Teruntuk Nanadaime

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Kumpulan hasil drabble peserta mini games #TanjoubiONaruto.


Kue, Hokage, Sayang

Karya: itadoriumai, huchuabuabu, bajuguabatik (Jamet Toyib)

Tidak ada kue-kue yang berterbangan bak butiran debu, ruang Hokage pun juga sepi senyap seperti rumah hantu, membuat dia kesepian.

Namun, rasa sayang dari Mugino yang rela berkorban dan ngejamet, anak pertamanya Boruto yang nungguin bapak pulang, serta mengingat kekocakan Hashirama telah membuatnya senyum semangat.

•••

•Bersama, Mentari, Tertawa•

Karya: keshinkishi, sohighflower, aleeshaxsfr, nishinoyanai (IJO IJO CEPOL NYEGERIN)

Sore-sore ketika mentari mulai sembunyi di balik sinar jingganya, kita bersama lagi duduk bersila. Lelah habis latihan bolak balik Konoha-Suna-Kiri 1000, akhirnya istirahat di rumah sensei. Tenten membuat es teh yang paling seger yang pernah ada! Neji, ya, tentu saja membantu Tenten membuat minuman es teh segar, sambil—yah, bucin.

"Ten, aku bantu, ya? Kayaknya kamu kecapekan,"

"Boleh Neji, enggak kok. Aku enggak capek. Mungkin kamu yang capek? Hehe."

"Iya aku capek, tapi abis liat kamu, aku semangat lagi kok!"

"Nejiii-kun, bisa aja." Sedangkan Lee dan Guy- sensei hanya melihat mereka berdua. Tapi karena masih berkobar semangat masa mudanya, akhirnya Lee dan Guy-sensei kembali tanding push-up, masih dengan baju hijau ketat super kebanggan mereka yang baunya apek amis beler ( gak banget baunya).

"LEE, 17.000 PUSH-UP APA KAU SANGGUP?"

"TENTU SAJA SENSEI INI GAMPILLL, BAHKAN AKU BISA SAMPAI 29.000!!!"

"KENAPA TIDAK 30.000?"

Neji kemudian menghampiri mereka. "Sudahhh, sudahhh daripada latihan lagi, mending segera habiskan es teh ini, lalu kita pergi ke rumah Naruto, ya, kan, Ten?"

"Iyaa, jangan lupa kita harus ke rumah Naruto malam ini. Di hari spesialnya." Tenten juga ikut menghampiri mereka.

Lee tersedak sampai ingusnya terlempar jauh karena dia lupa hari ini saatnya, tapi hal itu malah membuat sensei dan temannya tertawa.

•••

•Bersama, Mentari, Tertawa•

Karya: meowakiss, tatavantaa, nuellauzu (Pilus Garuda)

Bisa dibilang, Tim Taka tidak sedekat itu dengan Naruto. Hal itu tak pernah menjadi beban pikiran bagi mereka. Hingga suatu hari, entah datang angin dari mana, Sasuke memberitahukan bahwa Naruto mengharapkan kedatangan mereka untuk merayakan hari kelahirannya bersama di Konoha.

Jelas saja mendengar kabar tersebut, Tim Taka mendadak syok berat. Namun demi menghargai niat baik sang Hokage—Karin, Suigetsu dan Juugo mengiyakan undangan tersebut. Banyak sekali ide yang terlintas di benak mereka mengenai kado yang tepat untuk pemuda dengan senyum secerah mentari itu. Namun tak satu pun terealisasi.

Disitulah Suigetsu dengan nada ingin menyerah menyeletuk, "Udahlah, kasih duit aja."

Karin menyembur, "Lo pikir ini acara amal apa pakai kasih duit?!"

Juugo kemudian membuka suara. "Hadiah apa pun itu tidak penting, 'kan? Yang penting adalah kehadiran kita." ujarnya bijak.

"Capek banget, gengs. Otak gue mau meledak. Begitu sampai Konoha mau ke pijat akupuntur aja gue."

Mendengar keluhan Suigetsu, Karin terdiam sejenak. "...Woi! Bagus tuh kalau hadiahnya alat pijat. Naruto 'kan sering duduk di kantor Hokage. Pasti jarang relaksasi."

Bibir Suigetsu lantas membentuk "o".

"Memang ide itu keluar di saat kepepet."

Mereka pun tertawa lepas.

•••

•Ramen, Katak, Rubah•

Karya: nanadaimeswife, yuutaphile, matchattebasa, adoremiyas (Janda Lumut)

Kabar kematian sang rubah Hokage ketujuh menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru Konoha. Kehilangan sesuatu yang berarti dalam hidup sangatlah menyakitkan, terlebih jika eksistensinya telah menemani dan merekam jejak perjalanan hidupmu dari awal.

Kala mendengar kisah ini, Shikadai dan Inojin hanya termenung di dalam sebuah kedai Ramen terkenal di pusat desa. Mereka merasa selalu direngkuh olehnya, namun sosoknya terkesan masih sangat jauh dari hati mereka.

Mereka menyesal tidak bisa merasakan perasaan yang dialami Nanadaime-sama.

Seraya memainkan sumpit, ujung mata Shikadai menangkap potret dua insan yang dikenalnya, yang sekaligus menjadi saksi pada peristiwa itu. Kedatangan Kawaki dan Sumire dari rumah sakit membawa keramaian lain dalam cerita yang mereka dengar.

Menurut mereka, tidak apa. Nanadaime-sama bukanlah orang lemah, banyak jutsu lain bisa diandalkan. Dompet kodok di genggaman Kawaki salah satu jawabannya. Teringat kisah remaja Nanadaime saat invasi Pain, Kurama bukanlah satu-satunya.

Adapun kedatangan mereka ke sini bukanlah untuk mengisi perut. Sumire berkata ingin memberi hadiah kepada sang pahlawan dengan harapan bisa sedikit menghibur. Bingung, tentu saja, namun jalan pikir polos Kawaki menjawabnya.

Ramen.

Inojin merasa lucu, Shikadai pun setuju. Padahal mereka tahu, tak peduli seberapa pun pemberian mereka, Naruto tetap akan menghargainya.

Terlebih, Ichiraku Ramen, adalah tempat yang berarti bagi Naruto.

•••

•Bahagia, Hangat, Cinta•

Karya: Team and Jerry

Jika pikirmu kau adalah cacat dari semesta, izinkan aku bersaksi, bahwa tidak ada hal lebih indah dari hadirmu yang bagaikan berkah dari para dewa. Ragamu terbentuk dari serpihan bintang, sangat berharga, terhubung di seluruh jagat raya.

Jangan menangis di kala sepi memainkan babak dalam episode kehidupan. Kau tidak diciptakan hanya untuk bersemayam pada jiwa yang diliputi kesedihan. Lahirmu dirahmati cinta serta doa yang penuh ketulusan.

Lalu pada hari pertamamu menjadi makhluk bumi, kau sendiri. Tak ada lengan yang seharusnya memberimu hangat. Pada masa-masa selanjutnya, semua masih sama; senyap dan nyenyat.

Tak apa, sebab dengan lenganmu sendiri saja, kau mampu menjadi penyelamat bagi jiwa-jiwa yang setengah mati berdiri dan hampir mati. Pada akhirnya, tak hanya lengan; melainkan seluruh ragamu seolah menjadi air bagi benih-benih kehidupan yang hampir padam.

Berbahagialah, berbahagialah. Nyatanya hadirmu kini jadi sinar yang nyata terangnya dalam kehidupan manusia. Orang orang mengelu-elukanmu, "elu goblok" katanya. Salah, bukan. "Kau pahlawanku", "kau masa depan bagi Konoha", "Hokage masa depan".

Setahun, lima tahun, sepuluh tahun berlalu, berbahagialah, hal itu menjadi nyata. Berkat hangatnya hadirmu. Karena besarnya cinta kasihmu.

•••

•Lari, Teriak, Terjang•

Karya: useeoi, uzuratcnkachi, bakuyaroo, kakashikemen (PDI—Pacar Danzo Imut)

"Duh, kenapa juga gue yang harus kena dare?" Pemuda tampan dengan rambut ikal mengeluh pelan sambil berjalan menjauhi gerbang desa.

Suara langkah kaki terdengar dari belakang Shisui, pemuda itu. Ia menoleh, kemudian mendapati sesosok kakek-kakek dengan perban yang menutupi sebelah matanya tengah berlari ke arahnya.

"ASTAGA!" Shisui spontan berlari menjauh ketika menyadari sosok Danzo, kakek-kakek tersebut.

"Nak, tunggu!" Suara Danzo terdengar seperti memanggil Shisui.

"Sekuat apa pun gue, kalau ada Danzo, gue harus lari!" kata Shisui.

" ET, ET!" Langkah Shisui terhenti di perempatan karena sedang ada rombongan sapi yang sedang lewat.

"Nak! Ohok-ohok!" Danzo yang berhasil menyusul ikut berhenti dan terengah. Namun, ternyata ia tidak sendiri, Hiruzen yang membawa kotak kue menemaninya.

"Nak, ini, lho. Kami mau minta tolong bawakan kue ini buat pestanya Naruto. Tapi kami sudah tua, takut terlambat," ucap Danzo.

"Njo, kan tinggal panggil Aoda, toh?" sahut Hiruzen.

"Kau kenapa gak bilang, hah?" Danzo memelototi Hiruzen.

"Aku wis bilangi kamu, loh. Kamu yang nggak denger itu!" Hiruzen berseru nyolot.

"Ya, kau panggil lah itu Aoda!" sahut Danzo.

Shisui hanya menonton mereka dengan wajah heran. Hiruzen pun mengeluarkan seruling bambu miliknya, kemudian meniupnya. Sekejap, seekor ular raksasa pun muncul di hadapan mereka.

"Saya harus ngapain?" tanya Aoda, ular itu.

"Antar kami ke tempatnya Naruto!" perintah Danzo.

"Baik, Tuan." Aoda pun menaikkan ketiga lelaki tersebut ke tubuhnya, kemudian membawa mereka pergi.

"KENAPA GUE JUGA IKUT?!" teriak Shisui dalam hati.

•••

•Menangis, Sendiri, Hujan•

Karya: s8rada, ge_mi888, thisjforyou, O92KIBA (#SaveAkamaru)

Sepuluh Oktober. Hari ini Konoha diguyur hujan, hari yang sama di mana dua dekade yang lalu suara angin berhembus kencang terdengar di dalam sebuah ruangan petak kecil berantakan yang ditinggali oleh Naruto kecil seorang diri. Yang punya rumah berada di sudut ruangan sambil menangis, safirnya tak henti-henti mengeluarkan air mata. Sedikit terisak namun tak sampai meraung—karena toh Sandaime Hokage tidak akan tiba-tiba datang untuk menenangkannya. Kedua pandangan matanya yang kabur menatap tumpukan sampah ramen yang berserakan, suara petir sesekali menyambar bersama cahaya kilat yang silaunya tak kalah mengangetkan. Tidak ada ucapan, tidak ada nyanyian, tidak ada pelukan di hari yang seharusnya spesial. Naruto masih terlalu kecil untuk mencecap getir pada hari yang seharusnya manis.

"Terima kasih Istri dan anak-anak Papa yang sudah kasih Papa kejutan di hari spesialnya Papa hari ini" suara Naruto bergetar dan matanya berkaca-kaca tatkala mengucapkan sepatah kata tersebut. Istri dan kedua anaknya berhamburan memeluknya, yang bungsu sibuk menciumi pipinya, yang sulung sibuk mengacak-acak rambutnya, sedangkan sang istri mengusakkan wajahnya di dada bidangnya. Hujan di Konoha kali ini tidak lagi terasa dingin untuk Naruto.

•••

•Kawan, Lawan, Bicara•

Karya: Kufukamizake (Ninpo: Jinchuriki dan Pawangnya yang Tak Terkalahkan no Jutsu)

Seperti biasa, 10 Oktober sebelum mentari menghilang sepenuhnya, Kakashi akan berdiri di sana, berbicara kepada Minato dan Kushina, menyampaikan bahwa anak semata wayang mereka telah tumbuh dengan baik. Selepasnya, Kakashi pun beranjak menuju apartemen Naruto untuk mengajaknya makan ramen kesukaannya seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tapi, malam itu ia justru bertemu Naruto di tengah perjalanan. Salah satu kegundahan yang membebani punggung lelaki muda itu, Naruto masih belum bisa membawa kawannya pulang. Kawan yang saat ini mungkin bisa disebut sebagai.. lawan?

Diiringi obrolan ringan mereka berjalan menyusuri jalanan Konoha di langit temaram. Kemudian terdengar derap langkah seseorang mendekati mereka. "Yahuuuu. Kau pasti Uzumaki Naruto, kan?"

"Kau siapa? Apa aku mengenalmu?"

"Kenalkan, namaku Fuu dari Takigakure, teman Gaara. Sesama Jinchuriki, aku tahu apa yang kau rasakan. Aku di sini ingin memberimu hadiah, dengan menjadikanmu temanku!"

Lelaki muda itu terkejut, namun perlahan terukir senyuman lebar di wajahnya. "Tentu, dattebayo!"

Kakashi tersenyum di balik maskernya, menatap langit seraya berbisik lirih, "Minato- sensei, Kushina- san, Naruto baik-baik saja."

•••

•Menangis, Sendiri, Hujan•

Karya: uchiharens, ymnkas, my2om, Yzveus (Sasuke Slander)

Titik-titik air masih deras menuruni garis wajahnya, menangis namun senyumnya kian dikembangkan merekah, merupa kelopak mawar pula matanya yang menyipit mereplika bulan sabit. Hari ini bertambah lagi satu tahun usia, Naruto berbahagia, selayaknya manusia lain yang merayakan hari lahir.

"Terima kasih, terima kasih," ucapnya berulang.

Hujan kertas warna-warni dari konfeti yang meletup, wangi vanilla yang menguar dari kue yang dibuat oleh Hinata, dengan penuh cinta tentunya. Jangan melupakan belasan balon yang ditiup Temari, serta dekorasi penuh warna senja, buah karya Mikoto yang dibantu Fugaku melengkapi hari bahagia Naruto tahun ini.

Sekali lagi, peringatan hari lahirnya datang kembali, mampir sehari minta dirayakan dan langsung dikabulkan. Bukan masalah walau kedua orang tuanya sudah lebih dulu berpulang, karena sekarang tidak lagi ada kata sendiri dalam buku perjalanannya. Beramai-ramai semuanya merayakan, semuanya mendoakan, lalu semuanya mengaminkan, segala pinta yang dibisikkan dengan hati-hati kepada sang pemilik raya.

"Semoga selalu berbahagia, semoga selalu bersama-sama, semoga selalu menjadi berguna, semoga semua yang disemogakan segera pula disegerakan."

Selamat melanjutkan perjalanan, segeralah sampai ke tujuan.

•••

•Kumis, Kuning, Biru•

Karya: jaehcee, faihyuu (hyuufai_), archivisste, yakushijie (B-BO, Shisho! Best Boy Only, Shinobi Sholeh!)

Wajah dengan kumis tipis-tipis berjumlah tiga buah di pipi itu memperlihatkan sebuah senyum. Di hadapan kaca, mata biru itu memandang ke arahnya dengan sebuah tekad.

"Selamat pagi," bermonolog pelan dengan tetap mempertahankan senyum.

Pemuda itu kini mengenakan pakaian warna jingga, favoritnya. Rambut pirang mentereng menjerumus kuning itu tak disisirnya, tetapi sang pemuda terlihat tak memedulikannya. Toh, rambutnya kini cepak saja. Menggunakan ikat kepala kebanggaan ke dahi; pemuda itu bangga dengan lambang yang tersemat di sana, Konoha.

Ketika melangkah keluar dari tempatnya tinggal entah mengapa tiba-tiba saja mengingat satu dan banyak hal. Mengingat beberapa musuh yang pernah ditemuinya; manusia ular dengan pendamping berambut perak yang setia; pemuda berambut jingga yang sempat memporak-porandakan desanya; amukan Uchiha-Otsutsuki bumi yang membuat perang dunia; dan Otsutsuki bulan yang hampir meratakan bumi dan menculik cintanya.

Bukan sekali dua kali ia hampir mati. Terdekap maut seperti banyak orang yang telah berjuang untuknya.

Saat langkahnya berakhir, pemuda itu menemukan banyak wajah familier. Meneriakkan sesuatu yang membuat hatinya hangat.

"Selamat tambah tua, Uzumaki Naruto!"

Senyum dan gelak tawa Naruto terurai seketika. Namun, tanpa disadari air matanya juga jatuh, bersamaan dengan bayangan fana dalam pikiran yang tak diketahui dari mana.

Kurama.

Namun, apa?

•••

•Ramen, Katak, Rubah•

Karya: Senjcu, arfiwww, doriyuheki, veekashee (Izumi n Anak-anak Paud Al-Qonoha)

Hari ini sangat berarti bagi bocah kuning bermata biru seperti spongebob. Maka dari itu, ia ingin membuat pesta ramen. Akan tetapi, ternyata teman-temannya sedang menjalani misi. Kuchiyosenya, katak myobokuzan, juga tidak bisa menemani karena sedang berbulan madu ke awan biru.

Ia pun bosan, terbesit rencana untuk mengobrol dengan rubah yang ada dalam tubuhnya. Namun, rubah tersebut juga tak mau menemaninya, ia malah menghardik Naruto. Naruto sudah menduganya dan itu tidak masalah, kecuali aroma busuk yang keluar dari mulut rubah yang seperti bau mulut Danzo. Ah, benar juga. Sudah beratus-ratus tahun rubah hidup, ia tidak pernah sikat gigi.

"Hari yang sial," ujar Naruto.

Aduh, tiba-tiba ada kertas yang terlempar dari luar jendela tepat mengenai kepalanya. Isi dari kertas itu adalah undangan untuk pergi ke Ichiraku Ramen.

Tanpa pikir panjang, ia melangkahkan kakinya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat kedai ramen yang dipenuhi binatang. Apakah Paman Teuchi mengalihfungsikan kedainya menjadi tempat penitipan hewan? Gagak dengan mata sharingan, babinya nenek Tsunade, dan kucingnya Mitsuki. Selain itu, ehem, ada kakak cantik juga, dilihat dari pakaiannya, dia berasal dari klan Uchiha.

Mereka membuat pesta ramen untuk dirinya? Bukan sial, ini hari bahagia. Tidak ada yang menduga kalau besok dia sakit perut.

.

.

.

Selesai, terima kasih atas partisipasinya!

Salam sayang,

—NaruHina Indonesia, TXT dari Naruto, dan Shinobifess.