To love ru The God of Shinobi.

Fandom : Naruto, To love ru.

Pair : Madara Uchiha. Lala Satalin Deviluke.

Episode 01.

Pagi hari di sebuah desa yang baru saja di buat dalam beberapa minggu oleh dua klan besar di sana, yaitu Uchiha dan Senju, Terlihat seorang lelaki berambut hitam panjang sepunggung berjalan santai di desa itu, ia mengenakan kimono berwarna putih, terlihat semua warga desa menatapnya dengan tatapan hormat. Ia pun hanya tersenyum kecil ke arah mereka dalam membalas sapaan para warga desa.

Tak lama kemudian ia melihat seorang pria berambut raven jabrik panjang dengan poni yang menutup mata kanannya, dan lelaki itu terlihat mengenakan kimono ungu dengan lambang kipas dengan warna putih dan merah. Melihat hal itu si pria dengan kimono putih cerah pun menyapanya.

"Yo Madara!" sapa pria berambut hitam panjang yang mengenakan kimono putih cerah, kepada pria berambut hitam panjang yang mengenakan kimono gelap berlambang kipas dipunggungnya.

"Hashirama ... ada apa gerangan hingga kau menyapaku?" tanya pria berpakaian gelap itu sembari mendekati pria berpakaian cerah yang menyapanya.

"Yah hanya ingin menyapa teman lama, apakah itu tidak boleh," tanggap Hashirama pada pertanyaan Madara barusan.

Madara yang mendengar jawaban Hashirama hanya tersenyum tipis, terlebih ia melihat tawa lebar sahabatnya itu, "Sudah sangat lama kita tidak saling menyapa seperti ini," gumam Madara sembari berjalan di samping Hashirama dan berjalan mengelilingi desa yang mereka buat bersama.

"Yah, akhirnya kita bisa berdamai dan membuat desa kita berdua, sekarang Uchiha dan Senju sudah tidak berperang. Oh iya aku juga dapat kabar kalau beberapa klan besar juga ingin bergabung kedalam desa kita, mereka adalah Sarutobi dan 3 serangkai inoshikachou, Yamanaka, Nara dan Akemichi," ujar Hashirama memberitahukan hal penting pada Madara sahabatnya.

"Wow, tak aku sangka kalau desa kita berkembang sangat cepat," ucap Madara tak menyangka akan pencapaian mereka berdua.

"Yah tentu saja, itu karena memang desa ini dibentuk oleh dua klan terkuat. Makanya klan-klan dari ninja lain tak punya pilihan lain selain bergabung," ungkap Hashirama.

Mereka terus berjalan hingga akhirnya mencapai sebuah gedung pemerintahan yang mereka buat di desa mereka berdua, yah meskipun desa itu masih belum memiliki pemimpin pasti karena memang desa itu baru dibuat beberapa hari yang lalu. Setelah berdiri cukup lama di depan pintu gerbang menuju gedung pemerintahan desa, mereka pun memutuskan untuk berjalan menuju tempat lain dan sesaat setelahnya mereka melihat sosok anak perempuan yang berlari kencang ke arah mereka hingga menabrak tubuh Madara dan terjatuh. Madara yang melihat anak kecil itu terjatuh karena menabraknya langsung berjongkok dan mengambil bunga bocah yang tadi terjatuh lalu memberikan bunga itu kembali sembari menatap bocah itu.

"Kau baik-baik saja?" tanya Madara pada anak perempuan itu.

Namun bukannya menjawab ataupun berterima kasih, anak perempuan yang usianya kira-kira 5 tahun itu langsung ketakutan dan berjalan mundur dan berlari memeluk kaki dari Hashirama. Madara yang melihat hal itu langsung merasakan ada sesuatu yang retak di hatinya. Namun, ia sama sekali tidak tahu apa itu dan hanya diam mematung dengan ekspresi tak menyangka, sementara Hashirama tak bisa berkata banyak jujur saja ia juga bingung mau bagaimana sekarang, karena ia tahu kalau Madara sedang sakit hati karena anak kecil menolak kehadirannya.

"M-Madara," gumam Hashirama mencoba memanggil temannya.

"T-Tak apa Hashirama, i-ini sudah sering terjadi jadi tak apa-apa," ungkap Madara sembari tersenyum ke arah Hashirama. Namun, senyuman yang dipaksakan itu terkesan menyeramkan, sehingga membuat anak kecil yang bersembunyi di kaki Hashirama malah semakin takut dengannya.

"Ano, Madara aku rasa kau harus lebih sering tersenyum, agar senyumanmu tidak terlihat menyeramkan dan juga kau harus mengganti gaya rambutmu, karena kau terlihat menakutkan jika masih mempertahankan gayamu yang seperti itu," ungkap Hashirama sembari mengalihkan wajah dari Madara.

Madara sedikit cemberut mendengar perkataan Hashirama dan menatap gadis yang ketakutan itu dan mulai berkata, "Lain kali hati-hati, di jalan dan ini bunga milikmukan, ambilah," ujar Madara dengan lembut mengembalikan barang milik gadis itu. Gadis itu terdiam dan mencoba untuk mendekati Madara sembari mengambil setangkai bunga yang ada ditangan Madara secara perlahan, setelahnya Madara pun tersenyum manis dan mengelus lembut rambut anak perempuan itu sembari berkata, "Anak pintar," wajah bocah itu pun sedikit memerah dan membungkuk ke arah Madara.

"Terima kasih paman!" serunya sembari berlari menjauh. Madara hanya tersenyum kecil melihat anak perempuan itu sembari melambai dan tersenyum kecil.

"Hem, caramu mendekati anak kecil itu boleh juga Madara," ucap Hashirama sedikit memuji.

"Yah, lagi pula aku jadi teringat dengan adikku Izuna ketika melihat bocah itu ketakutan, makannya aku mencoba menghiburnya," jawab santai Madara sembari berjalan meninggalkan Hashirama.

Hashirama yang mendengar hal itu langsung berlari mengikuti Madara dan berkata,"Yah bukankah memang itu tujuan kita membangun desa ini Madara," ungkap Hashirama.

"Yah, berkatmu, hatiku kembali terbuka untuk membuat perdamaian yang pernah kita mimpikan bersama dan untuk itu kita harus menjadi lebih kuat dan membangun desa ini bersama," tambah Madara.

"Ya Karena itu adalah impian kita sejak kecil. Madara, demi mewujudkan impian kita, aku ingin kau menjadi Hokage di desa ini dan melindungi semua rakyat di desa yang kita buat," ujar Hashirama sembari menatap desa mereka berdua dari atas tebing tinggi yang berada di belakang gedung pemimpin desa.

"Hokage?" tanya Madara yang keheranan dengan kalimat itu.

Ho 火 = api. Kage 影 = bayangan, jadi kalau digabungkan, maka akan menjadi Bayangan api. atau bayangan dari api.

"Yah Hokage, seperti namanya orang yang akan melindungi Negara api dari balik bayangan. Kenapa negara api, karena desa kita akan menjadi desa yang akan mengabdi pada Negara api. Dan kesepakatan ini sudah disetujui oleh Daimyo Negri api," ujar Hashirama menjelaskan.

"Jadi begitu, lalu apa nama desa kita ini?" tanya Madara pada Hashirama sembari menatap keindahan desa yang mereka bangun dengan sederhana.

"Aku rasa untuk hal itu kaulah yang pantas untuk menentukannya Madara," jawab Hashirama yang memberitahukan kalau Madaralah yang harus memberikan nama pada Desa mereka. Madara yang mendengar hal itu langsung menatap ke arah Hashirama.

"Bukankah Desa ini tercipta akan keinginanmu, jadi kenapa harus aku yang memutuskan?" tanya Madara pada Hashirama.

"Madara, ide akan desa ini tercipta karena keinginanmu untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi, jadi sebenarnya desa ini terwujud atas kehendak kita berdua. Jadi saat aku sudah memberikan sebutan atau nama untuk pemimpin desa, sekarang giliranmu untuk memberikan nama pada Desa ini," ucap Hashirama menjelaskan alasannya pada Madara.

Madara terdiam hingga beberapa saat, sampai akhirnya ada daun hijau yang melayang ke arahnya, ia pun mengambil daun itu dan terlihat daun itu memiliki lubang ditengahnya, seketika Madara langsung mendapatkan inspirasi untuk nama dari desa yang ia dirikan bersama Hashirama.

Madara kemudian mengintip pemandangan desa dari lubang daun hijau ditangannya, "Konoha," gumam Madara sembari tersenyum.

"Konoha?" tanya Hashirama keheranan.

"Konohagakure no sato(Desa daun tersembunyi)," ucap Madara lagi sembari menatap Hashirama untuk mengetahui apa yang dipikirkan sahabatnya itu.

"Madara jangan bilang nama yang kau berikan berasal dari daun hijau berlubang itu?" tanya Hashirama dengan wajah tak percaya.

"Memangnya kenapa?"

"Ahaahhahahahahaha! Kau sangat payah dalam membuat nama, kau hanya menamai desa kita dari apa yang kau lihat ... sungguh pengetahuanmu sangat sempit," ejek Hashirama kepada Madara.

Madara yang mendengar ejekan dari Hashirama langsung cemberut dimana ia sudah mencoba untuk membuat nama untuk desa dan malah enggak dihargai, "Bukankah nama Hokage itu juga kata-kata ngasal lo doang kampret?!" teriak tak terima Madara, "Lagian nama buatanmu itu juga sama anehnya bahkan sangat tidak berestitika sama sekali!"

Mendengar tidak ada seni langsung membuat Hashirama pundung seketika. Bahkan Madara yang melihat malah berteriak

"Bisa hentikan sifat pesimis mu itu. Aku muak melihatnya" ujar Madara yang melihat Hashirama yang habis patah hati akibat ditolak jatuh cinta sama perempuan.

"Habisnya, habisnya hik-hik, kau sungguh tak berperasaan," ujar Hashirama dengan wajah pundungnya menatap Madara dengan mata berairnya.

"Apa-apaan ekpresi palsu sialanmu itu!" seru Madara yang melihat Hashirama yang menurutnya agak aneh.

"Iya-iya, ngomong-ngomong Konohakagakure kah, nama yang bagus, sebenarnya aku juga cukup setuju dengan nama itu, karena daun itu melambangkan elemen milikku dan Hokage yang mengambil nama api itu mengambil dari elemen yang dimiliki klanmu, bukankah itu menandakan penamaan desa dan pemimpin desanya benar-benar melambangkan persahabatan dua klan yang dulunya bermusuhan, ah tidak desa ini adalah bukti persahabatan dan persaingan kita telah dimulai kembali," ujar Hashirama sembari tersenyum kecil.

Madara yang mendengar hal itu hanya diam menatap desa besar yang ia buat bersama sahabatnya, "Apakah aku memang pantas menjadi Hokage?" tanya Madara lagi, jujur ia sudah pernah gagal melindungi adiknya, jadi bagaimana caranya agar ia bisa melindungi seluruh penduduk desa.

"Tenang saja Madara, aku percaya kepadamu!" tanggap Hashirama sembari tersenyum dan mengelus pelan punggung Madara.

'Kalau saja Izuna masih hidup aku mungkin akan dengan senang hati menerima jabatan itu, tapi ... Izuna telah tiada, aku telah kehilangan sesuatu yang berharga, tapi meski begitu aku tak ingin kehilangan lebih banyak lagi, jadi aku akan mencoba melindungi mimpiku dan Hashirama,' batin Madara.

"Rupanya kau ada di sini kakak," ucap seseorang dari belakang, mendengar hal itu Madara dan Hashirama pun menatap ke sumber suara dan terlihat sosok lelaki bermambut putih dengan tatapan tajam yang di arahkan pada Madara, wajahnya begitu datar dan berkarisma serta sangat mengintimidasi orang bermental rendah.

"Tobirama, ada apa?" tanya Hashirama pada adiknya tersebut.

"Daimyo negara api ingin bertemu denganmu untuk membahas beberapa hal," jawab Tobirama sembari menatap datar kakaknya dengan wajah serius, oh iya Tobirama memang jarang tersenyum. Namun, entah kenapa ia malah mendapat rasa hormat yang lebih besar dari Madara.

"Em baiklah. Madara aku pergi dulu!" seru Hashirama yang berlari ke arah Tobirama, sementara itu Madara langsung menatap daun berlubang yang ada di tangannya, lalu dilanjutkan dengan ia mengintip melalui lubang di daun itu dan melihat rombongan Daimyo yang dimaksud dengan wajah tenang dan datar.

'Hashirama,' batin Madara yang langsung menghilang dalam kepulan asap dari tempat ia berpijak, malam hari kemudian Madara bersantai di aliran sungai tempat ia dan Hashirama berlatih bersama dulu. Madara terus melempar batu pipih dan memantulkannya hingga ke seberang sungai.

'Hashirama, aku tahu kau mencoba menghiburku dengan memberikan jabatan Hokage padaku, tapi pada nyatanya banyak orang yang tak menyukaiku dan akhirnya memilihmu menjadi Hokage. Sejujurnya aku tidak masalah dengan itu, tapi aku cukup khawatir kalau setelah kematianmu yang menjadi Hokage adalah Tobirama, jujur saja aku tidak percaya padanya dan hal itu membuatku khawatir akan keadaan klanku,' pikir panjang Madara.

Madara kemudian mencoba menenangkan diri dengan berendam di aliran sungai, setelah satu menit Madara pun akhirnya keluar dari air dan mencoba mengambil pakaiannya, di tanah, secara tiba-tiba tanpa Madara sadari pakaiannya mengeluarkan percikan listrik kecil dan ..., "Engh," lengkuh suara seorang gadis saat Madara mencoba memegang pakaiannya.

'Apa itu? Suara apa yang aku dengar, tidak lebih tepatnya apa yang sebenarnya aku pegang ini?' batin Madara, yang merasa kalau yang ia pegang bukanlah baju atau kain kimono gelap yang biasa ia pakai kemana-mana. Merasa ada yang aneh, Madara pun berdiri dan melihat benda kenyal yang ia pegang.

"Huaaaa! Siapa kau?!" seru kaget Madara ketika melihat gadis berambut pink panjang sedang dalam keadaan terbaring dan telanjang, bahkan yang lebih parahnya ia memegang dada gadis itu ditengah hutan konoha.

Madara mulai telengak telinguk ke sana kemari mencari tahu siapa yang mengirim perempuan itu dan ia juga menggunakan sharinggannya untuk mencari tahu apakah gadis itu shinobi atau bukan.

"Aku, namaku Lala, Lala Satalin Deviluke," jawab gadis itu sembari tersenyum, Madara yang dalam keadaan telanjang bulat itu berdiri di atas air dan melihat pakaiannya yang di duduki oleh gadis aneh itu.

Madara kemudian memejamkan mata, "Kenapa kau telanjang?" tanya Madara yang tak habis pikir, tanpa ia sadari ia juga sama saja.

"Kenapa? hem bukankah kau juga sama saja?" tanya gadis itu sembari berdiri dan menatap tubuh telanjang Madara dari atas sampai bawah dan ia cukup terkejut melihat kaki Madara mengapung di atas air.

Sementara itu Madara yang mendengar Lala mengatakannya sama saja, langsung menatap ke arah tubuhnya dan langsung menutup bagian bawah tubuhnya lebih tepatnya bagian selangkangan kemudian Madara menatap ke arah Lala dengan wajah memerah.

"Baka! Aku sedang mandi dan kau tiba-tiba muncul saat aku ingin mengambil bajuku! Sekarang kau ambil kimono hitam di bawah kakimu dan lemparkan kepadaku!" seru Madara sembari menutup kemaluannya, jujur ini pertama kalinya ia dilihat perempuan saat sedang mandi.

Lala pun akhirnya mengangguk dan mengambil pakaian Madara lalu melemparkannya ke arah Madara. Madara pun dengan cepat menangkap pakaiannya dan memasangnya, tentu ia menggunakan ninjutsunya untuk menutupi tubuhnya, "Katon Hajingakure no jutsu."

Boom, sekelebat asap hitam tebal panas keluar dari tubuh Madara ketika Madara menangkap bajunya dan ketika asapnya menghilang Madara terlihat sudah berpakaian dan terlihat Lala mencoba berjalan di atas air tapi kakinya langsung tenggelam, "Aneh, padahal dia bisa melakukannya, kenapa aku tidak?"

"Oi! Cewe bodoh, bisa kau jelaskan kenapa kau telanjang?" tanya Madara lagi.

"Namaku Lala, bukan Cewe Bodoh! Dan aku telanjang karena aku menggunakan alat ini," ujarnya menunjukkan gelang miliknya, "Karena gelang ini hanya bisa memindahkan makhluk hidup jadi pakaianku tidak ikut terpindah dan gelang ini termasuk gelang pelarian diri darurat karena aku tak bisa menentukan kemana aku akan berpindah," tambah Lala dengan penjelasan sembari menatap Madara.

"Haaaa?!" Kaget Madara yang mendengar penuturan barusan dari Lala.

"Kenapa kau begitu kaget?" tanya Lala lagi.

"Itu karena kau sungguh benar-benar bodoh atau Idiot!" balas Madara dengan nada keras.

"Hah! Kenapa kau bisa-bisanya mengataiku Idiot! Asal kau tahu aku ini dikenal sebagai orang tercerdas di alam semesta!" ucap Lala sembari sedikit menyombongkan diri dengan bersendikap dada di hadapan Madara.

"Jenius tai kucing! Asal kau tahu alatmu malah akan membahayakanmu tahu! Kau beruntung muncul di dekatku, tapi bagaimana kalau kau muncul di dekat orang mesum dalam keadaan telanjang seperti itu atau berada di tempat perdagangan manusia, apa kau tidak takut di E*t hah!" seru Madara dengan wajah tak percaya.

"Apa maksudmu dengan orang mesum? Dan apa itu e*t?" Tanya Lala polos. Ya maklum kerjanya sering buat alat sejak kecil jadi hal umur 18 dia tidak tahu.

"Kau ... aku tidak tahu kau itu idiot atau bodoh, gadis kecil apa kau tidak tahu arti dipaksa mengandung anak dari orang yang tak kau suka?" tanya Madara lagi.

"Tidak tahu" ucap Lala. Wajah Madara seketika menampakkan wajah depresi jujur ini pertama kalinya ia bertemu orang yang lebih bodoh dari Hashirama. Parahnya lagi nanti dirinya akan dicap mesum sama warga Konoha tak terkecuali kawan bodohnya yang menjadi Hokage itu.

"Cek, kau ini benar-benar ... Pokoknya aku tak peduli bagaimana keadaanmu saat itu hingga kau menggunakannya, tapi tolong jangan gunakan lagi, karena alat itu akan sangat berbahaya untuk dirimu," tambah Madara sembari mengambil sebuah gulungan kecil ketika ia membukanya asap putih tipis keluar dari gulungan itu menapakkan satu set pakaian tradisional berwarna ungu gelap.

"Pakailah, aku tidak mau dipanggil mesum hanya karena bersama orang yang dalam keadaan telanjang," pinta Madara sembari memberikan baju tradisional berwarna ungu pada Lala.

"Hem..., aku sih ingin memakainya, tapi aku tidak tahu caranya," balas Lala, yah dia adalah anak bangsawan, jadi dalam urusan berpakaian selalu dilakukan oleh para dayang.

'Dia bahkan tak bisa memakai baju sendiri, aku tidak tahu kalau dia sebodoh itu,' batin Madara lagi. Madara pun akhirnya menghela napas dan meminta Lala merentangkan kedua tangannya agar ia bisa memasangkan Kimono dan Hakama yang baru saja ia munculkan.

"Baiklah rentangkan kedua tanganmu, biar aku yang memasangkannya untukmu," ucap Madara sembari menatap datar Lala, karena memang dihutan ini sangat sepi dan tak ada orang lain selain mereka berdua.

"Begini?" tanya Lala yang mulai merentangkan kedua tangannya, Madara hanya mengangguk dan memasukkan lengan Lala ke lengan bajunya, karena itu Kimono lelaki dan ia tidak punya penutup dada untuk cewe, maka ketika sudah terpasang dan diikat dengan sabuk hitam, bagian dada Lala tetap kelihatan dan untuk menutup bagian bawahnya Lala pun memakai hakama hitam.

Tak hanya sampai di situ Madara juga mengatur rambut Lala menjadi terikat ponytail, hal itu mengingatkan Madara pada gaya rambut ibunya dulu, ya andai saja Lala memiliki rambut yang berwarna gelap maka ia akan terlihat seperti ibunya Madara, setidaknya itulah isi pikiran Madara.

"Baiklah Lala, apa kau punya tempat tinggal di Konoha?" tanya Madara pada Lala, Lala hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, "Kalau begitu mau tinggal di rumahku?" tawar Madara pada gadis itu.

"Apa itu tidak merepotkanmu? E..."

"Madara, namaku Uchiha Madara," ujar Madara yang paham maksud Lala.

"Ya Madara, apakah itu tak akan merepotkanmu?"

"Tidak apa-apa, aku sama sekali tidak repot kok," jawab Madara sembari tersenyum ke arah Lala.

"Apa orang tuamu tak masalah menampungku?" tanya Lala pada Madara

"Tak apa-apa, kau sudah mendapat izin dariku. Ayah, ibu dan adik-adikku sudah mati karena perang, jadi tak apa," balas Madara lagi.

Lala yang mendengar perkataan Madara barusan, hanya bisa diam dan berjalan mengikuti Madara, jujur ia tidak menyangka kalau Madara kehilangan keluarganya karena perang, "Maaf aku tidak tahu kalau kau kehilangan keluargamu," gumam Lala.

Oh iya Lala mengira kalau Madara dan keluarganya berperang melawan kerajaan Deviluke makanya ia meminta maaf.

"Tak apa, kau tak salah apa-apa, jadi sebaiknya kau ikut bersamaku aku tidak tega meninggalkan seorang gadis berkeliaran di tengah hutan, apalagi suasana malam ini sangat dingin," ungkap Madara sembari menarik lengan Lala dengan lembut agar Lala mengikutinya.

Sesampainya di rumah atau Mansion keluarga Uchiha yang terlihat sangat mewah bagi orang biasa, Madara pun masuk sembari membuka pintu rumahnya dengan cara di geser.

Lala dan Madara pun masuk ke dalam, terlihat sebelum menutup pintu Madara melihat keluar rumah, takut kalau anggota klannya melihat dia membawa perempuan ke rumah.

'Bagus, kelihatannya orang-orang sudah pada tidur,' batin Madara sembari tersenyum dan menutup pintu rumahnya.

Ia kemudian membawa Lala ke ruang tamu dan menghidangkannya teh jahe hangat, "Minumlah, meskipun tidak sesuai dengan seleramu, setidaknya teh itu akan menghangatkan tubuhmu di malam ini."

Lala pun menganggukkan kepala dan meminum teh jahe yang dihidangkan oleh Madara Uchiha, "Rasanya lumayan," gumam pelan Lala sembari tersenyum ketika sedikit merasakan kehangatan di tubuhnya.

"Syukurlah kau menyukainya," gumam Madara sembari tersenyum tipis.

Tak lama setelahnya suasana kemudian menjadi sangat canggung, baik untuk Lala maupun Madara itu sendiri. Tak ada sepatah katapun yang terucap di mulut mereka berdua.

"Ano!" panggil Lala pada Madara.

"Hn," sahut Madara dengan gumaman pelan sembari menatap ke arah Lala yang sekarang duduk di rumahnya.

"Bisakah kau membuat lubang di celananya, ekorku tidak nyaman jika harus terlipat saat duduk," ungkap Lala sembari menatap ke arah Madara dengan wajah memerah.

Madara yang mendengar perkataan gadis itu langsung kaget sendiri dan langsung teringat dengan benda hitam panjang dengan ujung tajam yang bergerak ke sana kemari di bokongnya Lala.

"Jadi benda bergerak-gerak di bokongmu itu ekor, aku kira salah satu alatmu yang bisa dilepas," ucap Madara dengan tatapan tak percaya.

"Ya, memangnya kenapa? Ah aku lupa kalau kau-"

Belum sempat Lala menyelesaikan perkataannya Madara sudah menghentikannya dengan menepuk kepala Lala dan mengusap pelan kepala gadis itu, "Baiklah aku mengerti, itu adalah ciri fisik dari klanmu. Aku yakin ekormu memiliki kekuatan khusus, tapi kau tak perlu mengatakannya, untuk sementara aku akan menampungmu di rumahku dan pakai ini untuk melubangi hakamanya," ujar Madara sembari memberikan kunai.

Lalu dilanjutkan dengan Madara yang mencoba pergi menuju kamarnya, tapi saat Madara berdiri secara tiba-tiba sesuatu muncul lewat jendela ruang tamu yang belum di tutup dan langsung memeluk erat Lala.

"Apa kau baik-baik saja Lala-sama!" seru makhluk putih kecil terbang bersayap kelelawar.

"Ya aku baik-baik saja peke-kun," ujar Lala sembari memeluk makhluk kecil itu.

"Dia temanmu?" tanya Madara penasaran.

"lebih tepatnya robot ganti pakaian" ucap Lala

Madara yang bingung hanya diam saja, ia tidak ingin imagenya sebagai orang kalem hancur karena gadis yang kebodohannya setara Hashirama itu.

"Lala-sama, siapa cowo mesum bermuka datar ini?" tanya Peke menunjuk wajah Madara.

Madara yang dikatai mesum oleh makhluk kecil itu langsung mencoba menahan diri untuk tidak menghancurkan robot lancang itu.

'Kalau saja kau tidak berada di hadapan pemilikmu aku akan menghancurkanmu saat itu juga,' batin Madara dengan mata yang sudah berubah menjadi sharinggan.

"Peke itu tidak sopan, dia pemilik dari tempat ini namanya Madara, dia baik kok lihat aku saja diberikan pakaian, tapi karena ekorku tak bisa keluar aku jadi tidak nyaman," ungkap Lala pada Peke.

"Yasudah kalau gitu. Terima kasih orang mesum wajah tembok" ucap Peke.

"Lala, aku rasa aku ingin membakar makhluk putih di hadapanku hingga menjadi abu," gumam Madara dengan wajah mengintimidasi.

"Kyaaa ampuni aku!"

"Peke, cepat ganti pakaianku," pinta Lala.

Peke pun mengangguk dan mulai berubah wujud menjadi semacam tali yang membelit tubuh gadis itu lalu pakaiannya pun berubah menjadi aneh tapi setidaknya ekornya udah bisa keluar.

"Bagaimana? Apakah tidak terlalu ketat?" tanya Peke pada Lala.

"Em ini cukup nyaman," jawab Lala sembari tersenyum manis, terlihat Madara memperhatikan bentuk pakaian Lala dan melihat kepala Peke dalam bentuk topi bersayap yang menempel di kepala Lala.

"Apa kau tidak bisa menjadi baju yang lebih baik, contohnya Kimono yang dipakai Lala waktu tadi, menurutku bentuknya jauh lebih baik," ucap Madara sembari berdiri dan mencoba pergi menyiapkan kamar untuk Lala.

"Aku rasa bisa, tunggu sebentar," ujar Peke lalu seketika kepala Peke yang awalnya berbentuk topi berubah menjadi jepit rambut dan tubuh Lala kembali dibalut oleh Kimono, hanya saja ekor Lala sekarang bebas keluar masuk bajunya.

"Bagus, tunggu di sini aku akan menyiapkan kamar tamu untuk kalian berdua beristirahat," ujar Madara sembari melangkahkan kakinya menuju pintu.

Belum juga lima langkah Madara berjalan, secara tiba-tiba suara dinding kayu rusak yang membuat Madara menatap ke arah belakang dan membuat matanya terbuka lebar karena kaget melihat dinding rumahnya berlubang atau dilubangi oleh dua orang pria yang menerobos masuk ke rumahnya dan mengepung Lala.

"WTF"

"seenaknya nih musuh masuk kerumah gue, njir" ucap Madara sewot.Dan Madara melihat dinding rumahnya yang jebol.

'Bagaimana ini? Hashirama pasti akan tertawa melihat rumahku yang berlubang,' batin Madara dengan wajah suram.

"Lala-sama cepat ikut kami!" seru kedua pria itu.

"Peke, kenapa kau tidak memperhatikan langkahmu? Gara-gara kau kita jadi ditemukan!"

"gomennasai, Lala-sama" ucap peke

"Aku enggak mau ikut lepaskan aku!" seru Lala dan mereka mulai ribut di rumah Uchiha paling sangar di dunia shinobi, sekaligus shinobi yang sudah menggapai tahap dewa.

Melihat tingkah tak sopan orang-orang yang masuk ke rumahnya membuat Madara tak mampu menahan amarahnya, terutama pada dua orang yang menghancurkan dinding rumahnya dan menginjak tataminya dengan sepatu yang tidak dilepas, "Sial aku udah enggak tahan lagii!!!!" seru Madara sembari melesat dan menampar dua pria kurang ajar yang masuk rumahnya sampai terlempar ke luar.

Booom"Gyaaaaaa!"

"Ada apa ini Madara-sama!" seru para anggota klan Uchiha yang menjadi tetangga Madara yang langsung masuk ke rumah Madara.

"Ada dua orang bodoh yang melubangi rumahku untuk menculik tamuku," ujar Madara sembari menujuk dua pria berjas pada dua pria anggota klannya.

"Nani! Dua orang bodoh itu harus ditangkap dan diintrogasi sekarang juga!" seru dua Uchiha yang tidak terima rumah ketua klan mereka di jebol. Dan kini nampak prajurit Madara dari klan uchiha menghajar dua orang berjas hitam hingga mereka babak belur saat ini.

"Keren," gumam Lala yang melihat dua Uchiha yang datang membantu Madara.

Merasa sudah cukup Madara pun menghentikan anak buahnya, "Sudah cukup, sekarang cari tahu siapa mereka dan apa maunya!" seru Madara pada dua anggotanya dan seketika kedua Uchiha itu menggunakan sharinggan mereka untuk menggali informasi. Namun belum sempat mereka menggunakan genjutsu, sebuah suara terdengar dari langit.

"Kau punya pasukan yang lumayan hebat juga ya!" seru sebuah suara dari atas langit yang secara perlahan menurunkan seorang pria berarmor putih dan rambut abu-abu panjang.

Madara menatap datar sosok yang baru datang itu, nampak ia tidak terlalu tertarik bahkan ia dan seluruh klannya lebih tertarik dengan benda lingkaran bersinar yang menurunkan lelaki itu dari langit (Pesawat luar angkasa).

"Madara-sama, benda apa itu?" tanya para kedua Uchiha yang melindungi Madara.

"Entahlah, tapi tetaplah waspada, oh iya tolong lindungi gadis berambut merah muda itu, karena masih ada banyak hal yang ingin aku tanyakan, dan aku akan mengurus mereka yang mengincarnya," ujar Madara memberikan komando pada kedua anggotanya.

"Dimengerti Madara-sama," gumam mereka berdua dan langsung muncul di samping Lala menyiapkan Kunainya untuk melindungi gadis itu dari bahaya, sementara Madara hanya maju sendiri menghadapi orang baru yang muncul di hadapannya berserta dua sosok pria yang tak sempat digenjutsu.

"Siapa kau?" Tanya Madara datar.

"Namaku Zastin ksatria dari kerajaan Deviluke!" seru Zastin sembari menatap ke arah Lala.

"Deviluke? Baru pertama kali aku dengar kerajaan yang aneh itu" ucap Madara santai

"Dan makhluk bumi, bisakah kau tidak ikut campur masalah kami, lalu Lala sama cepat ikut aku, ayahmu sangat cemas dan ingin kau pulang dan jangan melarikan diri lagi!" Seru Zastin ketika ia sudah menapak tanah.

Madara hanya diam mendengarnya dan sedikit menatap ke arah Lala, sementara kedua Uchiha yang diminta Madara untuk melindungi Lala nampak kebingungan dan juga menatap Lala dengan pandangan penuh tanya.

"Aku tidak mau! Berapa kalipun kau memintaku untuk pulang aku enggak mau!"

"Kenapa? Kau tahu ayahmu itu, jika kau tak menurutinya ia bisa melakukan hal mengerikan, fokoknya aku tidak mau pulang dengan tangan kosong dan mati dengan cara yang memalukan!" seru Zastin sembari menyiapkan pedangnya.

"Tetap saja aku tidak mau" ucap Lala.

Madara yang mendengar hal itu langsung mengeluarkan gulungan kecilnya dan setelah itu gulungan itu mengeluarkan sabit besar berantai, "Uchiha no Shinigami, Uchiha Madara," ujar Madara yang maju ke hadapan Zastin.

"Tak semudah itu Ferguso" ucap Zastin.

"Apa kau ingin tahu kenapa Lala-sama mu tidak ingin pulang?" tanya Madara pada Zastin.

"Alasan Lala-sama?" gumam Zastin sembari menatap ke arah Lala.

Madara yang melihat hal itu pun mulai menjawabnya dengan kebohongan yang entah ia dapat ide dari mana, "Alasannya adalah, Lala-sama kalian sudah sering bertemu denganku di hutan dan sekarang dia mengatakan kalau ia mengandung anakku, ya calon Uchiha terkuat yang akan mewarisi tahtaku sebagai pemimpin klan!" Seru Madara dan hal itu membuat kedua Uchiha yang menjaga Lala tercengang.

"Heeeeeeeeh!" seru kedua Uchiha itu yang kaget mendengar pengakuan Madara.

Zastin langsung tercengang layaknya orang idiot mendengar Lala dihamili sama orang tak dikenal.

"Kenapa? Apa kau masih ingin membawa Lala kembali? Atau mengabarkan berita kehamilan Lala pada ayahnya?" Tanya Madara sembari menyeringai.

"Kami sudah sering melakukannya di sungai dekat hutan, kira-kira beberapa bulan lalu," ujar Madara sembari berkedip ke arah Lala tanda ia ingin Lala mengakui kebohongan itu.

Sementara kedua anggotanya langsung tak tahu harus berkata apa saat itu.

"Itu benar" jawab Lala polos.

"Lala-sama," ujar Zastin prustasi, "Tapi aku akan mengetes kelayakannya sebagai suami dari Lala-sama! Karena Gid-sama tidak ingin penerus kerajaan alam semesta merupakan orang lemah!" Seru Zastin yang langsung maju menyerang Madara.

'Madara-sama, tanpa sadar kau telah mengibarkan bendera perang pada musuh yang tak dikenal,' batin kedua Uchiha yang melihat tingkah pemimpin mereka.

"Majulah kau lelaki jones dan perjaka" ucap Madara sinis dengan status Zastin, Madara kemudian tersenyum, "Ayo aku akan menari bersamamu!" seru Madara.

'Kamukan juga sama aja,' batin pengikut Madara yang masih setia melindungi calon istri pemimpin mereka.

Zastin pun melesat menebas Madara dan Madara dengan mudahnya menahan tebasan Zastin dengan sabit miliknya.

Duaak.

"Tendangan keras di perut Zastin pun berhasil Madara berikan tak sampai di situ ketika Zastin terkena tendangan ia terlempar dan terseret di tanah membuat semua warga Uchiha terbangun dan melihat Zastin berhadapan dengan Madara, shinobi yang dikenal sebagai Shinigami dari Uchiha.

Banyak warga Uchiha yang menatap kasihan ke arah Zastin, "Aku belum menyerah!" Zastin langsung kaku ditempat ketika merasakan hawa dingin di lehernya, yang ternyata sabit besar Shinigami Madara menempel di lehernya yang artinya tinggal satu gerakan Zastin akan mati.

Madara kemudian melepaskan Zastin, "Aku akan melupakan kejadian ini, jika kalian pergi sekarang, soal Lala-sama, aku akan mengurus hidupnya sekarang, karena aku adalah orang yang bertanggung jawab, mulai besok, aku akan menikahinya," ujar Madara yang pergi meninggalkan Zastin.

Bersambung.