Penyesalan.
Cahaya. Mata sebiru samudera. Rambut merah muda itu. Ia mendengar tawa. Haibara—
"Kudo-kun..."
Ia melihatnya... Ia melihatnya. Ia melihatnya—
"Kudo?"
Haibara tersenyum. Memeluknya. Tangan-tangan kurus yang halus.
"Haibara..."
"Kali ini, aku percaya padamu sepenuhnya, Kudo-kun."
Hangat, di antara dingin ekspresi dan suaranya. Haibara...
"Aku juga mencintaimu, Shinichi-kun..."
Ciumannya penuh cinta.
Ciumannya penuh cinta pada Shinichi di sepanjang hari yang mereka lalui bersama dan mereka bahagia karena saling memiliki. Mereka punya dunia mereka sendiri, setelah saling berkorban dalam pertarungan melawan mafia dengan berdarah-darah, berdarah-darah seperti keadaannya saat ini yang melayang di atas udara dan meninggalkan bumi dan oksigen semakin menipis di dalam paru-parunya. Dan ia sendirian.
"Aku memutuskan untuk meninggalkanmu."
Merah. Biru. Penuh warna. Sosok dalam gaun putih yang menghilang dalam kegelapan malam.
"Haibara..."
Sosok itu. Wanita dalam tubuh remaja yang cantik dan indah. Samudera terdalam. Rahasia di balik topeng dinginnya. Haibara. Haibara—
"Aku juga ingin melindungimu, Shinichi."
"Aku ingin melindungimu..."
"Kita akan saling melindungi dari jauh..."
Tidak. Tidak. Jangan pergi. Jangan pergi! Dunia semakin gelap. Ia tidak ingin tersesat sendirian lagi. Sesak! Sesak! Sesak! Ia ingin meraih tangannya, memeluk tubuhnya, mengisinya dengan cinta. Mengikatnya dalam keabadian tanpa batas.
Dimana cincin itu?!
"Haibara..."
Cahaya. Merahnya darah. Ia mendengar tangis. Di antara terangnya lampu-lampu dan orang berjas putih itu, bukan gaun, tidak ada Haibara—
Ran melepaskan ranjang beroda yang membawa tubuh Shinichi di depan pintu unit gawat darurat, lalu menutup wajahnya yang menangis dengan tangan berdarah-darah.
Tiba-tiba saja tadi suara kembang api berganti suara pecahan kaca dari dalam rumah, dan ketika ia dan orang-orang di halaman belakang berlari ke dalam, Shinichi sudah tergeletak di lantai dekat lemari piala dengan pecahan-pecahan kaca lemari dan kaca pigura menusuk tubuh pria itu, dan darah segar menetes di seluruh ruang tamu. Gaun Ran yang biru muda juga berubah merah karena tubuh Shinichi terus mengalirkan darah selama ia menjaganya di bangku belakang mobil dalam sepuluh menit perjalanan ke rumah sakit ini. Selama itu juga Shinichi terus menggumamkan nama Haibara, sementara gadis remaja itu sendiri tidak terlihat sampai sekarang.
Padahal Ran melihat dengan mata kepalanya sendiri hubungan Shinichi dan Haibara selalu mesra selama ini, terlebih ketika keduanya tinggal di rumah yang sama dengannya. Ia tidak jarang memergoki Shinichi memeluk dan mencium Haibara di berbagai sudut rumah mereka, entah saat gadis itu duduk sendiri di depan televisi pada tengah malam, maupun pada siang hari ketika Ran jelas-jelas ada di sekitar sana. Bahkan tadi siang, Shinichi dan Haibara mengurung diri di dalam kamar selama berjam-jam tanpa peduli orang-orang di rumah mereka mempersiapkan pesta ulang tahun untuk anaknya. Ran tidak melihat Shinichi dan Haibara memiliki masalah apa pun. Namun melihat Shinichi terus menggumamkan nama gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, ia tahu, gadis itulah alasan mengapa suaminya sampai seperti ini.
"Ran..."
Ran terkejut dan mundur, lalu membuka tangkupan tangan dari wajahnya dan menatap Kazuha yang baru datang, diikuti sosok Sonoko dan Makoto, lalu ibu Shinichi.
"Bagaimana keadaannya?" Lanjut Kazuha dengan suara pelan.
"Aku belum tahu..." Ran kembali meneteskan air matanya saat itu, sementara Kazuha bergerak maju untuk menuntunnya ke dekat kursi tunggu di sisi lorong. Ia mengambil duduk dan mencoba menelan ludahnya yang terasa membatu sebelum kembali bicara, "Dokter baru saja membawanya masuk..."
Kazuha langsung memeluknya, membuatnya merasa lebih tenang dalam dekapan seseorang. Ia kemudian merasakan pelukan lain dari belakang, dan saat menengok menemukan Sonoko. Kedua pelukan itu membuatnya lebih baik setelah ketakutan seorang diri. Ayah Shinichi yang menyetir mobil untuk mengantarkan mereka kemari, saat ini sedang mengurus administrasi, sementara Heiji yang juga ikut dalam mobil dengannya, menghilang setelah dokter datang.
"Shin-chan adalah lelaki yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja." Suara ibu Shinichi menarik perhatiannya.
Setelahnya, Ran justru menemukan mata wanita itu kontras dari perkataan barusan. Ibu Shinichi terlihat sama takutnya dengan Ran sendiri. Meski ia tahu semua itu hanya untuk menenangkannya, ia mengangguk pelan seraya melepaskan pelukan dari kedua sahabatnya, lalu mengusap air mata.
"Kemana gadis itu? Aku tidak melihatnya dari tadi." Sonoko bergumam tidak terlalu keras, tapi nadanya yang geram penuh penekanan. Ran kembali memandangnya, dan menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Apa ini semua karena dia?" Tambah Kazuha.
Ran menunduk tanpa jawaban kali ini. Ditatapnya darah yang menodai gaunnya sampai ke ujung kaki. Ia merasakan kebencian luar biasa saat itu juga. Seharusnya ia tahu Haibara akan menyakiti suaminya sampai seperti ini. Seharusnya ia lebih keras berusaha merebut kembali Shinichi. Tapi ia begitu takut saat mengetahui fakta bahwa justru Haibara adalah orang yang membuat Shinichi menikahinya. Ia juga takut, saat tahu Shinichi sudah berbuat jahat pada Sonoko hanya demi membalaskan dendam Haibara. Ran takut pada Haibara yang bisa mengendalikan suaminya. Ia takut sampai-sampai tidak sanggup mengusir wanita berhati busuk itu dari rumah mereka, rumah tangga mereka.
"Ran..." Kazuha bergumam seraya menyentuh punggungnya saat itu.
"Aku belum tahu, tapi..." Kepala Ran menggeleng kuat, berusaha membuang jauh-jauh rasa takut itu. "... Shinichi terus memanggil-manggil namanya selama perjalanan tadi."
"Gadis sialan itu!" Sonoko langsung berdiri dan menggeram marah setelah mendengarnya. "Aku akan membuat perhitungan dengannya!"
"Kita belum tahu apa yang terjadi." Kata Ibu Shinichi, menyahut dengan tenang. "Dari pada memperhitungkan hal yang belum pasti, lebih baik kau mengantar Ran-chan pulang untuk ganti baju. Lihatlah keadaannya..."
Sonoko menatap pada Ran seketika, sementara Ran sendiri menunduk untuk menghindar dari pandangan mata Ibu Shinichi. Dari gestur yang sama, ia membantahnya, "Aku tidak akan pergi kemanapun sebelum Shinichi bangun."
"Tapi, Ran, aku rasa Obasan benar." Ucap Sonoko kemudian.
Namun Ran keras kepala. Wanita itu mempertahankan diri di tempatnya seraya menggeleng. Sonoko akan berkata lagi saat tiba-tiba suaminya melepaskan jas dan memberikan jas itu. Mengerti maksud Makoto, Sonoko menerimanya lalu melampiaskannya ke pundak Ran.
"Setidaknya pakai ini." Katanya saat pandangan mereka bertemu.
"Terima kasih." Kata Ran padanya, sebelum menatap satu-satunya sosok pria di antara mereka. Sedikit banyak, ia iri pada Sonoko karena memiliki suami yang sangat pengertian. Seandainya saja, Shinichi juga...
"Heiji, dari mana saja kau?" Suara Kazuha menyelinap dalam pikirannya.
Ia mengalihkan pandangan ke arah Heiji yang baru saja datang seraya terengah-engah. Pria Osaka itu mendekati mereka lalu berdiri di sebelah Kazuha.
"Aku tadi kembali ke rumah Kudo untuk mencari Onee—Haibara-san." Tukas Heiji cepat-cepat pada perkataannya sendiri, sebelum melanjutkan satu detik kemudian. "Dia tidak ada di manapun."
"Untuk apa kau mencarinya?" Suara Kazuha terdengar sedikit geram kali ini. Ran bisa mengerti bahwa temannya juga takut jika Heiji akan menjalin hubungan gelap dengan Haibara. Dan mengingat Heiji berasal dari keluarga kaya dengan pekerjaan mapan, hal itu masuk akal bagi mereka karena Haibara hanya mengejar uang Shinichi selama ini.
"Aku mencarinya karena sepertinya Kudo mencarinya." Heiji mendengus kecil setelah menyelesaikan jawaban itu. "Dia terus bergumam menyebut nama Haibara-san."
"Dan untuk apa Kudo harus mencarinya?" Kazuha menyambung dengan nada yang sama. "Kudo sedang di dalam dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kemungkinan malah gadis itu penyebabnya. Dia bahkan tidak terlihat dari tadi siang. Siapa yang tahu—"
Heiji segera menghentikan perkataan istrinya dengan meremas pundak wanita itu.
"Mungkin kau benar." Dinginnya nada di suara dan ekspresi Heiji kontras dari perkataannya, seolah-olah tidak benar-benar membenarkan Kazuha. "Haibara-san pergi dari rumah Kudo. Aku juga baru tahu setelah memeriksa kamarnya, semua baju-bajunya tidak ada. Profesor juga tidak tahu Haibara-san kemana. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi."
Mata Ran kembali terkesiap, kali ini bahkan lebih lebar dan dalam jangka waktu yang panjang.
"Dia kabur setelah mendapatkan semua uangnya?" Sonoko mengatakan hal-hal yang Ran pikirkan saat itu.
"Maaf kalau sebelumnya aku lupa bilang," Heiji melepaskan pundak istrinya, mengalihkan tangannya ke dalam saku celana sembari menatap Sonoko sinis. "... Oneesan meninggalkan perhiasan dan kartu kredit pemberian Kudo. Dan sebagai tambahan sebelum ada yang berpikiran picik lagi, aku sendiri yang mengantar Kudo membuat kartu kredit itu sewaktu dia di Osaka, dan waktu itu dia bilang akan memberikan kartu itu pada Oneesan, makanya aku langsung tahu kalau itu kartu kredit milik Kudo. Dan oh, perhiasan yang aku maksud juga dibelikan oleh Kudo sewaktu mereka di Osaka, aku dan Kazuha melihatnya sendiri saat kami bertemu dengan mereka tanpa sengaja."
Ran tidak mengerti, kenapa Haibara pergi dengan meninggalkan semua pemberian Shinichi. Bukankah gadis itu hanya mengejar uang suaminya selama ini?
"Mungkin saja dia menemukan sugar daddy yang baru."
"Kau benar-benar—"
"Sudah, hentikan!" Kazuha menyela selaan Heiji pada Sonoko dengan segera. "Kenapa kau selalu membelanya, Heiji? Dan kau juga terus memanggilnya Oneesan? Kau pikir dia kakak iparmu?"
Heiji tidak membalas setelah itu, kecuali dengusan merupakan balasan baginya. Pria Osaka tersebut membuang pandangan ke arah berlawanan dari mereka bertiga, dan melihatnya, Ran merasa setuju dengan perkataan Kazuha.
"Kalian sebaiknya pulang." Sosok paling tua di antara mereka akhirnya angkat bicara. "Biar aku dan Ran-chan yang menunggu Shin-chan. Kalian pasti lelah."
Kalimat mengusir secara halus itu tentu disadari oleh semua orang. Sonoko dan Kazuha langsung menunduk malu saat itu. Makoto menarik istrinya sebelum membungkuk salam pada Ibu Shinichi, lalu mereka pergi dari sana. Heiji masih bertahan di tempatnya, dan beranjak hanya untuk menyandar ke dinding.
"Kau pulang saja dulu ke rumah Kudo, Kazuha." Ucap pria itu pelan tanpa menengok lawan bicara. "Aku akan menunggu sampai Kudo keluar dari ruang gawat darutat."
"Aku juga akan menunggu." Kazuha membuang muka membalas perkataan itu, namun nadanya terdengar telah lebih tenang.
Ran diam seraya menatap pintu ruangan di sebelah yang tertutup rapat dan mulai tidak sabar menunggu. Sudah begitu lama, tapi tidak ada tanda-tanda akan ada seseorang keluar dari sana untuk memberikan kabar baik pada mereka. Kecemasannya bertambah detik demi detik dalam keheningan suasana.
Setelah beberapa lama, keheningan di sekitar mereka dipecah oleh suara langkah kaki yang mendekat dari arah kanan. Sosok ayah Shinichi datang perlahan, melangkah pasti mendekati istrinya. Ibu Shinichi mungkin sudah menahan kesedihan sejak tadi sehingga langsung memeluk pria berkaca mata itu. Ran mendongak dan merasakan kesepian secara tiba-tiba. Kazuha juga memiliki Heiji saat ini. Orang tuanya sendiri sedang menjaga Ichigo di rumah dan tidak mungkin akan kemari. Sonoko sudah pulang bersama Makoto. Sementara, ia hanya sendiri menunggu suaminya dalam kegelisahan.
'Shinichi...'
Kriet...
Kegelisahan Ran akhirnya dijawab oleh pintu ruang gawat darurat yang dibuka dari dalam. Ia segera berdiri bersamaan orang-orang yang menatap ke arah yang sama. Dokter yang semula mengenakan jas putih itu akhirnya keluar dari sana, dengan mengenakan seragam operasi menutupi seragam kepahlawanannya. Ran berjalan perlahan, masih sedikit terjebak dalam kegelisahan. Saat itu ayah dan ibu Shinichi setengah berlari menghampiri dokter tersebut.
"Keluarga pasien Shinichi Kudo?"
Ayah Shinichi sampai lebih dulu di depan pria itu bersama istrinya, dan langsung berkata, "Kami orang tuanya."
"Kami sudah mengeluarkan pecahan-pecahan kaca dari tubuhnya." Kata dokter itu tepat bersamaan dengan langkah Ran yang berhenti di dekat mereka. Ia juga merasakan Heiji dan Kazuha berjalan di belakangnya. "Tapi salah satu pecahan kaca di bagian perutnya menusuk di antara tulang rusuk dan mengenai hatinya."
Ran serasa kehilangan napas saat itu juga.
"Pasien mengalami trauma abdomen dan harus menjalani operasi pembedahan secepatnya."
"Tolong segera lakukan, Dokter." Suara ayah Shinichi terdengar sesak kali ini, tidak seperti biasanya yang selalu jernih dan tenang.
Dokter itu menangguk pelan, lalu menambahkan, "Setelah kondisinya stabil, kami bisa melakukannya."
"A-apa aku bisa melihatnya?" Tanya Ran dengan sisa-sisa tenaganya.
Pria di depannya terlihat skeptis. Tidak lama kemudian, beberapa orang berbaju mirip dengan pria itu keluar dari ruangan yang sama seraya menarik ranjang beroda yang diisi oleh Shinichi, yang masih belum membuka mata. Setelah menengok, Dokter itu kembali menatapnya.
"Untuk sementara pasien akan dipindahkan ke ruang Intensive Care Unit, pasien perlu ketenangan agar kondisinya cepat stabil."
Ran tidak terlalu memperhatikan perkataan pria itu lagi semenjak tanpa sadar kakinya sudah berjalan mengikuti derak ranjang beroda yang membawa tubuh Shinichi. Orang-orang dari ruang operasi itu membawa suaminya ke dalam ruangan lain dengan kembali tidak mengizinkannya masuk. Sebelum pintu ruang di tutup rapat-rapat, Ran melihat Shinichi bergumam tanpa suara, dan lagi-lagi mulutnya membentuk hanya satu kata.
Haibara...
Shinichi merasakan sesuatu di dalam dirinya diremas kuat-kuat. Ia meremas baju pada bagian depan dadanya, merintih kesakitan dengan mata memincing yang beranjak tertutup perlahan-lahan. Teriakannya memekik tertahan. Meski sudah begitu sering merasakan sakit yang sama, ia tidak pernah terbiasa juga.
"Sudah lumayan." Suara bernada rendah milik wanita dewasa itu berasal dari atas kursi di depannya.
Sosok Ai Haibara dalam bentuk gadis remaja yang tidak terlalu jauh berbeda dari figurnya sebagai anak-anak, duduk seraya menyilangkan kaki di sana. Salah satu tangannya memutar-mutar pena, sementara tangan lain dipergunakan untuk menyangga kepala. Shinichi menatap melalui tubuhnya yang baru saja mengecil seumuran anak SD kelas dua. Setelah itu dilihatnya Haibara membuka lipatan kaki sebelum berdiri, dan tanpa sengaja mata Shinichi melihat bekas-bekas luka tembakan yang membentuk lingkaran seukuran peluru di kedua paha wanita itu. Mengingat alasan mengapa luka-luka itu ada disana, rasa sakit akibat pengecilan organ-organ di dalam tubuhnya tidak lagi terlalu terasa, terganti rasa sakit yang lainnya.
"Sayangnya itu juga berarti aku akan bertahan sekitar satu bulan lagi, karena aku meminum penawar racun setelah satu bulan kau meminumnya." Kata gadis itu seraya berbalik, membelakanginya untuk membungkuk ke depan meja komputer.
Mini dress merah maroon-nya yang sebatas paha hanya dilapisi jas putih selutut, yang kini juga lebih tinggi ketika gadis itu membungkuk. Shinichi membuang pandangannya dengan segera saat itu, menghindarkan matanya dari bekas luka tembak yang bahkan ada di bagian betis Haibara.
"Bukankah itu hal yang bagus kau bisa menjadi dirimu sendiri? Kau tidak seperti perlu menyamar lagi. Semuanya sudah selesai." Shinichi setengah mendengus seraya menutup mata, entah mengapa ia mendadak kesal, ia sendiri tidak tahu. "Kau bahkan bisa meminum penawar racun permanennya sekarang juga."
"Dasar bodoh." Itulah yang dikatakannya pada detektif SMA yang telah menghancurkan organisasi besar buronan seluruh dunia. "Kalau aku minum penawar permanen dalam tahapan ini, sel-sel dalam tubuhku justru akan rusak. Kalau tidak karena kau yang terlalu nekat masuk ke sarang mereka, aku juga tidak akan meminumnya untuk bisa mengejarmu."
Shinichi membuka matanya saat itu, kali ini menemukan Haibara sudah berdiri tegak menghadap padanya. Merasa tubuhnya tidak terlalu sakit lagi, ia bergerak duduk masih dari dalam kemeja yang terakhir dipakainya, yang kini kebesaran dengan bagian pundaknya melorot. Seraya menahan helaan napas, ia menggulung lengan kemejanya sampai ke siku dengan kaki bersila di atas ranjang.
"Aku juga tidak menyuruhmu membantu. Aku dan yang lain pergi diam-diam justru agar kau tidak ikut campur. Kalau waktu itu kau tertembak di bagian vital, entah siapa yang akan membuat penawar racunnya." Kali ini ia benar-benar mendengus. Namun setelah selesai menggelung lengan kemejanya, ia mendongak Haibara seraya berkata dalam cengiran, "Ngomong-ngomong, aku sudah boleh meminum penawar permanen karena efek penawar sementaranya sudah hilang, kan?"
Dengusan itu berpindah pada Haibara sekarang, "Tentu saja belum."
"Kenapa?" Shinichi langsung merengut sebal. "Yang lain langsung bisa meminumnya dan mereka sudah menjalani hidup yang normal sekarang."
"Karena mereka tidak pernah meminum penawar racun sementara sebelumnya, berbeda denganmu." Jawab Haibara segera sambil menyilangkan lengan di depan dada. "Jika kau meminumnya dalam jangka waktu yang berdekatan, mungkin akan timbul efek yang berbahaya."
Mendengar hal itu, Shinichi langsung membuang muka dan memejamkan mata. Ia bergumam pelan sedetik setelahnya, "Padahal aku sudah senang karena sempat berpikir akan bisa segera menemui Ran. Mau sampai kapan kita tinggal disini?"
"Aku tidak melarangmu bertemu dengannya, kau bisa kembali ke Beika tanpaku." Haibara menjawab dengan sedikit berbeda kali ini, menyadarinya membuat Shinichi membuka mata untuk kembali mempertemukan pandangan mereka. Saat itu, ia melihat sosok lawan bicaranya menatap tanpa ekspresi. "Kau tidak perlu menjagaku lagi, mereka tidak seperti akan memenjarakanku atau melukaiku."
"Bodoh!" Shinichi menukas. Ia antara kesal dan malu untuk mengaku. "Aku disini tidak untuk menjagamu, aku menunggu penawar racun permanennya."
Alih-alih mempercayai alasannya seperti biasa, Haibara kali ini justru menarik senyum ambigu. Gadis itu berbalik setelah lima detik, lalu membuka laci di meja komputer dan mengambil sesuatu dari sana. Saat menghadap Shinichi kembali, Haibara melemparkan sebuah kotak kecil berwarna silver. Shinichi yang spontan menangkap benda itu, masih mempertahankan pandangan mata mereka untuk beberapa lama sebelum membukanya dan mendapati sebuah kapsul berwarna putih.
"Kau bisa membawanya kembali ke Beika dan meminumnya setelah dua minggu." Kata Haibara kemudian. "Kau sudah menghancurkan organisasi hitam sampai ke akarnya, kau juga sudah memenuhi janjimu untuk melindungiku. Tidak ada lagi yang mengikatmu untuk bersamaku. Seperti katamu, semuanya sudah selesai."
Shinichi mengangkat pandangannya dan mendapati Haibara menurunkan tangan seraya berjalan. Gadis itu menuju pintu, sepertinya akan meninggalkan Shinichi sendirian.
"Jangan karena kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu, kau jadi merasa memiliki tanggung jawab atas hal itu."
Suara pelan itu justru mampu menggoyahkan sesuatu di dalam dada Shinichi. Ia terdiam tanpa bisa mengalihkan pandangan. Secara pasti, gadis itu menyelip di relung hatinya, mencuri tempat yang selama ini sudah diisi oleh gadis lain. Mungkin Shinichi sudah menyadarinya sejak lama. Mungkin juga Haibara sudah tahu hal itu. Tapi mulut Shinichi selalu bungkam seolah-olah takut mengungkapkan kebenaran.
"Kau sebenarnya sudah bisa membaca pikiranku, bukan begitu?" Ia membalas perkataan Haibara cepat-cepat dan membuat gadis itu batal melewati pintu. "Saat kau tahu apa yang aku sembunyikan adalah hal-hal yang berbahaya, kau selalu memaksaku untuk mengaku. Tapi justru untuk hal lainnya, kau berpura-pura tidak tahu."
Shinichi membuang pandangannya ke depan setelah mengatakan hal itu, meninggalkan pemandangan sosok Haibara yang berbalik untuk menghadapnya. Ia tiba-tiba merasakan sebuah penyesalan, karena tidak juga bisa membalas apa yang dirasakan gadis itu melalui kata-kata. Tapi bukankah mereka berdua selama ini merupakan sosok yang saling mengerti hanya dari pandangan mata ke mata? Shinichi bisa melihat langsung ke dalam hati Haibara, begitu pula sebaliknya.
"Aku takut aku akan melukai egomu kalau aku memaksamu untuk jujur kali ini." Suara Haibara terdengar masih sama pelannya, namun tidak menggema dalam ruangan, mungkin karena pintu ruang itu kali ini terbuka sehingga lemahnya nada gadis itu lebih terasa sekarang. "Kau punya kebanggaan tersendiri sebagai seorang pria."
Shinichi menyeringai sinis, namun tatapan matanya beranjak lemah. Ia bahkan tidak menyadari kebanggaan yang Haibara maksud sampai mendengar istilah itu hari ini. Tapi mungkin, Haibara benar, Shinichi sendiri terus menyembunyikan perasaan lain yang mulai menodai kesetiaannya itu karena takut melukai kebanggaannya sebagai seorang lelaki.
"Apakah itu juga melukai egomu sebagai seorang wanita," Ia mulai bicara kembali setelah cukup lama, lalu menatap Haibara selama melanjutkan, "... sehingga kau tidak berusaha menahanku? Karena kau merasa merebutku dari orang lain?"
Mata Haibara memejam sesaat seraya gadis itu menyandar ke daun pintu, lalu terbuka kembali kurang dari lima detik untuk menatapnya lurus. Meski wajah Haibara tidak sepenuhnya tanpa ekspresi, namun Shinichi tidak juga dapat membaca apa yang sedang dirasakan gadis itu. Bukan kesedihan, yang pasti. Dan bukan juga kebahagiaan.
"Apakah bahkan, bisa disebut merebut jika aku tidak benar-benar memiliki sepenuhnya?" Pertanyaan itu bernada pernyataan. "Seberapa penting diriku sebenarnya bagimu, Kudo?"
Sebuah perasaan tidak nyaman tiba-tiba mengusik salah satu bagian di dalam diri Shinichi setelah mendengar pertanyaan itu, seolah-olah tersinggung atas keraguan Haibara padanya. Meski, ia sendiri menyadari hal itu lumrah mengingat ia tidak pernah mengungkap kebenaran atas perasaannya pada Haibara sampai sekarang. Pandangannya merendah beberapa saat kemudian, merasa bimbang karena tidak yakin harus menjawabnya dengan kejujuran untuk memulai hubungan yang baru dengan gadis ini, atau mempertahankan hubungan yang sudah ia miliki bersama gadis lainnya.
"Mungkin bahkan, kau hanya menganggapku sebagai obyek dari jiwa kepahlawananmu." Pertanyaan Haibara dijawab sendiri oleh gadis itu selama Shinichi belum juga memutuskan. "Kau mungkin salah sangka pada perasaanmu sendiri karena selama ini hanya aku yang dekat denganmu setelah gadis itu."
"Kalau memang mungkin seperti itu," Ia berkata seraya mengangkat pandangnnya. "... beri aku waktu untuk memikirkannya."
Haibara terdiam, dan hal itu dipergunakan Shinichi untuk melanjutkan, "Aku juga ingin tahu, sebenarnya seberapa penting kau bagiku."
"Jangan memberikan punggungmu pada seseorang yang putus asa saat kau memeluk orang lain di depan dadamu." Balasan Haibara bukan hal yang Shinichi duga sedikit pun. "Kau hanya akan membuatnya merasa ditinggalkan setelah kau tidak menengok ke belakang lagi."
"Bukankah sekarang aku sedang melihat ke arahmu, Haibara?" Mata Shinichi memicing tajam dengan suaranya penuh penekanan. "Kau benar-benar sedang menahan diri, atau justru berusaha menekanku agar aku mengaku?"
"Aku tidak." Gadis itu menggeleng samar dengan wajah tenang. "Tapi mungkin aku terlalu takut untuk terbang terlalu tinggi. Aku takut terjatuh."
Shinichi merasa kalah telak dan langsung mengalihkan pandangan. Secara tidak langsung Haibara memang menekannya untuk mengungkapkan kebenaran melalui kata-kata. Kebenaran yang tidak juga bisa ia katakan. Ia tidak yakin sejak kapan hatinya hanya dipenuhi oleh gadis ini, sebenarnya. Pertama kali menyadari perasaannya, Shinichi masih yakin hanya menganggap Haibara sebagai salah satu gadis dari banyaknya gadis yang terpikat olehnya. Ia juga berpikir semua itu hanya karena sikap heroiknya yang selalu ingin melindungi Haibara. Hingga ia melihat Haibara dalam sosok gadis remaja yang cantik dan mampu melindungi diri sendiri dalam pertarungan melawan mafia, bahkan menyelamatkan Shinichi dari peluru dengan mengorbankan darah dan mempertaruhkan nyawa. Setelah mereka tinggal bersama dalam rumah ini sebagai saksi yang dilindungi oleh lembaga hukum nasional dan internasional, Haibara tidak juga berhenti menyukainya meski keadaannya berbalik menjadi Shinichi yang lebih bergantung pada gadis itu. Tapi sampai sebulan yang lalu, ia masih yakin Haibara berdiri di luar pintu, sementara sekarang, Haibara sudah masuk ke dalam hatinya dan menguasai sebagian tempat. Tidak. Haibara justru menguasai hampir seluruh hatinya karena setiap hari hanya wajah gadis itu yang ia pandang.
"Aku rasa kau benar." Shinichi menarik napas dalam-dalam, dan berkata tanpa melihat lawan bicaranya sedikit pun kali ini. "Aku hanya salah paham dengan perasaanku padamu. Kau bahkan bukan orang yang mampu mengikuti jalan pikiranku. Mustahil bagiku menyukai orang sepertimu."
"... ya." Suara Haibara menyambung dan mendukung.
Anehnya, Shinichi merasa semakin tersinggung atas dukungan itu. Haibara juga tidak mengatakan apapun lagi sekedar untuk memperjuangkan perasaannya. Gadis itu menegakkan badan, lalu berjalan pergi seraya menutup pintu ruangan.
Penyesalan dalam hati Shinichi terasa semakin dalam sekarang. Apakah mungkin ia akan merasa menyesal jika perasaannya pada Haibara hanya sebuah kesalahpahaman? Apakah bahkan ia sendiri bisa salah paham pada perasaannya ketika setiap melihat Haibara ia tahu ia menyukainya? Meski rasanya juga berbeda, tidak seperti kupu-kupu asmara yang berterbangan di dalam dada, melainkan seperti peluru yang menembus tepat ke hatinya, yang terasa sedikit sakit, tapi juga terasa membakarnya dari dalam.
Ia menutup kotak silver di tangannya, lalu meletakan kotak itu di atas meja sebelah ranjang yang juga sebagai tempat alat detektor jantung. Ditatapnya kotak itu cukup lama sebelum melihat ke arah pintu. Rasa-rasnya ia ingin sekali berlari keluar mengejar Haibara untuk menyatakan perasaan. Namun, lagi-lagi sesuatu seperti menahannya.
Dan pada akhirnya, ia hanya diam membiarkan semua penyesalan itu.
Alarm detektor jantung yang terhubung pada bagian depan dada pria itu tiba-tiba berbunyi, membuat suster yang sedang berdiri di sampingnya terkejut. Ia bahkan sempat memeriksa layar alat itu dan yakin sekali melihat gambaran detak jantung pria ini bergerak normal. Dengan segera, wanita berseragam putih itu menekan tombol alarm di ranjang untuk memanggil bantuan.
"Haibara..."
Suara itu keluar pelan dari mulut pasiennya yang belum juga membuka mata. Malah setelah beberapa detik tubuh pria itu menegang seperti terkena serangan jantung. Suster dengan segera menahan tubuh itu agar tetap diam di atas ranjang. Jahitan pada bagian atas perut pasien bahkan belum kering, dan akan berbahaya jika dibawa bergerak secara mendadak.
"Haibara..."
Ia hampir tidak mampu melawan tenaga pasiennya, sementara detektor jantung terus berbunyi mengerikan seperti detik-detik terakhir terdeteksinya detakan jantung seseorang. Untungnya pintu ruang ICU terbuka tidak lama kemudian, diikuti sosok Dokter Takuma yang masuk dengan langkah-langkah cepat dan langsung menarik peralatan di dalam laci. Suster masih berusaha sekuat tenaga menahan tubuh pasien itu, sementara dokter meraih tangan pasien dan menyuntikan obat bius ke sana.
"Haibara..."
Perlahan-lahan tubuh pasien itu kehilangan tenaga untuk melawan, bergerak lemah sebelum akhirnya kembali tenang dalam tidur panjang. Detektor jantung berbunyi berirama dengan gambaran garis normal setelahnya, sehingga suster yakin untuk melepaskan tubuh pria itu perlahan-lahan, bersamaan dengan dokter yang menarik napas tertahan.
"Suster?" Dokter memanggil seraya menutup peralatan medis dan menyimpannya kembali. "Tolong minta salah satu kerabat pasien untuk menemaninya. Mungkin pasien akan lebih tenang. Kita tidak bisa menunda operasinya terlalu lama. Keadaannya tidak akan kunjung stabil jika terus seperti ini."
"Aku mengerti." Wanita berseragam putih itu mengangguk sebelum berjalan ke pintu.
Begitu membukanya, beberapa orang sudah berkumpul di depan. Sepertinya orang-orang itu panik karena sempat melihat lampu indikator di depan pintu ruang ICU menyala. Apalagi setelah itu dokter juga datang kesana. Wajah-wajah di depannya saat ini penuh dengan pertanyaan dan kegusaran.
Wanita ini menatap mereka satu per satu sebelum bertanya, "Kerabat Shinichi Kudo?"
"Aku istrinya, bagaimana keadaannya?"
"Anda Haibara-san?" Ia bertanya ragu, dan keraguan itu dijawab oleh gelengan kepala wanita di depannya. "Bisakah Haibara-san menemani pasien? Keadaannya sedang kritis karena tekanan jantungnya tidak stabil."
Suster mengedarkan pandangannya sekali lagi, menyapu wajah-wajah di depannya. Tidak ada seorang pun yang memberikan jawaban kali ini, bahkan sampai dokter Takuma keluar dari pintu ruang ICU.
"Keadaan pasien tidak kunjung stabil mungkin karena pasien mengalami tekanan mental berat saat ini." Kata dokter Takuma, menghadap arah yang sama dengannya. "Sistem syaraf di otaknya terus bekerja keras dan itu juga yang membuat tekanan jantungnya terganggu. Saat ini pasien sudah lebih tenang karena obat bius, namun saat terbangun nanti dan mengalami keadaan yang sama, dia bisa terkena serangan jantung. Akan lebih baik jika seseorang menemani pasien sehingga tekanan mentalnya sedikit berkurang."
"Bisakah aku yang menemaninya?" Wanita yang mengaku sebagai istri pasien itu kembali membuka suara, kali ini lebih mendesak.
Sementara dokter Takuma terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk tegas, lalu menghadapnya seraya berkata, "Antarkan dia ke ruang sterilisasi."
"Baik." Ia segera menjawab. "Silakan ikut saya."
Ditatapnya wanita yang masih menyimpan keraguan itu dalam beberapa detik, sebelum sosok tersebut beranjak dari kediaman. Ia menuntun langkahnya ke ruang sterilisasi yang terletak bersebelahan dengan ruang ICU. Wanita itu membuka jas begitu mereka sampai di dalam ruangan, dan saat itu, ia melihat gaunnya dipenuhi noda darah yang sudah mengering.
"Aku rasa Anda harus mandi lebih dulu." Katanya, lalu mengambil sebuah baju pasien dari dalam lemari. "Tolong ganti baju Anda juga."
Wanita itu mengangguk pelan sebelum berjalan ke arah kamar mandi di ruangan itu. Setelah kurang lebih sepuluh menit, sosoknya keluar dengan mengenakan seragam putih yang ia berikan. Ia memimpin langkah mereka menuju ruang ICU setelahnya. Melewati kembali orang-orang yang masih menunggu di depan, sementara dokter Takuma sudah kembali ke ruangan dokter.
Ia sedang memeriksa infus yang terhubung ke tangan pasien saat mendengar suara wanita itu bertanya dalam kecemasan.
"Ke-kenapa badannya panas sekali?"
Ketika menengok, ia menemukan wanita pemilik suara menggenggam tangan pasiennya. Terlebih dulu ia menyesuaikan skala tetesan infus, sebelum menjawabnya dengan nada tenang, "Itu hal yang biasa pada penderita trauma abdomen, tidak perlu khawatir."
Suster ini kemudian memastikan semua peralatan medis masih terpasang dengan benar pada tubuh pasiennya. Setelah memastikan tidak ada masalah, ia kembali berjaga di samping pasien bersama wanita tersebut.
Ia membuka matanya dan langsung merasakan suhu tubuhnya yang tinggi. Kepalanya menengok ke sebelah lalu menemukan Haibara sedang duduk menyandar ke samping di meja detektor jantung dengan mata terpejam dan wajah kelelahan. Ia langsung ingat, ia meminum penawar racun permanen dua hari yang lalu, dan hanya enam jam setelah tubuhnya membesar, ia kembali ke tubuh anak-anak, kemudian pingsan dan beberapa kali terbangun dengan rasa sakit sebelum akhirnya terkena demam sepanjang malam.
Shinichi kemudian mengalihkan pandangan untuk melihat keadaan tubuhnya sekarang, lalu mendapati diri di atas ranjang dengan selembar selimut menutupi tubuh kecilnya yang telanjang, juga infus yang menancap di lengan dan detektor jantung yang menempel di dadanya. Dengan perlahan, ia mencoba membuka selimut yang membuat tubuhnya terasa semakin pengap itu. Namun tiba-tiba Haibara terbangun dan langsung melihatnya.
"Kau sudah bangun?" Katanya seraya mengerjabkan mata. "Apa demammu sudah turun?"
Haibara beranjak dari tempatnya dengan tangan terangkat, menempelkan telapak tangannya yang besar ke kening Shinichi yang kecil. Gadis itu kemudian mundur seraya menatapnya melalui sorot mata yang redup. Tangannya beralih ke lemari di bawah meja untuk mengambil sebuah koper di sana.
"Haibara..." Shinichi memanggilnya pelan, dan sedikit gelisah. "Apa aku... tidak akan bisa kembali ke tubuhku lagi?"
Gadis lawan bicaranya menatap sekilas sebelum memegang sebuah alat suntik dan mengambil sebuah cairan dari dalam botol menggunakan suntik itu. Ia menengok Shinichi kembali hanya untuk meraih kantong infus yang menggantung di atas ranjang. Dengan pelan dan hati-hati Haibara menyuntikan cairan ke dalam kantong. Shinichi memandangnya gelisah karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab.
"Demammu harus turun dulu." Katanya sambil menarik jarum suntik tanpa membalas tatapan mata Shinichi.
"Penawar permanennya..."
"Aku belum tahu." Haibara menyela perkataan yang tidak sanggup ia sendiri teruskan itu. "Aku sudah memeriksa sel darahmu semalaman, dan tidak menemukan adanya kerusakan. Mungkin tubuhmu hanya belum siap."
"Maksudmu aku—"
"Kau akan baik-baik saja." Kali ini perkataannya dipotong mentah-mentah oleh gadis yang sama. "Aku akan menemukan solusinya, aku janji."
Sementara ia masih terdiam, Haibara sudah berbalik dan berjalan ke meja komputer di sudut ruangan. Saat itu tiba-tiba saja Shinichi juga teringat tempat terakhirnya pingsan, bukan di ruang kerja Haibara, melainkan ia pingsan di kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan ruangan ini. Yang berarti juga, Haibara adalah orang yang membawanya kemari.
"Aku akan mengambil sel darahmu lagi setelah demammu turun untuk memeriksanya." Haibara berkata masih dari depan meja komputer seraya memunggunginya. Gadis itu mendesah napas pelan, kemudian menyandar ke kursi hitam beroda yang di dudukinya dengan salah satu tangan menutup di atas kepala. "Jika memang penawar ini tidak cocok untukmu, aku akan mencari formula lain."
"Kalau memang aku tidak bisa kembali, itu bukan salahmu." Ucap Shinichi sendu. Ia tidak benar-benar rela jika harus terjebak dalam tubuh anak-anak selamanya. Namun ia merasa telah membebani Haibara terlalu banyak. Ini semua juga salahnya karena sering nekat meminum penawar sementara, padahal gadis itu sudah sering kali mengingatkannya.
"Ini bukan tentang siapa yang salah." Suara gadis itu kembali beberapa detik kemudian. Haibara telah menegakan duduknya waktu itu, lalu kembali mengerjakan data-data dari formula obat melalui komputer. "Ini adalah tugasku untuk mengembalikanmu ke asalnya."
Shinichi menunduk seraya memejamkan mata mendengar hal itu. Semula ia pikir semuanya sudah selesai dengan menghancurkan organisasi hitam dan mendapatkan data-data dari racun APTX-4869. Namun takdir seperti begitu senang mempermainkannya. Selagi korban lain dari racun itu telah kembali ke bentuk semula, ia yang berjuang paling keras justru masih terjebak dalam tubuh anak-anak.
"Kau harus istirahat, Kudo." Keriat kursi menyambung suara Haibara yang berlanjut. "Jika demammu tidak cepat turun, aku juga tidak bisa menentukan formula yang cocok secepatnya."
"Hm." Ia hanya menggumam sebelum meluruskan padangan dan memejamkan mata.
Shinichi tahu saat itu Haibara kembali berjalan ke dekatnya. Kini keriat suara berasal dari ranjang karena gadis itu duduk di tempat yang sama dengan tempatnya berbaring. Ia juga bisa merasakan pandangan mata biru itu terus menyorotnya dengan kegelisahan.
"Apa kau sudah tidur?" Shinichi bertanya tanpa membuka matanya. "Lingkaran hitam di matamu semakin parah akhir-akhir ini."
"Aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Rasa-rasanya Shinichi seperti bisa melihat bibir Haibara membentuk senyum samar saat mendengar hal itu. "Keadaanmu tidak stabil dan beberapa kali tubuhmu mengalami perubahan bentuk hanya dalam waktu dua hari. Rasanya memejamkan mata pun aku tidak bisa."
Ia menyeringai main-main seraya membuka mata sebelum bicara, "Kau sepertinya tidur saat aku bangun tadi."
"... ya." Haibara menjawab pelan setelah membuat jeda lama selama menatapnya. "Aku juga manusia yang punya batas, seberapa pun aku tidak ingin meninggalkanmu."
Shinichi tidak langsung menjawab karena mencoba memahami arti perkataan itu. Penyesalan menyelusup dihatinya saat melihat mata Haibara menyiratkan kesedihan, dan mengingatkannya pada hal-hal yang sudah berusaha mereka lupakan.
"Kalau, aku tidak ingin kau meninggalkanku?" Tanpa sadar, Shinichi mengucapkan kata-kata itu. Setelah menyadarinya, ia sedikit menyesal karena apa yang ia ucapkan menjadi alasan bagi Haibara untuk memalingkan muka.
Gadis itu perlahan-lahan beranjak dari atas ranjang. Namun sebelum ditinggalkan, kali ini Shinichi memutuskan untuk mengungkap sebuah kebenaran.
"Kau pasti berpikir, aku adalah lelaki paling brengsek sedunia karena aku tidak ingin kau meninggalkanku, sementara aku sendiri tidak bisa meninggalkannya." Suaranya dibuat pelan dan tenang, berharap dapat menutupi kegelisahan yang ia rasakan. "Tapi sebenarnya aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
"Bukan itu masalahnya." Haibara menengok samar, namun cukup untuk membuat Shinichi dapat melihat salah satu sudut bibir gadis itu yang terangkat. "Masalahnya ada pada diriku sendiri."
"Kau ingin aku mengungkapkannya, 'kan?" Shinichi membeo dengan senyuman sendu. "Kau berharga bagiku, Haibara, dan aku tidak ingin kau meninggalkanku. Hanya saja... aku perlu waktu."
Perkataan itulah yang akhirnya membuat Haibara kembali menghadap Shinichi, mempertemukan pandangan mereka lurus-lurus. Sebuah kebenaran yang akhirnya ia ungkap. Ia sendiri tidak benar-benar siap. Hanya saja ia tidak bisa menarik apa yang sudah ia katakan.
"Kau benar, aku terlalu takut melukai harga diriku sendiri sebagai seorang pria selama ini." Shinichi memalingkan pandangan justru sebelum menambahkan, karena pandangan mata Haibara sedikit membuatnya tidak nyaman. "Tapi semakin lama, kau semakin mengambil tempat—Akh!"
Jantung Shinichi tiba-tiba berdetak keras dengan rasa sakit luar biasa, membuat suaranya terputus seketika. Ia meremas selimut yang menutupi bagian depan dadanya, sementara Haibara dengan sigap menahan tubuhnya agar gerakannya tidak membuat alat-alat medis yang menempel padanya itu lepas.
"Kudo!"
Shinichi mendengarnya di antara rasa sakit dan tubuhnya yang memanjang perlahan-lahan. Namun ia tidak dapat menahan diri karena merasakan proses itu dua kali lipat lebih sakit dari biasanya. Bahkan tanpa sadar tangannya mencengkeram tangan Haibara sekuat tenaga.
"Kudo! Apa kau baik-baik saja! Apa yang kau rasakan!" Haibara kembali berseru. Diantara suara gadis itu, ia juga mendengar derit detektor jantungnya sendiri yang berbunyi nyaring.
"Arg!" Ia mencoba bertahan. Dan mungkin karena ia tidak dapat bertahan seorang diri, Haibara menahannya menggunakan seluruh tubuh gadis itu. "ARGH!"
Ia mendengar suaranya sendiri menggaung di dalam ruangan seiring rasa sakit yang perlahan-lahan berkurang. Tubuhnya juga mulai dapat dikendalikan. Haibara kemudian mengangkat diri dari atasnya. Saat itu, Shinichi berusaha membuka mata dan melihat wajah Haibara.
"Kau sudah kembali." Katanya, namun tidak terlihat adanya kelegaan di wajah itu.
Shinichi menatap ke arah tubuhnya sendiri yang sebagiannya masih tertutup selimut. Ia mengangkat tangan dan memandanginya cukup lama sampai yakin bahwa tangan itu adalah tangan pria dewasa. Pandangannya teralihkan ketika menyadari Haibara turun dari atas ranjang. Gadis itu melihat jam yang melingkari lengannya sebelum menarik sebuah alat suntik baru dari dalam koper yang masih terbuka.
"Kau kembali dalam enam jam, sama seperti sebelumnya." Katanya, seraya kembali menghadap Shinichi. "Tapi detak jantungmu kembali normal dengan cepat kali ini. Mungkin sekarang penawarnya sudah bekerja."
"Begitu..." Hanya itu yang bisa ia katakan dengan tenaganya yang terasa terkuras.
Shinichi mengelap keningnya yang basah oleh keringat dingin yang kontras dari suhu tubuhnya yang masih panas, sebelum memandang langit-langit ruangan seraya mengatur napas. Ia seperti merasakan de javu saat itu. Akan tetapi mengingat seringnya ia berubah dari anak-anak ke bentuk dewasa, hal itu wajar-wajar saja.
"Aku akan mengambil sempel darahmu untuk memastikannya." Haibara saat itu menarik lengan Shinichi dari atas kepala.
"Hm..." Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan setelah balasan pendek itu.
Pandangan Shinichi masih langit-langit ruang saat merasakan jarum menusuk kulitnya perlahan. Setelah beberapa detik, ia baru menengok bersamaan dengan jarum itu yang ditarik dengan cepat. Haibara kemudian menaruh alat suntik itu ke dalam koper sebelum menempelkan kapas dingin ke atas bekas suntikan di lengan Shinichi.
Setelah menutup luka kecil itu dengan plester, Haibara berjalan ke sudut lain ruangan sambil membawa sampel darahnya, menempatkannya di atas sekeping kaca dan menaruhnya di bawah lensa mikroskop. Pandangannya tekun mengintip rangkaian sel-sel darah Shinichi, sementara Shinichi sendiri terus memperhatikannya dari atas ranjang.
"Haibara..."
"Kita berhasil, Kudo!" Suara sedikit bersemangat itu memotong suara Shinichi, diikuti senyum pemiliknya yang merekah di bawah sepasang mata yang lelah. "Penawarnya bekerja, kau sudah kembali!"
Shinichi tidak yakin, apakah perkataannya yang tidak kunjung dapat ia selesaikan, atau justru kabar baik dari Haibara, sesuatu yang membuat perasaannya tertahan. Ia tidak merasa lega seperti yang ia kira sebelumnya. Pandangan matanya menatap balik Haibara dengan sorot redup.
"Aku tidak bisa kembali sebelum kau memberiku jawaban." Perkataannya itu menguras habis kelegaan di wajah Haibara, dan kali ini Shinichi tahu mengapa.
Shinichi sudah terlalu terlambat, untuk menyesal sekali pun.
"Haibara..."
Ran tersentak atas gumaman itu, lalu mendongak wajah Shinichi yang sebagiannya terbingkai dalam masker oksigen. Kabut-kabut udara menyelubung di permukaan bagian dalam masker saat suaminya menyebut nama itu nyaris tanpa suara.
"Shinichi..." Ia menggenggam tangan Shinichi lebih erat.
"Haibara..." Gumam yang sama itu membalasnya, dan nama yang tetap disebut-sebut suaminya membuatnya merasa terluka.
"Dia sudah bangun dari efek obat bius." Kata suster di sebelahnya. Saat Ran menengok perlahan, ia menemui wanita berbaju putih itu mendekat seraya memegang termometer. "Detak jantungnya stabil. Tapi aku perlu memeriksa suhu tubuhnya lebih dulu untuk memastikan keadaannya."
Ran mengangguk sebelum mundur dari samping Shinichi tanpa melepaskan tangan itu. Suster kemudian memeriksa suhu tubuh Shinichi dan terlihat lega. Ia sendiri saat itu juga merasakan demam suaminya sudah turun.
"Aku akan memanggil Dokter Takuma, tolong jaga dia sebentar." Tambahnya seraya menyimpan kembali alat pengukur suhu tubuh itu.
"Baik." Ia menjawab disertai anggukan.
Suster itu tersenyum profesional sebelum meninggalkan ruang ICU. Ran mengikuti kepergiannya melalui pandangan mata sekilas, sebelum mengembalikan perhatiannya pada Shinichi yang terlihat tidur pulas.
"Haibara..."
"Ini aku, Ran, Shinichi..." Ia menjawab meski tidak tahu apakah Shinichi dapat mendengarnya. Akan tetapi merasakan tangan dalam genggamannya bergerak menutup, membuat Ran merasa suaminya bisa mendengar perkataan itu. Bibirnya membentuk senyum dengan sendirinya setelah itu, lalu kembali berkata, "Kau bisa mendengarku, Shinichi?"
"Haibara..." Nama itu lagi-lagi terdengar, namun kali ini lebih keras bersamaan dengan wajah Shinichi yang terlihat gelisah.
Dengan cepat suara detektor jantung berubah. Garis-garis dilayar tidak lagi berirama. Tangan Shinichi menggenggam erat tangannya, namun tubuhnya mulai bergerak seolah-olah hendak bangun melawan alam bawah sadarnya.
"Su-suster!" Senyum Ran lenyap seketika. Ia memanggil pertolongan seraya menatap pintu, berharap seseorang akan segera datang membantu. "Suster! Tolong!"
"Haibara..." Shinichi menggumam semakin jelas, dan tubuhnya tidak berhenti bergerak. Bersamaan semua itu, alat-alat medis bersuara semakin keras.
"Sus—"
"Apa yang terjadi?" Suster itu akhirnya kembali. Ran menengoknya dan melihatnya setengah berlari melewati pintu, disusul dokter yang juga bergerak cepat mendekatinya.
"Aku tidak tahu, Shinichi tiba-tiba seperti ini." Ran menjawab dengan suara serak.
Suster yang sampai di dekatnya, langsung melepaskan genggaman tangan mereka, sementara dokter mendekat ke layar detektor jantung dan menatap kesana. Suster itu memegangi Shinichi, menahan suaminya agar tidak bergerak lagi. Ia hanya dapat berdiri diam menatap mereka tanpa tahu harus melakukan apa.
"Dokter, obat biusnya—"
Perkataan suster wanita itu dihentikan oleh pandangan dokter yang berbalik dari layar, menatap lawan bicaranya seraya menggeleng.
"Tidak bisa. Kita sudah terlalu banyak memberikannya obat bius. Dengan terpaksa kita harus melakukan operasi laparotomi sekarang." Kata dokter itu dengan nada tegas. "Suster, siapkan ruang operasi dan beri tahu yang lain."
"Baik." Jawab suster itu segera, lalu melepaskan Shinichi dan pergi dengan setengah berlari.
Dokter menggantikannya memegangi Shinichi setelah itu. Ran menatap takut, dan suaminya kembali menggumam gelisah.
"Haibara..." Shinichi mendapati sosok pemilik nama itu duduk di depan komputer setelah ia membuka pintu ruang bawah tanah di rumah profesor Agasa, sedikit terkejut akan penampilannya yang kembali menjelma sebagai anak-anak seusia delapan tahun. Seraya melangkah masuk di bawah pandangan gadis kecil itu, ia melepaskan knop pintu tanpa memutus pandangan mata mereka. Sampai akhirnya ia berada tepat di depan Haibara dan kembali bersuara, "Aku pikir... kau akan kembali dalam tubuh aslimu."
"Kenapa?" Gadis itu mendengus geli seolah-olah ada yang lucu. "Kau kecewa karena terlanjur membayangkan yang tidak-tidak dengan tubuh dewasaku?"
"Tentu saja tidak." Shinichi membuang mukanya yang saat ini menunjukan ekpresi kesal bercampur malu. "Sudah dua minggu sejak kau kembali mengecil, aku pikir kau akan meminum penawar permanennya saat kembali."
Ia mencuri lirikan, menunggu sebuah balasan. Namun alih-alih menjelaskan apa yang terjadi, gadis kecil itu justru kembali menatap ke arah layar komputer yang menampilkan data-data korban racun APTX-4869 yang salah satunya juga data dari Shinichi sendiri. Ia kemudian meluruskan pandangannya kembali. Bahkan sampai satu menit lebih titian mata Haibara tidak berganti.
"Kau bahkan tidak memberitahuku kalau akan kembali ke Beika." Suara pemuda itu berubah sedikit pelan saat mengatakan kalimat itu. "Kau tidak membalas pesanku, maupun memberitahuku apa yang terjadi setelah aku pergi. Bukankah kau sendiri yang bilang padaku waktu itu aku harus kembali ke Beika terlebih dulu? Kenapa kau tiba-tiba seperti menghindariku sekarang?"
"Aku masih punya banyak pekerjaan, Kudo." Haibara membalas perkataannya dengan cepat kali ini, namun tidak membalas tatapan matanya. "Kau lihat sendiri, kan? Aku masih harus memantau perkembangan kalian?"
Shinichi menyandarkan salah satu tangan ke meja komputer di depan Haibara dan berusaha menetap wajah anak-anak itu secara lurus. Akan tetapi seolah disengaja, lawan bicaranya justru beranjak meninggalkan kursi lalu pergi ke sudut ruangan dengan posisi membelakanginya.
"Aku tidak melihat adanya alasan mengapa kau harus tinggal selama dua minggu di sana, sementara saat kau kembali kau juga masih bisa mengerjakannya dari sini." Ucapnya seraya berdiri tegak dan mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celana seragam, kemudian bersandar ke dinding di dekat meja itu dengan terus menatap punggung Haibara. "Dan apa hubungannya pekerjaanmu saat ini dengan alasanmu tidak segera meminum penawarnya? Kau tidak berencana melanjutkan hidupmu dalam tubuh itu, kan?"
Suara Haibara kembali absen dari tuntutan pertanyaan Shinichi. Gadis itu sempat berhenti dari kesibukannya menumpuk lembaran kertas print out sebelum akhirnya kembali bergerak menaruh kertas-kertas itu ke dalam sebuah map. Hal itu membuat Shinichi menyadari bahwa Haibara dengan sengaja menghindari pembasan mengenai alasanya tidak meminum penawar racun, sehingga membuatnya memicingkan mata dengan curiga.
"Manusia yang mencoba bermain-main dengan waktu dan kematian, akan mendapat hukuman dari Tuhan," Shinichi menambahkan secara serius kali ini. "... itu yang selalu kau katakan, Haibara. Kau tidak sedang berpikir untuk melakukannya, kan?"
Sosok kecil itu akhirnya berbalik untuk mempertemukan pandangan mereka setelah lima detik dari pertanyaan terakhirnya. Tatapan mata Haibara tidak kalah serius dari Shinichi saat ini. Dan itu membuat pemirsanya semakin curiga. Tanpa sadar, kedua tangannya menggenggam di dalam saku saat itu.
"Aku justru berpikir untuk menerima hukumanku." Itulah yang Haibara katakan sebagai jawaban, yang tidak terlalu dapat dipahami oleh Shinichi.
Haibara berpaling menatap jendela kaca di dinding yang sama dengan tempat Shinichi bersandar, menatap cahaya dari baliknya. Pandangan matanya terlihat sendu kali ini. Melihatnya membuat Shinichi dapat menebak apa yang gadis itu pikirkan.
"Bagaimana pun aku juga ikut bertanggung jawab akan kematian orang-orang yang disebabkan oleh racun buatanku." Kata Haibara, persis seperti yang Shinichi duga. "Mereka semua sudah mendapat hukuman, rasanya tidak adil jika aku melanjutkan hidup dengan bebas seolah-olah tidak berdosa."
"Lalu kau mau hidup sebagai anak-anak untuk menebusnya?" Ia segera menyimpulkan, yang juga langsung dijawab oleh Haibara melalui mata biru itu yang kini kembali menatap mata birunya. "Bagaimana denganku?" Ia melanjutkan tanpa menutupi kekecewaan dalam suara maupun sorot matanya.
Haibara masih menatapnya dalam diam seraya memutar langkah sehingga tubuhnya menghadap Shinichi. Mata dan wajah di depannya tidak seperti akan membawa kabar baik. Dengan segera Shinichi menegakkan badan dan menghadap Haibara, membuat pandangan mereka bertemu secara lurus saat itu juga.
"Kau bilang kau akan memberiku waktu untuk memutuskan siapa yang akan aku pilih antara kau dan Ran." Ia merasakan hatinya sedikit saat berkata, namun memaksakan diri melanjutkan dengan nada suara lebih tinggi. "Atau jangan-jangan kau sedang berusaha menghukumku karena aku tidak juga mengambil keputusan?"
"Aku tidak bermimpi setinggi itu tentangmu, Kudo." Wajah kecil itu dihiasi senyuman sendu yang membuat hati Shinichi semakin sakit. "Aku hanya belum yakin takdir mana yang harus aku jalani."
"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan suara berubah pelan kali ini. "Aku pikir, kau menyukaiku... tapi apa maksudmu kau tidak bermimpi setinggi itu tentangku? Apa hanya aku yang bermimpi terlalu tinggi selama ini?"
Haibara langsung menggeleng kuat mendengarnya, lalu berkata, "Sudah aku bilang, ini bukan tentangmu."
"Jadi kau tidak mempertimbangkanku sedikit pun?" Shinichi benar-benar merasa kecewa setelah mendengarnya. Selama ini ia terus mempertimbangkan kelanjutan hubungannya dengan Haibara karena menyadari gadis itu semakin lama semakin menguasai tempat di dalam hatinya. Ia bahkan hanya memikirkan Haibara selama ini sampai ingin menyudahi hubungannya dengan Ran.
"Bukan itu maksudku." Senyum yang membentuk bibir Haibara menghilang setelah perkataan itu. "Aku sudah tidak memiliki kesempatan, jadi tidak perlu memikirkan hal itu. Yang aku pikirkan adalah—"
"Kau pikir selama ini aku main-main denganmu?!" Suara Shinichi meninggi dengan sendirinya seiring emosinya yang memuncak. Ia bahkan tidak berencana mengatakan pertanyaan itu dengan cara membentak. "Kalau kau tidak serius sejak awal, seharusnya kau langsung mengatakannya agar aku tidak salah paham selama ini. Aku bahkan terus berpikir ini adalah salahku karena tidak mengungkapkannya lebih cepat. Aku terus memikirkanmu sampai-sampai ingin mengakhiri hubunganku dengan Ran."
Mata Haibara justru terkesiap setelah suaranya jadi lebih rendah. Kebenaran itu pasti mengejutkannya. Shinichi tidak dapat menahan lagi karena ia merasa benar-benar konyol sekarang. Ia terus memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkanya.
"Aku menyukaimu, Kudo. Sangat." Suara Haibara terdengar yakin dan tegas, di antara mata dan raut wajahnya yang justru redup. "Mungkin... aku hanya perlu waktu untuk memikirkannya."
"Jadi benar kau tidak memikirkanku sama sekali selama ini?" Nada Shinichi sedikit menuntut.
Haibara lagi-lagi menghindar dari tuntutannya. Gadis itu memutus pandangan mata mereka dengan menundukan kepala. Dalam waktu yang lama, tuntutan Shinichi diabaikan tanpa balasan. Pria ini menarik napas berat dan memalingkan wajah seraya kembali menyandar ke dinding.
Untuk apa segala penyesalannya selama ini? Hanya untuk menemukan fakta bahwa ia tidak cukup berharga bagi Haibara? Penyesalannya sekarang justru berubah. Ia menyesal mengapa membiarkan orang lain menyusup ke dalam hatinya sehingga membuatnya merasa seperti orang brengsek yang telah mengkhianati penantian panjang pacarnya.
"Aku sudah memberimu waktu untuk mengambil keputusan, dan aku tidak meragukanmu." akhirnya Haibara membalas, meski tidak juga mengangkat kepala. "Tidakkah bisa kau memberiku waktu juga untuk memutuskan takdirku?"
"Berapa lama yang kau butuhkan?" Shinichi menjawabnya dengan cepat tanpa pertimbangan apapun kali ini.
"Sampai aku cukup yakin—"
"Dan apa yang bisa meyakinkanmu?" Ia menyela seraya menatap Haibara, menemukannya yang tidak juga menunjukkan muka. "Apa kau akan yakin setelah aku memutuskan Ran? Apa kau benar-benar tidak bisa menunggu? Kau selalu menekanku agar aku mengambil keputusan dengan tergesa-gesa."
"Tidak, Kudo..." Haibara memandangnya kemudian, bersamaan dengan suaranya yang terdengar putus asa. "Kau tahu seberapa menyesalnya aku menjadi salah satu bagian dari orang-orang itu? Rasanya terlalu berat jika aku harus melanjutkan hidupku sebagai mantan anggota organisasi mafia. Aku hanya ingin menanggalkan status itu dan kembali terlahir sebagai manusia biasa yang dapat memilih jalanku sendiri."
Gigi Shinichi mengerit geram, lalu matanya yang dipenuhi emosi terpejam. Ia tetap tidak memahami jalan pikiran Haibara. Namun perkataan itu cukup membuatnya merasa iba sehingga membuatnya membuang keinginan untuk berdebat.
"Baiklah." Ia menjawabnya seraya membuka mata, membiarkan pandangan mereka kembali bertemu saat itu. "Akan aku beri kau waktu untuk menjalani hidupmu sesuai yang kau inginkan."
Perkataan itu langsung menghapus rasa putus asa di wajah Haibara, hanya saja ia tidak benar-benar menyetujui jalan pikiran gadis itu. Matanya masih menatap tajam, dengan hati yang terus bergemuruh.
"Tapi seperti yang kau bilang," Shinichi menegakkan tubuh dan melanjutkan, "... manusia punya batas seberapun ia tidak ingin menyerah. Mungkin pada akhirnya aku akan melepaskanmu kalau kau membuatku menunggu terlalu lama."
Ia menatap mata biru itu untuk terakhir kali, tanpa mencari tahu apa yang Haibara rasakan setelah mendengar kalimat terakhirnya. Langkahnya langsung berjalan menuju pintu dan meninggalkan Haibara sendirian. Perasaan menyesal sebenarnya Shinichi rasakan tepat setelah mengatakan semua itu. Ia tahu ia tidak akan bisa menyerah terhadap sesuatu hanya dengan melawan waktu. Akan tetapi Haibara tidak mempertimbangkannya sedikit pun dalam kehidupan gadis itu, dan itulah yang membuatnya benar-benar marah.
Marah. Dan menyesal...
19.
A/N: im working real hard to finish this chapter :'))
