Naruto by Masashi Kishimoto

Harvest moon by Natsume/Marvelous

...

..

.

Ini adalah tahun ketiga Naruto berada di Leaf Village, dia menikmati suasana desa itu serta bekerja sebagai petani di tempat itu. Naruto belajar banyak tentang pertanian, dimulai dengan merawat Ayam, serta Sapi, mengambil hasil susu serta telur, lalu menanam tumbuhan yang beberapa bibitnya akan berbuah di musim tertentu.

Naruto juga menyelamatkan desa tersebut dari penggusuran sebuah perusahaan secara sepihak. Perasaan marah menjalar di hatinya saat Naruto tahu akan ada penggusuran pada para warga di desa itu, lahan itu akan dibuat sebuah lahan taman bermain.

Saat ini, Naruto berada di sebuah tempat dia berdiam diri sembari menikmati langit biru, sebuah tempat dimana dia biasa bertemu dengan seorang Dewi yang menjaga desa tersebut.

Naruto sering berkunjung ke tempat itu hanya untuk mengobrol kecil dengan sosok Dewi penjaga itu.

"Naruto ada disini?"

"Tumben?"

"Apa kau ingin memanggil Dewi?"

Naruto beranjak dari tempatnya merebah, dia menatap tiga orang kurcaci yang berdiri di depannya. Para kurcaci itu tahu kebiasaan Naruto saat berada di danau tempat Dewi berada.

"Aku hanya ingin bersantai sejenak, dan pekerjaanku sudah selesai semua."

Nik, Nak, dan Flak hanya mengangguk mengerti, mereka bertiga melihat Naruto menyelesaikan semua pekerjaannya saat itu.

"Apa perlu kami panggilkan Dewi?" Nak menawarkan sesuatu pada Naruto.

Naruto sendiri mengangkat sebelah alisnya mendengar tawaran tersebut. "Tidak usah, aku tak mau mengganggu dia."

"Kalau begitu, kami pergi dulu."

Naruto ditinggal sendirian oleh para Kurcaci, suara-suara serangga terdengar oleh Naruto, dia juga melihat beberapa kelinci yang sedang bermain di sekitar, lalu ada burung-burung yang terbang mondar-mandir dengan pasangannya.

Senyuman terpatri di wajah Naruto, dia benar-benar menikmati tempatnya saat ini. Berbeda sekali saat dia berada di Konoha, dia akan mendapatkan beberapa perlakuan kasar serta tatapan para warga akan sangat mengintimidasi dia.

Dia beruntung bisa terdampar disini, serta sebuah kebetulan juga pewaris sah dari lahan ini tak bisa merawatnya, jadi Naruto yang diminta para warga untuk merawat tempat tersebut.

Dia juga diperbolehkan untuk menikahi salah satu gadis yang ada di desa itu, secara tak langsung dia sudah diterima oleh para warga.

Terutama sosok Dewi yang menjaga desa itu.

Naruto hampir setiap hari berada di danau kecil tersebut hanya untuk mengobrol kecil dengan sang Dewi, namun dia tak lupa untuk berinteraksi dengan warga sekitar,

Terkadang, dia juga membantu beberapa warga desa yang membutuhkan jasanya. Bisa dibilang, ada beberapa kejadian yang membuatnya turun tangan untuk membantu, dan dia secara sukarela membantu mereka semua.

"Ara, Naruto sudah ada disini."

Sosok wanita keluar dari danau kecil tempat Naruto duduk, wujud dari wanita itu sangatlah cantik dengan rambut berwarna ungu yang digerai, serta memakai gaun putih yang membuatnya terlihat anggun.

"Oh, Dewi."

Ya, dia adalah Dewi panen, dia seorang Dewi yang tinggal di danau kecil.

"Tumben muncul, biasanya harus aku lempar sesuatu, baru kau muncul."

Sang Dewi tertawa kecil. "Aku hanya ingin saja tak lebih." Dewi itu melayang mendekati Naruto, dia berdiri di sebelah pemuda yang berusia delapan belas tahun. "Apa kau benar-benar menikmati desa ini?"

"Aku seperti sudah di takdirkan berada di tempat ini."

"Begitu?" Naruto mengangguk mengiyakan pertanyaan Dewi. "Baguslah, desa ini akan hidup kembali dengan adanya kau."

"Aku bersyukur dengan itu." Naruto kemudian merogoh tas yang dia bawa. "Aku menemukan sesuatu di tambang." Dia mengeluarkan sebuah batu berwarna biru yang sangat indah.

Sang Dewi terkejut, kemudian dia bertanya pada Naruto. "Aku minta tolong padamu, ini adalah permintaan pertama dan terakhirku padamy Naruto."

Naruto mengerutkan dahinya. "Katakan saja, aku akan usahakan untuk bisa membantumu."

"Temukan kuilku!"

Naruto mengerjapkan kedua matanya mendengar permintaan dari Dewi Panen itu. "Kuil?" Dewi menggangguk kecil. "Tempatnya dimana?"

"Mungkin tempat itu ada di dalam tambang."

Naruto mengerjapkan matanya kembali. "Baik, aku akan ke tambang untuk mencarinya." Naruto beranjak dari tempat duduknya, di kemudian berpamitan pada Dewi untuk pergi ke tambang serta mencari kuil milim Dewi itu.

"Se-semoga berhasil Naruto!"

"Ya! Terima kasih!"

...

...

...

Naruto saat ini berada di depan tambang, dari dalam tempat itu keluar sosok pria berambut pirang dengan pakaian khas seorang arkeolog.

"Naruto?"

"Ah, Rudolph. Habis menambang?"

"Ya, tapi aku menemukan sesuatu di dalam sana." Rudolph menjelaskan sesuatu pada Naruto. "Ikutlah denganku!"

Naruto mengangguk, kemudian ikut masuk ke dalam dengan Rudolph. Mereka masuk ke dalam hingga sampai pada ujung tambang, di sana ada sebuah pintu besar dengan ukiran empat peri di sana, ada juga cahaya yang menyala bergantian di sana.

"Ini, aku tak tahu apa, tapi sepertinya ini adalah kuil bagi Dewi panen."

Naruto berpikir sejenak, dia kemudian menatap Rudolph. "Terima kasih sudah mengantarku kesini."

"Tak masalah, kalau begitu aku akan kembali, sampai nanti."

"Sampai nanti Rudolph." Naruto menatap pria bernama Rudolph pergi dari pintu besar itu.

Ini adalah sebuah kebetulan yang membuatnya keheranan, setelah dia diberitahu oleh Dewi Panen sebuah kuil, dan dia sekarang malah menemukan pintu kuil itu dengan bantuan Rudolph.

Entah keberuntungan apa yang dipunya Naruto setelah dia tak mati karena Kyuubi keluar dari tubuhnya dan bebas di Konoha. Dia kira, semua keberuntungan yang dipunya telah hilang karena Kyuubi bebas, namun keberuntungannya itu masih ada.

"Sekarang tinggal memberitahu Dewi Panen saja."

Naruto segera pergi dari tempat itu, dia berlari keluar tambang, dia juga tak lupa untuk menyapa Rudolph yang telah membantunya mencari kuil Dewi panen.

Naruto berlari ke danau kecil tempat tinggal sang Dewi, dia melihat wanita itu sedang duduk di sebelah pohon rindang yang ada di dekat danau kecil itu.

Naruto tersenyum melihatnya masih berada di sana. Dia segera mendekati Dewi Panen. "Aku sudah menemukannya."

Dewi panen itu terkejut, dia langsung berdiri menatap Naruto dengan keterkejutannya yang masih ada. "Benarkah?!" Naruto mengangguk mantap. "Ka-kalau begitu, datanglah kemari saat bulan purnama, antara tanggal dua puluh sembilan, atau tiga puluh."

"Aku mengerti, aku akan datang pada hari itu."

"Naruto, terima kasih sebelumnya."

"Sama-sama, aku senang bisa membantumu."

...

..

...

Hari yang ditunggu telah datang, Naruto datang ke danau kecil itu pada saat bulan purnama di tanggal dua puluh sembilan. Dia saat ini tengah di sambut tiga kurcaci yang selalu menemani Dewi Panen.

"Kau datang tepat waktu!"

"Dewi, dia datang."

"..."

Dewi panen tersenyum menatap Naruto, dia kemudian mendekati mereka berempat. "Aku sudah datang sesuai janji."

"Terima kasih," ujar Dewi Panen, dia kemudian tersenyum tipis pada Naruto. "Ngomong-ngomong, kau masih membawa Moonlight Stone?"

Naruto mengeluarkan batu biru itu, dia menunjukkan benda itu pada sang Dewi. Tiba-tiba, batu itu berubah menjadi sebuah kunci, hal itu membuat Naruto terkejut. "Ku-kunci?!"

"Ya, ini kunci untuk kita membuka kuilku."

"Lebih baik kita segera ke kuil." Keempatnya mengangguk mengerti, mereka semua pun pergi ke pintu besar yang ditemukan oleh Rudolph.

Setelah sampai, Naruto menatap Dewi Panen dan para Kurcaci yang berada di belakangnya. Mereka semua mengangguk kecil memberikan kode pada Naruto untuk membuka gerbang besar yang terkunci itu.

Naruto pun memasukkan kunci itu ke dalam lubang kunci yang tersedia, dia memutar kuncinya searah dengan jarum jam hingga berbunyi tanda bahwa pintu itu tak terkunci lagi.

Pemuda itu kemudian mendorong pintu besar itu, Naruto bisa melihat bagian dalam dari ruangan tersebut, dia terperangah akan interior dari kuil Dewi Panen.

"Kita benar-benar menemukannya."

Naruto menoleh ke belakang, dia melihat Dewi Panen itu menutup mulutnya dengan kedua matanya yang mulai berair.

Dewi Panen berjalan masuk, dia menatap sebuah altar yang dikhususkan untuk dirinya, dia tersenyum bahagia saat mendengar berita Naruto yang menemukan kuilnya, lalu sekarang dia sudah menemukan kuilnya sendiri.

Naruto dengan pelan berjalan mundur meninggalkan keempat orang itu, dia juga meletakkan kunci kuil itu di atas lantai, dia sesegera mungkin pergi dari kuil, meninggalkan mereka semua. Naruto tak mau merusak kebahagiaan mereka.

...

..

...

Keesokan paginya, Naruto telah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia bergegas untuk pergi ke danau kecil tempat tinggal Dewi Panen.

Di sana, para kurcaci serta Dewi sudah berdiri seolah menunggunya. Naruto heran akan hal itu, dia segera berjalan mendekati mereka.

"Ada apa?" tanya Naruto.

Dewi panen mendekati Naruto. "Terima kasih untuk segalanya Naruto." Dewi panen mengucapkannya tepat di depan Naruto.

Naruto mengerjapkan kedua matanya. "Um, sama-sama." Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, semburat merah terlihat di wajahnya, dia juga menggaruk pipinya yang tak gatal. 'Jika saja dia manusia, akan aku nikahi dia.'

Dewi Panen tertawa kecil mendengar isi hati Naruto. Namun, tawa kecilnya terhenti saat kepala Dewi panen itu merasakan pusing, tubuhnya oleng, Naruto menangkap tubuh Dewi dengan sigap.

"Dewi!"

"Dewi ada apa?!"

Para Kurcaci berteriak khawatir, Naruto mengerutkan dahinya melihat Dewi yang meringis kesakitan. "Mungkin... Waktuku sudah tak banyak..."

"Oi, kau serius?!"

Dewi panen itu tersenyum lemah, tubuhnya pun berubah menjadi butiran cahaya yang sedikit demi sedikit menghilang.

Yang Naruto ingat hanyalah senyuman Dewi panen saja sebelum dia menghilang. Naruto memenjamkan kedua matanya, dia merasakan kesedihan yang mendalam.

Kurcaci pun sama seperti Naruto, mereka bertiga bersedih akibat Dewi Panen mereka menghilang.

"Kalian berempat jangan sedih, aku tak akan pergi. Aku hanya ingin mencari sebuah pakaian saja."

Muncul sosok gadis dibelakang mereka, dia memakai pakaian khas penduduk desa, rambutnya yang bergelombang itu di ikat kuda. Sosok itu tersenyum pada keempatnya.

"Hai."

"Dewi!" Para kurcaci bersorak karena Dewi mereka kembali. "Ka-kau?!"

"Ya, aku menjadi manusia seutuhnya, dan mungkin kalian bisa memanggilku Marina." Marina menatap Naruto dengan senyuman indahnya. "Sekarang, kau bisa menikahiku."

Para Kurcaci kembali terkejut, Naruto ikut terkejut saat pikirannya tadi di baca oleh Marina, wajah Naruto merona seketika saat dia tertangkap basah tengah memikirkan pernikahannya dengan Marina.

"Ba-bagaimana?!"

"Kau bisa membeli blue feather di toko alat, dan berikan itu padaku sebagai sebuah lamaran."

"A-a..."

"Bagaimana Naruto?" Wajah Marina saat ini sudah sangat dekat dengan wajah Naruto yang merona. "Kau lucu."

"Ba-baiklah kalau begitu, a-aku akan membelinya saat ini juga."

Naruto pergi dengan terburu-buru, dia segera membeli blue feather itu serta memberikannya pada Marina.

Wanita itu terlihat tertawa kecil dengan rona merah yang menyelimuti kedua pipinya. "Pemuda yang lucu."

"Dewi, kau serius?"

"Aku sudah menyukainya semenjak dia datang disini, jadi..."

"Kami menyerah, terserah Dewi untuk menikah atau tidak."

"Ufufu, terima kasih."

...

..

.

End