"Fūinjutsu: Shiki Fūjin!"
"Minato! Apa yang kau lakukan hah!?"
Seorang wanita bersurai merah dalam posisi tersungkur dengan kondisi yang penuh luka serta ratusan rantai raksasa yang keluar dari punggungnya mengikat seekor monster musang berekor Sembilang tidak jauh dari tempatnya, menatap tidak percaya kearah pria sekaligus suami dihadapannya.
Mahluk menyeramkan muncul dari belakang tubuh Minato, sebuah mahluk bersurai putih berantakan dengan wajah iblis yang sedang mengigit sebuah Katana serta tangannya yang terlilit tasbih serta dipenuhi aksara aksara, mahluk menyeramkan atau bisa disebut Shininggami tersebut menjerit melengking menyebarkan aura menakutkan yang menyatakan bahwa dirinyalah sang penguasa neraka dan alam kematian.
Minato menatap lirih kearah wanita yang barusan meneriakkan namanya barusan, "Aku akan menyegel Kyuubi didalam tubuh Naruto berharap dimasa mendatang ia dapat mengendalikannya sebagai seorang Jinchuriki." ucapnya pelan menghiraukan tatapan tajam dari wanita bersurai merah dihadapannya.
"Tapi kenapa harus Naruto?! Minato?! Aku berharap anak kita bisa tumbuh bersamamu nanti dimasa mendatang, hidup dengan damai tanpa menanggung beban yang teramat besar, cukup aku yang merasakan bagaimana rasanya menjadi Jinchuriki! Tapi mengapa Minato? Harus sampai mengorbankan Naruto? Anak kita?!." Kedua iris matanya memandang nanar kearah Minato, sejak awal kehamilannya dulu ia sudah berharap anak pertamanya dapat tumbuh menjadi seorang pria yang dapat diandalkan sebagai ninja namun bukan untuk dijadikan seorang Jinchuriki namun semua angan angannya sirna ketika malam kelahirannya saat ini.
"Kushina kumohon mengertilah." Kedua iris safir Minato menatap Kushina sedih, "Menjadikan Naruto Jinchuriki adalah keputusan tepat, aku percaya anak kebanggaan kita ini dimasa depan akan menjadi cahaya baru untuk dunia serta mengingat perkataan Jiraiya Sensei yang mengatakan bahwa tetua katak pernah meramalkan kalau diriku atau keturunanku akan menjadi anak dalam ramalan mumbuatku percaya bahwa Naruto dimasa mendatang akan menjadi Shinobi yang hebat." Minato berucap pelan kearah Kushina yang terdiam memandangnya, ia yakin bahwa anaknya suatu saat akan bisa menjadi Shinobi hebat namun sebelum semua itu tercapai maka rintangan berat akan menanti dalam perjalanan puteranya ini mengingat istrinya Kushina sebagai Jinchuriki dulu juga melalui hari hari yang berat.
Kushina memandang sedih kearah suaminya, ia tidak bisa berbuat banyak untuk menghentikan amukan Kyuubi saat ini dan memang jalan satu satunya adalah menyegel Kyuubi kedalam tubuh Naruto sekaligus menjadikan anak mereka sebagai Jinchuriki, Sedangkan Minato yang melihat Kushina yang menatapnya beberapa saat sebelum beralih menatap kearah Bayi yang berada tidak jauh dari hadapan mereka dengan cepat melanjutkan segel tangannya membuat sebuah tangan transparan milik Shininggami menembus dada Minato kemudian dengan cepat melesat kearah Kyuubi yang masih meronta kuat dalam lilitan rantai chakra milik Kushina.
"S-sialan kau Minato!"
Iris vertikal milik Kyuubi menatap penuh amarah kearah Yondaime yang saat ini sedang berusaha menyegelnya kedalam seorang bocah ingusan dibawah sana, dirinya adalah bijuu terkuat diantara yang lain dan tidak mungkin ia akan tersegel kedalam seorang bayi.
Groaaaaar!
Dengan raungan nyaring serta disisa tenaganya Kyuubi menggerakkan paksa tangannya kuat membuat rantai chakra milik Kushina putus kemudian dengan sekuat tenaga monster berekor sembilan tersebut melesatkan tangannya yang berkuku runcing kearah bayi yang akan menjadi wadahnya.
Wush!
Crash!
"Ugh!"
Iris vertikal Kyuubi sesaat menatap tidak percaya, tangannya yang saat ini terhenti dengan paksa hanya beberapa senti dari tubuh mungil yang akan menjadi wadahnya.
Tes!
Tes!
Perlahan sebuah tetesan darah menetes diwajah milik Naruto yang mulai mengerejapkan mata sebelum akhirnya menangis kencang, membuat Minato serta Kushina yang menjadi tameng terakhir bagi putera mereka agar selamat hanya tersenyum tipis sebelum melirik kearah Kyuubi.
"M-meskipun ini terdengar konyol bagimu Kyuubi." Minato dengan pandangan yang mulai memburam akibat segel Shiki Fujin yang hampir selesai ditambah cakar milik Kyuubi yang saat ini menebus tubuhnya beserta Kushina demi menyelamatkan anak mereka, menatap kearah monster berekor sembilan dengan senyuman tipis, "Tolong jagalah Naruto dimasa mendatang, karena aku yakin bahwa kau dan Naruto akan menjadi partner yang hebat." Sambungnya pelan membuat Kyuubi yang mendengarnya terdiam beberapa saat sebelum mulutnya yang bergigi runcing terbuka diikuti suara tawa nyaring.
"Hahahaha! Jika kau berharap begitu maka aku akan melakukan sebaliknya Yondaime! Akan kubuat anak ini menderita sepanjang hidupnya dan diakhir hidup anak ini aku akan keluar dengan paks-!."
"Aku percaya kau sebenarnya adalah Bijuu yang baik Kyuubi, aku adalah Wadahmu sebelum anakku ini." Kedua iris Kushina menatap kearah Kyuubi beberapa saat sebelum memandang lirih kearah Naruto, " Selama dirimu tersegel didalam tubuhku aku dapat merasakan semua emosi negatif milikmu Kyuubi, kau sebenarnya baik namun seiring waktu berjalan sudah banyak Shinobi yang kau percayai telah mengkhianatimu hanya demi bisa memperoleh kekuatan dari monster berekor sembilan, namun percayalah Kyuubi bahwa anak ini akan mengubah dunia serta pandanganmu." Sambungnya pelan menahan nyeri akibat waktunya didunia ini sudah tidaklah lama lagi dan sepertinya suaminya telah pergi terlebih dahulu akibat efek memakai jutsu terlarang.
Iris vertikal Kyuubi memandang kedua mata Kushina yang memancarkan tekad yakin disisa nyawanya yang sebentar lagi akan menghilang, membuat dirinya sesaat terdiam sebelum akhirnya melirik kearah bulan purnama total diatas langit.
"Kurasa aku akan membuktikan arti dari ucapanmu waktu itu Jiji."
Zrut!
"Ternyata disini"
"Naruto!"
Kushina dengan sisa sisa tenaganya meneriaki nama anaknya saat melihat tepat diatas altar tempat tubuh Naruto berbaring tercipta sebuah pusaran angin mengeluarkan sesosok mahluk berjubah yang sebelumnya telah dikalahkan oleh suaminya itu memegang kunai kemudian dengan cepat melesatkannya kearah Naruto berniat membunuh wadah dari Kyuubi.
Wush!
Trank!
Crash!
Kedua iris Kushina yang sebelumnya melebar akibat melihat kemunculan sosok yang telah menyebabkan kekacauan di Konoha tersebut perlahan kembali normal sebelum akhirnya tersenyum tipis ketika melihat tangan raksasa milik Kyuubi menutupi altar kecil tempat Naruto berada membuat lemparan kunai yang dilakukan oleh sosok berjubah menghantam kuat kuku milik monster berekor sembilan tersebut.
"Berani menyentuhnya kujamin kau tidak akan bisa melihat mentari dihari esok!."
Sosok berjubah yang melihat tangan raksasa milik Kyuubi menghalau lemparan kunainya hanya mendecih pelan sebelum kembali melesat kearah Naruto berniat memusnahkannya, membuat Kurama yang melihatnya menggeram pelan karena posisinya disaat ini sudah bisa dikatakan tidak bisa berbuat banyak akibat efek dari segel Shiki Fujin yang dilakukan Minato beberapa saat lalu.
Namun demi membuktikan perkataan Kushina serta Jiji nya yang dulu juga pernah mengatakan sesuatu mengenai peristiwa yang dialaminya saat ini kemudian dengan chakranya yang tersisa sebelum tubuhnya benar benar sepenuhnya terhisap kedalam segel diperut Naruto, Kyuubi melakukan segel rumit dan didetik selanjutnya ledakan aksara memenuhi seluruh altar tempat Naruto berada membuat sosok berjubah yang dalam posisi akan menyerang itu melompat menjauh akibat terkejut dengan ledakan aksara disekelilingnya.
"Aku tidak mengetahui tujuan kalian yang menginginkan seluruh Bijuu, namun kurasa untuk mendapatkanku adalah yang hal mustahil!.".
Boft!.
Kyuubi dengan seringai lebar menatap kearah sosok bertopeng yang berdiri tidak jauh dari hadapannya sebelum akhirnya altar tempat Naruto berada meledak menjadi asap tebal dan didetik selanjutnya meninggalkan tanah kosong serta jasad Minato dan Kushina yang tergelatak tidak jauh dari sana.
.Happy Read.
Ost op: Everlasting Shine (Tomorrow x Together)
¤Uchida Tokugawa¤
-Present-
.Naruto belong's Masashi Kishimoto.
.Naruto © Kishimoto M.
.Black Clover belong's Yūki Tabata.
.Black CloverYūki Tabata.
.
.
.
.
(Grimoire)
Hage sebuah desa terpencil yang terletak diujung dari wilayah kerajaan Clover, desa kecil yang tentram dan asri dimana saat ini matahari mulai menampakkan diri membuat sinar menyirami seluruh daratan disana, namun pagi hari yang indah tersebut sedikit terganggu saat terdengar suara tangisan bayi, lebih tepatnya beralih menuju ke satu satunya gereja yang ada di desa itu.
Cklek!
"Ah lagi-lagi bayi yang ditelantarkan."
Seorang pria menggunakan jubah pendeta melangkah keluar dari dalam Gereja ketika mendengar suara tangisan bayi dari arah luar dan benar saja ternyata tepat didepan Gerejanya terlihat sebuah keranjang berisi dua bayi yang menangis kencang.
Set!
"Cup! Cup! Cup! Jangan menangis nak."
Dengan penuh perhatian pria itu menggendong keranjang berisi dua bayi tersebut berniat ingin membawanya kedalam namun dilangkah ketiga ia kembali terdiam saat mendengar suara tangisan bayi yang berada dibalik semak pagar halaman Gerejanya.
Tap!
Tap!
Tap!
"Astaga apa yang lakukan disitu nak!"
Pendeta itu seketika panik ketika melihat seorang bayi bersurai pirang yang dibungkus kain kumuh tersangkut didalam semak pagar halamannya, kemudian dengan cepat dirinya berlari kedalam untuk menaruh kedua bayi yang sebelumnya ia temukan selanjutnya ia kembali menuju pagar semak halamannya untuk mengambil bayi yang tersangkut disana.
Beberapa saat kemudian setelah ia memandikan serta membersihkan ketiga bayi yang ditemukannya pagi ini, terlihat ketiga bayi tersebut tertidur pulas diatas ranjangnya membuat sebuah senyuman tipis tercipta diwajahnya.
"Hah~ akhirnya selesai juga." Kedua iris ya sesaat memandang wajah ketiga bayi yang sedang tertidur, "Hmm~ apa kalian bertiga ini saudara? Kembaran? Tapi sepertinya bukan, yang satu ini terlihat tenang sedangkan yang dua ini sepertinya akan tumbuh menjadi anak yang periang." Sambungnya pelan saat melihat bayi yang berada diatas ranjangnya tersebut mempunyai beberapa karakteristik yang berbeda, dimana bayi pertama terlihat tenang dan pendiam sedangkan yang satunya terlihat energik periang dan yang terakhir juga sama terlihat periang namun entah mengapa dipipinya terdapat sebuah whisker membuatnya tampak seperti anak rubah.
"Untuk namanya kukira aku akan memikirkannya terlebih dahu-!"
Pendeta itu sesaat menghentikan kalimatnya ketika melihat sebuah nama yang tertulis dimasing masing baju yang digunakan kedua bayi tersebut.
"Asta dan Yuno kah?" Ucapnya pelan kemudian mengalihkan pandangannya kearah bayi bersurai pirang yang berada disampingnya, ia sesaat menatap teliti mencoba mencari apakah ada nama yang tertulis ditubuh maupun dipakaian bayi itu namun hasilnya nihil yang berarti untuk bayi terakhir ini yang akan memberikan nama adalah dirinya, "Baiklah kalau begitu yang memberikanmu nama adalah ak-!"
"Naruto"
"Siapa itu?!"
Sang pendeta tersentak kaget ketika mendengar suara berat yang entah muncul dari mana namun dengan jelas ia dapat mendengar bahwa suara tersebut mengatakan 'Naruto', apakah nama dari bayi pirang ini? Ia tidak terlalu paham dengan yang terjadi barusan namun sebuah senyuman lebar tercipta diwajah pendeta itu sambil perlahan tangannya mengusap lembut masing-masing dari wajah bayi dihadapannya.
"Yosh! Kalau begitu nama kalian adalah Asta, Yuno, dan kau Naruto, serta aku akan menjadi ayah angkat dari kalian bertiga wahai anak anakku hahahaha!" Ucap pria tersebut dengan nada mantap.
-15 tahun kemudian-
"Narutoooo! Astaaaa! Cepat kemari kalian anak anak sableng!."
Seorang pria berjubah pendeta berusia 40 an berlari kencang mengejar dua pemuda yang saat ini berlari kencang menghindari setiap lesatan sihir airnya.
"Tak kusangka bapa akan semarah ini hanya karena kita mencuri beberapa gulungan Grimoire dari perpustakaan."
"Bukankah sudah kubilang kalau idemu itu sesat Naruto!."
Dua pemuda yang sedang berlari itu sesaat menatap satu sama lain sebelum akhirnya tertawa pelan dan semakin berlari kencang menghindari amukan ayah asuh mereka, namun didetik selanjutnya seketika tubuh mereka entah mengapa mulai terangkat hingga akhirnya melayang-layang diudara.
Wush!
Tap!
Tap!
Tap!
"Hah~ hah~ Arigatou Yuno, akhirnya dua anak sableng ini bisa tertangkap." Ucap sang bapa sambil terengah pelan menatap kearah seorang pemuda bersurai hitam yang saat ini berdiri disampingnya.
"Yuno! Teganya kau!."
"Tak kusangka kau mengkhianati persaudaraan kita Yunoo!."
Grep!
Naruto maupun Asta seketika berkeringat dingin saat merasakan sebuah tangan memegang bahu mereka dan ketika menoleh keringat semakin membanjiri wajah mereka saat melihat sang bapa dengan wajah iblis tersenyum mengerikan kearahnya.
"Jelas-jelas yang salah kalian tapi tingkahnya seperti kalian adalah korban hah!." Ucap bapa pelan kemudian melepas genggamannya dikedua bahu anak asuhnya tersebut, "Sebagai hukuman kalian berdua harus membersihkan gereja dari depan sampai halaman belakang sekarang juga!." Sambungnya pelan membuat Naruto maupun Asta mengangguk cepat kemudian melesat pergi.
"Hah~ kenapa mereka berdua tidak memiliki sifat sepertimu saja Yuno."
Sambil menghela nafas pelan sang bapa geleng-geleng melihat tingkah Asta maupun Naruto yang sangat hyper aktif dimana kedua anak sableng itu selalu ada saja tingkahnya, sedangkan Yuno malah mempunyai sifat keterbalikannya dimana pemuda tersebut sangat santun dan rajin.
"Kukira yang dilakukan Naruto maupun Asta hanyalah pelampiasan mereka karena diwaktu seperti ini masih belum bisa menggunakan sihir ditambah mereka berdua sama sekali tidak memiliki Mana, entah mengapa aku seolah mengerti dengan apa yang mereka rasakan saat ini." kedua iris Yuno sesaat menatap kearah langit cerah siang hari, ia sangat memahami apa yang dirasakan kedua saudaranya tersebut, sebab dibulan Maret ini akan diadakan pemberkatan sihir dimenara perpustakaan Grimoire, dimana mereka para pengguna sihir akan berkumpul untuk mendapatkan Grimoire.
"Aku juga memahami hal tersebut Yuno, namun yang mereka lakukan adalah salah, bersyukur saat ini aku masihlah diberikan kesempatan hidup oleh tuhan dan bisa membela Asta&Naruto dari setiap masalah yang mereka lakukan, meskipun mereka berdua gagal dalam acara pemberkatan nanti, aku akan tetap menerimanya digereja dan tetap menganggap mereka berdua sebagai anak kebanggaanku!." Sang bapa sesaat mengusap aliran air mata disudut matanya ketika mengenang dimana ia dulu menemukan tiga bayi didepan gereja dan kemudian membesarkan mereka hingga saat ini, meskipun Asta dan Naruto tidak memiliki Mana serta kelakuannya yang kelewat sableng sedangkan Yuuno adalah keterbalikannya namun mereka berdua tetaplah anak kesayangannya, selama nyawa masih melekat ditubuhnya maka ia akan menjadi yang terdepan dalam membela serta mensupport ketiga anaknya tersebut.
Sedangkan didalam gereja saat ini terlihat Asta dan Naruto sedang membersihkan setiap sudut tempat beribadah sekaligus tempatnya tinggalnya sedari kecil itu.
"Arghhh! Lihat saja Yuno! Suatu saat aku akan mengejar ketertinggalanku terhadapmu! Dan menjadi kaisar sihir!." Asta dengan mata berbinar berteriak penuh semangat kearah langit langit gereja membuat Naruto yang melihatnya tertawa pelan.
"Jangan bermimpi Asta!." Ucap Naruto pelan menatap remah kearah saudaranya itu sesaat sebelum sebuah seringai lebar tercipta diwajah pemuda berambut spike tersebut, "Sebab aku yang akan menjadi kaisar sihir!." Sambungnya penuh tekad sambil mengulurkan tangannya membuat Asta yang mendengarnya ikut menyeringai kecil dan membalas uluran tangan Naruto.
Grep!
"Meskipun kita tidak bisa menggunakan sihir ataupun tidak memiliki mana namun kita masih mempunyai satu kekuatan! Bukankah begitu Naruto!."
"Whoaaah! Tentu saja Asta!."
Naruto maupun Asta tersenyum lebar sebelum keduanya saling pandangan dengan pancaran iris mereka yang penuh semangat.
"Kekuatan pantang menyerah!."
.
.
.
Bulan Maret saat bunga Dandelion telah bersemi dan berterbangan dilangit, sebuah acara yang akan dilakukan sekali dalam setahun dimana remaja yang telah menginjak usia 15 tahun dari setiap desa dari kerjaan Clover akan berkumpul di pusat kerajaan untuk melakukan pemberkatan sihir namun sebelum itu mereka (masing masing pemuda dari setiap desa) akan berkumpul di menara Grimoire untuk mengetes apakah mereka layak atau tidak mengikuti ujian di ibukota kerajaan nanti.
Terlihat saat ini dimenara perpustakaan Grimoire desa Hage telah berkumpul banyak orang dari rakyat biasa sampai keturunan bangsawan yang berniat mengikuti ujian untuk bisa menjadi kesatria sihir di ibukota kerajaan Clover nanti.
"Whoaaah! Dilihat dari manapun Grimoire sebanyak ini tetaplah menakjubkan!."
"Kira kira Grimoire seperti apa yang akan kita dapatkan Naruto?!, Arghh! Memikirkannya saja sudah membuatku sangat bersemangat!."
Naruto dan Asta yang telah hadir didalam menara menatap takjub ke sekeliling mereka, dimana ratusan rak yang menyimpan bermacam-macam Grimoire tersusun rapi menjulang tinggi, tidak jauh berbeda dengan respon Yuno yang berada disampingnya, pemuda tersebut sesaat terdiam memandang ribuan Grimoire yang tersusun rapi disekelilingnya.
"Woy! Asta!, Naruto! Ingatlah pesanku saat digereja tadi!." Bapa yang berada diarea pinggir tempat para peserta berkumpul berteriak nyaring kearah Asta dan Naruto untuk mengingat pesaannya sebelum berangkat menuju kesini, dimana ia berpesan agar kedua anak sablengnya itu tidak berulah ditempat umum seperti ini.
"Tentu saja bapa!."
"Woy! Kanapa hanya Asta dan aku?! Yuno mana?!."
"Karena diantara kalian bertiga yang waras hanya Yuno!."
"Apa kau bilang bapa ubanan!?, Kita bertiga tumbuh bersama tapi kenapa yang waras hanya Yuno?!."
Sister Lily seorang biarawati berusia 20an yang telah ikut merawat Asta, Yuno dan Naruto sejak kecil dan saat ini berada disamping bapa hanya geleng-geleng melihat tingkah ayah anak tersebut, karena kalau dipikir-pikir tingkah mereka tidaklah jauh berbeda dimana bapa yang saat ini berteriak nyaring kearah Naruto&Asta tanpa menghiraukan ratusan mata memandang aksinya.
"Yare-Yare bukankah itu Naruto, Asta dan Yuno? Peserta yang berasal dari rendahan?."
"Terlebih yang kudengar si pirang dan cebol itu tidak bisa menggunakan sihir bahkan mana saja mereka tidak punya!.
"Hahahaha! Dan katanya dua orang bodoh itu ingin menjadi kaisar sihir!, Bermimpi boleh tapi jangan terlalu tinggi."
Beberapa peserta yang berasal dari keturunan bangsawan berkumpul di ujung ruangan perpustakaan kemudian tertawa remeh sehabis melihat kearah tiga bersaudara Asta, Yuno dan Naruto yang masih saling teriak sahut menyahut dengan sang bapa.
Tap!
Tap!
Tap!
Set!
"Ehm! Ehm! Selamat datang di menara Grimoire anak muda sekalian!
Seorang pria tua dengan pakaian penyihir perlahan melangkah pelan dari dalam satu satunya panggung diruangan tersebut, kemudian dengan alat pengeras ia berucap pelan membuat hampir seluruh peserta termasuk Yuno, Asta dan Naruto menatap kearahnya.
"Dimana mulai hari ini kalian semua akan memulai lembaran dan menempuh perjalanan hidup kalian masing-masing, aku berharap kalian diberkati oleh Keyakinan, Harapan dan cinta!." Ucapnya pelan sambil menatap wajah-wajah penuh semangat dari setiap peserta terlebih seorang peserta berambut pirang dan peserta disebelahnya yang bertubuh cebol, ia yakin meskipun sekilas namun pancaran tekad dari kedua pemuda itu sangatlah kuat membara melebihi tekad dari seluruh peserta diruangan ini, "Aku sebagai ketua dan penjaga menara Grimoire ini masih merasakan bahwa tidak ada satupun dari kalian semua yang memiliki kekuatan setara Kaisar sihir ataupun kesatria sihir, Namun! Aku berharap suatu saat nanti dimasa mendatang salah satu dari kalian bisa menjadi seorang Kaisar sihir ataupun Kesatria sihir! Oleh sebab itu tanpa menunggu lagi aku mengijinkan kalian semua untuk memilih Grimoire yang kalian inginkan!." Sambungnya cepat membuat semua peserta disana bersorak nyaring dan bersiap menunggu Grimoire.
Drrrrrt!
Didetik selanjutnya seluruh dari setiap rak buku yang menampung Grimoire perlahan mulai bergetar pelan kemudian ratusan buku Grimoire secara otomatis beterbangan dan berputar pelan dilangit langit menara membuat seluruh peserta ujian bersiap menunggu buku Grimoire jenis apa yang akan menghampiri mereka.
Wush!
Wush!
Wush!
Perlahan ratusan Grimoire yang berputar pelan dilangit-langit mulai turun menghampiri setiap peserta yang telah dipilih oleh buku Grimoire tersebut.
"Wah! Lihat! Aku mendapatkan Grimoire berukuran besar!."
"Whoaaah! Grimoire jenis api!."
"Hm pengendali tumbuhan."
"Yah padahal aku ingin Grimoire tipe air kenapa malah dapat Grimoire jenis cahaya?."
Sring!
Namun hampir seluruh perhatian peserta disana seketika teralihkan kearah sebuah buku Grimoire memiliki lambang Semanggi 4 daun yang berputar serta bersinar terang dilangit-langit menara dan secara perlahan mulai turun hingga akhirnya sebuah tangan berkulit putih meraihnya dan ekspresi datar pemuda tersebut menatap dari setiap peserta terlebih kearah kaum bangsawan yang tadi sempat mengatai mereka.
"Akulah yang akan menjadi kaisar sihir!."
Yuno dengan nada nyaring berucap pelan sambil iris matanya menatap datar kearah beberapa peserta dari keturunan bangsawan yang tadi sempat meremehkan mereka membuat hampir seluruh peserta diruangan itu diam membisu sebelum akhirnya...
"Waaah! Bukankah itu Grimoire yang telah diceritakan dalam legenda?!.
"Grimoire berdaun empat!."
"Kudengar bahwa Kaisar sihir pertama yang telah berhasil mengalahkan iblis raksasa itu dulu juga mendapatkan Grimoire berdaun empat!."
"A-anak kampungan itu kenapa bisa mendapatkannya?!."
"Mungkin menara tua ini sudah sedikit rusak hingga anak rendahan dari rakyat biasa bisa mendapatkan Grimoire berdaun empat."
Hampir seluruh peserta menatap takjub dan sebagiannya ada yang menatap iri&benci kearah Yuno yang telah berhasil memanggil sebuah Grimoire langka dan telah banyak di ceritakan dalam banyak legenda bahwa pemegang Grimoire berdaun empat adalah calon dari kaisar sihir suatu saat nanti, namun pandangan takjub mereka semua seketika kembali teralihkan kearah tengah ruangan, lebih tepatnya kearah Naruto dan Asta yang saling membelakangi saat ini sedang berjongkok sambil mengadah kelangit-langit menara menunggu Grimoire mereka turun.
"Oi Naruto, apa hanya perasaanku saja bahwa tidak ada satupun Grimoire yang menghampirimu?."
"Kaupun juga sama cebol! Namun bukankah ini aneh? Kenapa belum ada satupun Grimoire yang menghampiri kita?." Balas Naruto pelan menatap langit-langit yang sebelumnya dipenuh oleh Grimoire saat ini telah kosong bersih namun belum ada satupun yang menghampiri dirinya ataupun Asta, "Anoo apakah ada kesalahan? Kenapa saat ini belum ada Grimoire yang menghampiri kam-?."
"Ya jelas! Karena kalian adalah peserta gagal yang tidak bisa menggunakan sihir bahkan tidak mempunyai mana! Jelas saja tidak ada Grimoire yang menghampiri kalian, ditambah impian kalian yang ingin menjadi Kaisar sihir? Hahahaha!."
Seketika tawa pecah dalam ruangan itu ketika seorang dari salah satu anak bangsawan dengan nada remeh membalas perkataan Naruto beberapa saat lalu yang bertanya kenapa tidak ada satupun Grimoire yang menghampiri mereka.
"Arghhh! Meskipun tidak mempunyai Grimoire aku akan tetap menjadi kaisar sihir dan lihat saja Yuno! Aku akan segera mengejar ketertinggalanku padamu!.", Asta dengan nada penuh semangat berucap penuh tekad kearah Yuno sambil mengacungkan jempol, "Karena aku dan Naruto mempunyai satu kekuatan yang tidak akan pernah padam!." Sambungnya dengan pancaran tekad yang semakin membara membuat peserta lain sesaat terdiam karena penasaran dengan kekuatan yang dimaksud oleh Asta&Naruto itu.
Naruto yang melihat semangat Asta tersenyum lebar dan dengan nada nyaring ia juga ikut menunjuk kearah Yuno.
"Kekuatan kami yaitu pantang menyerah yang suatu saat nanti akan membuat diriku serta Asta akan mengejarmu Yuno!." Ucap Naruto dengan senyuman membuat Yuno yang melihatnya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya senyuman tipis hinggap diwajahnya, ia yang awalnya sempat merasa khawatir dengan mental kedua saudaranya tersebut akibat tidak mendapat Grimoire namun melihat aksinya barusan ditambah nada penuh tekad yang diteriakkannya membuatnya sadar bahwa meskipun tidak mempunyai mana dan bodoh namun Asta beserta Naruto mempunyai sifat pantang menyerah.
Set!
"Kutunggu hari itu tiba Naruto, Asta." Dengan senyuman tipis pemuda bersurai hitam tersebut melangkah pelan meninggalkan Naruto serta Asta yang menatapnya dengan seringai lebar, "Dan suatu saat nanti ketika kita sudah setara maka mari kita bertarung bertiga memperebutkan gelar Kaisar sihir!." Sambungnya sebelum benar benar keluar dari ruangan menara membuat Naruto&Asta menyeringai semakin lebar kemudian berlari cepat menuju kearah Yuno menghiraukan seluruh peserta yang masih menatapnya takjub dan beberapa menatapnya aneh.
"Whoaaah! Tentu saja Yuno! Aku akan segera mengejarmu!."
"Hahaha! Tuan sok keren seperti Yuno bisa juga mengatakan hal seperti itu ya!."
.
.
.
Sore harinya dimana langit mulai memerah pertanda malam akan segera tiba terlihat disebuah pohon berukuran raksasa tidak jauh dari gereja tempat mereka tinggal Asta yang sedang bergelantungan sambil menatap langit senja dan dibagian bawahnya terdapat Naruto yang sedang tidur telentang diatas rerumputan.
"Kalau dipikir-pikir perkataan kita tadi saat ujian dimenara Grimoire bukankah berlebihan Naruto?." Asta dengan posisi terbalik dari atas pohon berucap pelan kearah Naruto yang sesaat meliriknya, "Aku hanya berpikir kita yang bernasib sama dengan bodohnya mengucapkan bahwa akan mengejar Yuno yang jelas jelas telah mendapatkan Grimoire Semanggi berdaun empat." Sambungnya pelan, ia sempat terbakar semangat untuk mengejar ketertinggalannya terhadap Yuno ketika ujian dimenara tadi siang namun entah mengapa saat dipikirkan ulang rasanya mustahil jika hanya mengandalkan kekuatan otot untuk bisa mengalahkan kekuatan sihir.
"Aku juga berpikiran seperti itu Asta, namun seperti yang dikatakan Bapa, kalau hidup ini penuh dengan misteri jadi tidak salah kalau terus berjuang mengejar ketertinggalan kita terhadap Yuno." Balas Naruto dengan nada pelan sebelum kembali mengalihkan pandangannya menatap langit senja.
Suasana disana kembali hening setelah kalimat Naruto barusan namun kedua pemuda tersebut seketika tersentak kaget saat melihat sebuah ledakan cukup besar terjadi dari arah samping mereka lebih tepatnya ledakan tersebut terjadi diGereja tempat tinggal mereka.
Wush!
Drap!
"Naruto! Cepat kita kesana!."
Asta dengan ekspresi khawatir langsung melompat dari atas pohon kemudian dengan cepat berlari kearah gereja tempat mereka tinggal diikuti Naruto yang juga dengan ekspresi mengeras menatap kearah ledakan yang barusan terjadi, apakah gereja mereka kembali diserang oleh kawanan bandit? Sebab dulu beberapa kawanan perampok (orang orang yang telah diusir oleh kerajaan) pernah menyerang gereja mereka untuk merampas makanan dan harta.
Sedangkan digereja saat ini terlihat seorang pria bersurai panjang berantakan tertawa pelan kearah Yuno yang berdiri tidak jauh dari tempatnya dan seluruh tubuhnya dipenuhi oleh luka serta terlilit rantai dari leher hingga kaki.
"Apa maumu hah? Kami penghuni Gereja didesa terpencil seperti ini mana mungkin mempunyai harta!." Bapa dengan ekspresi marah menatap kearah seorang buronan kerajaan sekaligus perampok yang saat ini telah menyerang gereja tempat tinggal, sedangkan disampingnya terdapat sister Lily sedang memeluk anak anak penghuni Gereja lainnya yang meringkuk ketakutan.
"Kheh~ sebenarnya aku tidak berminat untuk datang ke desa kumuh seperti ini namun mendengar bahwa ada pemuda yang mendapatkan Grimoire Semanggi berdaun empat membuatku akhirnya mampir untuk mengambil Grimoire tersebut karena jika dijual dipasar gelap atau dijual kepada kolektor maka harganya akan setinggi langit!." Pria bersurai panjang berantakan tersebut menyeringai lebar sebelum akhirnya kembali melirik kearah Yuno yang menyipitkan matanya akibat menahan nyeri diseluruh tubuhnya, "Ma~ seperti yang kukatakan sebelumnya, jika kau mau memberikannya maka aku tidak akan melukai satupun orang disini, namun jika kau menolak maka jangan salahkan jika mereka satu persatu akan kubun-!."
Wush!
Dhuagh!
Tes!
Tes!
Kalimat pria itu terhenti saat sebuah batu berukuran sedang melesat kuat dan menghantam kepalanya hingga membuat sebuah aliran darah tercipta didahinya kemudian menetes di tanah, perlahan matanya melirik kearah pelaku pelempar yaitu seorang anak laki-laki berambut pendek menatapnya penuh amarah dengan wajah dibanjiri ingus serta air mata.
"Pergi kau penjahat! Salah kami apa hingga kau melukai Yuno-niichan!." Anak laki-laki yang tadi melempar batu hingga menyebabkan dahi dari perampok tersebut berdarah, berteriak nyaring kemudian dengan wajah penuh air mata serta ingus ia kembali melempar batu namun dengan mudah ditangkap oleh sang perampok.
Wush!.
Grep!
"Untuk seorang bocah kau cukup berani nak, namun kurasa keberanianmu akan berakhir disini." Ucap pria tersebut datar dan tanpa sepatah katapun salah satu rantai runcing yang bergerak liar disekeliling tubuhnya melesat kencang kearah tubuh bocah yang melempar batu hingga dahinya berdarah beberapa saat lalu.
Wush!
Zrut!
"Awas bahaya!."
"Nash! Lari!."
Bapa serta Sister Lily yang melihat Nash, salah satu penghuni Gereja mereka dalam bahaya seketia berlari sambil berteriak kearahnya namun bukannya menghindar bocah tersebut saat ini terlihat mematung dengan mata memutih akibat telah mencapai batasnya dalam menahan ketakutannya hingga akhirnya...
Zrut!
Crash!
Brugh!
"Ugh!."
Kedua iris Yuno melebar sempurna saat melihat pinggang sister Lily yang terluka akibat terkena terjangan rantai milik pria dihadapannya ini sedangkan bapa terlihat lebih parah dimana rantai tersebut berhasil menembus pinggang kirinya hingga merembeskan darah lumayan banyak dan tanpa disadarinya Asta serta Naruto yang baru sampai seketika mematung melihat pemandangan dihadapan mereka.
"S-sister Lily?."
"Bapa!."
Asta dan Naruto menatap terkejut dan didetik selanjutnya berlari kencang kearahnya berniat memberi pertolongan namun niat mereka harus tertunda saat beberapa rantai milik pria yang berada dihadapan Yuno tersebut melesat kencang menembus bahu Asta dan Naruto membuat kedua pemuda itu merintih nyaring akibat menahan sakit.
"Argh!."
Tap!
Tap!
Tap!
"Tetaplah diam seperti itu." Pria dihadapan Yuno melangkah pelan kearah Asta dan Naruto yang menahan nyeri dibahu mereka, "Bukankah kalian dua peserta yang tidak mendapat Grimoire? Oh aku paham sekarang pantas saja pemuda pemilik Grimoire Semanggi berdaun empat itu sangat lemah, ternyata dia satu golongan dengan kalian berdua kan? Sekali orang lemah tetaplah lemah dan sekali pecundang tetaplah seorang pecundang nak." Sambungnya dengan nada mengejek kearah Naruto dan Asta yang saat ini ekspresi wajah mereka menggelap.
Deg!
Jantung pria tersebut sesaat berdegup kencang ketika merasakan sebuah sensasi menakutkan yang sekilas dirinya rasakan dari arah belakangnya dan saat menoleh ia dapat melihat sebuah buku usang berwarna hitam kelam dan disekelilingnya terdapat energi hitam&merah menyelimutinya melayang tepat disamping Asta yang masih menunduk dengan ekspresi gelap.
Wush!
Sedangkan Naruto yang berada disamping tubuh Asta perlahan disekitar tubuhnya mulai menguarkan energi berwarna orange tua yang semakin lama energi tersebut semakin menguar ganas serta kedua iris safirnya memandang penuh amarah kearah pria yang telah menyakiti orang-orang berharganya tersebut.
Deg!
Naruto seketika tersadar dan bangkit berdiri ketika mengetahui bahwa saat ini dirinya berada disebuah ruangan gelap gulita tanpa ada penerangan satupun, namun ia dapat merasakan saat ini kalau kakinya sedang terendam oleh air sampai mata kaki.
"Akhirnya kau bisa datang ketempat ini Naruto!."
Set!
Pemuda bersurai pirang itu menatap sekelilingnya ketika mendengar sebuah suara mengerikan entah dari mana namun setelahnya mau tak mau dirinya mematung saat tidak jauh dari hadapannya terlihat sebuah mata berukuran besar dengan iris vertikal terbuka diikuti gigi runcingnya yang menyeringai lebar.
"S-siapa kau?!." Naruto dengan nada tergagap mencoba menanyakan siapa mahluk dihadapannya.
"Bukanlah hal penting untuk mengetahui siapa aku! Namun kau merasa benci dengan pria yang telah menyakiti keluargamu itu bukan?." Mahluk raksasa yang berada dihadapannya berucap dengan nada berat sambil menunjukkan sebuah layar dan menampilkan pria yang telah melukai keluarganya, "Kebencian itulah yang akan memberikanmu kekuatan! Bencilah semua orang yang berniat menganggu kebahagiaanmu bocah! Maka kekuatan besar akan menantimu!." Sambungnya dengan seringai lebar membuat Naruto yang mendengarnya termenung beberapa saat.
"Kurasa itu bukanlah hal buruk." Balas Naruto pelan membuat seringai mahluk dihadapannya semakin lebar, "Namun kurasa hal tersebut tetap salah! Sebab Bapa pernah berpesan kepadaku untuk tidak memendam kebencian karena hal tersebut akan membuat roda kebencian akan berputar tanpa akhir, jadi kurasa aku tidak membutuhkan kekuatan dari yang namanya kebencian!." Sambungnya dengan nada serius membuat mahluk raksasa dihadapannya itu menghentikan seringainya kemudian kedua iris vertikalnya menatap Naruto beberapa saat sebelum akhirnya sebuah tawa nyaring kembali pecah ditempat gelap tersebut.
"Hahahaha! Menarik bocah! Kurasa sifatmu tidak seperti para Uchiha jadi kau pantas mendapatkannya."
"Mendapatkannya?."
"Kheh! Bukankah kau tidak mendapat buku yang bernama Grimoire saat ujian tadi siang hah?! Maka dengan ini buktikanlah bahwa kekuatan Grimoire tidak sebanding dengan yang namanya Chakra!."
Wush~
Perlahan ruangan gelap itu mulai menerang dan memperlihatkan tubuh Naruto melayang diantara genggaman dua buah tangan rubah berukuran raksasa yang saling berhadapan.
¤TBC¤
Ok Sekian terima Gaji~.
.Dont Like Dont Read.
.THANKS FOR READ FIC UCHIDA.
.Orange Clover Belong's Uchida Tokugawa.
.Keep calm and read fic Uchida tokugawa.
-SAYONARA-
