Disclaimer: Cerita ini dibuat demi kesenangan pribadi dengan meminjam nama-nama tokoh dalam "Naruto", karya Masashi Kishimoto.
THE RULES OF LOVE
Bab 1
Apa yang lebih memalukan ketimbang seorang wanita berumur tiga puluh tahun, di siang bolong, yang mengintai kontrakan yang dominan dihuni oleh kaum adam? Ia adalah Haruno Sakura. Demi menjalankan misi pengejaran, ia rela berjongkok di balik dua bilik telepon umum bersama sesosok makhluk hijau bernama Lee. Bajunya yang serba hijau.
Hampir setengah jam mereka ngumpet. Yang ditunggu tidak juga menampakkan batang hidung. Rasa risih pun timbul saat Sakura melihat mahakarya di dinding bilik itu. Entah vandalis hormonal mana yang menggambar anu beserta keterangan "O-chin ... piiip". Tak urung, ia meringis jijik.
Ia menepuk-nepuk pundak Lee saat target tampak berjalan dengan kantong kertas di genggaman. Mereka buru-buru keluar dari persembunyian dan mengejarnya. Sialnya, pria itu melarikan diri. Akan tetapi, ia lebih sial sebab lawannya ialah Lee yang punya ketahanan fisik super dan tertangkap pula ia. Ayam gorengnya berguguran sia-sia. Ia ditahan dan digiring ke mobil kantor.
Mobil pun melaju, meninggalkan ayam goreng tadi. Kasihan, sekasihan pria ini. Ia meringkuk di jok tengah selama wanita berambut merah muda itu menyetir bagai orang kesetanan sampai ke kedai sukiyaki yang terletak di sebelah kantor polisi.
Kini, sang tahanan duduk menunduk, tapi sesekali mencuri pandang. Sakura pun tak tega pada akhirnya, lalu mendesah.
"Kapan naskah novel Anda selesai, Udon-san?"
Pantas mereka segigih ini. Kontrak sudah jadi tiga bulan lalu. Janji Udon, naskahnya bakal selesai dalam dua purnama dengan bimbingan sang editor, Lee, agar karyanya bisa segera diterbitkan. Secepatnya! Dan jika perlu, tulisannya sudah masuk proses penyuntingan sebelum waktu perjanjian.
Semua berkat seseorang dari rumah produksi afiliasi salah satu perusahaan perfilman terbesar, Uchiha Enterprise, yang mendapati melejitnya novel Udon sebelum ini. Burung liar pun membawa kabar, sang novelis tengah menulis karya baru. Dengan harapan bahwa kejayaan akan terulang, orang rumah produksi tadi lantas menanyakan kebenarannya pada pemimpin redaksi Rashinban Lit., salah satu unit usaha perusahaan multimedia Rashinban Media Group. Itu divisi Sakura bekerja.
Kemudian, dimulailah segala kerumitan. Begitu pemred membenarkan kabar dan menunjukkan premis cerita Udon, rumah produksi mengusulkan ide film adaptasi novel itu pada Uchiha Enterprise. Singkat cerita, tiga pihak bersepakat. Yang ketiga tentunya Rashinban Lit. atas persetujuan CEO sendiri. Cerita baru yang dinilai lebih menarik itu akan langsung digarap begitu enam ribu eksemplar terjual.
Masalahnya, siapa yang akan menjamin bahwa target waktu bisa terpenuhi dalam tiga bulan? Padahal, target tercepat untuk menjual seribunya saja adalah sebulan. Sekarang, bukan saja ekspektasi mereka yang meleset. Situasinya bahkan menjadi lebih buruk dari bayangan Sakura. Udon kabur. Hampir dua bulan.
"Kapan naskah Anda selesai?" ulang Sakura.
Sang novelis menelan ludah. Lee berusaha meredakan amarah atasannya, tapi diabaikan. Tak ayal, Udon gemetaran, tampak tidak punya pilihan. Ia tiba-tiba menunduk hingga kepalanya membentur meja. Mereka terperanjat.
"Maaf, aku benar-benar tidak sanggup menulis lanjutannya!" kata Udon.
"Maksudmu?" tanya Lee. "Ah, duduk yang benar! Jangan begini!"
Udon segera menegakkan badan, lalu membenarkan kacamata minusnya.
"Jelaskan!" perintah Sakura.
Masa bodoh dengan rasa iba. Saat bicara tentang nasib profesi dan cuan, ia harus tega.
"Aku kehilangan inspirasi," kata Udon.
"Writer's block?" tanya Lee.
Sang novelis menggedik, seakan tak yakin apakah memang masalah umum rata-rata penulis itu penyebabnya.
"Oke," ujar Sakura. "Dari mana Anda mendapatkan ide atau inspirasi?"
"Kehidupan pribadiku."
XxX
Selama tidak memengaruhi kesehatan, kehidupan pribadi pasien bukan urusan dokter. Namun, dengan spesialisasi yang disandang, Hyuuga Hinata justru harus mengetahui hal-hal paling pribadi pasien. Biasanya yang baru pertama atau kedua kali datang akan merasa rikuh. Tak jarang yang menghambat jalannya anamnesa. Laki-laki berusia tiga puluh enam tahun di depannya ini, misal.
Hinata menyayangkan, mengapa pasien tertampan yang pernah ia jumpai musti datang kemari. Namun, bagaimana lagi? Pilihan hidup beserta konsekuensinya tak pernah pandang bulu. Dan pria ini masih beruntung karena tak mengalami gejala penyakit jika diamati dari keterangannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya pasien.
Sambil menuliskan resep obat, Hinata tersenyum dan menjawab, "Anda sehat, Uchiha-san."
Tentu, sebagai dokter penyakit kelamin, Hinata lega pasiennya baik-baik saja. Hal yang sama tergambar di wajah lelaki itu meski tidak ditunjukkan. Pasti ia tegang menunggu jawaban dokter sebab ia sadar, apa yang telah ia lakukan sedikit berisiko.
Ia punya pacar berkehidupan cenderung bebas. Ia lantas tahu bahwa rupanya kata cenderung terlalu meremehkan gadis itu. Meskipun cuma sekali, memergoki pacar sedang berhubungan intim dapat menjadi penyadar. Ini yang ketahuan, terus berapa kali yang belum? Oleh sebab itu, ia datang ke klinik dua pekan setelahnya. Sekarang, setelah tidur dengan wanita bayaran, ia panik dan ke sini lagi.
Setidaknya, bagi Hinata, pasiennya itu panik. Kalau tidak, si pasien tak bakal ke sini saat baru tiga hari lalu ia meniduri si wanita komersial. Bayangan Hinata, pria ini pasti tidur dengan pacarnya juga.
"Hanya ...," lanjut Hinata, "saya sarankan agar Anda lebih mengontrol gaya hidup. Saya yakin, Anda paham maksud saya."
Pasien mengangguk.
"Ini bisa di apotek klinik," ujar sang dokter lagi sambil menyodorkan selembar resep.
"Bukannya saya sehat?"
"Cuma obat luar untuk pencegahan."
Tak pelak, jawaban Hinata membuat sang pasien semakin kikuk. Mungkin harusnya ia memeriksakan diri pada dokter laki-laki, jadi ia tak akan semalu ini. Apalagi, dokter di hadapannya itu terlihat jauh lebih muda darinya.
"Oh. Kalau begitu, selamat siang," jawab si pasien, lalu menghilang di balik pintu.
Setelah itu, Hinata berdiam dan berpikir keras. Diketuk-ketukannya pena Ohto-nya di meja.
"Uchiha ...," ucapnya, "Sasuke."
Lalu, ia bergumam panjang. Kedatangan kedua si pasien membuatnya mengingat-ingat sesuatu. Ia yakin pernah mendengar nama itu dari seseorang, entah siapa. Jadi, demi menjawab rasa penasarannya, ia memeriksa ulang data diri Sasuke. Di situ hanya disebutkan, pasien bekerja di perusahaan swasta. Tempat tinggalnya di City Tower Azabu Juban. Kondominium. Tak ada warga kelas menengah ke bawah yang mampu tinggal di sana.
Uchiha ... Uchiha Enterprise. Yamanaka Ino!
Salah satu sahabatnya bekerja sebagai asisten pribadi Chief Marketing Officer (CMO) Uchiha Enterprise yang merupakan unit usaha dari perusahaan konglomerasi Uchiha Penta Corporation. Yang jelas, pria itu salah satu anggota Uchiha pecahan, keluarga konglomerat. Sekarang, Hinata yakin seratus persen, Bos Ganteng Kejam atau ATM-nya si Pacar Mata Duitan yang sering Ino sebut tak lain adalah Uchiha Sasuke. Siapa lagi lelaki tampan dan tajir, tapi bego karena pacarnya yang gila harta kalau bukan pasiennya itu?
Karena ingatan itu pula, Hinata tertuntun ke gerbang ingatan lain. Ini menakjubkan! Ia tahu siapa lagi yang mengenal Sasuke, lalu dihubunginya orang tersebut.
"Iya, Cintaku," jawab Naruto, tunangannya.
Hinata kesal setengah mati sebab adanya prinsip konfidensial. Ia tak diperbolehkan mengungkap jati diri serta permasalahan pasien pada siapa pun. Tak peduli sebesar apa pun alasan kekhawatirannya. Maka, ia memikirkan cara lain.
"Aku tiba-tiba ingat kau punya janji makan malam lagi dengan teman sekolahmu. Ah, siapa namanya?" tanya Hinata.
"Uchiha Sasuke. Aku, kan, sudah cerita," balas Naruto.
Mana ia ingat! Kalau bukan karena Sasuke yang ke klinik hari ini, mungkin ia tak akan terpikirkan untuk memastikannya. Kini, ia resah setelah penasarannya terjawab dan tak bisa menghindari bayangan-bayangan aneh yang langsung bermunculan di otak. Ia tahu ini salah. Meski demikian, rasanya bakal sulit untuk berprasangka baik sebab Naruto dan Sasuke saling kenal.
"Ada apa, Sayang?" tanya Naruto.
"Tidak ... hm ... setelah kalian makan malam kemarin, kau ke mana?" Hinata bertanya balik.
"Tentu pulang, dong! Aku masih harus memeriksa hasil ujian anak-anak."
"Kemarin malamnya lagi? Malam-malam sebelumnya?"
"Kau tidak percaya padaku?"
"Jawab saja!"
Di seberang, Naruto mendesah. "Aku tidak ke mana-mana. Sungguh! Kau ini kenapa, sih? Tiba-tiba ini curigaan."
Hinata terdiam sejenak. "Tidak ... cuma ... berjanjilah, jangan macam-macam!"
"Baik, Nyonya. Nanti malam, aku mampir ke tempatmu. Love you!"
Telepon ditutup. Wanita itu memijat-mijat kening. Semua gara-gara Uchiha Sasuke, ia jadi mencurigai Naruto. Kalau bukan itu, maka kehidupan yang penuh kejutan tak terkiralah penyebabnya.
XxX
Sakura kira, Udon yang berusia dua puluh enam tahun itu cuma terlambat menjalani jenjang kehidupan karena alasan tertentu. Ternyata, tokoh utama dalam novelnya itu tak lain adalah manifestasi dirinya sendiri. Getir memang, tapi entah harus dikasihani atau dianggap sebagai konsekuensi wajar. Meski begitu, Sakura tetap harus menjaga perasaan Udon.
"Ah, jadi ... ." Sakura mencoba berhati-hati dalam bicara. "Kami ... harus menunggu Anda lulus kuliah untuk sampai di bagian ending-nya, begitu?"
Peduli setan, lah! Bukannya ia gatal ingin bertanya, melainkan karena ini memang perlu, bahkan harus ditanyakan. Novel si pria berkacamata bulat itu menceritakan kisah pemuda, mahasiswa abadi, yang di tahun ketujuh perkuliahannya mendapat readmisi agar tak kena D.O. Akan banyak pelajaran tentang keluarga, persahabatan, dan pendidikan. Cerita bergenre komedi ini pastinya dibumbui romansa penuh trik.
Premisnya lumayan tak pasaran, bahkan menarik. Jarang ada, sepertinya. Namun, bagian antiklimaks sampai penyelesaian itulah yang menjadi masalah.
"Aku bingung ... benar-benar tidak ada jalan keluar. Aku harus pulang kampung," ujar Udon.
"Udon-kun, apa yang kauinginkan dalam hidupmu?" tanya Lee.
Sang novelis terdiam sejenak, seperti tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sesekali, ia memainkan jari-jarinya.
"Aku harus lulus kuliah. Harus. Tapi, orang tuaku mulai kehabisan uang. Ini ... semua salahku. Harusnya aku tidak usah menulis saja," jawabnya.
Sakura memang bukan psikolog, tetapi ia cukup memahami bahwa dalam keadaan seperti ini orang jadi cenderung gampang menyalahkan diri atau apa pun. Hanya, ia tetap menyayangkan sikap sang novelis.
"Haruno-san ... bukankah Anda Katsuyu? Anda pasti punya alasan berhenti," lanjut Udon.
Benar. Udon adalah salah seorang yang tahu bahwa Sakura pernah menerbitkan lima novel dengan nama pena Katsuyu. Namun, keliru jika ia berharap wanita ini akan dapat memahaminya sebab alasan mereka berhenti menulis novel tidaklah sama. Sakura punya prioritas lain berupa pekerjaan. Kegiatan menulisnya saat ini hanya "menjual" opini untuk kolom tajuk rencana surat kabar perusahaannya. Ia juga tak pernah lari dari tanggung jawab seperti Udon.
"Udon-kun, kau sadar konsekuensi apa yang akan kita terima?" cecar Lee.
"Untuk itu ... ."
"Sama halnya alasan berhenti, mungkin Anda juga harus punya alasan untuk tetap melanjutkan. Khusus novel ini, oke?" sela sang redaktur.
Pria itu tampak berpikir lagi, sementara Sakura dan Lee mulai frustrasi. Mereka pun dikejar waktu. Yang paling penting, dikejar laporan pertanggungjawaban!
"Tinggal tulis saja sesuai dengan premis yang Anda buat," lanjut Sakura.
Raut Udon benar-benar terlihat putus asa. Ia menyerah. Mereka memang tidak tahu bagaimana rasanya di posisi Udon, tetapi satu yang pasti, kontrak kerjasama ketiga pihak itu lebih kejam. Mereka tidak bakal mau tahu.
"Haruno-san, jika Anda mau membantu, besok aku akan ke kantor. Aku berjanji!" balas Udon.
Sakura mengangkat alis.
"Royalti yang kuterima, lima puluh persennya akan kubagikan dengan Anda kalau Anda meneruskan novel itu."
Mata sang redaktur pelaksana terbelalak. Sejujurnya, tawaran itu menggiurkan, tapi bagaimana dengan perbedaan gaya bahasa mereka? Para pembaca pasti dapat mengenalinya.
"Kumohon!" pinta Udon sambil membungkuk.
XxX
Di ruangan pemimpin redaksi, Sakura dan Lee duduk. Ajisai, sang pemred, tampak berpikir. Tentu, tanpa persetujuannya dan CEO, Sakura tak akan berani mengabulkan permintaan Udon, novelis yang ternyata seorang mahasiswa abadi. Delapan tahun belum lulus.
Pantas cerita itu terasa riil. Terlalu nyata, bahkan. Udon menuangkan perasaannya, realitasnya, dan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Seakan, novel itu pertanda bahwa ia akan mengakhiri karir sebagai penulis. Dan ia membenarkannya. Ia akan hengkang dari dunia menulis.
Sekarang, mereka sedang menunggu panggilan CEO mereka setelah meminta bertemu. Namun, mereka tidak perlu ke sana. Ia yang akan mendatangi mereka. Mumpung sedang di divisi ini.
Seorang pria gondrong masuk. Biasanya, CEO berusia tiga puluh enam tahun itu tampak tenang, apa pun yang terjadi. Kali ini, ia gagal menyembunyikan kekesalan. Mukanya ditekuk, langkahnya lebih cepat.
"Apa dia gila?" Kata-kata itu yang pertama kali Hyuuga Neji ucapkan.
Ia melempar tatapan tajam pada ketiga bawahannya. Sakura dan Lee kini bagai pelanduk di hadapan harimau.
"Ke mana otaknya itu?" lanjut Neji.
Yang lain masih diam, membiarkan pria itu melampiaskan emosinya. Pemimpin mana pun pasti belingsatan ketika proyek penting terancam gagal. Kepercayaan tak bisa dibeli. Di samping itu, permasalahan krusial lain terus menghantui. Keuangan Divisi Penerbitan Buku tengah mengalami penurunan akibat berkurangnya jumlah pembaca yang membeli buku cetak.
"Di mana Hanabi?" Neji menanyakan adik sepupunya yang merupakan direktur Unit Media Cetak.
"Beliau masih di Osaka, Pak," jawab Ajisai.
Sang CEO mendesah berat. Ajisai lantas memberanikan diri untuk menawarinya minum. Untung Neji mau, lalu si pemred mengambil sebotol air mineral di kardus yang selalu ada di tiap ruang kerja atasan.
"Ah ... oke," ujar Neji setelah agak tenang. "Soal novel Udon, saya akan ubah rasio produksi versi cetak dan elektroniknya. Bikin dua ribu cetak, selebihnya e-book. Untuk kali ini."
Kedua wanita itu mengangguk. Tatapan Sakura nanar. Butuh keberanian untuk mengambil keputusan itu, sebab jika hal tersebut berlanjut ... lambat laun pekerja percetakan terpaksa dikurangi. Neji tidak pernah menginginkannya.
"Omong-omong, saya kepingin datang di rapat kalian lusa," lanjut pria itu.
"Baik, Pak," jawab Ajisai.
"Kamu bawa files inti cerita-cerita itu? Saya, kok, jadi penasaran," ujar Neji.
Sakura mengangguk. Ia memang selalu menyimpannya di ponsel. Jaga-jaga kalau itu dibutuhkan di mana dan kapan pun. Ia lantas membuka dan memperlihatkannya pada sang CEO. Neji membacanya.
"Ini sudah kamu bahas?" tanya pria itu.
"Lusa, Pak. Naskah itu baru terkumpul semalam," jawab Sakura.
Bola mata Neji bergerak konstan dari kiri ke kanan. Tak lama, ia menggaruk-garuk keningnya.
"Apa bedanya ini dengan light novel?" komentar Neji.
Sakura setuju. Satu-satunya perbedaan adalah naskah ini jauh lebih panjang dan rapi. Selebihnya pembodohan. Herannya, justru yang begini yang dicari-cari.
"I can't believe that many women love this kind of ... kalian, buang yang beginian pada tempatnya! Dikira CEO punya banyak waktu buat ngejar-ngejar cewek? One night stand pula!" lanjut Neji dengan agak menggebu-gebu.
Ketiga orang lainnya memaklumi perilaku Neji. Bukan baru sebulan dua bulan media penuh dengan kritik "manis" dari beberapa komunitas pegiat sastra setelah menilai bobot buku-buku terbitan Rashinban Lit. Pihak yang paling malu sebenarnya Ajisai dan Sakura. Mereka dinilai kurang becus mengawasi editor-editor akuisisi, bahkan meloloskan. Neji jelas terkena imbasnya karena dipandang terlalu lunak terhadap Rashinban Lit.
"Habis masalah Udon kelar, kita ketemu berempat untuk membahas jalan keluar soal perolehan naskah!" perintah Neji.
"Baik, Pak," jawab mereka.
"Pastikan Hanabi datang! Anak itu mulai seenaknya!"
"Baik."
"Satu lagi."
Mereka menahan napas. Kali ini, Neji hanya menatap Sakura.
"I know this sounds unfair to you, but we need you to clean up that motherfucker's shit. Terserah caranya, saya yakin kamu bisa. Lee, kamu yang dampingi Miss Sakura!"
Mereka merasa lega sekarang. Setidaknya, Neji setuju karya Udon akan diteruskan oleh Sakura. Wanita itu tidak butuh namanya. Dapat royalti setengah lebih saja sudah bersyukur. Lagi pula, itu adalah karya terakhir Udon.
XxX
Heran. Dari tadi, istrinya menggerutu di kursi lobi kantor sambil menatap layar telepon genggam. Obito yang penasaran, mendekatinya. Ia melihat ponsel Izumi dan tampaklah panel-panel komik.
"Kayaknya asyik, ya," komentar Obito.
"Oh, hei! Habisnya kau lama sekali, jadi aku baca-baca saja," jawab sang istri.
"Sorry," balas Obito sambil mengusap pundak Izumi. "Ya, sudah, kita berangkat."
Izumi berdiri dan mereka pun berjalan menuju tempat parkir, hendak pergi ke restoran untuk mengganti jam makan siang yang tidak sempat mereka nikmati akibat pekerjaan yang menumpuk. Selain itu, mereka sudah membuat janji bertemu dengan Sasuke, adik sepupu Obito.
Di sepanjang perjalanan, Izumi tak henti-hentinya mengumpati lakon-lakon dalam komik tersebut. Tetapi, yang justru tak ia sukai adalah tokoh utama wanita. Obito, sang CEO Uchiha Penta Corp., mengulum senyum. Ternyata, cerita-cerita aneh dan yang menurut Izumi adalah "sampah" itu tetap dibaca karena dua alasan. Pertama, ia ingin tahu fiksi macam apa yang super laris di kalangan masyarakat luas; kedua, memang tak banyak pilihan, jadi lumayan untuk sekadar membunuh waktu. Izumi mulai mengerti, barangkali alasan kedua itu yang dirasakan para pembaca.
Sesampainya mereka di restoran, mereka segera menghampiri Sasuke yang sedang melahap daging asap. Obito tersenyum licik, membuat adiknya memutar bola mata.
"Happy now?" omel Sasuke.
Terang ia sewot. Kejadian tiga hari lalu adalah ulah kakak sepupunya itu. Obito sengaja membuatnya mabuk berat usai pertemuan mereka dengan empat calon rekan kerja, termasuk produser dan seorang artis belum terkenal yang biasa memerankan tokoh jahat atau figuran. Kebetulan, si artis kadang mau melayani pengusaha atau eksekutif muda, terlebih yang tampan. Demi karir, katanya. Dan Sasuke ialah satu-satunya penerima sial di antara lima pria yang ada di sana.
Dunia ini memang selalu punya sisi kelam. Kadang kejam. Namun, sekejam-kejamnya dunia, tidak pernah ia berniat untuk terlibat dalam kehidupan cinta satu malam. Baginya, itu bentuk hubungan yang absurd.
"Jadi, apa hasilnya?" tanya Izumi.
"Thanks to your beloved husband, aku sehat." jawab Sasuke.
Obito terbahak-bahak hingga mendapat pukulan manja dari Izumi. Lalu, pasangan suami-istri itu duduk dan memesan menu yang sama.
"Lagian, ujung-ujungnya sama saja, 'kan? Mau tidur dengan si Pengeruk Harta atau wanita bayaran, kau tetap takut terjadi sesuatu padamu. Nah, tahu bedanya?" ujar Obito.
Sasuke mengangkat alis.
"Uangmu bakal sama-sama terkuras, tapi pacarmu akan menghabiskan energi dan waktumu jika kau berniat serius. Pikirkan itu, Bung!" jawab sang CEO.
"Serius, aku tidak suka dengannya!" timpal Izumi. "Siapa nama loli tipemu itu? Shina?"
"Shion," ralat Sasuke, "dan dia bukan loli."
"Dia benar, Sayang. Cewek pendek bukan berarti loli. Loli itu cute, tidak seperti oba-san," ejek Obito.
Sasuke pun mengerang.
"Ya, ampun, Sasuke! Kau diberi apa, sih, sampai begini? Memang, kau betul-betul cinta dia?" Izumi merepet.
Sang adik ipar bergeming. Ia hanya merasa pacarnya menarik. Mungil dan ceria. Menyenangkan. Namun, cinta? Ia tak tahu apakah perasaan itu sudah ada dalam hubungan yang berjalan hampir setahun ini.
Tiba-tiba, Obito menjentikkan jari. Lalu, katanya, "That's it, Bro! Selain perasaan senang saat kalian bersama, apa lagi?"
"Nah!" timpal Izumi. "Pernah, tidak, kau sampai merasa atau berbuat bodoh di depannya?"
Cecaran kedua kakaknya kali ini benar-benar di luar kemampuannya untuk menjawab. "Kita jadi bahas pekerjaan, 'kan?" tanyanya kesal.
"Baik, baik." Obito mengalah. "Jadi, kami curiga Udon akan berhenti menulis. Izumi penggemarnya, jadi dia mengikuti akun media sosialnya," jawab Obito.
"Itu buruk," komentar Sasuke.
Mereka mengangguk berbarengan. Setelah itu, Izumi membuka sesuatu di mesin pencari. Ia menunjukkan laman media sosial Udon. Pria itu tampak agak tertekan. Status terakhir yang ia unggah adalah sebuah novel karya penulis lain yang mendapat ulasan bagus. Beberapa datang dari penulis-penulis senior.
"Udon mengagumi Katsuyu, ya?" gumam Izumi.
"Katsuyu?" tanya Sasuke.
"Gender, classified. Tapi, kalau dilihat dari pencapaiannya ... walau dia cuma bikin lima novel, dia penulis yang baik."
Karena penasaran, kedua pria itu kini ikut mencari informasi lebih tentang si novelis misterius bernama Katsuyu. Terlebih sang CMO merasa perlu mengamatinya supaya nantinya ia bisa mengukur pasar. Ia lantas membeli buku eletroniknya dan membaca isinya secara acak.
"Sayang, ya, pembacanya tidak sebanyak pembaca light novel atau semacamnya," celetuk Izumi.
"Mutu selalu bersifat piramidal. Yang terbawah peminatnya paling banyak. Yang teratas, sebaliknya," balas Sasuke.
"Benar," timpal Obito sambil asyik mengunyah daging.
Pasangan suami-istri itu kemudian heran melihat adik mereka yang sangat serius membaca. Sasuke jarang menyukai fiksi. Ia lebih memilih membaca nonfiksi. Misal, jurnal atau opini. Mereka kira, karya Udon saja yang membuatnya asyik membaca, bahkan kadang senyum-senyum. Berbeda dengan saat ini. Pada halaman belakang, matanya seakan terpatri.
Rambutnya cemani. Matanya langit malam yang berduka setiap kali ditinggalkan matahari. Lalu, bulan itu adalah aku. Bulan selalu lebih hidup saat ada hitam.
Dan aku tak mau percaya pada adagium kopi. Sebab, jika yang hitam selalu iblis, maka matilah warna-warna. Cahaya kehilangan makna. Aku kehilangannya.
Tokoh utamanya adalah pria. Katsuyu mungkin juga seorang pria meski nama penanya terdengar seperti wanita. Bagian paling menarik adalah ketika peribahasa tentang kopi ciptaan Charles Maurice nyangkut. Asosiasi hitam Katsuyu terasa romantis sekaligus getir. Bikin tersanjung tanpa alasan yang jelas.
Dan itu adalah novel terakhir Katsuyu. Novel yang diunggah Udon. Terakhir ... terakhir sampai Izumi memekik dan berkata bahwa Udon menutup akunnya.
"Aku penasaran, siapa Katsuyu? Dia dan Udon ini sama-sama menerbitkan buku-buku mereka di Rashinban Lit.," ujar Izumi.
Sasuke masih menatap layar ponsel. "Katsuyu," gumamnya.
XxX
"Shoot!" Sakura mengumpat.
Tiga wanita lain sontak menoleh. Sakura cuma meringis tak enak hati.
"Duh, bikin kaget saja!" protes si pirang, Yamanaka Ino.
Wajar ia kesal sebab kegiatan mereka jadi terganggu. Ia sedang seru menggosipkan bosnya bersama para sahabat. Yang lain bahkan telah tenggelam dalam ceritanya, terlebih Hinata. Ia tampak paling antusias.
Saat berada di puncak kekesalan karena pacarnya—kali ini karena si bos—Ino akan mengundang segenap kru pergosipan yang terdiri dari ia dan ketiga sahabatnya. Kadang ke kafe roti dan es krim; kadang jika sudah gajian, ia mentraktir mereka di rumah makan manakan laut. Sayangnya, sekarang masih tanggal tua, jadi bincang-bincang mengenai skandal atasannya itu berlangsung di Semioticoffee, kedai kopi milik Tenten yang dibuka tiga tahun lalu.
Meski demikian—dan sama seperti para pengunjung lain—ia suka suasana adem tempat ini. Desain interiornya sederhana, tapi tetap cantik. Tembok putihnya dibuat seperti belum tercat penuh, sementara di bagian ujung ruang dekat jendelanya, pot-pot kayu cokelat muda berisi bunga atau daun palsu menempel. Di tiap meja kayu krem itu diberi tiga tangkai bunga krisan segar dengan warna berlainan. Karyawan Tenten menggantinya dua hari sekali.
"Lanjut saja! Tadi sampai mana?" balas si redaktur.
"Aku sudah lupa. Lagian, ada apa, sih?" tanya Ino.
"Ini ... Deidara akan datang besok."
Sakura terpaksa berbohong sebab ia tak mungkin membocorkan soal Udon yang baru saja menutup akun media sosialnya. Tentu ia percaya pada ketiga sahabatnya, tetapi yang satu ini lain cerita. Ino adalah sekretaris pribadi CMO Uchiha Enterprise. Rasanya kurang patut jika ia yang bekerja di perusahaan rekanan untuk proyek film adaptasi novel Udon itu mengetahuinya. Sebelum CEO atau delegasi Rashinban menyampaikan pemberitahuan, masalah ini masih bersifat internal.
"Pasti dia ingin membahas pertunangan kalian," balas Hinata. "Bagus, 'kan?"
Sakura termenung. Ino ikut termenung karena alasan lain. Begitu melihatnya, mereka menyadari sesuatu. Yamanaka Ino cantik dan tinggi semampai. Sayang seribu sayang, kehidupan percintaannya tidak pernah mulus. Agaknya salah kata pertunangan dilontarkan.
Ada suatu kejadian di masa lampau yang lantas membuat membuat kata tadi jadi terlarang. Bahkan, kalau bukan lantaran hendak bertunangan saat itu, Hinata tak bakal dengan enteng mengucapkannya. Ia pun berdeham, mencoba menepiskan rasa bersalah. Sakura dan Tenten hanya diam sambil sesekali saling melirik.
"Jadi, sebenarnya Sasori itu serius atau tidak, sih?" celetuk Tenten.
Kontan mata Sakura dan Hinata terpejam. Dan benar. Karena pertanyaan dari wanita yang kadang tak sensitif itu, Ino masygul, lalu menenggelamkan wajahnya di meja. Ia bingung, harus dijawab apa pertanyaan tadi. Menurutnya, sang pacar serius, tapi selalu menghindari di tempat ramai untuk berkencan karena ... .
"Dia malu karena lebih pendek dariku," jawabnya.
"Berapa senti?" celetuk Tenten.
"Dua belas saja, kok!"
Baiklah. Harusnya ia tidak usah bertanya. Sudah jelas lelaki setinggi 162 sentimeter itu bahkan tak sampai sekuping si pirang. Dibandinkan dengan Sakura dan Hinata saja, ia masih lebih pendek. Cuma Tenten yang menyamai. Jelas itu masalah bagi harga diri pria.
"Padahal, aku tidak mempermasalahkan itu. Tidak pernah!" rengek Ino.
"Ino, beri dia waktu, ya, sampai dia tahu kalau kau memang tulus," hibur Hinata.
Tenten mendesah berat. Saran memang lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan. Seperti Hinata. Sebelum kedua sahabatnya yang lain datang, sang dokter berkeluh kesah soal Naruto dan si teman sekolah yang, menurutnya, tak beres.
"Dia benar. Terlalu mencurigai pasangan bakal membuat hidup kita tidak tenang. Ya, 'kan, Hinata?" goda Tenten.
Yang diejek mengerang lirih. Ia akui, yang satu ini lebih menyeramkan daripada saat dulu mereka berjuang demi mendapatkan restu ayahnya. Setidaknya, ia tahu sang tunangan mencintainya dengan sungguh-sungguh. Entah nanti, kalau Naruto mulai kenal dunia teman lamanya itu. Bisa saja ia berubah.
"Ada apa, sih?" tanya Ino penasaran.
Hinata memalingkan muka. Tenten pun berdecak melihat kelakuan sahabatnya.
"Biasa, tiba-tiba merasa insecure dan jadi curigaan," jawab wanita bercepol dua itu.
"Itu wajar saja, kecuali kalau berlebihan karena ...," tanggap Sakura.
"Aku sudah melakukan yang ada di aturan dalam cinta, tapi ... ada yang kucemaskan saja," ujar Hinata.
Aturan dalam cinta tadi berisi beberapa komitmen untuk menghindarkan mereka dari situasi tidak menguntungkan dalam hubungan asmara. Sayangnya, Hinata tak boleh memberitahu siapa yang membuat dirinya khawatir. Apalagi Ino sangat kenal manusia itu.
"Sepertinya masalahmu ... ." Ino batal melanjutkan perkataan karena ponselnya berbunyi.
Si pirang mendesah lelah saat nama sang bos muncul. Ia terpaksa menjawabnya.
"Ya, Pak ... baik ... pakaian wanita jenis apa dan ukurannya berapa ... baik, segera."
Wanita anggun itu kaget begitu menyadari enam mata yang membulat. Mereka memang sudah tahu kalau bos Ino sering keterlaluan saat meminta sesuatu, tetapi yang baru saja, merenggut keingintahuan mereka.
"Baju wanita?" tanya Sakura. "Kenapa kau tanya sampai sedetail itu?"
Ino memutar bola mata. Temannya yang satu ini memang kerap melewatkan rinci cerita. Itu sebabnya, Sakura telat berpikir.
"Bosmu yang tampan membawa wanita. Kau harus tahu siapa wanita itu, karena sebelumnya dia pernah bersama dengan wanita lain. Wannaitosutendo. Kalau kali ini, si pacar yang kehidupannya acakadut. Jadi, kalian paham, 'kan?"
Mereka pun ber-oh-ria. Dalam hati, Hinata mengeluh, mengapa ia harus mengetahui kegilaan Sasuke sampai sedetail ini. Pria itu benar-benar tidak mengindahkan kata-katanya. Baru tadi siang ia memberikan saran, sekarang sudah lupa.
"Maaf, Miss Tenten, Tuan ini mencari Anda," sela seorang pelayan kedai.
Mereka berempat menoleh bersamaan. Hanya Hinata dan Sakura yang terkejut karena Neji mengenal Tenten. Pria itu tak kalah kaget, tak menyangka bahwa adik sepupu dan karyawannya mengenal Tenten. Malah, sepertinya sangat akrab. Sang pemilik Semioticoffee pun meringis, juga bingung melihat ekspresi Hinata dan sang CEO.
"Maaf, bisa kita bicara di tempat lain?" tanya Neji.
"Kami sedang ada diskusi krusial. Kalau Bapak punya waktu lebih, mending Bapak mengerjakan yang lain," jawab Tenten.
"A ... ."
"Aduh, Bapak kurang kerjaannya, ya?" potong Tenten dengan nada jengkel.
Hinata yang bingung pun bertanya, "Dia ... laki-laki menyebalkan yang kauceritakan di grup Lime kita kemarin?"
Yang sering datang sejak sebulan lebih ini. Begitulah pastinya. Herannya, ia tak pernah muncul saat mereka ada di sini. Mungkin belum takdir dan sekaranglah takdirnya. Takdir yang juga membuat Tenten mendelik gara-gara pertanyaan barusan.
Hinata berdeham, lalu menatap pria itu. "Nii-san, kalian ... ."
"Nii-san?" Tenten yang terkejut kali ini.
"Oh ... ano ... dia kakak sepupuku," balas Hinata.
Tenten butuh penjelasan tentang semua ini. Hinata menatapnya dengan penuh rasa bersalah, sementara Neji salah tingkah. Pokoknya, serba salah. Entah di mana salahnya. Ino pun tidak tahu harus bersikap bagaimana. Hanya Sakura yang sempat-sempatnya menahan tawa. Habis, ia ingat perkataan Neji tadi siang. Nyatanya, pria ini ... CEO ini punya banyak waktu untuk mengejar wanita.
Sayang, yang dikejar adalah Tenten. Jelas ia ditolak, sebab salah satu aturan dalam cinta tadi ialah untuk tak pacaran dengan orang super kaya. Namun, jika Hinata dan Neji bersaudara, mengapa sahabatnya itu mengikuti peraturan dalam cinta dan lebih memilih seorang dosen?
Sementara itu, Neji memutuskan untuk duduk di meja luar. Wajahnya panas bak ditampar sandal. Ia memang sudah biasa ditolak oleh Tenten, tapi mengapa harus di depan karyawannya? Dan mengingat bagaimana Sakura gemetaran karena geli, ia makin jengkel.
o
o
o
o
o
Bersambung.
Catatan Penulis
Hai, hai! Akhirnya tercapai juga ngulangin cerita ini dari awal. Yang sudah membaca tulisan yang dihapus, pasti tahu. Soalnya perbedaannya banyak banget. Semoga ini nggak dirombak-rombak lagi dan mungkin update-nya nggak cepat-cepat. Lagian, bawa-bawa perusahaan dan CEO itu sebenernya agak riskan. Takut keliru :D
Btw, saya mau ngingetin dari awal. Jadi, pertama, ini cerita tentang orang dewasa. Saya nggak bisa larang kalian yang masih di bawah umur untuk nggak baca, tapi ingat ini baik-baik: kalian bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Kedua, saya nggak mungkin membuat karakter tokohnya sama melulu dari satu fanfiksi ke fanfiksi lain. Tidak mungkin manusia harus selalu "bersih". Hanya, saya nggak akan pakai cara-cara vulgar aduhai. Saya cukup konsisten soal yang satu itu kok. Jadi, kalau ada yang agak terusik, saya mohon maaf dan pilihan mau lanjut baca atau nggak, tetap ada di tangan kalian.
Terima kasih untuk kalian yang tetap mau menunggu cerita ini dan mendukung. Kalian sangat pengertian, huhu! Selamat membaca.
