Ingatan Masa Lalu.
Suara orang-orang yang menggema di dalam kegelapan, dan Shinichi tidak juga dapat membuka mata.
Ketika ia mencoba memahami, suara-suara itu menyebut namanya, sementara itu, tubuhnya terasa terbang seiring derak roda-roda yang terus berputar. Langkah-langkah memburu seperti mengejarnya. Rasa perih mendera setiap inchi tubuhnya, terutama di bagian bawah dada. Ia tidak mendengar suara-suara itu lagi saat tubuhnya terasa berhenti melayang-layang.
Hening panjang. Lalu, sebuah jarum menembus kulitnya sebelum semua berganti kehampaan.
Tidak ada suara.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada apa pun yang dapat dijadikan petunjuk apa yang sedang terjadi padanya.
Sampai akhirnya, matanya mampu terbuka, ia melihat Haibara membelakangi cahaya petir yang menyambar dari balik jendela. Ia menunduk, menemukan wajah anak-anak itu yang menghadapnya, tersenyum samar di bawah dua matanya yang bernuansa tenteram. Kedua tangannya terlipat angkuh di depan, seperti mengangkat ego, ketika tubuh Shinichi sama sekali tidak bisa bergerak. Kaku, mungkin membeku.
Mata Shinichi lalu menggelap setelah itu, melawan terangnya lampu dan cahaya kilat yang menyambar menembus kaca-kaca jendela. Bibirnya terkulum dalam. Dan senyum Haibara semakin tajam saat melihat reaksinya ini, sembari mengangkat dagu sebelum berbalik menatap jendela, memandang rintik hujan lebat lebih dekat dari Shinichi yang berdiri di belakangnya.
Di antara petir yang kembali menyambar, dada Shinichi terasa tersambar dan terbelah. Hatinya dikoyak. Berdarah-darah, seperti nyata, membuatnya ingin berteriak karena sakit yang luar biasa. Mungkin ia memang berteriak saat itu, tanpa suara. Mungkin juga Haibara mengatakan sesuatu. Ia tidak bisa mendengar apa-apa, kecuali gemuruh petir. Lalu merasakan de javu. Pandangannya buram dan semua di sekitarnya buyar perlahan-lahan. Ia kembali ke dalam kegelapan yang hampa, dan punggung Haibara menjauh dan menghilang di kejauhan. Mungkin ia sedang berada di dalam mimpi, atau terjebak dalam ingatan-ingatan yang mengikatnya pada Haibara. Dan jika mungkin, Shinichi tidak ingin terbangun, karena setidaknya dalam kehampaan itu ia tidak merasakan sakit apa pun.
Apa pun.
Musim gugur, 2012.
Malam itu adalah malam yang menandakan akhir musim panas di mana gemercik hujan merayap tanpa pemberitahuan karena mendung sama gelapnya dengan langit malam, sementara, Shinichi Kudo memandang Ai Haibara yang berada di samping jendela, mendekatinya. Petir menyambar sesekali dan membuat ruang tamu profesor Agasa yang terang semakin benderang, yang justru menggelapkan sosok gadis kecil itu dari pandangan.
Haibara mengangkat tangan begitu sampai di depannya dari jarak satu langkah, memberikan sebuah flashdisk hitam tanpa suara. Mata Shinichi tidak juga berpaling dari wajah itu, sekedar untuk melihat apa yang saat ini diraihnya bukanlah apa yang Haibara berikan. Ia meremasnya sedikit erat dan berharap sosok kecil itu akan menyerah ketimbang menarik diri, maupun mundur perlahan menjauhinya.
Kemudian, Shinichi menatap benda yang tertinggal di dalam genggamannya. Bukan tangan, bukan juga jawaban dari sebuah penantian.
"Sudah satu bulan..." Suaranya tersamar hujan lebat yang menghajar atap habis-habisan, tapi ia yakin sosok lain di sana masih bisa mendengarnya, meski sosok itu kini berpaling, membelakanginya. "Apa kau belum juga memutuskan?"
"Rekaman CCTV dari blok satu sampai blok lima ada di dalamnya, dan aku sudah menandai lokasi tempat mayat-mayat itu ditemukan."
Perkataan Haibara jauh dari harapan Shinichi. Ia menahan diri untuk tidak membanting flashdisk yang dijadikan sebagai pengalihan itu. Walaupun alasan mereka bertemu memang untuk mengumpulkan bukti dari kasus pembunuhan berantai di Beika, ia tidak bisa mengabaikan perasaan rindu yang menggebu ketika melihat Haibara.
"Aku sudah memikirkannya," Shinichi menarik napas di antara kalimat ini, lalu meremas flashdisk seraya memasukannya ke dalam saku celana. "... mungkin sebenarnya kau merasa tidak yakin karena aku juga tidak menempatkanmu sebagai prioritas utama."
"Data-data dari orang yang kau curigai juga sudah aku masukan ke dalamnya."
Shinichi mengeritkan gigi, seketika, "Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Ran di hari kelulusan."
"Kudo!" Namanya adalah kata pertama yang dikeluarkan mulut kecil itu saat akhirnya Haibara berbalik.
Merasakan amarah di dinginnya nada Haibara, membuat dada Shinichi berdenging sedikit. Ia memejamkan mata sekilas, sebelum menatap kembali wajah Haibara yang tidak lagi datar. Rindu, penyesalan, dan harapan, memenuhi mata Shinichi saat melihatnya. Rasanya, ia telah sampai di ambang batas.
"Aku akan masuk akademi polisi dan menempuh pendidikan disana sekitar satu tahun, jadi aku punya cukup alasan untuk mengakhiri hubungan kami tanpa harus menyebutmu sebagai pihak ketiga."
"Apa kau tidak mengerti juga kenapa aku menghindarimu?" Haibara menyela. Nampaknya pertanyaan itu juga yang telah ditahan gadis ini sejak menyebut namanya tadi. "Kau bukan takdirku. Ini adalah hukuman atas dosa-dosa yang telah aku lakukan."
Nada yang sama yang Haibara gunakan membuat Shinichi merasakan sensasi dingin dan gelitik tidak nyaman di dalam dadanya, seolah-olah air hujan di luar sana menembus rumah hingga menghujaninya sampai ke dalam. Ia meremas-remas benda di dalam sakunya sebagai pelampiasan. Tapi bukan untuk melepaskan tekad maupun niatan, melainkan untuk meyakinkan diri agar tetap maju.
"Kau juga tetap bisa meneruskan hidupmu sebagai anak-anak selama aku menempuh pendidikan sebagai polisi." Kalimat itu keluar dari mulutnya tanpa gentar kemudian. Meski tatapan mata Haibara perlahan melunak, kata-kata berikutnya juga ia keluarkan dengan telak. "Setelah itu, kita bisa memulai hubungan kita."
Shinichi tidak dapat melihat ekspresi Haibara setelahnya karena kilat menyambar di balik jendela dan kembali menyilaukan pandangannya, lalu tiba-tiba saja menemui wajah gadis itu sudah menunduk di bawah poninya yang menutup hingga ke mata.
"Aku tidak akan meminum penawarnya..." Suara Haibara di telan gemuruh petir. Mungkin itu perasaan Shinichi saja telah mendengar keputusasaan dan kesedihan di sana, karena dua emosi itu tidak terlihat saat pandangan Haibara kembali terangkat. "Aku sudah memutuskan tidak akan menerimamu... aku melepaskan diri dari perasaan yang mengikatku padamu..."
Tubuh Shinichi membeku. Petir yang kembali membelah langit kini menyambuknya, dengan bengis dan brutal, merobek hatinya menjadi dua. Wajah Haibara masih menjadi pemandangan utama di matanya, sebelum ia mencoba mencari tahu apakah mungkin hatinya tercecer ke lantai saat itu. Tapi lantai yang menjadi tempatnya berpijak kosong, tidak ada apa-apa. Hatinya yang terasa hancur rupanya bukan karena tersambar petir, melainkan karena apa yang didengarnya adalah kenyataan. Ia tidak percaya telah benar-benar mendengar penolakan.
"Takdir semua orang sudah ditentukan sejak lahir."
Saat Shinichi mengangkat pandangan, Haibara sudah berpaling, berdiri di dekat jendela dan membelakanginya. Tapi kedua tangan gadis itu yang kembali terlipat memberi gambaran pada Shinichi betapa angkuhnya sosok itu. Keangkuhan yang berdiri di atas harga diri seorang Shinichi Kudo yang telah ikut hancur bersama hatinya.
"Seperti kau yang ditakdirkan bersama gadis itu, aku juga ingin menemukan takdirku di dalam kehidupanku yang baru ini." Katanya, tanpa sedikit pun menengok apa lagi melihat mata Shinichi yang dipenuhi luka. "Lupakan saja semuanya, Kudo-kun. Anggap saja pertemuan kita hanya mimpi buruk, dan saat kau bangun, kau masih Shinichi Kudo yang sama, dan aku hanya Ai Haibara, anak kecil yang kebetulan tinggal di sebelah rumahmu."
Kilat menyambar lagi dan kali ini gemuruh petir datangnya dari dalam dada Shinichi yang isinya sudah porak-poranda. Sakitnya begitu nyata dan sejak itu ia mulai sadar bahwa Haibara memang menolaknya. Rasa rindu yang lama ia pendam menguap hingga membuat napasnya sesak. Penyesalannya semakin dalam dan menembus sampai ke batasan benci. Harapan lenyap dari benaknya. Penderitaan yang begitu banyak, menderanya bersamaan. Persis, seperti peluru-peluru yang Haibara tahan dengan tubuhnya untuk melindungi Shinichi saat itu, yang akhirnya juga menembus pertahanan hati Shinichi dari cinta Haibara selama ini, yang kini... berbalik membunuhnya.
Rasa-rasanya, pandangan mata Shinichi menggelap. Entah karena memang ia mengalami buta sesaat karena kilat, atau karena menemukan dunianya telah runtuh. Namun ia masih berusaha berdiri tegap seraya mengumpulkan kembali harga dirinya yang kocar-kacir. Sementara, hatinya sudah tidak terselamatkan.
"Kenapa..." Ketika ia menemukan suaranya kembali, ia merasakan tenggorokannya sakit dan serak. Ia mencoba menenangkan diri, dan meneruskan dengan harapan suaranya tidak bergetar kali ini. "... kau baru mengatakan semua ini, setelah kau membuatku menunggu?"
"Karena kau bilang kau akan menyerah, dan aku hanya menunggunya." Haibara terdengar jahat dengan jawaban dingin itu.
Shinichi mencoba menelan ludah, memandang ke bawah lagi. Kembali mencari sisa-sisa harga dirinya yang mungkin masih ada di lantai.
"Aku tidak menyerah, Haibara... Aku masih menunggu..." Shinichi bergumam. Kepalanya tidak kembali diangkat karena takut memperlihatkan matanya yang kini dipenuhi penderitaan. Ia tidak pernah merasa lebih menyedihkan dari sekarang. Mengais harapan dari sisa-sisa kehancuran. Mengemis balasan dari seorang gadis yang egois. Menangis, di dalam hati yang pecah berantakan.
"Aku juga pernah menunggumu, Kudo. Jauh lebih lama. Dan pada akhirnya aku menyerah..." Didengarnya Haibara membalas. Dan balasan yang tidak kunjung memberikannya setitik harapan itu membuat Shinichi terperosok semakin dalam ke dalam kegelapan. "Kau pun, juga akan menyerah nanti."
"Omong kosong..." Saat mengatakan ini, darah Shinichi mulai mendidih. "Kau hanya mempermainkanku selama ini! Kau tidak pernah mencintaiku!"
Ia menatap punggung Haibara kembali, dengan mata berkilat, terbakar api, ia terbakar dari kepala ke ujung kaki. Membuatnya ingin meledak-ledak, membuatnya ingin membawa Haibara ikut terbakar bersamanya. Ia tiba-tiba merasakan kebencian luar biasa saat melihat sosok tenang dan tanpa ekspresi itu, yang biasanya dapat membuatnya kagum di saat-saat tertentu. Sosok Haibara saat ini terlihat tidak memiliki hati bagi Shinichi.
Kejam. Jahat. Penjahat.
"Kau akhirnya membuktikan padaku," Ia kembali berkata, dengan suara lebih rendah namun tidak meninggalkan nadanya yang penuh amarah. "... bahwa seorang penjahat memang tidak pernah punya hati!"
Gemuruh petir mengikuti perkataan itu, disusul dengan kilat beberapa kali. Shinichi menunggu Haibara untuk membantah atau sekedar bereaksi, dan ia menyiapkan diri untuk melihat wajah anak-anak itu dalam kesedihan, atau kemarahan, atau emosi apapun yang menyakitkan.
Namun, sampai petir berikutnya terdengar, Haibara tidak bergerak sama sekali. Saat itu juga, Shinichi dibuatnya yakin bahwa ia sedang berurusan dengan orang yang tidak punya hati.
Ia tidak memiliki alasan lagi. Ia tidak ingin mengemis kembali. Ia benar-benar kecewa pada Haibara. Ia berbalik dan berjalan, lalu berhenti di depan pintu. Sebelum membukanya lebih dulu, Shinichi melirik Haibara untuk yang terakhir kali. Jika ia harus terluka, setidaknya ia tidak ingin terluka seorang diri.
Shinichi membuka dan melewati pintu itu, lalu menembus lebatnya hujan setelah mengatakan,
"Aku akan tetap mengakhiri hubunganku dengannya, sehingga dalam kehidupanmu yang baru pun kau tidak akan pernah lepas dari dosa."
Lebih dari setengah malam malam itu Shinichi Kudo menghabiskan waktunya untuk membongkar kasus pembunuhan berantai di Beika, dengan menyeret pelakunya yang babak belur ke kantor polisi dan menyerahkan bukti-bukti yang sudah ia kumpulkan (termasuk bukti yang diberikan oleh Haibara), lalu tiga jam setelah itu, ia terbangun di atas sofa ruang tamu dalam keadaan demam dan mendengar suara mencurigakan dari arah dapur.
Shinichi membangunkan tubuh lemahnya dengan paksa sebelum berjalan gontai ke arah suara, mengabaikan rasa dingin yang menusuk telapak kakinya saat memijak lantai. Ia semalam sempat melepaskan sepatu dan kaos kakinya yang basah sebelum membaringkan diri begitu saja, yang mungkin juga memperburuk keadaanya yang sudah kehujanan semalaman. Tapi bagian terburuknya, demamnya sekarang jauh lebih parah dari yang ia duga, sampai-sampai ia berhalusinasi melihat Ai Haibara dalam bentuk dewasa berada di dapurnya. Sosok cantik dalam kemeja putih dan rok span hitam. Rambut merah muda yang terlihat merah di bawah sorot matahari pagi yang masuk melalui jendela. Dan mata biru itu menatapnya, dengan bibir yang membentuk kata-kata.
Deman Shinichi bermultiplikasi menjadi panas yang pengap dan menyesakan dada.
"Sudah bangun?"
Shinichi benar-benar terbangun saat itu juga. Ia menyipitkan matanya yang sempat melebar dalam persekian detik, menatap sosok itu yang rupanya nyata, lalu berjalan mendekat tanpa merasakan lagi dingin menyerang kakinya yang telanjang.
"Apa yang kau lakukan?" Shinichi akan membentak jika memiliki cukup sisa tenaga dengan tubuhnya yang demam, bukan sekedar bergumam.
"Aku membuatkan bubur untukmu. Kau pasti tidak enak badan karena semalam kehujanan." Haibara menjawabnya tenang dan gamblang, bahkan terdengar senang.
"Jangan main-main denganku, Haibara!" Ia mendesak, lalu menarik tangan gadis itu dengan kasar tanpa menutupi emosi di wajahnya. "Apa yang kau lakukan disini dengan tubuh aslimu setelah kau bilang padaku tidak akan meminum penawarnya!"
Kemarahan yang menyulut Shinichi membuat tubuhnya semakin panas. Haibara mencoba menarik diri, namun ia tidak membiarkan tangan itu lepas.
"Kau masih ingin mempermainkanku!"
"Kudo—"
"Jangan pernah muncul lagi di hadapanku—"
Prank!
"Akh!"
Tangannya sudah menarik Haibara sekuat tenaga sebelum kata-katanya selesai, lalu tiba-tiba saja tangan kiri milik gadis itu menabrak panci panas di atas kompor sampai bubur yang menjadi isinya tumpah kemana-mana, termasuk ke tangan Haibara. Mata Shinichi melebar seketika, sementara mata Haibara memicing di antara wajahnya yang meringis kesakitan. Shinichi segera melepaskannya, hanya untuk menarik tangan Haibara yang satunya ke bawah kran di atas wastafle dapur. Ia bahkan tidak sadar bahwa telah ketakutan selama membilas tangan Haibara, sampai melihat tangannya sendiri gemetar ketika mematikan kran air itu.
"Kau... tidak apa-apa?" Shinichi bertanya nyaris datar, baik karena ketakutan, juga karena menyesal.
Haibara mendongaknya dengan mata terbuka wajar, namun jawaban absen dari bibir merah mudanya yang masih terkulum dalam. Tangan yang telah ia abaikan terangkat ke arahnya, menyentuh keningnya yang hangat dengan telapak yang halus, membandingkan suhu tubuh mereka.
"Kau demam..." Kata Haibara seperti bergumam, mempertahankan tangan kanan di kening Shinichi, sementara tangan kirinya masih di dalam kedua genggaman pria ini. "Kau sudah minum obat?"
"Obat tidak akan bisa menyembuhkanku kali ini." Balasnya seraya melepaskan tangan kiri Haibara, termasuk melepaskan diri dari tangan di keningnya.
Shinichi berpaling dengan amarah yang sudah beranjak mengganti ketakutannya, selagi itu berpaling dari lawan bicara. Langkahnya baru saja akan berputar saat Haibara meraih kembali panci panas yang terguling di atas kompor, mendirikannya dengan gerakan tergesa-gesa sebelum mematikan api di bawahnya. Haibara lalu menyahut salah satu mangkuk di rak piring yang tidak jauh, sementara Shinichi memperhatikan semua dari ekor mata yang kembali menyipit. Panci itu bahkan seharusnya lebih panas kali ini, namun Haibara memegangnya seolah-olah tidak merasakan apa-apa. Entah karena terbiasa, atau karena lebih peduli untuk menyelamatkan sisa-sisa bubur di dalamnya ketimbang kulitnya sendiri yang terbakar.
"Aku rasa ini masih cukup untuk sekedar menjaga asam lambung." Haibara mengangkat mangkok yang sudah terisi setengah dengan bubur, lalu berjalan mendekat. "Makanlah dulu, setelah itu baru minum obat."
"Aku tanya sekali lagi," Shinichi memutar langkahnya yang batal berbalik, kali ini justru kembali menghadap gadis itu. "... apa yang sedang kau lakukan, Haibara?" Ia membeo, dengan suara yang jauh lebih tenang, meski amarah masih bercampur di mata birunya.
"Aku berubah pikiran, Kudo-kun." Balasan itu disampaikan menggunakan suara yang tenang, juga sebuah senyuman.
Tenteramnya mata Haibara membuat harapan Shinichi berkembang. Ia merasakan amarahnya turun perlahan-lahan, yang juga menjadi alasan bagi tatapan matanya yang temaram. Shinichi lalu menurunkan bahunya, yang tanpa sadar sempat menegang. Ditatapnya mata biru yang lebih gelap dari miliknya itu dalam waktu panjang, sebelum meneguhkan hati untuk bergumam.
"Maksudmu..." Ia berhenti hanya untuk mencari sebuah kejujuran di mata Haibara saat itu, lalu setelah menemukan, melanjutkan, "... tentang hubungan kita?"
Haibara menjawabnya melalui anggukan, dan juga senyum yang semakin tinggi. "Aku sudah memikirkannya semalaman, dan memutuskan untuk menerimamu."
Shinichi masih menatap mata Haibara dalam-dalam, sebelum merasakan sensasi aneh yang menggeletik dadanya. Bibirnya yang semula terasa kaku seolah-olah terbeku, kini melunak dan mampu terkulum normal. Pada saat itu, ia juga merasa amarah sepenuhnya terhapus dari dirinya.
"Kenapa?" Ia mengatakannya sambil memejamkan mata sekilas dan memalingkan muka. Seorang Shinichi Kudo pun tidak bisa tahan jika mengalami begitu banyak perubahan emosi dalam waktu sekejap seperti sekarang.
"Karena meski aku lahir kembali, aku tidak akan menemukan detektif yang mampu merangkap peran sebagai superman." Jawab Haibara lugas dan jelas. Bahkan saat Shinichi melirik, gadis itu masih tersenyum tulus padanya. "Selain itu, hanya kau yang cukup gila untuk mau menerima mantan penjahat sepertiku."
Shinichi mendengus, tidak terlalu berselera menanggapi lelucon itu, sementara Haibara justru tertawa dalam dengusannya. Kemudian sosok gadis itu berjalan melewati Shinichi untuk mendekat ke arah meja dan meletakan mangkuk berisi bubur di tangannya kesana. Shinichi mengikuti gerakannya melalui mata, sebelum ikut berjalan dan menarik salah satu kursi di depan meja untuk diduduki.
"Kau punya obat penurun demam?" Tanya Haibara seraya menggeser mangkuk itu lebih dekat ke arah Shinichi.
"Mungkin ada di kamar." Balasnya sedikit dingin, yang masih tidak ingin mempertemukan pandangan mata mereka. "Tapi aku juga tidak membutuhkannya. Ini hanya demam ringan, aku akan sembuh dengan sendirinya nanti."
"Bahkan superman pun pergi ke dokter saat dia sakit, kau tahu?" Kata Haibara saat meraih sisi wajah Shinichi yang berpaling, lalu menariknya sehingga mereka berhadapan lurus.
Ditemukannya saat itu Haibara bersandar ke belakang, menyandar pada meja dengan posisi nyaris duduk. Rok span hitam gadis itu terangkat sedikit dan itu menarik pandangan mata Shinichi seketika. Mungkin saat peluru-peluru menghujani tubuh Haibara pada waktu melindunginya hari itu, juga berubah menjadi peluru asmara yang membuatnya jatuh hingga hari ini. Namun ia tidak tahu bahwa cupid bersenjata api jauh lebih berbahaya dari pada cupid-cupid biasa yang membawa panah, karena peluru jauh lebih panas dan dapat membuat korbannya merasakan sensasi terbakar dalam hati. Seperti, hatinya sekarang.
"Kemana kau melihat?" Tangan Haibara beralih ke dagunya sembari bertanya, memaksa pandangan Shinichi terangkat. "Dasar bocah mesum."
"A-aku tidak melihat apa-apa!" Shinichi menukas seraya membuang muka kembali. "Aku hanya melihat bekas lukamu..." gumamnya kemudian.
"Aku hanya bercanda..." Didengarnya Haibara kembali berkata, diikuti tawa samar yang pendek sebelum meneruskan dengan nada senang, "Kau boleh melihatnya, aku milikmu sekarang."
Nyaris seketika setelah mendengarnya, Shinichi menatap Haibara dan langsung menemukan seringai tipis beserta tatapan mata redup gadis itu. Ia merasakan kembali sensasi hangat di dalam dadanya. Pemandangan wajah Haibara terlihat... menggoda.
"Kau benar-benar menerimaku?" Ia ingin memastikan.
"Iya, Kudo-kun, aku menerimamu." Haibara menjawabnya dengan suara netral. "Aku mencintaimu..."
Cupid itu kembali menembakkan peluru ke dada Shinichi, ia merasa sesak untuk sesaat. Ia bahkan masih bisa ingat rasa sakit saat Haibara menolaknya semalam. Namun dengan mudahnya sekarang ia dibuat terlena hanya dengan sebuah pengakuan, aku mencintaimu...
Haibara mencintainya, seperti ia mencintai Haibara.
Shinichi kemudian meraih dan menggenggam tangan di wajahnya, dan berkata, "Kau sudah membuatku mengatakan hal-hal jahat itu karena aku ingin kau merasakan sakit hati yang sama. Kenapa baru sekarang kau baru menyatakan perasaanmu? Apa kau hanya ingin membuatku menyesalinya?"
"Aku tidak benar-benar tahu apa yang harus aku katakan semalam karena kau menyatakannya secara tiba-tiba." Balas Haibara dengan nada yang sama, namun menambahkan senyum di akhir kalimat itu. "Sudah aku bilang, aku butuh waktu."
"Kau tidak akan menarik kata-katamu dan tiba-tiba bilang bahwa kau hanya membalas dendam padaku, 'kan?" Katanya lagi, cukup yakin kali ini.
Sementara, Haibara beranjak masih seraya tersenyum, lalu menambahkan satu tangan lagi di wajah Shinichi sehingga kini membingkai kedua sisinya. Setelah itu Haibara berkata dari jarak lima senti di depannya, melalui bisikan yang menghembuskan napas hangat dan kehangatan itu menjadi terasa panas setelah bercampur dengan napas Shinichi sendiri.
"Tidak akan, Kudo-kun..."
Butuh sekuat tenaga agar Shinichi dapat menahan bibirnya tidak tersenyum terlalu lebar. Meski, dari jarak sedekat ini, ia yakin Haibara bisa mendengar detak jantungnya yang sekarang berdetak di luar normal. Mungkin hatinya yang hancur juga beranjak pulih saat ini. Ia bisa merasakan lagi betapa ia menyukai Haibara. Dan, bahagia.
"Kau belum mengganti baju sejak semalam?" Haibara bertanya sambil melepaskan diri, tepat sedetik sebelum Shinichi akan meraihnya. "Aku akan mengambilkan obat dan baju ganti untukmu, sementara itu makanlah dulu."
"Aku bisa mengambilnya sendiri nanti." Dengan cepat Shinichi menghentikan gadis itu, meraih tangannya.
"Kau tidak mau aku meninggalkanmu?" Sebuah seringai mengakhiri pertanyaan Haibara, membuat Shinichi merasa tertembak telak dan malu.
Ia buru-buru mendengus dengan menundukkan kepalanya sedikit sebagai kedok untuk menutupi wajahnya yang mungkin memerah, lalu melepaskan tangan Haibara selagi berkata, "Aku bisa mengambil obatnya sekalian mengganti baju nanti. Aku juga tidak seperti akan mengganti baju disini."
"Baiklah..." Gadis itu berkata dan mundur ke dekat meja untuk kembali bersandar ke sana. "Aku akan menemanimu sampai kau selesai makan kalau begitu."
Mata Shinichi terangkat, memandang mata Haibara. Ia benar-benar menemukan kembali harapannya saat itu, dan juga perasaan rindu yang menggebu. Hatinya yang baru saja pulih, terasa ingin meledak karena terlalu bahagia. Tubuhnya juga terbakar, namun terbakar oleh cinta yang membara, membuatnya ingin mengatakan pada seluruh dunia bahwa Haibara kini telah menjadi miliknya, membuatnya ingin meraih dan merengkuh kekasih barunya, membuatnya ingin ditemani selamanya.
Setelah Shinichi meminum obat penurun demam, ia tidur dengan pulas, dengan Haibara menemaninya, menjaganya, seraya mengompres keningnya dan memastikannya tetap lembab sepanjang hari, yang ia sadari saat terbangun sekitar pukul tiga sore dan menemukan kain itu masih sama lembabnya seperti saat ia tertidur tadi, dengan suhu tubuh yang sudah kembali normal. Setelahnya, beberapa detik dari ia membuka mata, Haibara masuk ke dalam kamarnya dan membawa makanan serta minuman di atas sebuah nampan, sementara Shinichi bergerak mendudukkan diri di atas ranjang. Haibara kemudian menaruh nampan itu di atas pangkuan Shinichi. Ia mulai penasaran saat itu, bagaimana Haibara selalu datang setiap ia bangun, seolah-olah telah tahu kapan ia akan terjaga dari tidurnya.
"Kapan hari kelulusanmu?" Haibara bertanya seraya mengupas sebuah jeruk yang diambilnya dari nampan di atas pangkuan Shinichi, lalu memilinnya menjadi empat bagian dan menaruhnya kembali ke nampan itu sebelum mengambil satu lagi.
"Lusa." Jawabnya yang langsung teringat hal-hal yang telah ia janjikan semalam. "Aku benar-benar akan mengakhiri hubungan kami tanpa menyebut hubungan kita."
"Dia sudah menunggumu lebih dari setahun, dan baru beberapa bulan sejak kau kembali. Aku pikir sebaiknya—"
"Semakin cepat akan semakin baik." Shinichi menginterupsi karena paham kemana arah pembicaraan lawannya.
Ia menatap mata Haibara lurus, dengan pandangan mata serius. Ia membatalkan niatan untuk menaruh sendok meski perutnya mulai lapar semenjak menghirup aroma wangi sup rumput laut dan lauk berupa telur gulung buatan gadis itu. Masing-masing kedua tangan Shinichi meremas pinggiran nampan, sedangkan Haibara berhenti mengupas jeruk di tangannya saat itu.
"Aku tidak bisa menjalani dua hubungan sekaligus." Ia meneruskan. "Selain itu aku juga tidak mau menyakiti kalian berdua dengan melakukannya."
"Kau akan lebih menyakitinya kalau memutuskan hubungan kalian secepat ini." Haibara membalas pelan. "Kau tahu rasa sakitnya menunggu seseorang?"
Suara Shinichi absen dari pertanyaan itu. Tentu saja, ia tahu. Ia menunggu Haibara meski tidak selama gadis itu menunggunya, maupun tidak selama penantian yang Ran lakukan terhadapnya. Dan karenanya, hal-hal yang ia sebutkan sebagai alasan tadi terpatahkan.
"Kau akan masuk akademi begitu surat kelulusanmu keluar, dan kalian tidak punya banyak kesempatan untuk bertemu setelahnya." Suara tenang itu kembali memenuhi ruang kamar. Untuk pertama kalinya Haibara mengalihkan pandangan setelah itu. Kedua tangannya kembali sibuk mengupas jeruk, memilin salah satu bagiannya untuk kemudian mendekatkannya ke mulut Shinichi menggunakan tangan kanan, seraya kembali menyambung pandangan. "Kau hanya harus menunggu waktu yang tepat."
Shinichi menyingkirkan tangan Haibara dari depan mulutnya lebih dulu, menggenggam pergelangan tangan itu tidak terlalu erat.
"Bagaimana denganmu?" Ia berusaha melembutkan suaranya meski perasaan tidak nyaman mulai mengusik hatinya. "Kau juga akan menunggu?"
"Aku tidak apa-apa." Sambil membuat senyuman Haibara membalas. "Aku sudah cukup terlatih cemburu."
Melihat itu, Shinichi mengulum bibir, merasakan perasaannya semakin tidak nyaman. Ia lalu melepaskan tangan Haibara, sebelum merendahkan pandangan seraya menelan rasa pahit yang tiba-tiba terasa pada ujung lidahnya.
"Aku banyak berhutang padanya, Kudo." Haibara menambahkan. Namun Shinichi mulai paham alasan gadis itu sekarang. "Dan sekarang aku merebutmu darinya. Setidaknya biarkan aku menjadi alasan bagi hubungan kalian untuk bertahan lebih lama."
Suara Haibara berhenti, lalu Shinichi mengangkat pandangannya, memandang mata biru itu dengan menimbang-nimbang. Mata biru itu terlihat tulus seharusnya, namun birunya mata Haibara sedikit gelap sehingga sulit bagi Shinichi untuk melihat lebih dalam. Hanya senyum gadis itu yang bisa ia jadikan acuan sekarang. Senyum yang seakan berkata, semua baik-baik saja.
"Kalau begitu maumu," Shinichi mengembalikan pandangannya ke bawah lagi seraya berkata. "... aku akan menundanya sampai menemukan hari yang tepat."
"Tapi sebelum kau mengambil keputusan, beri tahu aku lebih dulu." Haibara kembali mendekatkan potongan jeruk di tangannya ke mulut Shinichi setelah mengucapkan kalimat itu.
"Kenapa?" Tanyanya, dengan segera mempertemukan mata mereka.
"Karena terkadang kau tidak peka jika berhubungan dengan perasaan wanita." Haibara membalas cepat kali ini, seolah-olah telah mempersiapkan diri dari pertanyaan Shinichi. "Aku tidak mau kau tergesa-gesa, apa lagi kau juga tidak akan tahu keadaannya saat kau di akademi. Aku yang bisa melihatnya secara langsung, jadi aku akan lebih tahu kapan waktu yang tepat."
Shinichi kini membiarkan Haibara membungkam mulutnya dengan sepotong jeruk, karena ia juga tidak menemukan alasan yang tepat untuk menyanggah, meski sebenarnya ia kurang setuju dengan ide itu. Haibara lalu meraih sendok dari dalam mangkok yang berisi sup rumput laut di depan Shinichi, menyuapinya kembali. Gadis itu memastikan Shinichi menghabiskan semua makanan di atas nampan dengan tangannya sendiri sebelum pulang.
Kemudian, Shinichi mengeluarkan diri dari gulungan selimut lalu berjalan ke arah jendela kamarnya yang menghadap langsung ke rumah Profesor Agasa. Beberapa lampu di rumah itu tidak menyala, namun ketika kilat menyambar diikuti suara gemuruh petir, ia dapat melihat siluet gadis berambut pendek dalam pemandangannya yang memblur di antara hujan yang mulai turun. Dan ia, dapat tersenyum.
Mungkin, Shinichi Kudo telah menjadi seorang bajingan hari itu. Harga dirinya telah hilang dengan berdiri di atas dua hati. Anehnya, ia tidak merasa kehilangan sama sekali karena Haibara terus mengisinya dengan cinta. Ia dibuat terlena, dan buta.
Shinichi menemukan dirinya sendiri memandangi Haibara. Ia ingat, ia tidak mengakhiri hubungannya dengan Ran di hari kelulusan SMA, lusanya, dan hanya memberitahukan bahwa ia akan ke Fuchu untuk menempuh sekolah kepolisian pada hari Selasa minggu depannya, yang sebenarnya satu hari setelah keberangkatannya. Shinichi sengaja berbohong karena tahu Ran akan datang untuk membantunya berkemas, dan ia tidak menginginkan hal itu karena ia sudah meminta Haibara lebih dulu untuk membantu. Shinichi sendiri merasa ia telah berbuat jahat, sebenarnya, namun ia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama Haibara sebelum pergi. Hubungan mereka baru resmi terjalin satu minggu, setelah segala kekonyolan yang kekasihnya itu buat yang membuat keduanya menjaga jarak selama satu bulan sebelumnya, dan mereka sudah harus berpisah lagi.
"Musim dingin akan segera datang, sebaiknya kau membawa banyak jaket. Kemarin aku juga sudah menyuruhmu mengemas long jonh, apa kau sudah melakukannya?"
Shinichi mendongak dari pemandangan yang menarik perhatiannya saat mendengar pertanyaan itu. Lalu, gadis berambut coklat kemerahan yang semula menekuk lutut di depan koper, yang juga pemandangan bagi Shinichi, berdiri dengan kedua tangan berkaca pinggang.
"Kau mendengarku, Kudo?"
Shinichi mengernyit, tidak yakin ia benar-benar mendengar apa yang Haibara katakan. Ia rasa ia mendengar mengenai pakaian dalam atau semacamnya, tapi mungkin juga bukan hal-hal yang sedang diperhatikannya sejak tadi.
"... iya." Ia menyahut sekenanya seraya tersenyum kaku.
"Dimana?" Haibara mengangkat sebelah alisnya seraya membungkuk untuk menyejajarkan pandangan matanya dengan Shinichi yang saat ini duduk di atas ranjang. "Kau taruh dimana baju hangatnya?"
Ah, Shinichi akhirnya paham. Haibara sedang menanyakan baju dalam hangat untuk musim dingin. Tapi apa ia benar-benar sudah mengemas baju itu? Ia tidak ingat.
"Sebenarnya..." Shinichi tertawa canggung seraya menggaruk kepala. "... belum aku kemas."
Mata Haibara memicing seketika, sebelum gadis itu menegakkan badan dan berjalan ke arah lemari. Shinichi langsung beranjak menyusulnya, berdiri di belakangnya untuk meraih pakaian yang ia simpan di bagian paling atas lemari itu.
"Kau tidak tahu tinggi badanmu sendiri." Ia menyeringai tepat saat Haibara berbalik padanya.
"Ara, aku lebih tinggi darimu beberapa bulan yang lalu." Gadis itu melipat tangan di depan dada tanpa lupa menyeringai balik.
Shinichi mendengus seraya memeluk baju-baju di tangannya, "Itu waktu aku masih Conan Edogawa."
Haibara hanya terkikik sebelum mengangkat tangan kanan untuk meraih puncak kepala Shinichi dan mengacak rambutnya. Gadis itu akan berjalan melewatinya, namun dengan segera ia menghalangi jalan dan melangkah maju.
"Bukankah kita bukan anak kecil lagi?" Shinichi membuat suaranya terdengar serius seraya berusaha memasang wajah datar selagi berkata.
"Lalu?" Ia menemukan wajah Haibara kembali dihiasi seringai jahil saat itu.
Shinichi sendiri berusaha tidak memerah malu saat melangkah semakin dekat dan memerangkap Haibara di antara lemari dan tubuhnya. Tangannya kemudian melepaskan baju-baju hangat itu untuk kemudian direntangkan di kedua sisi tubuh Haibara. Langkahnya yang berhenti terganti oleh wajahnya yang mendekat perlahan. Ia mencoba mengeliminasi jarak seraya memejam. Namun sebelum mendapatkan apa yang ia inginkan, Haibara mendorong dadanya dan membuatnya membuka mata lalu mundur seketika.
"Belum waktunya, Kudo-kun."
Shinichi hampir saja bergerak maju lagi jika tidak mendengar perkataan Haibara lebih dulu. Perkataan itu juga membuatnya tidak perlu lagi berusaha untuk menjaga ekspresi wajah, karena kini perasaannya yang ditumbuhi kekecewaan terpancar sempurna di sana. Butuh seluruh stok harga diri bagi Shinichi Kudo untuk tidak memaksakan kehendak, dan sebagai kamuflase ia berbalik dan mengambil baju-baju hangat yang sempat dijatuhkannya tadi.
"Kita tidak bisa berhubungan fisik sebelum kau benar-benar putus darinya, kau mengerti maksudku kan, Kudo-kun?"
Didengarnya gadis itu kembali beralasan, ketika ia berjalan ke dekat koper yang terbuka di atas lantai. Shinichi memasukkan baju-baju hangat di tangannya ke koper itu dengan paksa. Dalam di hatinya ia merasakan kekesalan dan hanya menggunakan tindakannya itu sebagai pelampiasan.
"Kau tidak akan bisa menutup kopermu kalau seperti itu." Suara tenang itu kini berasal dari sampingnya.
Haibara menekuk lutut dan menarik tangannya, lalu mengambil alih baju-baju hangat itu untuk dilipat dengan rapi satu per satu. Shinichi mengalihkan pandangan seraya berdiri. Ia berjalan ke dekat jendela, lantas membukanya untuk mendapatkan udara segar menggantikan udara pengap yang mulai memenuhi kamar ini. Atau mungkin, itu hanya perasaannya saja karena ia merasa kesal.
"Kau marah?" Suara bernada main-main setelahnya masih dari orang yang sama. "Kudo..."
Shinichi meliriknya samar, kemudian memasukkan kedua tangannya ke saku celana seraya mendengus sebal.
"Kau yang menyuruhku untuk mempertahankannya, dan sekarang kau menolakku karena hal itu. Benar-benar konyol."
Suara langkah Haibara menyambung perkataan Shinichi kemudian. Setelah meluruskan pandangan ke arah langit siang yang dihiasi mendung kelam, Haibara justru menarik salah satu sisi wajahnya, yang berada di seberang pandangan gadis itu. Shinichi dituntun untuk mempertemukan pandangan mereka dan dipaksa melihat senyum tenteram Haibara, yang rasanya begitu familier akhir-akhir ini. Namun bagi Shinichi, senyum itu terlihat janggal karena terlalu sering Haibara perlihatkan setelah mereka menjalin hubungan. Sifatnya yang penuh misteri seperti hilang, atau mungkin senyum itu sendiri adalah misteri sekarang.
"Sebenarnya, aku juga butuh waktu." Katanya, lalu menarik kedua tangan Shinichi dari dalam saku untuk masing-masing digenggam. "Ini untuk pertama kalinya aku menjalin hubungan asmara, dan rasanya sedikit canggung menerima ciumanmu secepat ini."
Mata Shinichi menyipit menyaksikan ekspresi wajah Haibara yang kontras dari perkataan itu. Cukup lama ia mempertahankan gestur yang sama sebelum menghela napas pelan, lalu menarik kedua tangannya dari tangan-tangan Haibara untuk kembali dimasukkan ke dalam saku. Ia tidak merasakan apa yang dijadikan gadis ini alasan adalah hal yang sebenarnya, entah mengapa. Sesuatu seperti mengganjal di dalam hatinya. Namun ia menahan diri untuk tidak mempertanyakan karena tidak ingin terdengar memaksa atau memojokkan Haibara.
"Aku mengerti, aku tidak akan melakukannya lagi." Shinichi setengah bergumam seraya menatap ke samping, ke arah pemandangan atap-atap rumah di luar jendela.
"Jangan terlalu kesal." Tangan Haibara bergerak lagi setelah berkata. Namun kali ini menyelip masuk di kedua ruang lengan Shinichi dan memeluk tubuhnya. Saat gadis itu menyandarkan diri ke depan dadanya, ia kembali mendengar nada yang sama melanjutkan. "Kau akan pergi cukup lama, mungkin aku sudah terbiasa saat kau kembali nanti."
Harapan itu setidaknya mampu mengurangi sedikit kekecewaan Shinichi. Ditatapnya puncak kepala Haibara yang berada di atas bahunya, kemudian memejam dan membalas pelukan. Untuk sekarang ia akan menahan diri demi kemungkinan itu, meski yang mendorong hasratnya untuk mencium Haibara justru kepergiannya yang akan memakan waktu cukup lama. Nafsu Shinichi sendiri sebenarnya tidak sebesar itu hingga membuatnya ingin terburu-buru. Ia hanya merasa akan sangat merindukan Haibara saat mereka berpisah nanti. Ia ingin, setidaknya sebelum pergi, merasakan Haibara adalah miliknya, sepenuhnya. Akan tetapi, dapat memeluk Haibara seperti ini juga sudah cukup. Benar-benar cukup.
"Bisakah kita pergi bersama ke suatu tempat, saat aku mendapatkan izin bermalam di luar?" Shinichi bertanya seraya mengeratkan pelukan, merasakan rindunya tiba-tiba memuncak saat membayangkan hari itu masih sangat jauh datangnya.
"... kapan?" Jawaban Haibara terdengar setelah beberapa lama.
"Aku juga belum tahu, tapi setidaknya setiap murid akan mendapatkan jadwal itu satu kali setelah bulan ke dua." Ia menarik napas panjang di antara kalimatnya, dan dapat mencium aroma harum dari tubuh Haibara. Rasanya, Shinichi juga akan merindukan aroma ini nanti.
"Akan kuusahakan." Haibara menjawab pendek sebelum melepaskan diri. Namun hanya sedetik setelahnya, Shinichi meriahnya lagi ke dalam pelukan.
"Bateraiku belum penuh."
Haibara terkikik dari dalam pelukan Shinichi, lalu menyandar ke pundaknya kembali.
Musim dingin, 2012.
Yang Shinichi ingat, bulan-bulan berikutnya berlalu bagai ribuan tahun yang panjang. Ia menjalani harinya penuh tekanan fisik dan mental pada awal seleksi di akademi, dan menahan kesepian atas kerinduannya pada Haibara sepanjang malam. Ia akhirnya mendapat jadwal menginap di luar selama sehari di bulan ke tiga, dan Haibara akan datang ke Fuchu menemuinya. Sehingga, pagi-pagi sekali hari itu Shinichi keluar dari asrama dengan perasaan tidak sabar, menunggu kedatangan kekasihnya di depan gerbang dengan mengenakan setelan seragam dan berdiri seraya menatap ke ujung jalan yang sepi. Matanya menghangat menentang bulir salju yang berjatuhan ketika akhirnya melihat sebuah taksi datang dari kejauhan membelah jalan. Taksi itu lalu memelan dan berhenti, kemudian sosok yang sangat ia rindukan membuka pintu bagian belakang dan berjalan keluar menghampirinya.
Shinichi tidak ingat wajah Ai Haibara secantik ini. Ia terkesiap dan seolah membeku untuk beberapa saat. Masih dipandanginya gadis itu yang tersenyum hangat ke arahnya, sampai ia mendengarnya berbicara.
"Kau terlihat lebih tinggi, Kudo-kun." Gadis dalam balutan jaket coklat dan syal merah itu mendongak, dan secara bersamaan Shinichi menyadari bahwa tinggi tubuh mereka berbeda jauh dari yang terakhir kali.
"Haibara..." Shinichi segera meraihnya dalam pelukan. Ia juga merasakan tubuh itu kini terasa lebih pas di dalam dekapannya sekarang, seolah-olah Haibara adalah bagian puzle dari dirinya yang hilang, dan ia telah merasa lengkap sekarang.
"Apa bateraimu mulai habis?" Tanya Haibara main-main seraya membalas pelukannya.
Shinichi mendengus geli sekaligus menyamankan diri. Dihirupnya bau tubuh Haibara yang beraroma khas wangi yang menyenangkan. Ia merasakan puncak kerinduan yang membuatnya tidak ingin melepaskan kekasihnya. Rasanya, Shinichi benar-benar bahagia.
"Wah, Kudo! Kau dijemput pacarmu!" Seruan mengganggu itu diiringi beberapa siulan dan gelak tawa, menyadarinya membuat Shinichi melepaskan Haibara nyaris seketika untuk menengok ke sumber suara. "Kau mendapatkan telepon darinya setiap hari, dan sekarang dia juga menjeputmu! Kau benar-benar beruntung!"
Murid-murid akademi seangkatannya berdiri di balik pagar saat itu. Shinichi mengibaskan ransel di pundaknya ke arah mereka dengan kesal. Seharusnya mereka melakukan joging pagi saat ini, tapi karena gerbang berada tepat di depan bangunan gedung akademi, mereka semua jadi memergokinya.
"Berisik! Pergi ke peleton kalian sebelum Kapten menangkap kalian semua!" Ia menghardik, setelah itu mendengar suara tawa pelan dari arah belakang.
Shinichi menengok Haibara sebelum kembali menatap teman-temannya yang mendadak terdiam dengan pandangan terkesima. Merasa tidak rela kekasihnya menjadi pemandangan mata-mata keranjang murid-murid akademi, ia langsung menarik Haibara masuk ke dalam taksi saat itu juga. Masih bisa didengarnya seruan berisik murid-murid itu sebelum taksi berjalan. Shinichi mendengus seraya melepaskan jas seragamnya lalu melampiaskannya ke atas rok Haibara.
"Apa kau tidak merasa kedinginan memakai rok saat salju turun begini?" Omelnya, membuang muka ke luar jendela dan memejamkan mata sesaat.
"Tidak." Jawab Haibara enteng.
Setelah itu dirasakan Shinichi, jas yang sama tersampir ke pundaknya sendiri. Ia menengok dan mendapati Haibara mengembalikan jasnya. Mata Shinichi langsung memicing karena kekasihnya kembali membiarkan pahanya terekspos.
"Aku menyuruhmu memakainya." Shinichi sedikit merengut saat kembali menghadap gadis itu.
"Untuk apa?" Haibara malah menyilangkan kakinya menjadi satu tumpukan seraya menyandarkan satu tangan ke jendela mobil. "Aku juga memakai boots panjang, aku tidak kedinginan. Selain itu seragammu merusak fashionku."
Shinichi semakin merengut tidak senang. Ia kadang berharap Haibara bertingkah sedikit seperti Ran yang tidak terlalu mementingkan fashion dan berpakaian sesuai kebutuhan. Haibara terlalu mementingkan penampilan yang menjadikannya sebagai pusat perhatian kemana pun gadis itu berjalan. Bahkan saat menjadi anak-anak Haibara juga selalu tampil mencolok dengan gaya berpakaiannya.
"Terserah." Tukasnya kemudian, sebelum memakai jas seragamnya lagi.
"Aku pikir kau akan terkesan." Didengarnya Haibara berkata seraya mendesah napas saat itu. "Padahal aku sudah repot-repot memikirkan pakaian apa yang harus aku pakai untuk menemuimu. Kau benar-benar tidak memahami perasaan wanita."
"Masalahnya yang terkesan bukan cuma aku, tapi bocah-bocah itu juga."
"Jadi kau cemburu, Kudo-kun?"
Sahutan itu sukses membuat Shinichi menyesali perkataannya. Ia kembali membuang muka ke arah jendela taksi, menghindari wajah Haibara yang mendekat. Kemudian Haibara menarik lengan Shinichi, lalu menyandar ke pundaknya. Ia melirik wajah gadis itu yang dihiasi senyum dengan mata terpejam. Melihat damai dan tenteramnya wajah kekasihnya, hati Shinichi rasanya meleleh sekarang.
"Aku tidak akan memakai rok lagi kalau memang kau tidak menyukainya." Tambahnya, membuka mata dan memiringkan kepala sehingga pandangan mata mereka bertemu.
"Kau bisa memakainya jika hanya ada aku di sekitarmu." Shinichi menarik lengannya hanya untuk berganti memeluk Haibara.
Ia akan memerah malu mengatakan hal itu jika Haibara tidak bertingkah menggoda lebih dulu. Namun kekasihnya satu ini memang berbeda. Gestur Haibara yang lebih lugas membuat Shinichi terikut arusnya sehingga ia merasa tidak perlu menutupi perangainya sendiri. Meski kadang menyebalkan, watak Haibara yang seperti ini justru menjadikan interaksi mereka lebih santai dan nyaman.
"Roger..." Haibara terkikik pelan, dan Shinichi menambahkan satu tangan lagi untuk memeluknya.
Sepuluh menit perjalanan dari Metropolitan Police Academy dan mereka sampai di penginapan. Shinichi menggeser pintu kamar, melangkah masuk dan menaruh Yukata hitam pemberian penginapan ini di atas meja, diikuti Haibara yang membawa baju serupa, sembari gadis itu melihat ke sekeliling ruang yang bergaya ryokan. Shinichi membuka jendela geser, yang terbuat dari panel kayu serta kertas putih tebal, lalu menemui bebatuan yang membentuk kolam kecil, dan juga pohon-pohon yang mulai dihiasi serbuk putih salju. Kamar mereka berada di lantai satu, menghadap halaman belakang yang di pagari dinding beton setinggi dada orang dewasa, persis di depan gunung Asama yang dapat dilihat dengan jelas dari kamar itu, sepi, dan membelakangi arah kota.
"Kita benar-benar akan tidur dalam satu kamar?" Tanya Haibara segera setelah menutup pintu kamar itu, lalu menaruh Yukata yang dibawanya di atas meja pendek pada tengah-tengah ruangan, di dekat Yukata Shinichi.
Shinichi meninggalkan pemandangannya menuju Haibara, lalu membalas sedatar mungkin, "... iya."
Haibara mengangkat sebelah alisnya sambil berjalan mendekat. Ini adalah salah satu keputusan yang Shinichi ambil dari tingkah lugas Haibara sendiri, dan ia tidak merasa harus menahan diri, tidak peduli jika kekasihnya tidak akan setuju kali ini.
"Kau tidak berencana melakukan sesuatu kan, Tuan Detektif?"
"Tentu saja tidak." Shinichi berusaha bersikap normal meski pertanyaan itu membuatnya membayangkan hal-hal di luar rencananya. "Kita sudah terbiasa tidur di dalam satu kamar yang sama, bahkan kadang kita tidur di satu ranjang yang sama dulu. Jadi aku pikir kita tidak perlu membuang-buang uang untuk menyewa dua kamar."
"Jadi alasannya karena kau ingin menghemat uang," Balas Haibara dengan seringai jahil. "... pantas saja."
"Dan karena aku ingin menghabiskan setiap detik denganmu." Shinichi menambahkan. Melempar pandangan ke luar jendela.
Haibara tertawa sebelum meraih puncak kepala Shinichi dan mengacak rambutnya. Tatapannya kembali dengan senyum saat itu. Ia lalu menarik Haibara dan mencoba mengeliminasi jarak di antara mereka. Namun kekasihnya dengan cepat menghindar, yang membuat Shinichi hanya mampu mencium rambut merah muda itu.
"Naze..." Ia bergumam di dekat telinga Haibara. "Kau tidak merindukanku?"
"Aku merindukanmu..." Gadis itu membalas pelan seraya mengusap bagian belakang kepala Shinichi dengan lembut, sebelum mengalihkan tangannya itu ke sisi wajah Shinichi bersamaan satu tangannya yang lain, membingkainya, sekaligus menuntun mereka berhadapan mata ke mata. "Tapi rindu berbeda dengan nafsu."
"Nafsu?" Shinichi membeo penuh sindiran. Kata itu juga yang membuatnya mendengus geli sebelum melanjutkan. "Setelah kita menjalin hubungan lebih dari tiga bulan dan tidak bertemu, bahkan kau tidak meneleponku sekalipun, lalu saat aku ingin menciummu, kau bilang itu nafsu? Apa kau bercanda, Haibara? Atau kau masih terjebak dalam kehidupan anak SD?"
Haibara menarik senyuman, menarik pula kedua tangannya dari wajah Shinichi. Tapi bukan untuk berpaling, melainkan untuk memberikannya pelukan hangat. Dari depan dadanya, gadis itu kemudian membalas pelan dan tenang.
"Aku hanya butuh waktu."
Mendengar alasan itu Shinichi menunduk, ditatapnya puncak kepala Haibara cukup lama, sebelum balas memeluknya. Tidak, tidak. Kali ini bukan karena ia merasa cukup dengan sebuah pelukan, ia justru sedang menahan diri untuk tidak emosi dan memperdebatkan hal-hal tidak etis. Rasanya begitu sulit bagi Shinichi mempercayai Haibara. Hanya saja ia tidak ingin pertemuan mereka yang hanya sehari ini diisi dengan perdebatan.
"Kenapa kau selalu tidak ada setiap aku meneleponmu?" Shinichi bertanya. Pelan suaranya bercampur nostalgia, dan bayangan hari-harinya di akademi teringat saat itu juga, membuatnya kembali merasakan kerinduan yang mendalam sehingga mempererat pelukan. "Tahukah kau, Haibara, aku hanya punya izin menelepon satu kali setiap hari, dan aku selalu menggunakannya hanya untuk berusaha menghubungimu."
"Aku masih mengurus beberapa hal berkaitan organisasi Hitam dan meneliti racun-racun lain yang mereka gunakan. Polisi dan FBI menuntutku untuk segera menyelesaikannya agar mereka dapat melengkapi berkas-berkas kasus organisasi. Aku tidak banyak punya waktu, Kudo." Haibara menjawab, entah alasan lainnya atau kejujuran. Shinichi tidak pernah bisa tahu apa yang gadis ini sembunyikan, dan ia hanya diam mendengarkan. "Aku juga pernah mencoba menghubungi beberapa kali, sebenarnya. Tapi penjaga bilang izinmu sudah habis hari itu."
"Itu karena Ran terus meneleponku." Katanya, pada akhirnya membalas, lalu melepaskan pelukan mereka, dan menambahkan, "Aku ingin segera mengakhiri hubunganku dengannya, Haibara. Aku tidak bisa terus-terusan membohonginya seperti ini."
"Tunggu waktu yang tepat, Kudo-kun." Haibara menukas dengan sabar. Bibirnya membentuk garis lurus dan matanya menatap serius. Namun sebelum Shinichi mampu membantah, gadis itu sudah kembali bersuara. "Dia sedang mengalami hari yang sulit karena Ayahnya masuk rumah sakit. Kalau kau memutuskan hubungan kalian sekarang, kau akan membuatnya semakin sedih."
Shinichi tidak berusaha menutupi kekecewaannya setelah itu.
"Lalu sampai kapan aku harus menjalani dua hubungan sekaligus?" Nada penuh penekanan membungkus kalimatnya, yang juga membuat suaranya terdengar berat. "Aku mulai merasa kehilangan harga diriku, Haibara."
Meski Haibara diam, Shinichi dapat melihat seutas maaf di mata biru itu, satu-satunya yang menahan Shinichi untuk tidak kembali mendesak. Ia sadar bahwa Haibara pun pasti merasa berat menjalani hubungan mereka yang seperti ini, terlebih Haibara adalah sosok yang harus menanggung sakit hati. Seharusnya memang ia mengakhiri hubungannya dengan Ran lebih dulu waktu itu sebelum menyatakan perasaannya. Namun hari-hari itu ia hanya terus memikirkan Haibara, dan ia tidak dapat menahan perasaannya lagi saat akhirnya mereka bertemu. Terlebih kasus pembunuhan berantai yang menyita waktunya juga membuatnya dan Ran tidak bertemu selama libur sekolah di akhir semester, sehingga ia juga tidak memiliki banyak kesempatan. Atau mungkin, waktu itu ia juga masih ragu mengakhiri hubungan mereka.
Shinichi tahu ini semua salahnya karena tidak menempatkan Haibara dalam prioritas utama sejak awal. Bahkan sekarang, ia tidak benar-benar bisa menghapus perasaannya terhadap Ran. Ia memilih Haibara hanya setelah menyadari ia hampir kehilangan Haibara. Ia adalah bajingan sebenarnya yang telah dengan sengaja membagi hatinya untuk dua wanita secara bersamaan.
Pada akhirnya, Shinichi membiarkan Haibara kembali membungkamnya dengan cinta, memeluknya lagi dan menyandarkan kepala ke dadanya, sejajar dengan detak jantungnya. Kekasihnya itu pun mengusap punggungnya dengan hangat dan lembut.
"Di mataku, kau adalah seorang Superman, Kudo-kun. Kau tidak akan pernah kehilangan harga dirimu."
Dan saat mendengar kata-kata Haibara ini, Shinichi Kudo kembali dibuatnya buta dan terlena, dan tersenyum.
Sebelum mereka makan siang kurang lebih lima jam setelahnya, saat Haibara mengganti baju dengan Yukata, Shinichi menyelinap keluar untuk membeli satu kotak kue, menitipkannya pada penjaga penginapan, dan meminta penjaga itu untuk menghidangkan kue bersama menu makan siang. Penjaga penginapan dengan senang hati membantunya, dan bahkan menyiapkan pisau kue beserta dua piring kecil.
Mendapati kue itu, dengan terkejut, Haibara membantu pelayan menempatkan makanan-makanan di atas meja, menaruh kue di tengah-tengah hidangan yang lengkap layaknya pesta. Shinichi baru datang dari kolam pemandian air panas waktu itu. Ia melangkah masuk ke ruang kamar dengan mengenakan Yukata yang mirip seperti yang dipakai Haibara, ketika para pelayan pergi sehingga hanya ada mereka berdua.
Udara musim dingin belum terlalu rendah sehingga mereka membiarkan pintu jendela tetap terbuka. Ditutupnya hanya pintu utama kamar dan membiarkan pencahayaan datang dari matahari siang. Sedikit banyak Shinichi bersyukur ia mendapatkan kamar di penginapan ini pada saat-saat terakhir, karena sebelumnya ia hampir saja menyewa penginapan di daerah luar kota yang pasti akan memakan waktu lebih lama.
"Apa kita merayakan sesuatu?" Keheningan ruangan itu terhapus oleh suara Haibara, diikuti riak teh yang mengalir dari teko keramik ke cangkir kecil di depan tempat duduk Shinichi. Haibara menuangkan teh untuknya dari seberang lain meja, dengan posisi setengah duduk seraya menekuk lutut ke belakang, lain dari Shinichi yang bersila di dalam Yukatanya.
"Aku pikir kita tidak bisa bertemu saat natal dan tahun baru, jadi..." Shinichi berkata, lalu berhenti sesaat saat Haibara menunduk dan mundur untuk mengisi cangkir tehnya sendiri, baru setelah mata mereka bertemu, melanjutkan, "... aku pikir untuk merayakannya denganmu lebih awal."
Ia tidak tahu mengapa tiba-tiba merasa malu. Namun sebisa mungkin menjaga suaranya tetap netral tanpa mengalihkan pandangan. Haibara menyeringai geli seraya meletakan teko ke meja setelah itu, sebelum meraih cangkir tehnya yang masih mengepulkan asap, dan menyesap isinya perlahan.
"Aku tersanjung, Kudo-kun, ternyata kau bukan pria sekaku itu." Haibara menyanjung, atau meledek.
Entah yang manapun alasannya, perkataan itu membuat Shinichi tidak tahan untuk tidak memalingkan mata. Ia memejam sebagai kamuflase, lalu meminum teh dari cangkirnya. Saat mendongak kembali, ditemuinya Haibara masih menatapnya lurus. Hal yang sama, yang membuat Shinichi bertanya-tanya di dalam benaknya, apakah Haibara memang secantik ini sejak dulu, atau kekasihnya memang bertambah cantik sejak mereka lama tidak bertemu?
"Ngomong-ngomong, kau memang sedikit berubah." Tambah gadis itu selang setengah menit. "Kau bertambah tinggi dan terlihat lebih gagah."
Shinichi berdehem seketika. Ia juga tidak tahan kalau terus-terusan diisi dengan cinta setelah hatinya terasa kesepian dalam waktu yang lama.
"Aku menjalani pelatihan fisik selama dua bulan pertama," Balas Shinichi dengan pandangan merendah seraya meletakan cangkirnya. "... kau tidak akan bisa membayangkan kerasnya hidupku selama tiga bulan terakhir, aku sampai-sampai hanya tidur beberapa jam saja, terlebih pimpinanku benar-benar kejam."
"Setidaknya jagalah kesehatanmu kalau begitu." Katanya, dengan tersenyum lagi. Haibara lalu mengambilkan beberapa potong daging dari piring di tengah-tengah meja untuk diletakan ke piring Shinichi.
"Aku berharap mendengarmu mengatakan hal ini di hari-hari itu." Suara Shinichi berubah serius meski masih sama pelannya. "Apa kau benar-benar sesibuk itu sampai tidak bisa menerima teleponku? Profesor selalu saja bilang kau tidak ada."
"Aku kan selalu membalas emailmu?" Haibara membalas, lalu menatapnya lurus dan menegakkan posisi duduk.
"Untuk bisa mengirim email padamu aku harus menyelinap tengah malam ke perpustakaan, aku bahkan bisa dikeluarkan kalau ketahuan." Ia mendengus sejenak. "Aku hanya bisa melakukannya sesekali, dan jauh lebih mudah andai kita bisa bicara melalui telpon."
"Aku akan menjawab semua teleponmu setelah ini, aku janji."
Lagi-lagi senyuman bernuansa tenteram itu diberikan oleh Haibara, yang langsung membungkam keluh-kesah Shinichi. Pemuda ini hanya bisa menghela napas membalasnya. Ia lalu meraih sumpit untuk mulai mengisi perutnya yang sudah lapar sejak tadi. Haibara menggeser berbagai lauk ke dekat Shinichi dan mulai memotong kue lalu memindahkan salah satu potongannya ke sebuah piring kecil, menggeser ke dekatnya lagi. Pasangannya itu baru menyentuh mangkuk nasinya sendiri setelah memastikan Shinichi cukup dekat untuk meraih semua hidangan di atas meja.
Shinichi toh tidak menolak diperlakukan begitu istimewa hari ini, tidak setelah ia tersiksa berbulan-bulan karena merindukan Haibara.
Ia berangsur menghabiskan nasi di dalam mangkuknya. Selagi sesekali memandangi gadis di depannya yang bergerak anggun menikmati makan siang, Shinichi tanpa sadar mulai tersenyum lebar merasakan kebahagiaannya yang seakan-akan telah sempurna.
Hanya ada satu hal yang kurang saat ini.
"Apa kau sudah mengurus masalah identitasmu, Haibara?" Ini menarik Haibara menatapnya. Shinichi meletakan sumpit dan mangkuknya yang sudah selesai ia gunakan, lalu meraih cangkir teh untuk menetralkan rasa di lidahnya. "Aku bisa meminta orang tuaku untuk membantumu."
"Aku belum sempat memikirkannya." Haibara terdengar menahan napas sesaat.
"Kalau kau masih ragu untuk menggunakan identitas aslimu, kau masih bisa tetap menggunakan nama samaran." Shinichi tidak menahan diri untuk mengulum senyum sebelum menambahkan, "Dan aku bisa memberikan margaku padamu."
Rasa-rasanya ia seperti melihat tentram dan tenangnya mata Haibara berganti, meski bibir gadis itu tidak membentuk garis melengkung ke bawah. Shinichi tidak tahu apakah kekasihnya memahami arah pembicaraan yang sedang berusaha ia angkat. Mulut Haibara hanya sempat terbuka sedikit sebelum terkatup kembali degan rapat.
"Kita akan menikah pada akhirnya." Shinichi menyambung kalimatnya sendiri setelah melihat semua itu.
Segera setelah meletakan cangkirnya, Shinichi menarik tangannya turun ke balik meja. Ia tidak bisa tidak merasa gugup kali ini. Jika Haibara tidak terlihat ragu, ia pasti sudah meraih tangan gadis itu. Sebaliknya, Shinichi meremas kepalan pada kedua tangannya sendiri sebagai pelarian. Mungkin hubungan mereka juga masih terlalu jauh dari pernikahan. Ia juga tidak berencana menikah muda karena masih memiliki banyak impian. Hanya saja selain Haibara, saat ini tidak terbesit kandidat lain di benak Shinichi sosok yang akan dinikahinya nanti.
"Tidak perlu memikirkannya secepat ini." Haibara membalas, menyela pemikirannya yang mulai melayang-layang. "Kalau kasus organisasi sudah benar-benar selesai, dan FBI memastikan tidak ada lagi korban dari racun-racun buatanku, aku pasti akan memikirkannya."
Shinichi tidak benar-benar merasa lega. Bayangan tentang kehidupan Haibara yang masih dihantui masa lalu muncul di benak Shinichi tanpa bisa dihentikannya. Hidup Shinichi Kudo sendiri mulai membaik dan sudah berjalan normal. Namun Haibara masih harus menanggung tanggung jawab sebagai mantan anggota mafia, dan juga perasaan bersalah. Shinichi paham tidak harus mendesak Haibara sekarang.
Ia mengangguk dan memutus pandangan mata mereka, menatap ke arah jendela yang terbuka lalu menemui butiran salju yang kembali turun. Ia akan membiarkan satu hal yang kurang dari kebahagiaannya itu menunggu sedikit lebih lama. Mereka juga sudah menjadi pasangan sekarang, dan ia yakin tidak akan ada lagi yang dapat memisahkannya dari Haibara.
Malam itu mereka tidur berdekatan di atas futon yang terpisah, dalam ruang kamar yang lantainya lapisi oleh tatami itu. Shinichi memandang lampu yang menyala seraya menggerakkan tangan meraih tangan Haibara, menggenggamnya dan merasakan perasaan nyaman serta bahagia, sebelum akhirnya tidur dengan nyenyak dan membuka mata keesokan paginya.
Shinichi tidak menemukan kekasihnya di dalam ruangan yang sama. Yang ada hanya futon Haibara yang sudah terlipat, meja makan pendek yang kemarin digesernya ke sudut ruangan, dan pintu yang terbuka—
"Selamat pagi, Superman." Sapaan yang hampir datar itu muncul bersama sosok pemiliknya.
Ia menatap Haibara yang sudah mengenakan baju kasual, jaket coklat yang kemarin dengan syal merah. Namun kali ini Haibara mengenakan celana jeans panjang, dan kaos kaki yang tenggelam di ujungnya. Gadis itu memeluk Yukata hitam dan melangkah masuk seraya menutup pintu geser kamar.
"Selamat pagi, evil eyed yawny girl." Sahut Shinichi jahil, tidak lupa terkikik kecil. "Apa kau ganti baju di tempat lain saat aku tidur karena begitu tidak percayanya padaku?"
"Aku habis berendam di onsen." Jawab Haibara tenang seraya berjalan ke dekat lemari di belakang tempat tidur Shinichi. "Aku ingin merasakannya sekali sebelum pulang."
Menyadari mereka akan segera berpisah, Shinichi mendesah napas. Ia bergerak mendudukkan diri, sementara Haibara mengeluarkan seragamnya dari dalam lemari, meletakannya di dekat futon yang tergelung. Shinichi pun mengeluarkan dirinya dari selimut dan hendak menggulung futonnya sendiri.
"Kau masih punya waktu dua jam lagi." Haibara membungkuk ke dekatnya seraya menunjukkan jam yang melingkari lengan gadis itu.
Shinichi melirik dan menarik lengan Haibara. Kemudian berbalik, menatap wajah kekasihnya. Ia mencoba mencium Haibara namun didorong oleh tangan lain gadis itu. Meski sudah sedikit memaksa, ia kembali hanya dapat mencium rambut merah mudanya.
"Hentikan, Kudo-kun..." Shinichi mendengar penolakan itu setelah ia mendorong pemilik suara sampai terjatuh ke futonnya yang belum sempat tergulung.
"Kita tidak akan bertemu lebih dari enam bulan setelah ini." Ia mengangkat kepala sehingga dapat melihat wajah Haibara yang kini berada di bawahnya. "Apa kau benar-benar mencintaiku, Haibara?"
"Aku sudah mencintamu sejak lama, dan aku baik-baik saja tanpa menciummu." Haibara mendorong dada Shinichi agar menjauh, namun Shinichi benar-benar ingin mencium kekasihnya saat ini walau harus memaksa.
"Tapi aku tidak baik-baik saja." Ia memasang wajah serius, sembari bergerak maju. "Aku mungkin akan gila kalau tidak menciummu sebelum pergi kali ini."
Tatapan mata Shinichi dibalas sama seriusnya oleh Haibara setelah itu.
"Apa kau benar-benar mencintaiku, Kudo?"
Shinichi menghentikan gerakannya seketika, bertahan satu inchi dari bibir Haibara.
"Kau baru saja menyadari perasaanmu padaku, membandingkan hubunganmu dengan gadis itu, rasanya kau terlalu tergesa-gesa." Bisiknya, dan bibir itu hampir menyentuh bibir Shinichi saat bergerak. "Apa kau tidak salah sangka pada perasaanmu sendiri? Apa mungkin yang kau rasakan padaku selama ini hanyalah hasrat, bukan cinta, karena kau melihat wujud asliku sebagai seorang wanita dewasa?"
Pertanyaan itu menoreh luka kecil di dalam dada Shinichi. Segera setelahnya, ia bangkit sekaligus melepaskan tangan Haibara. Seraya meraih seragam, Shinichi berbalik dan melepaskan tali Yukata. Namun sebelum kehendaknya untuk berganti baju terlaksana, sepasang lengan yang memeluknya menghentikan tindakannya itu.
"Apa perkataanku melukai harga dirimu?" Haibara mengatakan hal-hal yang berusaha Shinichi sembunyikan. Namun bukan hanya harga diri, hatinya pun terluka. Ia mungkin terlihat main-main karena tidak pernah membuktikan betapa ia mencintai Haibara, tapi bukan berarti perasaannya tidak serius selama ini.
"Apakah kau sebenarnya percaya pada perasaanku?" Shinichi meremas erat-erat baju di tangannya. Rasanya, darahnya mulai mendidih sampai ke ujung kepala. "Apa yang bahkan membuatmu menerimaku sebenarnya kalau kau bahkan tidak percaya aku mencintaimu?"
Dirasakannya detak jantung Haibara yang berdetak kencang saat itu, di punggungnya. Shinichi berusaha menengok, namun yang ia temui hanya puncak kepala gadis itu yang menyandar tepat di balik pundaknya.
"Aku tidak benar-benar bermaksud mengatakannya, Kudo-kun, maaf..." Setelah beberapa saat, Haibara bergumam tanpa tenaga, membuat Shinichi menarik napas pelan sekaligus menelan amarahnya. "Aku hanya belum siap..."
Ia berusaha untuk tidak mencemooh kali ini, meski alasan yang sama untuk ke sekian kalinya itu mulai membuatnya muak. Shinichi menggunakan tangannya yang tidak menggenggam seragam untuk menggenggam tangan Haibara yang berada di depan perutnya, menariknya perlahan sebelum ia berbalik. Dipeluknya Haibara setelah itu, selagi mengisi paru-parunya dengan udara segar yang bercampur aroma harum yang keluar dari tubuh kekasihnya.
"Aku juga minta maaf karena terus memaksamu." Shinichi mengeratkan pelukan, seolah-olah ingin membuat tubuh mereka menyatu sehingga tidak dapat lagi terpisahkan. "Mengingat kita akan kembali berpisah, membuatku sedikit frustrasi beberapa saat lalu."
"Kalau begitu, kau bisa mengisi bateraimu sampai waktunya kau kembali ke akademi." Haibara melingkarkan kedua lengannya ke tubuh Shinichi, membalas pelukan sama eratnya.
Dengan perlahan Shinichi kemudian membawa tubuh mereka bergerak turun, menjatuhkan Haibara ke atas futonnya tanpa menjauhkan diri sedikit pun. Ia menindih Haibara, dan menenggelamkan wajah di ruang pundak gadis itu selagi terus mencium syal merahnya yang lembut.
Musim panas, 2013.
Ingatan Shinichi terlempar ke hari paling menyakitkan berikutnya seperti pada akhir musim panas setahun sebelumnya, tepat di awal musim panas tahun itu. Ia baru saja lulus dari akademi polisi dengan prestasi gemilang, menyelesaikan hanya sepuluh bulan pendidikan, dengan sisa empat bulannya dapat ia diteruskan sebagai polisi lalu lintas dengan status masa percobaan kerja.
Orang pertama yang ia temui adalah Haibara, bahkan sebelum ia pulang ke rumah sendiri. Shinichi tidak menyandang senyum semenjak turun dari taksi, dan ia sudah bersiap mendebat kekasihnya yang telah mengumbar janji-janji palsu selama tujuh bulan ini. Jangankan menelepon, email Shinichi pun tidak lagi dibalas setelah pertemuan terakhir mereka.
Akan tetapi, ia tidak pernah bersiap dengan yang satu ini: menemukan Ai Haibara dalam tubuh anak-anak saat ia mendobrak masuk ke laboratorium bawah tanah di rumah profesor Agasa.
Tubuh Shinichi membeku, persis seperti gestur Haibara yang menengoknya dari depan komputer yang menyala. Profesor Agasa yang mencoba menghentikannya saat itu terdiam di belakangnya, menatap takut karena telah ikut ambil bagian dari semua penipuan yang telah diberikan pada Shinichi. Saat itu Shinichi tahu mengapa ilmuan tambun tersebut selalu bilang Haibara tidak ada di rumah setiap ia menelepon, beserta alasan mengapa pria itu berusaha mencegahnya agar tidak masuk ke laboratorium ini, tadi.
"Shinichi-kun, alasan Ai-kun mempertahankan penyamarannya juga untuk menghindari hukum." Kata pria itu selagi Shinichi dan Haibara belum bisa menguasai keterkejutan masing-masing, sembari menarik pundak Shinichi dari belakang. "Ai-kun tahu kau tidak akan setuju, makanya dia memintaku untuk merahasiakannya sampai menemukan waktu yang tepat untuk memberitahumu."
"Tolong tinggalkan kami, Profesor." Kata Shinichi, tidak menengok lawan bicaranya sedikit pun.
Profesor Agasa sepertinya bisa merasakan dinginnya nada di suara rendah itu sehingga melepaskan pundak Shinichi. Setelah mendengar suara langkah menaiki anak tangga satu menit setelahnya, pemuda ini melangkah masuk dan menutup pintu. Ia menumbuk daun pintu itu penuh emosi sebelum berbalik menghadap Haibara, lalu menemukan sosok anak-anak tersebut telah turun dari kursi kerja dan kini berdiri seraya menghadapnya lurus.
Hati Shinichi terasa remuk, dengan kekecewaan, amarah, dan sakit yang bercampur aduk.
"Kenapa?" Satu kata itu terpenggal dari mulutnya yang mencoba mengumpulkan udara. "Kenapa kau menipu, HAIBARA!"
Kerasnya suara Shinichi menggaung, terdengar menyeramkan dan mampu mengejutkan penerimanya. Tubuh Haibara tersentak saat itu juga. Mata dari sosok kecil itu nanar dan bergetar, tidak jauh berbeda dari sorot mata Shinichi sendiri.
"Aku tidak menipumu, aku tidak pernah bilang telah meminum penawar permanennya. Aku hanya bilang, aku menerimamu."
BRAK!
Balasan Shinichi tergantikan tumbukan ke dua pada daun pintu di belakangnya, kali ini lebih keras. Kemarahannya tidak terbendung saat ini, dan jawaban main-main dari Haibara malah membuatnya semakin terbakar emosi.
"Menerimaku sementara kau masih melanjutkan hidupmu sebagai anak-anak—!"
"Apa bedanya, kita menjalin hubungan saat aku dalam tubuh wanita dewasa atau dalam tubuh anak-anak?" Tukas Haibara, memotong perkataan Shinichi mentah-mentah. "Kecuali yang kau kejar selama ini bukan cinta, tapi tubuhku."
Kali ini Shinichi tidak mencari pelampiasan lain atas kemarahannya. Langkahnya mengentak kasar hingga berada tepat di depan Haibara, lalu ia menarik lengan kecil gadis itu sekuat tenaga, meremasnya, mengangkat lengan itu hingga setinggi dadanya sehingga Haibara juga bisa melihat lebih dekat ke matanya.
"Kalau yang aku kejar hanya tubuhmu, aku sudah memaksamu malam itu!" Kalimat itu keluar dari mulut Shinichi penuh penekanan, menyampaikan segala perasaan menyakitkan di dalam dadanya dengan sempurna. "Apa bahkan aku menyentuhmu saat kau tidur di sampingku? Aku punya begitu banyak kesempatan, dan aku tetap menahan diri. Bukan nafsu yang membuatku mencintaimu, tapi cintaku yang sudah menahan diriku dari nafsu."
"Lalu apa yang membuatmu begitu kecewa saat melihatku dalam tubuh ini?" Haibara bertanya. Pelan dan lemah suaranya malah mampu menampar kesadaran Shinichi. "Katakan, Kudo? Karena kau berpikir tidak bisa memeluk atau menciumku? Karena keadaanku yang sekarang tidak membuatmu memiliki hasrat seperti saat kau melihatku dalam tubuh dewasa?"
Shinichi melepaskan tangan Haibara setelah itu. Bukan karena amarahnya mereda, hatinya yang terus tersakiti justru membuat darahnya mendidih. Ia menegakkan badan dan memejamkan mata seraya memalingkan muka. Jika ia terus menatap Haibara, ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak menyakiti sosok kecil itu. Rasanya, ia ingin mencekik Haibara agar dapat menghentikannya bicara.
"Kau sudah menyadarinya sekarang?" Didengarnya Haibara bertanya lagi. Namun saat Shinichi baru membuka mata dan menatapnya kembali, nada pelan yang berubah kejam itu telah lebih dulu menambahkan. "Apa bahkan kau masih merasakan hal yang sama waktu melihatku dalam tubuh ini? Kalau memang tidak, kita akhiri saja semuanya sekarang. Tidak ada gunanya juga bagimu menjalin hubungan dengan anak-anak."
Mendengar perkataan itu, lidah Shinichi terasa kelu. Semua ini sangat menyakitkan baginya. Ia tidak tahu apakah karena yang Haibara katakan adalah benar, atau salah, yang membuatnya tidak dapat membantah. Perasaannya pada Haibara masih ada, Shinichi yakin itu, akan tetapi melihat kekasihnya saat ini dalam tubuh anak-anak membuatnya merasa ditipu. Membuatnya marah dan kecewa. Shinichi juga tidak merasakan sensasi panas dalam dadanya seperti saat melihat Haibara dalam tubuh dewasa, seperti yang selalu dirasakannya dulu.
"Apa ini semua hanya permainanmu?" Shinichi merasakan dadanya sesak setelah mengungkapkan pertanyaan itu, lalu membiarkan mulutnya terbuka untuk menarik udara.
"Tidak, Kudo—"
"APA KAU MENCINTAIKU?!"
"Aku mencintaimu, Kudo!" Bentak Haibara balik, nyaris seketika. "Tapi aku tidak akan memaksa kalau kau tidak bisa menerimaku dalam keadaan seperti ini. Sudah aku bilang, kan? Aku tidak bisa meneruskan hidupku yang dulu, dan jika memang kau tidak bisa menunggu, kau bisa meninggalkanku."
"Sejak awal kau memang sudah merencanakan semuanya untuk menipuku!" Balasnya, membiarkan wajahnya kembali dipenuhi ekspresi murka. "Kau dengan sengaja meminum penawar sementara untuk mengelabuiku, lalu menggunakan alasan ini untuk meninggalkanku!"
Kepala Shinichi rasanya sangat sakit sekarang, seolah-olah darahnya yang mendidih telah naik ke ubun-ubun. Diremasnya kepalan tangannya sendiri selagi menunggu Haibara membantahnya. Ia masih berharap mendengar gadis itu menjelaskan bahwa ini semua hanya kesalahpahaman. Namun sampai satu menit kemudian, suara Haibara absen dari balasan. Gadis kejam itu bahkan tidak berusaha berpura-pura untuk sekedar meredakan rasa sakit hati Shinichi. Ia benar-benar telah ditipu selama satu tahun ini.
"Ternyata kau jauh lebih kejam dari yang aku bayangkan..." ucap Shinichi pelan, namun penuh kekecewaan.
"Dan kau ternyata tidak benar-benar mencintaiku..." Haibara menambah rasa sakitnya dengan balasan itu. "Kau tidak bisa menerima keadaanku, kan? Kita berpisah saja..."
Shinichi tidak tahu lagi dari mana asalnya rasa sakit yang membuat sekujur tubuhnya membeku. Kenyataannya, apa yang Haibara katakan benar, ia tidak dapat menerima keadaan gadis itu. Akan tetapi, ia tidak ingin melepaskan Haibara. Tidak sama sekali.
Pada akhirnya Shinichi tetap tidak dapat mengatakan apa-apa. Dipaksakan tubuhnya bergerak saat itu, melangkah mundur sampai kembali menyandar ke daun pintu. Ia mencoba menarik napas seraya mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, berharap rasa sakit di kepalanya sedikit reda, atau sekedar memiliki lebih banyak waktu untuk terbiasa dengan semua kenyataan. Sejak lahir, Shinichi Kudo selalu mendapat apa yang diinginkannya. Ini untuk pertama kalinya ia dituntut berkorban begitu banyak hanya untuk mempertahankan seorang wanita. Harga diri, perasaan, dan bahkan logikanya terus-terusan harus merendah di bawah keegoisan Haibara.
Belum cukupkah ia mengorbankan harga dirinya selama ini, setelah membiarkan diri berdiri di atas dua hubungan? Ia masih harus mengorbankan perasaannya juga untuk menerima keadaan Haibara meski tidak ingin menerimanya? Otak logisnya bahkan bisa menalar bahwa gadis itu tidak benar-benar menginginkan hubungan mereka berlanjut, tapi mengapa ia tidak bisa menghentikan diri untuk mengais harapan-harapan palsu yang diterimanya? Seolah-olah, Shinichi tidak peduli bahwa Haibara tidak mencintainya, dan menerima jika yang ia dapat miliki hanya status belaka. Mengingat bagaimana tenteramnya senyum Haibara, hangat pelukannya, dan perasaan nyaman setiap mereka bersama, membuatnya takut membayangkan bahwa semua itu akan hilang setelah ini.
"Kau juga masih punya gadis itu..." Tiba-tiba suara pelan dan tenang itu menyeruak ke dalam pemikiran Shinichi yang kalut, menariknya kembali ke dunia nyata. "Kau tidak akan kehilangan apapun jika kita berpisah..."
Shinichi tidak tahu lagi apa yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Tersiksa bukanlah kata yang tepat. Ia menderita dalam gambaran tidak terbataskan karena semua perkataan Haibara. Ia benar-benar merasa tidak diinginkan oleh orang yang dicintainya.
"Dan jika kehadiranku membuatmu terganggu, aku bersedia meninggalkan Beika."
"Cukup." Shinichi merendahkan pandangannya, menatap lantai hitam laboratorium yang saat ini jauh lebih menarik dari pada wajah tenang Haibara. "Jangan bicara lagi."
Lantai hitam itu beranjak buram dari penglihatan Shinichi, bersamaan suaranya sendiri yang ia dengar bergetar. Pada titik ini tidak ada lagi yang bisa dirasakannya kecuali panas dan sakit. Ia tidak tahan lagi, sungguh. Ini untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang sesakit ini. Bahkan saat Haibara menolaknya waktu itu, mematahkan hatinya, rasanya tidak seburuk sekarang. Hatinya yang masih utuh terasa dicabik-cabik, dan itu membuat sekujur tubuhnya ikut berdenging.
"Aku sudah mengerti sekarang, kau hanya mempermainkanku." Perkataan bernada final menjadi pijakan untuk Shinichi bergerak.
Tanpa melihat Haibara, ia berbalik dan meraih gagang pintu, meremasnya erat selagi menahan diri untuk tidak menengok. Jujur, sampai detik ini Shinichi masih berharap Haibara berubah pikiran.
Haruskah Shinichi Kudo mengemis-ngemis lagi?
Haruskah ia meletakan harga dirinya di bawah kaki Haibara kembali?
Haruskah ia mengais harapan palsu itu dan membiarkan dirinya terluka di lain hari?
Tidak.
Ia sudah tidak sanggup.
Shinichi memejamkan mata dan menarik gagang pintu itu, menariknya terbuka, lalu melepaskannya sembari berkata, "Kau tidak pernah mencintaiku. Tidak pernah."
20.
A/N: Nggak kerasa udah satu bulan lebih :'D
Terima kasih untuk sabar menunggu, dan terima kasih sudah membaca, hope to see you soon!
