Ini fic dah lama banget jujur aja entah kenapa aku malah nulis kelanjutannya :)

Yaa... itung-itung pemanasan dulu sebelum update Deadly Monarch, dan fic-fic lain yang aku garap. So, bagi kalian yang menjadikan aku sebagai daftar author favorit kalian, silakan dinikmati fic satu ini.

Tool of Justice by GearPhantom97

Disclaimer : Naruto, DxD and One Piece not mine.

Warning : AU, AR, OCC dan masih banyak lagi.

.

.

Chapter 5: Dewa Penghancur Beerus!

Ini bukan soal umurku yang 'tak terbatas, bukan pula tentang aku yang tidak menua. Tapi persoalan ini bukanlah sesuatu yang menurutku dianggap enteng, kehidupan abadi yang diberikan pun akan berbekas pada apa yang sedang aku lakukan sekarang. Sebuah pertarungan—yang menurutku tidaklah seimbang.

"Ada apa bocah!"

Pukulan kuat yang mengenaiku memang berhasil membuatku terlempar begitu jauh, punggung lunak seorang Manusia pada umumnya kini diuji dengan kerasnya bebatuan maupun pohon yang aku tabrak dengan keras. Muntahan darah yang tidak bisa aku bendung itu aku keluarkan dalam kondisi tubuhku yang melayang.

Fokus yang sedikit buyar, tenaga yang menurun drastis, bahkan sebuah pemikiran akan strategi pertarungan yang entah kenapa hilang dari pikiranku, menjadikan pertarungan ini begitu kejam untuk dilihat. Kekuatan Logia yang aku miliki tidak berguna, bunyi penghancur keseimbangan tubuh juga tidak berguna—aku seperti mangsa yang terjerat dalam jaring laba-laba musuhku.

"Tidak berguna!"

Aku berhasil menghindar, namun tidak demikian dalam sekian detik berikutnya yang mengakibatkanku terkena tendangan maut darinya, aku terlempar pelan dan mencoba menyesuaikan kondisi tubuhku dalam naungan udara yang bebas ini.

Lelehan kecil dari darah yang aku punya sedikit membuatku mendecih tidak suka, rentetan serangan yang aku hasilkan juga tidak mempan padanya—dan dia berhasil menghindarinya dengan gesit. Inikah kekuatan Dewa yang ditakuti seluruh alam semesta ini?!

Aku heran bercampur bingung akan kekuatan sosok Dewa yang sedang aku lawan sekarang, kecepatan bagaikan hembusan angin, kekuatan otot yang luar biasa hingga refleks tubuh yang sangat peka—dengan kata lain, dia sangat kuat. Bahkan Zeus pun belum tentu bisa menang melawan Dewa ini.

"Jangan bengong ketika bertarung!"

Menghindar dan terus menghindar adalah apa yang sedang aku lakukan sekarang, kelenturan tubuhku yang diimbangi oleh bantuan benang yang aku miliki menjadikanku mudah menghindar dari serangannya yang sangat cepat itu. Dan dengan fokus yang kian bertambah.

"Goshikīto!" aku melesatkan benang runcingku padanya, dan menambahkan beberapa benang lima warna yang aku miliki untuk menggores kulitnya. Namun dia berhasil menghindarinya, aku sedikit terkejut pada awalnya. Hingga sebuah serangan bola energi membuatku ingat, bahwa lawanku sekarang ini bukanlah seorang Dewa yang baik hati.

Booomm!

Aku meringis pelan ketika tangan kananku terdapat luka bakar yang kian sembuh dengan sendirinya, ini akibatnya jika aku menangkis serangannya dengan tangan kosong—mau bagaimana lagi, serangan yang tadi itu sangatlah cepat dan mendadak, jadi mau tidak mau aku harus mengorbankan tangan kananku sebagai tameng untuk serangan itu.

Dan sialnya, kenapa kekuatan logia tidak berguna?!

Apakah kekuatan dari Dewa Penghancur adalah menghancurkan batasan pada makhluk hidup? Ini diluar akal sehatku.

"Inikah alat bagi perdamaian?" aku menatap kedepan dengan sedikit ringisan karena luka bakar ini yang sedikit mengganggu konsentrasiku. Kepulan asap tebal akibat ledakan tadi kian menipis dengan sendirinya.

"Akan aku ajarkan kepadamu, apa itu alat bagi perdamaian!" dan di sana, aku bisa melihat dengan mata kepalaku sendiri sebuah bola energi yang begitu mirip dengan matahari sedang di topang oleh kedua tangannya. Aku terkejut bukan kepalang, bulu kudukku langsung berdiri ketika melihat betapa besarnya bola energi itu.

Hawa panas yang sedikit menghanguskan beberapa pohon disini semakin membuatku begitu putus asa untuk melawannya, senyuman janggal dari wajah kucingnya itu membuatku kian bergidik takut. Tangan kananku bergetar hebat, begitu juga dengan kedua kakiku, keringat dingin yang sedikit menggangguku bahkan membuat konsentrasi ini buyar seketika.

"Lenyaplah!"

Dan aku tahu, bahwa Dewa penghancur.. adalah Dewa terkuat di dunia ini.

...

Sudah 3 tahun lamanya ketika aku diberikan sebuah kekuatan baru yang dinamakan Genjutsu, kekuatan yang menembus batas indra mahluk hidup itu saat ini belum aku kuasai, karena memang pada dasarnya Genjutsu itu sangatlah sulit untuk dipelajari oleh mahluk hidup lain selain Dewi Tsukiyomi itu sendiri.

Latihan keras demi terbangkitnya Genjutsu ini seakan-akan hanyalah sebuah batu lapukan—tidak berguna dan membuang waktu saja, aku menyerah pada takdir yang memang kekuatan itu bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari oleh mahluk lain.

Tsukiyomi tahu akan hal itu jauh jauh hari sebelum memberikan kekuatan istimewanya itu kepadaku, namun menurutnya—

tidak ada salahnya mencoba bukan?

Dan seperti yang didapatkan di lapangan, kekuatan ini memang tidak bisa dikuasai oleh mahluk lain selain Dewi Tsukiyomi.

Setelah itu, aku menjalani latihanku sendiri dengan beberapa Dewa maupun Dewi yang kebetulan sedang senggang waktunya—dan inilah alibiku agar tidak terlalu banyak berkontak mata dengan adikku, Kushina. Aku tahu itu adalah hal yang bodoh dan salah—terkesan melarikan diri. Namun aku tidak bisa berpikir jernih lagi ketika mengetahui fakta itu.

Bisa-bisa aku menodai kesucian yang Kushina miliki, aku begitu takut untuk tidur bersama dengannya sekarang ini, apalagi ketika mengobrol bersama—seakan-akan ada sebuah perasaan bersalah yang menghantuiku karena membuat perasaan adikku ini menjadi lebih terhadapku.

Aku sadar sepenuhnya, bahwa perasaan yang Kushina miliki sangatlah sulit untuk dihilangkan. Rasa kagum dan cinta, hal itu begitu sulit untuk dijelaskan. Ya, sangat sulit... untuk dijelaskan.

"Ada apa Naruto?" aku menengokkan sebentar kepalaku pada Dewa Ares yang kebetulan sekarang ini sedang menjadi guru bagi pelatihanku. Aku tersenyum sedikit kepadanya.

"Ah tidak apa-apa kok Ares-sensei, hanya saja saya terlalu lelah akibat latihan ini." kebohongan kecil bukanlah suatu masalah bagiku demi menutupi noda hatiku ini.

"Memikirkan Kushina ya." aku tersentak sebentar, wajahku memandang wajahnya yang lebih tua dariku. Ares tersenyum kearahku, kemudian dia duduk disampingku dan memukul bahuku pelan—layaknya sahabat dekat pada umumnya.

"Sensei?!"

"Kami sudah tahu tentangmu, janganlah kau tutupi lagi perasaanmu itu. Well, pada dasarnya kami bisa membaca pikiranmu bodoh." Ah, ahahahaa. Aku melupakan keistimewaan mereka lagi, hah~ aku memang bodoh—

kenapa juga aku yang sudah lama tahu mengenai itu masih sempat-sempatnya lupa akan keistimewaan mereka, benar-benar payah.

"Sensei benar, maafkan saya. Ares-sensei." aku menatap kedepan, lebih tepatnya hamparan pasir putih tandus yang sekarang ini menjadi tempat latihan fisikku bersama Dewa Ares. Pada awalnya, aku begitu kepanasan ketika datang ke sini. Sungguh, suhu disini sangatlah panas dibandingkan gurun pasir yang ada di Mesir. Namun lama-kelamaan, aku sudah terbiasa akan kondisi cuaca yang ada disini.

"Aku juga minta maaf Naruto," aku bingung akan perkataan maafnya padaku.

"Karena aku tidak bisa membantumu menyelesaikan masalah cinta yang rumit ini, yah~ bagaimana pun juga cinta memang rumit. Aku pun menyerah akan cinta, itulah sebabnya aku tidak menikah ahahaha~!" aku terkejut pada awalnya sebelum aku tersenyum kecil dan tertawa bebas bersama dengan Dewa Ares.

Kesopanan murid kepada gurunya, aku hiraukan—karena aku tahu, Ares-sensei sudah menjadi lebih dari seorang guru yang membimbingku. Dia sudah seperti sahabat bagiku, namun etika orang muda dengan orang tua—masih aku pegang dengan teguh hingga saat ini juga.

"Dah lupakan, bulan depan kita akan kedatangan tamu yang luar biasa. Sebaiknya kau harus berlatih keras lagi, ayo berdiri!"

"Baiklah Sensei!" walaupun aku penasaran siapa tamu itu, namun aku tidak berani bertanya lagi untuk kedua kalinya ketika Ares-sensei bilang padaku 'kau akan tahu nanti' dan dari situ dapat aku pahami—ini merupakan sebuah kejutan bagiku.

Dan inilah saatnya bagiku untuk mengetahui siapa tamu spesial yang akan datang ke istana Dewa ini, beberapa Dewa-Dewi terlihat berbaris rapih pada altar emas yang pada awalnya menjadi tempat dimana pertama kali aku hadir disini. Mereka terlihat terdiam.

Membuatku semakin penasaran, siapakah tamu special ini, bahkan mereka begitu hikmat menikmati datangnya orang ini.

Aku mengalihkan direksi mataku sejenak pada Kushina yang kulihat sedang berdiri diantara jejeran Dewi-Dewi di istana ini, entah perasaanku atau penglihatanku saja—Kushina terlihat cantik kali ini, mungkin karena balutan kimono perang miliknya, ya mungkin karena memakai itu.

Berbeda denganku yang memakai armor pemberian Dewa Ares ini—dan kurasakan saat ini sangatlah berat. Huh~ entah kenapa kami semua harus memakai pakaian yang formal untuk hari ini, mungkin tamu ini adalah Dewa agung yang dipuja-puja.

BLAZT!

Dan semua Dewa-Dewi langsung merunduk hormat dengan serentak—aku yang bahkan tidak diberi tahu mengenai ini hanya bisa tersentak dan mencoba menyusul mereka merunduk walaupun agak terlambat. Kulirik kesamping, pandangan mereka menatap ke tanah—bahkan tidak berani menatap siapa orang yang datang ini, umm~ apakah ini sopan?

"Lama tidak berjumpa, teman-temanku." aku ingin sekali melihat wajahnya, aku ingin sekali berdiri dan menilai seperti apa orang yang menjadi tamu spesial hari ini. Namun, mengetahui bahwa semua Dewa-Dewi yang merunduk hormat bahkan tidak memandang orang ini, aku sebisa mungkin menahan desiran rasa penasaranku ini.

"Beerus-sama, kami sudah menunggu kedatangan anda disini." Beerus, -sama! Bahkan Dewa Zeus sangat menghormati tamu ini—siapa dia, sialan rasa penasaran ini seakan-akan membunuhku.

"Oh begitukah? Humm~ kau tidak lupa kebiasaanku kesini bukan setelah bangun?!"

"Ara ara, tentu saja Zeus-sama tahu mengenai kebiasaan anda, Beerus-sama."

"Aku tidak bertanya kepadamu Whis!" Whis!? dan siapa lagi orang kedua ini, apakah mereka datang berdua atau bertiga atau lebih banyak lagi? Sialan, ingin rasanya aku melihat mereka semua—tapi aku harus sabar, aku harus sabar.

"Tentu Beerus-sama, silakan duduk ditempat kesukaan Anda."

"Oh tentu, ayo Whis—hum!"

"Ara~ Ada apa Beerus-sama?" entah perasaanku saja atau memang aku sedang dilihat oleh orang yang bernama Beerus ini?

"Ada aura yang sangat asing disini,"

"Mungkin aura itu datangnya dari kedua Manusia yang ada disini Beerus-sama." Zeus sedang membicarakanku dan adikku?! Jadi perasaanku benar bahwa aku mungkin saja sedang dilihat olehnya?

"Manusia? Ada di sini?! Siapa dia, berdirilah kau wahai Manusia!" aku tidak tahu harus berbuat apa selain aku yang langsung saja berdiri dan kuyakini juga Kushina berdiri, pandanganku masih aku jaga dengan menatap kebawah—takutnya aku akan melakukan sebuah kesalahan jika menatap wajahnya.

"Ho~ Manusia yang terpilih itu ya,"

"Ha'i, Anda benar Beerus-sama." suara derap langkah dapat aku dengar dengan jelas. Karena suasana disini sangatlah hening ketika kedatangan tamu ini. Dan yang kuyakini, dia sedang berjalan mendekat kearahku, huh~! Entah kenapa jantungku langsung berdebar seperti menjadi gila saja!

"Zeus, siapa perempuan itu. Dia bukan Manusia yang terpilih dari langit!" Kushina! Aku berharap kau baik-baik saja adikku.

"Memang, tapi perempuan itu adalah adik dari Naruto."

"Naruto? Siapa pemilik nama aneh itu, mendengarnya saja sudah membuatku ingin menghancurkan orangnya." Njiir, itu namaku coeg! Ingin rasanya aku berteriak seperti itu kepadanya, tapi etika yang aku jaga untungnya masih ada, hah~ Selamaaattt!

"Itu, Naruto adalah nama dari Manusia yang terpilih Beerus-sama, dan dia berada dihadapanmu sekarang ini."

"Oh begitu ya, lupakan saja kalau aku ingin menghancurkanmu dan mengejek namamu ya." sudut bibirku berkedut pelan ketika mendengar nada itu dengan polosnya, sungguh orang ini...

INGIN RASANYA AKU MELIHAT WAJAHNYA!

"Dan nama adiknya adalah Kushina, dan juga…"entah perasaanku saja, atau memang Zeus-sensei saat ini sedang melihatku? Apakah dia berusaha untuk mengutarakan sesuatu yang berhubungan dengan keadaanku di sini?

"Kushina, Dia akan menjadi istri Anda Beerus-sama."

"APA!"

"NARUTO!" aku tidak tahu aturan apa yang melarang semua orang untuk menatap wajah dari Beerus ini, tapi mendengar perkataan Zeus yang akan menjadikan adikku sebagai istri dari Beerus ini membuatku mau tidak mau termakan emosiku dan ingin melihat wajahnya.

Namun kejadiannya begitu cepat hingga aku tidak bisa bergerak lagi dalam kuncian sihir yang menahan tubuhku juga dengan kepalaku yang tidak bisa aku gerakkan, tubuhku terjatuh dan menabrak agak sedikit keras ke latar emas yang menjadi pijakanku.

Aku mencoba berontak dari tekanan sihir ini yang kuyakini dari Dewa Zeus, namun sepertinya sihir ini begitu kuat untuk bisa menahan gerakan tubuhku, sialan... di saat seperti ini aku tidak bisa membela adikku satu-satunya.

"Oh, menjadi istriku ya? Lumayan juga, apalagi dia cantik."

"..." Hah! Ada apa ini! Kenapa suaraku tidak bisa keluar, kenapa aku tiba-tiba bisu seperti ini! Apakah ini ada hubungannya dengan sihir yang membelengguku! Sialan, lepaskan aku! Aku tidak terima adikku dipuji cantik oleh orang lain.

"Oh sepertinya dia mau bilang sesuatu, coba bebaskan pita suaranya Zeus."

"Baiklah."

"...Ah, hah! Aku tidak setuju adikku menikah denganmu, bahkan aku belum mengenalmu dengan baik! Memangnya siapa kau!" aku memang dibebaskan untuk bicara, namun tetap saja pandangan wajahku masih saja terkunci untuk tetap melihat latar ini daripada memandang wajahnya Beerus yang masih menjadi tanda tanya bagiku.

"Oh belum mengenalku ya, Zeus! Sepertinya kau belum mengenalkan Dewa terkuat di alam semesta ini kepada anak ini." A.. A-apa! De-dewa terkuat di alam semesta ini?! Apakah dia…

"Maafkan hamba Beerus-sama, maaf atas kesalahan hambamu ini."

"Ara ara, aku akan pergi minum dulu, d—"

"Whis!"

"Oh~ Hohohoho~ maafkan saya, saya pergi dulu hohoho~"

"Sudahlah, aku yang akan memperkenalkan diriku sendiri." setidaknya aku tidak lepas kendali dan mempermalukan guru-guruku disini.

"Aku adalah Beerus, sang Dewa Penghancur," satu kalimat itu sudah cukup untuk membuatku bungkam seketika, Dewa. Penghancur katanya?!

"Kita buat kesepakatan," aku menunggu dalam ketakutanku.

"Bagaimana kalau kau bertarung denganku, dan jika aku kalah maka aku tidak akan menikahi adikmu. Namun jika sebaliknya," aku menelan ludahku yang terasa sulit.

"Zeus, siapkan pernikahanku dengan Kushina tahun depan jika anak yang dipilih oleh langit ini kalah melawanku."

"Daulat Beerus-sama." Aku tidak punya pilihan lain lagi selain menuruti persyaratannya, mau bagaimana pun juga ini demi aku dan adik tercintaku.

...

Aku pasrah akan kondisiku saat ini, percuma melawan kalau hanya berbuah kesia-sian—Dewa ini begitu kuat dan hebat. Bola energi yang aku yakini sebagai Matahari kedua itu bergerak kearahku. Aku manatapnya dalam kengerian bercampur kekaguman, getaran tubuh yang tidak bisa berhenti ini sudah sedikitnya menghambatku untuk melakukan sebuah perlindungan yang bisa saja menemalisir dampak serangan ini.

Namun... percuma saja, perlindungan apapun pasti akan langsung terbakar habis seperti pohon yang ada di bawahku ini. Aku menutup mataku sesaat dengan sebuah senyuman pasti—aku tidak boleh menyerah, jika aku menyerah—maka Kushina akan menikah dengan orang ini, dan aku sama sekali tidak sudi jika Kushina menikah dengan orang ini.

Aku menatap ke depan dengan sorot mata yang fokus, lelehan api merah bercambur jingga yang terdapat dalam bola energi yang sedang meluncur kearahku itu sedikit menjadi fokus pandangan utamaku, bukan hal mudah—tapi aku akan mencoba menebasnya dengan pedang cahayaku!

Rintik-rintik kecil cahaya kuning yang muncul ditangan kananku sudah menjadi keras dan membentuk sebuah pedang panjang yang terbuat dari cahaya, kekuatan Haki yang aku miliki aku masukan ke dalam setiap sendi dan tulang di kedua tanganku sehingga mereka berubah menjadi seperti baja hitam yang mengkilap.

Dan dengan keberanian penuh, aku mendorong tubuhku pada udara kosong dan melesat cepat menuju bola energi besar yang jaraknya hanya beberapa meter saja dariku. Pedang cahaya yang sedikit menghitam pada beberapa bagiannya itu aku ayunkan kedepan dengan cepat, dan dengan menyebut nama dari pedang ini—

"Ama no Murakumo!"

Aku akan mengakhiri pertarungan kejam ini!

..

0o0o0o0o0

..

"Nampaknya Beerus-sama tidak main-main dengan ucapannya." Zeus merebahkan badan yang agak sedikit tua itu ke dalam empuknya kursi yang dia punya. Walaupun sedikitnya Zeus tidak merasakan ketenangan—tapi setidaknya dalam duduknya ini bisa membuat kepalanya dingin sejenak.

"Hamba akan turun tangan." Zeus, beserta beberapa Dewa-Dewi yang ada di ruangan suci milik cermin Yata ini langsung memerhatikan gelagat sang Dewa perang, Ares. Dia berdiri dari duduknya kemudian menunduk hormat pada sang pemimpin agung para Dewa—Zeus, untuk memberinya restu agar membantu anak didiknya, Naruto.

"Dewa Ares, sebaiknya Anda jangan ikut campur urusan Beerus-sama." bukan Zeus yang menjawabnya, namun sang pengawal setia dari Dewa terkuat yang ada di dunia ini—Whis. Tongkat dengan ornamen uniknya itu sedikit ia goyangkan ke samping demi memudahkannya melihat sang Dewa perang yang agung.

"Tapi menurut hamba Beerus-sama sudah keterlaluan, dan mau bagaimana pun juga, Naruto adalah utusan langit!" Whis terdiam untuk sesaat.

"Naruto adalah alat bagi perdamaian!" Whis tersenyum untuk perkataan yang terlontar dari mulut Dewa Ares saat ini.

"Alat katamu? Ohohoho~" dalam hormatnya, Ares menekuk alisnya bingung—kenapa dia tertawa?!

"Jadi selama ini kau, ah tidak tapi kalian semua menganggap Naruto hanyalah sebuah alat semata?" Ares tersentak.

"Jika memang demikian, bukankah bagus kalau sebuah alat dilatih seperti itu? Kita bisa memperbaikinya lagi bukan? Bukankah Naruto adalah alat. Bagi perdamaian?" Zeus bangkit dari duduknya ketika melihat situasi saat ini mulai memanas—

yah walau bagaimana pun juga perkataan tadi dari Whis memang benar adanya, namun Naruto adalah muridnya. Dan sudah dia anggap sebagai anaknya sendiri.

"Dewa Ares, duduklah dalam kebodohanmu! Dan pandanglah Cermin Yata dengan keangkuhanmu, dia alat bukan!? Jangan sampai sebuah alat bisa mempermainkan perasaanmu sebagai seorang Dewa Perang, Ares."badan dari Dewa Ares bergetar, dia menyesal—sangat menyesal karena telah mengucapkan kata alat tanpa beban apapun.

"Cukup Whis-sensei, biar Dewa Ares saya yang urus." Zeus mulai bertindak, berusaha sebisa mungkin menenangkan pengawal dari Dewa terkuat ini.

"Ohohoho~ baiklah, tapi… di mana hidangan pembukanya?"

"Oh-ohh, itu ada di sana Whis-sensei. Silakan dinikmati dulu selagi pertarungan masih berlanjut."

"Ohohohoo~ terima kasih."

..

0o0o0o0o0

..

Aku mencoba mendorongnya, sebisa mungkin membelahnya dan meledakkan bola energi ini dengan kekuatanku. Pedang cahaya yang ada dalam genggamanku mulai bergetar—begitu juga dengan tanganku. Sungguh, kekuatan ini begitu dahsyat untuk ditahan oleh kekuatan kecil sepertiku.

Aku mengeratkan genggamanku dan menambah daya kekuatanku untuk membalikkan serangan dahsyat ini, namun sepertinya—bola ini terus menerus menyeretku hingga menuju tanah. Aku menggeram kesal, tidak tahu harus apa lagi. Dan disaat seperti ini... aku telah buntu.

Aku menundukkan wajahku frustasi, dorongan kekuatan ini telah memberiku sebuah fakta—bahwa tidak ada yang bisa menghentikannya. Kekuatan benang yang aku miliki, juga cahaya dan bunyi yang bisa saja menjadi kekuatan mematikan bila digunakan. Tapi entah kenapa semua itu tidak mempan kepada Dewa ini.

Kekuatan bunyi yang menghancurkan saluran keseimbangan tubuh yang ada pada telinga tidak mempan padanya, cahaya laser dengan kekuatan ledak penghancur juga bisa dihindarinya, apalagi dengan benang-benangku yang hanya dihancurkannya seperti sarang laba-laba.

Aku menyerah... aku menyerah, aku menyerah!

Tapi jika aku menyerah, Kushina akan menikah dengan orang ini. Dan aku sama sekali tidak setuju, Kushina adalah milikku—dia adalah adikku yang sangat aku sayangi. Adikku yang harus aku jaga, dan adikku yang mencintaiku lebih dari bayangan saudara.

Aku tersenyum pada takdir yang menjadikanku sebagai kakaknya, begitu juga kepada takdir yang menuntunku kepada sebuah kebingungan akan cinta terlarang yang tumbuh di hati Kushina. Aku akan mengakuinya, aku akan mengakui perasaan itu.

Aku akan mengakui perasaan Kushina kepadaku, walaupun itu terkutuk sekalipun. Aku akan mengakuinya agar Kushina menjadi milikku seorang! KUSHINA HANYA MILIKKU SEORANG!

Ya.. seperti itulah semangatku.

Aku tahu itu, aku tahu itu kegelapanku!

Kau mau kekuatan yang bisa mengalahkannya.

Ya, aku mau kekuatan yang bisa mengalahkannya! Berikan kepadakusemuanya.

Kau adalah aku, jangan panggil aku kegelapanmu.

Tolong jangan membuang waktuku, aku ingin kekuatan itu sesegera mungkin. Aku ingin kekuatan, cepat katakan apa yang harus aku lakukan!

Panggil aku dengan namamu…

Naruto? Uzumaki Naruto!

Salah, namaku bukan itu. Sebut saja dalam keheninganmu,

Namaku dan namamu adalah...

"..."

BLAZTT!

Aku merasakannya, aku bisa merasakan kekuatan hebat ini. Aku menutup mataku, hawa panas dari kekuatan bola energi ini sudah tidak berasa lagi padaku, pedang cahayaku bersinar terang dan bertambah panjang.

Benang-benang yang aku ciptakan begitu besar dan menopang bola energi ini dengan kuat, menerobos batasan dan mendorongnya ke atas. Replika diriku tercipta, mengurai ke atas dengan sendirinya dan menyebar bagaikan kembang api yang meledak hingga membuat barisan kokoh yang terbuat dari benang tajam yang kuat.

Aku menamainya…

"Tori Kago!"

Sebuah jurus yang di mana aku bisa bergerak dengan bebas tanpa hambatan apapun, aku terbang keatas dengan cepat diikuti oleh lenyapnya bola energi yang tadi sempat ditopang oleh benang besarku, dan aku bisa melihatnya… sebuah senyuman kepuasan dari sosok Dewa Penghancur yang amat aku benci dan kagumi.

"Kau layak mendapatkan perhatianku, berbanggalah bocah!"

Aku yakin sepenuhnya, bahwa jurus tadi pasti dihilangkannya. Buat apa dipikirkan lagi—yang harus aku lakukan sekarang adalah mengalahkannya dengan kekuatan yang baru aku dapatkan ini.

Dia datang, mencoba untuk meninjuku dengan kekuatannya yang maha dahsyat itu. Aku menghindarinya dan mencoba menebas tubuhnya dengan pedang cahayaku yang sudah diperkuat, namun julukan Dewa terkuat memang patut disandang olehnya ketika dia berhasil mengelak serangan telakku ini dengan menghilangkan tubuhnya.

Detik berikutnya aku terlempar dan menghangtam tanah dengan keras, dalam kepulan asap yang sedikit mengganggu penglihatanku—juga dengan rasa sakit yang diderita punggungku, Beerus mulai menyerang lagi dan untuk kali ini aku bisa menghindarinya ke samping.

Pukulan kuat dengan daya hancur itu telah membuat tanah tempat pijakku bergetar dan retak layaknya gempa bumi. Aku terbang dengan kekuatanku, dan kembali terlempar karena tendangannya yang sungguh tidak bisa diprediksi olehku.

Dalam rasa sakit yang aku derita, aku sempatkan untuk menjebak Beerus dengan benang-benangku. Dan ketika dia terperangkap dengan eratnya, aku mendorong udara sekitar dengan kekuatan alamiku agar tubuhku berhenti untuk terlempar.

"Kau pikir ini bisa menghambatku?!"

"Tidak juga." ku membalasnya dalam ketenangan, pedang cahaya kuning yang tadi ada pada tanganku mulai terurai dan menghilang, bunyi yang aku ciptakan tadi dengan suaraku berhasil menusuk telinganya untuk mengeluarkan darah.

"Ini belum seberapa!" Ya aku tahu itu, walaupun salah satu indranya sudah rusak—tapi julukan Dewa untuk orang ini bukanlah sembarang julukan semata. Beerus mempunyai ketahanan dan kekuatan yang maha dahsyat—yang bahkan aku dibuat heran oleh karenanya. Maka dari itu, menghancurkan telinganya saja masih belum cukup.

"Anda ingin tahu kekuatan baruku?" bukan sebuah awalan yang bagus, namun aku akan membuatnya terkejut karena meremehkanku.

"Kekuatan yang bahkan tidak ingin aku tunjukan pada siapa pun!" sisi lain dari diriku mulai berbicara, bergabung denganku dalam satu badan dan satu pikiran. Aura emas dengan beberapa gemercik api biru yang tercipta dari tubuhku mulai bertambah besar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, semuanya tergantikan menjadi gelap. Sisi lain dari diriku, mulai menggantikan peranku.. memang benar apa katanya, adakalanya aku menjadi kudanya—dan untuk kali ini, dengan senang hati aku akan menjadi kuda baginya.

"Ku buka pertarungan ini," ratusan pedang merah melayang dalam udara.

"Dengan keangkuhanku, Beerus-dono."

.

.

To be continued.

A/N: Oke. Sebenarnya ada alasan kenapa aku update fic ini daripada yang lain. Alasannya adalah karena pengin nulis genre pertarungan aja Tehe~ daripada buat fic baru lagi kan ahaha. Mungkin update selanjutnya Ore no Imouto. Kushi-Kushi is back! Untuk Deadly Monarch? mungkin nanti... sebenarnya dah nulis sih, tapi author lagi down mengingat chapter ke depan dari Deadly Monarch... ah lupakan aja.

Sip, see u next time.