Fanfiction Boboiboy

Character : Fang and Ying

Age : 28 and 27

Set : Park


"Aku belum mau menikah Fang", sahut Ying malas ditengah seruputan es kopi miliknya.

"Kenapa?", tanya Fang lagi untuk kesekian kalinya. Menatap Ying yang duduk di bangku yang sama, bersebelahan dengannya.

Gadis itu mengedarkan pandangan sejenak. Pemandangan pasangan kekasih yang sedang mengelilingi taman membuat Ying semakin malas menjawab pertanyaan Fang

"Aku...Yah, aku tidak mau saja"

"Kenapa?", tanya Fang, lagi.

"Haiyaah, bisakah kita tidak mengulang ulang pembicaraan ini Fang?, keluh Ying. Gadis yang dikenal dengan dua kunciran khasnya ini sudah mulai bosan kala Fang selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap mereka menghabiskan waktu seperti saat ini. Bagi sebagian orang memang hal ini tabu untuk dipertanyakan. Beruntungnya Fang, karena Ying sama sekali tidak sensitif akan hal seperti itu. Dia hanya bosan mendengarnya.

"Apa masalahnya?", Fang menyatukan kedua alisnya, bingung. "Aku kan hanya ingin tahu"

Inikan bukan ujian sekolah. Ying saja menyukai saat saat ujian diadakan, mengapa ia tak mau menjawab pertanyaan mudah lagi sederhana ini?

Ying mendengus kecil. Kenapa sih sahabat satu ras dengannya ini selalu menanyakan pertanyaan yang sama? Apa dia tidak punya pertanyaan lain? Padahal kan Ying selalu menjawab kalau Ying masih belum mau menikah. Dan apa urusan Fang? Fang mau apa dengan semua jawaban Ying itu? Apa Fang akan mengoleksinya?

"Aku...aku tidak mau punya anak Fang", jujur Ying akhirnya. Berharap agar Fang tidak akan mengangkat topik yang sama kalau ia sudah memberi jawaban yang berbeda dari biasanya.

"Aku tidak mau dia hidup dalam penderitaan", lanjut Ying.

"Hidupku saja sudah terlalu berat, lalu akan bagaimana dengan hidupnya?", Ying menghela nafas berat, lalu mengakhiri kalimatnya, "Huhh.. Aku masih bisa bertahan saja sudah syukur"

Ying jelas tak berharap banyak pada hidupnya. Selama ia masih bisa menghirup oksigen, selama ia tidak menyulitkan orang lain, dan selama ia masih bisa berdiri di atas kakinya sendiri, Ying sudah sangat bersyukur.

"Menikah kan tidak harus memiliki anak", ujar Fang setelah cukup mendengar penuturan dari Ying. Fang juga merasa senang, karena akhirnya Ying berterus terang padanya.

"Memangnya aku tahan mendengar ocehan mertua dan bisikan tetanggaku nanti?", sinis Ying.

Ia teringat tetangga sebelahnya yang selalu bertanya kapan Ying akan menikah, tapi mereka selalu berbisik ghibah kalau melihat Fang mengantarkan Ying pulang di malam hari. Mereka pikir apa yang pemuda rambut landak ini berani lakukan pada Ying? Ying bisa bisa menghajar pemuda ini kalau dipikirannya sempat terlintas untuk berbuat jahat kepada Ying.

"Yah, tidak usah didengarkan. Kau pasti akan butuh seseorang untuk menjadi teman hidupmu", nasehat Fang seolah ia bisa mengalahkan keras kepalanya Ying.

"Tidak apa aku bisa mandiri", sahut Ying dengan yakin. Dia hidup sebatang kara sejak lama. Ying benar benar sudah terlatih untuk jadi mandiri. Dia bertekad untuk tidak menyusahkan orang lain di hidupnya.

"Kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?", sekarang mereka seperti penjual dan pembeli yang sedang bernegosiasi. Dimana Fang sebagai penjual yang bersikeras menawarkan Ying untuk istilahnya segera membeli seorang pria yang akan menjadi suaminya kelak.

Ying tadinya ingin menghempaskan beban pikirannya dengan menghabiskan waktu bersama Fang di taman, yang sepertinya sekarang tidak akan berhasil. Salahkan Fang yang mengungkit apa alasan dari keputusan Ying belum ingin menikah, "Itu dia Fang, anakku akan semakin kesulitan jika terjadi sesuatu padaku. Aku tidak akan tega melihatnya hidup bersama ibunya yang menyedihkan ini"

"Kalau begitu aku yang akan jadi ayahnya!", ujar Fang tiba tiba.

"Eh?"

"Ya! Dengan Fang yang hebat dan keren ini, apa yang bisa terjadi pada anakmu? Atau harus kusebut anak kita?", Fang tersenyum narsis memulai sifat percaya dirinya lagi, dan sedikit menggoda Ying yang sama sekali tidak mempan. Dia memulai ocehan bodoh seolah dia adalah segala-galanya. Ying sudah banyak menjalani hari saat Fang menyombongkan dirinya sendiri seperti ini. Dia tak akan bisa kesal lagi karena ini sudah menjadi makanan sehari-harinya.

"Kau baik sekali, tapi maaf Fang, kau sudah terlalu banyak membantuku", kata kata yang disampaikan Ying benar benar halus, sampai Fang tidak menyadari adanya nada penolakan disana.

"Apa maksudmu? Oh ayolah kau selalu mengungkit beasiswa itu. Itu kan hanya hal kecil. Tidak tidak...", Fang menggeleng-gelengkan kepalanya sehingga rambutnya yang memang bergaya acak itu semakin berantakan.

"...Aku hanya membantumu mencari pihak yang mengadakan seleksi untuk beasiswa, yang berjuang memenangkannya itu kan kau Ying.."

Memang benar, Fang membantu Ying mencarikan beasiswa kuliahnya. Kondisi Ying saat itu sangat menyedihkan sehingga Fang merasa kalau dia harus membantu Ying. Fang pernah menawarkan untuk membiayai kuliah Ying, tapi Ying tidak mau. Dia merasa tidak enak karena menurutnya mereka tidak ada hubungan apa apa. Keluarga bukan. Sepupu bukan. Kekasih? Memangnya memenuhi biaya kuliah itu kewajiban seorang pacar? Tidak tidak... Mereka hanya berteman dekat. Yah, untuk waktu sekarang, hubungan mereka baru sebatas teman dekat.

"Yah, tapi tanpa bantuanmu tetap saja", protes Ying. Ying ini tipe pembeli yang keras kepala ternyata. Ia tidak mudah jatuh dalam strategi licik si penjual alias Fang.

"Jangankan hidup bersamamu, bertemu denganmu saja merupakan salah satu keajaiban dalam hidupku", pandangan Ying mulai menatap lurus ke depan.

"Kau benar benar ada saat aku membutuhkan bantuan. Disaat aku terpuruk kau pasti ada disampingku. Aku bersyukur sekali bisa bertemu denganmu kala itu Fang", memori Ying mulai memutar kejadian dimana dia pertama kali bertemu dengan Fang.

.

.

.

.

.

Lalu lintas benar benar lengang saat itu. Di pinggir jalan berdiri seorang gadis keturunan tionghoa dengan tatapan kosong. Tampilannya berantakan dan auranya terasa begitu suram. Matanya yang sejak awal memang sudah sipit, semakin sipit saja karena menangis berhari-hari yang mengakibatkan matanya bengkak. Sudah seminggu setelah neneknya pergi meninggalkannya untuk selamanya, namun orangtua dari gadis itu tetap tak peduli, sedikit pun tak memperhatikan keadaannya. Gadis itu baru saja lulus dari sekolah menengah atas dan baru akan melanjutkan kuliahnya kalau saja neneknya masih ada disampingnya. Neneknya yang selalu mendukungnya dan menyemangatinya untuk terus berjuang.

Dan kini, memikirkan bagaimana beratnya menjalani hidup tanpa ada seseorang untuk menopangnya membuatnya takut untuk menjalani hari esok. Gadis itu lelah. Secara fisik dan juga mental. Seakan pikirannya kosong, entah apa yang membawa gadis itu melangkahkan kakinya menyeberangi jalan tanpa memperhatikan sekeliling.

Tiiin tiiiin

Gadis itu, yang ternyata bernama Ying, hanya menoleh ke arah suara klakson itu berasal. Dan iris birunya itu mendapati sebuah mobil melaju ke arahnya.

Bukannya mundur kembali ke trotoar jalan, Ying malah merentangkan tangannya ke arah datangnya mobil dan memejamkan matanya, seperti orang yang menunggu mobil tadi menyeruduknya layaknya banteng.

Ying terus memejamkan mata seraya menanti rasa sakit yang mungkin akan dideritanya. Ia berbisik dalam hati, 'Aku akan menemuimu nek, segera. Aku akan datang'

Sekian detik berlalu, namun rasa sakit yang ditunggu Ying tak kunjung tiba. Hanya terdengar suara pintu mobil yang terbanting dengan keras.

"Apa kau bodoh hah?", bentakan seseorang membuat Ying kembali membuka matanya dan mendapati seorang pemuda menatapnya marah dan sedikit...khawatir?

"Hei, kau dengar tidak? Kau pikir apa yang kau lakukan? Kau mau mati konyol hah?", sembur pemuda itu lagi di depan wajah Ying.

Oh, Ying mengerti. Pemuda ini adalah pemilik mobil yang tadinya sedang melaju kearahnya, yang sekarang berhenti beberapa meter di pinggir jalan. Iris merah pemuda yang menatapnya kesal saat itu, namun bibirnya tetap menanyakan keadaan Ying membuat gadis itu merasa sedikit tenang. Meski cara yang dilakukannya untuk mendapat perhatian itu terlalu berbahaya, namun Ying senang. Setidaknya masih ada orang yang peduli terhadap keadaannya. Maka dari itu, walaupun Ying belum mengenali pemuda ini dengan baik, tapi Ying tetap menerimanya untuk masuk di kehidupannya.

Setelah kejadian itu, pemuda yang ternyata adalah Fang terlihat selalu mengawasi Ying. Mengawasi agar Ying tidak melakukan percobaan bunuh diri lagi. Fang selalu menemaninya, menghiburnya dan kembali mencerahkan hari hari Ying. Ying sudah kembali ke sifat aslinya. Dia kembali bersikap ceria, hangat, dan cerewet, semua itu berkat Fang. Fang juga menyuruh Ying untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya, dan akan membantu Ying mencari biaya untuk kuliah yang akhirnya didapat melalui beasiswa. Sehingga Ying bisa menginjak bangku kuliah walau harus ditunda beberapa tahun.

.

.

.

"Aku sungguh berterimakasih Fang", ucap Ying tulus setelah ingatannya melayang cukup lama. Tak disadarinya, Fang sedari tadi memandang wajahnya yang terlihat damai saat mengenang pertemuan pertama mereka.

"Aku tidak butuh terima kasihmu. Bagaimana kalau aku meminta balas budi??", tanya Fang yang kelihatannya ada udang dibalik batu.

"Ceh, kau tidak ikhlas ya?"

Fang mulai bersikap serius, "Bukan begitu, aku ingin meminta sesuatu darimu"

"Apa yang kau inginkan?", Ying sudah bersiap menghajar Fang kalau bibir pemuda ini berani melontarkan permintaan yang aneh aneh dari Ying. Tangan Ying sudah mengepal dan kakinya siap melayang dalam sekali ayun.

"Izinkan aku jadi ayah bagi anak anakmu"

"Hah?" Ying tak jadi mengayunkan kakinya. Dia hanya bisa tercengang di tempatnya mendengar perkataan Fang. Bahkan tangannya sekarang terlihat sudah tidak mengepal lagi.

"Pasti menyenangkan. Anak kita akan memiliki wajah yang tampan sepertiku, otak yang cerdas tapi cerewet sepertimu. Hidupnya tak akan pernah menderita. Kita akan selalu bersamanya", Fang berkata seakan Ying sudah setuju mau menikah dengannya. Sepertinya Fang berbakat menjadi pedagang. Ia benar benar lihai menawarkan dagangannya pada Ying.

Fang meraih kedua telapak tangan Ying dan menggenggamnya, "Aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya, aku akan menjaganya, menjagamu Ying. Menafkahi kalian semampuku, dan memberi kebahagiaan untuk kalian Ying"

Fang yang tadinya bersikap bodoh dengan mengandai andai sekarang menunjukkan raut wajah yang serius membuat Ying merasakan perasaan aneh tapi hangat di hatinya.

"Kita akan merawatnya. Menikmati setiap hari pertumbuhannya dan akan jadi memori yang paling indah. Aku akan membimbingnya untuk menjadi pria yang hebat, menyayangi keluarganya, menyayangimu sebagai ibunya, sehingga kau akan menjadi seorang ratu di keluarga kita nanti Ying"

Ying hanya bisa menahan nafas mendengar apa yang disampaikan oleh Fang. Tangannya membalas erat genggaman Fang yang kini berlutut di hadapannya. Ying terus menatap wajah Fang sekian lama. Sepertinya pembeli kita akan segera kalah dengan tawaran si penjual ya?

"Jadi, bagaimana Ying? Mau menikah denganku ya?"


Terlihat seorang gadis di depan cermin besar sendirian. Gadis yang biasanya memiliki wajah manis tapi kekanakan itu kali ini terlihat cantik dan anggun. Riasan di wajahnya, gaun putih dengan aksen birunya, hiasan kecil di rambutnya yang digerai, benar benar membuatnya terlihat sempurna saat ini.

Ya, gadis itu adalah Ying. Setelah percakapan malam itu, Fang semakin menunjukkan keseriusannya. Ternyata Fang sejak awal sudah menyukai gadis ini. Dan alasannya selalu menanyakan Ying pertanyaan membosankan itu adalah untuk mengetahui apakah Ying sudah punya seseorang atau belum.

Fang sebenarnya lega karena Ying sama sekali tidak tertarik untuk mencari calon. Mau bagaimana pun Fang ingin bersama Ying saat gadis itu benar benar siap untuk menikah. Siapa sangka, pertanyaan konyol nan membosankan itu membuatnya menyampaikan perasaannya pada Ying di malam itu. Kali ini mereka sungguh akan menikah. Bukan khayalan atau bualan bodoh dari Fang lagi.

Ying pada awalnya ragu untuk menerima Fang. Perbedaan status dan derajat di antara mereka lah yang menjadi alasannya. Fang yang seorang pengusaha, dan Ying yang baru saja memulai karir di dunia kerja. Ying tidak mau jika ia harus menikah, namun keluarga Fang terus menentang dan merendahkannya. Lebih baik ia berteman saja dengan Fang, itu sudah lebih dari cukup.

Kenyataannya apa yang ditakutkan Ying bukan berarti apa apa. Fang sudah tidak memiliki orang tua sama sepertinya. Fang hanya memiliki seorang kakak yang, uh... sangat tampan. Sosoknya jauh lebih dewasa dibanding Fang yang sedikit konyol, dan wajahnya itu, benar benar tampan dan sangat mirip dengan Fang. Sepertinya semua keluarga Fang memiliki genetik yang rupawan. Mungkin kalau nanti Fang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Ying akan berpaling barang sebentar saja pada kakak iparnya itu.

.

.

.

.

Terlihat di altar dua insan yang saling berhadapan. Sepasang kekasih yang hari ini akan menjadi sepasang suami istri itu kini sedang menjalankan ritual sumpah pernikahan. Sang surya yang bersinar cerah seakan memberi restu kepada mereka. Pun dengan suasana yang semakin hikmat dengan kicauan burung.

Fang adalah penyelamat bagi Ying. Dan Ying juga merupakan penyemangat bagi Fang. Status, derajat, dan latar belakang tak akan bisa menghalangi mereka. Karena bagaimanapun, mereka telah ditakdirkan untuk bersama. Ying yang nyaris jatuh ke jurang yang dalam, di bawa terbang oleh Fang tinggi ke angkasa. Pertanyaan membosankan dari Fang lah yang menjadi perantara mereka untuk bisa terbang bersama. Dan sepertinya, penjual dan pembeli kita ini sukses melakukan negosiasinya.

"Apakah saudara Fang bersedia menerima saudari Ying sebagai istri sah Anda, mulai hari ini, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam keadaan kaya atau miskin, menerima segala kekurangan dan kelebihannya, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati sampai maut memisahkan?"

"Ya, saya bersedia"

"Apakah saudari Ying bersedia menerima saudara Fang sebagai suami sah Anda, mulai hari ini, dalam keadaan sehat atau sakit, dalam keadaan kaya atau miskin, menerima segala kekurangan dan kelebihannya, menyayangi dan mencintainya sepenuh hati sampai maut memisahkan?"

"Ya, saya bersedia"


Hai teman teman!

Gimana ini??

Hihii, biasanya kan gombalan itu 'Ibu dari anak anakku' ya kan?? Nah kali ini kita buat 'Ayah dari anak anakmu' Kyaaaaaa!!!!!

Fang nya udah cukup manis kah?Bingung Fang nya mau diapain lagi ini. Enaknya diapain yah?Tinggalkan komentar dan saran yah!!