RUT.
A Midorima Seijuurou x Midorima (Akashi) Seijuurou's fanfiction.
Warnings : rough sex, dirty talk, breeding kink, breath play, A/B/O dynamics. explicit sexual scene, married!midoaka, alpha!shintarou, omega!seijuurou.
Notes : rut adalah siklus kawin di mana alpha memiliki keinginan kuat untuk bereproduksi. Rut biasa berjalan 2-5 hari tergantung individu dan muncul bisa perbulan, atau tiga sampai enam bulan.
Scent adalah bau yang muncul dari seorang alpha/omega. Biasanya akan tercium lebih kuat saat mereka heat/rut. Saat alpha rut, kelenjar feromon mereka akan memproduksi lebih banyak scent. Aroma yang dihasilkan akan terasa menyesakkan bagi mereka yang berada di sekitar alpha yang akan memasuki masa rut-nya.
Pertama kalinya bikin omegaverse sekaligus mencurahkan rasa rinduku yang mendalam *halah* terhadap MidoAka, semoga pada suka ya. Selamat membaca!
.
.
"Seijuurou, selamat pagi."
Seijuurou baru saja meletakkan ketel air di atas kompor ketika sebuah kecupan ringan mendarat di pipinya. Masing-masing sudut bibirnya terangkat ketika menoleh, mendapati sepasang mata hijau tengah menatapnya dari balik lensa kacamata yang berkilat ditimpa cahaya lampu. Seijuurou belum sempat menjawab ketika kecupan lain diberikan padanya—kali ini di bibir, dan mereka diam beberapa saat sebelum Shintarou kembali menarik diri. Pria tampan itu tampak rapi dengan setelan kerjanya pagi ini.
"Pagi, Shintarou." Seijuurou terkekeh, satu tangan terangkat mengusap pipi Shintarou yang dapat ia raih dari posisinya, "sudah rapi saja? Dapat shift pagi?"
Shintarou menjawabnya dengan gumamam. Kedua tangan diluruskan bertumpu pada pantry, memerangkap Seijuurou di masing-masing sisi tubuhnya. Kepala bersurai hijau itu menunduk hingga hidungnya bersentuhan dengan ceruk leher Seijuurou, menghirup dalam aroma manis pasangannya yang menenangkan. Ah, sebenarnya Shintarou masih sangat mengantuk.
"Apa kau buatkan aku kopi?" Shintarou bergumam pelan, suaranya teredam ceruk leher Seijuurou, "aku masih ingin tidur, sampai lupa kalau hari ini ada operasi jam sembilan pagi."
"Tak ada kopi untukmu, pak dokter." Seijuurou menggeleng, mendongakkan kepala untuk kemudian menyandarkannya pada bahu Shintarou. Tak ingin menyuruh suaminya itu menjauh karena dari suara dan tingkah lakunya, Shintarou sungguh sangat lelah, "aku buatkan teh chamomile seperti biasa. Mau bekal apa untuk makan siang? Roti isi? Dan apa tindakan yang akan kau lakukan pagi ini?"
"Roti isi tidak masalah." Shintarou tersenyum, mengusakkan hidung di atas kulit leher Seijuurou sebelum bibirnya mendaratkan kecupan lain di sana, merasa terhibur saat pria manis itu membantunya mengatasi kantuk dengan terus mengajaknya bicara, "bukan aku yang melakukan operasinya secara langsung, aku hanya datang untuk membantu."
"Oh, ya? Apa kau membantu Kimura-san lagi?" tebak Seijuurou, dan Shintarou membenarkannya dengan memberi anggukan, "ya. Kau tahu apa yang akan kita lakukan? Operasi sesar, Sei."
"...begitu?" Seijuurou mengerutkan kening. Terselip antusiasme dalam suara Shintarou ketika bicara, "apa dia omega?"
"Lebih tepatnya lelaki omega." Seijuurou tersentak ketika tiba-tiba satu tangan Shintarou yang semula bertumpu pada pantry melingkari perutnya. Memberi usapan ringan di pinggang, dan Seijuurou merasa romanya meremang, "seharusnya ada Miyaji-san yang menemani Kimura-san hari ini, tapi ia sedang berhalangan hadir. Kau tahu, lah. Mungkin Kimura-san menganggapku orang yang bisa diandalkan."
"Itu bagus." Komentar Seijuurou, singkat. Tubuhnya sedikit menggeliat, merasa tak nyaman ketika kepala Shintarou bergerak mendekati lehernya. Surai halus itu menggelitik tengkuk Seijuurou bersama dengan beberapa kecupan ringan yang mendarat di sana setelahnya, "kau tahu, Sei? Ini pertama kalinya aku melakukan tindakan pada seorang omega lelaki. Mungkin akan jadi menegangkan, tapi juga membuatku penasaran."
Seijuurou merasa mulutnya kering, seolah tak berselera menanggapi ucapan Shintarou yang entah mengapa mengusik sesuatu di dalam dirinya. Terlebih ketika pria itu menarik diri, mengendurkan pelukannya di pinggang Seijuurou dan mengusap lembut pipinya dengan ibu jari dari belakang, "aku akan segera berangkat. Roti isinya sudah siap?"
"Ah." Seijuurou mengerjap, sejenak melupakan roti isi yang ia janjikan dan buih air yang telah mendidih di dalam ketel. Ia mengangguk, mematikan kompor dan berbalik menghadap Shintarou yang telah melepas pelukannya, "akan kusiapkan. Omong-omong ayah akan datang ke kantor hari ini, jadi aku akan tinggal di rumah. Mibuchi-san juga bilang kalau ia ingin datang berkunjung."
"Tidak masalah." Shintarou tersenyum, jemarinya memilin anak rambut Seijuurou yang menjuntai di atas dahi. Seijuurou mendongak, menarik senyum tipis dan membiarkan dirinya tenggelam dalam dekapan Shintarou. Dada bidang yang terbalut kemeja putih itu diusapnya dengan pipi sebelah kanan, mata terpejam menikmati ciuman Shintarou di pucuk kepalanya.
"Selamat bekerja, pak dokter." Seijuurou mengulurkan tangan, memberi usapan pada punggung Shintarou yang kini mengeratkan pelukannya, "pastikan kau pulang membawa banyak uang."
Shintarou terkekeh, "tentu saja."
:x:
"Sei-chan tahu tidak? Alpha yang sedang rut itu sangat menyeramkan, loh!"
Seijuurou batal memasukkan potongan macaroon ke dalam mulutnya ketika Mibuchi kembali bicara. Ketika mendongak, kedua matanya bersirobok dengan sepasang hijau menyala yang menatapnya penuh minat. Kening Seijuurou berkerut. Situasi ini mengingatkannya pada percakapan yang terjadi antara ia dan Shintarou tadi pagi.
"Tahu dari mana?" Meski ragu, Seijuurou tetap memutuskan untuk bertanya. Macaroon stroberi yang melayang di dekat mulut diturunkan, Seijuurou merasa bahwa topik pembicaraan mereka nanti akan membuat nafsu makannya menghilang.
"Cerita teman kerjaku." Mibuchi mengerling, satu buah macaroon diambilnya dari atas piring. Ia gigit ujungnya sambil terus menatap Seijuurou yang mengalihkan pandangannya ke lantai, "dia omega, omong-omong. Ini rut kedua alpha-nya setelah tahun pertama pernikahan mereka. Alpha memang jarang sekali mengalami rut, mungkin satu atau dua kali dalam setahun? Aku masih heran mengapa mereka tak mengalami rut tiap bulan seperti omega, apa nanti siklus pembuahan mereka akan berubah jadi kacau?"
"Kau menanyakannya seolah aku mengerti saja." Seijuurou tersenyum masam. Macaroon yang tadi ia genggam diletakkan kembali di atas piring. Pergerakan itu tak luput dari Mibuchi yang awas mengamatinya, "aku dan Shintarou baru menikah empat bulan yang lalu. Ketika masih pacaran, ia tak pernah mau menemuiku saat sedang rut."
"Tapi bagaimana saat kau sedang heat? Apa dia tetap tak mau menemuimu?"
Seijuurou mengernyit ketika pertanyaan Mibuchi seolah mengalihkan topik pembicaraan mereka ke arah lain. Pikirannya berputar, mengulang kilas balik tentang segala yang telah ia lakukan bersama Shintarou selama empat tahun mereka berpacaran sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah.
Bergandengan tangan, berciuman, bahkan berhubungan badan seperti mate pada umumnya. Shintarou akan menyingkirkan kepentingan pribadinya untuk menemani Seijuurou saat sedang heat, namun pria itu selalu mengurung diri di rumah saat memasuki masa rutnya. Meski telah menanyakan alasannya berulang kali, Shintarou selalu menolak untuk menjawab.
Ah. Karena Mibuchi, rasa penasaran Seijuurou jadi terusik.
"Shintarou selalu menolak pertanyaanku yang berkaitan dengan hal itu." Ungkap Seijuurou, jujur. Meski suaranya memelan, ia yakin Mibuchi masih bisa mendengarnya dengan baik, "aku tidak mengerti. Menurutmu, kira-kira apa yang membuatnya jadi seperti itu?"
"Ah, Sei-chan! Sepertinya masalahmu bisa terjawab dengan perkataanku tadi." Mungkin Seijuurou salah lihat, namun ada binar antusias di mata Mibuchi ketika mencondongkan tubuhnya mendekat, "alpha yang sedang rut itu menyeramkan. Insting hewan buasnya mungkin bisa mengalahkan sisi manusia mereka. Bahkan jika kontrol mereka buruk, para omega yang tengah berhubungan dengan mereka bisa tersakiti secara tidak sengaja. Siapa tahu Shintarou tidak ingin menyakitimu?"
"Itu... tidak masuk akal." Meski begitu, Seijuurou merasa tak ada keyakinan dalam kalimatnya. Ia memalingkan muka, menolak untuk menatap Mibuchi yang masih lurus menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, "aku bahkan tidak tahu harus berkata apa."
"Kau tidak penasaran, Sei-chan? Bagaimana kalau Shintarou menyembunyikan sesuatu darimu?"
"Tidak mungkin." Seijuurou menggeleng kuat. Alis-alisnya bertaut, kesal ketika Mibuchi malah tergelak seolah tak habis berbuat dosa. Meski mulutnya berkata demikian, Seijuurou tak bisa berbohong jika saat ini ia sedikit—sangat penasaran.
Apa yang membuat Shintarou tak ingin menemuinya saat sedang rut? Apa benar ia tidak ingin menyakiti Seijuurou, bahkan secara tidak sengaja?
"Aku akan menanyakan hal ini." Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Seijuurou kembali bicara. Ia menoleh, menatap Mibuchi yang mengangkat dua alis keheranan. Namun, dari sorot matanya, Seijuurou tahu betul Mibuchi merasa sangat puas dengan keputusan itu, "meski aku tak yakin Shintarou mau menjawabnya, tapi aku berharap ia tak menyembunyikan sesuatu yang tak masuk akal."
Mibuchi kembali tertawa, "semoga saja."
:x:
"Kerja bagus, dokter Midorima! Melakukan operasi pada seorang omega lelaki tidak sesulit yang kau bayangkan, 'kan?"
Shintarou yang semula tengah sibuk dengan ponselnya spontan menoleh ke arah sumber suara. Hendak memberitahu Seijuurou jika operasinya berjalan lancar, dan ia akan pulang lebih larut karena Kimura-san mengajak orang-orang yang terlibat dalam tindakan mereka tadi makan malam bersama. Baru mengetik dua kata, Shintarou harus mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pesan. Sebagai gantinya, sudut-sudut bibir pria bersurai hijau itu terangkat. Menoreh sebuah senyum tipis yang sangat jarang ia tampilkan.
"Tentu. Tapi hal itu tetap mengesankan untuk dikenang, operasi sesar pertamaku." Shintarou terkekeh, sekilas melirik pada jendela yang tirainya dibiarkan terbuka. Sepoi angin malam masuk membelai tengkuk, sepertinya akan turun hujan karena suasana mendadak berubah jadi dingin, "oh ya, kita akan makan di mana, Kimura-san? Biar aku kabari Seijuurou jika hari ini pulang lebih larut."
"Oh, astaga. Aku hampir lupa kau sudah menikah!" Kimura spontan menepuk dahinya ketika nama Seijuurou terucap dari mulut Shintarou. Sejenak, bayangan sosok pria manis berambut merah dengan mata yang senada melewati benaknya, "si Akashi itu, 'kan? Ya maksudku dia sudah jadi Midorima sekarang. Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja?"
"Seijuurou baik." Shintarou mengangguk, diam-diam kembali menarik senyum tipis yang tak luput dari pandangan Kimura. Kali ini pria itu yang tersenyum, namun senyum itu lebih terlihat sebagai seringai jahil yang menggoda, "ada apa ini? Tiba-tiba tersenyum saat aku menanyakan keadaan suamimu?"
"Siapa yang tersenyum?" Lagi, Shintarou terkekeh. Kelepasan membayangkan senyum manis Seijuurou yang menyambutnya pulang dari tempat kerja—katakanlah ia budak cinta karena itu memang benar adanya, "Seijuurou baik, Kimura-san. Hari ini dia sedang libur bekerja karena ayah ingin main ke kantor."
"Hebat sekali ya dia itu? Di usia yang masih dibilang muda sudah mampu memimpin sebuah perusahaan besar." Kimura manggut-manggut, rautnya menunjukkan takjub akan semua pencapaian yang telah Seijuurou raih. Tidak heran, dia seorang Akashi—dulunya—yang dituntut serba bisa dan sempurna. Entah mengapa, Kimura merasa Seijuurou sangat beruntung karena ia jatuh ke tangan orang yang tepat dengan menjadi bagian dari keluarga Midorima, "bagaimana hubungan kalian? Apa baik-baik saja?"
"Ya, kami baik." Shintarou mengangguk. Keningnya berkerut, merasa aneh dengan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya saat mengambil nafas, "Kimura-san bagaimana? Apa sudah mendapat calon yang baik untuk dinikahi?"
"Kau ini bicara apa?" Tawa Kimura meledak, masih belum menyadari gelagat Shintarou yang mulai bergerak tak nyaman di tempatnya. Sepasang iris hijaunya menyipit, tarikan nafasnya dalam untuk mencoba hilangkan sesak di dada, "oh ya, Shintarou. Aku jadi kepikiran. Apa kau dan Seijuurou tak ada keinginan untuk punya anak? Kalian sudah cukup lama bersama, 'kan? Sudah menikah pula. Aku juga ingin mendapat keponakan."
"Punya anak... ya?" Shintarou mengernyit. Sesak di dadanya makin menjadi, Shintarou bahkan sampai meremat ponsel yang masih ia genggam. Shintarou yakin bahwa udara malam yang berhembus masuk ke dalam ruangan tempat mereka berbincang membawa dingin karena Kimura beberapa kali mengeratkan jas dokternya, bukan malah membuat Shintarou mengusap tengkuk karena merasa panas, "aku dan Seijuurou masih belum memikirkannya." Ia menjilat bibir, rasa panas itu makin lama merambati tubuhnya hingga membuat beberapa tetes peluh mengaliri pelipis Shintarou, "tapi entahlah. Aku akan membicarakannya dengan Seijuurou... hhh. Nanti."
"Shin?" Kimura yang akhirnya menyadari sesuatu terjadi pada rekan kerjanya spontan memanggil. Shintarou meringis, setengah membungkuk dengan satu tangan meremat baju di bagian dada. Tampak kesakitan dan getar di tubuhnya tentu bukan pertanda baik. Satu tangan Kimura terulur, menyentuh bahu Shintarou dan berjengit ketika rasa panas itu menyapa telapak tangannya, "Shintarou, kau—"
Perkataan itu terhenti. Kimura menegakkan kepala, mengedarkan pandangan ke sekeliling ketika sesuatu terendus oleh indra penciumannya. Aroma segar dedaunan yang perlahan berangsur jadi tajam. Ini bukan aromanya. Namun pria itu tersentak ketika Shintarou yang masih membungkuk di hadapannya mengeluarkan suara seperti menggeram diiringi gertakan gigi yang mengejutkan.
Aroma ini seperti—sepasang mata Kimura membola, "Shintarou. Kau... sedang rut?"
"Apa?" Mendengar pertanyaan Kimura, Shintarou spontan mendongak. Tubuhnya panas. Panas. Panas. Sesak di dadanya makin menjadi, Shintarou meneguk ludah sambil terus berusaha menenangkan diri. Pandangannya berkunang, namun apa yang dikatakan Kimura mengusik batin Shintarou hingga memaksakan diri untuk kembali bertanya, "aku sedang... rut?"
Rut?
Di saat seperti ini?
"Kalau tidak, mengapa kau mengeluarkan feromon yang segini banyaknya?" Kali ini Kimura yang mengernyit, mengibaskan tangan di depan hidung untuk mencoba menyingkirkan aroma feromon Shintarou yang juga memberi sesak di dadanya, "astaga, kau malah membuatku ikut-ikutan sesak saja. Lupa tanggal? Atau bagaimana? Cepat pulang sana! Minta bantuan Seijuurou dan jangan mampir ke manapun. Ah, atau kau mau ku antar? Masih kuat menyetir?"
Minta bantuan? Shintarou mengernyit, mencoba bangkit dari duduknya ketika Kimura mengajukan penawaran. Kepala bersurai hijau menggeleng, tangan bergetar meraih ponsel yang ia tinggalkan di atas meja. Minta bantuan? Pada siapa? Pesan untuk Seijuurou belum dikirimkan—sial. Sakit sekali.
"Kau yakin bisa pulang sendiri?" Lagi, Kimura bertanya. Shintarou tampak tidak baik-baik saja, wajahnya menyiratkan kesakitan dan aroma feromonnya semakin menguat. Sedikit banyak, Kimura merasa lega karena ia tak terlahir sebagai omega yang bisa saja terlena oleh feromon Shintarou yang jantan dan menggoda—tidak, tidak. Jangan pikirkan hal aneh. "Shintarou, kau dengar aku?"
"Ya, Kimura-san. Terima kasih." Shintarou memaksakan senyum, merampas tas kerjanya yang masih tergantung di atas kursi. Pria itu menarik nafas dalam-dalam, mengutuk rasa sakit yang menghampiri tubuhnya dalam hati, lalu mengangguk singkat pada Kimura yang kini tengah menghindari feromon Shintarou dengan menutup hidungnya, "aku pergi duluan. Terima kasih sudah menemaniku berbincang."
Tanpa menunggu jawaban, Shintarou bergegas pergi meninggalkan ruangan. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih, kesulitan menahan sakit serta hasrat karena tak ingin kelepasan menyerang seorang omega yang kebetulan ditemuinya di tengah jalan. Shintarou menggertakkan gigi, mempercepat langkahnya menuju parkiran mobil ketika sosok Seijuurou lagi-lagi melewati pikirannya.
Ah, Seijuurou. Saat ini akan tiba juga, ya?
:x:
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam dan Shintarou belum menunjukkan tanda-tanda pulang ke rumah.
Seijuurou telah berkali-kali mengecek ponselnya, memastikan ada atau tidaknya pesan masuk dari Shintarou, namun nihil. Aneh. Shintarou selalu memberinya kabar tiap kali pulang lebih larut lengkap dengan lampiran gambar sebagai bukti. Apa mungkin ia sedang kehabisan baterai? Sepertinya tidak mungkin.
Seijuurou menyamankan diri di atas sofa, berusaha fokus pada tayangan televisi di hadapannya meski tak jarang ia melirik pada ponsel yang masih berada di genggamannya. Menimbang-nimbang apakah ia harus menghubungi Shintarou atau tidak, apakah ia akan menganggu Shintarou atau tidak, dan keraguan itu menekan sesuatu di dadanya hingga terasa sedikit sesak. Seijuurou mengernyit, mencoba menetralkan pernafasannya, lalu mendengus kesal. Shintarou-nya jelas harus diberi pelajaran ketika pulang ke rumah.
Namun, suara deru mesin mobil yang berhenti di pekarangan rumah menarik perhatian Seijuurou.
Ini sudah pasti Shintarou. Pria bersurai merah itu bangkit dari duduknya, berjalan memutari sofa untuk membuka pintu dengan langkah sedikit menghentak. Seijuurou memang kesal, namun ada sesuatu yang membuat perasaannya menjadi tidak nyaman. Pipi bagian dalamnya digigit resah. Seijuurou sudah sampai setengah jalan dari tujuannya ketika tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
Seijuurou tersentak. Langkahnya terhenti, mata mengerjap menatap Shintarou yang berdiri kaku di depan sana. Kepalanya menunduk dalam, sepasang iris hijau kesukaan Seijuurou tersembunyi di balik surainya yang jatuh menutup dahi. Dari tempatnya berdiri saat ini, Seijuurou bisa mendengar erangan kecil dari Shintarou yang tampak kesakitan.
"Shin?" Meski keraguan menyelimuti hatinya, Seijuurou tetap memanggil nama Shintarou, "kau tak apa?"
Perlahan, Seijuurou berjalan mendekat. Aroma sandalwood yang menenangkan menghampiri hidungnya ketika menarik napas—ini feromon Shintarou. Feromon Shintarou yang selalu bisa membuat Seijuurou merasa nyaman tiap kali menghirupnya. Namun kali ini, Seijuurou merasa romanya meremang. Alih-alih nyaman, Seijuurou justru merasa resah.
"Shin—?" Langkah Seijuurou terhenti. Shintarou mendongak, lensa kacamata yang ia kenakan berkilat ditimpa cahaya lampu. Seijuurou lagi-lagi tersentak, masih belum mengerti apa yang terjadi pada Shintarou yang menarik sudut bibirnya untuk menoreh sebuah senyuman.
"Sei." Suara Shintarou memberat di sela tarikan nafasnya. Ia menegakkan tubuh, mata tajam menatap Seijuurou yang seolah membeku di tempat, "akhirnya. Aku pulang."
Akhirnya?
Seijuurou melangkah mundur ketika Shintarou masuk ke dalam rumah. Pintu di belakangnya ditutup rapat-rapat, dan sepasang iris hijau itu masih tertuju pada Seijuurou yang merasa ditelanjangi. Feromon milik alpha-nya menguat ketika ia mendekat, dan Seijuurou mengernyit saat merasa aroma itu membuat dadanya sesak.
"Shintarou." Seijuurou mengerjap. Ia kebingungan, jalur pernafasannya seakan dihambat. Feromon yang dikeluarkan Shintarou begitu mengikatnya hingga kaki Seijuurou melemas, dan ia jatuh berlutut di kaki Shintarou yang kini berdiri di hadapannya, "Shintarou, kau—sedang apa?"
Sesak. Seijuurou kesulitan bernafas, bahkan ketika dagunya diangkat oleh Shintarou yang kini menunduk untuk menatapnya. Tubuh Seijuurou bergetar, seakan dialiri setruman listrik ketika kulitnya bersentuhan dengan Shintarou dan erangan halus terlepas dari mulutnya tanpa sengaja. Seijuurou meneguk ludah, tak ingin menatap Shintarou, namun sepasang iris hijau itu seolah menguncinya dengan begitu kuat.
"Aku lelah menunggu terlalu lama." Kata Shintarou. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Seijuurou hingga membuat pria itu kembali mengerang. Seijuurou tersengal, tubuhnya melemas. Hampir jatuh kalau saja kedua tangannya tak cepat menahan bobot tubuh di atas kaki Shintarou. Lelah menunggu lama? Apa maksudnya? "Jangan biarkan aku menahan diri. Nikmati saja apa yang aku lakukan padamu malam ini."
"Apa maksudnya—mmh!" Seijuurou tak diizinkan bicara ketika tiba-tiba Shintarou mengangkatnya dalam gendongan. Bibirnya dicium kasar dan Seijuurou refleks meronta. Feromon Shintarou terlalu menyesakkan, ini seperti bukan Shintarou yang biasa ia hirup sehari-hari. Seijuurou masih meronta, ingin menjauhkan diri dari Shintarou, namun pergerakannya terhenti ketika kakinya menyenggol sesuatu yang mengeras.
Pikiran Seijuurou berubah menjadi kacau. Ia teringat percakapan antara dirinya dengan Mibuchi siang tadi.
Alpha yang sedang rut itu menyeramkan. Insting hewan buasnya mungkin bisa mengalahkan sisi manusia mereka. Bahkan jika kontrol mereka buruk, para omega yang tengah berhubungan dengan mereka bisa tersakiti secara tidak sengaja. Siapa tahu Shintarou tidak ingin menyakitimu?
Kau tidak penasaran, Sei-chan? Bagaimana kalau Shintarou menyembunyikan sesuatu darimu?
Seijuurou mengerang ketika tangan-tangan Shintarou mulai nakal menyusup ke dalam pakaian yang ia kenakan. Tubuhnya bergetar, mata berkunang menatap Shintarou yang menarik lepas tautan bibir mereka. Shintarou tampak masih menahan diri walau Seijuurou yakin dirinya tak akan bisa selamat setelah ini.
"Mari bersenang-senang?" Senyum Shintarou kembali ditarik, kali ini lebih lebar hingga nyaris membentuk sebuah seringai. Seijuurou tak sempat menjawab ketika pria bersurai hijau itu lebih dulu beranjak dari tempatnya semula. Bibir Seijuurou kembali ditawan dalam ciuman, kali ini lebih intens dan menyiksa.
Seijuurou rasa pikirannya berkabut. Ia kembali teringat topik obrolannya dengan Mibuchi, apa mungkin Shintarou sungguhan menahan rutnya untuk tidak menyakiti Seijuurou?
:x:
Mungkin benar.
Lagi-lagi Seijuurou mengerang, merasa penuh ketika Shintarou melesakkan jari ketiga di dalam tubuhnya. Pakaian Seijuurou telah raib entah ke mana, Shintarou lebih dulu menelanjanginya setelah menjatuhkannya di atas kasur mereka. Setelah itu, Seijuurou ditindih. Dipenjara dalam kungkungan lengan, seolah tak diperbolehkan bernafas karena Shintarou kembali menciumnya. Kali ini dengan kedua tangan yang bermain di atas tubuh Seijuurou. Meraba setiap inci kulit halus milik omega-nya yang mulai berkeringat.
"Shin." Seijuurou mendesah ketika jari Shintarou menginvasi bagian dalam tubuhnya. Kepalanya mendongak, memberi akses lebih bagi bibir Shintarou yang kini menelusuri kulit lehernya. Mengendus, menjilat, dan menggigit. Tubuh Seijuurou memang lemas, namun ia tak ingin menyerah sebelum mendapatkan jawaban, "Shintarou—nggh. Shintarou! Dengarkan aku!"
Dan pergerakan Shintarou terhenti. Ia terkejut ketika suara Seijuurou memanggilnya dengan penuh penekanan. Tubuhnya ditarik menjauh, menatap Seijuurou dengan sepasang manik hijau yang membola. Kedua sisi wajahnya ditangkup Seijuurou yang kini tangannya sedikit bergetar.
"Ada apa denganmu?" Tanya Seijuurou. Lidahnya terjulur, menjilat bibir bawah yang sedikit membengkak akibat dilumat habis oleh Shintarou. Sorot matanya nanar menatap Shintarou yang kini merasa perasaan bersalah meliputi hatinya.
Sial.
Tanpa sadar, Shintarou berdecak.
Apa ini? Apa aku menyakiti Seijuurou?
"Maaf." Shintarou memejamkan matanya, rapat. Menolak tatapan penuh tanya dari Seijuurou yang ditujukan padanya. Giginya bergemeretak. Menahan luapan emosi untuk dirinya sendiri yang telah menyerang Seijuurou secara tiba-tiba, "Sei, maaf—"
"Bisakah kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?" Seijuurou masih mencoba bertanya, mengulik alasan mengapa Shintarou melakukan hal ini padanya. Tangan yang semula menangkup pipi Shintarou berpindah menuju belakang kepala, leher Shintarou ditarik mendekat dan Seijuurou kecup puncak kepala pria itu dengan bibirnya. "Shin, aku tidak masalah jika kau ingin melakukannya malam ini. Tapi kau tidak bisa langsung menyerangku ketika—"
"Aku rut." Potong Shintarou, dan matanya kembali terbuka. Kepalanya mendongak, menatap Seijuurou yang tampak sangat terkejut saat mata mereka bertemu. "Aku rut, Seijuurou. Dari hari ini sampai lima hari ke depan, dan aku melupakan tanggalnya. Siklus rut-ku berlangsung selama dua kali dalam setahun, dan ini kali pertama aku mendapatkannya tahun ini. Maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu... maaf."
Seijuurou mengerang ketika secara tiba-tiba, Shintarou menarik lepas ketiga jarinya yang semula masih berada di dalam Seijuurou. Aroma pekat feromon Shintarou yang semula menyelimuti dirinya perlahan memudar. Meski begitu, Seijuurou masih belum bisa bernafas lega. Shintarou menggigit bibir bawahnya kuat, tampak sangat menyesal, lalu memalingkan muka dan beranjak dari atas tubuh Seijuurou.
Namun, Seijuurou menggagalkan niatnya. Kedua sisi wajah Shintarou ditarik. Pria itu dipaksa menatap Seijuurou yang kini kembali menangkup pipinya dengan begitu erat. Shintarou bahkan bisa merasakan kesepuluh jemari Seijuurou tertanam di helai-helai rambutnya.
"Jelaskan padaku." Seijuurou meneguk ludah, merasa ragu dengan keputusannya untuk meminta penjelasan dari Shintarou, "jelaskan padaku mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Mengapa kau mengurung dirimu sendiri saat tengah mengalami rut, bahkan menolakku yang sangat ingin bertemu denganmu saat itu? Kau tak pernah menolak saat aku meminta bantuanmu tiap sedang mengalami heat. Mengapa kau—"
"—karena aku tak ingin menyakitimu!" Shintarou kembali menyela, dan kali ini suaranya meninggi. Seijuurou terperanjat, sedikit terkejut saat Shintarou membentaknya tepat di muka. Meski begitu, rasa sesal yang Shintarou tunjukkan pada sorot matanya cukup membuat hati Seijuurou mencelos, "maaf, Sei. Aku sengaja melakukan ini karena aku tak ingin menyakitimu. Aku masih kesulitan menahan diri. Aku mengunci diriku di kamar tiap kali rut itu tiba dan menyumpah saat tak berhasil menahannya dengan sempurna. Aku ingin kebiasaan burukku ini akan hilang dengan sendirinya saat kita menikah, tapi ternyata tidak. Aku terlalu takut akan melakukan hal-hal di luar kendaliku padamu, Seijuurou. Aku tak ingin kehilanganmu. Aku takut—"
"Shintarou."
Perkataan Shintarou terhenti. Seijuurou memanggilnya, lembut, dan surainya disisir halus oleh jemari lentik Seijuurou yang kembali menarik tubuhnya mendekat. Bibir Seijuurou menggeluti pucuk kepala Shintarou, memberi kecupan-kecupan ringan di sana, mencoba menenangkan alpha-nya yang masih gemetar dan bernafas pendek-pendek. Shintarou tengah berusaha keras menahan luapan emosi dan gairahnya supaya tak berakhir menyakiti Seijuurou seperti yang ia takutkan.
"Kau tak perlu takut." Kata Seijuurou, terdengar tenang saat menarik tengkuk Shintarou dan membenamkan wajah pria bersurai hijau itu di dadanya, "Shintarou, kau tak perlu menahan diri. Kau bahkan bisa menyakitiku jika kau mau." Seijuurou meneguk ludah, sedikit merasa ragu dengan kelanjutan kalimatnya, terlebih saat ia merasakan tubuh Shintarou yang masih didekapnya tersentak, "...karena aku milikmu. Jiwa dan tubuhku seutuhnya milikmu, Shin. Tidak masalah jika kau ingin melakukan apa pun yang kau mau padaku."
Keheningan menyelimuti mereka sesaat setelah Seijuurou berhenti bicara. Shintarou diam tak berkutik. Namun ia masih terjaga, Seijuurou tahu dari deru nafasnya yang perlahan berangsur jadi normal. Seijuurou memejamkan mata, lalu menghembuskan nafas lega. Jemari tangan kanannya bergerak mengacak surai halus Shintarou, lalu bersiap mendorong pria itu menjauh saat pergelangan tangannya dicengkeram Shintarou secara tiba-tiba. Seijuurou mengernyit.
"Shin?" Panggilnya pelan, merasa tak nyaman saat cengkeraman di tangannya mengerat. Seijuurou hampir saja mengerang, tepat saat Shintarou bangkit dari posisinya semula, dan iris-iris merah pria itu membola saat tatapan Shintarou kembali menajam saat bertemu dengannya. "Shintarou—tunggu!"
"Kuharap kau tidak menyesal mengatakannya, Seijuurou." Senyum tipis ditarik menghias wajah. Seijuurou terkejut bukan main saat aroma feromon Shintarou kembali tercium olehnya. Kali ini lebih pekat dan menyesakkan, hingga tanpa sadar Seijuurou melentingkan tubuh dan mendesah tertahan. Rona merah mulai menguasai masing-masing sisi wajahnya. Shintarou masih menatapnya tanpa mengatakan apa pun. Seolah sengaja membiarkan Seijuurou sesak nafas akibat terlalu banyak menghirup aroma tubuhnya.
"Kau milikku." Shintarou mendekatkan wajah. Pipi Seijuurou diusapnya lembut dengan ibu jari, "Seijuurou milikku," mendaratkan kecupan ringan di sana, "milikku."
Tangan Seijuurou ditarik paksa hingga berbalik memunggunginya. Seijuurou tersentak, mengerang saat tubuh bagian depannya menghantam empuk kasur mereka. Shintarou mengungkungnya dari atas, kedua tangan Seijuurou dicengkeram erat di masing-masing sisi kepalanya. Seijuurou mengangkat kepala, berusaha menjauhkan wajahnya dari kasur, kelepasan mendesah saat bibir basah Shintarou kembali menelusuri lekuk lehernya.
"Shin..." Tubuh Seijuurou menggeliat tak nyaman. Kesulitan bergerak, sementara feromon Shintarou makin lama terasa makin mencekiknya. Seijuurou bahkan tersengal mengais nafas.
Shintarou bergumam lembut sebagai jawaban. Kedua tangannya yang semula mencengkeram pergelangan Seijuurou terlepas. Pinggul Seijuurou ia tarik ke belakang, Shintarou tentu tak lupa jika omega manisnya ini tak lagi mengenakan sehelai pakaian pun di tubuh cantiknya, "ada apa, sayangku?"
Seijuurou melonjak. Manik merahnya membola saat kedua tangan Shintarou menjamah tubuhnya secara bersamaan. Dadanya membusung, tubuhnya terangkat seiring dengan pilinan Shintarou di putingnya. Desahan Seijuurou menguat saat pantatnya menekan ereksi Shintarou yang mengeras di balik celana, dan pria bersurai hijau itu tampaknya sengaja menggesekkan pangkal tubuh mereka untuk menggoda Seijuurou, "Shintarou—aku—"
"Sssh." Shintarou berdesis lembut. Satu tangannya bergerak memompa kejantanan Seijuurou yang perlahan mulai mengeras dalam genggamannya. Seijuurou gemetar. Tak kuasa menahan tiga rangsangan beruntun yang ia terima di atas tubuhnya. Sesuatu yang tak pernah dirasakannya tiap kali Shintarou mengalami rut. Omega dalam dirinya berteriak kesenangan. "A—alpha..."
Kali ini Shintarou yang giliran tersentak. Pergerakannya terhenti.
Satu hal yang luput dari ingatan Shintarou, seorang alpha yang tengah mengalami rut juga dapat memancing heat omega yang terikat dengannya. Ini yang membuat Seijuurou merengek seolah ingin tubuhnya dijamah lebih lanjut.
"Mau..." Seijuurou mengerang, suaranya bergetar, "mau alpha. Mau—mau Shintarou."
Shintarou meneguk ludah. Tak pernah membayangkan Seijuurou merengek minta disetubuhi selain dalam masa heat-nya. Jantungnya berdegub kencang. Mengetahui dirinya-lah penyebab Seijuurou menjadi seperti ini membuat insting hewan buasnya bergejolak.
"Ya." Shintarou mengangguk. Tubuhnya membungkuk, mengecupi sisi leher Seijuurou yang menggeliat tak nyaman. Aroma manis yang biasa menguar dari tubuh Seijuurou menghilang, berganti dengan aroma tajam feromon Shintarou yang menyelimutinya. Netra Shintarou menggelap. Rahang bawahnya terbuka. Kulit leher Seijuurou diapit dengan gigi taringnya, lalu digigit keras oleh Shintarou hingga membuat si empunya kembali mengerang. Masa penantiannya telah berakhir. Shintarou bahkan bersumpah untuk tak lagi menahan dirinya. "Persiapkan dirimu untukku, Seijuurou."
Tubuh Seijuurou ia lepas, dibiarkan terhempas di atas kasur sementara Shintarou menegakkan diri. Udara di sekitar mereka memanas, Shintarou bahkan lupa jika ia belum sempat melepas pakaian. Jas putih yang masih ia pakai ditanggalkan, lalu dilempar ke sembarang arah. Matanya awas mengamati Seijuurou yang masih tampak kesulitan mengatur nafasnya.
Tanpa sadar, Shintarou menjilat bibir. Birahinya menggelegak. Aroma feromonnya menguat ketika melepas sabuk celana, dan Seijuurou lagi-lagi merengek mengeluh sesak. Kesepuluh jari Seijuurou mencengkeram sprei kuat-kuat hingga nyaris membuatnya kusut.
"Shin..." Panggil Seijuurou, lirih. Manik merahnya yang berkaca bersirobok dengan zamrud Shintarou yang masih menatapnya tajam. Nafas omega manis itu tersengal, dan rupanya Shintarou masih belum mau memulai perjalanan mereka, "sesak—feromonmu, tolong hentikan."
Sepasang alis Shintarou terangkat. Ia diam sejenak, tampak memproses ucapan yang baru saja Seijuurou katakan padanya. Tanpa sadar, Shintarou terkekeh ringan. Sorot matanya tak berubah, tetap dingin menatap Seijuurou yang kini membulatkan mata dan kembali mengerang saat aroma feromon Shintarou justru semakin menguat.
"Shintarou, sesak—"
"Tidak." Tolak Shintarou halus, tergiur melihat tubuh Seijuurou yang menggeliat tanpa perlawanan di bawahnya. Shintarou turunkan celananya, lalu mendesah lega saat kejantanannya yang sudah sepenuhnya keras terbebas. Kemeja putih yang masih ia kenakan dibiarkan begitu saja, Shintarou memilih untuk melepasnya di saat-saat tertentu nanti.
"Aku ingin hanya ada aromaku yang melekat di tubuhmu." Shintarou membungkuk, pinggul Seijuurou ditarik hingga tubuh bagian bawahnya terangkat ke belakang. Seijuurou merasa pening menyergap kepala, terlebih saat bibir Shintarou kembali meninggalkan kecupan-kecupan basah di seputar tengkuknya, dan tubuh bagian belakangnya bersentuhan dengan ereksi Shintarou. Lengan Shintarou erat melingkari perutnya hingga membuat Seijuurou kesulitan bergerak. Dengan posisi seperti ini, Seijuurou hanya bisa berpasrah diri akan apa yang terjadi padanya nanti. "Aku ingin menandaimu. Menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa kau adalah milikku—"
Manik Seijuurou membola saat dekapan Shintarou di tubuhnya mengerat, "Shintarou—"
"—dan juga calon ibu dari anak-anakku."
"S-Shin—aahh!" Seijuurou menjerit ketika kejantanan Shintarou menerobos masuk ke dalam lubangnya secara tiba-tiba. Hampir tersungkur jatuh, namun salah satu tangan Shintarou lebih cepat menahan dadanya. Tubuh Seijuurou terhentak kasar seiring dengan pergerakan pinggul Shintarou yang mendesaknya. Mulut Seijuurou terbuka, mendesah tanpa suara, sementara sepasang bola matanya berputar ke belakang. Sepanjang hidupnya bersama Shintarou, pria itu tak pernah memperlakukannya sekasar ini saat mereka sedang bercinta.
Tapi Seijuurou menyukainya. Sensasi di mana ia hanya bisa menghirup aroma feromon Shintarou, bahkan sedalam apapun ia menarik nafas. Seijuurou sangat menyukainya. Tenggelam dalam keposesifan Shintarou untuknya. Tanpa sadar, sudut-sudut bibir Seijuurou terangkat. Mematri senyum tipis yang terkembang di paras cantiknya.
Shintarou sedang rut. Bersamanya. Setelah sekian lama Seijuurou terjebak dalam pertanyaan tentang mengapa Shintarou selalu menghindarinya saat siklus rut itu tiba sebelum mereka menikah. Tentang perkataan Mibuchi yang terbukti karena Shintarou sungguhan takut menyakitinya jika tak mampu menahan diri. Ingatan-ingatan itu berputar dalam benak Seijuurou, membuat matanya berkunang, lalu mendesah penuh nikmat saat ujung kejantanan Shintarou menemukan titik pusatnya.
Seijuurou tak menolak saat tubuh bagian depannya kembali terangkat. Disangga oleh telapak tangan Shintarou, sementara bibir Seijuurou dipagut penuh nafsu saat pria bersurai merah itu menoleh ke belakang. Omega di dalam dirinya menjerit-jerit kesenangan. Seijuurou bahkan tak sengaja menjulurkan lidah saat tautan bibir mereka terlepas.
"Mau lagi—" Rengeknya, "mau alpha. Mau Shintarou."
"Mau lagi?" Tanya Shintarou dengan suara berat. Bersaing dengan kecipak basah antara dua alat kelamin mereka. Seijuurou mengangguk, volume desahannya tak sengaja meninggi saat putingnya kembali dijamah jemari panjang Shintarou. Dipilin hingga dadanya membusur dan kepala mendongak tinggi ke atas. "Aku juga punya keinginan untukmu, Sei. Untuk kita juga. Apa kau mau mendengarnya?"
Seijuurou seolah kehilangan kemampuan bicara. Ia kembali mengangguk, lalu mendesah-desah saat Shintarou menghentak lubangnya tanpa ampun. Shintarou membungkuk, menempelkan dadanya dengan permukaan kulit punggung Seijuurou yang telanjang. Sepenuhnya mengeliminasi jarak di antara mereka, lalu menjilat cuping telinga omega-nya yang memerah.
"Aku ingin menghamilimu." Kata Shintarou, setengah berbisik. Manik Seijuurou membola saat salah satu tangan Shintarou menarik paksa pahanya supaya terbuka lebih lebar. "Aku ingin memenuhimu. Memenuhimu dengan cairanku sampai kau merasa sesak, sampai kau mual dan merengek padaku supaya tidak melakukannya lagi."
"Shin." Seijuurou merasa seluruh sendi di dalam tubuhnya menegang. Ia sama sekali tak menyangka Shintarou akan mengatakan hal itu padanya, "Shintarou—"
"Aku ingin menghamilimu. Membuatmu mengandung anak-anakku." Rupanya Shintarou masih belum selesai bicara. Telapaknya yang semula memegangi paha dalam Seijuurou merambat naik, menggenggam dan mengocok penis Seijuurou hingga membuat pria itu tersentak dan mendesah lebih keras. Kepala Seijuurou menunduk, menatap nanar precum yang mulai menetes-netes dari ujung kejantanannya, lalu kembali mendongak saat bibir dan lidah Shintarou menyapu bahunya, "apa kau mau, Sei? Apa kau mau mengandung anak-anakku nanti?"
Seijuurou membuka mulut, hampir menjawab, namun Shintarou lebih dulu menghentak lubangnya dengan kuat. Secara runtut, berkali-kali. Shintarou seolah tak memberinya pilihan selain mendesah sebagai pertanda iya. Pertanda bahwa ia harus tunduk dan menyerahkan diri di bawah kuasa alpha-nya.
"...Mau." Namun Seijuurou masih memaksakan diri untuk bicara meski suaranya bergetar. Ia mengernyit, merasa penis Shintarou membesar di dalam tubuhnya ketika Seijuurou memberikan respon positif atas pertanyaannya. "Aku mau, Shintarou." Seijuurou tak lagi merasa akal sehat berpihak padanya. Ia hanya bisa memikirkan Shintarou. Shintarou. Shintarou. Matanya bergulir ke belakang, Seijuurou bahkan yakin jika dirinya tengah tersenyum saat melanjutkan kalimatnya, "hamili aku. Buat aku mengandung anak-anakmu—ah, Shintarou!"
Seijuurou menjerit. Suaranya melengking, bersamaan dengan suara geraman Shintarou yang terdengar di sisi telinganya. Tangan Shintarou yang semula menyangga tubuh Seijuurou dilepas hingga omega manis itu tersungkur di atas kasur. Kedua tangan Shintarou berpindah menuju pinggul Seijuurou, dicengkeram kuat hingga membuat si empunya meringis menahan sakit. Seijuurou tersengal, mendesah hebat, merasa puncaknya dekat seiring dengan penis Shintarou yang membesar di dalam lubangnya hingga Seijuurou merasa sesak.
"Persiapkan dirimu." Kata Shintarou, gerakan pinggulnya dipercepat. Matanya tajam menatap lubang Seijuurou yang lapar menghisap penisnya. Ia mengernyit, lalu mengumpat saat desakan di bawah perutnya tiba. Desakan yang telah lama ia tunggu-tunggu. Cengkeraman pada pinggul Seijuurou diperkuat.
"Aku akan menghamilimu, Seijuurou sayang." Shintarou tarik seringai menghiasi wajahnya saat dinding rektum Seijuurou mengetat, "cantik. Cantik." Shintarou kembali membungkuk, mengecup tanda yang ia tinggalkan di tengkuk Seijuurou saat pertama kali mereka resmi menjadi pasangan, lalu menjilatnya lembut. "Cantikku."
"Shintarou." Seijuurou tersentak. Tubuhnya menegang, lalu melonjak saat Shintarou menggigit tengkuknya secara tiba-tiba. "Shin—Shintarou—AAHHH!"
Tubuh Seijuurou dihantam orgasme yang begitu hebat saat Shintarou menggigit tengkuknya. Tubuhnya melenting, kesepuluh jari kakinya menekuk. Kepala Seijuurou mendongak, menjerit keras sampai urat-urat di lehernya tercetak. Seijuurou gemetar, terisak-isak, tak kuasa menahan nikmat. Hanya ada nama Shintarou yang disebut olehnya saat puncak itu tiba. Shintarou, Shintarou, Shintarou, bagai rapalan mantra yang membuat Shintarou menghentak pinggulnya lebih kuat dan menyemburkan benihnya jauh di dalam Seijuurou. Seijuurou hampir saja mendesah lega, namun erangan lebih cepat menggantikan niatnya karena Shintarou masih keluar. Tumpah begitu banyak mengisi Seijuurou yang kini merasa perut bagian bawahnya begitu penuh.
"Shin, sudaaah." Seijuurou merengek. Shintarou benar-benar menepati janji untuk mengisi penuh lubang Seijuurou. Paha Seijuurou bergetar, hampir ambruk jika tak ada tangan Shintarou yang mencengkeram erat pinggulnya. "Shintarou, cukup—aahh. Penuh."
"Bukankah memang itu yang kau inginkan?" Shintarou terkekeh berat. Ia menarik keluar penisnya setelah yakin tak ada satu tetespun cairan yang tersisa. Matanya berkilat, tergiur melihat lubang Seijuurou yang masih saja berkedut. Merekah dan basah, tampak belum puas disetubuhi Shintarou yang dalam hatinya merasakan hal yang sama. "Tapi urusan kita masih belum selesai, Seijuurou..."
Tubuh Seijuurou dibalik, kembali direbahkan di atas kasur oleh Shintarou yang lekat memandang omega manis itu dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Rambut merahnya acak-acakan. Perut dan dada yang kotor oleh cairan orgasmenya sendiri, sementara tubuh Seijuurou masih menggeliat dan bergetar pasca pelepasannya tadi.
Tanpa sadar, Shintarou menjilat bibir. Lapar. Alpha bersurai hijau itu meneguk ludah. Ia selalu dibuat lapar oleh Seijuurou.
Seijuurou membuka mata saat kecupan lembut mendarat di atas bibirnya. Sepasang iris hijau Shintarou menjadi hal pertama yang ia lihat, dan Seijuurou hanya mampu menyunggingkan senyum lemah saat rambutnya diusap Shintarou.
"Masih tersisa lima hari sebelum siklus rut-ku berakhir." Kata Shintarou, bibirnya menciumi setiap inci wajah Seijuurou dengan penuh puja, "sudah siap membantuku lebih lama lagi?"
Mendengar pertanyaan itu, Seijuurou terkekeh. Tubuhnya masih lemas, namun Shintarou lebih butuh jawaban. Jadi, didorongnya bahu Shintarou hingga posisi mereka berganti. Seijuurou menduduki perut Shintarou yang kini merebahkan dirinya di atas kasur.
"Serius, Shin. Kau masih bisa bertanya?" Jemari lentik Seijuurou melucuti satu persatu kancing kemeja yang masih dikenakan Shintarou. Shintarou tidak menjawab, hanya terkekeh pelan. Kedua telapaknya kembali bergerak membelai paha dalam Seijuurou yang menggeliat kegelian. "Tentu saja aku siap. Kau tidak boleh berhenti sebelum aku sungguhan hamil anakmu."
"Astaga, Seijuurou. Kau ini bicara apa?" Tawa Shintarou meledak. Ia bangkit dari posisi berbaringnya semula, lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Tubuh Seijuurou ditarik dalam pelukan. Shintarou mengubur wajahnya pada ceruk leher Seijuurou, menghirup aroma pekat feromonnya yang masih tertinggal di sana. Aroma ini. Aroma ini yang akan melekat di tubuh Seijuurou sampai siklus rut-nya berakhir. Shintarou kembali merasa gairahnya tergugah. "Sei?"
Seijuurou mendongak ketika namanya dipanggil Shintarou. Mata mereka bertemu, dan Seijuurou merasa tubuhnya melemas saat Shintarou kembali mencium bibirnya.
"Tunggangi aku." Bisik Shintarou dengan suara rendah, "tunjukkan padaku seberapa hebat kau melakukannya."
"Kau menantangku?" Kedua alis Seijuurou terangkat. Ia terkekeh, menanggalkan kemeja Shintarou yang kancingnya telah lepas seutuhnya, lalu melemparnya ke sembarang arah. Tangan Seijuurou nakal meraba dada dan otot perut Shintarou yang kini terekspos tanpa penghalang di hadapannya, "kuharap kau tidak menyesal telah melakukannya, Tuan Midorima."
Shintarou terkekeh, dikecupnya kening Seijuurou sebelum omega manis itu sempat memundurkan tubuh untuk memenuhi tantangan Shintarou, "tentu saja tidak, Nyonya Midorima."
— fin.
