Peringatan: Charachter Boruto bukan milikku! OOC, Masalah psikis, dsb.

A story by NaraDai


Beberapa kali cita-cita mereka akan berubah, mereka memang cenderung seperti itu. Mengubah cita-cita sesuai yang sedang mereka minati. Melihat dokter yang mulia, maka bercita-cita menjadi dokter. Melihat ahli strategi yang cerdas, maka bercita-cita menjadi ahli strategi. Tidak peduli bahwa ahli strategi biasanya adalah klan Nara yang sudah diakui di desa Konoha. Bahkan, sebagian dari mereka, ingin menjadi Hokage.

.

.

.

.

.

Hokage's Son

A story by Avrillia Putri

.

.

.

.

.

Uzumaki Boruto tidak termasuk salah satu dari anak-anak yang ingin menjadi Hokage. Bahkan mengaguminya pun tidak. Meski remaja berambut kuning itu mengetahui bahwa ayah dan kakeknya adalah Hokage.

Tentu semuanya ada alasan. Orang-orang berasumsi tindakannya terjadi karena ayahnya tidak dapat memberikan kasih sayang yang cukup untuk dirinya dan adiknya.

Boruto tersenyum miris. Teman-temannya mengecap Boruto sebagai anak yang tidak tahu malu, tidak tahu berterima kasih, atau apapun. Ia tidak mendengar lebih banyak lagi dan tidak mau mendengarnya. Apakah ia pantas mendapatkan hal itu? Ia tertawa kecil. Menertawakan nasibnya yang kerap diejek, dihina, bahkan diperlakukan seolah-olah ia adalah kuman.

Apakah menjadi anak Hokage itu menyenangkan? Teman-temannya akan menjawab 'iya' dengan suara lantang. Tetapi nyatanya tidak! Tawa Boruto semakin keras karena bayangan itu.

"Anak Hokage... menyebalkan!" gerutu Boruto. Ia berdiri kemudian berjalan untuk menyibakkan kain gordennya. Hari yang sudah siang menyebabkan udara panas terasa di kamarnya dan cahaya-cahaya kecil terlihat dari celah-celah gordennya.

"Boru-Nii ayo makan! Hari ini ibu menyiapkan nasi goreng yang lezat, Hima juga membantu, lho!" teriak Himawari dari luar kamarnya.

Boruto tersenyum kecil. "Baiklah, Hima! Turunlah duluan, aku akan kesana setelah merapikan kamarku!"

Boruto tidak mendengar jawaban dari Himawari, melainkan hanya mendengar langkah kaki Himawari yang sepertinya telah menjauh dari kamarnya.

Ia berjalan mendekati pintu kamarnya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya. Sebelum keluar dari kamar, Boruto sempat terpikirkan karma yang sekarang ada di dalam tubuhnya. Apa menggunakan karma bisa mati? Apa ia bisa menggunakannya? Atau, ia hanya akan menjadi beban saja.

Memikirkan hal itu membuat Boruto sesak napas. Tangannya gemetar, kakinya terasa lemas, tiba-tiba minatnya untuk hidup sudah tidak ada. Apa-apaan ini? Apa dia terkena serangan panik? Boruto tidak tahu. Remaja itu masih terus mencoba bernapas dengan teratur, menepis semua suara-suara aneh yang mengajaknya untuk bunuh diri. Ia mencengkram gagang pintu dan berusaha membukanya, namun terhenti ketika mendengar suara-suara yang menahannya.

"Bagaimana jika keluargamu menjadi panik setelah melihatmu seperti ini? Bukankah kau hanya akan menjadi beban?"

"Dasar beban! Berani-beraninya kau masih ingin membebani keluargamu!"

"Apakah kau tidak tahu bahwa Hokage-sama bekerja dengan keras untukmu? Sekarang kau ingin menambah pekerjaannya?"

"DIAM, SIALAN!" teriak Boruto. Napasnya semakin cepat, tangannya ia gunakan untuk menutupi telinganya yang terus mendengar suara-suara aneh tersebut.

"HEI, UNTUK APA ITU? APA KAU BARU SAJA MENGUMPATI-KU? KAU YANG SIALAN! CEPAT TURUN KARENA HIMAWARI DAN HINATA-SAN SUDAH MENUNGGU!" suara Kawaki terdengar dari balik pintu kamarnya. Terdengar jelas Pemuda itu salah paham terhadap umpatan Boruto.

"Ma-maaf!" Boruto hanya mampu meminta maaf, namun Kawaki tidak membalasnya. Ia tahu Kawaki masih berada di depan pintu kamarnya karena chakranya masih terasa. Pemuda Uzumaki itu menetralkan napasnya yang sudah kembali teratur kemudian membuka pintu kamarnya dengan pelan.

Si rambut kuning bertemu dengan si rambut hitam, suasananya sangat canggung. Mereka terdiam sejenak. Boruto sangat ingin membuka percakapan atau menyapanya dengan hangat seperti biasanya. Namun kali ini tidak bisa, ia takut suaranya akan serak karena napasnya yang baru saja kembali teratur.

Hal itu tentu saja membangkitkan rasa penasaran Kawaki. Ia lantas bertanya, "Ada apa?"

"Huh?"

Kawaki menghela napas. Ia menarik tangan Boruto untuk mengikutinya berjalan ke ruang makan. Remaja itu sedikit terkejut meskipun ia berhasil menyembunyikannya. Tangan Boruto terasa dingin, itu pasti keringat dingin. Ada apa? Kawaki mengernyit, pertanyaannya yang tadi kembali terulang. Ini tidak normal, Boruto sepertinya menyembunyikan sesuatu.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kawaki tanpa melihat ke arah Boruto.

Pemuda bermata biru safir itu mengangguk kaku. "Te-tentu saja!"

Itu dia! Kawaki tahu ada yang tidak beres. Tapi sebelum ia berhasil menanyakannya lebih jauh, saudaranya itu sudah melepaskan tangannya kemudian berlari mendekati ibu dan adiknya yang sudah menunggu.

"Kalian lama!" komentar Himawari sambil berpura-pura kesal.

Boruto mengusap-usap kepala adiknya itu sambil terkekeh pelan. "Maaf, habisnya kamarku sangat berantakan. Aku 'kan, baru saja pulang dari menjalankan misi beberapa hari yang lalu."

Himawari terkikik pelan, jelas menyukai bentuk kasih sayang sang Kakak padanya. Gadis cilik itu sangat imut, membuat Boruto jadi tidak rela adiknya akan menjadi ninja.

"Hima... daripada ninja, apakah kau tidak berniat menjadi model atau aktris saja?" tanya Boruto.

Himawari menggembungkan pipinya. "Tidak! Aku akan menjadi Kunoichi yang hebat seperti ibu! Jangan menghalangiku, Nii-chan!"

Boruto sedikit tersentak. Tiba-tiba sebuah suara aneh terdengar lagi, kali ini lebih keras di dalam kepalanya.

"Apa kau dengar? Adikmu bahkan menganggap kau hanya menghalanginya. Apa kau masih pantas untuk hidup?""

"Nii-chan?"

Suara aneh itu menghilang, digantikan dengan suara Himawari yang terdengar lirih. Boruto menatap keluarganya yang balik menatapnya dengan penasaran. Rasa gugup langsung menyelimutinya.

Pemuda berambut kuning itu tertawa pelan untuk mencairkan suasana dan menenangkan dirinya sendiri.

Kawaki masih memperhatikan gelagat Boruto. Jelas ada yang salah. Matanya melirik Hinata yang juga memperhatikan Boruto, terpancar kekhawatiran dari raut wajahnya. Pemuda berambut hitam itu menghela napas, rasanya ingin memaksa saudara payahnya itu untuk jujur.

Apa Boruto sedang dibully? Tidak, itu tidak mungkin. Boruto punya banyak teman yang menyukainya. Pasti sesuatu yang lain.


Tim 7 baru saja selesai melaporkan misi mereka beberapa hari yang lalu. Misi itu sederhana karena hanya menangkap kucing milik saudagar kaya. Tapi, misi itu menjadi rumit ketika Boruto tersandung saat memegang kandang kucing itu. Akhirnya kucingnya terlepas dan misi mereka terancam gagal kecuali mereka bisa mengambilnya kembali.

Dengan terpaksa mereka pergi keluar desa. Berhari-hari mencari kucing hingga akhirnya mereka pasrah saja. Tapi ternyata kucing tersebut dirawat oleh Chocho di rumahnya. Mereka akhirnya membawa kembali kucing itu dan harus rela menjalankan misi tanpa dibayar oleh saudagar kaya tersebut.

"Oi Boruto!" Sarada menaikkan kacamatanya yang sedikit turun akibat melompat dari satu atap ke atap yang lain. "Lain kali jangan seperti itu! Kau harus fokus, jangan melamun! Apa kau sadar bahwa misi kita gagal karena kau?"

Boruto ingin membalas tetapi ia tidak bisa. Tidak saat Mitsuki bahkan tidak membelanya dan hanya diam dengan wajah lelah. Pemuda bermata biru itu mengangguk dalam diam, mencoba menelan kasar air liurnya saat hatinya berderak tak terima.

"Asal kau tahu saja, aku bisa menyelesaikan misinya sendiri. Tapi karena ini adalah misi sebagai tim, jadi kau juga harus diandalkan," ketus Gadis Uciha itu.

Boruto hanya diam, terlalu sedih untuk berbicara, tapi paham bahwa semua ini adalah kesalahannya. Apapun yang ia lakukan pasti salah dan harus melibatkan orang lain sebagai konsekuensinya.

"Sudahlah, Sarada... kita adalah tim. Jika yang satu gagal, maka kita semua gagal. Jangan menyalahkan anggota tim-mu," kata Konohamaru menasehati. Ia kemudian melanjutkan, "lagi pula, kita akan menemukannya jika Chocho tidak merawat kucing itu di rumahnya."

"Itu bukan salah Chocho! Seharusnya kita berterima kasih karena Chocho merawatnya hingga kucing itu tidak terluka. Ini semua memang salah Boruto, meskipun dia adalah anak Hokage, jika salah tetap disalahkan. Jangan dibela!" balas Sarada tidak terima.

Boruto mencoba untuk menenangkan dirinya agar suara-suara itu tidak kembali muncul. Pandangannya mulai sedikit kabur, Pemuda Berambut Kuning itu tahu penyebab pandangannya yang kabur. Pasti air mata, Boruto akan menangis.

"Maaf semuanya. Ki-kita berpisah sampai disini saja, ya! Sampai jumpa!" Boruto dengan cepat memisahkan dirinya, melambaikan tangannya tanpa harus melihat apakah ada yang membalasnya atau tidak.

Konohamaru hanya diam melihat anak muridnya itu. Ada sesuatu yang salah dengan Boruto, ia yakin. Cucu Hokage Ketiga itu menghela napas lelah, berniat memberitahukan hal ini pada Naruto. Namun akhirnya Konohamaru memutuskan untuk tidak memberitahu Naruto.

"Mungkin dia habis dimarahi Hinata-Neesan atau sedang berencana membuat kenakalan yang baru," gumamnya.

Tidak ada yang salah pada Boruto, pasti tidak ada.


Toko bunga Yamanaka memang selalu ramai karena bunga-bunga mereka menarik perhatian dari orang-orang. Maka tak heran Inojin setiap hari harus sempat membantu orang tuanya sebelum berlatih atau bermain dengan teman-temannya.

Hari ini, dari balik pintu kaca, Inojin dapat melihat teman seangkatannya. Uzumaki Boruto tampak membawa makanan dan minuman instan, sepertinya burger dan cola. Ia tidak berniat menyapa anak itu.

Sebenarnya, Inojin bahkan tidak tahu apakah ia bisa menerima Boruto sebagai temannya atau tidak. Ia ikut berteman dengan Boruto karena Shikadai berteman dengan sang Anak Hokage ketujuh. Pemuda Yamanaka tersebut awalnya sempat menolak berteman dengan Boruto karena tahu itu akan merepotkannya.

Apa Shikadai tidak merasa kerepotan? Bukankah seharusnya rusa kecil itu yang kerepotan karena sudah lama berteman akrab dengan Boruto? Ah... mungkin karena Shikadai sudah akrab dengan Si Pemuda Uzumaki. Jadi temannya itu tidak merasa kerepotan.

"Jika bukan karena mereka dekat dengan Boruto, aku tidak akan mau berteman dengannya. Dia menyebalkan sekali! Membuat kenakalan tapi harus melibatkan orang lain dalam hukumannya," ketus Inojin. Secercah dalam dirinya merasa menyesal berteman dengan Boruto.

"Apa yang dia lakukan disini?" Inojin memperhatikan gelagat Boruto yang tiba-tiba saja berdiam diri di depan toko bunganya. Lalu dilihatnya Boruto melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahnya.

Pemuda berkulit pucat itu langsung berbalik, berpura-pura tidak melihatnya. Ia berjalan menjauhi pintu toko untuk menghindari Boruto. "Menyebalkan!"

Boruto yang tampaknya berpikir Inojin tidak melihatnya, langsung saja menurunkan tangannya. Ia kembali berjalan pergi mencari suatu tempat yang dapat menenangkan pikirannya.


Meski itu adalah kabar bagus, tapi sebenarnya agak aneh jika Boruto tidak berulah. Naruto atau bahkan Shikamaru, keduanya tahu ada yang salah dengan Putra Sulung Hokage saat ini.

"Apa anakmu sakit?" Pertanyaan Shikamaru itu jelas tentang Boruto.

Naruto menggelengkan kepalanya. "Tadi pagi dia baik-baik saja. Mungkin dia masih lelah karena misi mereka beberapa hari yang lalu."

Shikamaru mengangguk paham, meski dapat melihat keraguan dalam nada suara Naruto. Penasehat Hokage itu juga tidak yakin Boruto hanya lelah atau semacamnya.

"Apa kau mau melihatnya?" tawar Kepala Klan Nara tersebut.

Dilihatnya Sang Hokage Ketujuh menggeleng, membuat Shikamaru mengangguk paham. "Merepotkan."

Naruto tidak membalas dan memilih untuk membolak-balik kertas laporan di mejanya. Ia menggerutu pelan karena itu terlalu banyak. "Sudahlah, lebih baik kita urus saja kertas-kertas ini."

"Merepotkan." Shikamaru berkata lagi, ikut menggerutu kesal.

Boruto pasti baik-baik saja, mereka yakin akan hal itu. Tidak mungkin Boruto terjebak masalah dengan orang lain kecuali ia memulainya sendiri.


Anak Hokage harus hebat karena nanti akan dibanding-bandingkan dengan Hokage itu sendiri. Itulah yang Boruto rasakan, dibandingkan dengan ayahnya.

"Ayahmu dulu saat seumuranmu sudah bisa lebih hebat daripada dirimu."

" Dulu dia tidak ada orang tua dan semua menjauhinya, tapi ayahmu tetap bangkit. Bagaimana dengan dirimu? Kau hanya beban, Uzumaki Boruto."

"Benar. Ayah merasakan penderitaan yang berat, aku seharusnya juga merasakannya. Mungkin nasibku seharusnya lebih menyedihkan agar-"

Sebuah kaleng bekas mengenai kepalanya, lantas membuat Boruto mendesis kesakitan. Ia berbalik untuk melihat teman-teman seangkatannya yang memasang raut marah padanya. Boruto langsung menyapa mereka dan mencoba bersikap ramah. "Hai! Apa kalian salah lempar?"

Boruto tidak bodoh, ia tahu bahwa remaja seusianya itu tidak salah lempar. Mereka sengaja.

"Menurutmu?" Pemuda itu berjalan mendekati Boruto dengan senyum mengejek. "Kepalamu sangat tidak berguna, jadi aku lempar saja. Dasar anak Hokage! Kau sangat tidak tahu malu. Kau bilang, kau benci Hokage, lalu kenapa kau masih duduk di patung Hokage-sama?"

Pertanyaan itu harus dijawab, tapi Boruto merasa bahwa bukan waktunya ia menjawab. Pemuda berambut kuning itu hanya diam, mencoba untuk mengatur napasnya. "Maaf."

"Maaf saja tidak akan membuat kami puas, dasar bodoh!" balas anak lain.

"Benar! Apa kau lupa kebodohan terbesarmu? Menggunakan alat teknologi ninja untuk ujian Chunin, bahkan kau curang saat melawan Shikadai. Aku penasaran bagaimana Shikadai masih mau menerima mu, karena kau sangat layak untuk ditinggalkan!" sahut salah satu dari mereka.

Kejadian itu akan terus diingat, baik oleh Boruto ataupun orang lain. Seorang anak Hokage menggunakan alat teknologi ninja? Itu sungguh mempermalukan Naruto sekaligus merusak citranya sebagai Hokage. Mereka sudah membicarakan ini, Boruto juga sudah melaksanakan hukuman yang ia dapat.

"Aku sangat bahagia saat kau didiskualifikasi, ditambah lagi saat pelindung kepalamu dicoret! Bukankah itu artinya, kau harus mengulang dari akademi lagi?" ucap remaja di depannya.

Benar. Seharusnya Boruto tidak duduk disini sebagai Genin yang satu tim dengan Sarada dan Mitsuki. Ia seharusnya berada di akademi, belajar dengan murid-murid akademi lain. Atau lebih baik, mungkin ia harusnya tidak menjadi ninja sejak awal.

"Maaf teman-teman. Aku-"

"Teman? Apa kau pikir kami sudi berteman denganmu? Asal kau tahu saja, aku yakin teman-teman mu itu, mau berteman denganmu hanya karena kau adalah anak Hokage. Siapa yang mau berteman dengan anak tidak tahu malu dan tidak tahu berterima kasih seperti dirimu?" balas gadis cilik di hadapannya, Naomi.

"Coba pikirkan betapa bebannya dirimu." Naomi berjalan pergi diikuti oleh teman-temannya yang lain. Masing-masing dari mereka menatap Boruto dengan sinis dan meremehkan.

Boruto hanya diam. Benar, ia adalah beban. Mereka membawa-bawa Shikadai dalam hal ini, membuat Boruto semakin kepikiran. Shikadai adalah teman dekatnya, mungkin Shikadai juga merasa risih berada di dekatnya.

Air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya mengalir. Inilah kenapa ia benci dengan Hokage, inilah kenapa ia membuat ulah. Boruto tidak sanggup untuk jujur pada Naruto karena sejak ia kecil, Naruto mengajarkannya untuk menganggap semua orang sebagai teman. Boruto yakin Naruto pasti akan memberikan nasehat yang sama padanya.

Anak sulung keluarga Uzumaki itu juga tidak mau bercerita pada ibunya. Ia takut semakin membebaninya karena tahu Hinata kerap dipanggil berkat ulah Boruto sendiri. Pasti Hinata kecewa padanya, ia yakin.

Himawari... tidak mungkin. Ia tidak mau membebani adiknya. Kawaki? Ia juga tidak dekat dengan Kawaki. Lagi pula, Kawaki terlihat tidak mau berada di dekatnya.

Shikadai? Boruto beberapa kali bercerita pada Putra Nara itu. Tapi sekarang ia merasa malu untuk bertemu dengan Shikadai setelah mendengar kata-kata pedas mereka.

Mendadak, batu yang dipahat menjadi patung Hokage ini berubah menjadi dingin. Semuanya terasa kelam, kabur. Semuanya bergoyang seiring napasnya yang semakin cepat. Hingga rasanya seperti mati karena kehabisan napas.

Pemuda Uzumaki itu berusaha menghirup oksigen yang mendadak hilang di sekitarnya. Dengan cepat rasa sakit menjalar di dadanya seiring dengan tarikan napasnya yang menjadi lebih cepat, bahkan Boruto tidak menghiraukan seseorang yang kini mengangkatnya ke punggungnya.

Ia yakin orang itu tengah berbicara, namun ia tidak dapat mendengarnya. Tubuhnya fokus pada rasa sakit yang kuat di dadanya.

"Boruto, bertahanlah!"

Orang itu... ternyata adalah Nara Shikadai.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hai semuanya :

Disini aku mau ngebuat Boruto kena serangan panik. Aku juga mau ngebuat pandangan yang berbeda-beda tentang tingkah aneh Boruto, jadi sudut pandangnya berubah-ubah.

Oh iya ngomong-ngomong, kalau ada kesalahan tolong dikoreksi ya :

Gejala-gejala Panick Attack ini berdasarkan hasil riset dari G*e.

Jadi kalau ada kesalahan, aku mohon koreksinya.

Btw ini pertama kalinya aku pake FFN.

Kita sambung nanti lagi. Bye :)