Hari ini adalah hari valentine di dunia vampir dan penyihir, seluruh bioskop di dunia itu akan menayangkan sebuah cerita romansa seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini yang akan ditayangkan serentak di seluruh bioskop adalah tulisan karya sang penyihir campuran Vier Mack yang sedang ramai dbicarakan, ketika pukul 8pm kurang 5 menit seluruh penonton sudah hadir di dalam ruangan, begitu juga Emillie, Kamui-Subaru sang vampir kembar, pasangan abang-beradik Seishirou-Fuma sang hunter, Fai, Aya, dan Kanaria yang juga turut duduk di dalam ruang itu tak ingin melewatkan cerita romansa tersebut, hanya saja disaat cerita akan dimulai tiba-tiba saja Fuuma merasa ingin buang air kecil.
"Ya ampun kenapa disaat seperti ini?" Keluh Fuuma sambil berdiri
"Ada apa?" Tanya Seishirou memasang wajah bingung yang duduk di sebelah bangku Fuuma
"Aku ke kamar kecil sebentar kak.."
"Ya..."
Lalu Fuuma bergegas secepat mungkin ke toilet agar tak ketinggalan cerita romansa yang ingin sekali dia tonton itu, tetapi sayangnya ketika dia kembali dari toilet, pintu ruangan sudah terkunci secara otomatis dan terpasang kekai di pintu tersebut sehingga setiap penonton yang keluar tidak dapat masuk lagi ketika cerita sedang berlangsung. Maka dimulailah cerita karangan Vier Mack. Tulisan-tulisan pun muncul di layar yang begitu besar di depan penonton, penonton dengan kode tiket yang sama akan masuk ke dalam satu cerita.
...IMPOSSIBLE...
Emillie lulus lebih awal dari sma dibandingkan dengan teman-temannya, dia bertujuan untuk mengambil jurusan favorit di kota Waerdo, kota dimana dia tinggal, namun salah satu syarat dari pendaftaran itu adalah membayarkan sejumlah uang administrasi di depan yang menurut Emillie biaya administrasi itu sangat mahal sebab dia bukanlah berasal dari keluarga kaya.
Sore hari itu sepulang mengambil dokumen-dokumen penting dari sekolahnya, Emillie mendatangi kantor pusat pekerjaan yang terletak di pusat kota, dia memberitahukan kriteria pekerjaan serta gaji yang dia inginkan kepada salah seorang petugas disana kemudian petugas administrasi memeriksa pekerjaan serta gaji sesuai kriteria Emillie di komputernya, tak lama menunggu akhirnya petugas memberitahukan Emillie bahwasanya tidak ada pekerjaan sesuai dengan kriteria yang diinginkan Emillie, tetapi ada satu pekerjaan yang memberikan gaji di atas gaji yang diinginkan Emillie meskipun pekerjaan itu tidak sesuai kriteria Emillie.
"Pekerjaan apa itu?" Emillie penasaran
"Guru SMA." Jawab petugas wanita itu dengan tersenyum
"Hah? Benarkah? Bukankah gaji guru di kota ini tidak ada yang sebesar itu." Jawab Emillie memegang dagunya
"Bukan di kota ini." Petugas tersenyum
"Di luar kota?"
"Bukan, tetapi di kota Wayerd."
"Hah?" Emillie terkejut setengah mati
"Ini formulir pekerjaan beserta alamatnya, kalau nona tertarik nona bisa mengisinya dan datang ke alamat yang dituju."
"Terima kasih."
Kemudian Emillie berjalan meninggalkan tempat itu, di perjalanan pulang Emillie melihat formulir pekerjaan di tangannya dengan sangat serius, dia seperti sedang berpikir sangat keras. Di dalam pikirannya, dia membutuhkan uang secepatnya, tetapi pekerjaan itu tidak sesuai keinginannya, hatinya mulai bingung tak karuan antara melepaskan universitas impiannya atau mengambil pekerjaan yang jarang sekali orang melakukannya.
"Fiuhhhh...menyakitkan kepala saja." Emillie menghela nafas
Tak lama kemudian tibalah Emillie di rumahnya, dia segera mendatangi ibunya yang sedang minum teh di taman, disana dia menceritakan semuanya kepada ibunya dan ibunya menyerahkan semua keputusan ada di tangan Emillie tentu saja hal itu membuat Emillie semakin bingung. Pada malam harinya ketika makan malam selesai, Emillie diminta ibunya untuk membeli beberapa kebutuhan rumah di supermarket terdekat, sepulangnya dia dari supermarket tanpa sengaja dia melihat seseorang sedang terluka di dekat taman yang tak jauh dari rumahnya, semula Emillie ingin membiarkannya saja, tetapi tiba-tiba dia berubah pikiran, dia pun menghampir orang itu.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Emillie berjongkong di dekat orang itu
"..." Lelaki yang sedang terluka tidak menjawab
"Ada apa dengan orang ini?" Benak Emillie. "Ah sudahlah.."
Selanjutnya Emillie membuka bungkusan belanjaannya, dia mengambil kotak P3K dan mengobati luka lelaki itu, lelaki itu hanya diam melihat Emillie mengobati lukanya, selesai mengobati tangan kanan lelaki itu Emillie kembali berjalan menuju rumahnya, tetapi tiba-tiba saja lelaki tadi mengikutinya serta menarik lengannya hingga membuat Emillie kaget, ternyata dia hanya ingin berterima kasih kepada Emillie.
"Tidak perlu berterima kasih." Emillie tersenyum lalu kembali melanjutkan perjalanannya ke rumahnya.
Keesokan harinya Emillie sudah mengemasi barang-barangnya, dia akan berangkat ke alamat pekerjaan yang akan memberikannya gaji di atas keinginannya, dia memutuskan untuk menerima pekerjaan itu demi universitas impiannya. Dengan menggunakan bus, Emillie berangkat ke alamat yang dituju, setelah 20 menit sampailah dia di depan sebuah tembok yang tingginya 20 meter serta panjangnya 15 meter di belakang kantor walikota, di tempat itu telah berdiri dua orang petugas penjaga, mereka akan membuka pintu ke kota Wayerd untuk Emillie, kedua petugas itu adalah para penyihir dari kota Wayerd yang bertugas menjaga pintu keluar masuk antara kota Wayerd dan Waerdo. Setelah pintu terbuka Emillie segera masuk ke kota Wayerd, maka tibalah dia di kota yang berisikan penyihir serta vampir.
Dia berjalan menelusuri kota mencari alamat yang ditujunya serta mencari tempat tinggal, setelah sore tiba akhirnya Emillie mendapatkan tempat tinggal untuknya dengan harga tejangkau.
"Ini pertama kalinya aku datang ke kota ini, dunia penyihir serta vampir. Apa salah satu dari mereka akan menghisap darahku seperti di tv-tv?" Emillie berbaring di atas ranjangnya sambil melihat langit-langit kamar. "Ah...capeknya."
Karena kelelahan Emillie tertidur hingga pagi hari, dia pun bangun kesiangan dan terburu-buru ke sma Witcva, sma tempat dia akan bekerja sebagai guru.
... 3 Jam Kemudian ...
Hari itu adalah hari pertama bagi Emillie bekerja di sma Witcva sebagai guru kimia, ketika dia berada di kelas 3-1 dan memperkenalkan dirinya di depan seluruh muridnya, semua murid-murid barunya langsung terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka guru baru mereka adalah gadis berumur 16 tahun, yaitu 2 tahun di bawah mereka terlebih lagi dia adalah seorang manusia, beberapa dari mereka sepertinya tidak menyukainya.
"Mungkin ini terkesan sangat aneh, tapi mohon bantuannya." Emillie mencoba tersenyum
Mendadak seorang murid penyihir perempuan menembakkan sebuah bola api melalui jari telunjuknya ke Emillie, sayangnya bola api tersebut tidak mengenai Emillie karena salah satu murid vampir telah terlebih dahulu menggendong Emillie untuk menghindar sebelum bola api itu sampai di depan wajah Emillie
"Apa yang sedang kau lakukan, Subaru?!" Teriak Reya penyihir yang menembakkan bola api tadi dengan kesalnya
"Itu bukan perbuatan yang baik Reya." Subaru tersenyum. "Bagaimanapun dia adalah guru kita."
"Cih..." Reya membuang wajah
"Apakah anda tidak apa-apa bu guru?" Tanya Subaru sambil tersenyum
"Ah iya..." Emillie sedikit canggung. "Bisa turunkan aku?"
"Tentu saja..." Subaru tersenyum
Kemudian Subaru kembali ke tempat duduknya dan Emillie mulai memberikan beberapa peraturan kepada seluruh muridnya yang salah satunya adalah peraturan yang melarang seluruh muridnya menggunakan sihir kepadanya dan hanya dipakai untuk melindungi Emillie disaat terdesak saja.
"Sepertinya dia sedang mengikat kita menjadi penjaganya." Subaru tersenyum melihat Emillie. "Sepertinya kamui akan menyukainya."
"Apa-apaan dia...?!" Ucap Reya berwajah kesal
"Kau tidak menyukainya karena dia lebih cantik darimu kan? hehehehe.." Ejek Quan murid penyihir
"Diam kau!"
Lalu pelajaran kimia pun dimulai, meskipun Emillie jauh lebih muda dari muridnya, tetapi pengetahuannya di atas mereka, itu terbukti ketika dia memberikan sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya, tetapi tidak ada yang bisa menjawab.
"Apa yang kalian pikirkan,hah?! Ingin menggunakan sihir atau kekuatan vampir kalian karena aku lebih muda dari kalian serta berasal dari dunia manusia, dasar murid tidak tau diri..!" Teriak Emillie melempar satu persatu kepala muridnya secara random dengan sangat cepat
PLATAK PLATAK PLATAK
"Aw...!" Keluh murid-murid yang terkena kapur
"Di..dia berani sekali." Beberapa murid kaget
"Mengagumkan." Ucap salah seorang guru tersenyum melihat Emillie dari luar kelas lalu berjalan pergi
"Bocah mengesalkan..!" Ucap salah satu murid vampir menjatuhkan lampu di atas kepala Emillie
BRAK
"Hampir saja.." Subaru tersenyum kepada temannya yang berniat jahat kepada Emillie
"Oh begitu..." Emillie tersenyum tipis
Dia pun berjalan ke arah murid yang berniat jahat kepadanya barusan dengan pemukul berbentuk kipas di tangannya, sesampainya di belakang murid tersebut dia langsung memukul murid tersebut sambil berkata, "Dasar bodoh!"
"Kau...!" Emillie dengan suara marah melihat keseorang murid yang duduk di depan
"Sa..saya?"
"Iya...siapa lagi kalau bukan kau. Kau pikir mataku yang terlahir indah ini melihat ke arah mana? Apakah sebagai penyihir atau vampir kalian tidak bisa melihat ke arah mana mata manusia? Apa perlu aku mengajari hal seperti itu kepada kalian, hah? Haaaa...benar-benar mengesalkan sekali. Aku pikir aku tidak akan menunjukkan sifat asliku disini ternyata mustahil. Hey...kau cepat ambilkan botol minumku di atas meja."
"Ba..baik."
Seluruh murid pun terkejut melihat guru baru mereka, ini pertama kalinya mereka melihat orang seperti Emillie di dunia mereka, begitu aneh.
"Menarik..." Subaru tersenyum
Lalu tak berapa lama kemudian Emillie melanjutkan pembelajarannya kembali, kini kelas sudah kondusif, sepertinya dia dapat menangani kelas dengan kekesalannya yang meledak-ledak. Selesai dengan kelas 3-1, dia melanjutkannya di kelas 3-2, namun kali ini sikapnya berbeda di kelas 3-2, dia hanya memperkenalkan dirinya secara singkat dan seterusnya berceramah pajang lebar, tidak seperti kelas 3-1, kelas 3-2 lebih damai, mereka hanya tersenyum melihat Emillie berceramah tanpa koma ataupun titik, sepertinya mereka menyukai Emillie, tetapi salah satu murid di kelas itu, yaitu Kamui seorang vampir dan kembaran Subaru tak henti-hentinya menatap Emillie, dia sangat terkejut gadis yang pernah mengobati lukanya ada dihadapannya sebagai gurunya.
"Hey...kau yang ada disana..kenapa menatapku seperti itu? Apakah kau juga tidak senang bocah sepertiku menjadi gurumu?" Emillie menyandarkan wajahnya dia tas mejanya
"Mungkin Kamui menyukai bu guru." Ejek salah satu teman Kamui
"Eh tunggu sebentar." Emillie heran dan mengangkat wajahnya. "Bukankah kita pernah bertemu sebelumnya? sepertinya aku mengingat wajah itu."
"Mungkin yang bu guru maksud adalah Subaru dari kelas 3-1, dia adalah kembaran Kamui."
"Ah ya... wajah yang mirip dengannya, tadi dia menolongku di kelas 3-1. Tapi sepertinya...ah yaaa...aku ingat kau ada di dunia manusia."
TAP TAP TAP
"Bagaimana lukamu? sudah sembuh?" Tanya Emillie menghampiri Kamui
"Luka? Bukankah vampir bisa meregenerasi tubuh mereka, meskipun ada luka, luka itu akan hilang sendiri bu." Jelas seorang murid penyihir perempuan
"Benarkah? Tapi, malam itu lukanya tidak berhenti mengeluarkan darah." Benak Emillie. "Tapi sudahlah..."
Dan mereka pun melanjutkan pelajaran mereka, Emillie yang merupakan guru baru di kelas 3-2 terlihat sudah akrab dengan murid-muridnya. Pada saat jam istirahat, Emillie diajak beberapa murid kelas 3-2 ke kantin sekolah, terdapat 2 jenis makanan di sekolah, makanan khusus vampir dan penyihir, karena Emillie adalah seorang manusia maka dia akan makan makanan khusus penyihir, ketika dia sedang menyantap makanannya tanpa sengaja dia melihat pacarnya yang telah lama menghilang.
"Fai..." Emillie mendadak berdiri
Tanpa sadar Emillie mengejar seorang pria yang dipanggilnya fai, dia pun meraih lengan pria tersebut hingga pria tersebut menoleh ke arahnya. Benar, pria itu adalah Fai D. Flowright seorang penyihir sekaligus wakil kepala sekolah di sekolah itu, dia adalah pacar Emillie ketika Emillie masih duduk di bangku SMA di dunia manusia.
"Fai..." Emillie tersenyum. "Ternyata kau disini."
