Prince of Tennis © Konomi Takeshi

Aku tidak mengambil keuntungan apapun kecuali kesenangan jiwa semata (?)

Yukimura Seiichi, Sanada Genichiroh,

Shiraishi Kuranosuke

.

0o0o0o0

naz

0o0o0o0

.

"Yang Mulia, Wakil Kapten Sanada meminta untuk bertemu dengan anda." Salah satu pelayan yang memang sudah sejak awal selalu berjaga di depan pintu kamarnya menyuarakan itu setelah beberapa ketukan terdengar.

Gerakan Yukimura terhenti, satu tangannya menahan dada pria yang berusaha untuk menindihnya. "Tunggu sebentar, Shiraishi."

"Eh? Kau mau menemuinya?" Yukimura mengangguk. "Sekarang?" Badannya bergerak ke sisi ranjang dan menarik satu jubah yang tersampir di lantai. Mengenakannya asal sambil berjalan mendekati pintu besar kamar tidurnya. Tapi belum sempat dia membuka pintu Shiraishi kembali bersuara, "Kau benar-benar kejam, Yang Mulia."

Kalimat itu menghentikan langah Yukimura sesaat. Perkataan Shiraishi bukan ditujukan pada sikap Yukimura yang menghentikan kegiatan mereka barusan. Sebaliknya, nada meledek yang Shiraishi gunakakan saat mengatakan bahwa dirinya kejam adalah bentuk rasa kasihan dia pada orang yang akan Yukimura temui di balik pintu kamarnya sekarang.

Tapi ini memang hal yang ia inginkan. Yukimura segaja membuat situasi ini sebagai hadiah untuk Wakil Kapten Pasuka Pertama kerajaannya, bawahannya sekaligus kekasihnya—orang yang membuatnya jatuh hati, juga orang yang mengaku mencintainya.

Tanpa ragu segaja dia buka lebar kedua pintu kamarnya, menunjukan jelas kalau ada Shiraishi yang setengah telanjang di atas ranjangnya.

"Maaf mengganggu waktu istirahat anda, Yang Mulia. Saya—" kalimat Sanada terputus, perhatiannya teralih pada Shiraishi di belakang Yukimura. Kamarnya gelap, hanya ada sedikit pencahayaan, tapi Yukimura tahu Sanada mengenali orang yang duduk menunggu di atas ranjang Yukimura. Dia sempat terlihat bingung, tapi itu tidak lama. Dengan cepat ekspresi kaget tadi melunak, seolah tidak melihat apapun Sanada kembali melanjutkan kalimatnya, "Saya ingin melapor tentang kasus pembunuhan di distrik satu."

Segaris senyum naik. Tapi disaat yang sama ada sedikit perasaan sakit yang tertinggal melihat seberapa tegar Sanada di hadapanya. "Oh, silahkan."

Yukimura memilih untuk tetap berdiri di tempatnya, memilih untuk menahan Sanada di depan pintu kamarnya. Sama sekali tidak ada niatan untuk memindah lokasi pembicaraan mereka sekarang, Yukimura masih ingin memamerkan keberadaan Shiraishi di atas ranjangnya pada Sanada.

Dan seolah ingin menantang balik sikap Yukimura sekarang, Sanada benar-benar melaporkan hal yang ingin dia sampaikan, mengabaikan bagaimana lusuhnya jubah yang sekarang Yukimura kenakan, mengabaikan Shiraishi yang justru asik menonton di belakangnya.

"...saya rasa kita butuh bantuan dari Pasukan Dua, karena kemungkinan besar pelakukanya tinggal di luar Distrik Satu."

Yukimura menyimak baik-baik laporan itu, kemudian berbalik, "Kau dengar, Shiraishi? Aku butuh bantuan Pasukan Dua."

Di atas ranjangnya Shiraishi yang masih setengah telajang mengangguk, "Tidak masalah, Pasukan Dua akan selalu mengikuti apapun perintahmu, Yang Mulia."

Setelah jawaban itu Yukimura kembali pada Sanada, "Kau dengarkan? Kapten Pasukan Dua sendiri sudah setuju, sisanya bisa kau urus sendiri. Aku masih punya urusan yang harus aku selesaikan sekarang."

Sempat ada jeda yang hanya diisi oleh tatapan diam Sanada padanya, tapi pada akhirnya Sanada mengangguk, menarik mundur dirinya dan menunduk memberi salah, "Kalau begitu, selamat malam, Yang Mulia."

Setelah pintu kembali di tutup Yukimura menghela napas kasar, Shiraishi juga beranjak mendekat padanya. Dengan senyum mengejek kawan satu angkatannya semasa di Akademi Kerajaan itu berkata, "Jadi aku hanya pion untuk membuat kekasihmu cemburu?"

Yukimura tidak menjawab. Sengaja dia lewati begitu saja Shiraishi dan kembali ke atas ranjang, jubah yang dia kenakan kembali dia lepas dan menunjukan tubuhnya pada Shiraishi sekali lagi. "Tidak mau lanjut?" tanya Yukimura dengan nada mengejek yang sama.

Shiraishi kembali mendekat padanya, mendorong Yukimura untuk tertidur di bawah tubuhnya, senyum sinis yang jarang Shiraishi tunjukan malam itu tampil lebih menyeramkan dengan minimnya cahaya. "Aku tidak suka dijadikan boneka mainan, tapi hanya untukmu, hanya untuk kali ini saja, Yang Mulia, aku buat pengecualian."

.

0o0o0o0

.

Pagi berikutnya saat Yukimura memasuki ruang kerjanya Sanada sudah berada di sana bersama dengan beberapa anggota Pasukan Satu, menyambutnya dan kembali memberikan laporan tambahan tentang kasus pembunuhan yang sedang meresahkan kalangan bangsawan di Distrik Satu kerajaan mereka.

Tidak ada tanda-tanda Sanada akan membuka pembicaraan tentang apa yang dirinya dan Shiraishi lakukan semalam. Wakilnya ini masih bertahan dengan sikap diamnya dan itu menjengkelkan, Yukimura tidak suka!

"Yang lain tolong keluar dulu, aku ingin bicara dengan Wakil Kapten berdua."

Laporan yang sedang Yanagi bacakan terhenti di tengah, pandangan bingung sempat melanda anggota lain tapi seperti yang Yukimura katakan, semua anggota yang ada di ruang kerjanya pagi itu berjalan keluar, meninggalkan dirinya dan Sanada berdua.

Yukimura duduk dengan satu tangan yang menjadi sandaran dagunya sedikit mendongak untuk menatap langsung wajah kekasihnya. Sanada masih berdiri di posisi yang sama, berbatas meja kerja Yukimura memulai duluan. "Kau tidak ingin menanyakan apapun padaku?"

Tidak ada perubahan, bahkan tidak ada jawaban.

Karena itu Yukimura menunduk, menghela napasnya kasar, sekeras mungkin sengaja agar Sanada mendengarnya. Tapi setelah itu dia berdiri, dengan segaris senyum Yukimura kembali bersuara, "Aku pikir setidaknya aku akan dapat satu pukulan atau paling tidak kau akan berteriak marah. Tapi mungkin aku terlalu menganggap tinggi diriku sendiri."

Sanada masih diam, jadi Yukimura sengaja mencondongkan dirinya, mendekatkan wajah mereka. Baru setelah itu ada sedikit perubahan di ekspresi kaku Sanada. "Kau sudah membenciku sampai tidak sudi bicara padaku?"

Sanada mundur dua langkah, ekspresinya sudah tidak sekaku tadi, ada keterkejutan yang bisa Yukimura tangkap dari sikap Sanada sekarang. Senyumnya sedikit meninggi, ada sedikit rasa bangga.

"Bu-bukan begitu." Wajahnya memerah. "Aku hanya berpikir aku tidak bisa mengaturmu, kau Putra Mahkota kerajaan ini sedangkan aku hanya Wakil Kapten Pasukan."

Entah bagaimana tiba-tiba Yukimura merasa dirinya sudah mendapatkan maaf bahkan sebelum mengucapkan permintaan maaf.

"Hoo~ tapi kau kekasihku, kan?"

Sanada mengangguk. "Tapi tetap saja," suaranya jadi sedikit pelan saat melanjutkan, "Memiliki selir itu hal yang wajar untukmu,"

Mendengar itu Yukimura langsung tertawa. Berjalan memutari meja kerjanya dan mendekat pada Sanada, satu tangan Sanada yang sejak tadi terkepal kuat dia angkat, kepalannya dia buka lalu dia sandarkan pipinya pada telapak tangan yang terbuka itu. Kali ini dia benar-benar tersenyum karena rasa senang.

"Tapi yang aku harapkan adalah kau, Genichiroh."

Setelah kalimat itu Sanada maju satu langkah, menarik pinggang Yukimura dan memeluk erat tubuh Yukimura. Kepalanya dia sandarkan pada satu bahu Yukimura saat dia berbisik, "Aku kesal. Aku marah. Aku ingin memukul Shiraishi!"

Rasanya lega. Tawanya terasa lebih memuaskan setelah mendengar pengakuan itu. "Kalau begitu lebih egois lagi lain kali."

Tapi tiba-tiba pelukan mereka dilepas, Sanada mencekram kedua bahu Yukimura dan ekspresinya kembali kaku. "Kau akan melakukan hal yang sama lain kali?"

"Huh? ...oh, tidak, bukan begitu maksudku—" kalimatnya terputus karena ketukan di pintu mengalihkan perhatian mereka. Disambung dengan suara Yanagi yang menanyakan apakah urusan mereka sudah selesai dan, "..dan Kapten Pasukan Dua, Marquis Shiraishi meminta untuk bertemu."

.

0o0o0o0

14/10/21 17:41

Hai-hai, maaf dateng-dateng bawa masalah. Tapi aku seneng akhirnya bisa bikin Yukimura jadi bitch~

Semoga kalian suka juga ya, ini manis, fluff loh~

Terima kasih untuk yang sudah meninggalkan jejaknya.

Segitu dulu dariku, jangan lupa jaga kesehatan kalian ya.

Bye~

.

0o0o0o0

OMAKE

0o0o0o0

.

Shiraishi tidak begitu tahu apa yang baru saja terjadi antara Yukimura dan Sanada, tapi begitu dia mendapat ijin masuk untuk menghadap Yukimura selaku Kapten Pasukan Satu, Sanada yang ada di sana terus menatap tajam padanya.

Kalau masalah bertarung Shiraishi merasa tidak akan mudah kalah dengan kekasih Yukimura itu, tapi dia sudah dengan jelas mengatakan pada Yukimura kalau dirinya tidak ingin dimanfaatkan lagi. Tidak ingin terlibat lebih jauh dengan hubungan mereka.

Lagi pula kedatangan Shiraishi ke ruang kerja Yukimura juga karena permintaan kerja sama dari Pasukan Satu.

"Yang Mulia, ini laporan dari Pasukan Dua." Yukimura menerima berkas yang dia sodorkan sambil tertawa kecil, menjengkelkan. Apa lagi Sanada masih sama saja, tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari Shiraishi.

"Omong-omong, Yang Mulia."

"Hm?" Yukimura melepas pandangan dari berkas yang baru dia terima dan kembali memandang pada Shiraishi. "Kenapa Kapten Shiraishi?"

"Lain kali tolong jangan libatkan aku dengan pertengkaranmu dan Wakil Kapten Sanada."

"Tapi kami tidak bertengkar."

"Ya, terserahlah. Intinya aku tidak ingin dimanfaatkan seperti semalam."

Yukimura tertawa dan sengaja mendekatkan diri, kemudian berbisik, "Tapi kau menikmatinya, kan? Apa yang kita lakukan semalam."

Shiraishi tidak berani menjawab, melihat bagaimana ekspresi wajah Sanada saja sudah cukup untuk membuatnya mundur dari permainan api yang Yukimura mulai.

.

0o0o0o0o0

Note:

naz (n.) the pride that comes from knowing that you are loved no matter what you do.

.

INFO PENTING!

Buat kalian pembaca fanfiksi jangan lupa follow Twitter dan IG dari Fanfiction Addict. Di sana kalian bakal dapet banyak info tentang fanfiksi apik, untuk yang sesama penulis kita juga punya prompt-prompt bagus buat yang mungkin aja bisa jadi hidayah untuk kalian saat bikin fanfiksi dan akan ada banyak event-event seru untuk sesama penulis.

Nah, sebelum ketinggalan, ayo follow kami di IG ffa_id dan Twitter FFA_ID.

Oh, dan bagi yang berminat langsung gabung dengan GC Fanfiction Addict, bisa PM langsung ke sini.