Disclaimer:
Aku bukan pemilik dari semua karakter yang akan dan terlibat dicerita ini. Aku hanya meminjam/menggunakan karakter milik pengarang mereka.
Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.
[Arc 1: Kisah yang menghilang]
[Chapter 5: Perasaan]
Hyōdō Issei saat ini tengah berlari disepanjang lorong bawah tanah gereja tempat Asia berada, menurut informasi dari Freed Sellzan seharusnya Asia ada di sebuah ruangan di bawah tanah gereja itu. Dia terlihat sangat khawatir akan keselamatan gadis itu saat ini. Beberapa menit kemudian dia melihat ada sebuah pintu yang dia asumsikan menjadi tempat dimana ritual pengambilan Sacred Gear itu dilakukan.
Tanpa menunggu lama Issei mendobrak pintu itu sambil berteriak.
"Asia!"
Dor!
Sebuah suara tembakan terdengar saat Issei baru saja membuka pintu ruangan itu secara paksa. Issei terpaksa harus melompat ke samping karena serangan dadakan itu, yang di arahkan padanya oleh seorang pendeta sesat. Issei berdiri dan menatap pendeta yang baru saja menyerangnya itu dengan tajam. Dia juga melihat didalam ruangan itu ada beberapa pendeta dan beberapa malaikat jatuh berserta seorang gadis berambut pirang yang beberapa hari terakhir ini menjadi temannya, meski gadis itu sekarang sudah terlihat tidak bernyawa dan terikat di sebuah tiang salib dengan rantai.
"Asia?"
Issei yang melihat gadis itu terkulai tidak bernyawa hanya mampu menatap dengan syok disertai air mata yang mengalir.
"Heh, lihat ada seorang iblis yang menangisi seorang biarawati, lucu sekali. Hahaha!"
Seorang pria yang sebelumnya pernah bertemu dengan Naruto yang tidak lain adalah Dohnaseek, tertawa mengejek terhadap Issei karena menangisi biarawati yang sudah dia ambil Sacred Gearnya.
Baginya sangat lucu karena melihat seorang iblis menangis untuk seorang biarawati yang seharusnya menjadi pengikut Tuhan.
"Brengsek! Beraninya kalian membunuh Asia dengan kejam! Aku tidak akan memaafkan kalian, aku pasti akan membunuh kalian semua!"
Issei mengepalkan tangan kirinya dan bersamaan dengan itu sebuah suara mekanik menjadi pertanda dimulainya pertarungan didalam ruangan ritual itu.
[Boost]
•
Disisi lain, Kalawarner terlihat terbang menghindari serangan dari gadis berambut merah bernama Rias Gremory. Dia terlihat memiliki beberapa luka kecil ditubuhnya akibat serangan dari para iblis lawannya itu, terutama iblis laki-laki berambut pirang yang paling sering menyerang dirinya.
"Apa aku benar-benar tidak bisa menjelaskan situasi ini pada kalian? Kalian benar-benar sudah salah paham."
Kalawarner berbicara berusaha membuat para iblis di bawahnya itu mengerti bahwa dia sama sekali tidak menyandera budak iblis gadis berambut merah itu. Justru malah sebaliknya, dia disini ada untuk membantu manusia yang pernah menjadi pacar singkat Raynare yang dia tahu sekarang ini menjadi bagian dari keluarga iblis gadis berambut merah itu.
Merasa usahanya sia-sia, Kalawarner hanya bisa pasrah dengan apa yang akan menimpanya jika terus melawan para iblis di bawahnya itu. Dia harus segera pergi karena iblis tadi sudah memiliki pembantu yang akan membantu menolong Asia dari tangan Dohnaseek.
'Ini tidak akan berjalan baik untukku. Apa yang harus aku lakukan?'
Kalawarner melirik sekitar untuk mencari jalan kabur karena entah kenapa sihir teleportasi tidak bisa dia gunakan sekarang. Satu-satunya jalan keluar adalah lewat jendela tempat Freed sebelumnya kabur setelah kedatangan para iblis itu.
"Tidak perlu basa-basi. Akeno."
"Ha'i, Buchō."
Mendengar gadis berambut merah bernama Rias itu berbicara. Akeno selaku orang yang namanya disebut merespon dengan menyiapkan serangan sihir petir miliknya. Merasa dirinya dalam bahaya, Kalawarner mendongak menatap lingkaran sihir diatas dirinya yang sudah siap mengeluarkan sesuatu yang pastinya akan menghilangkan nyawanya jika terkena apapun yang akan dikeluarkan oleh lingkaran sihir itu.
Kalawarner tentu tidak ingin mati begitu saja tanpa melakukan sesuatu. Dia menyiapkan beberapa tombak cahaya dan melemparkannya kearah lingkaran sihir di atasnya berharap dia bisa menghancurkannya untuk mencegah serangan dari gadis ekor kuda itu. Namun sayang serangannya tidak berhasil menghacurkan lingkaran sihir yang dibuat oleh lawannya itu, yang sekarang ini mulai memunculkan percikan petir kuning dengan intensitas yang cukup besar. Disaat seperti ini yang bisa dilakukan hanyalah terdiam karena dia tidak mungkin bisa menghindari serangan berkecepatan tinggi seperti petir. Kalawarner tersenyum dalam hatinya sambil mengingat Raynare.
'Maaf, sepertinya aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, Raynare. Aku berharap kau bisa memaafkanku, aku juga berharap kau akan mendapatkan apapun yang kau inginkan dengan tuan barumu. Selamat tinggal...'
•
Blaaarrr!
Sebuah ledakan besar terjadi di sebuah gereja tidak jauh dari lokasi Mittelt dan Raynare berada, hal itu membuat gadis pirang yang sedang berusaha menyembuhkan Raynare itu terkejut dan terdiam. Dia berhenti menyalurkan energi sihirnya terhadap gadis berambut hitam yang sedang pingsan itu sambil menatap kearah gereja yang terselimuti oleh penghalang disana dengan pandangan khawatir.
"Kalawarner..."
Mittelt mengalihkan pandangannya lagi ke arah Raynare yang sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Luka yang disebabkan oleh serangannya sudah tertutup sepenuhnya dan warna kulit Raynare mulai lebih berwarna tidak seperti sebelumnya yang pucat.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa meninggalkan Raynare-sama disini. Aku harus membawa Raynare-sama ke tempat yang aman dari Dohnaseek atau Raynare-sama akan dibunuhnya nanti."
Mittelt terlihat kebingungan harus membawa tubuh pingsan gadis bersurai hitam itu kemana. Dia tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi karena kejadian pada hari ini pasti akan membuat pihak iblis dari kota Kuō itu bergerak. Dia pasti akan dibunuh oleh mereka dan dia tidak ingin mati ditangan para iblis itu.
"Tidak ada pilihan lain, aku harus membawa Raynare-sama kepada Azazel-sama. Dari pada Raynare-sama dibunuh oleh Dohnaseek dan para iblis itu lebih baik Raynare-sama berada dibawah hukuman Azazel-sama atas kejadian ini. Azazel-sama pasti tidak akan membunuh Raynare-sama."
Setelah berpikir cukup lama, Mittelt akhirnya memutuskan untuk membawa Raynare ke tempat Azazel yang kebetulan gadis pirang itu tahu bahwa pemimpinnya itu saat ini juga ada di kota Kuō karena dia beberapa kali melihatnya ditempat itu, ya ditempat yang tidak akan pernah terpikirkan bahwa seorang pemimpin malaikat jatuh akan melakukan hobi yang seperti itu. Memancing.
•
Issei dan para musuhnya dibuat terkejut karena mendengar suara ledakan besar dari lantai atas yang kemungkinan berasal dari aula utama gereja tempat tadi dia bertemu dengan seorang pendeta gila bernama Freed Sellzan itu. Issei berharap itu bukan ulah si pendeta gila itu atau dia akan berada dalam bahaya besar jika ke tambahan satu orang musuh lagi, dia berharap malaikat jatuh teman Raynare itu yang melakukan serangan yang membuat ledakan besar itu dengan begitu kemungkinan besarnya dia akan memiliki rekan sementara untuk membantunya menyelamatkan Asia? atau mungkin merebut kembali Sacred Gear Asia yang sekarang berada ditangan malaikat jatuh bernama Dohnaseek disana.
"Tampaknya telah terjadi sesuatu diatas sana. Apa kau tidak merasa khawatir dengan teman-temanmu disana?"
Issei yang mendengar ucapan Dohnaseek hanya menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Teman-teman? Aku datang kesini sendirian. Yang diatas sana hanya pendeta gila itu dan seorang malaikat jatuh yang bertarung dengannya."
[Boost]
Mendengar ucapan iblis dihadapannya membuat Dohnaseek terdiam.
'Raynare, kah? Terserah lah, lagi pula aku juga harus segera membereskan iblis rendahan itu dan pergi dari sini sebelum aktifitasku ketahuan. Akan sia-sia jika aku gagal setelah berhasil mendapatkan Twilight Healing ini.'
Dohnaseek bukanlah orang yang bodoh untuk tetap diam ditempat yang sudah terinvasi oleh iblis seperti sekarang ini. Dia akan menyesal jika dia meremehkan lawannya seperti saat mencoba membunuh manusia berambut pirang sebelumnya yang dihalangi oleh Raynare. Dia benar-benar terkejut pada saat itu karena dia sangat yakin bahwa dirinya lebih kuat dari Raynare, tapi gadis itu mampu menahan dan menangkis semua serangan yang dia lancarkan dengan mudah. Sejak saat itu dia menjadi lebih waspada terhadap setiap lawannya meski lawannya terlihat atau bahkan memang lemah sekalipun.
Dohnaseek menatap Issei dengan pandangan tajam karena dia merasa Sacred Gear pemuda berambut coklat itu bukanlah Sacred Gear biasa yang Raynare laporkan. Sacred Gear pemuda itu memang terlihat seperti Sacred Gear Twice Critical tapi dia memiliki perasaan bahwa itu bukanlah Twice Critical yang dia ketahui. Satu-satunya Sacred Gear tipe tangan naga yang berada ditangan kiri itu adalah...
Dohnaseek yang menyadari bahwa Sacred Gear itu kemungkinannya adalah Longinus memasang ekspresi marah karena satu hal yaitu...
'Raynare! Kau memberi laporan palsu tentang Sacred Gear bocah itu! Jika benar Sacred Gear bocah iblis itu merupakan salah satu dari Longinus itu, dia akan sangat berbahaya nantinya. Sebelum dia menjadi kuat aku harus membunuhnya.'
Dohnaseek merentangkan tangan kanannya ke depan menunjuk Issei dan memberi satu perintah mutlak pada semua bawahannya.
"Bunuh dia!"
[Boost]
Disaat yang bersamaan, Issei juga sudah siap menerima segala konsekuensi dari tindakan gegabahnya ini tanpa menunggu bantuan dari Raynare. Dia memasang posisi bertarung tangan kosong yang coba dia tiru dari acara bela diri di TV.
'Raynare cepatlah datang, hanya kau yang bisa membantuku saat ini.'
"Hyaaa!!!"
Semua pendeta sesat dan malaikat jatuh yang ada disana maju untuk menyerang Issei seperti yang diperintahkan oleh Dohnaseek, sedangkan Dohnaseek sendiri mencoba membuat lingkaran sihir teleportasi sebagai persiapan jika seandainya kejadian yang tidak terduga terjadi sehingga dia bisa langsung kabur dari tempat itu.
Blaarr!
Ledakan kecil terjadi saat sebuah tombak cahaya menyentuh lantai. Issei berhasil menghindari serangan dari malaikat jatuh yang terbang di atasnya itu. Namun dia tidak bisa bernafas lega karena dua orang pendeta sudah siap untuk menebas lehernya dari depan dan belakang.
'Sialan! Aku akan mati disini. Tidak, belum. Aku masih belum ingin mati disini setelah sudah sejauh ini!'
Issei dengan sengaja membuat dirinya jatuh untuk menghindari dua serangan dari depan dan belakangnya, namun lagi-lagi dia tidak bisa tetap diam karena sebuah tombak cahaya melaju cepat kearahnya.
Blaar!
Issei berhasil menghindari yang satu itu namun sebuah tebasan dari seorang pendeta sudah menantinya saat dia menjungkirbalikkan tubuhnya untuk menghindari tombak cahaya tadi.
Jrash!
"Aarrgg! Sakit!"
Issei meringis kesakitan saat serangan pendeta itu mengenai punggungnya setelah dia jungkirbalik, tapi dia tidak bisa diam saja saat sebuah tebasan lain mengarah ke punggungnya lagi.
Trank!
Issei berbalik dan menahan tebasan itu dengan Sacred Gearnya dan membalas pendeta yang menyerangnya itu dengan sebuah tinju tangan kanan yang mengenai wajah pendeta itu membuat sang pendeta mundur sedikit.
Disisi lain Dohnaseek terus mencoba untuk membuat lingkaran sihir teleportasi namun selalu gagal seakan dirinya saat ini terkurung dalam sebuah penghalang yang mencegahnya untuk kabur dengan sihir teleportasi. Dohnaseek tahu apa yang mungkin akan terjadi jika dia tidak kabur sekarang, siapapun yang membuat penghalang untuk mencegahnya kabur pasti memiliki kepercayaan diri yang tinggi akan kekuatannya karena itulah orang itu mengurungnya agar tidak kabur dengan sihir teleportasi.
'Aku harus kabur, kalau tidak usahaku ini akan sia-sia.'
Dohnaseek menatap para bawahannya yang mengeroyok iblis berambut coklat itu dengan ekspresi heran pasalnya hanya satu iblis yang dilawan tapi mereka cukup kesulitan untuk mengenai tubuh iblis itu dengan berbagai serangan mereka padahal iblis yang mereka lawan baru beberapa hari menjadi iblis. Dohnaseek juga mendengar suara mekanik dari Sacred Gear bocah iblis itu berbunyi setiap sepuluh detik dan disaat yang bersamaan kekuatan dari bocah iblis itu meningkat. Menyadari hal itu membuat dia sadar akan satu hal yang harus dia lakukan sekarang ini sebelum usahanya sia-sia.
'Terasa mengerikan, aku tidak tahu akan berakhir seperti apa pertarungan itu. Tapi aku tidak peduli, aku harus kabur sekarang juga atau aku akan mati disini. Perasaanku tidak enak.'
Dohnaseek membuat tombak cahaya yang cukup besar dan melemparkannya kearah langit-langit ruangan itu. Dia juga membuat beberapa tombak cahaya berukuran sedang yang langsung dilemparkan kearah Issei.
Syuut! Blaaarrr!
Ledakan besar itu mengalihkan perhatian semua yang ada diruangan itu kecuali Issei yang berusaha menghindari serangan yang datang kearahnya. Para pendeta sesat dan malaikat jatuh yang ada disana terdiam saat pemimpin mereka tidak ada ditempatnya.
"Sialan! Jangan kabur brengsek!"
Issei yang berhasil menghindari serangan dari Dohnaseek berteriak marah saat melihat sekilas malaikat jatuh bertopi itu terbang keluar lewat langit-langit yang berlubang akibat serangan malaikat jatuh itu. Berkat teriakan Issei semua pendeta dan malaikat jatuh yang masih terdiam itu kembali fokus padanya untuk melanjutkan pertarungan itu.
Disaat semua pendeta dan malaikat jatuh itu maju untuk menyerang Issei, sebuah bola energi merah kehitaman menghantam salah satu dari malaikat jatuh yang ada disana membuat malaikat jatuh itu musnah seketika menjadi bulu-bulu hitam yang berterbangan.
Issei yang terkejut hanya mampu terdiam, tidak lama setelah itu beberapa iblis datang memasuki ruangan itu dan tentu saja Issei tahu siapa mereka.
"Bu-buchō?"
"Yo, Issei-kun. Kau baik-baik saja?"
Bukannya gadis berambut merah yang merespon keterkejutan Issei, justru pemuda pirang bermata abu-abu lah yang pertama menyapa Issei dengan senyuman yang biasa pemuda itu lemparkan.
"Kami datang membantu."
Gadis loli berambut putih berbicara datar.
"Ara ara, sepertinya Issei-kun sedang berpesta ya, ufufu."
Dan gadis ekor kuda itu berbicara dengan nada menggoda plus diakhiri dengan tawa khasnya. Issei yang masih terkejut memilih untuk diam melihat kedatangan semua teman-temannya.
"Yūto, Koneko. Bereskan mereka."
"Ha'i, Buchō!!"
Mendengar sang Raja memberi perintah, dua orang iblis yang dimaksud maju untuk menerjang para pendeta sesat dan malaikat jatuh yang mengambil gerakan mundur untuk menjaga jarak dari mereka.
Rias berjalan mendekati Issei dan menatapnya dengan wajah khawatir.
"Issei, kau baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan dari gadis berambut merah itu membuat Issei tersadar dari keterkejutannya. Issei mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu, lalu dia mengingat sesuatu.
"Buchō, apa kau bisa menyelamatkan Asia? Sacred Gear Asia dikeluarkan dari tubuhnya dan, dan dia..."
Issei tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia hanya mengalihkan pandangannya kearah altar dimana tubuh Asia terikat oleh rantai ke sebuah salib dengan wajah sedih. Rias mengikuti arah pandangan Issei dan dia terdiam melihat pemandangan menyedihkan itu. Rias kemudian kembali menatap Issei dan berbicara.
"Apa Sacred Gearnya ada?"
Issei menggeleng pelan.
"Malaikat jatuh bernama Dohnaseek itu berhasil kabur lewat lubang yang dia buat itu. Sacred Gearnya dibawa oleh malaikat jatuh itu."
Rias terdiam mendengar penjelasan pionnya itu, dia kemudian menghela nafas pasrah.
"Baiklah, aku akan menjadikan gadis itu bagian dari keluargaku. Tapi berjanjilah padaku Issei, jangan pernah melakukan hal seperti ini lagi. Aku tidak ingin kehilangan anggota keluargaku yang berharga."
Issei yang mendengar ucapan Rias tertegun. Dia tidak pernah menduga gadis berambut merah itu akan mengatakan hal seperti itu. Sepertinya dia telah salah menilai gadis itu. Issei menunduk mengingat apa yang dia katakan sebelum datang ke gereja ini, ya benar, dia telah membentak gadis itu dan menyebutnya iblis yang sebenarnya, meskipun dia tidak salah karena gadis itu, teman-temannya dan juga dirinya memang lah iblis. Tapi jika dipikirkan lagi maka apa yang dia katakan itu pasti telah menyakiti perasaan gadis itu dan juga pastinya teman-temannya juga merasa seperti itu.
Issei terdiam dan tempat itu tentunya tidak lah hening karena suara pertarungan antara dua temannya itu terdengar dengan begitu jelas. Issei mengangkat wajahnya dan menatap Rias.
"Buchō, aku... aku berjanji akan menjadi kuat agar aku bisa berguna. Lalu, aku minta maaf tentang ucapanku di ruang klub tadi sore. Maafkan aku, Buchō!"
Issei membungkuk mengatakan permintaan maafnya pada gadis berambut merah itu yang saat ini sedang tersenyum.
"Aku sudah memaafkanmu, Issei. Tapi..."
"Tapi?"
Issei mendongak masih dengan posisi membungkuk karena dia penasaran dengan kelanjutan dari apa yang ingin Raja nya itu katakan selanjutnya.
"Kau harus dihukum keliling lapangan Kuō Gakuen sebanyak 100 putaran besok. Dan tidak boleh membantah!"
"Nani!! Buchō, itu terlalu kejam! Bukankah kau sudah memaafkanku, Buchō?"
"Bukankah kau ingin jadi kuat? Kalau memang ingin jadi kuat jangan ada keluhan atau protes apapun."
"Tidak!!!"
Issei berteriak frustasi dan melupakan bahwa pertarungan masih terus berlanjut, yah meski bagi sang Knight dan Rook itu bukan suatu masalah besar, karena mereka sudah hampir mengalahkan semua pendeta sesat dan malaikat jatuh lawannya.
•
Disisi lain, terlihat Mittelt berdiri di dekat seorang pria paruh baya yang memiliki rambut hitam dengan poni pirang yang tidak lain adalah Azazel. Beberapa menit yang lalu, Mittelt mendatangi pria itu yang sedang memancing sendirian sambil menggendong Raynare di punggungnya. Dia kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan Mittelt memohon pada Azazel untuk melindungi Raynare dari Dohnaseek dan Kokabiel karena semua masalah yang menimpa mereka didalangi oleh Kokabiel.
"Jadi kenapa kau baru datang melaporkan hal itu sekarang dan bukannya sejak awal?"
"Maaf Azazel-sama. Kokabiel-sama mengancam kami kalau kami tidak menuruti perintahnya kami akan dibunuh. Maafkan kami, Azazel-sama."
Mendengar ucapan Mittelt membuat Azazel menghela nafas, lalu dia teringat dengan seseorang yang dia temui sebelumnya.
"Aku tidak bisa menjamjn keselamatan kalian jika kalian kembali ke Grigori saat ini. Tapi mungkin kalian bisa meminta tolong pada seorang malaikat yang sedang berada di kota Kuō ini, mungkin dia bisa membantu kalian."
'Dan jika malaikat itu bersedia, koneksi dengan Surga akan terbuka.'
Azazel menyeringai memikirkan rencananya. Azazel adalah seseorang yang menginginkan perdamaian tapi koneksi antar fraksi benar-benar masih cukup lemah saat ini terutama dengan fraksi malaikat yang cukup sulit dihubungi karena untuk menghubungi pihak malaikat harus melewati perantara gereja tertentu seperti gereja yang ada di Vatikan. Jika malaikat yang dia temui sebelumnya itu bersedia menerima kedua gadis malaikat jatuh bawahannya itu maka kemungkinan untuk menghubungi pihak Surga akan menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Dilihat dari mana pun malaikat yang dia temui itu bukanlah malaikat sembarangan karena auranya begitu murni bahkan lebih murni dari malaikat pada umumnya.
"Malaikat?"
Mittelt bergumam pelan yang membuatnya teringat akan percakapannya dengan Raynare sebelumnya yang mengatakan Raynare sudah mengikuti seorang malaikat yang bernama Naruel. Jika pemimpinnya saja tahu mengenai adanya malaikat di kota Kuō ini maka apa yang diucapkan oleh Raynare memang benar adanya, selain itu sayap Raynare bukan hitam lagi melainkan perak dan hampir berwarna putih kembali.
Mendengar gumaman Mittelt membuat Azazel kembali berbicara.
"Ya, jika kau ingin mencarinya akan aku beritahu ciri-cirinya."
"Kalau begitu ciri-cirinya seperti apa, Azazel-sama? Aku ingin mencarinya."
"Dia berambut pirang seperti kebanyakan malaikat, diwajahnya terdapat tiga pasang garis halus. Malaikat itu memakai kimono putih berkerah tinggi dan terdapat simbol dikerahnya berupa magatama. Dan yang paling menonjol dari malaikat itu, dia memiliki aura yang sangat misterius. Kau akan tahu setelah bertemu dengannya, Mittelt."
Azazel selesai menjelaskan ciri-ciri malaikat yang dia temui itu sambil kembali ke kegiatan awalnya yaitu memancing. Mittelt yang sudah diberitahu ciri-ciri malaikat yang dimaksud berniat untuk langsung mencarinya namun sebelum dia pergi Azazel berbicara lagi.
"Berhati-hatilah, Mittelt. Jangan sampai kau bertemu dengan iblis penguasa kota ini atau kau akan dibunuh karena sudah masuk tanpa izin."
Mendengar ucapan pemimpin tertinggi malaikat jatuh yang menyuruhnya untuk berhati-hati membuat Mittelt terdiam sejenak lalu membalas.
"Ha'i, Arigatō Azazel-sama. Kalau begitu aku permisi."
Azazel hanya melambaikan tangan membalas ucapan gadis pirang itu dan dia pun membatin.
'Semoga saja peperangan ini segera berakhir. Aku sudah lelah dengan semua itu, Hah~'
•
Ditempat Naruto.
Terlihat Naruto saat ini berada diatas sebuah gedung pencakar langit. Dia juga terlihat memandang jauh kearah sebuah gereja satu-satunya di kota Kuō ini dengan wajah tanpa ekspresi. Naruto merasakan perasaan sedih dari seseorang dari arah gereja itu tapi dia juga merasakan sebuah perasaan bersalah dari orang itu. Naruto kemudian melirik kearah belakangnya dimana disana terbaring tubuh seseorang yang beberapa menit yang lalu berhasil dia selamatkan dari kematian. Naruto kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain karena merasakan sebuah perasaan khawatir dari seseorang.
'Sungguh, tempat ini penuh dengan perasaan. Kapan terakhir kali aku merasakan semua ini?'
Naruto mendongak menatap langit malam yang dipenuhi berlian dunia yang disebut bintang. Dia kemudian memejamkan matanya dan berbisik pada angin malam.
"Sungguh medan perang yang nyata."
[To Be Continue]
Author Note:
Ehem! Hai hai semua, apa kalian baik-baik saja? :v
Aku harap kalian baik-baik saja semuanya.
Sudah lama nunggu fanfiksi ini lanjut? maaf ya, aku gak perlu alasan ini itu, aku cuma malas ngetik doang selama ini :v
Apa di chapter ini ada semacam perubahan gaya penulisan? jujur saja aku udah lama gak buat cerita. Oh iya ada yang ingin aku sampaikan, sepertinya ide awal cerita ini udah aku lupakan, hehe. Walau alurnya gak jelas nantinya dan gak fokus ke pertarungan Naruto, aku harap kalian masih membacanya, gak berharap disukai sih tapi semoga disukai :v
Oke kalau begitu segitu aja dulu, dan lagi...
Sampai jumpa dimasa depan lagi, cepat? lambat? Entahlah :v
Cyaaa In Next Chapter!
Azking's v2 Out!!!
