siang, alasannya tidak lain adalah Sonoko dan Kazuha yang datang lebih awal dari acara pesta dan terus berkomentar mengenai dirinya dan Haibara yang tinggal di rumah ini. Ia akan tanpa segan menampar mereka jika bukan Haibara sendiri yang menghalangi. Mungkin dua wanita sahabat Ran itu juga sudah lebih tahu diri dengan tidak terang-terangan memaki Haibara, akan tetapi bisikan-bisikan mereka dapat Shinichi dengar dengan jelas. Ia benar-benar muak dengan keadaan ini. Ia hanya berharap pengadilan sudah memproses gugatan perceraian yang telah ia perbaharui tadi pagi.
"Shinichi?" Suaran Ran mengganggunya yang sedang menaiki tangga untuk memasang tulisan kertas di dinding rumah bagian belakang. Shinichi menengoknya dari atas, mencari tahu apa yang wanita itu inginkan kali ini. "Aku akan memeganginya, hati-hati."
Shinichi mendengus dan beranjak naik lagi. Ornamen-ornamen bodoh ini juga wanita itu yang memberikannya. Tapi ia mau melakukan ini bukan untuknya, melainkan untuk Ichigo. Bagaimana pun juga ia ingin putranya merasa senang di hari ulang tahun.
"Oneesan, kau perlu batuan?" Kali ini, suara Heiji yang mengganggu. Hanya saja dengan senang hati Shinichi mencari tahu karena merasa Haibara adalah orang yang pria Osaka itu ajak bicara.
Terlihat dari tempatnya di atas tangga, Heiji menghampiri Haibara yang sedang membawa beberapa bunga untuk menghias meja tamu yang terletak di halaman belakang rumah mereka. Gadis itu mengangguk dan memberikan beberapa bunga di tangannya pada Heiji, lalu tidak lama Kazuha datang menghampiri keduanya. Heiji terlihat berdebat dengan Kazuha melalui suara berbisik-bisik. Shinichi sudah memiliki firasat buruk saat itu. Dan benar saja, tidak sampai setengah menit seruan istri Heiji memekan telinga semua orang di halaman.
"Kau lebih membelanya!"
Seketika, Shinichi memincingkan mata. Ia bergerak turun dengan cepat, selagi berharap istri Heiji tidak akan menyerang Haibara. Setidaknya tidak sebelum ia sampai disana.
"Jangan-jangan kau juga sudah bermain gila dengannya!"
"Kazuha!"
"Ah, sial!" Shinichi terpeleset karena panik, ia terjatuh dan menubruk Ran yang sepertinya dengan sengaja menyelamatkannya dari beton keras teras rumah.
"Kau tidak apa-apa, Shinichi?" Wanita itu bertanya selagi Shinichi berusaha bangun.
Ia tidak menjawabnya karena langsung mengalihkan mata ke arah Haibara. Yang ia dapati saat itu justru Kazuha dan Heiji yang berlari mendekatinya, sementara Haibara mengalihkan pandangan darinya, dan seolah tidak tahu apa yang terjadi, sosok remaja itu berjalan dari meja ke meja mengisi vas-vas bunga.
"Kudo, kau tidak apa-apa?" Heiji sampai di depannya dan mengulurkan tangan, sedangkan Kazuha membantu Ran berdiri.
Shinichi meraihnya seraya meninggalkan pandangan dari Haibara. Ia kemudian berjalan pergi dari sana menuju pintu belakang rumah. Lagi-lagi, Shinichi merasa dipaksa Haibara untuk melihat betapa jauhnya hubungan mereka saat ini. Membuatnya merasa benar-benar emosi.
"Kau benar-benar tidak perduli pada Shinichi, bukan begitu, Nona muda?" Suara Sonoko mengejek dengan jelas, selagi Haibara mengisi vas terakhir dari meja-meja di halaman rumah Shinichi. "Kau hanya perduli dengan uangnya."
"Kalau yang kau maksud aku tidak membantunya saat dia terjatuh tadi," Haibara menengok seraya berkata, menemui sosok Sonoko yang saat ini sedang bersandar ke dinding. "... aku merasa tidak perlu melakukannya karena sudah ada teman-teman dan istrinya yang membantu. Shinichi juga tidak terluka sampai harus ada empat orang yang membangunkannya."
"Kalau kau sadar bahwa Shinichi sudah punya teman-teman dan istri yang membantunya, kenapa kau tidak pergi darinya?"
"Sonoko, hentikan..." Suara itu bukan milik Haibara, melainkan milik Ran yang datang dari belakang wanita tersebut seraya menarik pundaknya. "Jangan memancing keributan dengannya, Shinichi akan marah padamu. Kau tidak ingin dia melakukan hal jahat lagi, kan?"
"Haaah... aku lupa..." Sonoko mendesah napas yang terdengar dibuat-buat. "Nona muda satu ini punya kesatria buta yang selalu melindunginya."
Sonoko pergi setelah itu, mendekati Kazuha yang saat ini memegangi tangga yang sedang dipanjat oleh Heiji. Saat itu, Ran masih di sana membalas tatapannya. Haibara hanya menaikan sebelah alis menatap istri Shinichi.
"Jangan kau pikir, aku melakukan semua ini untukmu." Wanita itu mulai membuka suara, suara yang dingin dan datar. "Aku melakukan semua ini untuk suamiku, dan untuk mendapatkannya kembali. Aku tidak akan pernah menyerah."
"Itu kabar bagus." Haibara menarik salah satu bunga di tangannya seraya membalas. "Selamat berjuang." Lanjutnya, lalu berjalan dan memberikan bunga itu pada Ran.
Ran menepisnya dengan cepat.
"Simpan saja bunga itu untukmu. Karena kau memerlukannya untuk menutupi kebusukanmu."
Wanita itu berbalik dengan meninggalkan kata-kata yang kejam, dan Haibara mendengus kecil di belakang punggungnya. Ia menatap bunga itu beberapa saat sebelum meninggalkan tempat itu juga. Dekorasi halaman sudah selesai lagi pula. Ia ingin mengecek apakah ibu Shinichi sudah membuat adonan roti untuk kue ulang tahun.
"Yukiko-san?" Haibara memanggilnya yang sedang bermain-main tepung dengan Ichigo. Alasan yang membuat wanita ini langsung tersenyum.
"Oneesan!" Ichigo langsung berlari berlindung ke belakangnya, menghindari serangan main-main ibu Shinichi.
"Wah, Ichi-chan benar-benar sudah sangat menyukaimu, Ai-chan." Kata wanita berambut coklat itu sambil tertawa kecil.
"Ichigo anak yang manis, dia pintar seperti ayahnya, jadi dia mudah membaur." Haibara mengusap kepala bocah itu. Sedikit banyak Ichigo mengingatkannya pada sosok Conan Edogawa, dan itu membuatnya sedikit merindukan sosok kecil Shinichi. "Apa kuenya sudah siap?"
"Belum, aku baru memanggangnya. Akan kuberi tahu kau nanti saat waktunya mendekorasi." Ibu Shinichi membalas. "Oh iya, Shin-chan belum makan dari kemarin. Apa kau tahu apa yang terjadi padanya, Ai-chan? Apa dia sakit?"
Pemberitahuan itu sedikit mengejutkan bagi Haibara. Ia semalaman berada di rumah Profesor dan baru datang kemari siang ini. Meski tidak yakin, mengingat perkataan Shinichi kemarin, ia jadi berpikir bahwa pria itu menunggunya untuk membawakan makanan dari rumah Profesor.
"Aku akan mencoba bertanya padanya." Ia akhirnya membalas.
Dengan tersenyum, ia melepaskan diri dari Ichigo perlahan. Haibara kemudian membuka kulkas dan mengambil beberapa makanan kecil dari sana. Dibawanya makanan-makanan itu menggantikan bunga-bunga yang ia letakan di meja, berjalan menuju kamar di lantai dua dimana kemungkinan besar Shinichi berada.
Haibara mendorong pintu kamar dengan sikunya dan langsung terbeku karena menemukan Shinichi yang berada di atas Ran saat itu. Mereka berdua di atas lantai, lantai yang sama dimana makanan-makanan kecil di tangan Haibara berjatuhan.
"Ai..." Shinichi langsung bangkit dan meraihnya yang membantu, menyadarkannya dari rasa sakit saat itu. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan..."
Untuk beberapa detik, rasa sakit itu masih terasa dan membuatnya tidak dapat bicara. Selama itu juga ia menatap Shinichi, bersamaan sosok Ran di belakang pria itu, yang perlahan-lahan berdiri dengan beberapa peralatan P3K jatuh darinya. Ia menelan ludahnya yang terasa padat, sebelum akhirnya dapat bersuara.
"Memangnya apa yang aku pikirkan?" Ia mendongak seraya sedikit memiringkan kepalanya. "Kalian sudah menikah, dan melihatmu di atasnya bukan hal yang mengherankan."
Haibara merasakan tangannya di remas kuat-kuat saat itu juga, oleh Shinichi yang menatapnya marah. "Kau masih mau mencoba menguji kesabaranku setelah selama ini?"
Haibara menarik napas dalam-dalam sebelum menjawabnya kali ini, "Aku hanya ingin membawakanmu makanan kecil, Shinichi. Kau belum makan, kan? Kau mau aku memasakan sesuatu untukmu?"
Tepat setelah suaranya berhenti, Shinichi langsung melepaskannya. Haibara segera mengambil makanan-makanan yang tadi jatuh ke lantai, lalu mengikuti Shinichi masuk ke dalam kamar.
"Keluar dari sini!" Perkataan bernada kejam itu ditujukan pada Ran, membuat wanita itu langsung berlari.
Mata Haibara melirik sesaat sebelum menaruh makanan di tangannya ke ranjang, beralih mengambil obat-obatan yang berserakan di lantai.
"Dia berusaha mengobatiku." Suara Shinichi terdengar dari belakang punggung Haibara beberapa saat kemudian. "Aku sudah menolaknya, tapi dia memaksa. Saat aku mendorongnya, dia menarikku sehingga kami terjatuh dan berada di posisi itu."
"Sudah aku bilang itu tidak mengherankan." Kata Haibara pelan dan tenang, kemudian menengok Shinichi seraya melanjutkan, "Kau terluka dimana? Biar aku obati."
"Apa maksud perkataanmu?" Perkataan itu keluar bersama sorot mata Shinichi yang beranjak tajam. "Kau pikir aku akan menidurinya?"
"Shinichi..." Haibara memegang dada pria itu dengan lembut, merasakan detakannya yang kencang seolah siap meledak bersama amarah pemiliknya. "Biarkan aku mengobatimu dulu."
Shinichi mendengus, akan tetapi kemarahannya terasa mereda sekarang. Merasakannya, Haibara tersenyum dan menarik tangan pria itu, menuntunnya untuk duduk. Ia baru sadar ada noda darah yang merembas keluar di celana Shinichi pada bagian lututnya saat itu.
"Lepaskan celanamu." Katanya seraya menaruh peralatan P3K di ranjang, di dekat onigiri dan dorayaki kemasan.
"Kau harus bertanggung jawab setelah aku melepaskannya." Pria itu berkata datar. Saat Haibara mendongak, seringaian yang biasa Shinichi umbar absen dari wajahnya saat ini.
"Baiklah..." Ia membalas pelan sebelum mengecup pipi Shinichi, lalu berbalik hanya untuk mengunci pintu kamar, dan kembali tidak sampai lima detik kemudian. "Sekarang lepaskan celanamu."
Senyum Shinichi merekah untuk pertama kalinya hari ini, diikuti bisikan mesumnya yang bernada seperti biasa, "Kau bisa melepaskannya sendiri, Ai-chan..."
Shinichi terbangun dari tidur siangnya yang tanpa mimpi, dengan suasana hati sangat baik. Ia memang terlalu paranoid akhir-akhir ini, ternyata Haibara tidak sedang menjaga jarak darinya. Mereka bercinta sama panasnya seperti sebelum-sebelumnya, dan itu juga yang membuat suasana hatinya sangat baik.
Setelah merentangkan kedua tangan, Shinichi beranjak mengambil duduk. Ia memandang ke seisi kamarnya, mencari keberadaan kekasihnya. Mungkin ia baru tertidur beberapa jam, tapi ia langsung merindukan Haibara karena teringat adegan ranjang mereka tadi siang. Tubuh kecilnya yang ramping bergerak di atas Shinichi. Wajahnya yang selalu dipenuhi ekspresi setiap kali mereka bercinta. Dan bisikan-bisikan setengah mendesah wanita itu.
"Sudah bangun, Shin-Ecchi?" Wajah itu muncul mengikuti pintu kamar yang terbuka.
Shinichi mendengus geli mendengarnya, sebelum membalas, "Aku merindukanmu, Ai-chan..."
Haibara berjalan masuk seraya menyalin ekspresinya. Wanita itu sudah berganti baju dari yang terakhir Shinichi tanggalkan dari tubuh ramping itu, terlihat cantik dengan gaun putih sepanjang lutut dengan tali kecil di bagian pundaknya. Seraya meraih wajah Shinichi, Haibara kemudian berkata, "Aku sudah membuatkan nasi kare untukmu. Cepat makan dan mandi, pestanya akan dimulai sebentar lagi."
"Cium aku dulu." Balas Shinichi dengan cepat, dan secepat balasannya, Haibara mengabulkan permintaan itu, mengecup bibirnya. Namun ia tidak membiarkan kekasihnya pergi begitu saja. Dipeluknya wanita itu dengan erat di dalam tubuh telanjangnya.
"Kita harus berhenti sekarang, Shinichi..." Perkataan itu terdengar datar dan sedikit... aneh. "Kalau kau tidak cepat bersiap, orang-orang akan segera datang."
Untuk beberapa saat, Shinichi masih terdiam. Ia berusaha mengabaikan pikiran-pikiran paranoidnya seraya melepaskan Haibara, lalu mengangguk pelan menjawabnya. Dengan malas-malasan Shinichi kemudian turun dari ranjang, sementara Haibara berjalan ke dekat lemari dan mengambilkannya baju ganti.
"Pakai ini, dan turunlah dulu." Katanya seraya memberikan kaos longgar berlengan pendek. "Aku akan menyiapkan kemejamu, jadi setelah makan kau bisa langsung ke kamar mandi."
Shinichi sekali lagi menganggukan kepala menjawabnya. Ia segera memakai kaos itu dan berjalan keluar, meninggalkan Haibara di kamar. Saat ia turun, ruang tamu di lantai bawah rumahnya dalam keadaan sepi. Namun ketika ia melangkah ke dapur, ia mendengar suara orang-orang dari arah taman belakang. Shinichi memperhatikan dari jendela kecil di dapur dan mendapati keluarga beserta teman-temannya sedang bermain kembang api tangkai. Ichigo terlihat senang di sana, dan melihat itu Shinichi ikut tersenyum bahagia.
Shinichi menyelesaikan makannya dengan cepat karena merasa tidak sabar untuk bergabung. Mungkin sebelumnya ia tidak terlalu bersemangat karena suasana hatinya dalam keadaan buruk. Tapi sekarang ia benar-benar merasa antusias, ditambah bisa merasakan kembali makanan buatan Haibara yang membuat perutnya kenyang dalam kepuasan.
Setelah kurang dari sepuluh menit, ia kembali berjalan, menuju kamar mandi di lantai dua. Baju gantinya sudah ada di sana saat ia masuk, dan pasti Haibara yang sudah menyiapkannya. Shinichi mengenakan kemeja biru langit dengan jas biru tua dipadu celana berwarna sama itu setelah mandi, lalu langsung turun lagi ke lantai bawah, kali ini melangkah lurus menuju halaman belakang.
"Papa!" Ichigo langsung berlari menyergapnya, dan Shinichi merentangkan tangan menangkap bocah itu.
Ia mengangkatnya ke udara sambil tertawa, disabung tawa putranya yang tampan. Seraya mendekati kerumunan, Shinichi menggendong Ichigo di depan dada. Orang-orang sudah berkumpul di sana untuk mengelilingi meja dimana sebuah kue berada.
Ran mendekat untuk memasangkan topi ulang tahun di kepala anak mereka, lalu menyulut lilin di atas kue ulang tahun. Sonoko dan Kazuha meledakan konfeti seraya menyelamati putranya setelah itu, dan kemudian mereka menyanyikan lagu ulang tahun untuk bocah yang resmi berusia empat tahun ini.
Ketika Ichigo meniup lilin, Shinichi menengok untuk mencari keberadaan Haibara. Ia tidak menemukan sosok gadis itu di sudut mana pun pada halaman rumah, melainkan menemukan bayangannya di jendela kamar mereka. Seraya mengulum senyum, pria itu menatap orang tua Ran, lalu menatap ayahnya. Ia bisa mengerti jika Haibara tidak merasa nyaman di sekitar orang-orang itu, akan tetapi perasaannya tidak dapat berkhianat, dan kebahagiaan di dalam dirinya seraya tidak sempurna. Malah, ia sekarang merasakan ada lubang di hatinya.
"Papa!" Ichigo menarik perhatiannya saat itu, lalu ketika memperhatikan, ia mendapati bocah dalam gendongannya menyodorkan sepotong kue.
Shinichi kembali tersenyum sebelum menggigit kue itu, lalu Ichigo tertawa seraya mengalihkan sisa kue di tangannya ke pada sang ibu. Pria itu kemudian mengalihkan putranya ke gendongan Ran agar membawa anak mereka mendekati semua orang yang membarikan hadiah. Selagi mereka terlihat sibuk, ia mengambil sepotong kue dari meja dan meletakannya di atas piring kaca. Ia sekali lagi memperhatikan Ichigo yang saat ini sedang tertawa dan berlari ke pinggir pagar halaman dengan membawa kembang api roket, kemudian berjalan pergi diam-diam menuju kamarnya di lantai dua. Mungkin ia juga akan tinggal cukup lama bersama Haibara di kamar untuk melihat kembang api di langit dari balik jendela.
Langkah Shinichi sampai di depan kamar dan tanpa berhenti ia mendorong pintu di depannya. Senyum yang ia bawa terkuras habis bersamaan dengan pemandangan di kamar itu. Pintu-pintu lemari yang terbuka lebar tanpa isi, dan cincin yang tergeletak di atas ranjang bersama kalung dan kartu kredit Haibara.
Tangan Shinichi menjatuhkan piring di tangannya saat itu juga, lalu berbalik dan langsung berlari ke arah tangga. Ia menerjang pintu depan, lalu menerobos pagar yang hampir di tutup oleh Haibara dan menyentak pagar itu terbuka kembali. Mata Shinichi menggelap bagai gerhana saat mata biru itu menengok menatapnya. Kontras dari langit malam di belakang punggung mereka yang mulai dihiasi kembang-kembang api. Ia tidak tahu apakah dunia sedang kiamat, atau hanya ia saja yang merasakan udara di bumi tiba-tiba lenyap.
"Apa yang kau lakukan, Ai?" Shinichi bahkan tidak benar-benar mengatakan pertanyaannya, hampir tidak ada sisa tenaga yang mampu membuatnya bersuara.
Haibara mengalihkan pandangan tanpa balasan, lalu berjalan seraya menyeret koper. Derak roda koper itu seperti gemuruh petir yang menyambuk kesadaran Shinichi, membuatnya bergerak seketika. Dengan seluruh tenaga, Shinichi menarik gagang koper itu, mencoba meremukannya kalau bisa.
BRAK!
"Apa yang sedang kau lakukan, AI HAIBARA!" Tidak hanya membentak, ia juga menghentak koper itu ke aspal jalan sampai mematahkan gagangnya. Tapi setidaknya hal itu membuat Haibara menengok. Meski tidak juga ada seburat petunjuk di wajah tanpa ekspresi yang kini menghadapnya.
"Aku memutuskan untuk meninggalkanmu." Tenangnya suara di nada Haibara tidak meredam kejamnya kalimat itu.
Shinichi ditikamnya, tepat pada luka yang sama. Tidak sekali atau dua kali. Tikaman itu sudah berulang kali dirasakannya. Tapi setelah sembuh sekian lama, rasa sakitnya menjadi ribuan kali lipat lebih perih dari yang pertama.
"Kau bercanda?" Ucapnya tidak mau percaya, dengan suara yang kembali tidak bertenaga. "Apa yang bahkan aku lakukan? Kau marah karena aku meninggalkanmu sendirian di kamar?"
"Aku tidak marah." Kini, senyum menjadi ekspresi di wajah Haibara. "Aku merasa bahagia, karena kau terlihat bahagia bersama anak dan istrimu."
"OMONG KOSONG!" Shinichi melempar gagang koper yang tersisa di tangannya keras-keras. Teriakan itu adalah teriakan kesakitan dalam hatinya. Bisa-bisanya, Haibara melemparnya ke bumi setelah menjajikan hal-hal indah itu. "Aku sudah bilang padamu aku akan menceraikannya! Apa lagi yang kau inginkan!"
Haibara membatu, menatapnya dalam bisu. Shinichi semakin marah melihat hal itu. Bukankah mereka berjanji untuk saling berbagi? Untuk apa Haibara menyuruhnya mengatakan isi hati kalau wanita itu tetap tidak bisa memahaminya?
"Aku ingin melindungimu..."
Shinichi tidak membalasnya dengan suara kali ini, balasannya diwakilkan cengkraman kuat ke lengan kecil Haibara, meremasnya. Ia tidak perduli wanita itu mengeluh, atau ekspresi kesakitan di wajahnya. Hati Shinichi sudah hancur bertahun-tahun yang lalu, dan sekarang sisa-sisa serpihannya pun dihancurkan oleh orang yang sama.
"Kalau kau ingin melindungiku! Kau seharusnya selalu berada di dekatku!" Gigi-giginya mengerit saat itu.
"Aku melindungimu dari dekat selama ini untuk mengembalikan semua ke asalnya..." Mata Haibara perlahan terbuka seraya mengantakannya, mata itu pula mengatakan kejujuran yang malah terasa menyitkan bagi pemirsanya. "Sekarang semuanya sudah kembali, dan waktunya kita kembali ke takdir masing-masing..."
Wajah Shinichi menggeram murka. Haibara benar-benar lebih kejam dari yang ia duga. Jika alasannya adalah kecewa atau marah, itu masih logis bagi Shinichi. Ia bahkan sempat berpikir bahwa ini semua salahnya karena tidak menyadari lebih cepat ketiadaan Haibara di pesta ulang tahun Ichigo. Ia sama sekali tidak menyangka Haibara masih terjebak dengan pemikiran tolol mengenai takdir-takdir itu.
"Dua kali, Haibara..." Shinichi berkata dari sela napasnya yang panas, dan juga panas pada bagian di dalam dada beserta telapak tangannya yang meremas lengan Haibara semakin kuat. "Kau sudah mengkhianatiku dua kali..."
"Aku tidak mengkhianatimu, aku hanya mengikuti jalan takdir, Shinichi—"
"JANGAN SEBUT NAMAKU!" Ia mendorong tubuh kecil itu, seketika. Membuat Haibara jatuh ke jalan, dan melihatnya sama sekali tidak menumbuhkan rasa iba di hati Shinichi. Tidak. Ia bahkan sudah tidak punya hati sekarang karena wanita itu telah menghancurkannya tanpa tersisa. Ia hanya punya rasa benci sekarang ini. "Pergilah kalau kau mau pergi! Tapi ingat satu hal! Aku tidak akan pernah mengejarmu kali ini!"
Haibara tidak berkata apa-apa. Wanita itu berdiri dari jatuhnya dan malah meraih koper kembali, menariknya lagi. Tepat sesaat sebelum sosok itu berbalik, Shinichi melihatnya tersenyum untuk yang terakhir kali. Senyum yang penuh warna di bawah pias cahaya kembang api. Ia benar-benar ingin meraihnya saat itu, ia ingin menghentikan kekasihnya. Namun rasa sakit yang mendera Shinichi sampai melumpuhkan otaknya. Kaki dan tangan seolah telah terpisah dari tubuhnya. Ia bahkan tidak bisa merasakan raganya masih ada. Kesakitannya mencapai batas mati rasa.
"Haibara..." Shinichi tidak tahu, apakah suaranya terdengar atau tidak. Haibara tidak menengoknya sedikit pun waktu itu. "Jika kau pergi. Aku bersumpah, aku akan menghancurkan semuanya. Sehingga kau pun tidak akan pernah bahagia."
"Aku tahu kau akan membuatku bahagia, Kudo-kun..." wanita itu membalas masih dengan membelakanginya. "Kita akan tetap saling melindungi dari jauh..."
Haibara tidak menengok bahkan sampai menyelesaikan kalimat itu, tidak pernah menengok sama sekali. Sosoknya yang kurus dalam balutan gaun putih terus berjalan menembus kegelapan malam sampai tidak terlihat lagi. Haibara benar-benar meninggalkannya. Shinichi baru bisa bergerak saat menyadari hal ini. Kesadarannya juga diikuti rasa sakit luar biasa yang kembali mendera, juga kemarahan yang membakarnya dari dalam. Darah Shinichi serasa mendidih. Ia meninju pagar rumahnya sekuat tenaga.
Brak!
"HAAHH!" Sakit. Sakit sekali. Ia tidak tahan dengan sakitnya. Ia ingin menghancurkan semua yang ada di depannya!
BRAK! BRAK! BRAK!
"HAAHH!" Shinichi tidak berteriak karena besi-besi pagar menusuk tangannya, ia berteriak karena karena Haibara menikamnya dengan pengkhianatan untuk yang kedua kali.
Ia berlari ke dalam rumah dan meraih foto-foto di dinding! Dipecahkannya dengan tinju-tinju tangan kosong. Ia mengobrak-abrik semua benda! Memecahkan semua kaca! Membuat keributan menyaingi kembang api pesta.
Sebelum ia jatuh bersimbah darah, satu-satunya yang ia tahu adalah, ia ternyata memiliki kelenjar air mata...
18.
A/N: Saya mulai menulis sekitar jam satu siang, dan selesai tepat jam 21.30 padahal sudah diselingi masak makan mandi juga hahaha tapi gapapa, mumpung ini weekend kan ya :'D
Sebenarnya satu part di next chapter juga sudah saya tulis, tapi mulai selasa saya keluar kota, jadi mungkin akan sedikit sibuk, saya berharap pekerjaan tidak akan terlalu melelahkan, karena kalau kelelahan mood menulis saya selalu turun. Tapi jujur, saya sendiri pengen cepet update :')))
At last, thanks for read and review! Hope to see you soon!
