.
.
Haruna Lee proudly present
Let's Not Fall In Love
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
This fic is purely belongs to Haruna Lee
Inspired by a song by BIGBANG
Warning : OOC (hopefully no), typo(s), drama
Kalau ada kesamaan alur, ide, tokoh, setting, dsb kami mohon maaf. Pada dasarnya semua karya memiliki hal yang menginspirasi berarti setiap karya itu mengcopy, meniru. Jadi, jangan marah kalau ada kesamaan. Karena keoriginalitasan itu tidak ada, menurut kami. Well,
Happy reading, minna~
.
.
.
Uchiha Sasuke namanya. Seorang murid jenius berperawakan tinggi semampai. Tidak ada yang tidak mengenalnya. Seantero sekolah bahkan menginginkan menjadi temannya. Akan tetapi, sangat sulit. Lelaki itu lebih senang sendiri dan tenggelam dalam buku-buku tebalnya. Nerd. Mungkin itu kata yang tepat. Kemampuanya tidak diragukan lagi, sebagai peraih nilai tertinggi di sekolah ia sering dikirim menjadi perwakilan sekolah bahkan juga perwakilan regional. Penampilannya charismatic. Ia biasa memakai kacamata ketika membaca, bahkan kacamata itu menambah kesan sexy dalam dirinya. Matanya yang tajam tidak berkurang walau di balik kacamata kotak itu, hidung tempat kacamatanya bertengger begitu mancung, bibirnya tipis dan ia memiliki rahang dan tulang pipi yang tegas. Ah, jangan lupakan rambutnya yang terlihat berantakan namun rapi disaat bersamaan. Semua orang memuji ketampanan dan kejeniusan otaknya.
" Tch." Ia mendecih karena terganggu konsentrasinya oleh suara berbisik di belakangnya. Ia sadar ada segerombolan perempuan yang membicarakannya di belakang. Mereka mengintip dibalik rak melalui buku-buku itu. Sasuke membenarkan letak kacamatanya dan mengambil ponsel beserta earphone dari sakunya. Mendengarkan musik bisa membuatnya terhindar dari gangguan bisik-bisik menyebalkan dimanapun. Sungguh, bagi Sasuke, terkadang ia sebal dengan kelebihannya. Makhluk-makhluk berisik itu adalah fangirl-nya. Mereka sedari tadi sibuk memujanya, membuat ia risih. Tapi, namanya juga Sasuke, sekesal apapun, stay cool.
" Hell-lo, boy!" Suara lantang nan ceria memekakkan telinganya. Ia mendelik tak suka. Kura-kura sialan. Sasuke tahu siapa gadis itu, gadis yang berani menarik earphone-nya dan berteriak di telinganya, gadis kura-kura ini selalu mengganggunya. Tepatnya, satu-satunya gadis yang berani mengganggunya. Menghiraukannya, ia kembali sibuk dengan buku dalam genggamannya dan membiarkan sebelah dari earphone-nya menggantung begitu saja.
" Shit, turtle." Gadis yang dipanggil turtle itu hanya tertawa ringan.
"Oh, hai! Good day, ladies!" Gadis itu malah melambai-lambai pada fangirl Sasuke. Sasuke menyeringai mendengar mereka menggerutu dan pergi dari 'persembunyiannya'. "Kau tahu boy, kau seharusnya peka, mereka itu menyukaimu, berilah kesempatan. Sekedar 'hai' tidak akan membunuhmu." Gadis itu berbicara santai sambil memakan apel merah di genggamannya. Ia bahkan berbicara sambil mengunyah. Tidak sopan memang, tapi tampaknya hal itu tidak mengganggu Sasuke.
" Tch, aku hanya tidak mau memberi mereka harapan kosong. Terlalu merepotkan. Dan asal kau tahu kura, kaulah yang seharusnya lebih peka, mereka itu membencimu, kau baru saja mempermalukan mereka barusan." Sasuke mengetuk-ngetukkan jarinya di kening gadis itu.
"Oh, boy! Mereka hanya iri padaku. Karena aku bisa dekat dengan pangeran mereka." Gadis berambut merah muda itu memasang wajah gemas sambil menggelitik dagu Sasuke seperti memperlakukan kucing. Sasuke langsung mendecih dan menyingkirkan tangan gadis itu. "Pilihlah salah satu dari mereka, masa tidak ada yang menarik perhatianmu? Mereka sangat banyak kau tahu, hampir seluruh siswi di sekolah ini anggotanya." Ia menarik buku dalam genggaman Sasuke dengan santainya. Lalu berjalan menuju meja di tengah ruangan.
"Urus saja pacar-pacarmu, kura-kura. Mereka semua butuh perhatianmu." Ucap Sasuke sebal namun tetap duduk di sebrang Sakura dan memandangnya malas.
"Wow, wow.. Kau seperti kekasih yang sedang cemburu. Namaku Sakura, boy. Masa kau melupakan ciuman pertamamu, huh?" Sakura memotong protes yang akan dikeluarkan Sasuke dan membulak-balikkan halaman buku tersebut.
"Namaku juga Sasuke. Bukan boy. Dan bisakah kau melupakan hal yang begitu kusesali itu? Kenapa pula kau selalu mengingatnya? Apa ciumanku sebegitu sulitnya kau lupakan, heh?" Sasuke menyeringai pada Sakura. Gadis ini gila. Ia harus membalasnya dengan lebih gila. Sakura memasang wajah muak dan tidak ingin melanjutkan percakapan. Sasuke tidak mengerti kenapa mudah sekali bagi Sakura untuk membahas hal seperti itu. Sungguh seperti tiada beban.
" Hey, boy! Sejak kapan kau menyukai komedi romantis?" Sakura melambaikan novel yang tadi di baca Sasuke di depan wajahnya. "Wah, wah, wah.. Penggemarmu harus tahu bahwa pangeran mereka memiliki pengalaman yang sangat minim soal cinta." Sakura tertawa renyah. Renyah sekali, membuat Sasuke mual.
"Urus saja urusanmu sendiri." Sasuke sudah membereskan perlengkapannya di atas meja dan bersiap pergi sebelum Sakura segera bangkit dan memutari meja lalu menarik tangan Sasuke.
" Okay, okay. Maafkan aku. Duduklah sebentar. Aku butuh bantuanmu." Lagi? Sasuke tak habis pikir mengapa gadis ini selalu mengusik kehidupannya. Gadis itu terkekeh pelan dan menahan lutut Sasuke agar tak bisa kabur. "Aku yakin kau akan menyukainya."
"Memangnya apa yang ku sukai? Kau selalu berkata begitu. Dari menuliskan puisi dan lirik lagu untukmu, mencarikanmu guru les vokal, ikut kelas kebugaran bersamamu, mengantar jemputmu bahkan menemanimu latihan yang membuatku habis menjadi bully-an teman-teman ganasmu. Apa lagi sekarang, Sakura?" Tawa Sakura pecah. Semua yang dikatakan Sasuke itu benar terjadi. Jika Sasuke tidak diragukan keahliannya dalam bidang akademik, maka Sakura adalah The Queen of Performance. Sakura-lah sang artis yang sesungguhnya, ia tak pernah setengah-setengah. Bahkan sekolah hanya menjadi formalitas baginya. Nilai akademiknya parah mendekati hancur.
"Kali ini aku serius. Aku mohon ajarkan aku pelajaran di kelas. Kita berada di tahun terakhir dan aku menumpuk perbaikan nilai dari tingkat pertama—"
"Kau gila?!" Sasuke kehilangan kendalinya. Membuatnya mendapat tatapan tajam dari penjaga perpustakaan. Sasuke menghela nafas dan berbisik rendah. " Kau benar-benar gila. Apa Panda dan Manda tahu?" Hey, jangan tertawa. Sakura memang memanggil kedua orangtuanya dengan panggilan Panda dan Manda. Dan Uchiha Sasuke ini sudah seperti keluarga. Oh, tidak, jangan di bayangkan. Sasuke tetap tampan dalam mengatakannya.
"Tentu tidak." Sasuke melotot pada Sakura. Sakura merengut karenanya. "Maka dari itu, Sasuke. Aku mohon." Uchiha Sasuke pun menjatuhkan kepalanya dan mengadukannya dengan kepala Sakura yang sedang menunduk memohon.
.
.
"Sasu~ Selamat siang, Nak." Wanita paruh baya yang mengenakan celemek pink bermotif bunga itu menghampiri Sasuke dan memeluknya erat dan mencium pipi Sasuke. Sasuke tersenyum lembut padanya, senyum yang jarang ia perlihatkan. "Mau menemui Sakura?"
"Iya, Manda. Dia di kamarnya?" Manda-nya Sakura terseyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ya, kau langsung kesana saja. Setengah jam lagi kupanggil untuk makan siang." Manda berlalu setelah mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke. Sasuke hanya menggeleng kecil dan melanjutkan langkahnya. Ia hafal betul seluk beluk rumah ini seperti rumahnya sendiri. Tidak heran, rumah ini sudah seperti rumah kedua baginya.
Ceklek.
Pintu berayun ringan ketika Sasuke membukanya. Warna pink yang mendominasi kamar itu mencolok mata Sasuke ketika ia pertama kali membuka pintu.
"Kau harusnya mengetuk pintu dulu ketika memasuki kamar seorang gadis, boy. Bagaimana kalau aku sedang mengganti baju?" Sasuke mendengus.
"Kau berganti baju sambil berbaring?" sahut Sasuke santai. Sebuah bantal melayang dan dapat ditangkap dengan mudah oleh Sasuke ketika Sakura menggeram rendah. Itu hanya pengandaian, bodoh. Sakura menggerutu pelan, yang masih dapat di dengar oleh Sasuke.
Mengangkat bahu tidak peduli, Sasuke melangkahkan kakinya lebih dalam. Bulu-bulu lembut karpet langsung menggelitik kakinya. Sasuke pun mendudukkan dirinya di karpet itu dan menyamankan posisinya duduk bersandar pada ranjang di belakangnya.
"Manda libur?" Sasuke pelit kata memang. Sakura bisa mengerti maksud Sasuke yang meminta penjelasan akan keberadaan Manda dirumah.
"Dia ingin menemui anak lelaki kesayangannya ketika kukatakan kau akan kesini." Sasuke tersenyum geli. Manda memang begitu. Ia begitu menyukai Sasuke yang pintar, tidak seperti anaknya. Kau harus mengurangi tingkat kenarsisanmu itu, Sasuke.
"Aku memang lebih menyenangkan di banding anak kandungnya." Lihat? Sakura memutar matanya dan menggumamkan ketidakpeduliannya akan hal itu. Buku-buku berjajar rapi di sebuah rak mini dekat jendela. Kenapa rapi? Karena Sakura jarang menyentuhnya. Lagipula buku Sakura memang tidak banyak. Paling hanya beberapa buku pelajaran dan beberapa novel romance dan sisanya komik yang memenuhi rak buku tersebut. Sakura mengambil beberapa buku dan menyimpannya di depan Sasuke yang duduk dengan menyilangkan kakinya dan memangku wajahnya pada tangan kanannya.
"Baiklah, aku mohon bimbingannya, Guru." Sakura duduk di depan Sasuke. Buku-buku menjadi pemisah mereka dan ia mengikuti Sasuke dengan menyilangkan kakinya. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya untuk mendramatisir perannya. Sasuke membuang muka malas dan membuka buku di tumpukkan paling atas yang bertuliskan 'Matematika' diantara angka-angka acak yang menjadi latarnya.
"Wow, harus ku akui. Buku ini terlalu bersih untuk buku yang telah ada sejak 3 tahun lalu. Masih seperti baru." Sakura meringis mendengar sindiran Sasuke.
"Kau tahu jadwal latihanku padat." Sakura menggerakkan matanya gelisah dan memainkan kedua jarinya merasa terintimidasi. Kekuatan seorang Uchiha.
"Ah, ini mengingatkanku pada 3 tahun yang lalu." Sakura membenarkan dalam hati. Ia bisa lulus dari tingkat sebelumnya juga berkat Sasuke. "Kau masih ingat aljabar kan? Sekarang kita mempelajarinya lagi tapi dengan kerumitan yang lebih tinggi."
"Sepertinya…" Sasuke melotot melihat gelagat Sakura yang akan mengatakan tidak. "Ya, ya, aku mengingatnya… Sedikit" Tambah Sakura tidak yakin. Lagi-lagi Sasuke menjatuhkan kepalanya lelah dan mengadukannya dengan buku yang menjadi penghalang mereka berdua. Baiklah, Sasuke.. Sepertinya kau benar-benar harus bersabar untuk mengajari Sakura dari awal.
.
.
Waktu berjalan dengan cepat saat kita disibukkan dengan berbagai hal. Begitu pula bagi Sasuke dan Sakura. 30 menit telah berlalu. Manda telah memanggil mereka berdua untuk turun dan menyantap makan siang bersama.
"Bagaimana kabar Ibu dan Ayahmu, Sasu? Sudah lama tidak bertemu." Manda bertanya sambil menyendokkan lauk ke piring Sasuke.
"Mereka baik, Manda. Mereka suka menanyakan Manda dan Panda ketika Sakura berkunjung." Sasuke tersenyum berterimakasih atas makanan yang sudah diambilkan oleh Manda.
"Manda terlalu sibuk, boy. Panda juga. Mana sempat mengunjungi Ibu dan Ayah. Anaknya saja sering dia abaikan." Manda mendelik dan Sasuke memelototi Sakura yang hanya bisa menggerutu sambil mengaduk-aduk makanannya malas. Sasuke pun berdehem pelan.
"Bagaimana butik milik Manda sekarang?" Ia mengalihkan percakapan untuk menghindari suasana tidak mengenakkan ini. Manda menjelaskan bagaimana repotnya ia mengurus butiknya yang kian hari kian ramai. Orang tua Sakura sibuk bekerja sedari dulu. Sasuke memang menganggap ini rumah kedua. Hanya karena Sakura sendirian di rumah, orang tuanya menyuruh Sasuke menemaninya. Dari sanalah mereka dekat. Sakura yang asik dengan acara musik di depan TV dan Sasuke yang asyik belajar di meja yang tak jauh di belakang Sakura. Jelas sekali kesukaan mereka berbeda.
.
.
Ini sudah satu semester Sasuke mengajari Sakura. Namun, Sakura benar-benar lambat perkembangannya. Sasuke sangat kesal dibuatnya. Ia bahkan tidak menyaring ucapannya.
"BODOH!! Apa sebenarnya isi otakmu, hah?! Hitung lagi!" Sasuke yang mengajar itu benar-benar buruk. Ia galak. Dulu Sasuke tidak separah ini. Tidak segalak ini. Sakura sedikit takut sekarang.
"Begini?" Sakura takut-takut menyodorkan bukunya pada Sasuke yang berdiri di depannya. Ia menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Sasuke.
"Salah." Bahkan Sasuke tidak melirik lagi.
"Dilihat dulu, Sasu~" ucap Sakura takut-takut.
"Tak perlu dilihatpun aku tahu masih salah. Kau mengulangi kesalahanmu terus. Perhatikan baik-baik kalau aku sedang menerangkan. Harus berapa kali aku mengulanginya?" Bagai ditusuk-tusuk jarum hati Sakura merasa sakit sekali. Entah sudah ke berapa kalinya Sakura menjawab soal ini tapi, ia tidak bisa-bisa juga. Rasanya ia ingin menangis saja. Sasuke juga bukannya menjelaskan malah marah-marah. Sakura kan masih bingung.
"Kerjakan lagi. Lihat contoh soalnya. Ingat-ingat apa yang sudah kuajarkan. Teliti lagi. 10 menit kau harus sudah bisa mengerjakannya." Sakura menghela napas dan mengangguk kecil saat Sasuke keluar menuju balkonnya. Kini mereka sedang belajar di rumah Sasuke.
"Kenapa sih Sasuke galak sekali?" Sakura menggerutu sambil mengerjakan kembali soal itu.
"Sst, Saki!"
"Ibu!" Sakura langsung merentangkan kedua tangannya ketika Ibu masuk ke kamar Sasuke. "Ibu~" Ibu mengusap-usap rambut Sakura yang kepalanya bersandar pada perutnya.
"Susah sekali yaa, Saki?" Ada nada prihatin dari ucapan Ibu. Sakura mengangguk dalam pelukan Ibu. "Jangan diambil hati yaa omongan Sasuke. Anak itu, menuruni sifat Ayahnya."
"Hehehe. Tidak apa-apa, Ibu. Aku sangat mengenal Sasuke, Bu. Aku saja yang manja." Sakura melepas pelukannya dan mendongak menatap Ibu.
"Ah, Ibu hampir lupa. Ibu membuatkanmu strawberry smoothies." Ibu keluar sebentar dan kembali dengan membawa segelas smoothies kesukaan Sakura. Sakura tersenyum lucu dan menggumamkan terima kasih pada Ibu. Ibu pun meninggalkannya setelah menyemangati Sakura. Sakura menikmati minuman buatan Ibu setelah menyelesaikan soal yang Sasuke minta. Minuman itu mampu menetralisir ketegangannya atas 'amukan' Sasuke tadi.
"Kau harusnya berbagi minuman dengan gurumu." Sasuke tiba-tiba datang dan menggenggam tangan Sakura dan mengarahkan minuman tersebut ke mulutnya sendiri. " Sial. Enak sekali. Padahal aku pasti lebih haus. Kenapa Ibu hanya membuatkannya untukmu? Tidak adil."
"Apa boleh buat? Aku memang lebih menyenangkan dibanding anak kandungnya." Sakura tersenyum jahil saat menekankan kalimat terakhirya. Ia kembali menyesap minuman itu dan terlihat sangat menikmatinya. Double sial untuk Sasuke.
"Ha-ha-ha. Terserahlah." Sasuke mengalihkan pandangannya malas. Ia sebal karena Sakura selalu berhasil merebut perhatian Ibu. Oh, lihat big baby! Kau merajuk, Sasuke anak kesayangan Ibu?
"Kau pasti mengerti bahwa belajar itu menguras banyak energi. Jadi aku lebih membutuhkan ini." Kini Sakura menandaskan minumannya dalam sekali teguk dan mendesah lega merasakan kesegaran yang baru saja melewati kerongkongannya.
"Baiklah, mari kita periksa pekerjaanmu, kura ." Sasuke memilih mengabaikannya dan duduk di meja yang digunakan Sakura dan memeriksa pekerjaannya sambil tangannya yang lain bertengger dengan manisnya di dalam saku celananya. Sakura mendengus melihatnya. Memeriksa saja banyak gaya. Komentarnya dalam hati. "Bentakan dan umpatan memang bekerja untuk otakmu ya?" Sasuke menempeleng kepala Sakura yang langsung merapikan rambutnya. Sasuke membanting bukunya di meja dan berjalan ke belakang Sakura. Ia mengumpulkan rambut Sakura.
"Apa yang kau lakukan, boy?" Sakura bingung dengan perlakuan Sasuke.
"Mengikat rambutmu. Mengganggu sekali." Aw, manis sekali. Pikir sakura.
"Aw, sakit tahu!" Aw yang tak sesuai harapan. Sasuke mengikat rambutnya lalu menarik rambutnya ke kedua sisi untuk mengencangkan ikatannya.
"Nah, begini lebih baik." Dan tidak memedulikan pekikan Sakura. "Kerjakan sisanya. Aku tidur dulu. 30 menit lagi ku periksa." Sasuke langsung berjalan menuju ranjangnya dan merebahkan tubuhnya di sana.
1 menit.
3 menit.
5 menit.
10 menit.
"Selesai. Yah, Sasuke memang guru terbaik! Aku masih punya waktu…" Sakura melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya. " Yeay! Aku masih punya 20 menit." Sakura melirik Sasuke. Lalu melirik jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam. Lalu Sasuke. Lalu jam.
Pada akhirnya waktu hanya berkurang 1 menit. Argh, Sakura bosan. Lebih baik Sakura turun ke bawah dan mengobrol bersama Ibu dan Ayah, mungkin? Ini sudah pukul 7 dan Ayah pasti sudah pulang. Sakura juga mengenal rumah Sasuke sebaik ia mengenal rumahnya sendiri. Dari ujung lorong ia berjalan ke tengah dan menuruni anak tangga sambil bersenandung. Rok kain dan dan rambutnya yang diikat tinggi oleh Sasuke bergoyang-goyang seiring langkahnya.
"Aku pulang."
"Hai, Ayah! Selamat datang." Sakura yang baru menginjak anak tangga terakhir langsung berlari pada Ayah Sasuke yang baru saja pulang.
"Hai, Nak." Ayah langsung menangkap Sakura ke dalam pelukannya dan mengangkat lalu memutarnya hanya dengan satu tangan, membuat Sakura tertawa senang.
"Ayah yang terbaik!" Ayah hanya terkekeh dan menurunkan Sakura dari pelukan sekaligus gendongannya.
"Kau itu tidak ada berat-beratnya di banding Sasuke." Sakura mendengus lalu tertawa renyah. "Sedang apa kau di sini, Saki? Mengganggu Sasuke?" Ayah langsung merangkul Sakura dan menuntunnya menuju sofa di sebelah kanan pintu masuk. Mereka pun duduk di sana sambil Ayah melepas sepatu dan kaos kakinya serta melonggarkan dasi.
"Mm-hm, mengganggunya sangatlah menyenangkan, Ayah." Sakura mengangguk-angguk antusias. Dan Ayahpun ikut mengangguk-angguk sambil tersenyum miring menyetujuinya. Ayah walaupun usianya tak lagi muda tapi, masih tetap bugar dan tampan. Yaa, kini kita tahu darimana ketampanan Sasuke berasal. Like father, like son. Lalu Sakura tiba-tiba teringat sesuatu. "Ah, Ayah pasti lelah. Kubuatkan kopi ya? Setelah itu kita mengobrol." Ayah hanya mengancungkan jempol dan membiarkan Sakura pergi meninggalkannya.
"Eh? Sakura? Ayah sudah pulang?" Ibu muncul dari arah dapur dan mengelap peluhnya. Mungkin baru selesai memasak.
"Sudah, Bu. Aku mau membuatkan Ayah kopi. Ibu mau apa?" Tanya Sakura antusias. Sakura selalu senang dengan kehangatan keluarga ini.
"Hmm, lemon tea sepertinya boleh juga." Ibu membuat pose berpikir yang menggemaskan dan Sakura segera membuat gerakan hormat setelah ia puas menertawakan tingkah Ibu. Menghabiskan waktu dengan keluarga Uchiha memang menyenangkan.
Sakura membuat lima minuman. Kopi untuk Ayah, lemon tea untuk Ibu, jus tomat untuk Sasuke, coklat panas untuk Kak Itachi dan jus jambu untuk dirinya. Sakura sangat cekatan, ia hapal dimana letak barang dan bahannya. Setelah mencuci kembali peralatan yang telah ia gunakan sebelumnya, ia meletakkan empat minuman di meja di depan TV dan membawakan coklat panas kak Itachi ke kamarnya. Kak Itachi adalah mahasiswa tingkat akhir yang kini sedang menyusun tugas akhirnya. Ia selalu sibuk di kamarnya akhir-akhir ini.
"Masuk." Sahut Kak Itachi dari dalam setelah Sakura mengetuk pintu tiga kali.
"Kak Chi~" Sakura ini memang senang memberi panggilan sendiri pada orang di sekitarnya. Dan ia memanggil Itachi dengan Kak Chi. Itachi tidak keberatan. Karena senyum Sakura dapat membuat bahagia semua orang.
"Hai, Saki. Terimakasih sudah merepotkan diri membuat minuman sampai mengantarnya kesini. Kau memang calon istri yang hebat." Itachi mengedipkan sebelah matanya membuat Sakura merona. "Lihat-lihat. Kau mudah sekali merona. Sasuke bisa mar—" Itachi sepertinya menyadari kalau ia tak seharusnya mengatakan itu. Sakura menatap Itachi bingung. "Ahahaha.." Itachi tertawa canggung lalu terbatuk, "Sekali lagi terima kasih, Saki."
"Ya, sama-sama, Kak Chi. Kalau begitu aku kebawah dulu."
.
.
"Jadi temanku itu tertawa terbahak ketika sedang minum. Ia tersedak sampai-sampai air teh yang dia minum keluar lagi melalui hidungnya." Tawa langsung menggema di ruang keluarga Uchiha. Sakura sedang bercerita pada Ayah dan Ibu mengenai hal-hal yang dia alami di sekolah ketika Sasuke yang sepertinya baru bangun memasuki ruang keluarganya yang ramai oleh cerita Sakura. "Bayangkan saja, Yah, Bu. Air yang keluar dari hidungnya berwarna coklat." Mereka kembali tertawa bersama.
"Berisik." Sasuke dengan rambut berantakannya langsung duduk di sebelah Sakura dan merebut jus jambu dari tangan Sakura dan menghabiskannya.
"Dasar 30 menit dikali tiga. Jus tomatmu yang itu." Sindir Sakura sambil menyenggol lengan Sasuke dan menunjuk jus tomat di atas meja. Sasuke mengangkat bahu tidak peduli dan ia menukar jus jambu dengan gelas jus tomatnya dan menghabiskannya. "Lihat, Bu. Sasuke ini padahal manis sekali, kan?" Sakura mengusap-usap kepala Sasuke bagai binatang peliharan sambil terkikik geli. Sasuke yang sebalpun menyingkirkan tangan Sakura. "Sayang ya, Bu. Di depan orang lain dia terlalu menjaga image-nya."
"Saki, Sasuke itu—"
"Ah, Ibu. Aku lapar. Ayo kita makan malam!" Ajak Sasuke yang langsung memotong pembicaraan dan menggiring mereka semua ke meja makan. "ITACHI!! MAKAN!"
"Ih, panggil sana ke kamarnya! Dasar tidak sopan." Sasuke mendelik pada Sakura yang menasehatinya sambil mencubit lengannya. Tapi, pada akhirnya dia menghampirinya juga.
.
.
" Boy! Sedang apa pria lajang melamun disini?" Itachi meninju lengan Sasuke ringan.
"Aku Sasuke, bukan boy. Kenapa Sakura menulari semua orang?" Sasuke menghela napas dan masih menerawang keluar sana. Mereka sedang berdiam di lorong paling ujung di depan kamar Sasuke sambil melihat pemandangan luar melalui kaca yang menggantikan dinding beton di ujung lorong. "Dia tidak menyalakan lampu kamarnya." Ternyata eh, ternyata Sasuke memperhatikan rumah Sakura yang berada di sebrang ujung jalan.
"Kau sangat menyukainya ya, Sasuke? Sulit memang kalau bersama sejak kecil, apalagi orangnya adalah Sakura." Itachi tersenyum meledek.
"Aku tidak bilang dia itu Sakura." Sasuke mengernyit dan melirik sekilas pada Itachi yang hanya terkekeh dan bergerak mendekati Sasuke yang masih memandang keluar. Itachi menempelkan pipinya pada pipi Sasuke. Menyamakan pandangannya dengan pandangan Sasuke.
"Tapi, itu rumah keluarga Haruno. Dan di lantai 2 hanya ada kamar Sakura." Itachi tertawa keras ketika Sasuke mendorongnya menjauh.
"Sakura selalu menggangguku. Tidakkah kau berpikir dia menyebalkan?" Oh, Sasuke mencari dukungan rupanya.
"Tidak, dia menyenangkan. Semua orang menyukainya. Dan kau mencintainya?"
"Ya. Mm, tidak. Maksudku ya.. mana mungkinlah!" Sasuke tetap tenang walau didalam hatinya ia begitu panik mendengar pertanyaan Itachi. Yah, jawaban pertama biasanya adalah jawaban jujur yang sebenarnya.
"Sangkal itu sebisamu." Itachi menepuk pundak Sasuke dua kali dan meninggalkan Sasuke yang tampak serius, entah memikirkan apa.
.
.
"Sakura!" Naruto yang duduk disebelah Sasuke tiba-tiba saja berteriak sambil melambaikan tangannya pada Sakura yang baru saja mengambil makanan dari counter dan tampak mencari tempat duduk. Sakura tersenyum pada Naruto dan menoleh pada Sasuke. Keduanya bertatapan selama 3 detik dan saling membuang muka sambil mendengus.
"Hai, Naruto! Hell-lo, boy!" Sakura menyimpan nampan makanannya dengan keras saat menyapa Sasuke dengan nada yang sedikit ditekankan. Jangan lupakan wajah sweet and sour-nya. Ya, walaupun masam tetap terlihat manis.
"Halo, Sakura!" sapa Kiba dan yang lainnya begitu melihat Sakura bergabung di meja mereka. Sakura's magnetic. Di manapun ia, Sakura pasti menjadi pusat perhatian. Sakura langsung tersenyum manis sambil melambai bersemangat membalas sapaan Kiba dan kawan-kawan lalu mereka kembali sibuk masing-masing setelahnya.
"Jam istirahat sebentar lagi habis. Kenapa kau baru makan, Sakura?" Tanya Naruto sambil mencomot kentang goreng Sakura lalu mencoleknya pada saus dan tersenyum lebar saat Sakura memperhatikannya. Sakura menghela napas lalu mulai memakan kentang gorengnya mengikuti jejak Naruto.
"Tadi ada guru yang sangat menyebalkan yang memberikanku setumpuk latihan soal untuk dikerjakan di waktu istirahat. Ia juga mengancam aku tidak boleh makan sebelum semuanya selesai." Sakura menaikkan nada suaranya dan melirik sinis pada Sasuke saat menekankan kata ' sangat menyebalkan'. Ia melahap kentang gorengnya dengan ganas. Kentang goreng yang malang.
"Wah, kejam sekali guru itu." Tanggap Naruto santai yang tidak memahami situasi. Ia kembali mencomot kentang goreng Sakura.
"Gurunya tidak akan kejam kalau muridnya tidak bo-doh." Celetuk Sasuke sambil memandang tajam Sakura saat menekankan kata ' bodoh'. Ia meminum softdrink-nya dalam sekali teguk lalu meremas kalengnya. Kaleng softdrink yang malang.
"Benar juga. Ah, tapi Sakura kan tidak bodoh." Sakura tersenyum bangga sambil mengangkat kedua alisnya terhadap Sasuke yang memandangnya datar. "Mungkin hanya lambat." Sasuke menyeringai melihat Sakura tersedak kentang goreng dan cepat-cepat meminum jus jeruknya. Naruto kembali mencomot kentang goreng Sakura namun kali ini tangannya langsung dipukul Sakura. Naruto yang malang.
"Kau dengar, Sakura? Kau itu lam-bat. Maka dari itu turtle. Sepertinya gurumu harus memberikan lebih baaaaanyak lagi latihan. Ya kan, Naruto?" Sasuke menantang Sakura dengan wajah 'sok cool'-nya yang sangat menyebalkan di mata Sakura. Naruto yang sedang mengusap-usap tangannya yang perih terkena pukulan Sakura pun mengangguk setuju membuat Sakura melotot. Sakura yang malang.
"Ahahaha.. Aku akan sangat beeeersemangat." Tanggap Sakura tersenyum paksa sambil menendang kencang kaki Sasuke tepat pada tulang keringnya dibawah meja. Sasuke yang malang.
.
.
Kedua mata berbeda warna itu bertatapan. Tidak ada yang mau mengalah. Bagai sengatan kedua pandangan itu terhubung. Pemilik mata sekelam malam tampak memandang tajam mata hijau jernih yang memandang dengan pelototan di depannya.
"Ayolah, aku tahu matamu mulai perih, Kura. Menyerah saja. Cepat minta maaf padaku." Sasuke meledek Sakura sambil tersenyum meremehkan. Sakura menghembuskan napasnya dengan keras. Mereka kini duduk sila berhadapan dengan kedua lutut yang beradu di atas kasur Sasuke. Wajah mereka berhadapan dengan jarak 5 cm. Posisi yang dapat membuat salah paham. Padahal mereka kini sedang bermain 'siapa-kuat-tidak-berkedip'. Seperti anak kecil memang. Itulah mereka.
"Kali ini aku tidak akan kalah." Sakura mengepalkan tangannya yakin dan meninju lengan Sasuke. Sasuke hanya terkekeh pelan dengan mata yang tetap memandang Sakura tajam. Mata Sakura mulai berair. Tidak-tidak. Ia tidak boleh kalah. Ia harus memikirkan caranya. Aha!
"Aw, sial!" Sasuke mengaduh kesakitan dengan mata terpejam. Sakura ber- euforia atas kemenangannya sambil berlari-lari mengitari kamar Sasuke yang luas. Ia bahkan menari-nari tanpa sadar.
"Aku menang. Aku menaang~" Sasuke mendecih sambil mengelus-elus tulang keringnya yang memar. Iya, betul. Memar itu adalah hasil tendangan Sakura di kantin pagi tadi. Sakura berbuat curang. Ia menekan memar itu dan membuat Sasuke berkedip.
"Kau curang, Kura. Kau yang harus minta maaf padaku." He?! Jadi mereka melakukan permainan konyol tadi hanya untuk menentukan siapa yang harus meminta maaf? Dasar orang-orang sombong. Harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
"Akui saja kekalahanmu, boy. Cepat minta maaf padaku." Sakura sedikit membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya di depan Sasuke. Sasuke hanya memandang tangan mungil yang terjulur di depannya. Sasuke menyeringai di dalam hati. Aku juga tidak akan kalah. Tangan Sakura bergerak di depan wajahnya seolah mengundangnya untuk segera menjabatnya.
HUP!
DUG!
"Huaaaaaa, Sasu~ Ampun…" Sakura tertawa keras saat Sasuke menariknya sehingga ia jatuh di atas Sasuke yang langsung menangkapnya dan melingkarkan kakinya untuk mencegah Sakura kabur. Ia mengelitiki Sakura sambil berguling-guling. Sekarang mereka seperti sedang beradu gulat.
"Cepat minta maaf padaku." Geram Sasuke di telinga Sakura. Sambil meniup-niupkan napasnya membuat Sakura menggeliat karena geli. Kuping adalah salah satu titik kelemahan Sakura.
"Ya! Ya.. Ampun! Aku minta maaf. Aku minta maaf. " Sakura tertawa sampai menangis. Setelah Sakura meminta maaf, Sasuke pun melepaskan kurungannya. Dan Sakura langsung bangkit berdiri menjauh dari Sasuke masih tertawa sambil mengusap air matanya. "Kau curang, Sasuke. Ini benar-benar curang." Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura membenahi rambutnya dan tertunduk memegangi perutnya yang sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Kau yang duluan curang, Kura-kura." Sasuke juga bangkit dan berjalan kebelakang Sakura untuk membenahi kausnya yang terangkat. Tapi sebuah ide jahil langsung terlintas di benaknya. Tangan Sasuke malah menyelip ke dalam kaus Sakura dan mengelitikinya lagi, membuat keduanya langsung terjatuh kembali ke atas kasur dan Sakura menggeliat menghindari tangan Sasuke. Sakura yang kehabisan akal malah menggigit tangan Sasuke yang langsung mengaduh kesakitan dan spontan melepaskan tawanannya. Sakura segera mengambil langkah seribu alias kabur keluar kamar Sasuke.
" Catch me if you can, boy!" Sakura sempat-sempatnya berdiri di pintu sambil memberi pose mengusap hidungnya dengan acungan jempol untuk meledek Sasuke. Sasuke yang merasa tertantang langsung bangkit sambil menyeringai. Mereka berkejar-kejaran seperti anak kecil di rumah Sasuke. Ibu yang baru keluar dari kamar langsung disuguhi adegan pengejaran gadis berambut merah muda oleh lelaki berambut raven. Ibu terseyum manis melihat pemandangan tersebut. Seperti mundur ke beberapa tahun yang lalu. Sakura beberapa kali tertangkap dan menjadi bulan-bulanan tangan usil Sasuke. Ia masih terus tertawa namun, masih tetap menemukan cara untuk kabur dari Sasuke. Ibu menuruni tangga perlahan ketika Sakura berlari kearahnya.
"Ibuu!" Sakura langsung menjadikan Ibu sebagai tamengnya. Sasuke yang melihatnya langsung berdecak sebal.
"Ibu, jangan bantu dia. Dia harus dihukum." Kata Sasuke sambil menghampiri Ibu. Sakura yang mengintip di samping lengan Ibu menjulurkan lidah sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Sasuke. Ibu hanya dibuat geleng-geleng kepala dengan kelakuan putra dan putrinya. Mereka seperti anak SD sekarang. Sakura yang melihat gelagat Sasuke akan kembali menyerangnya membawa Ibu turun dan mundur terus sampai ia mencapai pintu dan berlari keluar, ia terengah-engah. Sungguh, permainan yang menguras tenaga.
"Hyaaaaa!" Ibu yang hampir jatuh, tertawa kecil melihat Sakura yang mengungkapkan kelelahannya dengan berteriak lalu melanjutkan kembali perjalanannya menuju dapur yang sempat tertunda.
Sakura kabur ke halaman belakang melalui dapur masih sambil terkekeh pelan dan napasnya semakin memburu. Keduanya sudah sama-sama kehabisan tenaga. Dan beberapa kali hampir terjatuh. Sudah lama mereka tidak seperti ini.
Wush~
Tiba-tiba penyiram rumput otomatis menyala dan menghujani mereka berdua. Sakura yang berada sangat dekat dengan salah satu sumbernya menjerit kaget karena tersembur dengan kencang. Sakura menarik Sasuke yang hampir berjalan mundur menghindar. Ia memeluk Sasuke untuk menahannya. Sakura menarik Sasuke untuk berlari-lari sambil bergandengan tangan dan mereka tertawa bahagia bagai anak kecil yang sedang bermain di bawah hujan. Sakura tiba-tiba berhenti membuat Sasuke ikut berhenti dan menaikkan sebelah alisnya melihat Sakura menarik diri darinya.
" Would you dance with me, boy?" Sakura membungkukkan badannya dengan manis layaknya seorang putri. Sasuke mendengus geli melihat kelakuan gadis berambut merah muda tersebut. Akan tetapi pada akhirnya ia tetap menggenggam sebelah tangan Sakura dan tangan sebelahnya lagi ia letakkan di pinggang Sakura dan membawa gadis itu mendekat padanya. Sakura tersenyum dan meletakkan sebelah tangannya di pundak Sasuke. Mereka berdansa sambil saling melempar senyum. Sasuke memutar badan Sakura membuat Sakura tertawa kecil.
Pandangan mereka tak pernah lepas satu sama lain. Mereka melangkah memutar di tengah taman. Sasuke melempar Sakura dari pelukannya dan mereka merentangkan kedua tangannya layaknya penari professional. Lalu Sasuke menariknya kembali membuat Sakura berputar mendekatinya dan ia menahan pinggang Sakura untuk kemudian memeluknya dari belakang. Mereka hanya bergerak satu langkah ke kanan dan ke kiri. Lalu Sasuke mengendus leher Sakura dengan memainkan hidungnya di sana. Sakura menggeliat kegelian sambil tertawa (lagi) dan mencubit lengan Sasuke agar berhenti. Sasuke menyeringai karena berhasil (lagi) mengusili Sakura.
"Kemampuanmu boleh juga sekarang." Sakura berbalik dan mengalungkan kedua lengannya di leher Sasuke. Menghindari kejahilan Sasuke yang lain. Sudah 2 titik terlemahnya dikenai Sasuke.
"Aku diajari oleh masternya." Kata Sasuke sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sakura. Lalu ia melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Sakura.
"Oh, aku tersanjung. Mengajarimu itu sangatlah sulit, kau tahu. Aku hampir gila karena pasanganku di prom benar-benar kaku." Sasuke tertawa mengingat pesta prom mereka 3 tahun yang lalu. Saat itu Sasuke yang tadinya memilih tidak ikut prom dipaksa Sakura menjadi pasangannya, padahal ia benar-benar tidak bisa menari.
"Hey, jika aku seburuk itu kita tidak akan berhasil menjadi King and Queen malam itu." Sakura yang sedang memainkan rambut belakang Sasuke tertawa kecil melihat wajah pura-pura marah Sasuke.
"Jujur saja, kau sudah menduganya, kan? Mengingat betapa giatnya kau berlatih denganku." Sakura tertawa jahil masih sambil memainkan rambut Sasuke. Sasuke mendengus dan menurunkan tangan Sakura dari rambutnya dan menggenggam kedua tangannya.
"Aku menyukaimu, Sakura." Sakura mengedipkan matanya beberapa kali dan menatap Sasuke yang juga sedang menatapnya. Sejujurnya Sakura tidak tahu kemana arah pembicaraan atas ungkapan tiba-tiba Sasuke.
"Aku tahu. Aku memang menawan." Ia memilih pura-pura tidak mengerti dan membawanya menjadi sebuah candaan. Sakura tertawa dan menggoyangkan kedua tangan Sasuke. Sasuke juga tertawa melihat tawa Sakura.
"Mari tidak saling jatuh cinta." Ucap Sasuke serius sambil menarik Sakura ke dalam pelukannya. Sakura terdiam beberapa saat sebelum balas memeluk Sasuke. Ah, begitu ya. Gumamnya dalam hati.
"Kau selalu seperti itu, bajingan egois." Ucap Sakura sambil mendengus dan menyamankan kepalanya di dada Sasuke. Mendengarkan degup jantungnya. Sasuke mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Sakura. Keduanya memejamkan mata meresapi perasaan mereka yang tersalurkan melalui pelukan itu. Untuk saat ini, seperti ini saja cukup, kan?
Biarkan aku jadi bajingan. Aku tidak ingin menjanjikan masa depan yang tidak kuketahui. Yang terpenting kita bahagia saat ini. Aku tidak ingin menjadi alasan kau kehilangan senyummu. Aku benar-benar menyukaimu, Sakura…
Author Note : Halo, akhirnya aku bisa menyelesaikan cerita yang sudah bertahun-tahun tidak selesai-selesai juga berbulan-bulan tidak di upload. Aku udah baca cerita ini gatau berapa kali haha tapi ya semoga udah gaada plot hole atau typo atau hal2 janggal ya wkwkwwkwk
Jujur aku kesulitan banget mau upload ini, kayanya sekarang ffn udah gabisa di akses pake browser ya? Aku berhari-hari coba gabisa. Terus barusan aku baru sadar ada tulisan mobile hahahahahahaa
Aku agak sedih tapi mau umumin kalo akun ini akan resmi ditutup. Karena rekan2ku sibuk dengan rl nya. Aku udah coba keep up, tapi aku gabisa lanjut sendirian. Karena aku buat ini sama2 hehe
Tapi… aku akan pindah ke platform lain, yang masih aku pikirin kemana, cerita2nya, akan aku bawa kesana dan mudah2an bisa dilanjutkan.
Mau bilang terimakasih yang udah baca atau mungkin pernah interact dengan Haruna Lee. Sukses dan sehat selalu kalian semua! Bye, bye~
