Seminggu terlewati setelah malam dimana Chanyeol memperkosa Papanya sendiri. Pagi itu mereka tengah sarapan bersama. Hanya berdua karena Ayahnya yang sibuk lagi-lagi harus pergi ke luar kota.

Hal itu dimanfaatkan oleh anak itu untuk kembali 'memangsa' tubuh Papanya hingga ia puas.

Setelah sarapan selesai dan meja telah dibersihkan, Chanyeol menarik Papanya yang tengah berdiri di kaca jendela lantai 2 rumahnya. Ia membawa Baekhyun itu menuju dapur, tak mempedulikan rengekan yang lebih tua untuk dilepaskan.

Tubuh mungil ia angkat lalu didudukkan di atas meja. Sementara ia meletakkan bokongnya di atas kursi yang tepat berada di hadapan Baekhyun.

Bibir lelaki itu mengerucut saat Chanyeol menemuinya dalam pandangan. Merengut marah dan mencoba terlihat galak... Yang tentu saja gagal terlihat demikian.

Chanyeol terkekeh jenaka. Tangan ia bawa untuk menyentil pelan bibir merah sang submisif, yang dibalas rengekan manja dari lelaki itu.

Pria itu menjaga agar mata mereka tetap bertemu. Kedua pasang hazel itu pun salin memandang. Terus bertatapan hingga mampu mengirimkan afeksi aneh bagi dua insan yang terpaut usia berjauhan itu.

Chanyeol mendekatkan kepalanya, diikuti oleh Baekhyun yang ikut menunduk. Kedua belahan merah mereka pun bertemu dalam suasana panas yang entah sejak kapan tercipta.

Mereka saling memagut dalam melodi indah. Tangan memegangi tengkuk lawannya penuh keposesifan. Kepala bergerak bergantian arah, diikuti oleh hidung yang bersentuhan intim.

Lidah Chanyeol membelit lidah yang lain di dalam mulut empunya. Menggelitik pelan hingga sang submisif mendesah lirih. Lidah menyapa langit-langit mulut, menghantarkan sensasi geli yang kian mendebarkan jantung mereka. Perut ikut tergelitik oleh banyaknya kupu-kupu yang berdatangan.

Tak lama Baekhyun merengek meminta dilepaskan, yang langsung dituruti oleh Chanyeol. Nafas si mungil terengah-engah karna terlalu lama ditahan. Sedang yang terduduk di hadapannya menanggapi dengan santai; bernafas teratur dengan tangan menopang pada kedua paha sekal Papanya.

Lelaki itu menggunakan hotpants ketat berwarna soft-pink. Bahannya sangat pendek, tak cukup untuk bahkan menutupi setengah bagian mulus di atas lutut itu.

Chanyeol beralih menumpukkan pipi kirinya di paha kanan Baekhyun. Jari telunjuknya menusuk-nusuk daging tembam di paha kiri Papanya itu.

Yang disentuh pun tidak melarang. Hanya bersedekap dada dan menatapi anaknya dari atas.

Seolah mendapat persetujuan, Chanyeol pun tak lagi merasa sungkan. Tangan merambat naik 5cm. Tau-tau telunjuknya sudah beralih menusuk-nusuk penis mungil Papanya, membuat sang pemilik melonjak terkejut. Tangan sempat terulur untuk mencegah yang lebih muda bertindak lebih, namun langsung ditepis kasar oleh Chanyeol.

PLAK.

Suara tepisannya bahkan sangat kencang.

Mata sabitnya pun berkaca-kaca karna terkejut. Tangan yang ditepis meninggalkan rasa perih, namun yang paling terasa perih adalah perasaan sensitifnya. Baekhyun tidak suka dikasari, tapi kalau di ranjang itu beda urusan. Tapi, tapi, ini 'kan di meja makan, bukan di ranjang, jadi-

"Hey, Pa. Just believe in me, okay? Chanyeol tidak akan menyakiti Papa. Chanyeol hanya ingin membuat Papa puas. Jadi, menurut saja padaku, ya?"

Bibir si mungil mengerucut sedih. Tapi kepalanya mengangguk dengan sangat lucu, membuat Chanyeol menjadi gemas ingin segera 'memakan' Papanya itu.

"Sekarang Papa tengkurap di atas meja." Suara husky yang terdengar sangat jantan tak ayal membuat Baekhyun luluh. Kaki tanpa canggung menaiki meja makan, menelungkupkan tubuhnya disana.

Tangannya mengetuk meja keramik itu dengan canggung. Kedua kakinya terangkat setengah dan berayun beberapa kali.

Sementara itu Chanyeol tengah beranjak menuju rak di dapur. Tangannya meraih sebotol minyak zaitun. Tangan kiri dengan gesit ikut menarik spatula yang berbahan plastik. Ia membawa mereka menuju meja dimana Papanya telah tengkurap dan tengah mengayunkan kakinya dengan begitu menggemaskan.

PRAK.

Suara ketika ia mempertemukan botol minyak dan meja, yang sama-sama terbuat dari kaca, membuat Baekhyun menoleh padanya. Alis lelaki itu mengernyit saat melihat apa yang ia bawa.

"Hehehe, maafkan aku, Pa. Aku orangnya sedikit kinky. Tapi Papa tenang saja, aku tidak terlalu menyukai hard-sex, kok. Paling hanya sebatas mengikat tangan dan spank di pantat. Habisnya pantat Papa montok sekali, sih!"

Pipi Baekhyun memerah mendengarnya. Namun wajahnya ia pertahankan untuk tetap datar, mencoba menjaga image di depan anaknya. "Hm, oke." Jawaban cuek itu dihadiahi kekehan gemas dari yang lebih muda.

Chanyeol bergerak agar lebih dekat dengan Papanya.

Matanya sedang dalam mode scanning, mencari bagian mana dulu yang ingin dia mainkan.

Setelah menemuinya, tangannya pun ia bawa menuju bagian semok yang disebutnya tadi. Chanyeol lebih suka menyebutnya dengan 'bongkahan kenyal Papa'. Karena bagian itu benar terasa kenyal ditangannya; bertekstur lembut ketika diremas, dan bergoyang indah ketika ditampar. Hihihi.

Chanyeol pun menangkup bongkahan itu.

Kedua telapak memegangi dua sisi bulatan montok Papanya. Ia meremasi mereka sejenak. Memijat pantat lembut dalam telapaknya dengan arah yang sama. Kelima jari bekerja aktif menguleni mereka layaknya adonan.

Sesekali Chanyeol menambahkan sedikit tekanan, bermaksud menggoda belalai mungil yang tergencet oleh telungkupannya.

"Ungh, Chanyeol..."

"Iya, Pa?"

"Penis Papa linu..."

"Iya, sabar, Papaku yang cantik. Nanti akan nikmat, kok, pasti. Okay?"

"O-okay, nhh..."

Tangan Chanyeol menarik kasar kain yang menutupi bongakahan favoritnya. Melepas hotpants itu dan melemparnya ke sembarang arah.

Mata besarnya menatap berbinar pada pemandangan indah di depannya. Dimana Papanya tengah telungkup hanya dengan mengenakan kaos, sementara pantatnya menonjol dan terlihat sangat padat. Oh, jangan lupakan si kecil yang tergolek lemas dan mengintip malu-malu di antaranya. Chanyeol menyentil benda itu pelan, menghasilkan entah-rengekan-atau-desahan dari sang Papa.

Kepalanya ia bawa untuk turun. Ia menggigiti daging kenyal Papanya dengan bibir terkulum ke dalam. "Mmm, kenyal sekali, Pa..." Chanyeol terus menggigitinya pelan tanpa melibatkan gigi.

Sang dominan tak ingin bagian itu berwarna ungu. Ia ingin menghiasi mereka dengan warna kemerahan yang seksi, dengan spatula yang ia bawa tadi. Tak hanya itu, ia juga ingin melumuri pantat di hadapannya dengan minyak zaitun. Agar permukaan sekal disana berwarna merah dan mengkilap.

CLAK.

"Ahh!" Pantat itu bergoyang ketika pemiliknya melonjak terkejut. Chanyeol mulai mencambuk bongkahan kenyal Papanya dengan spatula plastik.

"C-chanyeol-"

CLAK. CLAK. Dua cambukan dihadiahkan pada dua bulatan indah itu.

"Hnhh..."

PLAK. Telapak tangannya turut menampar dengan kuat, membuat Baekhyun mengerang karna sensasi nikmat yang ditimbulkan.

PLAK. "Menungging, Pa."

Setelah sang submisif menurutinya, ia tak membuang waktu untuk kembali memberikan cambukan dengan spatula plastik dalam genggamannya.

CLAK. CLAK. Pantat indah Baekhyun bergoyang selagi tunggingannya semakin naik. Chanyeol pun menatapi lubang merah berkedut di hadapannya, yang telah basah oleh cairan alami.

CLAK.

"HNGAAH-" Cambukan di tengah pantatnya kian membuat lubang Baekhyun 'banjir'. Penis yang menggelantung pasrah tanpa sadar telah setengah berdiri, ikut bereaksi karna cambukan di bokongnya yang terasa nikmat baginya.

Entah kenapa, alih-alih kesakitan, Baekhyun justru terangsang jika dikasari seperti ini.

Bokong semakin menungging selagi anaknya masih memecut bulatan sintalnya dengan spatula plastik. Tak lama, Baekhyun merasakan bagian itu terasa basah.

Ternyata Chanyeol tengah melumuri pantatnya dengan sebotol minyak zaitun. Tak hanya itu, paha hingga telapak kakinya pun juga tak dilupakan. Pria itu meratakan minyak disertai dengan pijatan lembut.

Setelahnya tubuh sang Papa ditelungkupkan lagi. Penis pun kembali menemui permukaan keramik meja. Tangannya lanjut memanjakan si kenyal yang kini memerah dan mengkilap.

Chanyeol memijati bagian itu. Ketika ia mendapati lubang Papanya telah menganga meminta diisi, Chanyeol membasahi bagian itu dan menggaruk bagian luarnya dengan jari telunjuk.

"Ahn-Chanyeol... Nghh..."

Desahan seksi itu membuat jari Chanyeol tanpa sengaja tergelincir, "HAAH!"-dan masuk ke dalam lubang berkerut itu.

Jari telunjuknya pun masuk dengan mudah akibat adanya minyak sebagai pelicin.

"Ngahh, add more pleasehh..."

Sesuai permintaan, Chanyeol pun dengan baik hati menambahkan jari tengahnya. Kedua jarinya akhirnya menggaruk dinding gatal di dalam sana. Sesekali menekuk untuk mencari si manis agar Papanya semakin menggelepar.

"AAAH!" Baekhyun melonglong nikmat saat prostat bengkaknya ditekan dengan kedua jari sekaligus.

Desahannya mengalun keras ketika Chanyeol menarik mundur jarinya, lalu menghentaknya kuat dan mengenai titik manisnya dengan telak.

"Ahh, ah, nikmat, Yeolhh-Ugh!"

CLOK. CLOK. CLOK.

Jari ketiganya masuk. Ketiganya pun mengobrak-abrik lubang berkedut Papanya dengan brutal. Suara kecipak akibat adanya minyak disana bersautan dengan desahan indah Baekhyun.

"UWAHH! CHANHH-NYEOLLHH, yahh seperti itu! Ahh, ahh, lagi! Lagi, Chan! HNGAHHH-"

CROOTTT.

Cairan Baekhyun muncrat kemana-mana. Membasahi meja yang seharusnya dijadikan tempat makan itu. Meja yang kini berubah fungsi menjadi alas untuk 'memakan' Papanya sendiri.

Di sisi lain, Baekhyun berinisiatif membalikkan tubuhnya sendiri menjadi terlentang. Penisnya sudah memerah karena bangun dan cum dalam kondisi tergencet.

Seakan tak lelah, ia justru meratakan minyak di pahanya menuju penisnya yang masih setengah berdiri. Tangan lentiknya mengurut batangnya sendiri dengan sensual. Sesekali bola kembarnya ia remas-remas. Leher mendongak dengan bibir merah terbuka mengeluarkan desahan seksi.

"Come here, baby... Hhhh-suck your dick into my mouth, hnghh... Hardly..."

Chanyeol menggeram melihat pemandangan itu. Pemandangan Papanya yang tengah sibuk memuaskan dirinya sendiri. Mulut yang bekerja memanggil penisnya untuk masuk ke dalamnya.

Ia pun segera mendekat. Kepala Baekhyun telah mencondong di tepi meja. Mulut juga tebuka lebar siap menerima kesejatiannya untuk dikulum.

"Mmhh, Papa..." Chanyeol mendesah puas ketika penisnya telah masuk ke dalam mulut Papanya. Celana miliknya telah raup dan terlempar entah kemana.

Tangan berototnya mencengkeram rambut sang submisif, menyodok-nyodokkan penisnya agar masuk semakin dalam. Deepthroat.

Yang cukup untuk membuat Baekhyun kewalahan. Penis Chanyeol begitu besar mengisi mulutnya yang mungil.

Tangan si submisif tak lagi memainkan penisnya sendiri, melainkan telah berpindah untuk memelintir putingnya yang masih terbalut kaos. Membuat susunya mengalir membasahi bagian dada lelaki itu.

Chanyeol menatapi pemandangan di bawahnya dengan buas. Tangan kiri yang tak ia gunakan diulurkan untuk ikut menggenceti puting lain yang menganggur, berniat membuat kaos Papanya semakin basah oleh cairan susu yang meluber.

Setelah puas, ia meraih ponsel miliknya yang entah sejak kapan telah berada di atas salah satu kursi. Tangan dengan gesit memencet tombol kamera, lalu-KLIK. Rekaman pun dimulai.

"Grrhhh, Papa-Ahh... Mulutmu sangat... Mmhhh, hebat, Pa..."

Chanyeol menggeram nikmat selagi tangannya merekam sang Papa yang tengah memuaskannya. Tangan terus menjambaki rambut Baekhyun, lalu menyodokkan penisnya dengan semangat.

Ia memastikan semuanya terekam dengan baik oleh kamera ponselnya. Dimana Baekhyun, Papa tirinya, tengah mengulum kejantanannya, selagi jari memelintir puting miliknya sendiri hingga susunya membasahi kaos. Tak ketinggalan ia memberikan geraman penuh kepuasan, memamerkan betapa hangatnya mulut sang Papa.

"Urhh, Pa-I'm so close, ahh, ahh, yaahh sedikit lagihh... Hnghh-PAPAA!!"

CROOTTTT.

Chanyeol menarik kejantanannya hingga cairanya muncrat membasahi wajah Papanya yang cantik.

Tangannya masih setia merekam pemandangan erotis itu; wajah cantik yang kini dipenuhi oleh cairan miliknya.

Baekhyun tersenyum menggoda, tidak tahu jika dirinya sedari tadi tengah direkam. Ia justru mencolek cairan di pipinya dengan jari telunjuk. Yang kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya dan ia jilati layaknya es krim.

"Mm, enak~ Ehehehe~" Bahkan juga terkekeh menggemaskan, disaat tindakannya justru berbanding terbalik dengan wajah polosnya. Menyebabkan Chanyeol kian menggeram, merasakan nafsunya membuncah naik.

Tangannya mematikan rekaman dan membuang ponsel ke sembarang arah. Tubuh ia bawa menuju samping kiri meja, dimana tubuh Baekhyun telah terduduk sempurna setelah beberapa kali tergelincir karna bokongnya yang licin.

Kepalanya ia masukkan ke dalam kaos basah milik Papanya. Langsung menyedot dengan rakus susu sang Papa dari salah satu puting. Membuat pemiliknya mendesah nikmat.

SLURP. Hisap.

"Mmm-" Kenyot.

Lalu, sedot.

Dan hisap lagi.

Chanyeol mengulum dengan penuh nafsu puting susu milik Papanya. Memastikan kedua puting mendapat service yang sama rata. Termasuk banyaknya susu yang ia telan, Chanyeol juga memastikan jumlahnya sama antara bagian kanan dan kiri. Bermaksud agar dada tembam sang Papa tidak berat sebelah.

"Nnhh-Chanyeolh, pelan-pelan, Nak..." Tanpa sadar Baekhyun mendesah dan memanggilnya dengan nada keibuan.

Chanyeol yang memiliki fetish dan selera semacam 'itu' pun, semakin bersemangat mengerjai Papa tirinya.

"Mmhh, manis sekali, Pa-Chanyeol suka susu Papa..." Mulutnya meracau masih dengan puting di dalam mulut. Menstimulasi 'kismis merah' itu dengan getaran dari tenggorokannya. Layaknya tengah ditempeli dengan vibrator, Baekhyun mendesah semakin liar merasakan getaran di aerola putingnya.

Tangan lentiknya sudah memegangi kepala anaknya. Memastikan mereka semakin menempel pada dadanya, dan melahap habis tonjolan miliknya.

Tubuh Baekhyun semakin kelonjotan saat Chanyeol mengunyah putingnya di dalam mulut hangatnya. Kepalanya terlempar ke belakang ketika puting yang satu ikut dipelintir dan ditekan-tekan ke dalam.

Kenikmatan berlebih ini membuatnya tak sanggup menopang tubuh. Badannya mulai melonjak-lonjak ketika puting kirinya digigit dengan gigi depan sang dominan, kemudian ditarik ke depan bersamaan dengan puting kanan yang juga diperlakukan sama oleh jari tangan.

Kedua putingnya tertarik ke depan secara bebarengan. Kaosnya pun sudah dinaikkan, karena dirasa menganggu oleh yang lebih tinggi. Kini dada tembamnya sudah tersingkap dengan ujung kaos yang telah digigitnya.

"NYAAHH-Chanyeoool... J-jangan, nhh, ditarik, ahh!" Baekhyun menggeleng berulang kali berusaha menolak rasa sakit dan nikmat yang ditimbulkan.

Sementara yang dilarang justru masih asyik mengunyah puting Papanya. Kunyah, kunyah, lalu dijilat. Kemudian juga dijepit pelan oleh gigi, dan ditarik ke depan.

Puting yang menganggur pun tak dibiarkan begitu saja. Justru kini tengah dicubiti oleh jari telunjuk dan jempol sang dominan. Tak lupa ikut ditarik-tarik seperti satu yang lain. Menyebabkan susu yang terbuang menggenang di bawah pantatnya.

Setelah dirasa cukup, Chanyeol berhenti sejenak untuk melepaskan kaos yang tadinya masih digigit dan ditahan oleh Baekhyun. Kini, tubuh seputih porselen itu pun telah sepenuhnya telanjang.

Si dominan pergi sejenak untuk mengambil 'senjata'nya yang lain. Selagi pria itu pergi, Baekhyun yang merasa agak lemas berjalan pelan menuju jendela kaca besar yang terbuka lebar.

Bagian itu menampilkan pemandangan kota dari ketinggian 25meter. Kain yang melapisi kaca lupa ditutupnya, jadi ia berniat menutupnya agar cahaya yang masuk tak terlalu banyak.

Baru saja tangannya akan menarik kain gorden, namun geraknya telah dihentikan oleh sosok tinggi yang memeluknya dari belakang.

"You're so sexy without any shirt on, Pa... Pantatmu bergoyang indah ketika berjalan... Dan pinggul ini-" Tangan mengelus pinggul dengan sensual, "-hot as fuck." Jilatan di leher diberikan sebagai penutup.

"Hnghh, Chanyeolhh... Just eat me already... Ahh-"

Chanyeol mengulum telinga Baekhyun secara tiba-tiba. Tindakannya turut melemaskan tulang kaki pemiliknya hingga sepenuhnya menumpukan diri pada pelukan darinya.

Ia menjulurkan lidahnya untuk menjilati bagian itu. Menggoda titik sensitif Papanya dengan belah hangatnya.

Sapuan lidahnya pun turun menuju leher. Disesapnya bagian disana dengan rakus. Beberapa kali ia juga menggigit kecil demi meninggalkan bite-mark. Tak jarang mulutnya menyedot dengan kuat, hingga menyisakkan ruam merah yang indah.

Tangannya yang memeluk pinggul indah Papanya juga ikut menusuk-nusuk pusar disana. Menggerayangi bagian tubuh molek itu. Meraba apapun yang dapat dijangkaunya dalam remasan.

Baekhyun yang diberikan kenikmatan berlebih hanya bisa kelonjotan di tempatnya. Kaki berubah menjadi jelly hingga berpijak pun ia tak sanggup. Hanya mendesah lah yang mampu ia lakukan.

Tiba-tiba Chanyeol mendorongnya maju hingga tubuhnya semakin dekat dengan kaca balkon. Kedua tangannya pun digerakkan untuk menumpu disana. Pantatnya yang tak terbalut kain tanpa sengaja menabrak kejantanan Chanyeol yang juga tengah dalam keadaan serupa.

"Ermhh..." Chanyeol menggeram berbahaya. Yang langsung ditanggapi oleh otaknya, 'Sabar, Chanyeol, tahan... Mari bermain-main dulu dengan Papa.'

"Berikan aku sarapan dulu, Pa. Aku butuh tenaga untuk menghajarmu hingga malam." Chanyeol berbicara di samping telinga Baekhyun yang masih membelakanginya.

"S-sarapan apa?"

"Ini..." Ia menyodorkan beberapa lembar roti tawar ke hadapan Baekhyun. "Aku ingin makan roti ini dengan susu Papa. Pegangi rotinya." Roti di tangan kini telah berpindah ke tangan lain yang lebih mungil.

Tangan Chanyeol yang menganggur ia gunakan untuk menyentuh kedua puting Baekhyun yang sedari tadi menganggur.

Kedua puting itu ditoel-toel dengan jari telunjuk. Kemudian ia menambahkan jempol untuk mencubiti keduanya.

Telunjuk dan jempolnya ia gunakan untuk menggencet tonjolan tersebut. Air susu pun muncrat dan membasahi kaca di depan mereka.

"Ahh, Chanyeol-What are you doing... Nnhh..."

"Menyiapkan sarapanku, Pa. Hehehe." Kekehan polos Chanyeol sangat tidak sejalan dengan tangannya yang tengah mengerjai nipples Papa tirinya.

"Sekarang taruh rotinya di depan masing-masing puting Papa." Baekhyun hanya bisa menurut meski tidak paham. Tangan kanan dan kirinya masing-masing menangkup satu lembar roti di depan dada.

"Syuu, syuu~" Chanyeol bersenandung ria ketika air susu Papanya menyembur keluar dan mendarat di atas roti. Kedua tangannya tengah sibuk memenceti kedua puting Baekhyun yang membengkak. Sesekali menarik-narik mereka agar susu yang keluar dari sana semakin banyak.

Si pemilik puting pun menggelinjang liar di tempatnya. "NGAAHH-CHANYEOL!" Tangannya yang menggenggam roti ikut bergetar. Kepala mendongak merasakan tonjolan di dadanya tak hanya dipenceti agar air susunya keluar, tapi juga dipilin dan dimainkan hingga hanya desah kepuasan yang mampu teralun dari mulutnya.

Sesekali telunjuk Chanyeol akan menggaruki kedua nipples tembamnya. Dan juga kadang memutar-mutari aerolanya yang ranum, menggelitik hingga rasanya geli dengan nikmat yang mendominasi.

Syurr~ Air susu mengalir lancar membasahi kedua roti tawar. Chanyeol menggenceti puting susu disana layaknya tengah memeras susu dari sapi.

Tanpa henti pria itu memelintir puting membengkak Papanya dengan kuat. Membuat empunya lelah karna mendesah terlalu banyak.

"Hwahh! Ahh, c-cukup, Chan-This is too much, ngahh, hahh. Papa is going too-NYAAHH-"

CROOTTT. Baekhyun sampai klimaks saking nikmatnya permainan jari Chanyeol.

BRUK. Tubuhnya yang lemas menabrak kaca di depannya. Menumpukkan kepalanya pada kaca, selagi ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.

"Oh, Papa cum lagi?" Chanyeol bertanya kaget. Tangannya meraih roti yang telah basah oleh susu Papanya.

"Mmm... Susu Papa memang yang terbaik. Nyam~" Roti berlumurkan susu Baekhyun ia makan dengan lahap. Kecapannya terdengar sangat menikmati makanan manis yang terbuat khusus dari susu Papanya itu. Sebuah makanan limited-edition.

Setelah habis, ia menyelip di antara tubuh Papanya dan kaca balkon. Tanpa aba-aba meraup salah satu tonjolan ranum di dada tembam itu.

"Mmhhh... Not again, Yeolhh..."

Chanyeol menjauhkan bibirnya sejenak, "Aku haus, Pa." Setelahnya kembali mengenyot puting susu Papanya dengan rakus.

Kenyot. Sedot. Lalu telan.

GULP. Suara tegukannya benar bersaut-sautan dengan desahan Papanya.

Yang tengah mendesah pun hanya mampu menekan kepala anaknya agar semakin menempel di dadanya, memastikan putingnya terus dimanjakan oleh mulut hangat anaknya. Tindakan yang berbanding terbalik dengan pintanya tadi untuk berhenti.

Chanyeol jadi semakin bersemangat menyusu di dada Papanya. Lengannya yang kokoh telah menyangga Baekhyun untuk digendong ala koala. Posisi ia balik hingga punggung sang submisif menyentuh permukaan kaca di belakangnya.

Tangannya ia tarik salah satu. Meraih sesuatu dari saku bajunya.

"AKH! A-apa itu, Yeol?!" Baekhyun memekik terkejut saat sebuah benda menerobos memasuki lubangnya yang menganga.

"Vibrator." Chanyeol menyengir pada wajah sang Papa di hadapannya. Tangannya yang memegang remot benda itu langsung memencet tombol hard.

Baekhyun pun melonjak merasakan benda dalam lubang pantatnya bergetar dengan sangat kuat.

"AAHHH-" Lehernya menjulur ke atas saat benda itu menyentuh titik manisnya dalam getaran kencang. Menyundul-nyundul prostatnya yang membengkak tanpa ampun.

"Nhahh-Chanyeol! Ah, ahh, h-hentikan-Nnhh, please!"

"Huh, apa? Chanyeol tidak dengar." Pria itu dengan kurang ajarnya malah melepaskan gendongannya. Menurunkan tubuh Baekhyun hingga lelaki mungil itu merosot ke bawah karna kakinya yang melemas.

Tubuh mungilnya kini terduduk menyandar pada kaca balkon, kaki mengangkang lebar dengan tubuh terhentak beberapa kali. Memperlihatkan lubangnya yang berkedut dan telah terisi vibrator.

Bibirnya terus mendesah kuat merasakan getaran dalam lubangnya. Tangannya yang seakan tak bertulang ia gerakkan untuk mengambil vibrator disana. Namun, bukannya keluar, ia justru semakin menekan benda bergetar itu untuk masuk ke dalam, kian kuat menyerang titik manisnya.

Baekhyun yang masih sensitif langsung mendapatkan klimaksnya lagi. Tubuhnya membusur dengan pinggul yang naik, membiarkan penis mungilnya mengucurkan sperma layaknya air mancur.

"Huh, lagi-lagi Papa 'datang'?" Chanyeol yang entah sejak kapan pergi, kini telah kembali dengan sedikit mengomentari Papanya. Di tangan pria itu terdapat apron dengan warna soft-pink.

Baekhyun pun ia tarik agar berdiri membelakanginya. Segera saja ia pakaikan apron lucu itu di badan seksi Papanya, tak mempedulikan rengekan lelaki mungil itu agar memberhentikan vibrator yang masih saja bergetar.

Setelahnya ia menjauh sejenak, menatapi pemandangan Papanya yang sangat seksi.

Tubuh mungil-namun-sintal itu terbalut apron pink, sementara penis merahnya tengah mengacung lucu. Papanya juga sedang menggeliat sambil berdiri, merapat-rapatkan pahanya dengan sesekali melonjak ketika titik kejutnya tersentuh vibrator.

Tangan lelaki itu naik. Jarinya ia gigiti. Mata menatap sayu pada sang anak selagi lidahnya terulur untuk menjilati jarinya sendiri.

"Sialan, Pa. Papa terlihat seperti bintang porno paling cantik yang pernah ku lihat."

KLIK. Tombol merekam ia matikan. Sedari tadi dia memang mengabadikan pemandangan Papanya yang seksi, tak heran jika lelaki itu justru berpose mengundang ketika tahu ia direkam.

What a naughty bitch.

'And that's my beloved Papa.' Dalam hati, Chanyeol melanjutkan.

Sang dominan mampu merasakan batangnya kian mengeras di bawah sana. Ia pun segera menyerang Papanya dalam ciuman tergesa. Sedikit mendorongnya dan menekan punggung lelaki itu pada kaca.

Selagi bibirnya melumat habis bibir manis milik Papanya, jarinya ia bawa untuk menusuk-nusuk lubang yang berisikan vibrator. Ia menekan benda bergetar itu hingga semakin masuk dan menyentuh telak titik manis sang submisif.

"Ngaahh-" Ciuman terlepas dengan desahan Papanya yang mengalun merdu.

Tubuh molek itu dibalik, menghadap kaca, lalu-BLES. Kesejatian Chanyeol pun tertanam sempurna di dalam sana.

Chanyeol mendesis merasakan penisnya dihimpit oleh dinding rektum Baekhyun. Kepala penisnya juga ikut merasakan getaran yang dihasilkan oleh vibrator disana.

Keduanya pun menggeram nikmat.

Baekhyun mulai menunggingkan pantatnya. Kedua tangan menumpu pada kaca, selagi anaknya mulai menggenjot dengan perlahan.

"Ugh... Percepat, Yeolhh-Papa sudah tidak tahan..."

"As your wish, my pretty Papa."

CLOK. CLOK. CLOK.

Chanyeol menyodok dengan semangat lubang bersarangkan vibrator itu. Kepuasan ganda yang ia dapatkan menjadikan sodokannya begitu pas menekan titik manis Papanya, menyebabkan desahan lelaki itu kian vokal.

"UWAAH! Hahh-C-chanyeol, nghh, t-terus, rrrh..."

"Grrhh-PAPA! Mhh, nhh..."

Desahan keduanya bersaut-sautan. Mengalun bersama suara penyatuan mereka yang semakin kencang.

PLAK.

Tamparan kencang ia berikan di pantat, sementara pinggulnya sibuk menyodok Papanya yang tengah menungging.

Tangan kanannya menggapai penis mungil yang menggantung pasrah. Ia mengurut batang itu yang telah licin oleh minyak yang masih tersisa. Sedang tangannya yang lain ikut meremasi bola kembar Papanya yang bergelantungan.

"NYAAHH-AHHH..."

Baekhyun pun datang tak lama setelahnya. Tubuhnya menggelepar dengan desah kepuasan yang melolong keras.

Badannya terasa benar-benar kehilangan tulang setelah beberapa kali mengucurkan sperma. Chanyeol pun menyangganya dengan kedua tangan.

Tanpa melepas tautan keduanya, tubuh mungil berbalut apron itu ia gendong ala koala. Bermaksud membawa tubuh mereka menuju kamarnya.

Pintu terbuka dan pemandangan di dalam kamar pun akhirnya mampu terjangkau oleh mata sabit Baekhyun.

Tubuh berbalutkan keringatnya mendarat di kasur dengan posisi ia menduduki paha anaknya yang terbaring.

Matanya yang berkabut pun membola saat menatapi satu per satu pajangan di dinding kamar Chanyeol.

"Chanyeol..."

Dapat dilihatnya seluruh dinding tertutupi potongan kertas dari berbagai macam ukuran. Kertas-kertas itu berhiaskan lukisan pensil dirinya dengan berbagai pose dan aksesoris 'aneh'.

Kertas yang paling besar berlukiskan foto dirinya dan Chanyeol tengah melakukan shower-sex dengan posisi doggy-style.

Ada juga foto dirinya tengah diikat tangannya, kedua kaki mengangkang di atas kasur, dan mulut tersumpal kain layaknya korban penculikan.

"Hehehe. Chanyeol suka sekali menggambar Papa berpose seperti dalam imajinasiku. Tapi ini baru 4 pose yang terlaksana, masih ada 61 pose lagi yang perlu kita lakukan, Pa. So prepare yourself."

Baekhyun melotot galak pada remaja di bawahnya. "Dasar mesum! Mesum, mesum, mesum! Chanyeol mesum!" Mulutnya mengomel selagi tangan memukul-mukul manja dada bidang sang dominan.

"AHH-" Omelannya tergantikan oleh desahan, ketika Chanyeol menggerakkan pinggulnya dan membuat vibrator mengenai prostat sang submisif.

"It's your turn to satisfying me, Pa. Maka, bergeraklah."

Mendengar deep voice itu, Baekhyun segera melaksanakan perintah yang terdengar. Tubuh mulai bergerak naik turun mencari kepuasannya sendiri.

Desahannya menguar selagi pinggul seksinya bergerak mencari kenikmatan. Vibrator yang terus bergetar sedari tadi membuatnya kelimpungan. Baekhyun merasa ia bisa datang kapan saja.

Chanyeol yang paham pun segera menutup lubang di ujung penis si kecil. Mencegah pemiliknya datang dengan mudah.

"Nghh, j-jangan ditutup! Ahh, mhh-"

"Let's come together, Pa. Ghrahh-Chanyeol juga, nghh, s-semakin dekat... AHH..."

PLOK. PLOK. PLOK.

Tangannya yang menganggur ia bawa naik menggapai puting tembam Papanya. Chanyeol menjepitnya dengan kedua jari, lalu memelintir mereka secara begantian untuk setelahnya ditariki.

PLOK. PLOK. PLOK.

Susu yang keluar dari sana ia colek sedikit, demi membasahi jarinya. Telunjuknya yang basah pun memutari aerola puting susu Baekhyun. Menggaruk bagian itu dan menggelitikinya hingga semakin merah.

"NNHHH-CHANYEOL, AHHH..."

PLOK. PLOK. PLOK.

Chanyeol menariki putingnya, membuat air susu Baekhyun mengalir keluar layaknya air keran. Mulut sang dominan pun membuka demi menampung cairan manis itu di dalam mulutnya.

"NGHH, PAA-" Gulp. Gulp.

"Ahh-Chanyeol, grhh, h-hampir sampai!"

Pria itu pun membantu pergerakan Baekhyun dari bawah. Pinggulnya naik demi menanamkan penisnya semakin jauh ke dalam lubang hangat Papanya.

PLOK. PLOK. PLOK. PLOK. PLOK.

"MMHHH-AAHH! Terus, Chanhh! Lebih cepaatt-NGAAHH, CHANYEOOLLL!"

"PAPAA-"

CROOOT! CROOTT!

Cairan keduanya pun menyembur deras. Yang satu menyembur ke dalam rahim sang Papa, sedang satunya membasahi dada bidang anaknya.

Tubuh Baekhyun ambruk menimpa Chanyeol. Tangan kokoh pria itu pun langsung memeluk posesif. Memenjarakan tubuh mungil Papanya dengan kedua lengan bertatonya.

Mereka mengatur nafas bersama. Dada yang bertemu pun naik turun dalam satu alunan serasi.

"Nghh-ahh..."

"Kenapa, Pa?"

"Vibratornya masih bergetar, nghh... Tolong keluarkan, Yeol. Mmhh, jari Papa tidak bisa menjangkaunya..."

"Biarkan saja. Kan Chanyeol sudah bilang kalau mau menghajar Papa sampai malam."

Baekhyun mendongak mendengarnya. Mata menatap datar anaknya yang memasang wajah polos.

"Apa?"

"Aku lupa kalau anakku ini mesumnya tidak bisa dinalar dengan otak."

"HAHAHAHA-"

Chanyeol membuka ponselnya. Mencari kontak dengan nama 'Ayah' disana. Setelah ketemu, ia pun mengirimkan sebuah video dengan tulisan, 'Lubang Papa memang yang terbaik, ya, Yah.'

Bibirnya menyeringai ketika pernyataan bahwa pesannya telah terkirim muncul.

Ponsel tersebut ia lembar ke atas kasur. Tubuh beranjak untuk keluar, berniat 'memakan' tubuh molek Papanya lagi dan lagi.

3 jam pun tanpa sadar terlewat hingga ia kembali menuju kamarnya. Ponselnya yang lain menyala dengan pemberitahuan bahwa ada ratusan telepon yang masuk. Salah satunya adalah yang tengah diangkatnya kini.

"Halo?"

'Halo, Tuan Muda. Ini saya Sekretaris Lee. Saya ingin memberitahukan bahwa Ayah Anda terkena serangan jantung dan sekarang tengah diperiksa oleh Dokter-"

"Segera kabari saya kalau dokter sudah selesai memeriksa. Semoga Ayah cepat sembuh-"

PIP.

"...dan tenang di alam lain. Hahahaha."