Mari meramaikan fandom Naruto X One Piece.


God's Eyes

Naruto © Masashi Kishimoto

One Piece © Eiichiro Oda

Saya tidak mengambil keuntungan materil apa pun.

Warning: Semi-Canon, Cool NaruSasu! Strong NaruSasu!

Summary: Uzumaki D. Naruto, begitulah orang tuanya menamainya. Terlahir di West Blue dan dibesarkan oleh salah seorang dari agen rahasia Chiper Pol. Tumbuh besar dengan cita-cita ingin mengetahui sejarah dunia. Uchiha Sasuke, seseorang dengan kebencian terhadap Tenryuubito dan berambisi untuk menghancurkan mereka. Bagaimana kisah dua orang yang ditakdirkan menjadi penentu keselamatan dunia ini?

AN: Di chapter ini latar tempatnya adalah Havana. Havana adalah sebuah kota besar yang saya ambil dari game Assassin's Creed IV: Black Flag. Jika kalian ingin lebih enak membayangkan situasi kotanya, maka sebelum baca search di Youtube dengan kata kunci Assassin's Creed IV Black Flag Havana Free Roam. Banyak video yang menunjukan side by side kota Havana.


Chapter 1: You and Me

Pertemuan awal menuju takdir yang telah dituliskan

Kota Havana, 15 tahun setelah eksekusi Gol D. Roger

Melintasi sebagian sudut bumi ini, terdapat sebuah benua yang bernama South Blue. Orang-orang menyebutnya benua terkutuk karena banyak kriminal terkenal yang berasal dari sana. Dari banyaknya kerajaan yang berdiri di benua ini, terdapat sebuah tempat yang menjadi pusat perdagangan. Tempat itu bernama Havana.

Bajak laut, pedagang, dan angkatan laut membaur menjadi satu dalam meramaikan kota. Sebuah kota dengan arsitektur bangunan yang tidak terlalu modern, bangunan yang paling tinggi berjumlah 5 lantai dan berhimpitan menjadi daya tarik tersendiri.

Kota ini memiliki beberapa tower menjulang sebagai penanda waktu. Jumlah bunyi bel menjadi penanda jam berapa saat ini. Jika kita melihat ke pelabuhan, banyak terpakir kapal yang sebagaian besar milik pedagang.

Pelabuhan ramai oleh transaksi jual beli. Menuju sudut lain, beberapa personel angkatan laut sedang memburu bajak laut yang melarikan diri. Melalui gang kecil atau melompat dari atap rumah ke atap lainnya seakan sedang memperagakan gerakan parkour. Tak jarang suara tembakan terdengar nyaring membuat penduduk lokal segera mencari tempat berlindung.

Di pusat kota, berdiri bangunan kokoh yang tiap menitnya pasti ada orang yang masuk dan keluar. Ini adalah tavern, tempat seseorang bersenang-senang dengan minuman alkohol dan makanan enak. Jangan lupa wanita penghibur untuk memuaskan nafsu saat lelah berlayar selama berbulan-bulan.

Inilah Havana, kota yang ramai sampai tak ada tempat sepi untuk melancarkan aksi bejat seseorang.

Di dalam tavern, suasananya ramai dengan suara tawa pengunjung bercampur musik yang menjadi pengiring kebahagiaan. Pengunjung di sini ada yang dari orang lokal, pelayar, maupun bajak laut.

Seorang remaja berumur 20 tahun dengan rambut pirang yang cukup panjang sedang meminum wine-nya sambil menikmati iringan musik. Dia duduk di meja yang langsung menghadap bartender.

Tak lama kemudian, terlihat sepasang wanita dan pria muncul dari tangga lantai dua. Mereka tengah merapikan pakaian masing-masing–Si pria yang menutup resleting celananya dan si wanita yang membenarkan gaunnya.

Mereka berpisah saat mencapai lantai satu. Si pria yang menuju meja tempat kawannya minum-minum dan si wanita yang terlihat mencari calon pelanggan baru. Nampaknya ia sudah menemukannya.

"Hai tampan." Si wanita penyapa setelah berdiri di samping remaja itu.

Remaja berambut pirang tersebut lalu menoleh dan memperlihatkan sepasang mata biru yang indah, membuat wanita itu terpesona sesaat. "Ya?"

Setelah menguasai kesadarannya lagi, wanita yang sedikit lebih tua dari remaja tersebut tersenyum seksi. "Beritahu aku namamu, Pemuda Tampan."

Remaja itu diam sesaat. "Uzumaki D. Naruto."

"Ara ara, nama yang bagus. Naruto-kun, kau mau bersenang-senang denganku?" tawar wanita itu dengan dada yang sengaja ditonjolkan.

Naruto dia sesaat memandang wanita itu. "Ngomong-ngomong, berapa tarifmu?"

Wanita tersebut menjawab dengan suara desahan. "15.000 Berry untuk satu kali keluar."

Naruto memandang wanita berambut hitam panjang itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia lalu tersenyum. "Tak terlalu buruk."

"Bagaimana, apa kau mau?"

Naruto meneguk habis wine yang tersisa lalu menjawab. "Bagaimana kalau kita buat menjadi perjudian?"

Si wanita terlihat bingung. "Maksudmu?"

"Begini. Jika kau keluar duluan sebelum aku, maka gratis. Sebaliknya, jika aku yang keluar duluan maka kau akan kubayar 10 kali lipat. Bagaimana?"

Wanita itu menyeringai tipis. "Bocah ini nampaknya tidak punya terlalu banyak pengalaman dengan wanita. Dia hanya bersikap keren saja. Akan kuperlihatkan kehebatan wanita penghibur. Kau akan kubuat mendesah sekencang-kencangnya, Naruto-kun. Nfufufuf."

Wanita itu lalu mengangguk. "Tawaran yang lumayan. Kalau begitu aku setu-"

Belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, suara dari pintu yang ditendang dengan keras mengalihkan seluruh atensi yang ada di sana. Termasuk Naruto.

Akibat dari silaunya sinar matahari di luar, mereka tidak bisa melihat rupa dari orang yang bertanggung jawab atas hancurnya pintu tavern. Barulah saat orang itu masuk ke dalam, mereka bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Salah seorang pengunjung di sana terkejut sampai ia terjatuh dari bangkunya. Perhatian lalu terbagi dua. Pengunjung itu menunjuk dengan wajah yang sudah dilumuri keringat dingin.

"Ka-ka-kau! Seorang kapten bajak laut yang dihadiahi harga kepala sebesar 30.000.000 Berry, Rockstar!"

Mendengar berapa jumlah harga kepala orang yang baru masuk itu membuat semua pengunjung membelalakan matanya.

"30 JUTA BERRY!"

"ORANG ITU SANGAT BERBAHAYA!"

"Oy, jangan menatapnya atau kau akan kena masalah!"

Para pengunjung berdigik ngeri saat pria bernama Rockstar itu melirik mereka. Sementara Naruto hanya menatapnya biasa saja, ia lalu melirik ke samping dan tidak menemukan wanita tadi. Mungkin dia bersembunyi di lantai dua.

Naruto kembali menghadap bartender dan berniat memesan wine lagi. Namun, bartender itu terlihat memasang wajah pucat nan ketakutan. Ia juga melihat bayangan orang besar di hadapannya. Naruto melihat ke belakang, Rockstar sudah bediri tegak dengan wajah sangarnya.

"Minggir dari kursi itu, Bocah." Rockstar berucap dengan intonasi berat. Mengintimidasi.

"Ini kursi milikku, kau cari yang lain saja," ucap Naruto acuh tak acuh kemudian menuangkan wine ke gelasnya.

Rockstar yang merasa dirinya diremehkan seketika naik pitam. Matanya melotot dengan urat kesal keluar di pelipisnya. Ia mengambil pedang besar yang senantiasa berada di pinggangnya. Pedang itu diacungkan oleh Rockstar, bersiap membelah Naruto menjadi dua.

"Jangan sombong kau bocah ingusan! Aku akan mengajarkanmu apa itu penderitaan yang sebenarnya!"

Para pengunjung yang lain menatap khawatir pemuda pirang itu. Namun, nampaknya Naruto tidak merasa terintimidasi. Ia hanya menatap kembali Rockstar dengan mata kanan yang telah berubah warna. Mata itu berwarna dasar kuning dengan corak seperti gerigi roda berwarna hitam.

"Coba saja kalau bisa," ucap Naruto dingin.

Rockstar yang semakin tersulut emosinya tak perlu berpikir dua kali lagi untuk menghunuskan pedang itu. Pengunjung tavern yang menatap kejadian tersebut semakin khawatir bahkan ada yang menutup matanya, tak mau melihat kejadian brutal.

Mata kanan Naruto melihat pedang itu, perlahan muncul cahaya di tengah matanya bersamaan dengan lenyapnya pedang Rockstar secara tiba-tiba. Rockstars kebingungan karena pedangnya tiba-tiba menghilang, begitu pun dengan para pengunjung di tavern. Namun, sedetik kemudian mereka semua dikejutkan dengan pedang yang tiba-tiba muncul dan menusuk dada Rockstar. Membuatnya berteriak kesakitan. Semua pengunjung dibuat kebingungan, bagaimana bisa? Pedang yang tadinya berada di genggaman kini menusuk sang empunya.

Rockstar tergeletak di lantai dengan darah mengalir keluar, kesadarannya masih ada. "Sial," ucap Rockstar disela ia menahan rasa sakit yang tidak main-main.

Naruto hanya memandang Rockstar datar. Ia mengeluarkan uang di saku celananya untuk membayar minumannya kemudian pergi dari tavern tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, tanpa ia sadari seseorang sedang mengamatinya dari sudut ruangan. Melihat Naruto keluar, orang tersebut mengikutinya.


Havana adalah kota yang padat penduduk, jalanan semua disesaki oleh orang-orang. Tak ada ruang bebas bergerak apalagi di tempat-tempat strategis seperti pasar atau pelabuhan. Kini, ia sedang berada di pasar untuk membeli kebutuhan pangan. Sesaknya pasar ini membuat Naruto tidak bisa bergerak dengan bebas, tapi di sisi lain ia memanfaatkan situasi ini untuk mencuri dompet orang lain. Sudah tak terhitung banyaknya dompet yang Naruto ambil diam-diam. Jika ditotalkan maka dirinya berhasil mencuri uang sebesar 112.000 Berry.

"Lumayan untuk menutupi biaya pangan," gumam Naruto kemudian membuang dompet terakhir yang ia curi. Naruto hendak pergi tapi sekilas ia merasa seseorang tengah membuntuti dirinya. Dengan senyum tipis, Naruto membawa orang itu menuju gang sempit yang tidak banyak orang.

Orang yang membuntuti Naruto terlihat memasuki gang sempit. Namun, saat sampai dirinya tidak bisa melihat orang yang sedang dibuntutinya. Aura keberadaannya pun lenyap seketika.

"Di mana dia?" gumam pemuda berambut raven tersebut. Sambil melihat ke kanan dan ke kiri, pemuda itu tak sadar bahwa sebuah pisau tajam teracung di lehernya. Ia baru sadar saat permukaan kulitnya bersentuhan langsung dengan sisi tajam pisau, tetapi tak sampai membutnya berdarah.

"Diam atau akan kubunuh." Naruto berucap dengan nada datar dan sedikit mengeluarkan hawa intimidasi.

"Kehadirannya tidak bisa dirasakan sama sekali," batin pemuda raven tersebut. Ia dengan refleks mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Membuat Naruto sedikit bisa bernapas lega dan menurunkan ketegangan.

Naruto kemudian menurunkan pisau yang teracung itu dan kini ia menatap langsung wajah sang penguntit. "Siapa kau sebenarnya dan apa maumu?" Tidak ada basa-basi.

"Namaku Uchiha Sasuke. Aku tertarik dengan kekuatan buah iblismu, Uzumaki D. Naruto. Jika aku benar, buah iblismu termasuk ke dalam jenis Exousia 'kan?"

Di dunia ini terdapat 4 jenis buah iblis;

Paramecia, jenis pertama dari kekuatan buah iblis ini adalah penggunanya dapat merubah bentuk tubuh atau mendapatkan fisik manusia super. Contohnya adalah tubuh berubah menjadi karet, kemampuan untuk memanipulasi ingatan, memanupulasi benang, dan lainnya.

Zoan, jenis kedua ini memiliki kemampuan untuk merubah bentuk fisik menjadi hewan. Serta mendapat kemampuan dari bentuk perubahan hewan tersebut.

Logia, jenis ketiga dan juga langka memiliki kemampuan mengubah diri menjadi unsur elemen. Pengguna buah iblis Logia tidak dapat disentuh kecuali menggunakan Haki.

Exousia, jenis keempat dan dikatakan sebagai jenis yang paling langka melebihi Logia. Kemampuannya terletak di mata dan pandangannya. Buah iblis Exousia hampir mirip dengan Paramecia tetapi yang membedakannya adalah letak yang terpusat. Kekuatan buah iblis Exousia hanya terpusat pada matanya. Namun, dikatakan beberapa buah iblis jenis ini kekuatannya bahkan melebihi Paramecia atau Logia terkuat.

Naruto menyipitkan mata. "Kau … sudah mengawasiku sejak dari tavern 'kan? Memang benar aku memakan buah iblis jenis itu. Namanya Sukuna no Mi."

Sasuke mengangguk. "Sudah kuduga," ucap Sasuke. Ia kemudian menutup mata kirinya dan membukanya dengan perlahan. Mata yang tadinya berwarna hitam kini berubah menjadi ungu dengan pola riak air dan terdapat enam magatama yang mengelilinginya.

Naruto sedikit tersentak. "Kau juga memakannya ya. Dan itu adalah salah satu buah iblis terkuat dari tipe Exousia."

"Rinnegan no Mi." Sasuke berucap.

Naruto tersenyum lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada. "Dengan kekuatanmu yang begitu besar, apa yang akan kau lakukan?"

Sasuke menatap Naruto dengan serius. Tinjunya terkepal erat. "Aku sedang mengumpulkan orang yang memiliki kekuatan Exousia."

"Mengumpulkan? Itu akan memakan waktu yang sangat lama. Lalu jika sudah terkumpul apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Naruto lagi.

"Menghancurkan Tenryuubito dan pemerintah dunia." Sasuke menjawab dengan nada dingin.

Naruto terdiam sebentar lalu ia menyunggingkan senyum. "Tujuan yang besar."

Remaja berambut hitam itu tidak lagi bersuara. Ia memandang Naruto yang sedang merogoh sesuatu di kantung belakangnya. Naruto mengaktifkan kekuatan matanya dan tidak lama kemudian muncul dua buah batu berbentuk kubus di tangannya.

Sasuke melihat itu dengan teliti. Detik berikutnya ia terkejut. "Kalau tidak salah, batu ini bernama poneglyph 'kan?"

Naruto mengangguk.

"Tapi yang kudengar ukuran poneglyph sangat besar dan tidak bisa dipindahkan saking beratnya."

"Itu memang benar. Tapi dengan kekuatan mataku, aku bisa mengecilkan semua benda mati. Yang tidak bisa kukecilkan adalah benda hidup kecuali diriku sendiri." Naruto menjawab sambil memainkan dua poneglyph hanya seukuran kepalan tangan itu.

"Impianku adalah memiliki semua poneglyph di dunia ini dan mengetahui sejarah dunia. Dengan kekuatan mataku dan pengetahuan tentang bahasa poneglyph. Impianku tidak hanya sekedar omong kosong."

"Kau bisa membaca poneglyph?" tanya Sasuke sedikit terkejut.

Naruto mengangguk. "Kampung halamanku terkenal sebagai pusatnya arkeologi. Aku belajar bahasa poneglyph di sana dan mendapatkan gelar sebagai arkeolog di umurku yang baru menginjak 5 tahun. Salah satu poneglyph yang kumiliki berasal dari kampung halamanku."

Naruto menatap Sasuke. "Kau tahu, pemerintah mati-matian menutupi keberadaan poneglyph. Aku heran kenapa, tapi sepertinya poneglyph menyimpan kunci untuk meruntuhkan pemerintah dunia. Itu artinya, impianku akan mengarah pada jatuhnya pemerintah dunia, seperti impianmu."

Sasuke tersenyum. "Jadi, kau setuju untuk-"

Perkataan Sasuke terhenti karena tangan Naruto tiba-tiba menutup mulutnya. "Jangan lanjutkan perkataanmu."

Sasuke diam lalu mengangguk dengan sedikit kesal. Naruto menjauhkan tangannya dari mulut Sasuke dan lanjut berbicara. "Kebetulan aku sedang membuat kru bajak laut. Kapalku sudah selesai dibuat beberapa hari yang lalu. Dan suplay untuk kapal hampir semuanya siap. Tinggal bahan pangannya saja yang belum. Bagaimana, apa kau ingin bergabung dengan bajak lautku sebagai wakil kapten, Uchiha Sasuke?"

Sasuke terdiam memikirkan tawaran Naruto, tapi pada akhirnya ia mengangguk tanda setuju. "Apapun demi tujuanku tercapai."

"Kalau begitu selamat datang." Naruto berucap sambil menyodorkan tangannya hendak bersalaman. Sasuke meraih tangan itu.


Kembali lagi ke pasar, Naruto dan Sasuke berbelanja bahan makanan untuk persiapan berlayar. Bahan-bahan yang Naruto beli adalah makanan yang tahan lama. Naruto membeli dua kotak kentang (satu kotak berisi 10kg kentang yang ditutupi oleh kotak kayu dan kertas tebal agar tidak dimakan serangga). Beras dan gandum masing-masing 10kg, 5 tong air bersih (1 tong berisi 50 liter air). Beberapa kilo sayur mayur, ikan, dan daging. Terakhir buah-buahan untuk camilan.

Semua itu jelas tidak bisa dibawa oleh hanya dua orang saja. Namun, dengan kekuatan mata Naruto hal itu bisa saja terjadi. Naruto menyusutkan bahan makanannya hingga menjadi kecil dan memasukkannya ke dalam tas yang dibawa oleh Sasuke.

"Kekuatan matamu sangat berguna di saat-saat seperti ini," ucap Sasuke yang entah itu nyindir atau memuji.

Naruto menggigit apel merah yang berada di tangannya. "Asal kau tahu, kekuatanku itu multifungsi. Tidak hanya digunakan di pertempuran saja," ucap Naruto dengan bangga.

"Terserah," gumam Sasuke. "Selanjutnya kita akan ke mana?"

Naruto menggigit lagi apelnya. "Kita akan ke dermaga untuk menyimpan bahan makanan di kapal. Sekalian memperlihatkan kapalku kepadamu."

Mereka lalu berjalan bersama menuju dermaga selatan yang memang dermaga ini diperuntukan untuk tempat berlabuh para bajak laut dan pusat pembuatan kapal. Sedangkan dermaga utara tempat untuk kapal pedagang dan pemerintah dunia atau angkatan laut.

Setelah berjalan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Sesuai fungsinya, dermaga ini dihiasi oleh kapal-kapal dengan bendera hitam berkibar di puncak tiang utama. Beberapa kapal telah berjejer dari yang ukurannya terbesar sampai ukuran biasa-biasa saja.

"Aroma bajak laut," ucap Sasuke.

Naruto menatap pemuda disampingnya sambil tersenyum. "Ini aroma kebebasan. Ayo, akan kutunjukkan kapalku."

Mereka berdua lalu berjalan menuju sisi paling kiri dermaga di sana sudah ada sebuah kapal yang ukurannya sedang. Kecil tidak, besar juga tidak. "Ini kapalku. Namanya Morrigan."

Sasuke memandang dengan seksama kapal Naruto.

Kapal yang Naruto beri nama Morrigan ini memiliki jenis kapal sloop-of-war. Seperti namanya, kapal ini didesain untuk menjadi kapal perang dengan kecepatan cepat pada pertempuran menengah. Namun, apa yang diharapkan sebagai kapal perang pupus sudah ketika Sasuke melihat jumlah meriam yang sedikit.

"Kau membuat kapal jenis sloop-of-war dengan hanya sedikit meriam?"

Naruto mengangguk. "Sejujurnya aku tidak terlalu suka kapal yang dihiasi oleh meriam penuh."

Mereka lalu menaiki kapal Naruto dan sudah berdiri di deck atas. Sambil memegang sisi pembatas kapal Naruto melanjutkan perkataannya. "Aku membuat kapal ini dengan uang yang sejak lama aku kumpulkan. Aku menginginkan kapal yang bisa bertempur dengan kecepatan tapi di sisi lain aku juga membuat kapal ini menjadi rumahku."

Sasuke mengerti. "Jadi itu asalannya kenapa kau tidak memasang full canon."

Naruto mengangguk. "Aku hanya memasang beberapa meriam di permukaan deck sebagai antisipasi. Dan juga untuk menyerang kapal yang lebih kecil. Ayo, kita lanjutkan lagi tour kapal Morrigan."

Morrigan memiliki panjang 48 meter dengan dua tiang layar. Persenjataan Morrigan dilengkapi 8 meriam yang masing-masing dua di bagian depan serta tiga di sisi kanan dan kiri. Sedangkan untuk pertahanan belakang Morrigan menggunakan burning oil. Semua sejata itu ditaruh di deck atas. Kemudinya tepat berada di atas captain's cabin. Kapal Morrigan terbuat dari salah satu kayu terkuat di dunia. Dan juga ia dilapisi oleh baja kuat untuk pertahanan lapis. Hampir seluruh sisi luar Morrigan dilapisi baja kuat. Morrigan juga memiliki dua sekoci yang berada di sisi kanan dan kiri.

Warna kapal ini bercampur antara hitam-abu-merah. Hitam dan merah adalah warna dasar kapal ini, sedangkan abu adalah warna dari baja.

Selanjutnya Naruto dan Sasuke memasuki captain's cabin. Ruangannya cukup luas dengan jendela menghiasi di setiap sudut. Captain's cabin terletak di bagian belakang. Di ruangan ini terdapat dua tempat tidur yang terlerak di tiap sudut ruangan. Sementara di tengah ujung ruangan terdapat meja kapten (Posisinya tepat di tengah-tengah dua kasur itu). Meja yang lain terletak di depannya. Beberapa lemari dan rak buku terlihat berjejer di depan kasur.

Untuk alat penerangannya, ruangan ini dilengkapi lilin dan lentera sebagai alat penerangan standar. Ruangan ini di cat dengan warna hitam sebagai dasarnya dan emas di beberapa bagian.

"Ruangan yang cukup bagus," kata Sasuke sambil melihat-lihat.

"Sebagai wakil kapten kau juga boleh tidur di sini. Kebetulan ada dua kasur."

"Hn."

Mereka kemudian melanjutkan tour Morrigan dengan memasuki ruang bawah. Morrigan memiliki dua lantai untuk ruangan yang berada di bawah deck kapal. Karena posisi captain's cabin sama seperti lantai pertama ruang bawah maka sisanya ruangan ini digunakan sebagai tempat menyimpan barang dan juga dapur. Dapur terletak di bagian paling depan bersama tempat menyimpan bahan makanan. Kemudian sisanya dibagi menjadi ruang harta dan persenjataan. Desain lantai ini dibuat senyaman mungkin agar menyerupai rumah sendiri. Perlengkapan dapurnya juga cukup banyak.

"Taruh bahan makanan di situ, Sasuke." Naruto menunjuk sudut dapur yang terlihat kosong. Sasuke menyimpan semua bahan makanan di situ setelah Naruto mengembalikan ukurannya ke semula.

"Umumnya dapur kapal berada di ruangan atas deck agar memudahkan asap keluar. Tapi kau mendesain kapal yang memiliki dapur di bagian depan, sekaligus di bawah deck kapal," ucap Sasuke setelah selesai merapikan bahan makanan.

"Jangan khawatir tentang asapnya akan dibuang ke mana, aku sudah mendesain bagian depan kapal ini agar dapat membuang asap dapur. Tak perlu khawatir."

Lalu mereka berdua turun ke bawah lagi dan ini adalah tempat para kru beristirahat. Ruangan di bagian paling depan adalah tempat kru laki-laki berisitirahat, di dalamnya sudah lengkap beberapa kasur dan tempat tidur gantung. Sementara bagian belakang adalah kamar untuk kru wanita. Naruto hanya berjaga-jaga jika saja suatu saat ia memiliki kru wanita. Masing-masing kamar itu sudah dilengkapi perabotan dan satu kamar mandi. Desain ruangannya juga dibuat seperti kamar di rumah. Untuk bagian tengahnya terdapat satu kamar mandi lagi dan ruangan untuk menyaring air laut menjadi air bersih. Serta sisa tempat yang masih kosong diisi oleh beberapa meja untuk kru bersantai.

"Dan di sinilah tour Morrigan selesai. Bagaimana?" tanya Naruto.

"Hn. Bukan kapal yang buruk. Kau benar-benar mendesain kapal ini selayaknya ruangan di rumah. Membuat nyaman."

Mereka kemudian pergi ke deck kapal. Hembusan angin laut menerpa wajah mereka berdua. Saat ini mereka sedang duduk di bagian belakang deck kapal sambil besandar. Melihat aktivitas bajak laut yang sedang membuat kargo.

Sasuke melirik Naruto. "Kau tahu bukan bahwa kapal ini tidak bisa berlayar jika hanya kita berdua?"

Naruto mengangguk. "Ya. Aku tahu. Saat ini aku berencana merekrut orang untuk menjadi kru Morrigan. Aku ingin setidaknya 22 orang. Sepuluh orang untuk menangani layar kapal, delapan orang sebagai penggerak meriam, dua orang menangani burning oil, dan dua orang lagi bertugas sebagai koki kapal."

"Bukan hal yang mudah mengumpulkan orang sebanyak itu. Apa kau ingin merekrut orang di tavern?"

Naruto tersenyum tipis kemudian menggeleng. "Sasuke, sepertinya kau baru tiba di pulau ini, benar?"

"Kalau iya memang kenapa?"

"Informasi ini sudah tersebar luas. Informasi yang mengatakan kalau besok atau lusa rombongan Tenryuubito akan singgah."

Sasuke tersentak. "Tenryuubito?" Ia mengepalkan tangangannya erat. Hanya dengan mendengar namanya saja sudah membuat emosi Sasuke naik.

"Ya. Dan apa yang selalu di bawa Tenryuubito saat mengunjungi suatu daerah?"

Sasuke diam kemudian membulatkan matanya. "Budak."

"Benar sekali. Aku berencana membebaskan budak-budak itu dan menjadikannya sebagai kru Morrigan." Naruto tersenyum. "Ini cocok untuk debut pertama bajak laut kita. Dan juga debut pertama kau untuk menggapai impianmu, Sasuke."

Sasuke menyeringai tipis. Naruto benar, ini adalah momen yang tepat untuk mulai mewujudkan impiannya. Tenryuubito, lihat saja. Suatu hari kalian akan mendapatkan balasan atas semua yang kalian perbuat kepada keluargaku, batin Sasuke.

Mulai dari sana, Naruto dan Sasuke menyiapkan rencana pembebasan budak Tenryuubito.

Bersambung


AN: Yah, kembali dengan fic baru. Gak apa-apa ya.

Sebagian besar mungkin sudah tahu jika buah iblis Naruto saya ambil dari kekuatan mata Isshiki. Dan juga penambahan jenis buah iblis saya bikin sendiri a.k.a ngarang.

Kalau ada yang penasaran dengan bagaimana bentuk kapal Morrigan boleh searching di google atau youtube sekalian agar bisa memperoleh videonya. Buat kalian yang sudah bergabung ke dalam grup WA Fanfiction Indonesia boleh minta ke saya videonya. Kapal Morrigan saya ambil dari Assassin's Creed Rogue.

Kalau dibandingkan mungkin Morrigan dan Going Merry ukurannya hampir sama.

Jika ada yang ingin ditanyakan, tanyakan saja.

[29/11/2021]