naruto © masashi kishimoto. the writer claims that there is no material profit taken in the making.

.

.

.

i.

Dalam kegelapan segelnya, Sasuke bisa merasakan Sakura. Pengunjung tetap yang punya caranya sendiri untuk menangani Sasuke; yang sekarang dibuat buta, lengannya tak utuh, dan terikat dalam penjara bersegel. Sasuke telah terlatih untuk menggunakan indera lain dalam merasakan, dia tahu hawa yang Sakura bawa berbeda. Ia hangat, tetapi bukan matahari. Ia adalah musim semi dengan cahaya dan semilir angin, wangi bunga yang ramah dan melingkupi dengan kenyamanan.

Sakura akan bertanya tentang tangannya, tubuhnya, apakah ada infeksi yang dia rasakan, dan Sasuke selalu menjawab singkat. Bukan untuk mengusirnya, tetapi Sasuke semata-mata telah menyerah. Gadis di hadapannya punya terlalu banyak cinta dan dia tak bisa membendungnya.

Ini adalah masa ketika kegelapan kalah oleh cinta.

(Sentuhan Sakura hangat pada lengannya, dadanya, wajahnya, dan hatinya.)

(Apakah aku pantas mendapatkannya?)

.

ii.

Segel matanya dibuka, segel penjaranya dibebaskan, rantai pada tubuhnya dilepaskan. Kakashi dan Naruto adalah penjamin, dan Sasuke memandang tangannya ketika udara bebas menyapa kulitnya.

Tidak ada yang dia rasakan. Hampa, terutama pada tangan kirinya yang tak lagi utuh. Dia bernapas tetapi menemukan bahwa udara bebas masih asing untuk tubuhnya.

Sakura memeriksanya setelah matanya dibuka, dia dibawa ke ruangan khusus di rumah sakit; hanya ada dirinya dan Sakura di sana sebagai satu-satunya dokter yang diperbolehkan untuk menyentuhnya (dan dia bersyukur atas itu—dia tidak ingin disentuh siapapun yang tidak dia kenal).

"Matamu bagaimana? Tidak ada rasa sakit yang mengganggu?"

"Hn."

"Dari skala satu sampai sepuluh, bagaimana rasa nyerinya?"

Sasuke mengerjapkan mata. "Tiga."

"Baik." Sakura mencatat sesuatu di kertas, satu bagian dari bundel tebal yang Sasuke yakin berisi rekaman detil dari kunjungan pertama hingga terakhir Sakura di penjara. Segala bagian tubuhnya dan reaksi yang terjadi tercatat di sana, dia tahu seberapa mendetail Sakura merinci semuanya. Ia perempuan cerdas, ia akan merekam semuanya dengan baik.

"Bagaimana dengan skala nyeri pada tangan kirimu?"

Sasuke mengembuskan napas yang tidak dia sadari ditahannya. "Lima."

"Baik. Terima kasih." Sakura mencatat di kolom terbawah, dan tampaknya membubuhkan tanda tangannya di ujung kertas.

Ada keheningan yang membuat Sasuke hampa. Limbo. Seperti kilasan ruang kosong yang terasa ketika dia berpindah dimensi. Selalu ada sensasi tusukan yang seringkali bisa dia abaikan ketika berpindah dengan Rinnegan, dan terasa lagi saat ini. Bedanya hanyalah kali ini dia tak bisa mengabaikannya.

Sakura hampir memegang tangannya, tetapi kembali menarik tangannya. Ia menelan ludah, senyuman ragunya membuat Sasuke tak nyaman. Apa yang kuperbuat? Dia sangat tidak suka meragukan dirinya sebelum ini, tetapi untuk kali ini, dia mencoba menyerah pada situasi. Menyerah dan menerima dirinya sendiri. Menyerah pada reaksi yang tubuhnya berikan setiap kali berinteraksi dengan orang yang sebelumnya dia batasi dengan dinding-dinding tertentu. Dia sudah melakukannya pada Naruto, dan secara perlahan, nyaris tanpa dia sadari, pada Sakura.

"Sasuke-kun." Senyumnya terangkat sedikit. "Kau bebas." Bibirnya gemetar untuk kata-kata berikutnya yang tak bisa ia keluarkan. "Sekarang apa yang akan kaulakukan?"

Sasuke melempar pandangan ke arah jendela. "Aku belum tahu."

"Kau perlu waktu untuk berpikir, aku mengerti." Sakura berdiri, menaruh papan berisi catatan rekam medis Sasuke ke atas meja. Ia mengitari meja untuk membuka lacinya, menemukan sesuatu dengan mudah. Sasuke sadar sejak awal ini pasti ruangan miliknya.

Sebuah bungkusan kain dibawa Sakura untuknya. Kedua tangan Sakura meraih tangan kanannya, menaruh bungkusan itu di telapak tangan Sasuke. Tangan itu lembut, tangan yang telah menyelamatkan banyak nyawa, tangan seorang dokter yang ramah dan penuh dengan aura kehidupan. "Apapun yang kauputuskan setelah ini, yang terpenting adalah ketenangan dan kebahagiaan dirimu, Sasuke-kun."

Sakura menutup tangan Sasuke, bungkusan kain itu terasa kasar dibandingkan sentuhan Sakura yang telah meninggalkan tangannya. "Mungkin kau membutuhkan ini. Rebus saja seperti membuat teh, ini akan menenangkanmu. Tentu saja, kau bisa bercerita pada seseorang yang kaupercayai mengenai apa yang kaurasakan, tetapi jika kau butuh ketenangan sendiri, minum saja."

Sasuke membuka genggaman tangannya dan memandang benda tersebut. Sakura tersenyum padanya, mengangguk untuk meyakinkannya.

"Terima kasih, Sakura ..."

Tawa kecil perempuan itu membuat hati Sasuke mencelus. Apa aku pantas mendapatkannya? Dan ia berkelakar ringan, "Jangan bilang cuma itu perbendaharaan kata yang kaupunya sekarang, Sasuke-kun. Bisa coba kata-kata lain lagi?"

Sasuke tidak bisa menahan diri untuk menarik sudut bibirnya. Sakura tidak melewatkannya. Senyum yang perempuan itu berikan setelahnya berbeda.

"Kalau kau memerlukan seseorang, kautahu bisa menemukan siapa. Naruto, Kakashi-sensei, mereka tentu saja bisa kaupercaya."

Bagaimana denganmu?

"Dan aku—" Sakura menyentuh tangannya; Sasuke tidak menduganya, "—temui aku kapan saja."

Sasuke bertanya pada dirinya: apa yang telah kulakukan?

.

iii.

Dia terbangun dari mimpi merah marun yang melebur, meluntur menjadi merah jambu. Merah gelap memudar menjadi merah muda musim semi. Dia menggenggam sesuatu yang berwarna merah, yang kemudian berubah menjadi kelopak bunga yang segera beterbangan ketika dia membuka kepalan tangannya.

Sasuke terbangun tidak dengan napas yang memburu, setelah sekian lama.

Sisi kosong di tempat tidurnya tiba-tiba terasa tidak mengenakkan. Dia merabanya, menyusuri sprei dengan warna membosankan itu dan berharap seseorang ada di sana.

.

iv.

Mulutnya mengatakan pamit pada Sakura tetapi tidak dengan hatinya. Dia meninggalkan separuhnya di Konoha; sementara separuhnya berusaha melihat dunia. Sebelum ini dia memandang terlalu lurus ke arah yang dia inginkan sendiri, sekarang dia ingin melihat sekeliling seperti apa adanya, seperti warna yang seharusnya. Bukan dengan kacamata hitam dan merah.

Di surat-surat Sakura padanya, ia bercerita sedikit tentang rumah rehabilitasi anak yang ia bangun. Menjabarkan bahwa jarak di antara mereka adalah ruang yang meluas selalu; sekaligus juga sebagai ruang baginya untuk mengembangkan dirinya.

Bahwa terpisah bukan selalu hal yang buruk, ia akan bisa menemukan dirinya di antara jarak yang tercipta. Bahwa mungkin inilah cara terbaik agar mereka menemukan diri mereka sendiri sebelum menemui masa depan: Sasuke dengan dunia luar dan Sakura di dunia di sekitarnya. Sasuke akan menemukan sesuatu yang baru dengan caranya sendiri dan begitu pula dirinya. Bahwa jarak tak selalu buruk; ia akan selalu bisa diisi dengan apapun hal berguna jika kita mampu melihatnya.

Surat-surat itu selalu berada di saku jubahnya. Melekat pula pertanyaan tak kasatmata setiap kali surat itu bertambah: apa aku pantas menerimanya?

.

v.

Tidak ada siapa-siapa di gerbang kecuali penjaga. Tidak ada pemeriksaan yang signifikan karena mereka tampaknya telah mengetahui bahwa dirinya akan datang.

Kesunyian di perbatasan perlahan melebur menjadi suasana desa yang familiar sekaligus asing baginya. Orang-orang dengan kesibukan di hari kerja tak saling peduli, tak cukup memberi perhatian pada seorang mantan kriminal yang kembali pulang. Sasuke merasakan tarikan yang aneh pada dadanya, dia merasa bahwa desa ini tak selalu untuknya tetapi di sinilah akarnya berasal.

Dia tahu dia tidak akan menemukan Sakura di jalan. Siang hari adalah waktu sibuknya. Sasuke tahu di mana ia berada, dan menatapnya dari kejauhan sudah cukup untuknya. Sakura-nya aman. Sakura-nya sedang sibuk berbicara dengan seorang dari rumah sakit, di ruangan yang beraroma mawar sekaligus antiseptik tersebut.

Sakura-nya sedang berkembang; selalu, seperti musim semi yang tak pernah mati.

.

vi.

Ciuman pertama mereka terjadi di tepi padang rumput untuk berlatih.

Sakura menemuinya yang baru saja selesai berlatih. Matahari mulai merangkak turun ke horison, tetapi masih cukup terang untuk Sasuke melihat rona wajah Sakura. Perempuan itu membawa sebuah botol minuman.

"Hei." Ia duduk di sisi landai dengan rumput yang lebih tinggi.

Sasuke menyeka keningnya dan duduk di sisi Sakura. Matanya berisyarat pada botol tersebut, dan Sakura memberikannya. "Minuman rempah, kalau kau mau. Aku biasannya minum ini untuk tambahan energi." Ia mengedikkan bahu. "Sifatnya sugesti. Aromanya enak, wangi. Meningkatkan serotonin, membuatku bersemangat untuk lanjut bekerja. Tidak buruk."

Sasuke berasumsi bahwa mungkin Sakura membawanya untuk dirinya sendiri, tetapi tidak tak keberatan membaginya. Sasuke mengambilnya dari tangan Sakura—sengaja membiarkan jarinya berdiam sebentar di punggung tangan Sakura.

Dia bisa mencecap satu rempah yang sama dengan bubuk teh yang waktu itu Sakura berikan untuknya. Di saku jubahnya, dia masih menyimpan sedikit serbuk yang tersisa, selalu dia bawa ke manapun seperti jimat; penyambung rasa.

"Di sana." Sakura menunjuk tepi lapangan, pada sebuah batu tinggi yang retak menjadi dua. "Lihat batu itu."

"Hmm."

"Tsunade-shishou memintaku meninjunya."

"Dan itu kau yang membuatnya terbelah?"

Sakura tertawa kecil. "Prestasi pertamaku."

Sasuke mengangkat lagi botol itu ke bibirnya. Perempuan itu bisa meruntuhkan gunung jika ia mau. Tangan halusnya bisa menyembuhkan dan menghancurkan. Tangan lembutnya bisa penuh kasih sayang sekaligus tanpa ampun pada musuh. Tangannya menggenggam kehidupan dan bisa menghancurkannya.

Namun yang paling utama: tangannya menggenggam sebuah cinta yang tak pernah pudar, hanya mendewasa seiring waktu. Tak pernah ia lepaskan, hanya ia ubah bentuknya. Genggamannya sehangat musim semi, tak pernah memaksa untuk menyiksa. Sasuke melirik tangan Sakura seakan-akan hatinya melekat di sana.

"Sasuke-kun?" Sakura menelengkan kepalanya. "Ada sesuatu yang ingin kaukatakan?"

Sasuke bisa melihat dandelion melepaskan dirinya pada angin sore di kejauhan, tetapi dia tak bisa melihat mata Sakura sekarang tanpa merasa harus menyerah lagi dan lagi. "Hanya bertanya-tanya."

"Tentang?"

Dia menoleh. Jernihnya mata Sakura tak berubah meski cahaya makin menjingga dan berusaha mengubah rona hari. "Kenapa bisa ada perasaan yang tak pernah pudar?"

Senyum Sakura tipis, setipis batas kontrol diri Sasuke yang sedang berusaha keras untuk tidak menggenggam tangan Sakura atau mencium bibirnya.

"Itu yang memanusiakan manusia, Sasuke-kun." Ia melirik meski hanya sebentar. "Setiap orang memilih untuk tunduk pada apapun yang mereka pilih. Ada seseorang yang memilih untuk tetap mencintai tanpa batas, dan dia bersedia pada risiko apapun karena dia sudah memilih."

"Dan apa yang kaupilih?"

Sakura menatap matanya. "Tetap mencintai."

"Apa itu tidak berat untukmu?"

"Lebih berat lagi tanpa cinta, Sasuke-kun, karena aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tanpa rasa cinta yang kupilih."

Sasuke tidak tahu sejak kapan tangan Sakura berada di atas punggung tangannya; itu hanya sebuah sentuhan malu-malu dari ujung jari yang takut untuk meraih, sebuah pernyataan yang halus dan suci.

Sasuke pun memilih untuk juga tunduk.

Bibir Sakura sehangat senja yang memeluk mereka berdua.

.

vii.

Sakura menunjukkan jalan menuju apartemennya, yang hanya berjarak tiga blok dari rumah sakit. Lebih mudah jika terjadi sesuatu yang darurat, katanya, dan Sasuke memetakan jalannya dengan segera di dalam kepalanya. Dia bisa menyusuri jalur dari ruang kerja Sakura ke rumahnya meski memejamkan mata.

Sementara itu, untuk dirinya, Kakashi memberinya sebuah akomodasi kecil di arah yang bertolak belakang dengan apartemen Sakura. Apartemennya kecil, sangat praktis dan sederhana. Kakashi mungkin mengerti bahwa kakinya mungkin akan segera tergerak untuk pergi lagi dan tidak ingin memberikan sesuatu yang mewah hanya untuk ditinggalkan lagi setelah ini.

Namun, lebih banyak alasan untuk tinggal setelah Sakura membawakan beberapa hal untuk menghidupkan apartemennya. Sebuah pot berisi tanaman tomat. Sebuah kaktus. Setumpuk buku penghilang jenuh. Bahkan seekor ikan—yang sayangnya esok harinya kemudian tanpa sebab yang Sasuke ketahui. Mungkin dia harus belajar untuk menjaga kehidupan lebih baik lagi dengan tangannya.

"Oh, dia mati?" Sakura memandang ruang kosong di atas lemari, di mana ia meletakkan plastik berisi ikan itu pertama kali setelah membelikannya. "Mungkin kau terlalu panik sampai lupa memanggil dokter?" Senyumnya sedikit menggoda.

Sasuke mengangkat bahu dengan cuek. "Dokterku adalah dokter manusia."

"Hei," Sakura terkekeh, "pelajaran pertamaku di ilmu medis adalah menyembuhkan ikan."

Sasuke tahu pasti telinganya memerah. Sakura pasti menyadarinya, Sasuke tahu lewat nada tawanya yang sedikit berubah.

"Sasuke-kun, kau memindahkannya ke kotak kaca?" Sakura baru menyadari sebuah akuarium kecil di sudut lain lemari.

Sasuke mengangguk.

"Ketika kau memindahkan ikan ke air yang baru, jangan langsung ditumpahkan. Ikan butuh adaptasi dari habitat lamanya ke lingkungan yang baru, aklimatisasi."

Sasuke memandang kotak tersebut dengan hampa. Tangannya masih belum terbiasa dengan kehidupan. "Begitu."

"Mau kucontohkan? Nanti kubelikan yang baru lagi."

"Tidak perlu." Sasuke berbalik menuju konter tempat dia membuat segala sesuatunya, tak jauh dari ruang kecil yang Sakura sebut ruang tengah itu. "Aku memelihara tomat saja."

"Pfff ..."

Sasuke mengabaikan fakta bahwa mungkin Sakura menertawakan kupingnya yang merah lagi. "Kau ingin makan sesuatu?"

"Ah, baru ingat." Sakura pun berbalik dan mengambil tas kain yang tadi ia tinggalkan di dekat pintu. Ia membawanya sambil mengikat rambutnya dengan karet di pergelangan tangannya. "Aku mencoba resep baru. Boleh kupinjam dapurmu?"

Sasuke mundur, memberi ruang. Dia ingin memberi bantuan, tetapi Sakura dengan cekatan menyiapkan segalanya sendiri. Mengeluarkan sayur-sayuran dari tas kainnya, kotak-kotak kecil bumbu yang entah ia beli atau ia racik sendiri, dan mengambil peralatan memasak yang tak seberapa dari lemari seakan-akan ia mengenal dapur Sasuke seperti dapurnya sendiri.

Punggung Sakura mungil tetapi Sasuke bisa melihat kehidupan bergantung di sana, lebih banyak dari yang dia kira. Lengannya lebih kecil dari yang dia kira, tetapi tak ada yang meragukan kekuatan sekaligus kelembutannya.

Hati Sasuke mencelus.

Bahkan dia sendiri pun menggantungkan hidupnya pada punggung itu. Berbagai pengandaian berputar di kepalanya, tentang rumah yang damai dan musim semi yang tak pernah berakhir di dalamnya, tentang atmosfer hangat yang menyambutnya dan senyum manis yang memberikan satu alasan tambahan setiap harinya untuk hidup dan bertahan.

Dia sudah memiliki semuanya di hadapannya, dia hanya tinggal meraihnya untuk menggenggamnya,

tetapi dia masih takut.

Apa aku pantas untuk semua ini?

(Cinta yang terlalu tulus kadang membuatnya tak percaya bahwa dunia masih memiliki kemungkinan seperti ini.)

.

viii.

"Apa yang kauinginkan?"

Malam itu begitu sunyi.

"Kebahagiaan."

Sasuke menoleh. "Dan kau sudah mendapatkannya?"

Sunyi, kecuali napas Sakura. "Aku sudah, dari hal-hal kecil di sekeliling." Ia mengangkat pandangannya. Tangannya menyentuh pipi Sasuke. "Yang kupikirkan adalah kau, Sasuke-kun. Apa kau sudah menemukannya? Yang murni, yang ... yang tidak melibatkan hasrat berbahaya."

Sasuke memejamkan matanya, menikmati sentuhan Sakura pada pipinya. Dia berusaha menelan kedamaian: suara napas Sakura yang tenang di keheningan.

Ketika dia membuka matanya, Sakura masih seperti sediakala; raut teduh dan mata yang berbinar.

"Sudah."

"Ah." Sakura menarik tangannya. "Aku bahagia mendengarnya." Ia tersenyum pada langit malam di atas mereka; padang landai rerumputan berdesis halus. "Kurasa apa yang kuinginkan sudah tercapai."

Untuk pertama kalinya setelah entah-sejak-kapan, Sasuke merasa ketakutan. Ketika Sakura sudah mendapatkannya, lalu apa? Harapannya terkabul dan setelahnya ... apa?

"Jangan pergi." Sasuke menangkap tangannya sepelan yang dia mampu, meski ketakutannya nyaris berontak.

"Hm?"

"Tetap di sini."

"Ya. Aku tidak akan ke mana-mana."

Sasuke menggenggam tangannya.

"Rumahku di sini." Wajahnya mendekat, bibirnya menyentuh dengan halus. Sakura kemudian meletakkan tangannya di dada Sasuke, dan Sasuke menyusupkan tangan ke rambut Sakura yang halus.

Sasuke menyandarkan keningnya pada bahu Sakura. Udara yang dia hirup bergumul dengan aroma Sakura. Tangan mereka bertaut, seperti potongan puzel yang menemukan ruangnya dan sekarang gambarnya telah utuh. Saat itulah Sasuke tahu: ini waktunya.

"Aku ingin menikah denganmu."

.

viii.

Sakura melepaskan segalanya di Konoha untuk pergi bersamanya; dan itu membuat ketakutan Sasuke kembali muncul. Serangkaian perasaan tak terkontrol yang merantainya: apa aku pantas untuk semua ini?

Karirnya, kehidupan tenangnya, rumahnya. Semua yang telah ia bangun sekarang ia lepaskan untuk Sasuke seorang. Dia tahu ada banyak bisikan sinis yang menganggap Sakura tak cukup cerdas untuk mencintai,

tetapi perempuan itu lebih keras daripada baja.

"Cinta mereka berbeda," ucapnya rendah hati, "cintaku seperti ini. Aku memilihnya begini."

Tapi aku merasa tak pantas.

"Aku adalah shinobi sebelum aku seorang dokter." Sakura menggenggam wajah Sasuke. "Aku juga punya jiwa untuk bertualang, aku petarung sebelum aku seorang penolong. Aku juga butuh perjalanan ini."

Sasuke tahu dia salah besar di satu hal: dia lupa bahwa perempuan ini adalah penakluk dan bersedia memecahkan cangkang apapun yang menghalangi ruangnya, jika mau.

"Aku mengikutimu demi dirimu dan juga diriku sendiri. Dan aku tak peduli apa yang orang-orang katakan."

Sasuke menyentuh pinggangnya, memikirkan apakah memeluknya adalah pilihan paling tepat.

"Aku adalah petarung di atas segalanya."

.

ix.

Sasuke merasa perlu menyalahkan dirinya sendiri ketika (sekali lagi, pagi ini, dua minggu terus seperti ini) Sakura memuntahkan sarapan paginya lagi. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa mendapatkan makanan yang pantas Sakura (dan anak mereka) dapatkan.

"Ini normal," Sakura menyeka mulutnya dengan kain yang diberikan Sasuke. Sasuke secara naluriah mengikat rambut Sakura yang lengket dan berantakan. "Kalaupun aku dapat makanan yang enak, aku pasti akan tetap memuntahkannya." Ia mengangkat bahu. "Ini akan berlalu."

"Kau pantas akan sesuatu yang lebih dari ini." Berjalan bersamanya, Sasuke jadi lebih terbiasa menyuarakan isi hatinya dibanding menyimpannya dan membuat pertanyaan yang sama berputar di kepalanya berulang kali tanpa jawaban yang layak.

"Aku memilih ini, ingat?" Ia menyentuh pipi Sasuke. "Aku lebih kuat dari yang kaukira. Lebih kuat dari yang kukira." Dan ia tersenyum, dan menyentuh perutnya sendiri. "Dan aku yakin anak kita lebih kuat dari yang kita kira."

Sasuke menoleh dan mengecup telapak tangan Sakura pada pipinya. Tangannya menggenggam tangan Sakura pada perutnya.

"Tidak perlu merasa bersalah, Anata."

.

x.

Perasaan itu masih menghantuinya dan kembali memberatkan pundaknya ketika dia menopang Sakura yang sedang berusaha mengontrol rasa sakitnya. Markas yang mereka tuju telah terlihat di depan sana, tetapi jarak ke sana seakan-akan terlalu jauh.

Sedikit lagi, Sasuke menguatkan dirinya sendiri; dan tampaknya Sakura juga melakukannya untuk dirinya sendiri. Di tengah desisannya, ia berjalan lebih cepat. Sakura bilang, akan selalu ada jarak di antara kontraksi, hanya saja jarak itu akan makin merapat seiring waktu berjalan. Ia mendesis lebih sering, semakin dekat, dan Sasuke tidak ingin buang waktu lagi.

Jarak menuju markas telah pendek dan risiko dia tak sengaja mencelakakan Sakura jelas lebih kecil. Dia menggendong Sakura dengan segala kemampuannya, dan hatinya mencelus pada fakta bahwa perempuan ini pantas mendapatkan kehangatan desa, ia yang dikelilingi orang-orang tersayangnya di momen krusialnya. Ia pantas mendapatkan pelayanan terbaik, mengingat seberapa banyak nyawa yang ia tolong. Namun ia berada di sini, di tengah hutan tanpa nama dan hanya mampu mengandalkan markas rahasia sebagai tempat penolong daruratnya.

Ia tidak pantas menderita begini karenamu.

Sakura mungkin akan menamparnya jika ia tak sibuk dengan rasa sakitnya. Ini pilihanku, ia pasti akan bilang begitu, dan Sasuke mengingat lagi kata-katanya saat itu, tidak perlu merasa bersalah.

Aku adalah petarung di atas segala yang kumiliki.

Cintanya tidak pernah mati; karena ia adalah seorang petarung.

Petarung yang bersemi seiring waktu; mendewasa untuk menerima. Tangguh untuk bertahan, berhati baja untuk mempertahankan cinta.

Sakura-nya petarung tangguh, dan Sasuke harap anak mereka mewarisi itu semua dari ibunya.

.

.

.

.

xi.

Putrinya adalah Uchiha pertama yang lahir setelah tragedi. Sakura menangis ketika menyambutnya, dan Sasuke tak tahu ada air mata yang juga menetes dari sudut matanya ketika menyentuh sang putri untuk pertama kali.

Putrinya akan tangguh seperti api. Hangat seperti musim semi.

Dan apakah aku pantas mendapatkannya?

Putrinya menggenggam jarinya secara naluriah. Telunjuknya digenggam penuh oleh tangan mungilnya, Sasuke tersentuh hingga ke sudut tergelap hatinya.

Dia dan Sakura bersatu pada anak ini; mereka terhubung lewat sang putri Uchiha.

Dan apakah aku pantas mendapatkannya?

Jari-jari putrinya menggenggamnya lebih erat lagi, tak mau melepaskannya. Sakura tersenyum padanya.

.

.

Untuk pertama kalinya; secara utuh, Sasuke merasa pantas.

.

.

end.

.

.

a/n: uh-oh, thanks for reading my thoughts-dump