Oda Sakunosuke tidak tahu mengenai apa yang Sakaguchi Ango pikirkan, tetapi mungkin jendela yang Ango tatap itu memahami beberapa hal. Mendung yang sendirian tanpa matahari ataupun siang haru, masih saja belum menampakkan kesedihannya untuk hari ini. Atau sebenarnya ia sudah mewujudkannya, sehingga terbentuklah Ango yang termenung di dalam segala muram tanpa batas?
Karena dibandingkan awan gelap di luar sana, untuk Oda seorang hujan sudah turun di atas kepala Ango. Sangat basah, sesungguhnya berisik, jadilah Oda kesulitan mengartikan lamunan Ango yang seumpama titik dan bahkan tersirat. Hendak mendekat pun Oda justru canggung, seolah-olah yang Ango pikirkan adalah sesuatu yang sebenarnya dekat dengan Oda.
"Ango," panggil Oda pada akhirnya. Pemuda yang identik dengan google glasses itu belum sedikit pun merespons. Ujung-ujungnya karena Oda memutuskan mendekat, ia mencoba memasang riang paling riang di senyumannya.
"Duh. Kau ini memikirkan apa, deh, sebenarnya? Sekarang ulang tahunmu, lho. Walaupun di luar sana mendung, bukan berarti Ango bengong-bengong saja, kan?"
Jendela yang Ango tatap sejak satu jam lalu kini terlihat lebih jelas. Oda dapat menemukan taman perpustakaan yang warna-warni, sepi, mengingat ulang tahun Ango akan diadakan di dalam ruangan saja. Mendadak Oda ikut-ikutan termenung. Sekilas ia menghela napas yang berat sebelum akhirnya, Oda mundur dan tiba-tiba membungkukkan badan.
"Maafkan aku, Ango! Sungguh. Aku benar-benar ingin meminta maaf dari lubuk hatiku."
Ternyata hanyalah maaf dari Oda yang dapat menggerakkan Ango. Membebaskan tubuh itu dari diam seumpama patung, di mana Ango spontan menengok ke belakang untuk mendapati Oda yang membungkuk. Punggungnya yang tertunduk tampak berat. Seketika netra Ango melebar, karena Oda seakan-akan menanggung dunia yang sempat Ango tinggali selama memandangi jendela berdebu.
"Untuk apa kau meminta maaf, Odasaku?"
"Aku meninggalkanmu duluan. Untuk itulah aku meminta maaf. Diam-diam Ango masih memikirkannya, bukan?"
Kini segala-galanya jelas yang sejernih air mata. Ango menggigit bibir, ketika Oda justru menyiratkan seulas senyum. Benar saja firasatnya bahwa Ango masih dibayang-bayangi kehidupan pertama mereka, sebelum bereinkarnasi seperti ini.
(Akan tetapi syukurlah Oda membiarkan firasat tersebut masuk. Sekarang dirinya bakalan lebih berlapang dada.)
Say Sorry
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gak jelas, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Sakaguchi Ango (20/10/2021).
Dua puluh Oktober, entahlah pada tahun berapa yang kurang mereka perhatikan, merupakan ulang tahun Sakaguchi Ango. Atas suruhan Dan Kazuo, Dazai Osamu, serta saran dari Satou Haruo hingga Masuji Ibuse, di sinilah Oda berada untuk menahan-nahan Ango. Yakni di kamarnya apalagi ketika Oda berkata, ia mau menyampaikan sesuatu kepada Ango.
"Wah ... mendadak banget, ya. Aku sampai bingung harus merespons apa?"
Kendatipun suasana mendadak ketar-ketir, Oda tidak menyesal. Begini tentu lebih baik dibandingkan menyesal, mengingat sepasang manusia bahkan lebih singkat dibandingkan seorang manusia–bisa jadi esok ada yang hilang, sedangkan jika sendirian berarti semuanya berakhir tanpa kelanjutan seperti kehilangan. Ango menggaruk-garuk pipi yang boro-boro gatal menggunakan ujung telunjuk. Lucu sekali melihatnya bersusah payah untuk tersenyum.
"Respons saja seperti biasanya. Mungkin semacam, 'kenapa lama sekali, bodoh?' atau Ango marah-marah pun boleh. Soalnya aku memang meninggalkanmu duluan."
"Memangnya kau pernah berjanji akan berada di sampingku sampai kapan pun?"
"Semenjak kita berteman, bukankah secara tak langsung bermakna aku akan selalu berada di sisimu, begitu pun sebaliknya?"
Jawaban tersebut benar-benar bagus. Ango jadi terdiam lagi yang dibandingkan menatap jendela, akhirnya Ango lebih suka memandangi Oda. Pemuda berkepang itu lantas mendekati Ango sekali lagi. Tangannya memeluk Ango yang hanya menyebabkan Ango kian terkesiap, tetapi perlahan-lahan setidaknya Ango paham Oda ingin menyampaikan, bahwa ia ini nyata dan hangat.
"Ya ampun. Jujur saja tindakanmu benar-benar membuatku bingung, lho."
Tiba-tiba meminta maaf, padahal Ango belum lama mendekam di kamarnya gara-gara Oda mendorong-dorong punggungnya. Kemudian Oda memeluk Ango, dan diam-diam menaruh kata-kata seperti ia ini hangat sekaligus nyata. Meskipun benar Ango sempat memikirkan masa di mana ia ditinggalkan Dazai yang bunuh diri, lalu Oda menyusul akibat sakit paru-paru, bukankah Oda memang terlalu mendadak? Kira-kira jua kenapa ia mendahulukannya sebab apakah ... benar-benar sangat penting?
"Bolehkah aku tahu, kenapa kau lebih dahulu memilih meminta maaf dibandingkan mengucapkan selamat ulang tahun atau lainnya? Odasaku tahu? Sebenarnya meski kepikiran aku tidak terlalu larut, kok."
Pelukan dilepaskan. Kursi yang lain Oda letakkan di samping Ango, supaya Ango tidak luput dari Oda maupun sebaliknya.
"Coba ceritakan isi kepalamu."
"Hanya kepikiran kata-kata seperti kalian meninggalkanku, dan tidak ada lain-lainnya, sih. Jadi kenapa kau lebih mementingkan maaf?"
Pertama-tama Dazai-lah yang tidak mengucapkan selamat tinggal, kemudian Oda, membuat Ango merasakan sendirian. Mereka telah meninggalkan Ango. Mereka sudah pergi jauh sekali dari rumah (Ango), di mana hanya hal-hal seperti itulah yang berputar-putar. Seharusnya Oda tak perlu cemas, tetapi ia mengernyit seperti luka Ango sangat besar melebihi tubuh Ango itu sendiri.
"Sederhana saja, Ango. Karena sejujurnya aku pun enggan meninggalkanmu. Jika aku meniatkannya, aku takkan meminta maaf. Walau lebih parahnya lagi aku membuatmu menunggu."
"Menunggu dalam artian apa, deh? Bukankah kau yang menungguku sangat lama di surga, sebelum kita bereinkarnasi demi membasmi shinshokusha?"
"Apa sebelumnya Ango pernah menunggu ulang tahumu?"
"Tidak, sih. Lagian aku bukan anak-anak," balas Ango sambil terus terpaku pada getir yang masih melekat di bibir Oda. Sekarang ini juga malah Oda yang lebih serius dalam memperhatikan jendela Bedanya dengan Ango adalah Oda seperti menunggu sesuatu yang sayangnya, kurang Ango pahami.
"Semenjak bereinkarnasi lebih dulu dibandingkan kamu, aku selalu memikirkannya, Ango. Bahwa kamu menunggu ulang tahunmu agar dapat segera menyusulku, saat biasanya kau tak pernah melakukannya. Pasti terasa lama, bukan, ketika tiada aku ataupun Dazai yang merayakannya bersamamu?"
"Aku meninggal tanggal sepuluh Januari. Ulang tahunmu adalah dua puluh Oktober. Artinya kau sudah sadar bahwa dirimu mulai menunggu ulang tahumu, semenjak sepuluh Januari."
"Kau harus menunggu selama sembilan bulan, barulah kau lega sebab umurmu bertambah yang maknanya, kematian semakin dekat denganmu. Namun, setelah merayakannya bukankah kau kembali menunggu selama dua bulan? Lalu sepuluh Januari datang lagi, dan kau menanti selama sembilan bulan. Kemudian sesudah dua puluh Oktober kau menanti lagi ... ujung-ujungnya kau tak pernah lepas dari menantikan."
Bukankah itu sangat kesepian, karena tiada seorang pun dapat membantumu keluar dari sana?
Bukankah juga itu sangat menyakitkan, sebab kau menunggu sesuatu yang tak pernah pasti? Di mana hal tersebut baru jelas setelah kematian berhasil kauketahui, dan sangat singkat, tetapi apakah kau puas?
Apakah kau puas atau kau justru malah menyesal, karena tidak dapat hidup lebih lama untuk mengumpulkan lebih banyak cerita?
Hidup dalam kontradiksi seperti itu ... bukankah sangat melelahkan? Makanya aku meminta maaf, tetapi untunglah kamu kuat, karena Ango juga mencintai kami yang sempat berada dalam hidupmu, dibandingkan kami yang telah pergi.
Hujan di luar sana akhirnya betul-betul turun, tetapi yang diam-diam Ango tumpahkan dari matanya lebih indah lagi. Oda pun merangkul Ango sambil mengelus-elus rambutnya. Tidak akan dikatakannya juga kepada Dazai, ataupun Dan, soalnya bagi Ango menangis justru merupakan tindakan anak-anak. Walaupun bagi Oda sekarang ini Ango sangat dewasa.
Daripada Dan, Dazai ataupun Oda, bukankah sosok Ango memang lebih dewasa? Sesudah kematiannya, Oda baru tahu Ango pernah menuliskan sebuah kritik untuk kematian Dazai, serta Akutagawa Ryuunosuke. Sesuatu yang sebenarnya pedas, mungkin pula terkesan kejm, tetapi Dazai justru hendak mengeluarkan maaf kepada Ango setelah Oda.
Iya dia pernah nulis kritik begini (kurang lebih rough tlnya):
Dazai menganggap dirinya komedian, tapi seberapa berusahanya dia, dia enggak bisa mencapai (hal itu). Baik Dazai maupun Akutagawa bunuh diri bagai berandalan (yang kekanak-kanakan). Bahkan di antara itu pun, mereka pengecut dan cengeng. Apa yang bagus coba dari mati atau bunuh diri? Cuma orang yang kalah yang mati. Kalau mereka menang, mereka enggak mati.
Pada hakikatnya, manusia itu yang penting hidup. Kalau sudah mati, ya, ya sudah. Tidak ada lagi. Dikenal pas mati? Omong kosong. Aku benci hantu. Aku benci mereka yang terus hidup meski mereka sudah mati.
Kira-kira begitulah bunyinya. Bukankah yang Ango tuangkan itu–yang sesungguhnya merupakan amarah, dan duka terdalamnya atas kematian Dazai–sangatlah dewasa, sebab dapat mencampuradukkan hati seseorang? Antara agak dongkol sebab Ango tak mendadani kata-katanya dengan kebaikan, dan turut berbelasungkawa bahwa di balik kritikan pahit tersebut Ango diam-diam memiliki sebuah kehancuran yang membuang kata sembuh.
Ia tidak membutuhkan sumpah serapah, ataupun sendu yang berteriak-teriak untuk melukiskan perasaannya yang paling jelas. Benar-benar khas Sakaguchi Ango yang karenanya-lah Oda bersyukur, sebab akhirnya Ango menangis sepuas-puasnya.
Menangis, dan mengakui bahwa ia terlalu terluka ketika ditinggalkan oleh Oda serta Dazai, melalui sesuatu sehalus air mata; yang lebih identik dengan manusia penuh duka, bagi Oda artinya Ango lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Karena Oda selalu tahu Ango membutuhkan waktu lama untuk itu.
Ango hidup delapan tahun lebih lama dibandingkan Oda. Untuk menangis seperti sekarang ini, artinya Ango telah menunggu selama delapan tahun, bukan? Entah ia bersiap-siap ataupun tidak.
"Tidak salah lagi aku memang sudah menunggu sangat lama, Odasaku. Mulai sekarang dengan melanjutkan pertemanan ini, ayo terus bersama."
Kini bayang-bayang mengenai dirinya yang ditinggalkan itu sirna. Ango mengepalkan tangan mengajak Oda tos, membuat senyuman Oda lebar dan lapang–setiap tangisan yang tertinggal, ataupun masih berjatuhan, semuanya menjadikan Ango tetap bersinar.
Tamat.
A/N: Harusnya ku-publish dari kemarin, tapi karena lupa dan mager, jadinya baru publish di hari sabtu. Awalnya juga enggak mau rayain, tapi abis fanfic ryna entah kenapa jadi termotivasi.
Cerita ini gak punya ide yang spesifik. Hanya kayak, "odasaku meminta maaf, karena dia meninggalkan ango duluan." Makanya maaf banget semisal terlalu pendek, dan jatuhnya kurang jelas. Emang udah enggak kepikiran apa-apa soalnya. Bisa bikin sekitar 1,4k aja udah cukup mengejutkan sih.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya~
