Delapan pemuda tampan dengan seragam Slytherin itu duduk melingkar saling berhadapan. Tujuh darinya menatap pada satu pemuda lain yang tampak mendominasi pertemuan itu.

"Aku tau gadis mudblood itu dari masa depan. Tadi pagi aku mendengar pembicaraannya dengan Dumbledore, dan dia berbicara tentang perang dan horcrux", pemuda lain bersurai platina tampak berbicara dengan mimik serius.

Tom Riddle, pemuda yang menyandang status penyihir tercerdas di Hogwarts itu tampak berpikir sambil memainkan tongkatnya, membuat siapa saja yang melihat itu tampak waspada.

Jika memang benar apa yang dikatakan Malfoy padanya tentang si mudblood baru, maka dia saat ini membawa informasi tentang masa depannya. Ia membutuhkan itu, ia ingin tau seperti apa perang yang terjadi karenanya.

Ke tujuh wizard pureblood menunduk, menunggu sang pemimpin untuk memberikan perintah.

"Aku tau apa yang harus dilakukan—", Tom menatap Avery, menyeringai lalu melanjutkan lagi kalimat nya, "—Avery, aku membutuhkan bantuan mu. Dari semua teman temanku, kau yang paling ahli dalam hal ini. Aku ingin kau menyiapkan amortentia untuknya, berikan pada mudblood kotor itu, lalu setelah itu tugasmu adalah membuatnya terobsesi padamu dan korek informasi dari nya sebanyak mungkin", rencana brilian, pikir Tom.

Semua nya tampak menyeringai akan ide dari pemimpin mereka. Avery mengangguk, "Baiklah, aku akan menunjukkan padanya cara bermain yang benar", ujarnya.

.

Hermione menatap langit langit dengan manik berkaca kaca. Sudah satu minggu berlalu, dan dia masih berada disini.

Salah satu kamar di asrama Slytherin.

Hell, dia terjebak di masa lalu karena kutukan avada dan locket Slytherin yang ia genggam, niat awalnya ia akan menghancurkan locket itu, tapi Ron tak sengaja menggumamkan kata taboo yang langsung membuat sekumpulan death eater datang menyerang mereka. Naas nya saat itu juga Hermione terlempar kutukan avada dari Gaston Avery.

Ia tak tau kenapa bisa berakhir di masa lalu, apa karena locket yang ia bawa?

Dan kenapa dari empat asrama di Hogwarts, dia harus berada di kumpulan para ular.

"Granger.. apa kau akan makan malam sekarang?", teman barunya, Bianca Peregrine, dengan sedikit sinis menyembulkan kepalanya di pintu kamar, menatap Hermione yang sedang berebah.

Perempuan cantik diatas ranjang itu menoleh, "Aku akan menyusul nanti", jawabnya. Ia seketika bangkit, mengambil handuk mandinya dan berjalan menuju kamar mandi.

Setelah berada dikamar mandi, ia membersihkan dirinya sedikit lebih lama dari biasanya, berendam dibak mandi penuh busa dengan wewangian yang mampu menenangkan tubuh, lalu membersihkan rambutnya dengan shampoo dengan wangi buah dan berjalan keluar kamar mandi setelah menyelesaikan semuanya.

Ia membawa kantung berisi peralatan mandinya dengan tangan kiri, lalu menutup pintu dengan tangan kanan.

Saat ia berbalik, ia terperanjat hingga kantungnya terjatuh dan barang nya berserakan dilantai. Manik hazelnya membelalak terkejut saat menatap pemuda tampan dengan senyum manis didepannya yang entah datang dari mana.

Tangannya meremas erat handuk yang melilit pada tubuhnya, mencoba untuk menutupi bagian tubuhnya dari pandangan nakal pemuda didepannya.

"Apa yang kau lakukan disini Avery", ya, pemuda yang kini berdiri menjulang dihadapan Hermione adalah Clarence Avery atau biasa dipanggil Emlyn, pureblood tampan dengan senyuman nakal yang mampu membuat perempuan panas dingin karena melihatnya.

Hermione menunduk, ingin merapikan barang barangnya yang berserakan, tapi mengingat ia hanya dililiti handuk tipis, ia hanya mampu berdiri menunggu, jelas saja tak ingin Avery bertambah kesenangan dengan melihatnya menunduk tanpa pakaian.

"Bagaimana kau bisa sampai disini? murid laki laki tentu tak bisa berada disini", ujar Hermione lagi.

Avery menyeringai, menatap tubuh Hermione dengan senang hati, lalu ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah meja yang berada disisi kiri nya, "Tentu aku bisa, aku adalah Avery. Dan aku hanya ingin menjemputmu. Bianca mengatakan padaku bahwa kau masih di kamarmu", jawabnya.

Hermione menatap itu dengan sangat curiga. Selama yang ia tau, semua Slytherin adalah pembenci kaum muggleborn, tapi kenapa pemuda yang ia ketahui adalah anak buah Tom Riddle ini malah mau saja memanggilnya untuk makan malam bersama.

"Kau bisa pergi dulu. Aku akan memakai pakaian ku", ujarnya.

Tapi Avery tampak diam menatap Hermione tanpa berkedip. Sedikit menyeringai disudut bibirnya.

Hermione memutar bola matanya malas, "Apa yang kau tunggu, Avery. Pergilah", perintah perempuan itu.

Avery mengangguk saja, tapi ia malah berjalan menuju Hermione, sehingga perempuan itu tampak panik dan semakin mengeratkan pegangannya pada handuknya.

Pemuda itu berdiri sangat dekat, sehingga ia bisa mencium aroma tubuh Hermione yang menggiurkan. Ia sedikit menggerang lalu menatap pada manik hazel perempuan itu, "Maafkan aku karena tidak sopan, Hermione, tapi aku ingin melakukan ini—", tanpa kata, Avery menundukkan wajahnya, mengecup rahang Hermione.

Perempuan itu membeku ditempatnya, merasakan bibir panas pemuda itu walau hanya beberapa detik, itu terasa menyengat tapi mampu membuatnya hilang kendali.

Avery tersenyum manis sekali lalu mengacak rambut lembab Hermione dan berjalan menjauh, "Jangan lupa aku menunggumu dibawah", ujarnya.

.

Avery melirik Hermione yang berjalan disebelahnya. Pemuda itu menipiskan bibirnya dan kembali menatap depan.

Selama perjalanan menuju aula besar, keduanya hanya diam seperti ini. Dengan Avery yang sesekali melirik Hermione yang tampak melamun entah apa.

Memasuki aula besar, mereka berdua disuguhi banyaknya murid yang telah duduk di meja asrama nya masing-masing. Avery tanpa kata langsung duduk ditempat biasanya, bersama para sahabat nya dan tentu saja Tom Riddle yang menjadi sang pemimpin.

Hermione hendak berjalan ke sudut tempat duduk untuk menghindari penghinaan seperti terakhir kali ia duduk berkumpul dengan pureblood elit itu.

Tapi lengannya ditarik oleh seseorang dan Hermione mendapati Elio Lestrange tersenyum padanya, "Mau pergi kemana Hermione? kau bisa duduk disini bersama kami", ujar pemuda itu yang langsung diangguki oleh beberapa temannya termasuk Tom.

Dengan kata kata yang dilontarkan oleh Elio, banyak murid murid perempuan langsung memberikan tatapan maut padanya, yang tentu saja membuat perempuan itu mendengus dengan kesal.

"Maaf, tapi—",

"Tidak perlu minta maaf, Hermione, duduklah bersama kami", kali ini Evan Rosier menyeret lengan kiri Hermione sehingga perempuan itu tak mampu untuk menolak dan langsung mendudukkan dirinya tepat diantara Evan dan Arsenio Nott.

Perempuan itu jelas merasa tak nyaman. Ia sungguh curiga dengan tingkah para pemuda itu yang jelas berubah seratus delapan puluh derajat padanya.

Hell, kemarin mereka masih mengejeknya bahkan Abraxas Malfoy hendak mengutuknya jika saja Professor Dumbledore tidak memergoki mereka.

Dan tiga hari lalu Tom bahkan mengancam Hermione.

Hermione melirik dengan mata tajam pada mereka yang tampak bercengkrama seperti biasanya. Lalu pandangan nya tertuju pada Tom Riddle yang menyesap teh nya dengan tenang.

Merasa diperhatikan, Tom lantas mendongkak hingga kini manik mereka bertemu.

Tom mengangkat alisnya saat mendapati Hermione menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Tapi pemuda itu tampak lebih tenang dan malah tersenyum sopan padanya.

"Sialan, dia benar benar bermuka dua", gumam Hermione tanpa sadar.

Membuat ketujuh pemuda yang seperti nya mendengar perkataan nya tadi lantas mendongkak untuk menatap nya. Merasa ditatap oleh para pemuda itu, Hermione hanya menipiskan bibirnya canggung dan memilih melanjutkan makan malamnya.

Tom melihat itu dengan seringai nya.

Sedangkan Avery, dia hanya mengangkat alisnya dengan tatapan tak peduli.

.

Dua hari kemudian.

Hermione telah bersiap siap untuk pergi ke pesta Slug Club. Niatnya hari ini ia akan datang dengan salah satu murid Ravenclaw, yaitu Arthur Corner, mungkin salah satu kerabat Michael Corner, temannya dimasa depan, namun setelah itu Charlus Potter tiba-tiba datang dan menculiknya dari Arthur.

Setelah lama mempersiapkan diri dan bercermin, akhirnya Hermione selesai dengan semua persiapannya. Memakai gaun berwarna biru laut yang tampak cerah di kulitnya, lalu sebuah kalung berlian yang diberikan Charlus padanya. Gadis itu sebenarnya tak mau jika memakai pemberian Charlus yang menurut nya sangat berlebihan ini. Tapi pemuda itu bersikukuh dan memohon padanya.

Hermione menatap pantulan dirinya dicermin sekali lagi. Penampilan nya tak terlalu mencolok seperti perempuan pureblood lainnya yang rela berdandan berjam-jam untuk pesta yang hanya berlangsung tak lebih dari empat jam ini.

Wajahnya hanya dipoles dengan riasan tipis dengan lipstik berwarna natural peach. Rambutnya ia sanggul rapi dengan beberapa anak rambut yang jatuh menuruni lehernya. Hermione tak mau repot repot dengan semua urusan riasan yang menurutnya sangat tak berguna itu.

Ia berjalan keluar kamarnya dan mendapati Dorea Black sedang bergandengan dengan salah satu musuh nya yaitu Elio Lestrange.

Perempuan itu tampak cantik dan sangat anggun, khas kaum pureblood.

Hermione tak menghiraukan kedua orang itu. Ia melangkah cepat ke luar asrama yang tampaknya Charlus telah datang untuk menjemput nya.

Pemuda itu sama seperti biasanya, tampak tampan dengan rambut hitam legam. Hermione pikir Potter akan memakai kacamata seperti yang ia ketahui dikehidupan lamanya. Harry dan ayahnya memakai kacamata, tapi ternyata tidak semua Potter menggunakan nya.

"Sangat cantik Hermione, sangat sempurna", Charlus mengecup punggung tangan gadis itu dengan lembut disertai kedipan matanya.

Hermione tak tau jika salah satu Potter akan begitu menggoda seperti ini.

Avery berdiri di sudut pesta. Memperhatikan gadis yang akan menjadi incarannya tengah asik berdansa dan tersenyum dengan musuh asramanya Charlus Potter. Gadis itu beberapa kali dilirik oleh para tamu undangan Professor Slughorn karena ia tak bisa berbohong bahwa malam ini gadis itu benar benar menawan dan tampak cantik. Sangat sempurna.

Pemuda itu tanpa sadar menggeram dengan decakan sebelum tiba tiba Lestrange dan Mulciber menghampiri nya, sama sama menatap pada objek yang sama.

"Malam ini waktu yang tepat Emlyn. Kau harus menyiapkannya", ujar Lestrange dengan seringai seperti biasanya.

Avery menunjukkan segelas wine pada kedua temannya itu, dengan wajah seriusnya, "Tentu saja. Amortentia sudah siap disini", ia menggoyangkan gelas itu pelan

"Bagus sekali", mereka bertiga tertawa pelan kemudian.

Lestrange menyandarkan pinggangnya di pinggiran meja, sibuk menatap Hermione yang kini berpindah tangan pada Arthur Corner. Maniknya tak bisa lepas sedari tadi pada penyihir muggleborn itu. Jujur saja, dia adalah perempuan yang menarik. Begitu pemberani, pintar dan kuat. Seharusnya ia diurutkan ke Gryffindor jika memiliki sifat yang seperti itu, kenapa malah berakhir di Slytherin.

Apalagi Slytherin bukan tempat untuk penyihir muggleborn seperti nya.

Lestrange sedikit terpana saat melihat Hermione tak henti henti nya tersenyum manis memperlihatkan wajah cantik dan anggunnya malam ini. Well, dia tertarik, seperti nya.

Avery melirik pada Lestrange, memperhatikan temannya itu yang tampak tertarik juga pada penyihir muggleborn. Ia mendengus, "Jaga pandangan mu Lestrange, dia milikku", ujarnya tak sadar dengan penuh ancaman.

Membuat Lestrange dan Mulciber menoleh, langsung tertawa melihat wajah Avery yang begitu serius.

"Tentu saja dia milikmu Avery. Tapi hanya untuk beberapa hari kedepan. Setelah dia keluar dari pengaruh Amortentia, dia akan bermain denganku. Mungkin kau bisa bergabung Nicholas", tawarnya pada Mulciber yang langsung dibalas dengan tawa nya, menyeringai dan mengangguk saja.

.

Tom duduk bersama Professor Slughorn dan beberapa temannya. Pemuda tampan itu sedari tadi tak henti henti nya menahan dengusan keras saat mendengar Slughorn memamerkannya pada teman penyihir tuanya. Slughorn terkadang juga membicarakan gadis pindahan muggleborn yang saat ini tengah menjadi hangat diperbincangkan beberapa lelaki dipesta itu.

"Hermione dan Tom adalah muridku yang paling pintar dan cerah. Mereka sangat serasi, ya kan Tom", ujar penyihir tua itu sambil melirik Hermione yang masih sibuk berbincang dengan Charlus Potter.

Tom mengangguk saja mengiyakan. Kini tatapannya melihat pada Avery yang mulai mendekati Hermione, mengulurkan tangannya dengan harapan bisa berdansa bersama. Ia menipiskan bibirnya, melihat pengikut setia nya itu kini merengkuh erat pinggang gadis mudblood.

Ia bisa melihat bahwa Hermione merasa sedikit tak nyaman dengan tatapan Avery yang sedari tadi tak henti hentinya menggoda dan berujar dengan mulut berbisa bak player kelas kakap.

Entah kenapa tubuh pemuda itu menengang saat melihat Avery mencium sudut bibir Hermione. Ia sebisa mungkin menyangkal emosi yang seperti nya ia kenali betul apa itu.

Tom Riddle tidak pernah cemburu.

Sialan, tapi ini sangat mengganggu. Sejak kapan dia mulai seperti ini. Tom tak pernah tertarik padanya.

Atau jangan jangan ia sudah melakukannya setelah dengan berani nya penyihir mudblood itu mengalahkan nya di kelas duel. Dengan melemparkan sebuah mantra yang tak ia ketahui.

Memang benar, Tom beberapa hari ini memperhatikan gadis itu tanpa sadar. Menatap nya saat gadis itu selalu duduk di meja makan Gryffindor dengan teman barunya yang idiot. Lalu selalu menemukannya tertidur di meja perpustakaan, dan beberapa hari ini para pengikut nya juga mulai menggodanya. Well, sebenarnya Tom juga ikut andil dalam hal menggoda gadis itu, hanya untuk menyempurnakan rencana nya.

Tom sedikit terbawa suasana. Tentu saja, ia tak mungkin tertarik begitu cepat pada seorang gadis, apalagi mudblood seperti nya. Tom tak pernah merasakan hal seperti ini pada siapapun.

Lord Voldemort tak boleh kalah oleh sebuah emosi bodoh seperti kata cinta.

.

Remasan lembut pada pinggang nya membuat Hermione sedikit merasa aneh. Selama berdansa dengan Charlus atau Arthur, gadis itu tak merasakan hawa aneh semacam ini. Semua nya baik baik saja, hanya saja perlakuan Avery padanya kali ini benar-benar membuat nya bingung.

Saat tangan Avery mulai merambat naik dari pinggang menuju area payudaranya, Hermione dengan kesal memberinya pelototan dan akhirnya pemuda itu hanya nyengir tak merasa bersalah.

Pemuda itu terkadang mengecup pipinya tiba-tiba dan berakhir dengan tersenyum manis padanya. Itu semua aneh baginya.

Kenapa semua Slytherin bersikap baik padanya. Bukankah ini aneh sekali?

Beberapa hari ini bahkan Evan Rosier dengan baik hatinya mau saja membawakan tas nya selama perjalanan menuju kelas, lalu ada juga Benjamin Dolohov yang selalu menyiapkan teh hangat untuknya setelah dia bangun tidur, kemudian ada Arsenio Nott yang selalu menemaninya di perpustakaan, dan Abraxas Malfoy yang selalu berdiri paling depan bak panglima perang saat ia mengalami kesulitan.

Jangan lupakan Tom Riddle, pemuda itu adalah yang teraneh. Dia akan selalu menggandeng tangannya setiap mereka berjalan bersama sehingga kebanyakan murid di Hogwarts akan berpikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

Hermione sedikit ketakutan karena perubahan sikap mereka. Ya, dia merinding dengan perubahan ekstrim itu.

Kali ini ia terengah saat merasakan bibir lembab milik Avery mengecupnya tadi. Ia kini duduk tak nyaman disebelahnya setelah dengan baik hati Avery menuntunnya untuk duduk dan menawarinya segelas wine.

Gadis itu tak curiga akan apapun saat meminum minuman itu, ia hanya merasakan rasa wine yang kuat dilidahnya.

Ia melirik dan mendapati Avery tersenyum sangat manis padanya dan ia sedikit merasakan panas membara pada tubuh nya.

.

Amortentia dan hangover.

Avery benar-benar bangga dengan dirinya sendiri.

Hermione bergumam tak jelas dalam pelukan nya, ia merengkuh leher Avery dan menyeruakkan wajahnya di leher pemuda itu.

"Avery.. ", Hermione merasa pusing, tapi dia dengan cepat malah mendorong tubuh Avery ke dinding dan mulai menciumi rahangnya.

Avery yang notabene nya adalah playboy garis keras, mendapati perlakuan seperti itu jelas saja menerima dengan senang hati. Ia meraih rahang Hermione, membalik posisi mereka hingga kini tubuhnya yang malah menekan tubuh Hermione ke dinding.

Ciuman itu membara karena Avery sejak tadi juga menginginkan ini. Ia tergoda setiap Hermione berbicara dan selalu terengah atau mengigit bibir bawahnya. Avery merasa terbakar oleh hasrat.

Hermione mengalungkan tangan nya pada leher Avery, meremas lembut surai nya yang rapi hingga kini berantakan. Lidah mereka saling membelit berkali kali dan saliva mereka bercampur menjadi satu.

Mereka memiringkan kepala mencoba untuk mencari posisi ciuman yang lebih baik.

Avery menyesap bibir bawah Hermione dengan kuat, menggerang seketika karena pertama kali ini dalam hidupnya ia merasakan ciuman yang benar-benar menguras hasratnya.

Bibirnya turun, pindah ke rahang gadis itu, menciumi nya dan memainkan lidahnya, mungkin menyesapnya juga.

Tangan kanannya berkali-kali meremas lembut pantat sintal Hermione dari balik gaunnya seraya menekan kuat pada tubuhnya, mereka menempel bak magnet. Sedangkan tangan kirinya masih setia membelai leher dan rahang gadis itu.

Kejantanan Avery mengeras sejak tadi, ia menggesek nya kedalam paha Hermione sehingga gadis itu mendesah hebat disela sela ciuman mereka.

"Hhhh... Avery"

Pemuda itu sejak beberapa hari ini berpikir bahwa memainkan gadis mudblood tak akan se menggairahkan ini. Ia berpikir bahwa rasa bibirnya tak akan se nikmat ini. Dia bahkan merasa jijik saat memikirkan ia lah yang ditugaskan untuk mencicipi tubuh lumpurnya.

Tapi kali ini, hari ini, Avery menarik semua pikiran negatif nya, Hermione benar-benar semanis itu, ia sempurna. Bibirnya terasa pas, nikmat, basah dan terasa seperti jus stroberi dicampur dengan aroma wine yang ia minum.

Avery merasa beruntung. Setelah lama sekali berciuman panas, Avery dengan berat hati harus melepaskan penyatuan bibir mereka.

"Kita lanjutkan nanti, Hermione", ujarnya.

Kini ia tengah membawa tubuh Hermione untuk memasuki ruang kebutuhan. Semua teman temannya sudah berkumpul disana. Sepakat untuk menyusun rencana lagi selagi Hermione akan ia tidurkan diranjang.

"Kau lama sekali Emlyn", Malfoy menyindir dengan seringainya saat melihat bagaimana berantakan nya penampilan Avery saat ini ditambah dengan bibirnya yang memerah bengkak.

"Diamlah Malfoy", kini ia ikut duduk di sofa setelah memindahkan tubuh Hermione keranjang disana.

Tom mendengus melihat pertengkaran kecil mereka, ia kini berdiri dari duduknya, menoleh sebentar pada Hermione yang tengah bergumam dalam mabuknya.

"Malam ini kau harus mengorek informasi sebanyak mungkin darinya, aku tak mengharapkan sebuah kegagalan di sini, setelah itu—", ia belum menyelesaikan kalimat nya, kini malah dikejutkan dengan Hermione yang tiba-tiba melenggang duduk diantara Abraxas dan Arsenio.

"Avery... dimana Emlyn Avery", gumamnya.

"Aku disini Hermione", Avery berujar dan langsung menarik tubuh Hermione yang berdiri menghampiri nya dan sedikit terhuyung hendak menjatuhkan dirinya ke Arsenio.

Semua orang menatap Hermione yang sudah sangat mabuk ditambah pengaruh amortentia yang mengalir pada tubuhnya. Semua rencana mereka berhasil.

Tom memainkan tongkatnya, "Baiklah Avery, besok aku akan menunggu jawaban mu", ia dikejutkan lagi setelah itu karena Hermione kini duduk dipangkuan Avery dan mereka berciuman panas tak menghiraukan siulan dari beberapa pemuda disana.

Nott dan Lestrange tampak tertawa melihat Avery mengerang berkali kali karena Hermione menciumnya dengan lebih dalam lagi. Gadis itu seperti hilang akal, dia melepas resleting gaunnya sehingga kini kulit tubuhnya terpampang dengan jelas.

Avery meraih gaun itu berusaha menutupi punggung Hermione dari pandangan teman temannya. Ia mengerang lagi, menggendong tubuh Hermione dan menjatuhkannya ke atas ranjang.

Tom menggerakkan rahangnya melihat itu, merasa sengatan aneh di jantung nya saat melihat bahwa Hermione mencium Avery lebih dulu, ia menatap beberapa pengikutnya, "Kupikir ini saatnya kita memberi waktu sendirian untuk sepasang kekasih baru ini teman temanku",

"Yes, My Lord".

.

.

.

.

tbc

.

jangan lupa kasih review ya.