"Hoo, sekarang aku penasaran apa yang membuat pahlawan kita ini memasang wajah bodoh itu." Libertus berujar sambil memukul pundak Nyx.
Nyx yang seolah baru sadar, langsung menatap balas sambil berusaha mematut-matutkan ekspresinya. "Memangnya kenapa wajah ku?" Tanya nya berusaha mengelak meskipun itu justru membuatnya terlihat semakin jelas.
"Kau tersenyum, bodoh!" Kini Crowe yang menanggapi dengan wajah agak jijik sambil memukul kepala Nyx.
"Aku tidak--"
"Kau memakai narkoba, Nyx? akhir-akhir ini kau terlihat seperti... hmm bagaimana kau menyebutnya? Pencandu? Sakau?" Pelna menambahkan sambil meminum kopi kaleng yang ia dapat dari pantry gratis.
"Memfitnah ku, huh?" Nyx bangkit dari tempatnya, "lagipula, hey? Aku ini kapten kalian, setidaknya perlakuan aku sedikit lebih hormat!" Setelah mengalahkan Drautos dan mengantar Lunafreya dengan selamat ke Altissia, Nyx akhirnya dipromosikan menjadi Kapten Kingsglaive karena dianggap layak dari segi kinerja dan loyalitas.
"Hormat? padamu?" Crowe mengangkat alisnya tinggi-tinggi, "bermimpi lah, Ulric.. bermimpi~"
"Kau memang Kapten di jam kerja, dan oh lihat.. Ini sudah pukul 5." Pelna menunjuk jam tangan lusuhnya.
Libertus ikut tertawa, "Jadi... Siapa gadis itu?"
"Gadis apa?"
"Yang membuat mu terlihat seperti pencandu." Sahut Libertus cepat sembari memakan kripik kentang yang juga gratis dari Pantry.
"Nyx punya pacar? Gadis aneh macam apa yang punya selera pada Pria membosankan ini." Crowe mengibas-ngibaskan tangannya tidak terima.
Kapten Glaive itu terlihat setengah panik kemudian berusaha mengendalikan situasi dengan suara tenang yang dibuat-buat "Aku tidak punya pacar, oke?"
"Gagal, Nyx.. kau gagal." Libertus kenal sekali dengan Sahabat yang ia kenal lebih dari separuh hidupnya itu, Nyx memang memiliki sisi yang terlihat dingin diluar, kokoh dan sulit didekati. Tetapi begitu ada sesuatu yang menyentuh bagian sensitifnya ia akan berekspresi layaknya anak kecil. "Kau hanya membuatku jadi semakin penasaran tentang gadis macam apa yang bisa membuatmu sampai seperti ini."
"Wow, dan kalian harus tahu, kemarin Luche melihat Pria ini memasuki toko bunga." Pelna menambah panas situasi. "Jadi serius kau punya pacar?" Pelna menyenggol-nyenggol badan Nyx, meskipun yang mereka dapat berikutnya hanyalah keheningan.
Nyx menunduk sesaat disertai helaan nafas berat, kemudian menegakkan kepalanya. "Dia bukan pacar ku."
Pelna langsung bertepuk tangan, "Jadi Sekarang mengakui kau memiliki seseorang, hm?"
Kali ini Nyx tak menanggapi ledekan itu ataupun terpancing. "Aku tak ingin membahasnya, dan Oh, kau benar Pelna.. Sekarang sudah pukul 5." Balik Nyx sambil menujukan jam tangannya yang bersinar. Libertus bersumpah bahwa benda itu pasti barang mahal.
Perubahan sikap dan reaksi tiba-tiba tentu membuat Crowe, Libertus dan Pelna merasa ada yang salah. Baru saja Nyx tersenyum seperti orang gila, tapi beberapa menit kemudian ia langsung berwajah suram. Ketiganya hanya menatap punggung Nyx yang semakin menghilang, seperti yang dia katakan, dia benar-benar tak ingin membahasnya. Langsung pergi begitu saja.
"Tak mungkin kan gadis itu sudah mati?" Kepala Pelna langsung dipukul oleh Crowe karena komentar sembarangan nya.
"Mungkin juga gadis itu rupanya adalah hantu." Sambar Libertus yang langsung ditendang Crowe.
"Sakit, Crowe!" teriak Libertus.Tapi Gadis tunggal di Kingsglaive itu tak peduli.
"Aku yakin itu sesuatu yang lebih besar."
"Gadis itu Alien?" Timpal Pelna dan Libertus bersamaan, membuat Crowe langsung menyalakan api di tangannya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Nyx terlihat seperti biasa. Tak ada yang terlalu berubah, meskipun kadang ketiga sahabatnya bisa menemukan ia tersenyum tiba-tiba tanpa alasan.
Entah karena menghindari pertanyaan-pertanyaan lain atau apa, tapi Si Kapten biasanya langsung pulang setelah pukul 5 tanpa toleransi. Sebenarnya itu bukan masalah besar, mengingat tugas Kingsglaive menjadi semakin ringan setelah perang. Nyx juga tak pernah lagi datang pada acara minum-minum bersama rekan dan para junior baru, ia terlihat sedikit lebih tertutup dari biasanya.
"Hanya itu?"
"Ya, Kapten." Sambut Crowe saat melaporkan tentang rencana pengamanan untuk acara pernikahan Raja Noctis Lucis Caeulum dengan Tunangannya Putri dari Tenebrae, Lunafreya Nox Fleuret.
Nyx nampak menimbang-nimbang Dokumen ditangannya. "Ku pikir kita harus menambah sedikit lebih banyak Tentara, Mereka akan sangat membantu dalam menghalau paparazzi ilegal atau orang-orang tak diundang yang memaksa masuk."
"Siap, Kapten."
Pria itu kemudian beralih pada Crowe, "Bagaimana dengan Lord Ravus Nox Fleuret? apakah kita sudah mendapatkan izin kedatangannya?"
Crowe memandang Nyx dengan sulit, "Dia masih berada pada sidang yang ketat tentang kelayakannya memasuki wilayah Lucis khususnya Insomnia." Gadis itu menghela nafas, "Wajar saja, setelah apa yang terjadi."
Nyx tak akan menolak argumen itu, ia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang Ravus yang sebegitu tak pedulinya dengan King Regis dan merebut cincin Lucii tanpa ragu. Ia pernah menjadi Pria yang haus akan kekuasaan, dan itu pandangan yang sulit di ubah."Bagaimanapun dia tetap adalah Kakak sekaligus keluarga satu-satunya yang dimiliki Putri Lunafreya. Aku yakin Putri sangat menginginkan kehadirannya, dan seperti yang kau tahu, Crowe. Aku tidak suka disorot terlalu banyak flash kamera."
Crowe tertawa "Sebenarnya aku suka dengan ide menyoroti mu dengan cahaya kamera, jauh lebih mudah dibandingkan izin dengan prosedur panjang itu. Mungkin kau harus bicara dengan Putri Lunafreya, karena yeah.. Kadang Peraturan dan Keinginan memang tak selalu sejalan." Sahut Crowe dengan suara lemah, ia sebenarnya sudah lelah tentang Izin Ravus memasuki kota yang tak kunjung didapatkan. Para Crownsguard sangat keras untuk tak mengizinkan Ravus memasuki kota.
Sedangkan Nyx, Kapten Kingsglaive adalah satu-satunya pihak yang terus berusaha meyakinkan bahwa Ravus tak akan berbahaya selama ia tak membawa pasukan.
"Dia adalah Komandan Tinggi Tentara Niffleheim, tak bisa menyalahkan Crownsguard yang menganggapnya tak layak memasuki kota." Bahkan sebenarnya Crowe berpikir, bahwa masih bagus Ravus tak menerima hukuman mati setelah semua yang telah ia lakukan.
Perang yang selama ini telah merenggut rumah dan orang-orang yang mereka cintai, tak lain dan tak bukan telah di pimpin oleh Ravus sendiri.
"Tepatnya 'Mantan'." Nyx menekankan kalimatnya, "kau bisa melepaskan tugas itu, aku yang akan mengurusnya sendiri."
"Kau yakin?"
"Ya, kita hanya punya waktu 1 Minggu, dan jika tak ada lagi yang ingin di laporkan, kau bisa keluar." Crowe mengangguk, kemudian memberi hormat sebelum pergi. Ini belum pukul 5, Gumamnya.
"Nyx mengurusnya sendiri?" Tanya Libertus sambil meminum bir nya, Crowe mengangguk. "Aku harap dia tidak akan berkelahi."
"Oh jadi itu alasannya Lembur hari ini?" Sahut Pelna.
"Wow, tumben?."
Pelna mengiyakan sebagai tanggapan, "Aku tak sengaja berpapasan dengannya, sepertinya menuju Citadel."
"Ku harap dia berhasil." Crowe mengangkat gelasnya dan mereka bertiga bersulang di malam akhir pekan.
Tepatnya di hari Senin yang sibuk. Crowe berlari ke ruangan Kapten dengan cepat, nafasnya tak teratur, suara sepatu boot nya menggema di lorong. Gadis itu membuka pintu tanpa permisi, bukan karena dia adalah sahabat sang kapten, tapi keburu-buruan lah yang membuatnya sebegitu tak sopan.
Saat itu Nyx duduk ditempatnya sambil tersenyum puas, tak terlihat sama sekali garis-garis kemarahan atas perlakuan Crowe. "Bagus, aku baru mau memanggilmu. Aku sudah mendapatkan izin nya, sedikit sulit tapi--" Ujar Nyx sambil membawa selembar dokumen, berniat memberikannya pada Crowe tapi langsung terhenti saat melihat Ekspresi gadis itu. "Er.. Kau tak terlihat baik?"
"Putri menghilang."
Dengan 1 kalimat itu, senyuman Nyx mulai samar dan perlahan tak terlihat, ia berdiri dari tempatnya. "Apa kata mu?"
"Putri menghilang, Nyx!" Crowe mengulangi laporannya, membuat wajah Nyx langsung mengeras berubah serius. Ia tanpa sengaja meremas dokumen di tangannya, langsung berlari keluar tanpa pikir lanjang. "NYX!"
"Aku-- Citadel, mendengar berita lengkapnya." Suaranya patah-patah, melompat masuk ke dalam mobil dan langsung menginjak gas secepat yang ia bisa. Berita itu menjadi salah satu perbincangan terbesar di Citadel. Crownsguard sudah sibuk dengan rencana dan pengamanan mereka, Begitu Nyx masuk, Cor langsung menyambutnya.
"Bagus, kau sudah disini, Ulric." Sang Marshal berujar dengan suara berat.
"Bagaimana bisa Putri menghilang?" Tanya Nyx tanpa basa-basi, bersabar bukan keahliannya.
"Beliau meminta Izin untuk berjalan di taman, kemudian tak kunjung kembali."
"Niff?"
"Tak baik langsung membuat spekulasi, tapi mungkin saja." Sahut Cor dengan suara tenang. "Kami berniat melakukan pencarian besar-besaran dan membuat berita pencarian."
"Itu akan memicu kepanikan, Pernikahannya hanya tinggal 5 hari."
"Maksud mu?"
"Ku pikir melakukan pencarian diam-diam adalah langkah terbaik, Kepanikan masyarakat dan spekulasi mereka mungkin akan membuat kecurigaan pada pihak lawan yang bisa memicu perang lain."
"Seperti kau yang langsung mencurigai Niffleheim?" Nyx mengangguk. Cor diam sejenak, kemudian memanggil Salah seorang Crownsguard. "Scientia, Dengarkan rencana Ulric... aku harus mengurus sesuatu."
Ignis datang mendekat dan langsung memberi hormat nya.
Nyx menjelaskan rencananya, dan Dengan perhitungan matang Ignis juga nampak setuju. "Aku akan melaporkan ini pada Raja, kemudian mengurus media dan membuat berita ini tidak bocor secepat mungkin."
"Terima kasih."
Pencarian sang Putri pun dimulai. Crownsguard, Kingsglaive dan para Tentara berusaha keras menemukan titik temu. Mengecek semua mobil yang keluar masuk gerbang, menjaga ketat perbatasan dan menyamar di setiap sudut kota demi mendapatkan informasi.
Nyx benar, tentang berita yang sebaiknya diredam. Karena pada suatu pengecekan mobil dilakukan beberapa warga Bertanya keras untuk apa, dan mereka mulai berceloteh tentang "Niffleheim pasti melakukan hal jahat lagi!"
Setelah dua hari penuh pencarian yang penuh keringat terjadi, masih tak ada tanda-tanda mereka bisa segera menarik benang merah dan menemukan sang Putri.
Libertus melempar jas nya ke sembarang arah, sekarang sudah pukul 3 dini hari dan mereka baru bisa kembali ke markas. Nyx bahkan belum kembali sama sekali, terus mencari entah kemana. "Lupakan, Nyx. Dia pastilah orang yang paling serius dalam pencarian ini." Pikir Libertus berusaha tak peduli. Well, diantara semua orang di Insomnia, Nyx adalah salah satu yang paling dekat dengan Putri setelah Raja Noctis.
"Sial sekali, ku pikir semuanya akan berjalan sempurna setelah kita mengantongi izin Ravus." Crowe berkomentar ikut melemparkan dirinya ke sofa.
Pelna memijat-mijat pelipisnya sambil memejamkan mata "Melakukan penjagaan pada Pernikahan seharusnya tak sesulit ini, mata ku sakit setelah menonton ratusan CCTV." Tanpa sadar, ketiganya tertidur di markas dan Crowe terbangun pada pukul 5 pagi hanya untuk melihat Nyx yang menautkan selimut pada mereka bertiga.
"Kau baru kembali?" tanya gadis itu dengan wajah mengantuk dan rambut berantakan, Nyx mengangguk. "Pejamkan matamu sebentar, Kapten. Kau perlu tidur."
Tapi Nyx hanya menjawab dengan senyuman samar dan menepuk pundak Crowe, menyalurkan perasaan hangat yang nyaman dan mengusir rasa dingin dengan begitu saja. "Aku akan pulang sebentar untuk mandi, kita akan bertemu lagi besok, Selamat tidur, Crowe."
Tak berniat banyak bertanya karena sudah lelah, Crowe akhirnya kembali tertidur. Dan bangun pada pukul 6 pagi untuk bersiap-siap pada pencarian baru hari ini.
"Shit!" Libertus mengumpat saat membuka Lokernya, "Aku kehabisan pakaian bersih."
"Seolah kau punya." Sahut Pelna membuat Libertus mendesis, tak mungkin ia meminjam milik Pelna, mustahil muat.
Dengan terpaksa, Libertus berjalan pulang untuk mengganti pakaiannya dan mengambil beberapa cadangan lain untuk dimasukan ke Loker Markas. Betapa senang Pria itu saat melihat Mobil dinas Nyx terparkir di halaman apartemen sewaan mereka. Setidaknya aku belum terlambat dan bisa mendapat tumpangan, pikirnya.
Setelah selesai dengan pakaian lengkapnya, Libertus lalu berjalan ke kamar yang ada disebelahnya. Berniat mengetuk tapi samar-samar ia mendengar suara pembicaraan dari dalam.
"Aku akan merindukan mu."
"Maaf, tapi Aku benar-benar harus pergi, Aku akan segera kembali, ok?" Detik berikutnya Terlihat Nyx yang sedang mengancingkan jas Kingsglaive nya membuka pintu. Hanya sekilas, benar-benar sekilas. Libertus bisa melihat seorang Gadis di sana.
Sayangnya Nyx memiliki Refleks yang sangat bagus, saking bagusnya ia tak jadi mengancingkan jas nya dan justru berbalik untuk memeluk Gadis itu sambil menutupi nya dari pandangan Libertus.
Bukan rahasia lagi bahwa Nyx memiliki bahu dan tubuh yang besar, sedangkan Gadis itu terlihat cukup kecil dan tertutup sempurna "Jangan lihat!" teriak Nyx dengan nada berbahaya.
"Wo... wow, Nyx.. Ini hanya aku, Libertus, oke? tak usah pani--"
"Ku mohon, jangan melihatnya." kini suara itu agak sedikit menurun, meskipun pelukannya masih terlihat begitu erat. Membuat Libertus bertanya-tanya, siapa sebenarnya Gadis yang mampu membuatmu sampai menampakkan kelemahan seperti itu?
"Milik ku.. kau tidak boleh melihatnya..."
Libertus mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum memutuskan membalikkan badan. Ia seperti sedang melihat orang lain, Pria dibelakang nya terasa asing dan rentan. "Aku tak melihat apa-apa." Entah kalimat Libertus bisa menenangkan atau tidak.
Nyx terlihat ragu, sebelum melonggarkan pelukannya dan mencium kening gadis itu. "Sst.. Jangan khawatir, aku akan segera kembali."
Lagi-lagi suara itu, Libertus tak bisa berhenti membatin dan menyuruh hati nya untuk diam. Karena Entah bagaimana sejak tadi Nyx terasa asing dengan terus-terusan terdengar hangat sekaligus frustasi. Nada yang penuh tekanan namun berusaha terdengar kuat.
Bamm!!
Pintu tertutup, Nyx mendehem sambil benar-benar mengancingkan seluruh kancing jas nya. "Jadi, ada apa?" ia bertanya seolah barusan tak terjadi apa-apa.
Libertus mengangkat tas serut yang ia bawa. "Hanya mengganti pakaian dan mengambil beberapa kain bersih untuk loker ku, aku melihat mobil mu didepan, tentu aku mengharapkan tumpangan."
"Tentu."
Libertus bersumpah, bahwa itu adalah 15 menit terlama nya saat bersama Nyx. Suasananya terasa mencekik dan tak nyaman, hanya ada keheningan diantara keduanya disepanjang jalan, keheningan yang terasa asing dan tak biasa.Pria itu melirik Nyx yang menyetir dalam diam, pikirannya jelas sedang mengembara entah kearah mana.
"Belum ada perkembangan kan?" Tanya Libertus pada Nyx berusaha memecahkan keheningan.
Sejenak Nyx kelihatan terkejut, "Tentang Putri?"
"siapa lagi?"
"Yeah, belum ada." Hanya itu jawabannya sebelum lenggang beberapa menit. "Maaf, Lib."
Libertus menatap Nyx, ia tak terlihat sehat namun terlihat sangat cerah disaat yang bersamaan. Ia bahkan tak tahu harus menjelaskan seperti apa kondisi temannya saat itu. Libertus memukul bahu sang Kapten, mereka tak hanya kenal sehari atau dua hari, dan itu sedikit mengganggu Libertus karena tak bisa memahami sobatnya sendiri. "Tak masalah, kau akan menjelaskannya nanti kan?"
Nyx tidak menggeleng ataupun mengangguk. "Kau sempat melihatnya?"
"Sedikit, saking sedikitnya sampai aku sendiri bahkan tak tahu apa yang ku lihat." Nyx tertawa kecil, terdengar tawa penuh rasa syukur di sana.
Lampu merah menyala, mereka berhenti demi membiarkan para pejalan kaki lewat. "Ya, akan ku jelaskan nanti."
Nyx mengarahkan para anak buahnya dalam pencarian yang semakin ketat. Mereka bahkan kini memasuki hotel-hotel dan toko dengan alasan 'pengamanan sebelum Acara pernikahan'.
Tugas itu memang terdengar lebih mudah dibandingkan dengan tugas sebelumnya dimana mereka mencari Putri di hutan dan pelosok-pelosok Lucis. Noctis bahkan ikut turun untuk mengamati, meski tak banyak yang bisa ia lakukan. Mengingat sangat mencurigakan jika Sang Raja ikut melakukan 'Pengamanan sebelum Acara Pernikahan', ia juga memiliki cukup banyak acara untuk dihadiri, mengurus banyak dokumen, menyortir tamu VIP dan hal-hal lainnya.
"Aku bersyukur memiliki mu, Nyx." Ujar Noctis sambil menepuk pundak Glaive itu.
Nyx membungkuk padanya, "Sudah tugas saya, Your Majesty."
Karena kejadian tadi pagi, meski berusaha melupakannya, Libertus tetap tak bisa berhenti untuk memalingkan pandangannya dari Nyx yang sudah kembali bertingkah seperti biasa. "Ayo pergi, Lib... Kita punya Lestallum untuk diperiksa." Ujar Crowe sambil naik keatas sepeda motornya.
Ditempat lain, tepatnya ruang keamanan Citadel, Pelna lagi-lagi di sibukkan menonton rekaman CCTV bersama 5 rekan lainnya. Mereka berusaha menonton satu persatu rekaman itu untuk menyelidiki jejak sang Putri. Ini hari ketiga, dan luar biasa sekali bahwa Seorang seperti Lunafreya tak tertangkap di rekaman manapun.
Luche mengunjungi Pelna dan rekannya untuk memberikan kopi, "Kapten Ulric yang memintaku." ujarnya dengan tampang sedikit kesal karena diperlakukan seperti babu. "dia juga bilang, seseorang akan mengurus makan siang kalian hari ini, jadi tak perlu memesan makanan dari luar."
Pelna dan para Junior berteriak gembira. bagaimanapun jika ada yang menyebut 'mengurus makanan' di area Citadel, Artinya ada kemungkinan bahwa itu masakan Ignis, dan itu adalah Jack pot.
"Apa ada perkembangan, Pelna?" tanya Luche, Pelna menggeleng.
"lebih tepatnya belum ada."
"Jadi ini semua sia-sia, huh?"
Pelna menggeleng, "tidak sepenuhnya."
Setelah mengamati CCTV selama tiga hari, Pelna membuat sebuah spekulasi, yaitu Mustahil Putri kabur sendirian. Sebenarnya beredar juga dugaan bahwa ' Mungkin Lunafreya merasa tertekan sebelum pernikahan dan kabur untuk menenangkan diri, Dia pasti akan kembali sebelum acara.'
kemungkinan itu bisa dihapuskan sekarang, entah dalam makna baik ataupun buruk. Karena bagaimanapun seseorang seperti Lunafreya mustahil mengetahui posisi CCTV dan menghindarinya dengan begitu apik, dia pasti bersama Seseorang, mungkin penculik yang berbahaya dan lihai karena orang itu sangat hafal dengan kota Insomnia sekaligus letak kamera keamanannya. Berjam-jam Pelna menonton video orang berlalu lalang di sekitar Citadel, kendaraan lewat dan keramaian lainnya, tapi ia masih tak menemukan apa yang ia cari. Bahkan saat jam makan siang, ia masih memiliki 10 menit video yang belum selesai, karena itu ia membiarkan para Junior yang kelaparan meninggalnya sendiri.
Earpiece Pelna berbunyi, "Ya, kapten?"
"Masih belum menemukan apapun?" Tanya Nyx.
Pelna menggeleng meski yakin Nyx tak bisa melihatnya. "Belum, Aku sedang memerik--" belum selesai ia bicara, Pelna merasa sesuatu yang membuat seluruh bulu kuduknya merinding.
"Ada apa, Kau menemukan sesuatu , Pelna?" Nyx terus bertanya dengan nada tak sabaran.
"..."
"Pelna?"
"Maaf, kapten. Sepertinya aku salah lihat, ini Persis waktu untuk istirahat."
Nyx tertawa kecil sambil menghela nafas, "Makan siang adalah misi mu saat ini, Tuan Khara."
"Ya, kapten."
Setelah itu sambungan dimatikan, disaat yang sama Pelna memijat-mijat kepala nya sambil menatap ke layar. Ia berpikir tentang apa yang sebaiknya ia lakukan, hingga akhirnya tangannya memutuskan menekan tombol Delete
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?" ia bertanya pada udara hampa, sambil berharap bahwa keputusannya bukan hal yang salah. Pria itu bangkit dari kursinya, Dan, Yeah...Bekerja di jam istirahat memang tak pernah berakhir baik.
Tentu saja ruangan Nyx di kunci. Tapi itu bukan halangan bagi orang Seperti Crowe, Gadis itu melepaskan salah satu penjepit rambutnya yang berupa kawat hitam, kemudian melipatnya sedemikian rupa hingga terdengar bunyi klik. Ia tersenyum puas, meskipun senyuman itu langsung menghilang saat ia membuka pintu.
"Putri?" Crowe menggumam kemudian langsung siaga melihat kiri dan kanan. memastikan tak ada siapapun, Gadis itu mengetuk Earpiece nya, siap memberikan laporan. "Lapor, Crowe Altius disini, Saya menemukan--" Belum lengkap kalimat itu terucap, Lunafreya yang sempat membeku langsung membekap mulut Glaive wanita itu sambil berusaha menutup pintu.
Lunafreya menggeleng, memberi isyarat pada Crowe untuk tak memberikan laporannya. Meski bingung, Crowe mengangguk pelan. Sang Oracle melonggarkan bekapan itu dan mundur selangkah, masih agak ragu dan takut jika Crowe tak mengikuti keinginannya.
"Ya? Glaive?"
"Maaf, sepertinya Saya... hanya salah lihat."
"Ayolah, ini bukan lelucon." cerca anggota Crownsguard yang sebenarnya menanti berita baik.
"Maaf.." ujarnya lagi dan langsung mematikan sambungan. Tak Lupa Crowe memastikan sekali lagi bahwa mereka benar-benar sendirian.
"Tak ada siapapun disini." Sahut si blonde saat melihat gerak-gerik siaga itu, "dan.. err, terima kasih."
"Apa yang Anda lakukan disini, Princess?" Crowe Bertanya To The Point, tak yakin bisa menelan rasa penasarannya sedikit lebih lama.
Lunafreya hanya berdiri dengan Canggung sebelum menjawab, "Ini.. agak sedikit rumit."
"Saya mendengarkan."
Saat itu Lunafreya berjalan mengelilingi meja kerja Nyx, membiarkan jari-jarinya menelusuri meja kayu yang diatasnya penuh dengan tumpukan kertas. "Banyak hal yang terjadi, dan banyak hal juga yang telah berubah, termasuk perasaan manusia tentang mana yang benar dan mana yang salah." Sang Putri Memulai, kemudian ia menyentuh kursi hitam itu sambil tersenyum pahit.
"Pertunangan ku dan Noct dilakukan saat kami masih kecil, kemudian pernikahan kami direncakan oleh Niffleheim untuk kepentingan mereka. Aku kemudian melakukan tugas ku, membangunkan para Astral, mengantarkan cincin dengan selamat pada Noct. Lantas, Apa alasan sebenarnya aku masih harus menikahinya?"
Nafas Crowe tercekat mendengar itu, karena selama ini ia entah kenapa selalu berpikir bahwa Putri dan Raja Noctis memutuskan untuk melanjutkan Rencana pernikahan karena mereka memang saling mencintai.
"Sederhananya, Pernikahan itu telah di dengar seluruh Eos dan direstui oleh semua kalangan yang masih menganggap ku sebagai 'Simbol perdamaian' dan Noct sebagai 'Raja pembawa cahaya', tentang ramalan yang.. maksud ku lihatlah keluar, diluar sangat cerah, tak ada kegelapan yang menghalangi bintang kita." Lunafreya berhenti sesaat. "Suatu hari, Aku bertemu dengan seorang Glaive aneh dengan mulut tajam, dia bahkan dengan tegas mengatai ku sebagai 'Putri Sok pemberani', sedikit menyakitiku saat itu, tapi setelah ku ingat sekarang itu hanyalah hal lucu.
"Dia melindungi ku, membuatku merasa aman, mendengarkan ku saat bicara dan menjawab dengan santai seolah aku hanyalah teman bermainnya di taman kanak-kanak. Ia menjaga sekaligus memarahiku, Ia tegas sekaligus kalimatnya penuh komedi, saat itulah aku berhenti melihat dunia hanya sekedar warna Putih dan biru.
"Aku mulai menyadari bahwa rambutku berwarna emas yang indah dan Seragam hitam Glaive itu terlihat sangat gagah. Aku mulai berani memakai pakaian berwarna merah ataupun hijau, ungu ataupun jingga, meskipun aku tahu itu tidak terlalu cocok untuk ku, tapi Semuanya terasa menyenangkan dan.. benar begitu saja."
"Dia--"
Lunafreya mengangguk, "Nyx Ulric."
Rasanya lutut Crowe mendadak lemas, tak menyangka Gadis yang membuat Nyx tersenyum bodoh tak lain dan tak bukan, rupanya adalah Si Calon Ratu.
"Nyx menunjukkan padaku, bahwa ternyata mandi air hujan tidak selalu membuat mu sakit, bahwa ternyata meski sia-sia tapi membuat menara pasir adalah hal yang menyenangkan, bahwa ternyata bersembunyi di balik kostum badut-- Kenny, sambil membagikan selebaran adalah hal yang menarik."
Crowe tak tahu bahwa Putri yang terkenal bijaksana dan tegas pada tugasnya itu bisa sebegitu jatuhnya untuk teman yang bahkan tak pernah Crowe anggap Pria. Nyx mungkin memang tampan dan memiliki tubuh bagus, tapi Crowe tak yakin bahwa itu cukup untuk memikat seorang Wanita berdarah bangsawan yang telah bertunangan dan siap menikah.
"Lalu apa rencana kalian, Your Highness?"
Lunafreya tersenyum hangat, bersyukur karena Crowe tidak mencela kalimat-kalimat memalukannya. "Entahlah, mungkin tempat yang sedikit lebih jauh dari Altissia, sedikit lebih indah dibanding Tenebrae dan sedikit lebih terpelosok dibanding Galahd."
"Tapi kalian masih di Insomnia." Crowe yakin ini adalah hari ke-3 Sang Putri menghilang, jika niat dari menghilangnya Lunafreya memang untuk kabur maka seharusnya mereka Telah melakukannya beberapa hari sebelum keributan.
Wajah sang Putri mendadak muram, "Nyx tidak mau membawaku pergi."
Crowe langsung dapat memahaminya dengan baik setelah penjelasan singkat itu. Bahkan disaat yang sama Crowe bisa mengimajinasikan Alasan macam apa yang Nyx miliki, Bukan hal yang mudah membawa kabur Seorang Oracle yang seharusnya milik seluruh Eos. Ditambah pangkat 'Calon Ratu' yang membuatnya semakin berat. Bukan berarti Nyx pengecut, hanya saja.. entah bagaimana itu terdengar agak mustahil.
"Aku berniat kabur dengan harapan dia akan membawaku pergi, sedikit mengancamnya yang hanya memiliki sedikit waktu untuk melihatku disaat-saat seperti ini, tapi dia menawarkan hal lainnya yang meski menganggu tapi membuatku merasa aman. Kami bisa saling memiliki, hingga batas waktu yang ditentukan." Itu terdengar sangat egois ditelinga Crowe, Raja tentu tak akan senang mendengarnya.
Tapi ia tak berada dalam kondisi dimana pantas untuk menghakimi keputusan mereka. "Sayang sekali kalian bahkan tak memiliki cukup banyak waktu setelah pelarian dan rencana ini. Maksud Saya, Nyx terlalu sibuk berusaha berpura-pura mencari Anda, Princess."
Tapi Lunafreya hanya tersenyum, senyum yang mematahkan kalimat Crowe barusan. "haha, baiklah, tentu saja. Kalau dia berani menculik seorang Putri, dia juga pasti berani membolos dari pekerjaannya."
"Nyx akan datang sebentar lagi, Maaf tapi bisakah kau berpura-pura tak melihatku?"
"kenapa?"
"Dia sangat takut saat aku terlihat oleh Tuan Ostium sebelumnya, Karena itu dia memindahkan ku kesini, Jika dia tahu tempat ini juga tidak aman, maka dia akan khawatir."
"Libertus melihat Anda? kapan?"
"Hanya sekilas, Pagi ini saat aku di Apartemen Nyx."
"Oh, baiklah. Saya tak melihat apa-apa dan akan mengatakan bahwa tak bisa masuk karena kuncinya tidak bisa di bobol, sedikit melukai harga diri saya tapi tak masalah. Sebenarnya Saya kemari untuk mengambil berkas izin masuk Kakak Anda."
"Ravus?" Crowe mengangguk, "Aku sangat merindukannya, sulit sekali membuatnya memiliki izin masuk." Lunafreya tersenyum kecil. "Tapi dia pasti datang dengan beberapa militernya, Aranea paling menakutkan, dia sangat peka dan memiliki hidung Seperti anjing pelacak."Crowe tak tahu harus tertawa atau tidak. Mendengar Lunafreya mengatai seseorang seperti 'Anjing' entah bagaimana memiliki makna ganda. Yang baik dan yang tidak.
"Kalau begitu, Saya akan permisi. Sebelum Nyx kembali, kemana dia Sekarang?"
"Membeli beberapa Sandwich Skewers yang dia bilang lezatnya mengalahkan makanan di Valhalla."
Crowe tertawa garing, sebelum menundukkan badannya dan pergi undur diri.
Tak banyak yang bisa dia lakukan selain kembali mengunci pintu dan berjalan dengan banyak pikiran di kepalanya. Dan sang Putri benar, Crowe berpapasan dengan Nyx di lorong. "Crowe? sedang apa disini?"
Gadis itu menatap Nyx dengan ekspresi aneh, kemudian tersenyum dan memukul bahunya. "Astaga, pas sekali bertemu kau disini, aku perlu berkas izin masuk Lord Ravus, tapi ruangan mu terkunci."
"Oh? bukannya kau pembobol ulung?"
"Hari ini aku lelah sekali, Nyx. Mendadak bodoh dan memiliki tangan licin."
"mau ikut mengambil keruangan ku atau kau--" Crowe langsung memotong tawaran itu.
"Aku akan menunggu diruang istirahat, aku baru tiba dari Lestallum dengan sepeda motor, punggungku sakit sekali."
Nyx mengangguk, "Baiklah, Terima kasih." Pria itu kemudian berjalan menuju ruangannya, Crowe memperhatikan punggung Nyx yang semakin menjauh, ditangan kanannya ada sebuah kantung plastik yang bisa ia tebak apa isinya.
Crowe kemudian berjalan ke ruang istirahat, merebahkan dirinya di sofa. Butuh waktu 30 menit hingga Nyx datang padanya, tentu ia tak perlu bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya membuat Pria itu begitu lama. Dia adalah pencuri waktu.
Nyx menyerahkan Berkas yang sempat diremas itu pada sahabatnya. "Maaf, Crowe."
"Karena Kumal?"
Nyx menatap Gadis dihadapannya dengan sulit, mereka telah saling kenal begitu lama dan sudah seperti saudara. Tentu Nyx merasa bersalah telah membuat masalah yang mengakibatkan rekan-rekannya melakukan pencarian sia-sia.
"Ya, karena Kumal."
Crowe berdiri dari tempatnya, memukul pundak Nyx. "Semangat, Nyx."
Nyx membalas senyuman hangat itu dengan senyuman setengah hati. Ada Ekspresi terluka dan tertekan yang terlukis jelas.
Setelah memberikan berkas resmi pada penjaga gerbang, Akhirnya Ravus diizinkan masuk, ia membawa puluhan bala bantuan untuk pencarian adiknya namun kebaikannya di tolak karena ditakutkan adanya 'pemberontakan', Dengan diskusi panjang (Yang membuat Crowe mengantuk), akhirnya kesimpulan dibuat. Hanya Aranea yang di izinkan masuk bersama Ravus dengan alasan Aranea dipastikan bersih dari niat pengkhianatan, Ia banyak membantu Raja Noctis di masa lalu.
Crowe melirik gadis berambut perak yang ikut memasuki Mobil bersama Ravus. Mereka pasti menuju Citadel lebih dulu untuk serangkaian pengarahan. Gadis Kingsglaive itu memakai helm nya, "Kalau begitu aku pergi."
"Ya, kerja bagus, Glaive." sahut Petra yang kini telah berhenti memandang para Glaive sebelah mata.
Tepat pada pukul 4 pagi, Libertus akhirnya tiba di apartemen Pelna, Pria itu mendadak memaksa berkumpul secepat mungkin sampai tak mau menunggu matahari terbit. Saat itu Crowe yang tertidur nyenyak langsung bangun. "Sebaiknya yang ingin kau bicarakan itu hal penting, Mate." Ujar Pelna sambil merenggangkan tubuhnya.
Libertus tersenyum pahit kemudian meminum kopinya sambil duduk di sofa. "Tak mungkin aku tak menunggu rombongan yang akan kembali ke Insomnia siang ini jika yang akan ku katakan hanyalah lelucon." Kopi kembali diletakan di meja kaca, "Kalian juga sepertinya menghadapi kejadian yang melelahkan, huh?" Sahut si pria gemuk pada kedua rekannya.
Pelna dan Crowe terdiam. "Baiklah, tentang apa itu, Lib?"
Libertus terlihat menimbang-nimbang kalimatnya sebelum memutuskan untuk bicara. "Ini tentang Princess."
Oh tentu saja, Memangnya siapa lagi?
Otomatis Crowe dan Pelna langsung menegakan badan mereka, kantuk langsung menghilang dan tergantikan dengan telinga yang siap mendengarkan baik-baik.
"Hari ini, Saat bertugas aku tak sengaja menonton rekaman ulangan saat Putri melakukan pidatonya di Altissia." Libertus diam sejenak, "Dan pagi kemarin.."
Crowe menegak Ludahnya, Sepertinya ia tahu apa yang akan Libertus sebutkan selanjutnya. "Dan di sana aku menyadari sesuatu, Aku-- mendengar suara yang sama dari apartemen Nyx."
Pelna tertawa gugup, sedangkan Crowe terdiam seribu bahasa. "aku tahu ini gila, oke? T.. tapi Hari itu Nyx sangat aneh, dia langsung berbalik memeluk gadis itu dan berteriak padaku untuk tak melihatnya, jika itu hanya pacarnya, maksudku bukan seseorang yang pernah aku lihat, untuk apa dia begitu panik?"
Hening menyelimuti ruangan, Libertus menghela nafasnya. "Jika gadis itu adalah Princess, maka itu menjelaskan semuanya."
Kantuk telah sepenuhnya menghilang, apalagi saat Pelna memutuskan ikut menambahkan daftar bukti. "Kalian sahabat ku kan? jika kalian ingin aku bertahan di Kingsglaive lebih lama maka tolong rahasiakan ini dengan baik, oke?"
sebenarnya tak perlu menunggu persetujuan Libertus ataupun Crowe, karena Pelna yakin dua orang itu pasti akan merahasiakannya dengan baik. "Jadi hari ini aku menghapus sebuah rekaman CCTV yang merekam Nyx sedang berlari bersama seorang Gadis dengan Hoodie hitam."
Libertus menegak ludah, "Princess?"
Pelna menatap kawannya dengan ekspresi sulit diartikan, "Ya, jika dugaan ku dan dugaan mu Benar."
"Nyx pasti sudah gila!" Libertus mengumpat.
Pelna melirik Crowe yang mempertahankan keheningan dengan gelisah, "Kau sepertinya juga punya sesuatu untuk disampaikan, Crowe."
Crowe mengigit bibir bawahnya, Menarik nafas berat sekali, kemudian menariknya sekali lagi. "Sebenarnya... Aku bertemu Princess hari ini."
"Holy Shit!" Libertus mengumpat sambil berdiri dan memijat kepalanya dan berjalan mondar-mandir, "kenapa kau tak bilang? kau membuat--"
"Dia yang memintaku untuk merahasiakannya dan.. er.. dia di ruangan Kapten."
Udara di ruangan itu seolah mendadak menghilang. Sesak, semuanya bisa merasakan susahnya mencari udara segar. Crowe kemudian menceritakan sedikit bagian yang telah Putri ceritakan padanya, bahwa sebenarnya Lunafreya hanya menginginkan Nyx Ulric.
"Jadi maksud mu.. Putri tidak mencintai .. Raja? demi-- Nyx?"Crowe mengangguk.
"Itu Skandal!" Pekik Libertus.
"Kau terlalu berisik, Lib." Pelna mengingatkan, "Jadi.. mereka.. sungguh bersama?" pertanyaan itu terlontar agak ragu-ragu.
Crowe mengangguk, "100%"
"Dan alasan Nyx 'Menculik' nya agar mereka bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama sebelum hari pernikahan sang Putri?"
"Kurang lebih." Crowe kemudian memberi jeda, "Lebih tepatnya Princess berniat mengajak Nyx lari, tapi...Meski Gila karena telah mencintai Calon Ratu, rupanya Nyx masih cukup waras untuk tak melakukannya."
"Oracle tak bisa lari kemanapun." Pelna berujar, "Dia adalah anak kesayangan Dewa, satu-satunya orang yang bisa bicara dengan mereka, Jika Oracle menghilang.. maka seluruh Eos pasti akan mencarinya dan mungkin saja artinya adalah perang, dia adalah simbol mutlak dari perdamaian." Pelna berujar berusaha tetap tenang.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" Libertus bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan saat ini?"
"Yang jelas Aku tak akan melaporkan Kejahatan Saudaraku sendiri." Crowe menjawab cepat.
"Tentu saja kita tidak akan." Libertus kemudian memperbaiki kalimatnya. "Maksudku, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Nyx gila itu."
Pelna menggeleng, "Entahlah, Lib. Putri bahkan menyuruh Crowe pura-pura tak melihat apapun. Dan sebegitu paniknya Nyx sampai memindahkan Putri dari apartemennya menuju kantor nya sendiri.. Aku tak berpikir Nyx ingin kita ikut campur."
Libertus masih ingat, bagaimana putus asanya Nyx saat memeluk Gadis itu. Nada Penuh ketakutan sekaligus marah akan kenyataan.
Begitupun Crowe, ia masih ingat bagaimana wajah tertunduk Luna saat menjelaskan tentang Dunia yang Nyx Tunjukkan pada nya, warna-warni yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Pelna tak bisa menampik, saat ia melihat Nyx menggenggam tangan gadis ber - hoodie hitam itu, ia terlihat berekspresi lembut sekaligus frustasi yang sulit diartikan. Ia baru tahu bahwa Nyx bisa memasang wajah seperti itu.
Cinta yang menyakitkan..
Cinta yang mustahil..
Cinta dengan batas waktu..
Cinta yang tak bisa saling memiliki..
Mereka sudah tahu dari awal, tentang ketidaksetaraan yang jaraknya terlalu jauh. karena tak ada Ratu yang tercipta untuk ksatria nya sendiri. Berusaha memejamkan mata, hingga kini terbelalak disuruh menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Mereka harus bangun dari mimpi dan melihat sendiri waktu yang mereka curi sudah hampir habis.
Nyx hanya merebahkan dirinya dipangkuan Lunafreya, Membiarkan gadis itu membelai rambutnya dengan lembut. Tangan mereka saling tertaut, membiarkan suara malam diluar sana saling menggosip tentang dosa mereka.
Tak ada harapan bagi orang-orang yang selalu bermain dibelakang, terus mencuri-curi waktu untuk saling melihat, melakukan kebohongan panjang dan menyembunyikan kepedulian dengan apik.
"Setelah aku-- menikah, kau tidak akan pergi kan?" Lunafreya menggumam dengan pahit sambil menyentuhkan puncak kepalanya pada kepala Kapten Glaive.
"Aku akan selalu di sisi mu, Kau selalu bisa melihatku."
"Hanya melihat?"
"Ya, hanya melihat." Sahut Nyx sambil meremas tangan gadis itu, ia menyalurkan kehangatan yang familiar di sana. Ia terluka, mereka berdua terluka. Tapi luka itu masih belum cukup untuk mengubah tulisan yang terukir di bintang-bintang.
Lunafreya tertawa kecil, menertawakan takdir. "Mustahil kita bisa menjadi teman."
"Sangat mustahil." Nyx terkekeh, "Kita pasti akan selalu menjadi teman yang terlalu baik, Your Highness." Sahutnya sambil membelai Pipi Ratu nya.
"Tidak bisakah kita meminta tolong pada--" Tawaran Lunafreya langsung membuat Nyx tersenyum pahit, "Tidak bisa yah?"
Glaive itu menggeleng, "Tidak." Tatapan itu hangat. "kau tidak seharusnya memancingku dengan suara itu saat tahu aku akan selalu mematuhi mu."
Keheningan yang biasa mereka pelihara kini kembali datang, keheningan yang terjadi saat mereka hanya fokus untuk saling mengagumi satu sama lain.
Bulan yang mengagumi Malam.
dan Malam yang terpesona dengan keindahan Bulan.
Mereka serasi dalam beberapa hal dan terlalu berkebalikan dalam beberapa hal lainnya. Itulah yang membuat mereka selalu cocok satu sama lain, Semuanya terasa pas begitu saya.
Pencarian Hari ke-4 pun dilaksanakan, Meskipun Crowe, Pelna dan Libertus yakin bahwa kinerja mereka tak akan membuahkan hasil. Sebenarnya merupakan sebuah pilihan cerdik, menyembunyikan Putri di markas Kingsglaive, memangnya siapa yang akan mencari sesuatu dibawah hidung mu sendiri?
"Itu saja... Silahkan lakukan sesuai dengan arahan yang telah ku berikan." Ujar Nyx pada para Glaive dihadapannya.
Ke-3 sahabat itu terdiam beberapa saat sebelum undur diri untuk 'Tugas' yang akan mereka hadapi dengan setengah hati. Mereka jadi teringat tentang betapa terkutuknya jabatan kapten di Kingsglaive seperti Drautos yang dulu mengendalikan mereka dengan mudah agar terus kalah dari Niffleheim.
"My Lord." Nyx berujar saat Melihat Ravus mendatanginya.
"Kita bertemu lagi, Glaive." Bukan berarti Nyx cukup menyukai Ravus, tapi saat perjalananya menuju Altissia, Ravus bahkan membantunya dengan memberikan tumpangan kapal terbang Niffleheim, jadi seharusnya dia bukan Pria buruk kan?
"Aku tak menyangka kau membiarkan Lunafreya menghilang begitu saja." ujarnya tajam.
"Saya bukan Glaive pribadi nya lagi, Lord Ravus."
"Lalu apa gunanya kau menjadi kapten Kingsglaive jika tak bisa melindungi adik ku?" Ravus berniat menambah kemarahannya jika tak di potong Oleh Aranea.
"Seharusnya kau bersyukur bisa masuk kemari, Ravus. Glaive ini adalah orang yang memperjuangkan berkas mu sampai akhir."
Ravus membuang nafas kasar, "Perkembangan, Ulric?"
Nyx menggeleng, "Tapi kami mengembangkan beberapa spekulasi, mari kita diskusikan.. tidak disini."
Ravus tak tahu kemana Nyx berniat membawanya, tapi diperjalanan mereka sempat berhenti untuk membeli beberapa potong kue.
"Ravus!"
Wajah Ravus yang mulanya heran karena malah dibawa ke Markas Kingsglaive kini berubah menjadi kaget. Bagaimana tidak? begitu pintu kantor Nyx dibuka, yang ia temukan Justru adalah apa yang paling dicari.
"Lunafreya."
Oracle itu langsung memeluk kakaknya erat, Sedangkan Nyx hanya tersenyum.
Kapten Glaive itu kemudian mengangkat box kue yang ia bawa, "Ini cemilan mu, Princess." Nyx melirik Ravus sebentar, kemudian mendehem sambil menatap sang Putri. "Aku akan membiarkan kalian bicara, jika butuh sesuatu, aku ada didepan, oke?"
Luna mengangguk, "Terima kasih."
Begitu pintu dibelakangnya ditutup, Nyx hanya berdiri didepan ruangannya sendiri sambil meminum kopi, Bukan hal baru. Jadi saat satu dua Glaive yang kebetulan ada di Markas tak terlalu mempertanyakan gelagat itu.
Sesekali Nyx bisa mendengar teriakan dari dalam ruangannya. Yang artinya percakapan tak berjalan terlalu lancar seperti yang ia harapkan, Aku sama sekali tak berharap ia akan berkelahi dengan kakak nya setelah sekian lama tidak bertemu.
"ini salah, Lunafreya! Kau Oracle, dan pernikahan mu sudah diatur sejak kalian dilahirkan!"
"Aku tahu, tapi.. Dengarkan aku."
sekitar 15 menit kemudian, Ravus keluar dengan wajah merah padam. Ia menatap Nyx dengan penuh kebencian lebih dari yang sebelumnya. Ia mendesis tajam, seolah berniat mematahkan Leher Nyx detik itu juga. Tapi sebelum itu semua terjadi, Nyx sudah membungkuk dalam-dalam.
"Aku benar-benar meminta maaf."
"Untuk?"
"Mencintai Adik mu, Itu.. tidak Pantas, bagi orang seperti ku."
Ravus menghela nafas, "Perhatian saja langkah mu, Glaive. Dan pastikan tidak pernah muncul dihadapan ku lagi." Kemudian Ravus langsung pergi Entah kemana.
Nyx mengetuk pintu ruangannya, "Masuklah." sahut suara dari dalam.
Begitu pintu dibuka, Lunafreya langsung melingkarkan tangannya di tubuh Glaive itu. Nyx yakin mendengar suara isakan dan pundaknya terasa basah. Tanpa perlu melihatnya pun ia sudah tahu bahwa gadis itu pasti menangis.
"Tidak bisakah kau berbuat egois untuk ku kali ini saja?"
Egois? Dari awal Nyx yakin sudah cukup egois saat menginginkan apa yang seharusnya tak ia inginkan. Tapi tentu keegoisan yang Lunafreya inginkan memiliki makna lebih dalam.
Glaive itu mengusap rambut pirang sang Putri, "Sayangnya keegoisan ku bisa memicu perang, Your Highness." Nyx memberi jeda, berusaha membuat Lunafreya menatapnya namun gagal. Gadis itu tak ingin Pria dihadapannya melihat air matanya. "Kita berjuang sejauh ini agar bisa melihat masa depan yang semua orang inginkan, Dan Pernikahan mu--" Nyx menegak ludahnya, Ia merasa ngilu dan menggigil di seluruh tubuhnya. "-- Adalah puncak dari apa yang semua orang ingin lihat untuk masa depan."
Tangisan Lunafreya semakin terdengar, "Nyx.. Nyx..." Ia tak mengatakan apapun, hanya bisa memanggil nama Pria itu dengan segala kekuatan yang ia miliki, ia juga tahu, ia tahu betul tentang resiko apa yang akan mereka hadapi jika menentang takdir yang telah tertulis. Perang akan pecah sekali lagi, Perdamaian yang mereka dapatkan hari ini hanya akan menjadi ilusi.
"Hush.. Hush.. Aku disini." Nyx membalas pelukan Lunafreya dengan erat, berusaha membawa gadis itu lebih dekat.
Satu lagi waktu yang mereka curi, Menanggalkan kewajiban untuk sesaat dan kabur dari kenyataan pada kebersamaan yang fana. Suara kehancuran dan retak terdengar dari jiwa keduanya, Tangisan Lunafreya yang tak kunjung henti, ataupun Nyx yang hanya bisa terdiam sambil menepuk pundaknya.
Harapan, Tak ada harapan bagi mereka.
Pedang sang kapten mendadak tak berguna, Kekuatan penyembuhan sang Oracle tak bisa membantu dalam situasi mereka. Dua orang kuat ini rupanya masih tak memiliki cukup keyakinan untuk menantang Eos.
Mereka adalah bukti nyata dari Cinta yang terlalu indah untuk diwujudkan.
Mereka adalah bukti nyata dari Cinta yang bisa menghancurkan dunia.
Seluruh anggota Kingsglaive, Crownsguard dan Tentara yang telah bekerja keras akhirnya bisa bernafas lega. Karen suatu pagi, sehari sebelum acara pernikahan, Nyx mengantarkan sang Putri ke Citadel.
Banyak pertanyaan yang datang, seperti Dimana atau bagaimana Nyx bisa menemukan sang Putri?
Tapi sebelum wawancara dan interogasi, Ravus datang. Ia menegakkan badannya dan menegaskan bahwa ia lah orang yang selama ini menyembunyikan Lunafreya dengan alasan ingin menghabiskan sedikit waktu bersama adik nya.
Itu merupakan sebuah pernyataan yang membuat miris dan memicu pertentangan. "Kalian hanya memberikan ku izin 2 hari di Insomnia." ujar Ravus dengan suara lantang, "aku ingin melihat adik ku lebih awal, menghabiskan waktu dengannya." Pria berambut perak itu tersenyum kecil.
Pada Akhirnya, atas kepanikan dan 'masalah' yang diciptakan Ravus. Berkas perizinannya di Insomnia pun di tangguhkan, membuatnya tak bisa menghadiri acara pernikahan Adiknya esok hari, dipaksa menerima dengan lapang dada. Ada banyak pihak yang berniat untuk memperpanjang masalah itu, Tapi Noctis bilang sudah cukup karena mereka harus menghadapi hari besar. Masih ada banyak hal yang harus di urus, ia juga sebenarnya merasa agak bersalah karena cukup abai tentang izin Ravus, tapi ia Raja. Ia tak diizinkan memberikan keputusan hanya dari perasaan pribadinya.
"Aku benar-benar minta maaf, Ravus." ujar Noctis dengan wajah penuh perasaan bersalah, "Aku tidak bisa...membantu mu."
Tapi Ravus menggeleng, "Aku tahu resikonya sejak awal." Ya, dia tahu. Sangat tahu apa yang akan terjadi padanya jika mengakui kesalahan yang bukan miliknya.
"My Lord." Nyx memanggil Ravus saat Pria itu dipaksa pergi detik itu juga dari Insomnia.
Ravus tak berbalik, hanya melirik Nyx dari punggungnya. "Hanya sampai disini aku bisa membantumu."
Dan setelah persidangan itu, Mereka semua kembali di sibukkan dengan acara pernikahan termegah abad ini.
"Aku benar-benar menyesal tentang Ravus." Gumam Libertus melalui Earpiece ditelinga nya, ia sedang berbicara dengan Crowe dan Pelna yang sedang berjaga di sisi lain Aula.
"Pada akhirnya semua orang terluka." Pelna menambahkan. "Lantas, semua luka itu sebenarnya untuk siapa?"
"untuk masa depan yang semua orang ingin lihat." Crowe menyahut, nadanya tak terdengar gembira. "Tentu saja makna 'semua orang' itu terdengar sangat naif."
"Apa kalian melihat Nyx hari ini?"
"Ayolah, Pelna! aku bahkan tak terkejut kalau dia tidak akan muncul sama sekali!"
"Dia akan datang," Sahut Crowe parau, "Pasti."
"Ngomong-ngomong, Jika Ravus tidak disini, lalu Apa sang Putri akan ke Altar sendirian?" Tanya Libertus.
Detik berikutnya, Terdengar sambutan meriah saat sang Putri memasuki aula.
"Oh tidak.. tidak.."
"Holy Shit! Kalian melihat apa yang kulihat kan?" Libertus mengumpat sambil melotot dan menggosok matanya beberapa kali.
"Sudah ku bilang kan dia pasti datang?" Ujar Crowe dengan ekspresi sedih yang tak tertulis jelas. "Sejak awal sudah ditentukan, Jika saja.. Jika saja Ravus tidak bisa menjadi pendamping Putri untuk ke Altar, maka Nyx lah yang akan menggantikannya."
"Siapa yang mengatur rencana gila itu???" Libertus tak habis pikir. Pertama, Nyx bukanlah Keluarga Lunafreya. Kedua, Bagaimana bisa orang tanpa darah kerajaan menjadi wali seorang Oracle?. ketiga, hubungan mereka. ughh, aku mendadak mual, Pikirnya.
"Sebelum meninggal, Raja Regis meminta Nyx untuk menjaga Putri Lunafreya selamat ke Pernikahannya di Altissia. Bahkan beliau tak meminta tolong Sebagai Raja kepada Glaive, tapi sebagai Pria pada Pria lainnya. Karena Pernikahannya di tunda, jadinya--" Crowe tidak melanjutkan kalimatnya, Menghela nafas berat. "memangnya kalian tahu seseorang di Insomnia ini yang bisa lebih dekat dengan Princess selain Nyx dan Raja Noctis?" Kedua Pria itu terdiam.
Crowe kembali menatap kearah 'Pasangan' gila itu, Crowe adalah orang yang mengurusi izin Ravus. Itu juga salah satu alasan ia tak terlalu berminat dalam tugas itu. Karena mulanya ia berpikir Nyx bisa saja menggantikan Ravus dan itu terdengar lebih mudah. Sekarang Crowe merasa bodoh sendiri, Rupanya itu alasannya rela melakukan hal sulit.
Memangnya orang bodoh macam apa yang mau mengantarkan orang yang di cintai nya menuju altar untuk menikahi Pria lain?
"Aku tak tahan lagi." Setelah mengucapkan itu, Libertus langsung keluar dari aula sambil melepaskan Earpiece nya. Semakin ia melihat, semakin ia merasa sesak, mana mungkin ia bisa baik-baik saja melihat sahabat terbaiknya sebegitu dipermainkan nya oleh takdir dan kewajiban?
Lunafreya berjalan perlahan dengan Gaun putih yang telah di desain khusus membalut tubuh rampingnya, Make up tipis membuat Oracle itu menjadi semakin mempesona. Sedangkan Glaive disebelahnya, Nyx. Memakai setelan hitam formal dan sarung tangan putih yang tak cocok dengan nya. Lengannya dipeluk erat oleh Lunafreya yang terus tersenyum ramah pada semua orang, Itu Keahliannya.
Kilatan kamera terus menghujani mereka, Nyx menyipitkan matanya. "Ah.. aku benci ini."
"Anda pasti adalah Ratu tercantik yang pernah diciptakan oleh Astral, Your Highness atau sekarang... Your Majesty?" Puji Nyx sambil tersenyum samar. Berusaha tak menunjukkan kesedihannya.
"Simpan pujian mu, Tuan Ulric." Sahut Lunafreya tanpa melirik. "Bagaimana bisa kau mengatakan itu saat tahu bahwa yang ku inginkan hanyalah menjadi Ratu mu?"
"Seorang ksatria tak di izinkan menyimpan Ratu untuknya sendiri, Your Majesty."
"Kau keras kepala sampai akhir."
"Ya, Anda juga."
Semua mata hanya tertuju pada mereka, tepatnya pada Lunafreya yang berkilauan. Frasa 'Bulan bersinar lebih terang dimalam tergelap' tidaklah salah. Nyx bersumpah, bahwa itu adalah dua menit terlama dan paling menyakitkan dalam hidupnya. Sesekali ia melirik Lunafreya, Wanita yang awalnya hanya setengah miliknya, Kini akan sepenuhnya menjadi milik orang lain.
"Maaf karena telah terlahir menjadi diri saya."
Lunafreya memaksakan diri untuk tak memasang ekspresi muram, ia berhenti sesaat. "Princess?" Panggil Nyx, Tapi gadis itu hanya menggeleng dan kembali melangkah dengan gentar.
"Itu adalah kalimat ku, seharusnya Aku bukan Lunafreya, atau setidaknya aku.. seharusnya bukan Seorang Putri, Oracle atau.."
"Anda sempurna sebagaimana adanya."
Hanya tinggal beberapa langkah sebelum mereka tiba dihadapan Raja.
"Aku tak akan memaafkan mu jika itu adalah kalimat terakhir yang kau ucapkan pada saat ini." Nyx tertawa garing mendengarnya, tepatnya tawa untuk menyembunyikan luka.
Noctis tersenyum pada mempelai wanitanya, kemudian melempar pandang Pada Nyx. "Terima kasih, Nyx. Karena selalu berhasil melindungi dan menemukan Luna."
Nyx Tersenyum pahit, "Saya mencintai tugas saya, Your Majesty."
Ya, Tentu saja aku mencintainya.
Kini Noctis menatap calon Ratunya, mengulurkan tangan pada Lunafreya yang masih memeluk erat lengan Glaive di sampingnya. Nyx menatap Lunafreya dengan tatapan teduh, mengelus tangan gadis itu lembut dan berusaha membuatnya melepaskan lengannya. Sang Putri akhirnya menyerah, melonggarkan pegangannya perlahan, kemudian mengambangkan tangannya di udara untuk menyambut Noctis.
Kilatan kamera menyirami mereka, Tapi sebelum sempat tangan gadis itu menyentuh sang Raja, Lunafreya malah berbalik dan memeluk Nyx sangat erat. Nyx bahkan hampir terjatuh karena Gadis itu menarik sekaligus mendorongnya sekuat tenaga.
Tentu itu bukanlah hal yang di ekspektasi oleh siapapun. Termasuk Nyx yang melotot dan merasa seluruh aliran darahnya mendadak mencair tak wajar. "Prin-- cess?"
"Sebut nama ku, Nyx."
"Apa maksud mu--"
"Luna?" Noctis yang terheran-heran berusaha menyentuh pundak Lunafreya. Bertanya-tanya Apa sebenarnya maksud kejadian yang ada didepan matanya.
"Tidak!" Lunafreya meninggikan suaranya, dan itu bukanlah hal yang biasa orang lain lihat atau dengar. Oracle seharusnya tidak bisa marah, rupanya hanya sebuah isapan jempol. Semua orang di ruangan mendadak tak terkendali, dipenuhi kebingungan dan pertanyaan. "Ku bilang Sebut nama ku, panggil aku seperti yang biasa kau lakukan saat semua pintu dan jendela tertutup, ini Perintah, Nyx Ulric." Pelukan itu mencekik sang Glaive, baik secara fisik maupun secara mental.
Para Crownsguard dan Kingsglaive yang berjaga pun mulai mengambil ancang-ancang meskipun masih kebingungan harus melakukan apa. Tak mungkin mereka menyerang Nyx Ulric, kapten Kingsglaive, dan tak mungkin pula mereka menyerang Lunafreya, sang Calon Ratu.
Satu-satunya yang mereka lakukan hanyalah memukul mundur orang-orang yang berusaha mengambil foto. Menarik mereka keluar dan berhenti mengabadikan 'tontonan tidak pantas itu'.
"Lunafreya.." Suara Nyx terdengar berat, tangannya yang awalnya hanya terjuntai kini mulai berani membalas pelukan itu, melingkarkan lengannya di pinggang dan leher sang Putri. "Luna..."
"Luna!" kini Noctis yang berteriak, ia berniat menarik Luna untuk menghentikan aksinya tapi yang terjadi justru sebuah perisai menghalanginya. "Apa maksudnya ini, Ulric??" Tanya Noctis tak habis pikir bahwa ksatria nya menggunakan sihir yang ia berikan untuk menentangnya.
Nasi telah menjadi bubur, mereka sudah tidak bisa kembali ataupun melarikan diri. Crowe mendekat kearah altar, begitupula dengan Pelna. Sangat disayangkan Libertus pergi lebih awal.
"Katakan pada ku, Nyx. Apa yang kau inginkan?" Tanya sang Putri dengan suara yang menghipnotis, Mata Glaive itu telah dipenuhi kabut. Aneh, dia kehilangan rasionalitas yang ia jaga begitu lama hanya karena menyebut namanya.
"Kau."
Jawaban itu sangat singkat, padat dan cukup untuk menjelaskan semuanya.
kemudian, Nyx mengangkat tangan kanannya saat tangan yang lain ia sibukkan dengan memegangi Lunafreya agar tetap berada di sisinya. Dinding dibelakang mereka berlubang karena dipukul oleh makhluk yang begitu besar.
Teriakan kemudian terdengar, baik dari para tamu undangan, maupun dari makhluk yabg menyala kemerahan itu.
Udara mendadak panas, beberapa bagian gedung yang dekat dengan altar mulai terbakar.
"Ifrit." Noctis menggumam, "Bagaimana bisa kau memanggil-- Kesetiaan mu seharusnya ada pada Lucis." Noctis menyahut tajam, terdengar ketegangan dari suaranya.
Nyx menggeleng, "Kesetiaan Saya hanya ada pada gadis ini." Nyx Tersenyum miring, tak mengatakan apa-apa selain mengangkat tubuh Luna, Menggendongnya. "Kali ini kau yang menang, Princess." Lunafreya tersenyum, tentu ia senang memenangkan permainan keras kepala terbesar itu.
"Aku akan mengizinkan mu memilih nama ."
"Laki-laki ataupun perempuan?" Lunafreya mengangguk. Yang orang-orang lihat selanjutnya hanyalah api yang menyala diantara kedua insan itu. Membakar mereka hingga menghilang tak bersisa, meskipun tak ada satupun yang berpikir bahwa mereka mati.
"Noct.. ini--." Ignis buka suara, Noctis mengisyaratkan temannya itu untuk diam.
"Aku tahu, Ikatan Dengan dewa." Akhirnya Noctis Lucis Caeulum dipaksa untuk melepaskan Lunafreya, sang Oracle-- tunangannya, dan Nyx Ulric, yang entah siapa sebenarnya kapten Kingsglaive itu.
Mereka menghilang begitu saja, tanpa ada satupun yang bisa mengejar. Mereka tak boleh dicari, di batasi ataupun ditemukan.
