Winter Woods milik COSMOS, Van Ji
playlist: mxmtoon - unspoken words
Jika bukan karena ketunaannya, tidak ada yang bisa membedakan Adora dari gadis dalam papan iklan perhiasan. Dia hanya perlu duduk anggun menyamping dengan agak menunduk, menyisipkan rambut ke belakang telinga, dan menyematkan sepasang subang berlian di sana. Sayangnya, gadis itu akan terlalu memikat dari barang yang ditawarkan, setidaknya bagi Zoe.
Adora berhenti ketika Zoe merandek. Dia hanya bisa menerka-nerka apa yang membuat pria itu terdiam. Tangannya masih menumpu dalam lengan Zoe yang kaku dan solid.
"Zoe…?"
"Hm?"
Zoe tidak keberatan ketika tarikan datang pada lengannya beberapa saat kemudian. Dia tidak pula berpikir untuk melepasnya, atau sekiranya memperlihatkan sebuah pengelakan. Tarikan berikutnya kembali terulang, kali ini dengan sedikit usaha memaksa dan Zoe baru memalingkan wajahnya dari papan iklan terang di atas sana. Mendapati ekspresi Adora yang menanar membuatnya mengulum senyum, menghasilkan ceruk kecil di kedua pipinya.
"Dingin?"
"Iya."
Hanya segelintir saja yang Adora pahami bahwa Zoe memikirkannya, jadi dia harus berterus terang. Tidak adil rasanya ketika hanya dia yang merasa malam semakin membeku, tetapi pria itu malah terdiam cukup lama di udara terbuka. Ujung es meraba masuk melalui bawah kakinya yang tidak dapat digapai rok midinya, menjalar menuju lutut lalu membebat pahanya kencang. Jika dia tahu malam akan sedingin ini, pastilah dia akan mengenakan legging juga.
"Sampai kapan kita akan berdiri di sini?"
"Sampai kau memintaku kembali berjalan."
Namun apa yang Adora dengar adalah hal yang berbeda, seolah kalimatnya terkandung embaran untuk menyuruhnya meminta maaf.
"Kau yang membuang tongkatku duluan."
"Aku tidak membuangnya."
Beberapa saat sebelumnya, semua berjalan sebagaimana mestinya sampai mereka selesai makan malam di sebuah restoran kecil. Ajakan itu bukan hal yang spesial, tetapi cukup jarang terjadi. Zoe yang tenang dan angkuh selalu menghindari keramaian. Apa yang dipilihnya tidak jauh dari ketenangan itu sendiri. Karena itulah, dia memilih tempat yang lebih tertutup. Tidak masalah jika dia harus sedikit berjalan setelah menuruni bus.
Seperti biasa ketika mereka di luar, Adora selalu mengandalkan dan memang begitulah yang diharapkan Zoe. Adora terlalu berani dan percaya diri untuk seseorang yang tidak dapat melihat. Dia akan sangat mandiri dengan tongkatnya. Mungkin saja dalam sesingkat kerjapan mata, gadis itu akan menghilang dan mengembara entah ke mana. Meskipun pada akhirnya, dia tetap dapat kembali. Namun sampai kapan semua akan berjalan baik-baik saja?
Adora seperti berlian hidup. Sedikit saja dia terlihat cemerlang, orang-orang akan mengincarnya dan tidak ragu untuk membawanya ke tempat asing yang kotor dan lembap.
Tiga malam sebelumnya, Zoe mengambil tongkat Adora ketika dia tertidur. Tidak bisa benar-benar dibilang mengambil. Dia hanya menggeser posisinya dari tempat biasa gadis itu meletakkan tongkatnya. Jika Adora dapat melihat, dia akan tersadar tongkatnya tidak pernah bersembunyi sedari awal.
Keanehan itu membuat Adora mencurigai Zoe karena hanya dialah yang memungkinkan untuk melakukannya. Tentu Zoe mengelak dan seolah tidak puas, Adora menimpali bahwa bisa saja Zoe telah membuangnya karena gadis itu melanggar kesempatan terakhirnya untuk tidak pergi ke mana-mana selagi pria itu tidak di rumah.
Hanya ada partisi tipis yang membedakan kau sedang marah atau kecewa. Keduanya muncul dari emosi yang mirip. Yang manapun itu, Zoe tidak menyukai salah satunya muncul dari Adora. Baginya itu adalah sebuah perlawanan.
"Aku masih bisa berdiri di sini sejam lagi, kalau kau tidak keberatan."
"Jangan merajuk seperti anak kecil, Zoe."
"Apa aku terlihat seperti bocah yang sedang tantrum, Sayang?"
Detak jantung Adora berhenti sedetik. Jika itu belum berlebihan, mungkin tidak ada kalimat lain yang dapat dideskripsikan untuk menggambarkan keterkejutannya. Zoe selalu asertif dan cenderung monoton, apa yang dia harapkan dari gabungan kedua sifat itu untuk dapat lebih lembut dari interjeksi 'sayang'? Tentu saja, jangan salahkan dirinya jika dia malah merona karena spontanitas itu tepat mencengkeram jantungnya.
Sayangnya, Zoe tidak sadar dia telah keluar dari personanya. Kalaupun ternyata dia mengakuinya, dia tidak keberatan. Toh, gadis itulah yang mengajarkannya untuk jujur pada emosinya.
"Aku hanya memberimu sedikit hukuman. Yah, tidak bisa dibilang hukuman karena aku juga harus berdiri menemanimu."
Adora tidak tahu akan seberapa lama lagi sebelum kakinya sempurna mengebas dan kehilangan kendali atas sarafnya. Kepalanya menengadah. Meskipun hanya gelap yang dia lihat, Zoe pastilah ada di ujungnya. Adora tidak mengenal konsep rupa. Zoe yang ada di dalam bayangannya adalah Zoe dalam konsep rabaan jemarinya ketika mereka bercumbu lembut atau ketika mereka saling menyatu dalam gairah yang menenangkan. Yang pastinya, Adora menyukai hal yang dapat disentuh dengan imajinasinya.
"Zoe."
"Menyerah?"
"Aku salah karena melanggar janjiku. Namun, kau tidak seharusnya membuang tongkatku. Kau keterlaluan.
"Aku sudah bilang, aku tidak membuangnya. Apa kau tidak berlebihan dalam menilaiku, hm?"
"Apa tidak cukup dengan membu… mengambil tongkatku? Sekarang kau ingin menghukumku dengan cara ini?"
"Jangan menganggap ini hukuman, Adora. Aku hanya berusaha melindungimu. Tongkatmu tidak akan kuat untuk menghajar orang, mungkin juga akan langsung patah dalam satu usaha kecil. Kau tidak akan selalu bertemu orang baik. Sekarang menyerahlah. Aku akan melupakan hari ini pernah terjadi."
Kini dirinyalah yang terdengar menyerah. Jangan menguji Adora karena dia akan sangat keras kepala. Zoe sadar, tetapi dia akan tampak bodoh jika mengakuinya. Atau mungkin karena dia tahu batasan fisik Adora tidak akan mampu untuk berdiri lebih lama lagi, menjadi bodoh bukanlah pilihan buruk untuk saat ini.
"Menyerahlah."
Aku salah, menyerahlah.
Saat Adora terbangun, hal pertama yang dia kenal adalah suara mesin bus yang sedang melaju. Kemudian, tubuhnya telah menghangat oleh sebuah mantel yang menyelimuti dirinya. Aroma kolonye yang menguar dari serat-serat mantel membuatnya ingin terbenam lebih dalam lagi. Zoe selalu berhasil menenangkannya.
Adora ingat sesaat setelah Zoe menahan lengannya adalah ketika dia hampir terjatuh. Dia masih cukup sadar untuk mengetahui Zoe yang terkejut dan menarik banyak udara sebelum membopong tubuhnya, lalu dengan suara sedikit bergetar, menyuruhnya untuk bertahan dan jangan tertidur.
Selama Adora dalam dekapan, pria itu membisu. Dari napasnya yang memberat dan dekapan yang menguat, sinyal-sinyal pria itu tersampaikan pada Adora. Dia dapat merasakan Zoe yang keletihan, bukan karena dia harus berlari membawa dua beban, tetapi karena dia tidak punya pengalaman untuk meminta bantuan orang lain. Semua itu cepat sekali menguras tenaganya. Zoe yang asertif dan monoton, tetapi juga Zoe yang terbuang dari peradaban; mungkin Adora sudah berlebihan?
"Kau sudah bangun rupanya."
Adora mengangkat wajahnya, sedikit terkesiap. Dia lupa memperhitungkan kepalanya yang bertumpu pada lengan Zoe. Dengan sedikit saja gerakan, tentu pria itu akan sadar.
"Kau membuatku kepayahan," sambung Zoe.
Adora dapat merasakan tatapan mereka bertemu. Entah ekspresi apa yang Zoe berikan: mungkin marah, mungkin juga kecewa, atau mungkin saja tidak ada sama sekali. Yang jelas, dia tidak bisa menyangkal apa pun selain rasa bersalahnya. Dia memang sudah keterlaluan.
"Dokter bilang kau hanya terkena frostbite. Aku kesal sekali, tetapi melihatmu dengan wajah begitu, mana bisa aku marah."
"Maaf, Zoe." Zoe belum merasa perlu untuk merespons. Dia masih menunggu dan Adora pun memahami maksud itu. "Aku sudah membuatmu dalam kesusahan." Lalu terdengar helaan napas samar dari atasnya.
"Aku tidak mempermasalahkan usahaku mencari pertolongan karena aku yang membuatmu terkena frostbite… anggap saja itu impas. Namun, apa kau tidak merasa perlu untuk meminta maaf akan hal lain?"
"... Tongkatku?"
Zoe geram, tetapi juga gemas. Dengan sedikit membungkuk, dia semakin mendekatkan wajahnya, menilai mata keunguan Adora yang kosong. Yang menjadi pembatas mereka kini hanyalah napas yang saling bertemu. Adora terpaku, tetapi dia tidak menolak ketika bibir mereka bertemu untuk pertama kali di malam itu. Dia lantas memejamkan mata—meskipun tidak ada bedanya, menikmati kehangatan lain yang muncul dari bibir Zoe yang beku.
"Bisa-bisanya kau menyebut benda itu lagi di depan mukaku setelah apa yang terjadi…."
Begitulah yang Zoe bisikkan ketika bibir mereka tersungkap setelah cukup lama berpagutan. Namun apa yang Adora dengar adalah hal lain, bahwa pria itu khawatir dan bersyukur dia masih baik-baik saja.
Meskipun rasa kesal masih tertinggal, mata Zoe menatap lembut pada Adora, pada bibir ranumnya yang masih sedikit terbuka untuk menarik banyak udara. Liur yang tertinggal di bibirnya berkilat samar oleh lampu jalanan, membuatnya semakin menggoda Zoe untuk mencicipinya lagi. Zoe pun jatuh pada hasratnya yang tiba-tiba bangkit sebelum gadis itu sempat mengartikulasikan jawabannya.
Meskipun kesulitan mengimbangi Zoe yang mulai memanas, Adora tidak keberatan saat lidah pria itu menerobos masuk. Tangan kanan Zoe menarik pinggangnya, sedangkan tangan lain mengunci dirinya pada jendela bus. Adora tidak berkutik, bahkan untuk sekadar menggenggam pakaian Zoe karena tidak ada celah yang tersisa untuknya. Ciuman itu semakin intens dan Adora semakin terbenam.
"Mmhh…."
Zoe tentu bukan lawan yang sepadan, atau bisa dikatakan, Zoe bukanlah manusia normal seperti Adora. Dia telah hidup ratusan tahun lebih lama dari siapa pun, memaksanya untuk beradaptasi dalam segala kondisi dan membuatnya harus menjadi eksterior pada setiap peradaban. Namun agaknya, Zoe masih asing pada rasa yang muncul ketika melihat Adora pertama kali. Hingga pada saat dia tersadar, dia telah sempurna terjerat. Waktu yang selama ini berputar seolah belum cukup mengkomparasi Adora dengan segala pengetahuan berabad yang dimilikinya. Jangan salahkan Zoe jika dia menjadi lebih serakah.
"Mhh… Zoe—"
Jika bukan karena Adora yang tampak kepayahan, mungkin Zoe tidak akan pernah melepaskan bibirnya. Dia berusaha menekan hasratnya yang meruah, menunggu gadis itu menarik beberapa oksigen dengan sabar. Sembari menunggu, Zoe menyatukan keningnya pada kening Adora, hingga yang dapat mereka bagi adalah napas masing-masing.
"Seseorang akan melihat kita, Zoe…," bisik Adora dengan sedikit terengah.
"Bukan masalah bagiku. Selama kau tidak merasa bersalah, aku akan terus melakukannya bahkan sampai kita turun."
Bibir mereka kembali bertemu. Namun kali ini Zoe tidak lagi memaksa. Dia ingin Adora menikmatinya, walaupun mungkin hanya sebentar; karena tidak lama setelahnya, Adora menggeliat saat Zoe mengusap perlahan pinggangnya. Dia sengaja melakukan itu. Dia sudah hafal respons apa saja yang akan didapatkan pada setiap titik-titik tubuh Adora. Anggap saja itu sebagai hukumannya.
"Aku salah—"
Itulah kalimat Adora yang keluar pertama kali ketika dia tidak mampu lagi menahan rasa gelinya. Zoe tersenyum melihat Adora yang memerah. Adora menyukai saat mereka berciuman, atau usaha lain yang Zoe berikan pada tubuhnya. Yang mana pun itu, Adora tetap menikmati kebersamaan mereka. Hanya saja, untuk kali ini dia merasa perlu untuk khawatir kalau-kalau penumpang lain menyadari aktivitas mereka. Bukankah itu wajar?
"—Aku salah telah melanggar janjiku. Aku hanya takut kau akan meninggalkanku. Memikirkannya saja sudah membuatku ngeri. Karena itu, aku menyusulmu walaupun aku belum tahu keberadaanmu selama kau di luar."
"Dan?"
"Dan…?"
"Kupikir kau melupakan hal terpenting?"
"Dan… aku minta maaf."
Zoe tersenyum, lesung pipinya melunakkan ekspresinya yang selalu kaku. Namun, berbeda dengan Adora, dia tidak dapat menangkap senyuman itu melainkan keheninganlah yang dia ketahui. Ketika Adora berpikir apa yang kurang dari kalimatnya, Zoe menarik mantelnya yang sempat merosot dari tubuh Adora.
"Jangan menyia-nyiakannya." Lantas Zoe mengenakan mantelnya pada tubuh Adora. "Beristirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu lagi."
Zoe mengecup kening Adora sebagai akhir dari percikan kecil mereka. Adora pun paham untuk benar-benar mengalah dan memilih bersandar pada lengan pria itu. Zoe kaku dan dingin, begitu juga tubuhnya. Adora tidak pernah mengeluh atas itu, justru dialah yang selalu menantikannya. Dia selalu dapat menemukan kenyamanan di sana.
Mata Adora memandang lelah pada jendela kaca seolah-olah dia dapat melihat salju pertama yang melayang turun. Meskipun apa yang dia lihat tidak pernah berwujud, bahkan dalam imajinasinya, Adora merasa dia akan baik-baik saja selama Zoe bersamanya.
