Chanyeol X Baekhyun
Jongdae
Kyungsoo
Romance, Fantasy, (lil bit) Angst yet Fluffy
Marriage-life X School-life
[2/2]
.
.
Tahun pertama pernikahan, Baekhyun merasa seperti manusia paling bahagia di dunia. Tahun kedua, ia merasa semakin mencintai suaminya. Tahun ketiga dan keempat, ada sedikit rasa bosan menelusup karena pertengkaran sepele tiada akhir. Tahun kelima, segalanya mulai terasa hambar. Haruskah Baekhyun mengakhirinya, atau..?
.
.
Warning: Kind of cliche and cheesy (again).
.
Playlist:
BoA – No. 1
IU – Peach
MAMAMOO – Morning
.
.
oOo
.
Baekhyun menunduk menatap jemari yang kian erat menggenggam ujung jaket Chanyeol. Selama perjalanan menuju sekolah, Baekhyun tak benar-benar dapat merasakan apapun di sekelilingnya. Pikirannya terus terganggu dengan fakta-fakta yang ia temukan nyata sebagai realita. Yang seharusnya tidak. Tidak ada satupun dari semua ini yang seharusnya terasa senyata ini. Kognisinya dibuat kabur, terpikir tentang manakah dari dua ingatan yang benar menghuni kenyataan.
"Baek?"
Baekhyun mendongak, memperoleh raut khawatir Chanyeol yang ditujukan kepadanya. Saat memandang sekeliling di mana siswa-siswi memadati koridor sekolah, Baekhyun baru sadar ia telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk termenung hingga mengabaikan sekitar. Jam sudah menunjukkan waktu istirahat ketika ia mendapati dirinya berdiri di dekat antrean makan siang di kafetaria.
"Kau baik?" tanya Chanyeol lagi.
Ragu, Baekhyun mengangguk samar. Sedikit-banyak, ia mulai gusar merasakan betapa ambigunya situasi ini. Baekhyun tidak senang pada fakta bahwa ia harus menghadapi kebingungan seperti ini saat pikirannya sudah cukup terganggu oleh perang dingin di antara dirinya dan Chanyeol. Ia pikir, abnormalitas keadaan di hari kemarin bukanlah sebuah masalah—toh itu memberikannya sedikit rasa terhibur. Namun mendapati semua itu belum berakhir begitu ia membuka mata di pagi esok harinya dan membawa kebingungan yang lain, Baekhyun mulai tidak menyukainya. Ia sungguh perlu mengistirahatkan pikiran.
"Pudding?" Chanyeol menawarkan. Sudah tiba giliran mereka untuk mengisi nampan. Baekhyun, tentu saja, telah sepenuhnya kehilangan selera makannya. Ia bahkan tidak repot-repot memberi respon, membiarkan Chanyeol mengernyit tak paham akan sikapnya.
Sisa jam makan siang hanya diisi oleh percakapan alot di mana Chanyeol tak hentinya menanyakan keadaan Baekhyun, dan Baekhyun yang terus bersikeras menyatakan dirinya baik-baik saja. Pertanyaan-pertanyaan Chanyeol mulai terasa menyebalkan bagi Baekhyun karena sungguh itu semakin mendistraksi isi kepalanya yang telah lebih dulu rumit bahkan sebelum ini semua dimulai.
"Baekhyun—"
"Aku sudah selesai." Baekhyun meletakkan sumpitnya. Lebih dari separuh porsi makanannya yang tak seberapa hari ini masih tersisa di atas nampan. Ia bahkan tak berminat mengisi perutnya dengan apapun sejak pagi, dan makan siang jelas tidak menjadi sesuatu yang ingin dilakukannya.
"Baek, kau baru makan sedikit sekali," kata Chanyeol, dengan lembut menarik Baekhyun yang hampir berdiri untuk duduk kembali. "Kau sakit?"
Baekhyun menahan dorongan untuk berdecak. Perilaku Chanyeol membuatnya dongkol. Ia sudah berkali-kali menegaskan bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak suka dibuat mengulang-ulang.
"Aku baik-baik saja dan hanya ingin kembali ke kelas, oke? Jangan cerewet," tukas Baekhyun, kini benar-benar berdiri dan mengangkat nampannya meninggalkan meja. Beberapa langkah di belakang, Chanyeol menyusul. Makan siangnya yang juga masih bersisa terpaksa ia sudahi. Ia dengan mudah menyejajarkan langkah cepat Baekhyun, meraih jemari lentik milik pemuda itu dan menggenggamnya saat mereka kembali ke kelas.
"Kita pergi makan setelah pulang, ya?"
Baekhyun tak menghiraukan tawaran itu. Tidak pula ia balas genggaman Chanyeol. Dan begitu menangkap keberadaan Jongdae tak jauh dari tempatnya, Baekhyun akhirnya memiliki alasan untuk menghindari si tinggi. Tautan tangan mereka ia lepas, lantas tanpa mengatakan apapun berjalan dengan sumringah menghampiri Jongdae di sisi koridor, meninggalkan Chanyeol di belakangnya.
"Kim Jongdae!" sapanya. Begitu wajah dengan senyum khas milik Jongdae terlihat, entah bagaimana perasaannya jadi sedikit lebih ringan. "Sendirian saja?"
Jongdae tertawa renyah, berbalik sepenuhnya dari jendela yang sebelumnya jadi tumpuan. "Yeah." Ia mengendikkan bahu. "Oi!" sapanya pada Chanyeol begitu menangkap keberadaan lelaki itu di belakang Baekhyun.
Baekhyun menoleh, mendongak turut menatap pada Chanyeol. "Yeol, kau bisa kembali ke kelas," katanya.
Jongdae mengernyit merasakan tendensi aneh di antara sepasang kekasih itu. Namun, yang bisa ia lakukan hanya tersenyum aneh, berharap prasangkanya yang mengatakan bahwa kedua orang itu tengah bertengkar tidak benar adanya. Sebab siapa pula yang ingin berada di tengah pasangan yang bertengkar?
Chanyeol tak lantas merespon. Sekilas, matanya bertemu dengan milik satu-satunya lelaki bermarga Kim di sana, sebelum kembali pada kekasihnya. Sekian kata-kalimat yang ingin Chanyeol ungkapkan berhenti di tenggorokan. Melihat bagaimana Baekhyun menunggunya—menunggu kepergiannya—sedikit-banyak menyadarkan Chanyeol tentang betapa ia memang harus mengabulkan hal itu.
Maka dengan pikiran bahwa ia bisa meluruskan apapun-itu nanti, Chanyeol berlalu lebih dulu.
"Aku duluan." Ia melempar senyum tipis untuk Jongdae, dibalas lambaian dari empunya yang masih separuh bingung.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Jongdae tanpa basa-basi. Meski hanya terjadi selama tak sampai satu menit, barusan itu benar-benar canggung.
Baekhyun mengangkat bahu. Tidak memberi penjelasan dan tidak pula terlihat berniat melakukannya.
"Tidak. Aku hanya merasa tidak bisa berlama-lama dengannya dulu."
Cuma sebuah oh kecil yang menggantung di udara yang mampu Jongdae ucapkan. Itu bukan pertanda baik bagi sepasang kekasih. Tapi siapalah dia untuk ikut campur.
Atau hanya belum.
"Lalu sekarang apa?" tanyanya.
Baekhyun memasang tampang berpikir, kemudian matanya berkilat jahil. "Tidak ada. Kau boleh pergi. Aku mau berkeliling sebelum kembali ke kelas."
"Yah!" Suara protes milik si lelaki Kim melengking nyaring.
Baekhyun menertawakan respon itu. Berlaku iseng pada Jongdae selalu menyenangkan karena suaranya yang nyaring akan menggetarkan koridor.
"Ckckck, berisik, tahu."
"Kau ini!"
Masih tertawa, Baekhyun melambai singkat dan mulai berputar hendak pergi. "Dah, Kim."
Jongdae hanya geleng-geleng melihatnya. Tapi apapun itu, ia tak pernah benar-benar terganggu oleh isengnya Byun Baekhyun.
.
oOo
.
"Woohooo!" Baekhyun berseru panjang, merentangkan tangan kanannya tinggi-tinggi menikmati udara dan tiupan angin malam kala ia dan Jongdae hendak melewati jalan berkelok.
"Yah! Kau membuat orang-orang menoleh ke arah kita!" Jongdae protes, namun bibirnya juga tertarik membentuk cengiran lebar.
Skuter yang Jongdae pinjam dari kakaknya melaju cukup kencang di jalan raya. Meski tak padat, jalanan dan juga pedestrian di sisi-sisinya ramai oleh kendaraan lain dan pejalan kaki. Baekhyun baru saja meminta Jongdae menaikkan kecepatan skuternya, dan menggunakan kesempatan itu untuk berteriak ke langit malam saking menikmati angin yang menerpa wajahnya.
"Apa tempatnya masih jauh?" tanya Baekhyun ketika kembali Jongdae menurunkan kecepatan.
"Sebentar lagi sampai," sahut si pengemudi. Jalanan yang mereka lalui sudah tak seramai yang tadi. Baekhyun dan Jongdae bisa mendengar suara satu sama lain secara lebih jelas di sini. "Kurasa karena lokasinya yang kurang strategis, tidak banyak yang tahu tempat itu meski sajiannya lezat."
Baekhyun mengangguk-angguk. Beberapa tempat hanya kurang jeli—atau kurang beruntung—menempatkan toko atau semacamnya di lokasi yang tidak tepat.
"Sampai."
Bibir Baekhyun segera membentuk 'o'kecil begitu tiba-tiba Jongdae menepi di depan sebuah kafe kecil. Di antara bangunan yang sekilas tampak seragam, kafe itu jadi satu-satunya yang menyala terang dengan cahaya merah muda dan putih yang hangat. Bukan tipe tempat yang akan didatangi sekumpulan anak lelaki—sama sekali tidak tampak seperti itu, justru sebaliknya—namun sekalinya Jongdae merekomendasikannya, Baekhyun yakin memang tempat ini punya sesuatu yang lebih.
Begitu turun, Baekhyun melepaskan helm yang sejak tadi melindungi kepalanya.
"Sebaiknya kue yang kau bicarakan itu benar-benar enak," katanya.
Jongdae meringis. Berusaha terlihat kecewa atas keraguan itu. "Kau meremehkanku."
Baekhyun tertawa kecil. Mendongak mengintip ke dalam kafe sembari menunggu Jongdae merapikan letak helm mereka dan mengunci skuter.
Sesuatu di saku celana Baekhyun bergetar. Dirogohnya bagian itu dan mendapati sebuah panggilan masuk di ponselnya.
Ia tidak tahu mengapa ia harus tapi, begitu melihat nama Chanyeol di layar ponselnya, senyum Baekhyun memudar. Alih-alih mengangkat panggilan itu, Baekhyun mengubah mode getar menjadi diam. Lantas, tak lagi menghiraukan ponselnya seperti sedang ada panggilan masuk.
"Ayo."
Baekhyun segera mengembalikan perhatiannya ke tempat ia berada sekarang. Mengikuti langkah Jongdae memasuki kafe, Baekhyun memutuskan untuk menikmati saja malamnya bersama seseorang yang ada di hadapannya. Bukan memikirkan yang tidak.
.
oOo
.
"Kau pergi bersamanya?"
Baekhyun terganggu melihat Chanyeol melontarkan pertanyaan dengan sebegitu terkejutnya.
"Ya," katanya. "Ada sesuatu yang salah dengan itu?"
Baekhyun baru saja mengatakan mengapa ia sempat tak mengangkat panggilan telepon Chanyeol di malam sebelumnya. Esoknya, ia pun hanya menghubungi Chanyeol melalui pesan singkat bahwa seharian dirinya akan sibuk membantu Ibu di rumah dan tidak bisa berbalas pesan terlalu lama.
Malamnya, mereka bertemu untuk jalan-jalan berdua, berkeliling sebentar di sekitar kediaman Baekhyun, mengganti agenda kencan yang absen minggu ini karena Chanyeol harus makan malam dengan keluarga besarnya di malam Minggu.
Dan percakapan yang tak Baekhyun mengerti mengapa perlu dibesar-besarkan ini dimulai.
"Jongdae menyukaimu. Kekasih mana yang akan senang mendengar hal seperti ini?"
Dahi Baekhyun mengerut dalam mendengar kalimat itu. Jelas-jelas tak menyukai bagaimana Chanyeol mengemukakan hal yang tak jelas maksud ataupun dari mana asalnya. Dan lagi, Chanyeol tak biasanya begini agresif saat bicara padanya.
"Kami hanya teman. Untuk apa kau seterganggu itu sampai mengatakan Jongdae menyukaiku?"
Mengusap wajahnya, Chanyeol tampak gusar.
"Jongdae hanya mengajakku mencoba makanan, demi Tuhan. Apa kau harus seberlebihan ini?" tanya Baekhyun lagi. Tak habis pikir. "Kau cemburu, huh? Karena itu menganggap buruk temanku? Begitukah?"
Chanyeol membuang napas. Menggeleng, jelas-jelas tidak membenarkan perkataan Baekhyun.
"Baek—"
Baekhyun mendengus keras. Ia pikir, mimpi tak akan seperti kenyataan. Tapi ternyata Chanyeol masih sama menyebalkannya.
"Kurasa lebih baik kita tidak bertemu dulu, Chanyeol. Aku pulang."
Setelah melontarkan dua kalimat tanpa benar-benar memberi emosi di dalamnya, Baekhyun berbalik pergi.
"Baek.."
Tanpa menghiraukan Chanyeol, Baekhyun mempercepat langkahnya. Semakin jauh ia pergi, semakin ia yakin bahwa pikirannya memanglah benar. Bahwa ia tak pernah benar-benar mencintai Chanyeol, bahwa segalanya terjadi di atas sebuah kesalahan.
Dan terima kasih kepada mimpi ini yang telah memperjelas segalanya.
.
oOo
.
Hari ini terasa berbeda. Jauh berbeda. Baekhyun tahu dari segi keanehan tidak ada bedanya—ia masih berada di mimpi itu—tapi, mungkin karena semalam ia meninggalkan Chanyeol begitu saja, ia bangun dan beraktivitas dengan perasaan yang berat. Baekhyun bahkan sengaja bangun lebih pagi dan langsung berangkat ke sekolah agar tak perlu bertemu Chanyeol.
Pagi sekali, belum banyak siswa yang datang. Baekhyun tidak langsung menuju ke kelasnya. Hanya menghabiskan waktu di atap sampai sekiranya jam pelajaran pertama akan dimulai. Sampai waktu istirahat tiba, Baekhyun tak membuat kontak apapun dengan Chanyeol. Langsung maupun lewat pesan.
Sebab makan siang tidak terasa menarik, Baekhyun kembali berjalan ke atap. Beruntung baginya bagian itu tidak sedang disinggahi oleh siapapun. Kalaupun ada, Baekhyun tetap akan menetap selama bukan Chanyeol yang hadir.
Baru saja Baekhyun menghentikan langkah di tepian atap untuk menatap jauh ke luaran sana, sebuah panggilan terdengar.
"Hey."
Ia menoleh cepat. Takut-takut orang yang sedang tidak ingin ditemuinya yang datang. Pikirannya benar-benar tidak sedang berada di tempat dan tak sempat ia gunakan untuk membedakan milik siapa suara itu.
Untungnya, itu hanya Kim Jongdae. Meskipun merasa sayang karena Baekhyun sedang ingin sendirian, kedatangan pemuda itu juga bukannya mengganggunya.
"Kau mengikutiku, ya?" tuduhnya langsung.
Jongdae memperlihatkan deretan giginya. Mengangkat bahu lantas menjawab, "Maaf. Aku bisa pergi kalau kau mau. Hanya penasaran mengapa kau tampak murung dan berjalan ke sini sendirian."
Baekhyun mengalihkan kembali wajahnya ke udara bebas. Menopang siku di pagar pembatas. Sejenak ia belum mengatakan apapun lagi.
"Tetap di sini."
Mendengar itu Jongdae kembali mengangkat bahu. Mengiyakan dengan cara mengambil tempat tepat di samping Baekhyun. Melakukan hal yang sama dengan si lelaki Byun, bertumpu ke pagar pembatas dan memandang jauh.
Langit sedikit mendung. Anginnya cukup membekukan namun terasa nyaman menyapu tubuh.
"Aku ingin mengakhirinya," kata Baekhyun.
"Apa?" Jongdae menoleh, mendapati figur samping yang baru saja bersuara.
"Putus dengan Chanyeol."
Alis Jongdae terangkat. Mata membulat seketika. Barusan itu tampak sangat mengejutkan baginya. Ia menelengkan kepala, bingung namun juga sengaja tak langsung merespon.
"Uh, oke. Kau ingin aku merespon seperti apa?"
Satu-dua detik Baekhyun menoleh ke arah temannya itu, sebelum kembali lagi ke posisi sebelumnya.
"Kurasa aku tidak benar-benar mencintainya. Atau menyukainya. Terserah." Baekhyun melanjutkan. Rautnya tak menampakkan apapun yang signifikan. Pun intonasi bicaranya. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia harus mengatakan ini semua kepada Jongdae. Mungkin hanya karena kebetulan laki-laki itu hadir di sampingnya kini.
"Semuanya tidak terasa benar," monolog Baekhyun. Ia merunduk, menjatuhkan dagu ke atas lengannya yang bersila.
Jongdae mengulum bibir. Sedikit prihatin melihat keadaan Baekhyun.
"Ini mengejutkan, sejujurnya," komentarnya. "Tapi cuma kau yang tahu apa yang harus dilakukan. Aku bukan siapa-siapa."
Baekhyun merengut. Bibirnya maju mengerucut. "Bukan siapa-siapa? Kau temanku, idiot."
"Yah, maksudku di antara kau dan Chanyeol."
Tak lagi ada balasan dari Baekhyun, keduanya dihinggapi sunyi. Kesiur angin dingin menjadi hal paling jelas tertangkap indra.
Helaan napas panjang terdengar dari samping Baekhyun, membuatnya menoleh pada akhirnya. Jongdae masih menatap jauh ke depan sana.
"Aku tidak akan berkomentar apapun. Kalian mungkin sedang bertengkar, tapi tidak semua pertengkaran harus diakhiri dengan memutuskan hubungan," katanya. Terdengar menggantung, namun ia tak mengatakan apa-apa lagi.
Masih dengan kepala di antara lipatan tangan, Baekhyun mendongak ke arah Jongdae. Menatapnya.
"Chanyeol bilang kau menyukaiku."
Dua pasang mata bertemu. Tak ada yang mengukir ekspresi yang jelas. Baekhyun maupun Jongdae. Tapi tak ada yang memutus tatap. Lagi-lagi hanya sunyi dan kesiur angin yang kian ribut terdengar. Entah berapa lama tak lagi terdengar percakapan di antara keduanya.
"Bagaimana kalau itu benar?"
Baekhyun mengerjap. Dirinya yang sejak tadi tenang mendadak merasakan serangan jantung ringan sampai bibirnya membuka seolah ingin mengekspresikan keterkejutan namun tak kunjung melakukannya.
"Bercanda." Jongdae menepuk pelan puncak kepala Baekhyun. Membuat pemuda itu membuang napas seolah baru saja menahannya kemudian mengangkat kepala. Kembali berdiri sempurna. Ia membuang pandang. Merasa seperti baru saja menyadari kalau jantungnya masih berada di tempat dan berdetak normal alih-alih berhenti dan mencabut nyawanya.
"Kau ini."
"Jangan kebanyakan melamun. Kau tahu, kudengar atap ini banyak penunggunya," kata Jongdae, ringan seakan yang barusan itu bukan apa-apa. Sebatas intermezzo.
Baekhyun berdecih. Gosip murahan itu.
"Aku duluan. Perutku lapar sekali. Kau, jangan lupa makan siang." Jongdae berkata cepat, dengan suara tenor khasnya. Tanpa menunggu respon Baekhyun, ia berlalu setelah sebuah dah singkat. Baekhyun menatap punggung pemuda itu tanpa membalas.
Setidaknya, berbincang dengan Jongdae di tempat tanpa gangguan seperti atap sekolah ini membuat perasaannya sedikit membaik.
.
.
Sayangnya beberapa orang memang terlalu tidak tahu tempat untuk berbuat. Baru saja Baekhyun merasa perasaannya tak seberat pagi tadi, ia harus melihat Chanyeol di ujung koridor beberapa waktu sebelum bel masuk, bersama Do Kyungsoo si bintang klub paduan suara yang pernah digosipkan pacaran dengannya.
Jika ini terjadi saat sepasang kekasih sedang bertengkar, bukankah semakin jelas langkah apa yang akan diambil setelah ini?
Baekhyun mendengus. Ia mencoba tidak memusingkan apapun itu yang membuat dua orang itu tampak begitu serius bertukar cakap, hanya melewatinya tanpa sekalipun menoleh karena tidak ada jalan lain untuk kembali ke kelas.
Mungkin hanya selang dua detik—entahlah—saat seseorang menahan lengannya.
"Baek."
Belum menoleh pun, Baekhyun telah begitu gusar sampai tak sengaja ia menggerutu keras seraya memutar bola mata.
"Apa?" Baekhyun berbalik malas-malas.
"Bisakah kita pergi malam ini? Aku ingin makan malam bersamamu."
Ajakan itu tidak terdengar begitu menarik untuk Baekhyun saat ini.
"Aku harus membantu Ibu di rumah."
Kekecewaan Chanyeol terlihat jelas di wajahnya. Dan meski Baekhyun tidak sama sekali berada di mode ingin bersama Chanyeol, hal itu sedikit melemahkannya. Chanyeol sangat menghormati Nyonya Byun dan alasan itu jelas tidak bisa pemuda itu bantah.
"Baiklah. Bagaimana dengan malam Minggu?" tanya Chanyeol lagi. Kedua mata bulatnya menyiratkan permohonan pada Baekhyun.
Sepersekian detik yang Baekhyun miliki ia gunakan untuk berpikir. Sempat matanya melirik ke arah tempat Chanyeol terlihat bersama Kyungsoo tadi, dan tidak lagi mendapati kehadiran siswa itu di sana.
"Kita lihat saja nanti. Toh ini masih hari Senin," kata Baekhyun. Tepat setelahnya, tanda pelajaran akan segera dimulai terdengar. "Ayo masuk."
Tanpa menoleh lagi Baekhyun meneruskan langkah untuk kembali ke kelas. Sebelum guru di depan kelas memulai pelajaran, ia mengetikkan satu pesan singkat di ponselnya.
Untuk Kim Jongdae.
'Bisa pergi bersamaku malam ini sepulang sekolah?'
.
.
Kalau sebelumnya Sabtu malam Baekhyun harus meminta Jongdae melajukan skuter sedikit lebih cepat agar ia bisa menikmati terpaan angin malam yang lebih kencang, kali ini Jongdae telah lebih dulu berinisiatif memacu skuternya jauh lebih cepat lagi sampai kendaraan itu menciptakan polusi suara.
Tapi Baekhyun menikmatinya. Ia tertawa keras sambil memukul main-main bahu si pengendara.
"Kita bisa ditangkap polisi!" teriak Baekhyun.
"Tidak akan!" balas Jongdae sama kerasnya.
Tak lama berselang, mereka sudah berhenti di tepi jalan dekat rumah keluarga Jongdae. Posisinya yang ada di dataran tinggi membuat pemandangan dari sana terasa sangat memanjakan mata.
"Aku sampai membawamu ke sini karena kau belum juga memutuskan akan pergi ke mana kita. Untung saja hari ini aku membawa skuter kakakku ke sekolah. Atau kau akan kusuruh mengendarai sepedaku sementara aku yang duduk di belakang," oceh Jongdae tanpa jeda. Tak salah, mengingat mereka menghabiskan waktu berjam-jam berkeliling, mampir ke kedai kaki lima untuk membeli jajanan, sebelum kembali berkeliling tanpa tujuan.
Baekhyun tertawa. Setelah adrenalinnya terpacu akibat gaya ugal-ugalan Jongdae mengendarai sepeda motor dan kini dihadapkan pada pemandangan yang menurutnya indah, Baekhyun terbawa suasana sehingga pikiran dan perasaannya terasa begitu lega.
"Kukira berhenti di sini dan menikmati pemandangan tidak buruk juga. Kerja bagus." Baekhyun menepuk-nepuk punggung Jongdae seolah bangga.
Pemuda satunya hanya geleng-geleng kepala. Tapi ia tersenyum juga. "Baiklah. Malam ini terserah kau saja. Jangan lupa ganti uang bensin skuter kakakku."
Baekhyun manyun, tidak menyukai bagian mengganti biaya bahan bakar itu. Tapi tentu saja ia mau mengabulkannya. Baekhyun masih cukup tahu diri terlepas dari serius atau tidaknya perkataan Jongdae.
Baekhyun akui, ia memang terlampau melankolis belakangan ini. Ia sedang amat menyukai bagaimana semilir embusan angin menerpa wajahnya di tengah hening dan hanya riuh-redam suara bising dari jauh. Seperti memberi waktunya untuk berpikir, tentang berbagai hal yang meresahkannya belakangan ini.
Bahkan mempertimbangkan lagi tentang apakah semua ini nyata atau tidak, Baekhyun semakin merasa pikirannya cukup waras untuk melakukannya. Antara ingatan dan juga apa yang tengah terjadi, Baekhyun kian meragukan manakah yang merupakan realita.
"Hey, Byun."
Panggilan itu membuyarkan lamunan Baekhyun. Ia refleks menoleh mendengar Jongdae memanggilnya.
"Hm?"
Mirip seperti tadi siang di atap sekolah, keduanya kali ini bertumpu tangan pada pagar pembatas pinggir jalan yang memisahkan deretan rumah-rumah sederhana di belakang mereka dengan sebuah lereng landai.
"Apa kau mau mendengar versi jujur dari kebohongan yang pernah kukatakan padamu?" tanya Jongdae.
Baekhyun mengerutkan dahi, menelengkan kepala tak paham.
"Yeah, aku cukup banyak berbohong padamu." Jongdae melanjutkan dengan ringan.
Hidung Baekhyun mengerut, sedikit tersinggung oleh perkataan temannya itu. "Benarkah? Seberapa banyak?" tanyanya. Sebab Jongdae masih berbicara dengan sebegitu ringannya, ia sangka tidak terlalu besar pula hal yang akan mereka bahas ini.
Sejenak Jongdae menarikan matanya ke langit. Mengangkat sebelah sudut bibirnya. Berkata sebelum kembali menatap Baekhyun, "Sebenarnya tak sebanyak itu juga. Mungkin hanya satu. Atau dua. Tapi kurasa ini kebohongan yang cukup besar."
"Kau membuatku takut," kata Baekhyun.
Jongdae kini berputar sempurna menghadapnya. Tidak lagi bersandar ke pagar pembatas, atau menoleh setengah-setengah. Dan bahasa tubuh itu mulai membuat keheranan Baekhyun semakin menjadi-jadi.
Jongdae tampak gugup sekilas. Atau sekiranya begitu yang Baekhyun lihat. Setelah sempat menunduk dan mengusap hidungnya, pemuda itu kembali menatapnya.
"Begini,"
"Oh!" Baekhyun sedikit terperanjat. Ponsel di sakunya bergetar, tepat di saat ia sendiri harap-harap cemas menunggu apakah yang dikatakan Jongdae benar sebuah hal besar atau candaan saja. "Maaf. Sebentar."
Baekhyun merogoh saku jas seragamnya. Mendapati sebuah nomor asing menghubungi. Ia ragu untuk menerima panggilan itu. Terlalu lama mungkin hingga si penelepon mengakhiri lebih dulu. Namun, sebuah pesan menyusul setelahnya.
'Baekhyun, ini Do Kyungsoo. Maaf tiba-tiba menghubungimu. Dan maaf, sungguh, aku hanya terpikir untuk menghubungimu. Chanyeol ada di rumah sakit sekarang.'
Seketika, apapun yang tengah Baekhyun pikirkan, lakukan sebelumnya, menguap tanpa sisa tergantikan fokus terhadap apa yang baru saja dibacanya.
Do Kyungsoo pasti bercanda.
Baekhyun tidak akan mempercayainya begitu saja.
Kendati demikian, Baekhyun tak sadar jemarinya bahkan sudah gemetar saat menekan tombol panggil di ponselnya untuk menghubungi balik.
"Halo? Baekhyun?"
"K-katakan. Apa maksudnya."
Sungguh. Ini sama sekali tidak lucu. Di mana ia berada sekarang? Drama? Film? Mengapa semua begitu mempermainkannya?
"Baekhyun.. astaga." Suara di seberang panggilan tak ayal terdengar panik hingga Baekhyun turut merasakannya. "Bisa kau ke sini sekarang? Di Rumah Sakit Universitas Dong-Ah."
"Ada apa?" Baekhyun tak lagi yakin bagaimana suaranya terdengar.
"Itu.. akan kuberitahu nanti. Kau bisa—"
"Katakan yang jelas!" Suara meninggi. Tak peduli pada apapun lagi, Baekhyun hanya ingin berusaha menghilangkan kabut dari semua yang membingungkannya. Dari semua mimpi aneh, dan sekarang apa lagi?
"Chanyeol kecelakaan. Aku tidak tahu separah apa ini semua tapi aku yakin tidak akan ada yang baik-baik saja setelah kecelakaan sehebat—"
Baekhyun mematikan panggilan. Jelas tak sepenuhnya sadar saat ia berbalik dan telah berlari begitu cepatnya ke arah yang diingat kognisinya sebagai jalan menuju Rumah Sakit Universitas Dong-Ah.
"Baek! Baekhyun! BYUN BAEKHYUN!"
Panggilan Jongdae tak berbalas. Pemuda itu gesit kembali menaiki skuternya dan menyusul, memotong langkah Baekhyun.
"Kau gila?! Mau kemana?!"
"Rumah—Rumah Sakit Dong-Ah.."
"Pakai ini. Cepat." Jongdae segera memberikan helm yang tadi pula Baekhyun kenakan selama perjalanan mereka. Untuk apa atau mengapa mereka harus ke rumah sakit, bisa ia ketahui nanti. Melihat Baekhyun tampak seperti nyaris pingsan seperti itu sudah cukup bagi Jongdae untuk menentukan prioritas. Ia memegangi tangan Baekhyun yang bersusah payah naik ke jok tanpa harus limbung, sebelum melajukan skuter secepat yang ia bisa.
.
.
Begitu alas kaki menginjak pelataran gedung beraroma khas anestesi ini, Baekhyun sudah tidak benar-benar merasakan sekelilingnya. Selain isi kepalanya, yang lain tampak berputar-putar dalam tempo lambat. Hiruk-pikuk tak dapat ia kenali satupun bagai terucap dalam bahasa lain.
Setelah besar kepala menikmati kesenangan, seketika disadarkan akan kebodohan sendiri.
Hanya—ia tidak tahu—tapi dunia ini seperti sedang menohoknya. Dunia mimpi ini.
Baekhyun seharusnya sadar bahwa ini semua hanya mimpi, dan sadar bahwa semua yang ia alami adalah ilusi. Mengapa perlu seserius itu terhanyut di dalamnya? Mengapa harus sebodoh itu terbersit niat konyol di benaknya untuk mengakhiri hubungan dengan Chanyeol saat di kenyataan, Chanyeol adalah suaminya sendiri?
Apa yang sebenarnya kau coba lakukan?—pertanyaan yang diberikan oleh situasi ini.
Kakinya melangkah, masuk semakin dalam ke gedung itu. Entah benar atau tidak kakinya mengambil jalan.
Lihat apa buah perbuatanmu—pernyataan yang mengiringi seiring pikiran membuat konklusi bahwa ini adalah karma instan atas arogansinya.
Beruntung masih ada sisa dari kesadaran yang mampu membawa Baekhyun sampai di tempat yang tepat. Saat ini, selain Chanyeol dan kebodohan dirinya sendiri, tidak ada lagi yang memenuhi pikirannya.
Chanyeol kecelakaan. Aku tidak tahu separah apa ini semua tapi aku yakin tidak akan ada yang baik-baik saja setelah kecelakaan sehebat—
Tidak perlu Do Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya untuk siapapun dapat menyimpulkan bahwa bukan hal main-main yang tengah terjadi. Persetan dengan mimpi dan kenyataan, Chanyeol tidak boleh sakit. Chanyeol tidak boleh terluka. Baekhyun tidak mau.
Baekhyun sendirinya tak sadar kakinya berhenti begitu sampai di dekat Unit Gawat Darurat. Seperti saja kewarasan dan kesadarannya disedot habis oleh udara.
Seseorang di dekat kursi tunggu ragu mendekat. Orang itu kesulitan membaca raut Baekhyun, sehingga semakin ragu ia memberikan sesuatu di genggaman. Meski, pada akhirnya ia memilih segera menghampiri.
"Milikmu."
Sebuah buket besar terulur ke hadapan Baekhyun yang sejak pintu bertuliskan emergency itu tertangkap penglihatan seketika terhenti terpaku pada pijakannya meski masih sekian meter jauhnya dari pintu itu.
Butuh waktu cukup lama untuk Baekhyun mengenali benda yang disodorkan kepadanya, siapa yang melakukannya, juga apa arti yang baru saja dikatakan lelaki itu. Kinerja otaknya seakan sempat dihentikan sementara dan kembali berjalan dengan kecepatan superlambat.
Begitu kognisinya mampu mengenali sebuah buket bunga, Baekhyun tanpa sadar meraih benda itu dengan tangannya yang tampak tak sama sekali bertenaga.
Buket berisi beberapa tangkai mawar merah muda. Sederhana. Dan klise sekali.
"Dari Chanyeol."
Ya. Sederhana dan klise. Tipikal Chanyeol. Bertahun-tahun hubungan mereka berjalan, memang seperti itulah Chanyeol.
"Aku tahu mungkin sama sekali bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Tapi andai kau marah kepada Chanyeol karenaku, kau hanya salah paham. Setiap kali dia menemuiku, dia hanya menanyakan apa yang sebaiknya dia lakukan untukmu. Untuk kencan, untuk meminta maaf, semuanya. Bahkan untuk pergi membeli sebuket bunga."
Baekhyun menatapi satu per satu tangkai yang sudah tidak ada satupun di antaranya yang sempurna cantik seperti seharusnya. Mendengar kata-kata dari Kyungsoo, namun tak yakin otaknya menangkap dengan benar artinya.
"Kami hanya teman."
Pikirannya tak benar-benar berada di tempat ia berdiri saat ini. Apa yang lelaki di hadapannya katakan atau untuk apa tujuannya, Baekhyun tidak lagi mengerti. Hanya ditatapnya buket dengan rupa yang memaksanya membayangkan apa yang baru saja terjadi pada orang yang memegangnya.
Kalau saja bunga-bunga di dekapannya ini sampai langsung kepada penerimanya, langsung dari sang pemberi, tidak mungkin kelopak-kelopaknya berguguran dan robek di sana-sini seperti ini. Jelas mawar-mawar ini baru saja mengalami bencana.
Bahkan versi tidak sempurna dari buket mawar yang cantik ini, Baekhyun tahu tidak pantas ia terima. Akan lebih baik Kyungsoo mengatakan bahwa bunga ini bukan dibelikan Chanyeol untuknya.
Keberadaan siapapun di sekitar Baekhyun terasa mengabur. Ia tak yakin Kyungsoo ataupun Jongdae masih berada di sana atau tidak. Menyusul pendengarannya yang mendadak pengar. Ketika sebagian kecil dari dirinya ingin menertawakan adegan yang nyaris persis drama murahan yang tayang di televisi ini, tubuhnya yang secara jelas memijak dan berada di tengah-tengahnya, jelas tidak sedang berlakon, menamparnya keras-keras agar ia segera menghadapi kenyataan.
Bencana besar benar baru saja terjadi dan itu terjadi pada Chanyeol-nya.
Tungkai Baekhyun seperti kehilangan tenaganya. Sudah ingin luruh ke lantai tapi herannya ia masih berdiri diam di tempat. Masih menatapi bunga-bunga dengan mahkota yang hancur.
"Di.." Perkataan menggantung di udara. Baekhyun menelan ludah, nyaris tersedak ludah sendiri. Ia pun bingung mengapa tenggorokannya mendadak terasa sekering ini. Tatapan tak beranjak dari objeknya sedari tadi. "Di mana Chanyeol?" tanyanya. Pada siapapun terserah.
"Masih ditangani di dalam, tidak sadarkan diri," jawab Kyungsoo, berusaha tampak tenang meski wajahnya tak menunjukkan hasil berarti dari usaha itu. "Kita harus menunggu sebelum bisa tahu keadaannya."
"Bangunkan dia.."
Kyungsoo yang tadi memberikan jawaban bingung seperti apa harus merespon. Ia yang menyaksikan bagaimana kecelakaan itu terjadi dan mengira nyawa Chanyeol benar-benar direnggut saat itu juga, justru saat ini melihat Baekhyun yang tampak kehilangan ruhnya.
"Ini semua hanya mimpi. Beritahu dia.."
Jongdae yang sejak tadi diam di belekang Baekhyun melangkah mendekatinya. Tidak perlu lebih banyak kata-kata ataupun ekspresi untuk bisa mengetahui sejauh mana kejadian ini mengguncang Baekhyun.
"Baekhyun—"
"Bangunkan diaa!" Suara meninggi. Sentuhan Jongdae di lengan Baekhyun terempas. Setelah satu kali emosinya meluap seperti itu, tidak lagi pikirannya sanggup menahan diri.
"BANGUNKAN CHANYEOL!" teriaknya. Sembari berusaha tetap memeluk buket bunga miliknya, dia menarik kain pakaian yang Jongdae kenakan. "CEPAT BANGUNKAN DIA, SIAL!"
Tidak lagi Baekhyun sadar kepada siapa atau untuk apa ia berteriak dan meraung. Tapi seperti napasnya, kesadaran sudah tersisa satu-satu baginya. Lebih dari sekadar linglung.
Baekhyun membentak udara kosong.
Sayangnya semakin menyumpah mulutnya, semakin serak suara akibat teriak, Baekhyun diam-diam dan perlahan sadar kalau semua ini adalah salahnya.
.
.
Sama seperti pertama kali ketika ia terbangun di kamar dengan seragam SMA yang tergantung di dinding dan menganggap itu semua hanya mimpi, kali ini begitu pula Baekhyun ingin merasa. Seperti mimpi.
Baru saja ia dihujani euforia masa sekolah yang begitu dirindukannya, lantas berharap memang inilah realita yang ia tinggali dan meyakinkan diri sendiri untuk membuang prasangka ini-tidak-nyata yang tak henti menggelayuti, kini semua terjungkirbalikkan. Jatuh ke tanah setelah dilayangkan tinggi-tinggi. Persis.
Kali ini, Baekhyun berjanji bahwa ini terakhir kalinya ia begitu muluk mengharap dan menolak kenyataan setelah semua itu, ia ingin terbangun di kamar tidurnya bersama Chanyeol. Chanyeol suaminya. Tidak seharusnya di antara semua ini yang terjadi.
Chanyeol tidak pernah mengalami kecelakaan besar, Chanyeol tidak pernah berjam-jam tak sadarkan diri karena itu, Chanyeol—dan dirinya—hanyalah sepasang kekasih biasa di SMA, yang kemudian memilih berkuliah di jurusan yang berbeda namun tetap terikat layaknya sepasang burung cinta, kemudian memutuskan menikah tak lama setelah sama-sama mendapatkan pekerjaan.
Tidak ada satupun dari memori Baekhyun tentang ini semua. Tidak ada sedikitpun potongan ingatan di mana Chanyeol terbaring di atas ranjang rumah sakit dan dinyatakan berpotensi koma nyaris tak terselamatkan. Tidak ada.
Maka, ini benar seharusnya hanya mimpi.
Kedua telapak Baekhyun yang belum sedetik pun melepas milik Chanyeol semakin meremat tangan besar itu. Mata sembabnya menatap wajah dengan masker oksigen bercokol. Konyol sekali melihat bagaimana mimpi ini mempermainkannya. Ia ingin terbangun secepat mungkin.
Semakin jengkel Baekhyun akan semua pikiran ini, semakin napasnya terasa sesak. Sesuatu di pelupuk mata mendesak keluar. Panas. Seperti dadanya. Pikiran memerintah untuk meraung marah, hati terkikis melihat yang mengundang tangis. Kenyataan atau mimpi, siapa atau apapun yang membuat ia dan Chanyeol harus menghadapi ini semua, ingin sekali dimakinya.
Baekhyun dan Chanyeol seharusnya adalah pasangan yang sudah menikah dan tinggal bersama. Sama sekali bukan lagi bocah SMA. Memalukan bagaimana Baekhyun termakan oleh semua permainan ini. Sempat terlena, sungguh memalukan.
Bahkan pikiran tentang ia yang sesungguhnya tak pernah benar-benar mencintai Chanyeol itu.. betapa lancangnya. Sungguh rupa ketidakbersyukuran atas semua yang dimilikinya. Menikah dengan orang yang telah menjadi kekasihmu sejak bangku SMA, bukankah itu dambaan banyak orang?
Dan lihat apa yang sempat Baekhyun lakukan untuk semua kebahagiaan itu.
Jika di akhir kehidupan Baekhyun ditanyai alasan ia mencintai Chanyeol dan tidak ada satu jawaban pun yang ia miliki, ia tetap akan menyatakan Chanyeol adalah cintanya.
Pertama kali mereka bertemu, Baekhyun merasakan sesuatu yang membuatnya punya keinginan untuk bertemu lagi dan lagi dengan Chanyeol. Pertama kali mereka berbalas tatap, Baekhyun tidak lagi menemukan alasan untuk tidak menyukai mata itu. Pertama kali mereka tak sengaja bersentuhan, meskipun hanya sentuhan kecil kala mereka tak sengaja berdiri berdekatan saat mengantre di kafetaria, Baekhyun tahu tidak akan ada sentuhan dengan orang lain yang akan terasa semenyenangkan itu. Membuatnya menginginkan lagi dan lagi. Seketika itu ia merasa ingin bergandengan tangan dengan Chanyeol setiap saat, menatap matanya, bertemu dengannya. Apakah itu belum cukup sebagai alasan untuknya mencintai Chanyeol?
Ia tidak butuh alasan lain.
Terlebih dengan ingatan lima tahun mereka sebagai pasangan. Tinggal bersama. Hidup bersama. Membagi banyak hal satu sama lain.
Saat ini, baru saat ini, Baekhyun menyadari itu semua. Cukup hal-hal sederhana yang membuatnya tidak ingin berpisah dengan Chanyeol, dan terus menempel sebagai sepasang kekasih sampai duduk di bangku kuliah, sampai ia mengatakan pada ibunya bahwa hanya Chanyeol pria yang ingin ia nikahi.
Baekhyun rasa pepatah itu benar. Kau baru akan menyadari apa yang kau miliki di waktu kau nyaris kehilangannya.
Perlahan Baekhyun mengangkat telapak tanpa tenaga yang ada di rengkuhan telapak tangannya sendiri. Menurutkannya di antara tautan jemari kala batinnya mulai memanjat doa.
Setelah semua kekurangajarannya pada Chanyeol suaminya, dan bertumpuk rasa malu karena itu, Baekhyun ingin mengajaknya membantu memanjatkan permohonan.
Baekhyun ingin kembali. Bahkan sekalipun benar realita sesungguhnya adalah tanah dan waktu yang ia pijaki saat ini sementara sisa memori tentang masa depannya dengan Chanyeol adalah mimpi, Baekhyun ingin dikembalikan kepada mimpi itu.
Baekhyun rasa ini pertama kalinya, ia menangis sekeras ini. Mengecupi telapak tangan pria yang terus ia doakan kesadarannya.
Tuhan, tolong.
.
oOo
.
"...hyun,"
"Baekhyun? Sayang,"
Samar-samar, pendengaran mulai menangkap suara-suara. Redam. Rasanya seperti berada di bawah air, dan seseorang memanggilmu dari luar permukaan sana.
"Baekhyun.."
Kepala terasa berat. Begitu pula kelopak mata. Tetapi sang pemilik tetap memaksanya membuka, mengais kesadaran dan membiarkan sedikit demi sedikit cahaya tertangkap retina.
"Sayang?"
Meskipun buram, Baekhyun dapat mengenali wajah ibunya. Perlahan-lahan penglihatannya mulai jelas. Langit-langit kamar, pintu yang terbuka, dan sosok sang ibu yang duduk di sisi ranjang. Mengulurkan tangan ke kepalanya.
Cahaya lampu kamar tampak redup. Tidak seterang kapanpun waktu ia memasukinya sebelumnya. Baekhyun mencoba membuka mata lebih lebar, namun yang ia dapat adalah pusing luar biasa hingga sekelilingnya terlihat berputar-putar.
Lenguhan tanpa sadar lolos dari mulutnya. Satu-dua bulir keringat mengalir menuruni pelipis. Baru setelah itu Baekhyun menyadari, tangan sang ibu yang menempel di dahinya terasa sangat dingin.
"Tanganmu dingin, Bu.. Ibu—sakit?" tanyanya. Serak. Baekhyun berusaha menelan sesuatu yang membuat kerongkongannya tercekat. Terasa sakit.
Nyonya Byun menghela napas. "Kau demam, Sayang." Ia lagi memberi usapan lembut di kepala putranya. Selimut dinaikkan sampai sebatas leher.
Baekhyun berkerut dahi. Mengalihkan pandangannya ke langit-langit. Segalanya masih terasa berputar.
Demam, ya.
Seakan teringat sesuatu, Baekhyun kembali mencari-cari wajah sang ibu. Mengamatinya, menilik wajah juga rambutnya.
Kerut di beberapa bagian wajah. Rambut dengan helai memutih yang digelung rapi ke belakang.
Refleks, Baekhyun menghela napas pendek. Sekali, dua kali. Sesuatu yang hangat terasa mengaliri sisi wajahnya.
Semua itu hanya mimpi. Semua mimpi buruk itu tidak nyata. Matanya berangsur kian memanas, kian tergenang. Dadanya berubah lapang, lega, namun justru itu yang membuat Baekhyun semakin ingin menumpahkan emosinya.
"Minum ini."
Sebuah botol kemasan dengan sedotan diberikan ke hadapannya. Nyonya Byun membantu Baekhyun meminum cairan isotonik itu.
Botol dikembalikan ke nakas. Perhatian kembali terpusat kepada sang putra sulung.
"Mimpi buruk, hm?"
Baekhyun menatap wanita yang masih setia memberi usapan lembut di kepalanya.
"Kau menangis dalam tidurmu," katanya. Mendengar itu, Baekhyun justru tidak lagi bisa menahan air matanya. Lebih banyak lagi yang merembes keluar. Mengalir turun tanpa henti.
Baekhyun tidak berkata apapun. Ia menangis dalam diam. Namun sang ibu pula tak bertanya. Hanya terus memberi usap lembut, sesekali bersenandung dengan harapan memberi ketenangan untuk putra tersayangnya. Seolah-olah, tanpa harus Baekhyun menjelaskan pun, ibunya telah lebih dulu memahami.
Ting tong.
Bunyi bel dari pintu depan mengalihkan perhatian keduanya. Sang ibu beranjak gesit, "Sebentar," bangkit dan berjalan keluar.
Tak lama berselang, Baekhyun mendengar pekik tertahan ibunya.
"Chanyeol! Astaga, Nak, sepagi ini?"
Mendengar nama itu disebut, Baekhyun beranjak tak sabaran dari posisi tidurnya. Melawan rasa berat dan pusing luar biasa di kepala.
Chanyeol..
Lantai terasa dingin. Seperti membekukan kakinya yang tak berhasil menemukan sandal rumahnya saat turun dari tempat tidur sebab mata terus tertuju ke luar kamar. Baekhyun menyeret langkahnya meninggalkan ranjang. Nyaris terjatuh namun dengan cepat mengambil langkah demi bisa mencapai pintu, menggunakannya sebagai penyangga tubuh.
Di ambang pintu, ia sempat terhenti. Berusaha meredakan sakit di kepalanya, sekaligus menatap sosok tinggi yang sedang bicara dengan sang ibu sambil melangkah mendekat ke arahnya.
Mengabaikan tubuhnya yang terus limbung, Baekhyun mengambil langkah cepat, secepat yang ia bisa meski terhuyung-huyung. Pria tinggi itu melihatnya, terkejut.
"Baek?"
Begitu berhasil sampai di hadapan Chanyeol, Baekhyun menerjang pria tersebut, memeluk leher tingginya. Erat, sepenuhnya menumpukan beban tubuh di sana.
"Baek—astaga, panas sekali," Tak sempat bereaksi lain, Chanyeol refleks memeluk tubuh suami kecilnya. Tapi ia segera sadar itu tidak akan membuat keadaan lebih baik. Maka ia merunduk, meraih punggung dan sisi belakang lutut Baekhyun, mengangkat tubuhnya. Kepala Baekhyun terkulai, namun untungnya masih erat melingkarkan kedua tangan di leher Chanyeol.
Pria tinggi itu menurunkan Baekhyun perlahan ke atas ranjang, lantas hendak bangkit namun tertahan. Baekhyun enggan melepaskannya.
"Baek.."
Panggilan Chanyeol dibalas erangan lemah.
"Jangan pergi," Baekhyun semakin mengeratkan pelukannya. Menyembunyikan wajah ke ceruk leher Chanyeol.
Karena posisi yang memaksanya membungkuk rendah, Chanyeol memilih mengangkat kembali tubuh Baekhyun, menggesernya lembut. Ia lantas menempati celah yang tersisa. Turut berbaring dan membiarkan Baekhyun semakin beringsut mendekat di atas ranjang single size tersebut.
Chanyeol terdiam. Panas dari tubuh Baekhyun begitu kentara. Pria ini demam tinggi. Di samping itu, Chanyeol dibuat tidak mengerti dengan sikapnya. Dalam diam ia melingkari pinggang lelaki itu. Sesekali naik memberi usap dan tepukan lembut sesekali pada punggungnya.
"Baek," panggilnya.
Gumaman lemah ia terima sebagai jawaban. Setidaknya itu mengonfirmasi bahwa suami mungilnya masih berada dalam kesadaran.
"Kau sebaiknya istirahat,"
"Aku sedang melakukannya," bisik pria yang lebih kecil. Suaranya serak.
"Posisi ini bisa membuat tubuhmu semakin sakit."
Gelengan Chanyeol rasakan dari ceruk lehernya. Kedua lengan Baekhyun melingkar semakin erat.
"Baek, ada apa?"
Lagi, Baekhyun menggeleng. Kaki pendeknya turut memenjara kaki Chanyeol. Kini ia sempurna menempel seperti koala.
Chanyeol menelan ludah. Ia semakin bingung saja.
"Sebentar, biarkan aku mengganti baju,"
"Aku ikut." Suara serak Baekhyun menyahuti.
"Huh?"
"Ke mana pun kau pergi, aku ikut," kata Baekhyun lagi. Wajah masih tersembunyi di ceruk leher sang suami.
"Tapi aku tidak akan pergi ke mana pun? Aku cuma mau ganti baju." Dengan lembut Chanyeol berusaha menarik lepas pelukan pria mungil itu. Namun usahanya sia-sia. Baekhyun menggeleng lagi. Dan justru melingkarkan kedua lengannya lebih erat, lagi.
"Oh, astaga." Chanyeol menghela napas. Menyerah. Ia memilih kembali memeluk balik suaminya. "Kau membuatku bingung."
Tak ada lagi respon verbal Chanyeol dapatkan. Ia hanya terus mendengar napas panas tak teratur dari pria di pelukannya.
Baekhyun membuat pergerakan kecil. Chanyeol baru akan bereaksi akan hal itu namun sebuah kecupan di rahangnya telah lebih dulu menghentikannya. Chanyeol membeku. Lantas, kecupan kedua kembali ia terima di tempat yang sama.
"Baek.."
"Aku merindukanmu,"
Satu kalimat, diucapkan dalam bisik. Namun itu terasa seperti alunan surga yang membuat dadanya terasa penuh. Sesak dengan cara yang menyenangkan.
"Baekhyun.."
Satu kecupan lagi. "Aku sangat merindukanmu."
Chanyeol merasa darahnya berdesir. Aneh sekali. Ia seperti kembali merasakan sesuatu yang telah lama tak hadir. Seperti kembali ke masa saat dirinya dan Baekhyun masihlah sepasang kekasih.
"Oh, Baek, biarkan aku menatap wajahmu," mohonnya. Ia kembali mencoba mengurai lilitan lengan Baekhyun di lehernya. Walaupun tidak berhasil, si mungil melonggarkannya, memberi ruang bagi Chanyeol untuk mencipta jarak demi menemukan wajahnya.
"Hey, kenapa menangis?" tanya Chanyeol pelan. Suaranya tanpa sadar turut berubah menyerupai bisik.
Sambil menerima usapan lembut untuk titik air matanya, Baekhyun menatap dalam-dalam wajah di hadapannya.
"Aku.." Sejenak ia berpikir. Kemudian, urung mengucap karena tak satu kata pun ia anggap tepat untuk mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Ia lantas hanya terdiam, mengamati bagaimana Chanyeol menatapnya sabar sembari mengelus lembut surai madunya.
Di saat seperti ini, perkataan ibunya tentang apa yang biasa terjadi di kehidupan pasca-pernikahan baru terasa nyata. Maka semua rasa jemu itu, rasa bosan itu, termasuklah kepada semua yang biasa itu. Bersama seorang yang sama selama bertahun-tahun, tidak mungkin semua itu tak hadir.
Hanya saja, kau tahu kau tak akan bisa hidup tanpanya.
Rasa meletup-letup, menggebu-gebu, atau perasaan lainnya yang pernah hadir itu, nyaris saja terlupakan oleh Baekhyun.
Sebab seperti apapun rupanya saat ini, seharusnya Baekhyun tahu—hanya Chanyeol yang bisa memberikan perasaan itu, atau semua hal lainnya, kepadanya. Hanya Chanyeol.
Lega dan bahagia mendapati bahwa mimpi buruk tetap menjadi mimpi buruk dan sama sekali bukan bagian dari kenyataan, Baekhyun sendiri kelimpungan agar dapat mengekspresikannya secara tepat. Dia bahagia sekali. Sungguh.
Tanpa repot-repot mengingat bahwa ia belum menjawab pertanyaan Chanyeol, Baekhyun menarik kembali wajah pria itu, dan membenamkan bibir mereka ke dalam sebuah ciuman. Ia rasakan benar kehadiran pria itu, juga perasaan-perasaan yang hanya pria itu yang mampu hadirkan, lantas yakin sepenuhnya bahwa inilah realitanya. Realita di mana ia mengingat kembali, apa yang nyaris ia lupakan.
Bertemu dan mencintai Chanyeol di dalam hidupnya, tidak pernah menjadi sebuah kesalahan.
Baekhyun melepaskan ciumannya. Meski membalas mengimbangi, Chanyeol tidak dapat menutupi gurat heran di wajahnya. Apalagi, Baekhyun sama sekali tidak melepaskan tatapan darinya, atau mengambil lebih banyak jarak daripada sejengkal di antara wajah mereka berdua.
Dari rahang, jemari Baekhyun bergerak ke telinga suaminya. Tanpa maksud apapun menyibak rambut yang jatuh menutupi pelipis pria itu. Hanya ingin menatapi pahatan mengagumkannya, yang secara aneh memercikkan perasaan-perasaan menyenangkan seolah-olah baru pertama kali Baekhyun jatuh cinta kepadanya.
Namun, ia terhenti ketika matanya menangkap bagian yang aneh dari pelipis Chanyeol.
"Chanyeol.." Baekhyun menyingkirkan lebih banyak anak rambut untuk melihat lebih jelas tanda yang ditemukannya. Walaupun samar sekali, ia tahu apa itu.
Sebuah bekas luka. Memanjang entah dari mana mulanya di antara helaian rambut Chanyeol sampai ke pelipisnya.
"Sejak kapan kau memiliki ini?" tanya Baekhyun, jari masih meraba bagian yang ia maksud dan mata belum lepas darinya.
Seharusnya tidak ada tanda itu di sana.
"Hm?" Sempat bingung sesaat, Chanyeol akhirnya menangkap apa yang Baekhyun tuju, "Ah. Kecelakaan itu, Baek. Kukira kau tidak suka membahasnya lagi, hm?"
"K-kecelakaan?"
Chanyeol membenarkan. Yakin Baekhyun melupakannya karena mungkin sudah terlalu lama mereka tidak membahas itu. "Saat kita SMA."
.
fin
.
.
Jadi, 'mimpi buruk' itu bener2 mimpi atau bukan? Hoho, mari berteori.
Barangkali ini berasa banget klise dan anehnya. (Dan mungkin yang sering mampir ke sini udah sering liat saya bilang gini) Tapi saya suka banget. Sebagian dari chapter ini udah ada sejak pertama kali saya publish chapter 1, alias lebih dari setahun yang lalu. Bahkan endingnya udah diketik. Tapi tengahnya masih bolong sementara mood ceritanya raib gitu aja. Jadi terbengkalai deh.
Tbh saya berencana lanjutin ini setelah skripsi. But yeah something happened (not related to my final project, it's quite good so far) and I'm kinda stressed. Jadi saya kepengen nulis buat refreshing. Akhirnya berhasil selesain ini. Manse!
Makasih banyak ya, yang udah baca ini. Saya masih inget ada yang pernah up ini ke base (karna kayaknya jarang2 saya ngeksis di sana, makanya saya inget banget, xixi) dan pengen ini dilanjutin. Saya nggak pernah niat discontinue yg belum selesai kok hwehe. Maaf kalo nggak sesuai ekspektasi apalagi worth the wait ya.. Kalau ada masukan, saya bakal berterima kasih banget. See you next chapter/? (hihi).
