Selalu ada banyak pertanyaan berputar di kepala Shimazaki Touson. Pertanyaan-pertanyaan yang lahir dari apa saja yang tertangkap oleh matanya, dari sesuatu yang begitu sederhana sampai yang teramat rumit.
"Aku punya banyak pertanyaan, maukah kau menjawabnya?"
"Tunggu dulu, Shimazaki. Aku sibuk."
"Ayolah. Jawab aku, ya? Ya?"
Biasanya akan ada yang menjawabnya—kadang terkesan ogah-ogahan, kadang juga terkesan pasrah lantaran pertanyaannya terlalu banyak, dan ia tidak punya pilihan lain.
"Hei, ayolah. Jawab, ya?"
"Shimazaki ... kau bisa bertanya pada yang lain, 'kan?"
"Yang bisa menjawabnya sekarang hanya Shuusei, jadi ayolah. Mau, ya?"
Barangkali Shimazaki sudah terlalu dimanjakan dengan pertanyaaannya yang selalu diladeni, hingga kala yang menjawabnya hanyalah hening, rasanya begitu asing.
"Hei, jawab aku ..."
Yang lagi-lagi membalasnya adalah hening. Ruang kesehatan memang lebih banyak hening ketimbang berisik—Mori-sensei atau Mokichi-sensei bisa marah apabila kau membuat keributan di tempat ini—namun Shimazaki tidak suka ini.
"Shuusei memang suka hal-hal membosankan, ya?"
Biasanya orang itu akan protes apabila Shimazaki menyebutnya membosankan, atau suka dengan hal-hal semacam itu. Namun, kali ini tidak—lagi-lagi, hening. Bisu.
"Saking sukanya, sampai-sampai kau kuat tidur selama itu."
Pemuda yang terbaring di hadapannya tetap tidak menjawab. Kedua netranya yang tetap tertutup seolah mengatakan bahwa pertanyaan Shimazaki tidak akan terjawab sama sekali. Hening. Shimazaki menundukkan kepala.
"Ayo bangun, Shuusei. Jangan tidur lama-lama. Ada banyak yang ingin kutanyakan ..."
.
.
.
Bungou to Alchemist belong to DMM Games
.
.
.
Ini sebenernya tulisan lama, buat refleksi sebelum lanjutin komis gegara ak mendadak kena writer block (。ovo)a
