Jujutsu Kaisen milik Akutami-sensei. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari ini.
Cast :
- Gojo Satoru
- Geto Suguru (mentioned)
- Fushiguro Megumi
- Original Character
Dua Ribu Enam Belas
.
.
.
Summary : Mungkin lambat laun ia akan melupakan peristiwa itu. Menerima keadaan. Menghilangkan dan memudarkan gelisahnya. Dan ia agaknya bersyukur karena masih ada orang yang peduli padanya, meski itu hanya sebatas pertanyaan tentang bagaimana kabarnya hari ini.
Setting dalam cerita Mei tahun 2016
Waktu itu, ingatan Satoru tenggelam pada masa lalu. Ketika dirinya masih sangat muda dan naif. Pada saat-saat itu, emosinya masihlah kurang stabil, selalu salah bertidak, melakukan kegiatan mustahil yang mendebarkan, menyebakan kerusakan dan yang jelas membuat kepanikan dimana-mana.
Salah seorang temannya, Suguru jelas yang selama ini memberikan pengaruh baik dan tauladan pada Satoru. Disaat-saat ia hendak melakukan sesuatu, ia akan bertanya pada Suguru apa yang akan terjadi kelak jika Satoru melaksanakan rencananya.
Harus begini dan begitu. Jangan pernah melakukan ini.
Namun, beberapa tahun silam semuanya terjadi tanpa ada yang mampu menghentikan. Pada saat itu Satoru berpikir bahwa Suguru kehilangan akal akibat hantaman keras pada pucuk kepalanya dan itu membuat temannya kehilangan seluruh kebaikan yang tersisa didalam hati terkecilnya.
Oh, dia sudah berubah. Mengapa dia menjadi seperti ini? Satoru selalu bertanya seperti itu pada dirinya sendiri dan tak ada yang berubah hingga saat ini. Kadang pertanyaan aneh itu membuatnya mengigil.
Tapi itu masa lalu. Satoru tidak bisa membalikan keadaan, mengubah hati seseorang, sekaligus membuat realita baru tentang kejadian itu. Suguru sudah pergi karena berseberangan paham. Itu fakta yang ada.
Malam itu, di taman terbengkalai yang sepi diatas ayunan bobrok. Seluruh pikiran dan sanubari milik Satoru larut dalam pikiran alam bawah sadar. Ia bahkan tak ingat sudah berapa lama duduk di atas ayunan. Yang jelas, ketika ia menemukan spot yang nyaman untuk menyendiri, kakinya langsung melangkah mendekati ayunan.
Beberapa menit atau jam yang terlewati. Sebuah gesekan sepatu yang lemah namun teratur terdengar samar-samar dari kejauhan, kemudian suara gesekan itu berhenti sejenak. Merasa ada sesuatu yang enak untuk dipandang.
Gesekan itu berubah menjadi langkah kaki kecil yang ringan, kemudian terhenti lagi di depan ayunan dimana Satoru ada diatasnya.
Pemilik suara itu menghela napas lelah, sepertinya ia sudah memanggil-manggil nama Satoru dari kejauhan. Itu terdengar dari deru napasnya yang kelelahan.
Untuk sebuah konfirmasi karena takut salah orang, ia memanggil kembali. "...Satoru."
Satu panggilan lagi diabaikan. Satoru yang dipanggil masih larut dalam pikiran.
"...ru?"
"Selamat malam." Orang itu menyapa sekali lagi, tapi kali ini bukan sebuah nama yang ia ucapkan.
Kesal karena tidak diperhatikan. Ia mengubah taktik jitu, ia sedikit membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan Satoru, kedua tangannya bertumpu pada lutut. Lantas ia berbisik pelan, tapi entah apa yang ia ucapkan yang jelas ia mensejajarkan wajahnya dengan pemuda itu.
Satoru mendongak karena merasakan seseorang baru saja mendekatinya, ia sepertinya terlambat untuk menyadarinya.
Yang jelas kesadarannya merasakan hawa keberadaan seseorang, sebuah sapuan napas yang kecil dan aroma parfum beraroma buah-buahan.
Ketika mata Satoru menangkap wajah orang tersebut, ia berteriak karena kaget. "A-AAAAA!?"
Saking kerasnya mereka dapat mendengar lolongan anjing yang merasa terganggu entah dari sebelah mana.
"Ada apa?" Si orang itu bertanya santai, suaranya kalem dan ramah jika didengarkan baik-baik, nyaris tidak ada orang yang berbicara dengan nada suara seperti itu jika berhadapan dengan Gojo Satoru.
Dilihat dari gelagatnya, orang itu bahkan tak terganggu sama sekali oleh teriakan barusan. Ia hanya mengusap-ngusap daun telinga karena merasa bahwa gejala itu adalah akibat dari tindakannya.
"Kenapa tanya begitu, Alexa? Sudah jelas kalau aku-"
"Sedang melamun?" Orang yang bernama Alexa itu menebak asal. Tapi nada bicaranya yang ramah tak melunturkan rasa penasaran dari dalam diri. Ia tak menyembunyikan itu sama sekali.
Alexa melanjutkan. "Akhir-akhir ini Satoru sering melamun, eh?"
"Dan kau sering pulang malam-malam, ada apa di sekolah?"
Alexa menggidikan bahu, bermasa bodoh dengan pertanyaan barusan. "Oh, banyak yang terjadi di sekolah, murid sekolah seni berbeda dengan sekolah reguler. Tapi, itu tidak ada kaitannya dengan dirimu yang sekarang hobi melamun. Karena pertanyaan itu tak bisa menjawab rasa penasaranku, Satoru!"
Alexa menjelaskannya dengan sederhana, sehingga tidak perlu ada pertanyaan lagi yang tertuang. Jadi lawan bicaranya memikirkan lagi pertanyaan apa yang bisa dibalikan agar menghilangkan rasa penasaran Alexa.
"Um..." Tapi pemuda itu malah kehilangan kata-kata.
"Satoru, mau aku dorong?"
"Dorong? Dorong apa? Gerobak? Maaf, aku sedang tidak berselera mendorong gerobak!"
"Kenapa jadi gerobak? Kau ada diatas ayunan, jadi mau aku dorong?"
Satoru tidak menjawab apa-apa. Tapi, Alexa langsung berjalan ke belakang. Menyentuh rantai tali ayunan yang sebagian sudah korosif. Ia mendorong ayunan itu relatif pelan, sengaja agar Satoru bisa diajak bicara dan mendengarkan suara satu sama lain.
"Apa kau tahu? Kebanyakan manusia akan melamun jika dibiarkan sendirian dan itu yang terjadi padamu, Satoru..."
"Yeah. Aku memang sedang melamun. Jadi aku minta maaf..." Satoru tertawa mengejek di akhir kalimatnya. "Tapi, aku tidak pernah sendirian."
Yang dibalas tawa kecil dari Alexa. "Uh, Satoru yang mendadak melankolis begini malah membuatku takut."
"Dan cewek SMA yang keliaran malam-malam begini membuatku khawatir~"
Alexa memprotes. "Biasanya kau akan mengatakan hal aneh yang tak kupahami sama sekali."
Setelahnya, ada tawa Satoru yang menyergapi. Dia malah tertawa lebih keras dari yang pernah dilakukan sebelumnya. Mungkin merasa bodoh karena kepergok melamun atau ada hal lain yang sedang ia sembunyikan saat ini. Mencoba untuk tidak membuat gadis itu sadar.
"Mungkin... hanya Alexa sendiri saja yang masih tak paham dengan ceritaku soal Kutukan dan semacamnya, orang satu circle-ku mengerti, kok. Tapi, kenapa kau masih mau mendengarkan? Padahal kalau mau kau bisa mengabaikannya dan main Play Station!"
"Yeah... aku sih, senang diajak bicara tentang hal yang tak aku pahami. Karena nantinya aku akan mempelajarainya, memahami dan kemudian menyimpulkannya. Makanya hari ini aku menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi padamu!"
Pada akhirnya Satoru mengalah, ia memilih untuk menjelaskan apa yang terjadi. Meski kalimatnya mengandung kode-kode.
"Baiklah... ada hal yang aku pikirkan. Dan jika aku sedang memikirkan orang itu, aku selalu hanyut kedalam itu dan tak bisa bangun lagi. Aku pikir, aku sudah melakukan kesalahan menurut sudut pandangannya, tapi sejauh aku mengamati kejadian itu lagi dan lagi, sudut pandangku mengarahkan bahwa dialah yang bersalah, bukan aku!"
"Berseberangan arah atau salah paham?"
Menyadari bahwa Alexa hampir menjawab curhatan itu membuat Satoru sedikit panik. Jadi ia kembali berkata. "Aku tidak bertanya padanya apa yang membuat dirinya memiliki pandangan seperti itu, dia keburu pergi. Aku belum sempat sadar dan meminta maaf,makanya aku berasumsi dialah yang bersalah!"
Pergerakan ayunan itu berhenti. Satoru menoleh ke belakang, ia merasa aneh dengan sentakan yang tiba-tiba. Jadi ia bertanya, ketika sebuah tangan menyentuh punggungnya. "Alexa, kenapa berhenti?"
"Oh maaf, sepertinya aku sudah menanyakan hal yang sensitif. Kau bahkan menekan kata dia dengan intonasi penuh kekecewaan. Aku tidak mau bertanya lagi kalau itu malah membuatmu kepikiran."
Sial. Bukan begitu maksudnya. Bukan itu yang aku mau. Bukan itu yang aku harapkan. Bukan itu yang ingin aku dengar. Setidaknya, kau bisa membenarkan tindakanku, 'kan? Satoru membatin. Jadi ia bangkit dari ayunan lalu berkata sok keren.
"Alexandria... aku malah merasa sedikit lega karena bisa bangun dari lamunanku! Kau tidak perlu repot-repot mendengarkan ceritaku yang aneh ini. Biasanya orang lain akan langsung kabur ketika aku membuka mulut untuk bicara!"
Walau tadinya bukan itu hal yang ingin ia katakan pada Alexa.
"Curhat itu 'kan hal yang wajar, Satoru..."
"Jadi, apakah kau mau-"
"Ngomong-ngomong Satoru, aku belum makan sedari siang."
"HEEEEEEEEE?! Belum makan dari siang?"
"Ya, tadinya aku mau mengajakmu ke kedai Takoyaki, ya? Apa namanya ya... yang bulat-bulat itu, tempat itu baru buka 'lho!"
"Okie-dokie! Kalau begitu kita kesana, my treat!"
Satoru merasa beban itu sedikit memudar, mungkin lambat laun ia akan melupakan peristiwa itu. Menerima keadaan. Menghilangkan dan memudarkan gelisahnya. Dan ia agaknya bersyukur karena masih ada orang yang peduli padanya, meski itu hanya sebatas pertanyaan tentang bagaimana kabarnya hari ini.
.
.
End
.
.
- Omake -
"Gojo-sensei? Habis dari mana kau?"
"Megumi~~~ apa kau merindukan aku yang keren ini? Mengkhawatirkan aku?"
"Huh, tidak sama sekali dan bukan keduanya. Aku cuma heran kenapa kau datang ke rumahku malam-malam sekali, aku mau tidur, lho!"
"Um, aku ada urusan dengan Alexandria dan itu tidak bisa aku tunda!"
"Kau masih... sering ngobrol dengan Kakak itu, heh? Kupikir pertemanan antara dirimu dan dia akan berakhir setelah kejadian itu."
"Tidak kok. Dia masih bisa aku mintai tolong, soalnya dia berbakat dan juga dia itu-"
"Kau terdengar seperti memanfaatkan dia, Gojo-sensei. Kalau aku bertemu dengannya, aku akan bilang kalau kau banyak maunya. Aneh. Ada maksud terselubung dan licik!"
"Eh. Eh. Tidak baik berburuk sangka pada Gojo Satoru! Dan percuma saja, Megumi tidak akan pernah bertemu Alexandria, makanya kejadian yang kau sebutkan itu tak akan pernah terjadi!"
"Dasar aneh! Pokoknya kalau aku ketemu Alexandria, aku akan bilang begitu. Biar dia menyesal nantinya. Dan aku telah menyelamatkan orang yang kemalangan, itu tugas sebagai Shaman, bukan?"
END
A/N : Holaaaa. Akhirnya aku kembali lagi nulis. Bagaimana kabarnya kalian? Oh, ya ngomong-ngomong setting FF ini di tahun 2016 sama seperti judulnya ya! Terima kasih sudah ada yang mau mampir kesini dan mohon maaf aku jarang up FF karena sejak awal tahun kemarin sibuk sekali. Bahkan gak bisa baca manga dan nonton anime kalo sedang senggang :"))) hehe jadi curhat. Ngomong2 siapa karakter Fav kalian di JJK? kalo aku suka sama Megumi.
