Apa Yang Akan Kaulakukan Jika Aku Bunuh Diri Lagi?
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
"Apa yang akan kaulakukan jika aku bunuh diri lagi, Dan?"
Katakanlah pada saat itu, pemikiran Dazai Osamu memang tengah tidak bisa melihat apa-apa. Sebatas ada gelap, dan menyakitkan di sini. Bahkan walaupun tepat di sampingnya adalah Dan Kazuo–hanya sosok Dan yang dengan setia melihat Dazai seorang sebagai Dazai; jauh dari kesia-siaan bagaimanapun Dazai tahu-tahu mempertanyakan kehidupannya menggunakan hampa–Dazai tetap merasa ia buta. Dan bukanlah Dan melainkan keasingan semata, ketika tertinggal di sisinya tidak membuat Dazai senang, ataupun sedih sebab ia ini menyedihkan.
"Memangnya Dazai yakin kau mau bunuh diri dua kali?" Pertanyaan skeptis dilayangkan. Benar-benar sekadar melayang-layang yang sedikit pun itu, tidaklah mencolek eksistensi Dazai. Kenapa Dan menanyakan sesuatu seperti itu? Sesuatu yang membuat Dazai semakin tak dapat melihat Dan, karena Dan seperti meragukan Dazai.
"Kenapa tidak? Aku pernah melakukannya sekali dengan menenggelamkan diri di Kanal Tamagawa. Yang kedua kalinya mana mungkin sulit."
"Meskipun kita hanyalah representasi jiwa penulis, tetap saja Dazai bisa merasakan sakit. Apalagi katamu kau membencinya. Neraka bukanlah tempat yang menyenangkan, bukan?"
"Sudah kukata, aku ini pernah bunuh diri satu kali di kehidupan sebelumnya. Memang aku membencinya, tetapi bukan berarti aku takut. Justru saat-saat di mana aku bunuh diri jauh lebih berharga, ketimbang 38 tahun aku menjalani hidupku. Rasanya benar-benar tiada yang membuatku lelah, Dan."
Tentu saja Dan tahu, karena dialah yang sekarang ini mendengarkan Dazai. Juga di masa lalu, Dan merupakan manusia yang dengan warasnya ingin jatuh gila bersama Dazai–menemaninya bunuh diri bahkan sampai memikirkan segala-galanya itu adalah Dazai seorang. Namun, Dan bahkan tidak menepuk punggung Dazai. Apa yang dilakukanya hanyalah Dan berdiri. Beranjak untuk meninggalkan Dazai, tetapi gestur tersebut justru membuat Dazai dapat perlahan-lahan melihat.
"Apa yang kulakukan adalah tidak melakukan apa pun, Dazai."
"… Kenapa? Apa Dan enggak sedih kalau aku bunuh diri, lalu meninggalkanmu?"
"Melakukan sesuatu setelah Dazai bunuh diri itu, bukanlah kata-kata yang tepat. Aku hanya akan melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, yaitu benar-benar ikut bunuh diri bersamamu agar Dazai tak sendirian di neraka. Daripada aku bersedih untukmu juga, karena Dazai enggak akan bisa mendengarku, lebih baik melakukan sesuatu yang bakalan membuatmu langsung tahu, kan, aku selalu ingin menemanimu?"
Sebelumnya Dazai pasti sudah sendirian di neraka. Jikalau Dazai pergi ke sana sekali lagi, atau bahkan bisa disebut kepulangan karena Dazai menemui rumahnya, setidaknya akan Dan pastikan kali ini ia tinggal di sana bersama Dazai–setelah kesepian di kefanaan, bukankah sakit sekali apabila di neraka pun Dazai kesepian? Pada akhirnya Dazai pun dapat melihat wajah Dan. Sebuah paras yang hanya terbentuk dari air mata, Dan menangis, sebenarnya pula Dan enggan Dazai bunuh diri; mengatakan hal seperti itu.
"Maukah Dan memelukku agar jika saatnya tiba, walaupun kau tidak jadi menemaniku pergi dan aku tetap pergi, kita tetap seolah-olah bersama?"
"Walaupun memelukmu hanya membuatmu semakin ingin bunuh diri, karena kau merasa tinggal di neraka?"
Makanya Dan memutuskan pergi, sebelum tanpa sadar ia benar-benar merengkuh Dazai–tidak pernah ingin ditinggalkan atau meninggalkan. Perlahan-lahan tangan Dazai turun. Spontan ia memalingkan wajahnya ke samping, tetapi dengan anehnya Dan malah memeluk Dazai. Sangat erat hingga Dazai bisa mendengar, Dan lebih takut Dazai mati sebab Dazai merasa kosong–bukan oleh penyakit atau memang waktunya menjemput maut.
"Maaf, Dazai, tetapi bagaimanakah rasanya?"
"Benar katamu. Dipeluk olehmu membuatku merasa seperti di neraka. Namun, neraka sungguhan membakar karena memang sudah pekerjaannya. Sementara Dan melakukannya karena kau ingin. Aku menyukainya, Dan."
"Bolehkah aku menjadi nerakamu dengan terus memperhatikanmu dan menyayangimu, Dazai?"
"Karena itu Dan, aku mengizinkanmu, deh."
Dazai hanya bisa tinggal jika ia di neraka, makanya Dan mau menjelma neraka untuk Dazai. Tetapi Dan tidak mungkin berada di sana; mustahil pula Dazai membiarkan Dan dilalap rasa sakit, hanya karena kebaikannya adalah menemani Dazai bunuh diri. Namun, tetap saja Dazai membutuhkan Dan. Dengan mengizinkan Dan memeluk Dazai seperti ini, sekaligus menangis pada ceruk leher Dazai, setidaknya mereka dapat bersama-sama walau sekarang ini adalah neraka.
(Hanya setelah itu, tanpa Dan ketahui Dazai pun bisa melepaskan Dan dari neraka ini, mungkin mengajaknya lagi, di mana akhirnya haruslah Dazai melepaskan Dan. Menjadi neraka lebih menyakitkan dibandingkan neraka sebenarnya, soalnya, sebab padahal Dan ini melakukan hal-hal baik, tetapi yang ia peroleh hanyalah perasaan Dan tengah terluka; selalu saja sakit.)
Tamat.
A/N: Akhir-akhir ini lagi stres rasanya. Mungkin sekarang juga masih, apalagi pas tahu kabar ada seorang teman (bagiku dia lebih seperti panutan, karena dia yang membuatku berpikir terbuka), kepingin mati aja. Rasanya makin lelah sama hidup kayak dazai, tetapi ada aja yang nahan kayak Dan, tetapi juga aku masih dazai yang mau diperhatikan meski ya … aku tau gak selamanya aku bakal diperhatikan.
Cerita ini cuma pelampiasan stres pada akhirnya. Terima kasih buat yang mau mampir baca, padahal aku sekadar asbun tanpa memikirkan alur segala macam.
