The HusBoss Romance
Disclaimer : Masashi Kishimoto Sensei.
Story By : Yana Kim
Lenght : Chaptered
Rate : M
WARNING!
Cerita diciptakan untuk dinikmati juga dihargai. Apabila terdapat kesalahan pada penulisan dan penggambaran karakter, harap maklum ya guys.
Uchiha Sasuke x Yamanaka Ino
SUM:
Husband plus Boss. Yamanaka Ino, manager Divisi PR yang bertugas menyelesaikan masalah yang dibuat oleh bosnya, Uchiha Sasuke. Bos tempramen yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri. Ino berharap ia segera menemukan lelaki yang ia cintai dan mencintainya sehingga ia terbebas dari Sasuke.
.
.
.
Satu
.
.
.
"Aku Uchiha Sasuke di hadapan Tuhan, memilihmu Yamanaka Ino sebagai istriku dalam kekurangan dan kelebihanmu. Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu senang maupun susah, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
"Aku Yamanaka Ino di hadapan Tuhan, memilihmu Uchiha Sasuke sebagai suamiku dalam kekurangan dan kelebihanmu. Untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu senang maupun susah, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit. Untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita."
"Demikianlah pada hari ini, pernikahan kalian aku sah kan dalam nama Tuhan, sesuai dengan janji yang sudah kalian ucapkan dihadapan-Nya."
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Karena itulah terkadang mereka sombong dan egois. Tidak peduli dengan orang lain dan sekitarnya. Melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya meskipun sadar bahwa hal itu adalah salah. Termasuk apa yang barusan terjadi. Yamanaka Ino tahu, bahwa apa yang telah dilakukannya adalah salah. Apa yang telah dikatakan oleh mulutnya adalah salah. Mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan dan hamba-Nya yang sebenarnya tidak ingin ia ucapkan. Perasaan berdosa langsung melingkupi hatinya saat selesai mengucapkan janji itu. Tapi sepertinya ia pria didepannya ini tidak begitu. Ia tampak santai mengucapkan janji suci yang Ino yakini tidak sudi diucapkan olehnya. Pria yang baru saja memasangkan cincin di jari manisnya itu tampak tidak merasa berdosa setelah mengucapkan kebohongan bahkan dihadapan Tuhan.
"Mempelai pria, kau dipersilahkan mencium istrimu."
Pria itu mendekat, tangannya naik meraih dagu Ino dan mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya. Ciuman ini juga sebuah kebohongan kan? Ino bahkan sudah berbohong di hadapan Tuhan. Kebohongan-kebohongan selanjutnya seharunya lebih mudah kan? Ya, seharusnya begitu. Kalau Uchiha Sasuke saja bisa sesantai itu setelah berbohong pada yang kuasa, kenapa ia tidak bisa? Ia pasti bisa. Pernikahan penuh kepalsuan ini, ia harus bisa menjalaninya.
.
.
.
"Ino-senpai. TV X5 menyebarkan berita yang tidak-tidak tentang presdir. Wartawan sudah menelepon agar kita segera melakukan klarifikasi."
Ino memijat pangkal hidungnya. Stasiun Tv yang memiliki hubungan baik dengan perusahaan saingan Uchiha Corp itu berulah lagi. Apalagi kali ini?
"Apa yang mereka sebarkan kali ini? Wanita lagi?"
"Benar, senpai. Kali ini, Uchiha-sama tertangkap kamera memasuki sebuah hotel bersama dengan Mei Terumi. Aktris yang terkenal suka berhubungan dengan para pengusaha dan politikus."
X5 sialan! Kenapa mesti disaat mereka akan meluncurkan produk terbaru mereka? Tidak tidak. Shimura Corp hanya menyerang disaat yang tepat. Memang dasar presiden direktur perusahaan ini saja yang kelewat kurang ajar. Uchiha sialan! Ino hanya bisa memaki dalam hati.
"Apa kita akan mengadakan konferensi persnya? Saya akan menghubungi para wartawan dan anggota lainnya."
Moegi salah satu bawahannya itu kembali berbicara. Ino melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sekarang pukul dua belas siang. Siapkan konferensi persnya jam tiga sore ini. Aku akan menemui presdir untuk menanyakan tentang kejadian itu dan mencari solusinya. Terimakasih, Moegi."
"Baik, senpai."
Gadis berambut oranye kecoklatan itu undur diri dari hadapan Ino. Tanpa menunggu lama, Ino mengambil blazer hitamnya yang bersandar di bangku dan memakainya. Ia harus menemui Sasuke. Beraninya laki-laki itu menambah pekerjaannya. Ia bahkan belum makan siang.
Ruangan Sasuke berada di lantai tiga puluh gedung Uchiha Corp. Juugo, sekretaris Sasuke langsung menyambutnya.
"Aku ingin bertemu dengan Uchiha-sama."
"Baik," Juugo menelepon ke ruangan Sasuke dan memberitahu perihal kedatangan Ino pada atasan langsungnya itu.
"Langsung masuk saja, Ino-sama."
"Terimakasih. Sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu di sini, Juugo-san."
"Maaf, Yamanaka-san."
Ino meningalkan Juugo dan mengetuk pintu ruangan Sasuke sebanyak tiga kali untuk kemudian membuka pintu besar itu.
"Silahkan duduk, Yamanaka-san. Atau karena hanya kita berdua aku harus memanggilmu dengan sebutan 'istriku'? Aneh rasanya memanggilmu dengan sebutan Yamanaka padahal semua identitasmu sudah berubah menjadi Uchiha."
Uchiha Sasuke duduk di kursi kebesarannya. Ukiran nama dan jabatannya pada kayu jati nan mahal tampak cantik diatas meja kerjanya yang luas itu. Wajah tampan sarat kesombongan itu menyambut Ino. Jangan lupakan seringai khasnya yang muncul setelah pria itu mengucapkan kalimat terakhirnya barusan.
"Akan lebih baik kalau kau tetap memanggilku dengan marga ayahku. Kita tidak tahu kapan semua kata Uchiha pada berkas identitasku akan hilang atau malah berganti dengan marga lain. Aku berdiri saja."
Sasuke mendengus.
"Apa tujuanmu menemuiku. Mengajakku makan siang? Setelah enam bulan pernikahan konyol kita akhirnya kau mau mengajak suamimu ini makan siang?"
"Jangan mimpi. Langsung saja. Kalau hari ini kau sudah melihat berita? Fotomu dan Mei Terumi sudah tersebar luas di Televisi dan media sosial. Boleh aku tahu apa yang terjadi? Aku harus menyiapkan alasan yang logis dalam konferensi pers sore nanti."
"Tch! Jadi ada yang memotret ya? Sialan. Pasti ini semua kerjaan Danzo si tua bangka itu."
"Aku butuh penjelasanmu, Sasuke. Para wartawan harus ditenangkan agar peluncuran produk baru kita berjalan dengan lancar."
"Aku bertemu dengannya di klub yang biasa dan dia mengajakku singgah ke apartmennya. Tapi karena terlalu jauh, kami memutuskan untuk menginap di hotel itu. Kami menghabiskan malam yang panas disana." Seringai menyebalkan itu lagi-lagi muncul.
"Aku mengerti. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi, Uchiha-sama. Setidaknya jangan saat kita dengan peluncuran produk baru seperti saat ini."
"Kau tidak cemburu kan?" tanya Sasuke.
"Cemburu? Jangan konyol. Aku hanya tidak ingin kau menambah pekerjaanku akibat kelakuanmu yang merugikan perusahaan itu."
Sasuke menyeringai untuk yang ke sekian kalinya.
"Bukannya itu tugasmu sebagai Public Relation Manager? Menjaga nama baik perusahaan di mata publik?"
"Tentu saja ini memang tugasku. Tapi alangkah baiknya kalau kau tidak melakukannya di saat-saat seperti ini. Aku dan timku sedang repot menjalin hubungan dengan stasiun TV, majalah dan berbagai portal internet untuk kepentingan promosi. Jangan menambah pekerjaan kami dengan kelakuan brengsekmu, Uchiha Sasuke. Aku permisi."
"Sialan." Sasuke mendesis kesal.
.
.
.
"Akhirnya selesai juga. Kita bisa pulang dengan tenang." Moegi bersorak setelah selesai membereskan ruangan yang dijadikan ruang untuk konferensi pers.
"Benar sekali. Begitu konferensi pers selesai, reaksi publik kembali normal. Malah para netizen senang kalau ternyata presdir tidak berpacaran dengan Mei Terumi." Udon menyahut. Pemuda berkacamata itu baru saja membereskan kursi dibantu oleh para office boy.
"Tentu saja. Banyak fans dari presdir kita yang patah hati setelah berita ini tersebar. Meskipun suka marah-marah, presdir kita kan idola di dalam dan di luar perusahaan." Moegi menambahkan.
"Siapa yang tidak kagum pada Uchiha-sama? Kalau kebiasaannya yang suka marah-marah dan bermain wanita itu hilang dia akan jadi laki-laki paling sempurna di dunia ini. Dia hanya perlu wanita yang bisa mengubah kebiasaannya itu. Jatuh cinta. Hanya itu yang perlu di lakukan oleh Uchiha-sama."
"Udon. Kau terdengar seperti seorang pakar cinta. Tapi kau ada benarnya. Aku penasaran wanita seperti apa yang akan mendapatkan hati Uchiha-sama. Ino-senpai bagaimana menurutmu?"
"No coment."
"Ino-senpai selalu no coment tiap kita membahas presdir. Anda sebenci itu pada presdir karena dia suka menambah pekerjaan tim kita ya?"
"Wah, Moegi memang paling tahu diriku ya." Ino menyahut sambil tertawa.
"Kalian sudah bekerja keras. Terimakasih ya semuanya!"
Ino bersorak pada timnya dan juga office boy yang sudah membantu membereksan ruangan itu. Ia kemudian beranjak menuju ruangannya di lantai lima belas. Satu lantai khusus untuk Divisi PR. Ia sendiri sudah menjabat sebagai Manager Divisi itu sejak dua tahun yang lalu. Ia memulai semuanya dari bawah. Usaha ayahnya bangkrut saat Ino SMP sehingga mereka pindah ke Kyoto. Ayahnya membuka toko bangunan disana atas bantuan sahabatnya. Setelah lulus SMA, Ino memutuskan untuk kuliah sambil bekerja untuk membantu ayahnya melunasi hutang-hutangnya. Untungnya ia berhasil diterima di perusahaan Uchiha begitu lulus kuliah sehingga dalam waktu singkat, ia dan keluarganya berhasil melunasi hutang tersebut. Namun hal itu tidak membuat Ino berhenti bekerja keras. Ia selalu melakukan yang terbaik dalam setiap pekerjaannya sehingga berhasil dipromosikan menjadi Manager Divisi yang mengurusi masalah perusahaan yang berhubungan dengan publik dan intansi lainnya.
Sayangnya masalah persahabatan ayahnya dengan sahabatnya bukan hanya sebatas modal usaha. Mereka bahkan memiliki janji untuk menjodohkan anak mereka yang tak lain dan tak bukan adalah dirinya. Ino diminta pulang ke Kyoto untuk acara lamaran yang dalam hitungan hari berubah menjadi acara pernikahan. Yang membuat Ino kaget adalah kenyataan bahwa sahabat ayahnya adalah pemilik dari perusahaan tempat ia bekerja dan pria yang di jodohkan dengannya adalah pewaris sekaligus presiden direktur perusahaan itu.
Ino tidak ingin menerimanya. Ia tahu dengan jelas sifat dan kelakuan dari Uchiha Sasuke. Sudah tidak terhitung lagi banyaknya aksi pria itu yang harus Ino dan timnya selesaikan. Mulai dari masalah wanita, mabuk-mabukan hingga pemukulan terhadap orang lain akibat tempramennya yang buruk. Koreksi, sangat buruk.
Tetapi Sasuke malah menerimanya dengan senang hati. Akting sok baik di depan kedua orang tua Ino membuat ayah dan ibunya langsung jatuh hati pada Sasuke. Sayangnya saat mereka berdua saja, Sasuke menampakkan wujud aslinya. Pria itu ingin menikahinya hanya karena permintaan ayahnya. Keduanya pun memutuskan untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan syarat dan ketentuan yang berlaku bagi keduanya. Ino ingin pernikahan mereka digelar tertutup agar tidak ada yang mengetahuinya. Fugaku dan Mikoto tidak setuju, namun dengan alasan Ino sangat mencintai pekerjaannya dan masih ingin bekerja , mereka akhirnya bisa menerima. Namun mereka meminta Ino agar tidak berlama-lama bekerja. Mereka tinggal satu rumah, tidur di ranjang yang sama namun tidak boleh ada hubungan suami istri. Sebenarnya mereka ingin tidur di kamar yang berbeda karena kamar di rumah Sasuke juga lebih dari satu. Namun untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan seperti kedatangan mendadak orangtua Sasuke, mereka memutuskan untuk tidur di kamar dan ranjang yang sama.
Keduanya juga dibebaskan untuk menjalin hubungan dengan siapapun, baik secara tertutup maupun terbuka. Ino paling suka syarat ini. Sasuke dengan kelakuannya seharusnya bisa membuat pernikahan mereka segera berakhir dengan ia sebagai korban. Namun pria itu masih tetap mempertahankan pernikahan mereka dengan alasan belum siap mengabarkan pada ayah dan ibunya. Pria brengsek itu juga meminta Ino untuk segera mencari pria agar itu bisa menjadi alasan baginya untuk bercerai. Dasar lelaki kurang ajar, karena sibuk mengurusi perusahaan dan kelakuannya, Ino bahkan tidak sempat mencari pria dan jatuh cinta. Ponsel di mejanya bergetar, ada pesan masuk dari ibu mertuanya.
'Ino-chan, hari ini makan malam di rumah ya. Karena besok hari Minggu, kalian bisa sekalian menginap.'
.
.
.
Ino memarkirkan mobilnya di garasi. Sedan hitam Sasuke juga sudah ada disana pertanda pria itu sudah tiba di rumah lebih dulu. Dan benar saja, pria itu sudah ada di kamar sedang membuka dasinya berniat mandi. Enam bulan tinggal bersama membuat Ino tahu kebiasaan pria itu. Mandi adalah hal pertama yang selalu pria itu lakukan sepulang bekerja.
"Apa kau sudah menerima pesan dari Ibu?" tanya Ino seraya masuk ke walk in closet untuk meletakkan tas lalu keluar dari sana. Mereka memilih tinggal di perumahan modern di pinggir kota Tokyo sehingga jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Namun meskipun begitu masih ada akses bis dan taksi yang sampai ke sana. Ada sebuah walk in closet yang berhubungan langsung dengan kamar mereka. Ruangan luas itu berisi pakaian, sepatu serta segala aksesoris lainnya milik mereke berdua.
"Ibu? Ibuku atau ibumu?" tanya Sasuke. Atasannya sudah terbuka sempurna dan memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang bisa membuat kagum siapapun yang melihatnya. Kalau saja Ino tidak tahu sikap pria ini luar dalam, mungkin Ino sudah jatuh cinta pada Sasuke saat keluarga pria itu datang melamar.
"Ibumu."
"Aku tidak menerima pesan apapun. Ibu bilang apa?" tanya Sasuke lagi.
"Malam ini kita makan malam di sana. Mereka pasti ingin menanyakan perihal berita hari ini. Ibu juga menyuruh kita menginap."
"Hn. Aku mengerti. Kau tahu, ada satu hal lagi yang membuat aku semakin tidak menyukai pernikahan ini dan kau. Kasih sayang ibu dan ayahku kini berpindah padamu."
Ino mendengus.
"Hal yang sama berlaku padamu, Sasuke. Sejak menikah denganmu ayah dan ibuku tidak pernah lagi menanyakan kabarku. Yang selalu di tanyakan malah kau."
Sasuke terkekeh.
"Bagus kalau begitu. Setidaknya kau juga merasakan apa yang aku rasakan. Mau mandi bersama?" Sasuke menyeringai.
"Dalam mimpimu."
Sasuke terkekeh lagi. Kemudian ia mengambil pakaian kotornya dan membawanya ke kamar mandi untuk di letakkan pada keranjang pakaian kotor. Mungkin satu-satunya yang Ino sukai dari Sasuke adalah kecintaan pria itu pada kebersihan dan kerapian. Pria itu tidak pernah meletakkan barang-barangnya sembarangan dan itu membuat kamar mereka selalu rapih. Ino menyukainya, karena ia juga demikian. Mereka tidak menggunakan jasa pelayan atau pembantu atas permintaan Ino. Rumah Sasuke memang besar, tapi tidak sebesar itu hingga harus membuat Ino banting tulang membersihkannya. Namun karena Mikoto tidak ingin menantunya bekerja keras mengurus rumah, nyonya besar Uchiha itu meminta beberapa pelayan untuk datang seminggu sekali untuk membersihkan rumah dan mengurus cucian.
Mereka tiba di kediaman Uchiha pada pukul tujuh tepat. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan layaknya pasangan romantis lainnya yang belum lama menikah. Ino mengenakan dress berwarna peach sedangkan Sasuke hanya mengenakan kemeja hitam berlengan panjang dengan celana senada. Ini memang hanya makan malam keluarga. Tapi dalam keluarga Uchiha yang kelewat kaya raya, makan malam harus selalu terkesan formal.
Mikoto menyambut mereka dan memeluk Ino erat namun tidak dengan Sasuke. Mungkin ini yang membuat Sasuke merasa kasih sayang ibu dan ayahnya telah berpindah padanya. Seperti Sasuke yang selalu tampak baik di depan keluarga Yamanaka, Ino juga melakukan hal yang sama. Namun yang membuat berbeda dengan Sasuke adalah Ino tulus melakukannya. Ia bahkan bisa mencuri hati ayah mertuanya yang kelewat dingin dan selalu cuek.
"Kalian sudah datang?" Fugaku ikut menyambut mereka di pintu depan. Ino langsung menghampiri pria itu dan memeluknya.
"Ayah apa kabar?"
"Baik. Bagaimana dengamu, nak?"
"Aku baik, ayah."
"Ayo, kita langsung ke meja makan saja."
Makanan mewah sudah tersedia di meja makan. Ino heran kenapa setiap keluarga kaya harus menyiapkan banyak makanan di atas meja ketika mereka tidak menghabiskan bahkan setengah dari makanan itu. Makan malam dimulai dan diakhiri dalam kesunyian. Ino benci ini, namun ia harus tetap mengikuti tradisi keluarga Uchiha. Selesai makan malam mereka masih duduk ditempatnya dan menikmati makanan penutup.
"Aku sudah melihat berita hari ini. Aku harap kau tidak mengulanginya lagi, Sasuke."
Sasuke hanya diam. Ia sudah menduga hal ini memang. Tapi mendengar ayahnya mengatakannya masih membuat emosi Sasuke naik.
"Ini hanya salah paham, ayah. Sasuke-kun hanya membantu Terumi-san yang sedang mabuk." Ino menyahuti ucapan ayahnya dengan nada lembut.
"Tapi tetap saja ini salah."
"Sebenarnya aku juga ada di sana saat itu, ayah. Manager Terumi-san sudah menunggu di hotel itu. Aku sendiri menunggu di mobil. Sasuke-kun juga langsung keluar begitu mengantarkan Terumi-san."
Ino memberikan alasan. Tentu saja mertuanya tidak boleh tahu kebobrokan anaknya itu.
"Baguslah kalau memang begitu. Kau harus menjauhi hal-hal seperti itu Sasuke. Ingat kau adalah satu-satunya pewaris perusahaan Uchiha. Kau harus menjaga nama baik keluarga kita di depan khalayak ramai."
"Hn. Aku mengerti." Sasuke menyahut dingin.
'Satu-satunya?' Ia mendecih.
"Kapan kalian akan mengumumkan pernikahan kalian? Ini sudah berjalan setengah tahun loh." Mikoto bertanya. Raut sedih menghiasi wajahnya.
"Tenang saja ibu, kami akan mengumumkannya kalau kami sudah siap. Aku ingin bekerja sedikit lebih lama." Ino beralasan. Kakinya menendang pelan kaki Sasuke meminta bantuan.
"Ino benar, ibu. Ino beserta timnya sedang sibuk-sibuknya sejak peluncuran produk baru kita." Sasuke menambahkan.
"Ibu hanya tidak ingin kau bekerja terlalu keras, Ino-chan. Kapan kami menimang cucu kalau begini terus?"
"Ibu yang sabar ya. Nanti kalau semua masalah beres, aku akan memberikan cucu yang banyak untuk ayah dan ibu." Ino menampilkan wajah cerianya. Dengusan kecil Sasuke terdengar di sebelahnya.
"Janji ya sayang."
"Iya bu," Ino tersenyum meyakinkan. Kenapa harus tidak yakin? Dihadapan Tuhan saja ia sudah berjanji dan berbohong. Dan Ino tidak sepenuhnya berbohong. Bisa saja kan, ia nanti menemukan lelaki yang mencintainya dan menikah dengan laki-laki itu kemudian melahirkan banyak anak. Meskipun sudah bukan istri Sasuke, Mikoto pasti mau mengangap anak-anaknya nanti sebagai cucu. Ya, Ino sangat mengharapkan itu benar-benar terjadi.
Selesai makan malam dan bercengkerama dengan ayah dan ibu mertuanya, Ino dan Sasuke naik ke lantai dua dimana kamar lama Sasuke berada. Sasuke langsung menjatuhkan dirinya di tempat tidur. Ino memilih duduk di meja rias untuk membuka segara aksesoris dan tatanan rambutnya.
"Cucu yang banyak, eh? Konyol sekali." Sasuke berujar.
"Ya, konyol sekali. Cepatlah cari wanita yang bisa melahirkan cucu yang banyak untuk ibumu dan segera ceraikan aku."
"Seandainya semuanya semudah itu, sayang. Ayahku bisa mendepakku dari kartu keluarga kalau aku menceraikanmu karena wanita lain. Kenapa tidak kau saja yang mencari pria lain dan meminta cerai padaku?"
Sasuke berbaring menyamping dengan tangan sebagai penopang kepalanya. Kalau wanita lain mungkin sudah jatuh sejatuh-jatuhnya melihat pose seksi Sasuke. Sayangnya Ino bukan satu dari antara wanita-wanita itu.
"Benar juga. Kau mana mungkin mau jadi gelandangan kalau di depak dari Uchiha. Kau kan secinta itu dengan kekayaan dan warisan yang akan kau terima."
"Kau mulai mengerti diriku, eh?" Sasuke menyeringai. Ino sudah terbiasa dengan seringai jahat itu.
"Kalau saja kau sedikit berubah dan tidak menyusahkanku dan timku, aku akan punya waktu untuk mencari pria lain."
"Sayang sekali ya. Baiklah, aku akan bersikap baik dan tidak menyusahkan Divisi PR lagi."
Ino berpaling dari cermin untuk memandang Sasuke. Kapas yang sudah di basahi oleh make up remover masih bertengger di tangannya. Tidak mungkin pria itu mau berubah agar ia bisa punya waktu mencari pria lain kan?
"Tapi aku tidak janji." Sasuke menambahkan kalimatnya lengkap dengan seringaian andalannya.
Benar kan? Uchiha Sasuke yang berubah jadi lebih baik adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Ino yang sudah selesai membersihkan wajahnya dari sapuan makeup bangkit dari duduknya untuk mengambil piyamanya di lemari. Beberapa pakaiannya termasuk piyama memang ada di lemari Sasuke. Ino ingin berganti ke kamar mandi. Saat melewati ranjang, tangannya di tarik oleh Sasuke hingga ia terjatuh ke tempat tidur. Pria itu menindihnya namun tidak sampai menekan tubuhnya. Jarak wajah pria itu hanya sepuluh senti dari wajahnya. Ino bisa melihat dengan jelas mata hitam Sasuke yang sekelam malam.
"Atau... bagaimana kalau sekarang kita mulai saja proses pembuatan cucu untuk ibuku? Kau tahu aku ahlinya kan, Uchiha Ino?" Sasuke semakin mendekatkan wajahnya. Ino tidak gentar. Ini bukan apa-apa. Jemari lentik Ino naik membelai wajah Sasuke mulai dari pelipis itu sampai ke rahang pria itu. Apa yang Ino lakukan membuat gerakan Sasuke terhenti.
"Boleh saja. Tapi setelah itu lepaskan nama Uchiha dari namaku ya," ujar Ino dengan nada menggoda.
"Ceraikan aku." Ino menambahkan dengan nada dingin. Kemudian ia mendorong Sasuke ke samping. Ino mengeluarkan dengusan kecilnya sebelum bangkit untuk mengganti bajunya ke kamar mandi. Meninggalkan Sasuke yang masih di tempatnya, terlentang memandang langit-langit kamar yang entah kenapa terlihat seperti sedang menertawainya.
.
.
.
Senin pagi di kediaman Uchiha Sasuke. Hujan mengguyur kota Tokyo, atau setidaknya daerah perumahan mereka. Ino sedang memindahkan nasi goreng dari wajan ke atas dua buah piring. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Meskipun tidak menyukai pernikahan itu dan juga tidak menyukai Sasuke, Ino tetap melakukan pekerjaannya sebagai seorang istri. Ia memasak sarapan dan juga membersihkan rumah. Meskipun di hari Jumat orang suruhan mertuanya akan datang untuk membersihkan rumah dan juga mencuci pakaian, Ino tetap melakukan apa yang bisa dilakukannya. Ia sudah mandi, namun ia masih mengenakan gaun tidurnya. Sasuke masih tidur. Pria itu datang dan pergi ke kantor sesuka hatinya. Terkadang pagi-pagi sekali, terkadang malah datang menjelang makan siang. Ino tidak peduli dengan itu semua.
Mereka pulang dari kediaman Uchiha pada Minggu siang. Setelah mengantarnya, Sasuke langsung pergi entah kemana dan pulang menjelang tengah malam. Mood pria itu jelek sejak pulang dari rumah orang tuanya dan Ino tidak tahu kenapa. Sekali lagi, Ino tidak peduli dengan itu semua.
Selesai memasak dan membuat kopi untuk Uchiha Sasuke dan susu rendah lemak untuknya, Ino beranjak ke kamar untuk bersiap pergi ke kantor. Sasuke tidak ada di tempat tidur. Suara shower yang terdengar menandakan Sasuke sedang mandi. Ino menyimpulkan bahwa Sasuke akan berangkat pagi hari ini. Setelah membereskan tempat tidur, Ino berganti baju di walk in closet. Hari ini ia mengenakan setelan rok dan blazer berwarna putih dengan kemeja berwarna biru. Karena panjang rok yang tiga perempat pahanya, Ino memilih mengenakan stocking berwana hitam. Meskipun begitu, stocking tipis itu tidak bisa menyambunyikan kaki jenjang Ino yang indah.
Selesai berpakaian ia duduk di meja rias untuk menyapukan sedikit make up pada wajahnya. Ino sedang memoleskan maskara pada bulu mata lentiknya ketika Sasuke keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkari pinggangnya. Pria itu melangkah ke walk in closet. Sasuke keluar tak lama kemudian dengan mengenakan celana abu-abu dan kemeja hitam. Jas abu-abu serta dasi senada miliknya tersampir di tangan pria itu. Ino sendiri sudah selesai memoles lipstik berwarna nude di bibirnya. Mengambil tas kerjanya, Ino turun ke dapur di ikuti oleh Sasuke dibelakangnya.
"Kecuali urusan ranjang, kau benar-benar istri yang baik." Sasuke meletakkan jas dan dasinya pada bangku disebelahnya, kemudian menyesap kopi yang sudah Ino buatkan.
"Terimakasih atas pujiannya." Ino menyahut dan memulai memakan sarapannya.
"Aku sedang menyindir, nyonya."
"Aku juga begitu, tuan."
Sasuke mendengus, kemudian ia juga mulai makan. Harus Sasuke akui, masakan Ino tidak kalah dengan restoran manapun di kota Tokyo. Mulutnya juga tidak kalah dengan cabe terpedas di dunia. Setiap kali Ino membalas ucapannya dengan nada sinis yang sama sepertinya, Sasuke ingin sekali membungkam mulut cantik itu. Dengan bibirnya tentu saja. Wanita itu benar-benar luar biasa. Enam bulan pernikahan mereka, tidak pernah sekalipun wanita itu telak dengan ucapannya. Selalu saja ada balasan yang bahkan tidak bisa Sasuke balas kembali.
"Aku berangkat. Jangan lupa kunci pintu garasi." Ino menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu. Pintu garasi yang dimaksud Ino adalah pintu yang menghubungkan dapur rumah mereka dengan garasi. Karena hujan deras, mereka tidak bisa mengambil mobil lewat pintu garasi depan. Ino mengeluarkan mobilnya dengan mudah dan meninggalkan kediaman mereka untuk berangkat kerja. Sasuke sendiri melakukan hal yang sama. Hujan ternyata lebih lebat dari perkiraannya. Ia bisa melihat mobil putih Ino berjalan lambat ditengah hujan. Sasuke menyeringai, mereka sangat bertolak belakang. Mobil hitam Sasuke melaju kencang melewati Ino dan dengan sengaja membunyikan klakson dengan panjang seolah mengejek Ino.
"Rasakan," Sasuke tersenyum mengejek –meskipun Ino tidak bisa melihatnya— dan melanjutkan perjalanannya dengan lancar. Menyetir di tengah hujan bukanlah masalah baginya. Mobilnya juga keluaran terbaru sehingga mudah saja baginya melihat jalan meskipun hujan deras membuat pagi itu tampak seperti malam.
.
.
.
Hujan masih turun dengan lebat selebat-lebatnya saat Sasuke kembali ke kantor. Ia baru saja bertemu dengan utusan Sabaku Corp untuk membicarakan hal terkait kerja sama mereka. Belum ada keputusan, mereka hanya membicarakan tentang gambaran kasar proyek yang mereka kerjakan. Payung besar Juugo memayunginya sampai ke pintu masuk lobi. Setelah itu, ia berjalan sendirian menuju ruangan sementara Juuga mengurus mobil dan payung yang tadi digunakannya.
Pintu berhenti di lantai lima belas, seorang staff berambut oranye masuk ke dalam lift bersama staff lelaki berkacamata. Si staff wanita yang sedan bertelepon itu memelankan suaranya begitu masuk ke dalam lift dan menyadari bahwa Sasuke di sana. Wanita itu membungkuk singkat pada Sasuke dan melanjutkan obrolannya di telpon.
"Ini kami sedang di lift menuju ruangan personalia untuk mengurus absenmu, senpai. Jadi tenang saja. Setelah mobilnya di perbaiki senpai pulang saja dan beristirahat. Baik, tenang saja. Aku akan menghandle tim."
Si wanita menyudahi acara teleponnya dan menyimpan benda itu ke saku blazernya.
"Ada apa?" Lelaki berkacamata bertanya.
"Mobil Ino-senpai mogok ditengah hujan. Karena harus meminta bantuan, dia keluar dan basah kuyup."
"Jadi Ino senpai tidak datang hari ini?"
"Begitulah. Mau bagaimana lagi, suaranya saja sudah serak begitu. Nanti dia memaksakan diri ke kantor malah semakin parah."
Sepasang staff yang akhirnya Sasuke ketahui merupakan bagian PR keluar di lantai sembilan belas dimana bagian HRD dan Personalia berada setelah membungkuk sekali lagi pada Sasuke. Mobil Ino mogok dan wanita itu kehujanan?
'Rasakan. Makanya jangan suka memancing emosiku. Alam saja berpihak padaku dan membalasmu kan?' Sasuke menyeringai mendengar berita Ino yang kehujanan serta mobil wanita itu yang mogok. Apa Sasuke sudah pernah bilang kalau segala tentang Ino bisa memancing jiwa kekanak-kanakannya keluar?
.
.
.
Karena sudah datang ke kantor pagi-pagi, tentu saja Sasuke tidak mau rugi dengan pulang tepat waktu, apalagi lembur. Waktu masih menunjukkan pukul setengah empat sore ketika Sasuke memilih pulang. Juugo sang sekretaris juga disuruhnya pulang untuk istirahat karena mereka sudah bekerja sejak pagi. Tentu saja Juugo sangat senang. Sasuke bukanlah tipe presdir yang suka lembur agar pekerjaannya selesai. Meskipun terkadang ia melakukannya kalau situasinya urgent dan sangat membutuhkan dirinya.
Hujan lebat berubah jadi gerimis. Langit juga sudah tidak segelap tadi. Sasuke sampai di rumah dan mendapati mobil Ino ada di depan pintu garasi alias tidak di masukkan. Selain itu, Ino memarkirnya mobilnya secara melintang sehingga menghalangi mobil Sasuke untuk masuk ke garasi. Sasuke menyeringai. Kali ini Ino benar-benar salah dan wanita itu pasti tidak bisa lagi membalas perkataan dan amarahnya nanti.
Dengan percaya diri dan amarah yang sudah di atur sedemikian rupa, Sasuke masuk ke dalam rumah. Ino tidak terlihat di lantai bawah dan dapur, berarti wanita itu ada di kamar. Sasuke masuk ke kamar dan benar saja, Ino berbaring di kasur dengan piyama putih dengan pola abstrak berwarna hitam. Selimut membungkus tubuh mungil itu hingga hanya kepala Ino yang terlihat.
"Yamanaka! Bangun! Kau tahu apa yang sudah kau lakukan?"
Mata Ino terbuka. Ia melihat Sasuke dengan mata birunya yang tampak sayu karena baru bangun tidur. Perlahan ia mendudukkan dirinya.
"Ada apa?" tanya Ino lemah. Benar juga apa kata staff PR wanita tadi. Suara Ino serak seperti orang sakit.
"Kau memarkirkan mobil melintang di depan pintu garasi. Kau pikir bagaimana aku akan memasukkan mobilku ke garasi kalau begitu? Cepat perbaiki!"
Ino menghela nafas, turun dari ranjang dan mengambil kunci mobil di atas nakas yang ada di samping tempat tidur, kemudian melangkah melewati Sasuke. Baru beberapa langkah ia lewati ketika pandanannya memburam seiring dengan denyutan di kepalanya yang semakin menjadi.
BRUK!
"Ino!?"
.
.
.
TBC
.
.
.
JEJEJENG! Ini dia gaess. SasuIno multichap pertama aku. Mungkin temanya agak klise dan terlalu biasa. Tapi percayalah, ini akan berbeda dari cerita perjodohan kebanyakan. Rate M buat amannya. Kedepannya kita lihat aja. Fufufu. Untuk oneshot Tenten Darui, pada ga sabar yaa? Hehehe.. Sabar yaa...
Oh iyaaa, Selamat Tahun Baru Imlek buat teman-teman yang merayakannya... GongXi GongXi...
Mohon dukungan dan sarannya lewat ripiu yaa teman-teman sekalian.
Salam
Yana Kim ^_^
