Disclaimer : Not mine, if it's mine – the characters won't be habitually dying. Hajime Isayama is still responsible for the amazing characters and worldbuilding - and the rights to the profits.
Reverence :
In ballet, reverence is the last exercise in class. It's usually done with a bow and curtsy – as a respect to the teacher and accompanist. It can also be done on stage as a respect to other dancers, the audience, or even the art form itself.
A Shingeki no Ballet AU
Warnings : AU, kosakata ballet bertebaran di sana-sini, pairing masih ambigu, jalan cerita masih ambigu, Hanji's gender is interpreted as female, a few character height adjustment.
Nada piano terdengar dari dalam salah satu studio yang umum digunakan latihan oleh penari-penari dari Royal Ballet*. Dua orang penari, keduanya berambut pirang dan berpostur cukup mungil sedang berlatih dalam studio tersebut. Tentu diawasi dengan tajam oleh dua orang ballet master* dan choreographer* dari company tersebut. Ini adalah Royal Ballet, tuntutan di sini adalah penampilan yang sempurna. Bahkan untuk piece* pendek selama tiga menit, semuanya harus sempurna.
Levi Ackerman, 40 tahun. Berambut hitam dan berkulit pucat. Perfeksionis luar biasa, oleh karena itu ia berhasil menjadi salah satu ballet master terkemuka di institusi tersebut. Netra kelabunya mengikuti pergerakan kedua penari yang sedang menari Rubies* Pas De Deux* dari Jewels karya Balanchine*. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, tidak ada yang luput dari pengamatannya. Semua gerakan harus tepat. Di sampingnya, seorang wanita dengan rambut cokelat panjangnya yang diikat turut mengawasi kedua penari tersebut dari balik kacamatanya. Hange Zoe, resident choreographer* dari Royal Ballet.
"Okay, tahan pada posisi tadi. Lanjut. Good! Armin, balance! Annie – lebih tinggi. More energy. Okay, good!" komentar Hange bersemangat pada keduanya.
Tarian berlanjut. Dari posisi sebelumnya, Annie lalu berdiri tegak dan lanjut melakukan gerakan en cloche - menendang luar biasa tinggi sambil berpegangan pada partner tarinya, Armin. Setelah itu, sang ballerina menjatuhkan diri, membiarkan dirinya ditangkap oleh partnernya. Dengan posisi tersebut, keduanya menari selaras untuk beberapa hitungan. Lalu kembali berdiri en pointe*, satu kaki dinaikkan pada posisi retire – kaki ditekuk dengan ujung jari ditempelkan di depan lutut kaki lainnya.
Tempo piano accompaniment* dipercepat. Gerakan pirouette. Dimulai dari si penari pria, berputar dua kali pada porosnya. Lalu si penari wanita berputar ke arah sang penari pria, berputar sekali lagi dan berakhir mengangkat kaki pada posisi attitude derierre - kaki diangkat dan ditekuk 90 derajat ke arah belakang.
"Lutut tetap naik saat pirouette" Instruksi Levi.
"Armin, waktu kau persis di sebelah Annie – releve - ayo, berjinjit, jangan lupa!" perintah Hange.
Musik melambat, Annie harus bertahan pada posisinya –arabesque penche en pointe- berdiri di ujung jari kaki sementara kaki belakang diangkat seratus delapan puluh derajat, seperti dalam posisi split vertikal dengan tubuh mengarah ke depan, sementara Armin harus bergerak mengitarinya. Satu putaran. Keduanya kembali berdiri, berjinjit – lalu melangkah kecil di tempat – bourree. Melangkah, bergerak mengikuti irama piano yang ada. Dan kembali ke gerakan berputar, kali ini pirouette en attitude. Salah satu gerakan paling sulit dalam ballet. Berputar dengan keadaan kaki diangkat ke belakang dan ditekuk 90 derajat.
Keduanya lalu melangkah mengikuti iringan musik. Extension – kaki ditarik ke depan, panjang, namun dipatahkan dengan posisi telapak kaki yang ditekuk flexed seperti layaknya normal alih-alih meruncing pointe atau demi pointe seperti tarian ballet pada umumnya.
Rubies adalah koreografi yang sangat menantang fisik penarinya. Splits, lompatan, footwork dan langkah lincah di atas panggung. Keduanya melompat ke posisi arabesque – kaki lurus ke belakang dan terangkat tinggi. Lalu melompat lagi saat piano berdenting sebelum mengambil ancang-ancang untuk berputar.
"Okay... Annie, Armin. Stop." suara tegas Levi memecah suara piano di studio yang putih bersih. Dua orang penari pirang yang bergerak di tengah studio itu pun berhenti. Tanpa perlu diinstruksikan, keduanya berjalan dari tengah studio ke depan cermin, di mana Levi dan Hange sedari tadi mengawasi mereka.
"Kami masih banyak salah ya?" tanya Armin. Levi menggeleng.
"Secara teknis, kalian sempurna," komentar Hange "Tapi ini memang tantangan untuk kalian sih – apalagi penari lain yang menarikan pas de deux lainnya adalah Sasha Brauss dan Connie Springer."
"Kalau mereka sih, teknis mereka lebih parah dibandingkan kalian…" potong Levi.
"Tapi Rubies, selain didominasi piece allegro* yang memang kau kuasai, Annie – tarian ini juga pasti sangat menantang untukmu karena inti dari piece ini adalah kalian harus bersenang-senang. Kalian harus terlihat enjoy saat menarikannya. Bukan hanya teknis dan kekuatan yang harus sempurna, energi kalian harus muncul pada penonton saat menarikannya," pesan Hange "Lupakan bahwa kalian harus terlihat sempurna seperti tarian klasik pada umumnya. Kami tahu kalian bisa menari dengan teknik yang sempurna – kalau tidak, tidak mungkin kalian ada di sini. Tapi untuk semua tarian Balanchine, yang paling penting adalah musiknya. Mood-nya, musiknya, semua selaras."
"Baik, untuk bagian di mana kalian menari sendiri-sendiri, Armin kau berlatih di sisi sini bersamaku. Annie, kau ikut Hange ke sisi kanan studio, kalian berdua berlatih di sana. Setelahnya nanti baru kita satukan, lalu ulang dari awal," perintah Levi. Kedua penari pirang itu mengangguk dan bergerak mengikuti instruksi dari Levi.
"Kau ingat waktu terakhir menari pas de quatre* di piece contemporary* dengan Mikasa, Sasha, dan Pieck? Waktu itu kalian menari dengan musik yang sedikit berirama jazz kan? Let loose, Annie. Jangan terlalu kaku, lupakan sejenak perfeksionisme klasikmu saat menarikan Rubies. Kalau kau mencoba sempurna pada tarian ini, hasilnya tidak akan sempurna," dari sisi lain studio, telinga Levi menangkap komentar Hange pada tarian Annie.
Levi melirik dari sudut matanya. Ia masih harus mengawasi Armin menari, tentunya. Ia dan Hange sudah berhenti menjadi penari professional sekitar beberapa tahun yang lalu - tapi ada satu memori yang tidak mungkin ia lupakan dari karir tarinya.
Koreografi contemporary Hange. Di mana mereka berdua menari berpasangan. Sinting memang.
Dengan tinggi 167 cm - Levi tergolong pendek untuk ukuran pria. Ia beruntung keahlian menarinya dianggap "luar biasa" sehingga ia berhasil menjadi bagian dari Royal Ballet. Seumur hidup, partnernya selalu penari-penari berpostur mungil seperti Isabel Magnolia atau Petra Ral untuk repertoire* klasik seperti Blue Bird pas de deux atau Dance of the Sugarplum Fairy.
Sementara tinggi Hange saja 172 cm. Apalagi Hange ditambah pointe shoes. Untuk tarian kontemporersinting itu ia SENGAJA meminta Levi untuk menari dengannya.
"Leeeeeeviiiii~~~!"
Aduh. Suara itu. Levi yang tengah melakukan rutinitas stretching paginya menoleh, sudah mengira pasti ada Hange dengan kacamata dan rambut cokelatnya yang diikat berantakan. Hange berlari-lari dengan penuh semangat ke arah Levi yang masih melakukan posisi split di atas matras. Seperti Levi, ia mengenakan warm-up suit dan boots untuk menjaganya tetap hangat di dalam studio yang dingin.
"Ada apa mata-empat? Kalau mau berlatih di studio setidaknya tata rambutmu dengan benar. Kau ini, sudah berapa tahun jadi company artist*, tetap saja..."
"Dasar Levi, tidak seru..." Hange menghela napas sebelum mengeluarkan sisir, hair net, bobby pins dan ikat rambutnya. Ia mengurai rambut cokelat panjangnya sebelum mengikatnya kembali, lalu menatanya menjadi cepol rapi dan menyelipkan bobby pins pada helai-helai anak rambut yang keluar dari cepolnya.
"Jadi apa yang membuatmu heboh di pagi hari begini? Sampai lupa aturan studio segala..." tanya Levi.
Mata cokelat Hange berbinar-binar di balik kacamatanya.
"Darius Zackly akhirnya menyetujui koreografiku! Piece yang kurancang selama ini akan ditampilkan, Levi! Itu kenapa aku semangat sekali untuk berlatih pagi ini!" celotehnya, melepas atasan tracksuitnya. Tentu ia sudah mengenakan leotard di dalamnya.
Levi mengangguk. Sudah beberapa bulan belakangan ini Hange seperti kelebihan adrenalin apabila menceritakan tentang progress (pengajuan) piece tersebut kepada Levi, namun tiap ditanya oleh Levi tentang apa atau bagaimana wujud koreografinya, ironisnya selalu dijawab dengan "Ra-ha-si-a!"
"That's good. Solo?"
"Ra-ha-si-a! Levi... Sekarang temani aku pemanasan di barre* dulu yuk?"
Nah. Persis seperti itu. Apa-apaan, kenapa dia seantusias itu menceritakan progress piecenya apabila ia bersikukuh untuk merahasiakannya dari Levi. Hange lalu bergerak menyalakan speaker di studio dan menyambungkannya dengan bluetooth audio dari ponselnya. Hanya mereka berdua yang berlatih sepagi ini. Levi karena dia terlalu rajin (dan studio adalah satu-satunya tempat di mana Levi bisa meluapkan segala emosinya - baik itu senang maupun sedih. Juga sepertinya Levi masih belum bisa sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Isabel dan Farlan memutuskan untuk pindah ke New York bulan lalu), dan Hange untuk persiapan piecenya. Hanya mereka berdua di ruangan besar bercat putih dengan lantai mengkilap itu. Keduanya bergerak menuju barre kayu yang menempel pada cermin, memulai dengan plié, lalu tendus, dan battement. Mengikuti irama musik piano yang mereka bahkan sudah hafal di luar kepala setiap nadanya. Punggung tegak, leher terangkat, extension sampai ke seluruh ujung jari tangan dan kaki. Tangan berpegang pada barre, waktunya menyempurnakan detail setiap gerakan mereka. Lakukan satu sisi, lalu ulang di sisi lainnya. Kanan dan kiri.
Dua puluh lima menit. Untuk siapapun yang mengobservasi dari luar, jelas keduanya adalah penari top di Royal Ballet. Bahkan hanya untuk sebuah latihan sederhana, keduanya terlihat selaras, tidak ada satupun gerakan yang keluar dari irama.
"Piece-ku ini tari berpasangan. Oh, aku akan menarikannya juga," ujar Hange. Menjawab pertanyaan Levi hampir setengah jam yang lalu.
"Hm. Lalu di mana Moblit?" tanya Levi, mencari -cari sosok pemuda jangkung pemalu yang langganan menjadi pasangan pas de deux Hange di atas panggung.
Mata cokelat itu masih berkilat-kilat jahil di balik kacamata.
"Kau pikir Zackly akan meragukan koreografiku kalau aku memilih untuk menarikannya dengan Moblit?"
"Lalu kau akan menari dengan siapa? Erwin? atau Mike?"
Meskipun tidak sesering Moblit, keduanya pernah beberapa kali tampil pas de deux dengan Hange. Dengan postur tubuhnya, umumnya koreografer memilih penari yang tingginya bisa menyamai (atau minimal, masih terlihat serasi) dengan tinggi Hange saat berdiri en pointe.
"Apa kau melihat penari lain di studio ini selain kita berdua?" tanyanya. Oh Tuhan...
"Tch. Jangan gila kamu..."
"Levi! Ini piece contemporary! Aku bisa bereksplorasi dong!" protes Hange "Meskipun aku tahu Zackly cukup tradisional, tapi akhirnya demo*-ku disetujui! Pleaaaase, kamu mau ya, Levi?" bujuknya. Binar di mata cerdas itu sekilas berubah seperti tatapan anak anjing yang minta dikasihani. Sayangnya, Levi sudah hafal dengan semua taktik licik dan bujuk rayu Hange Zoe. Tapi sayangnya juga, Levi beberapa kali (penekanan pada kata beberapa - TIDAK semuanya) jatuh pada perangkap tersebut.
"Siapa anak yang cukup gila untuk kau ajak menarikan demo-mu?" pertanyaaan sarkastis yang diinterpretasikan sebagai rasa penasaran - dan satu langkah lagi menuju setuju dari Levi Ackerman.
"Armin Arlert," jawab Hange singkat "Kau bisa melihat video demonya di sini." Ia menyerahkan ponselnya kepada Levi.
Armin Arlert. Levi ingat anak itu. Salah satu lulusan terbaik Royal Ballet School. Berambut pirang, bermata biru, dan berpostur cukup kecil seperti Levi (meskipun Armin sedikit lebih tinggi, 173 cm - Levi berdecih dalam hati). Namun dengan musikalitas dan interpretasi koreografi yang luar biasa. Jadi anak ini yang beberapa kali dikerjai Hange pada saat kelas contemporary untuk company artist.
Sementara Levi mencari video yang dimaksud, dari cermin ia menangkap Hange melepas ballet flats*nya dan mengeluarkan pointe shoes.
"HEH MATA EMPAT! Katamu ini piece contemporary?"
"Memang kok. Kau belum melihat videonya ya? Kan aku menari en pointe?"
"Kau menari en pointe* dengan Arlert?!"
"Tema dari koreografiku adalah bias Levi. Terutama yang aku eksplorasikan disini adalah bias gender. Kau tahu sendiri bagaimana ballet adalah tari yang sangat terpaku pada gender roles. Ballerina harus terlihat anggun, lemah lembut, dan cantik di atas panggung. Sementara danseur harus terlihat seperti layaknya ksatria yang kuat dan gagah. Belum lagi cerita-cerita ballet klasik yang sangat terpaku pada dongeng zaman dulu yang bertema romansa antara putri dan pangeran. Padahal kau tahu sendiri bahwa untuk mencapai posisi sebagai penari di Royal Ballet itu bukan seperti sihir pada dongeng-dongeng kan? Kita semua -laki-laki maupun perempuan- bekerja sama kerasnya dan berlatih sama kerasnya. Oke, dongeng peri seperti itu memang menyenangkan untuk ditonton dan memberikan nostalgia sesekali - dan semua aspek koreografinya pun sempurna dari berpuluh bahkan ratusan tahun pengembangan dan penyempurnaan, tapi ayolah - aku ingin orang berpikir sesuatu dari tarianku - atau minimal merasakan 'Ah, ya, ini yang aku rasakan selama ini'" Hange bermonolog - melepaskan apa yang sudah berminggu-minggu ini ada di dalam pikirannya.
"Oleh karena itu - aku mengambil juga elemen paling dikenal orang dari ballet -pointe shoes- dan menggunakannya pada piece ku kali ini. Aku ingin mengeksplor 'bias' orang dalam tarianku!" ujarnya berapi-api.
"Kau memang punya niat untuk dipecat oleh Zackly sih..." balas Levi, namun jemarinya menekan tombol play pada video demo koreografi tersebut.
Yang tidak Levi ketahui, dua tahun setelah penampilan koreografi tersebut, ia mengalami kecelakaan yang menyebabkannya harus beristirahat dari menari secara profesional. Levi memutuskan berhenti sekalian, entahlah kapan ia kembali ke panggung lagi. Mungkin suatu saat nanti. Ia masih bisa mengajar para company artist - bakatnya teralu besar untuk disia-siakan begitu saja. Dua tahun berikutnya, Hange mundur dari posisinya sebagai principal artist - di puncak karirnya pada usia 32 tahun untuk menjadi koreografer purna waktu. Alasannya : Ia lebih tertarik menata apa yang terjadi di balik panggung.
Glossarium Ballet
Berikut istilah-istilah ballet untuk yang ingin belajar atau ingin lebih nyambung dengan apa-apa yang dibicarakan para karakter di ceritanya.
(aku tega banget AruAni aku kasih Rubies (mereka lebih cocok Emerald kayaknya) by the way, biarin aja anggap ini challenge buat mereka – kalo penasaran tarian yang mereka tariin itu kayak gimana – bisa dicari di youtube dengan keyword : Rubies Pas De Deux Royal Ballet - mana penari lainnya Springles pula. :"D sabar ya kalian berdua)
1. Royal Ballet : Salah satu company ballet terbaik di dunia – basenya di London, Inggris.
2. Ballet Master : Orang yang bertugas melatih para penari di company
3. Choreographer : Penata tari atau orang yang merancang sebuah tarian yang akan ditampilkan
4. Piece : Tarian atau koreografi yang ditampilkan
5. Rubies : Salah satu rangkaian dari tarian ballet Jewels yang dikoreografi oleh George Balanchine – koreografer ballet terkenal di tahun 1900-an
6. Pas de deux : Tarian berpasangan laki-laki dan perempuan
7. En pointe : Menari dengan pointe shoes (sepatu khusus yang memungkinkan ballerina untuk berdiri di ujung jari kaki) – umumnya hanya dilakukan oleh penari wanita.
8. Accompaniment : Musik (bisa live piano, bisa tidak) yang dimainkan saat menari
9. Allegro : Tarian dengan tempo cepat, biasanya banyak footwork dan lompatan
10. Pas de Quatre : Tarian yang ditarikan berempat (Ballet itu diformalkan dengan bahasa Prancis, jadi deux = dua, troix = tiga, quatre = empat,dsb.)
11. Contemporary : Satu bentuk tarian yang "mendobrak" aturan dari ballet klasik yang benar-benar strict, tetapi masih menggunakan elemen-elemen dari ballet.
12. Repertoire : Bagian dari sebuah tarian atau tarian yang ditampilkan.
13. Company Artist : Penari yang secara formal menjadi bagian dari sebuah company
14. Barre : Palang horizontal tempat penari ballet berpegangan untuk melakukan barre exercise sebagai bagian dari latihan atau pemanasan sebelum berlatih tarian
15. Demo : Koreografi contoh yang ditarikan, belum ditampilkan secara resmi.
16. Ballet flats : Sepatu kanvas yang digunakan oleh penari wanita (untuk latihan) dan penari pria (untuk latihan dan tampil)
Hello, back with Nana here :3
Kali ini bukannya ngelanjutin Atelier-verse (lah, kan oneshot? Emang mau nambah?) malah ngide bikin universe satu lagi. Ballet-verse. Kenapa ballet? Karena saya suka nari. Plus, ballet – kalau yang benar-benar serius seperti Royal Ballet atau Bolshoi Theatre di Rusia, itu pelatihannya gila-gilaan, disiplin dan benar-benar menguras fisik dan mental kayak militer. Di studio aja harus disiplin, penampilan nggak boleh sembarangan, rambut harus dicepol rapi, harus pakai leotard yang bener. Sementara karakter-karakter AOT kan personil militer. Ya udah cocok. Udah gitu aja.
Terima kasih sudah baca fic ambigu ini. Ambigu karena, entah disini mau dilanjutin apa nggak :"D yang penting jeblukin (?) aja dulu. Kalo ada komentar, ide atau pendapat, silakan tulis di review ya – nanti aku akan balas kalau nggak sibuk
With love,
Nana
elliptical29
