Disclaimer:

Aku bukan pemilik dari semua karakter yang akan dan terlibat dicerita ini. Aku hanya meminjam/menggunakan karakter milik pengarang mereka.

Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.


[Arc 1: Kisah yang menghilang]

[Chapter 6: Kenangan]

Pag hari yang sangat biasa untuk kebanyakan mahluk hidup. Bangun, mandi, sarapan dan berangkat kerja, sekolah dan lain-lain. Namun disebuah rumah yang dihuni oleh tiga sosok terlihat seorang laki-laki berambut pirang sedang berpamitan pada penghuni asli rumah itu yang merupakan seorang nenek tua dan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun.

Laki-laki pirang itu tersenyum saat mendengar ucapan anak perempuan penghuni rumah itu yang terdengar tidak rela laki-laki pirang itu pergi dari rumah.

"Onī-chan mau pulang?"

Laki-laki pirang yang tidak lain adalah Naruto itu berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak perempuan itu. Naruto kemudian mengelus kepala anak itu dengan lembut lalu berbicara.

"Iya Elsha-chan, Onī-chan harus pulang karena Onī-chan punya pekerjaan yang harus Onī-chan selesaikan."

Naruto semakin memperlihatkan senyumannya saat merasakan perasaan sedih dari anak perempuan bernama Elsha itu saat mendengar ucapannya.

"Apa Onī-chan akan main kesini lagi?"

Melihat wajah penuh harap dari gadis kecil itu membuat Naruto mengangguk pelan dan menjawab.

"Tentu saja, Onī-chan akan datang untuk main dengan Elsha-chan kalau Onī-chan punya waktu. Jadi sampai Onī-chan datang lagi, Elsha-chan harus jadi anak baik dan jaga Obā-chan, ya?"

Mendengar ucapan Naruto, gadis kecil berambut pirang itu tersenyum senang. Gadis kecil bernama Elsa itu menghambur ke pelukan Naruto yang membalas pelukan anak itu sambil tersenyum.

"Kalau begitu Onī-chan harus janji sama Elsha, Onī-chan harus datang untuk main sama Elsha lagi, janji?"

Elsha mendongak menatap Naruto masih dengan memeluk Naruto, gadis kecil itu mengangkat tangan kanan mungilnya dengan jari kelingking dia julurkan sedangkan jari yang lainnya ditekuk. Naruto yang mengerti maksud gadis kecil itu melakukan itu hanya tersenyum kecil dan mengaitkan kelingking kanannya pada kelingking gadis kecil itu lalu dia pun berkata.

"Janji."

Setelah melakukan ritual mengikat janji ala anak kecil itu, Naruto berdiri dan berpamitan untuk pulang yang sejatinya dia tidak punya tempat untuk pulang. Naruto pergi dengan diantar oleh gadis kecil bernama Elsha itu sampai depan pintu dan melambaikan tangan saat Elsha melambaikan tangan mungilnya ke arah dirinya sambil berkata "Bye bye, Onī-chan!"

Setelah Naruto meninggalkan rumah anak kecil bernama Elsha itu, Naruto berjalan santai menikmati udara pagi yang masih segar dengan wajah datar tanpa ekspresi miliknya. Naruto sesekali melihat kearah langit sambil mengingat-ingat kenangan lamanya setelah dia mengalahkan musuh terakhir semua Shinobi di dunia lamanya bersama Tim Tujuh dulu. Dia sudah lupa sebagian besar kejadian detail dari peperangan itu, yang dia masih ingat hanyalah saat-saat akhir dari peperangan itu saat dimana dia dan Tim Tujuh menyegel Ōtsutsuki Kaguya kembali. Setelah perang itu berakhir, dia bertarung dengan rivalnya Uchiha Sasuke dan berakhir seri meski pada akhirnya Uchiha Sasuke, rivalnya itu mengaku kalah karena meski sudah memanfaatkan kekuatan para Bijū yang telah dia tangkap, Sasuke masih belum bisa mengalahkannya yang hanya memiliki setengah Kurama bersamanya, itu sudah membuktikan bahwa Naruto bisa dibilang lebih kuat dari rivalnya itu.

Setelah petarungan di lembah akhir itu selesai, Naruto dan Sasuke membebaskan seluruh aliansi Shinobi yang terkena Genjutsu Mugen Tsukoyomi yang memerangkap aliansi Shinobi dalam dunia ilusi yang paling mereka inginkan dan dunia Shinobi jatuh dalam kedamaian selama beberapa tahun hingga kemunculan para Ōtsutsuki lain yang mengejar Kaguya meski Naruto dan Sasuke berhasil mengalahkan mereka. Singkat cerita dunia Shinobi sudah aman dari yang namanya peperangan, Naruto, Sasuke dan semua teman-teman seangkatan mereka pada akhirnya menikah satu persatu begitu juga dengan Naruto dan Sasuke yang menikah dengan Hyūga Hinata dan Haruno Sakura. Hidup mereka damai tentram dan kehidupan Shinobi perlahan mulai ditinggalkan hingga ratusan tahun berlalu para Shinobi sudah hampir tidak ada dan pada akhir masa kehidupan Naruto yang memang memiliki umur cukup panjang untuk ukuran seorang manusia, Naruto bertemu dengan sesosok cahaya di alam bawah sadarnya dan sejak saat itulah dia menjadi dirinya yang sekarang, yaitu seorang malaikat.

Mengingat itu membuat Naruto tidak sadar jika di depannya seorang gadis kecil berwajah datar sedang menatapnya dengan pandangan yang menyiratkan bahwa gadis kecil itu seperti mengingat sesuatu yang telah lama dia lupakan meski sepertinya dia masih tidak ingat apa yang dia lupakan itu.

"Bergabunglah denganku, Malaikat."

Merasa mendengar suara seseorang bernada datar, Naruto berhenti melangkah tepat satu meter dari sumber suara datar itu. Naruto mengalihkan pandangannya ke depan dan terdiam saat melihat gadis loli yang memakai pakaian gotik tengah berdiri disana dengan wajah datar, dia ingat gadis loli itu, ya gadis loli itu adalah orang yang semalam mengawasi dan menyerangnya meski gadis loli itu mengatakan dia hanya menyapa saja saat itu.

Naruto yang melihat gadis loli itu juga tidak kalah datar wajahnya, namun tentu saja itu hanya wajahnya saja karena didalamnya dia sedang berpikir untuk apa lagi salah satu mahluk kuat penghuni dunia barunya ini menemuinya lagi? Bukankah dia sudah menolak ajakan bergabung yang gadis loli itu ajukan sebelumnya? Merasa sia-sia saja memikirkan itu, Naruto akhirnya angkat bicara untuk merespon ajakan gadis loli di depannya.

"Maaf, aku tidak bisa bergabung denganmu. Bukankah aku sudah menolak ajakanmu semalam?"

Ophis, gadis perwujudan Ōroboros Dragon itu terdiam menatap datar Naruto yang kembali menolak ajakannya untuk bergabung ke dalam organisasi yang dia pimpin. Merasa tidak puas dengan jawaban malaikat misterius dihadapannya, Ophis kemudian mengobarkan aura naga miliknya tanpa memperdulikan dimana tempatnya berada saat ini.

Naruto yang merasakan tekanan kekuatan gadis kecil dihadapannya meningkat melirik kearah sekitarnya karena orang-orang yang berlalu lalang terlihat lari ketakutan meski mereka tidak tahu kenapa mereka merasa ketakutan padahal sebelumnya tidak. Naruto mendapatkan beberapa informasi kecil dari kejadian saat ini, orang-orang atau lebih tepatnya penduduk biasa tidak bisa melihat aura dari seseorang atau mahluk yang mengobarkan aura mereka, namun para penduduk sipil itu tetap memiliki naluri mereka yang bisa menangkap suatu hawa mencekam yang membuat mereka merinding ketakutan.

'Insting bertahan hidup, kah?'

Mengabaikan perasaan takut luar biasa yang dirasakan oleh orang-orang, Naruto kembali fokus menatap gadis kecil yang belum dia ketahui namanya itu, lalu berbicara.

"Tolong turunkan auramu, kau bisa membuat orang-orang dikota ini panik dalam ketakutan. Jika kau ingin meminta bantuan dariku katakan saja, tapi aku tidak akan pernah bergabung dengan organisasimu."

Naruto diam menunggu respon dari gadis kecil dihadapannya itu dengan wajah tanpa ekspresi, dia berharap gadis kecil itu mau mendengarkan perkataannya karena bagaimanapun tekanan aura gadis kecil dihadapannya itu tidak main-main kuatnya, bahkan tanah yang gadis kecil itu pijak retak sedikit karena tekanan kuat yang dipancarkan tubuh kecil gadis perwujudan seekor naga itu.

Ophis terdiam mendengar ucapan malaikat berambut pirang dihadapannya, dia perlahan menurunkan tekanan auranya kembali seperti semula. Ophis kemudian menatap Naruto cukup lama sebelum akhirnya menghilang dari sana begitu saja.

Melihat gadis kecil itu menghilang membuat Naruto sedikit menghela nafas dan mendongak menatap langit dimana disana seorang pria tengah terbang dengan enam pasang sayap hitam menatap kearahnya dengan ekspresi terkejut. Naruto kenal pria itu.

'Azazel.'

Setelah pertemuan mendadaknya dengan gadis kecil berpakaian gotik tadi, Naruto saat ini tengah duduk berdua bersama Azazel didalam sebuah restoran. Tampaknya Azazel telah menyaksikan pertemuan mendadak antara Naruto dan Ophis dari atas sejak awal, karena itulah saat ini Azazel mengajak Naruto ke sebuah restoran untuk membicarakan tentang apa yang diinginkan oleh Ōroboros Dragon itu dari Naruto.

"Aku tidak menyangka Ophis akan tertarik padamu. Aku juga sebenarnya sedikit penasaran denganmu, Naruel, tapi aku tidak punya hak untuk menanyakan apapun padamu."

Azazel yang telah mendapat penjelasan dari Naruto menghela nafas dan mengambil cangkir kopi miliknya lalu meminumnya perlahan.

"Azazel, aku bisa memberimu sedikit petunjuk tentang diriku,"

Mendengar ucapan malaikat yang duduk dihadapannya itu membuat Azazel terdiam, dia kemudian meletakkan cangkir kopinya diatas meja.

"Dan sebagai imbalan atas petunjukmu, apa yang kau inginkan? Kau pasti menginginkan sesuatu dariku bukan, Naruel?"

Azazel tentu tahu aturan dasar pertukaran informasi itu, jika seseorang menginginkan sesuatu maka orang itu harus memberikan sesuatu yang setara kecuali keduanya berteman baik, dan situasi saat ini Azazel tahu bahwa dirinya jelas bukan teman dan tidak dianggap teman oleh malaikat dihadapannya itu, meski malaikat itu juga tidak menganggapnya sebagai musuh, bisa dibilang malaikat itu berada disisi netral saat ini terhadap dirinya.

Azazel menatap Naruto dengan wajah serius berbanding terbalik dengan Naruto yang biasa saja seakan apa yang ingin dibicarakan bukan sesuatu yang penting. Setelah terdiam untuk beberapa saat, Naruto akhirnya berbicara lagi.

"Informasi tentang dunia ini."

Azazel menaikkan sebelah alisnya heran. Informasi tentang dunia ini? Apa yang dibicarakan oleh malaikat pirang dihadapannya itu? Bukankah seharusnya malaikat itu sudah tahu tentang dunia ini, tapi kenapa malaikat itu ingin informasi tentang dunia ini? Apa mungkin malaikat itu turun ke bumi tanpa tahu apapun tentang bumi? Itu artinya malaikat dihadapannya itu merupakan malaikat baru? atau...

Azazel menggeleng pelan untuk mengusir pertanyaan-pertanyaan yang mulai bermunculan dikepalanya, Azazel kemudian membuka mulutnya untuk berbicara, dia harus mencari tahu siapa malaikat dihadapannya itu sebenarnya, untuk pertanyaan yang bermunculan dikepalanya bisa dia kesampingkan dulu karena untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu dia butuh banyak informasi dan dia saat ini tidak memiliki informasi apapun tentang malaikat dihadapannya itu karena itulah ini saat yang tepat untuk bertukar informasi.

"Aku tidak akan menanyakan alasanmu menginginkan informasi umum seperti itu, tapi akan aku ceritakan ulang padamu tentang dunia kita ini. Jadi, kalau kau tidak keberatan bisa kau berikan sedikit informasi tentang dirimu, Naruel?"

Naruto yang mendengar ucapan Azazel hanya mengangguk kecil dan berbicara.

"Mari mulai perkenalan ini dari awal, namaku Naruel, mantan manusia bernama Uzumaki Naruto yang diangkat oleh Kami-sama menjadi malaikat dan berdiam diri disuatu tempat tanpa melakukan apapun."

Terdiam. Azazel yang mendengar ucapan Naruto diam membeku karena informasi yang dia dapatkan justru langsung menjawab semua pertanyaan yang muncul dikepalanya, itu juga menjelaskan kenapa saat awal pertemuan mereka malaikat itu mengatakan bahwa dirinya sudah tidak pernah merasakan yang namanya terganggu oleh sesuatu.

Azazel tidak menyangka ternyata Tuhan pernah mengangkat seorang manusia menjadi malaikat secara langsung, bukan hanya itu saja yang membuat Azazel terkejut, tapi ada sesuatu yang lain yang membuat Azazel lebih terkejut akan kenyataan tidak terduga yang di informasikan padanya melewati perkenalan ulang malaikat dihadapannya itu. Ya, itu adalah jawaban atas aura yang dimiliki oleh malaikat dihadapannya itu yang bisa dia katakan sama persis seperti aura milik sang ayah dari para malaikat itu.

Dalam sistem Brave Saint yang sekarang dimiliki oleh fraksi malaikat, malaikat reinkarnasi auranya akan membawa aura dari malaikat yang me-reinkarnasi-kan nya menjadi malaikat, dan dalam kasus malaikat dihadapannya, Tuhanlah yang secara langsung me-reinkarnasi-kan malaikat dihadapannya menjadi malaikat, jadi sekarang terjawab sudah kenapa aura malaikat dihadapannya itu begitu suci dan murni.

Melihat Azazel yang terdiam seperti patung sambil menatap dirinya, Naruto sedikit memiringkan kepalanya bingung dengan wajah malaikat ternoda bernama Azazel itu yang terlihat syok setelah mendengar perkenalan ulang dari dirinya dan itu semakin membuatnya bingung karena perasaan Azazel saat ini juga tidak bisa dia definisikan karena terlalu banyak perasaan yang tercampur di dalamnya hingga menjadi acak-acakan.

"Azazel?"

"Azazel?"

Beberapa kali Naruto memanggil nama Azazel tapi malaikat jatuh itu sama sekali tidak merespon panggilannya dan entah kenapa Azazel saat ini terlihat seperti tengah diserang oleh sesuatu yang menghantam otaknya dengan keras sehingga membuat malaikat jatuh itu tidak mampu merespon apapun dari luar kepalanya. Naruto menghela nafas lalu dia berdiri dan pergi dari restoran itu, dia bisa melanjutkan pembicaraan dengan malaikat ternoda itu lagi nanti.

Sebelumnya, disebuah ruangan bergaya Eropa terlihat seluruh penghuni di ruangan itu menegang saat sebuah tekanan aura naga yang cukup besar mereka rasakan. Seorang pemuda berambut coklat memegang tangan kirinya karena bereaksi terhadap aura naga yang dia rasakan saat ini, namun setelah beberapa saat tekanan aura naga itu menghilang seakan tidak pernah ada dan meninggalkan wajah-wajah berkeringat dari seluruh penghuni ruangan itu.

"Buchō."

Seorang gadis yang berdiri di samping seseorang yang dipanggil Buchō itu berbisik pelan. Gadis bersurai merah yang dipanggil Buchō itu mengangguk seakan mengerti apa yang ingin dikatakan gadis yang memiliki rambut panjang diikat ekor kuda itu.

"Sepertinya itu cukup dekat dari Kuō Gakuen, kita periksa Akeno."

Mendengar ucapan gadis bersurai merah itu membuat gadis bernama lengkap Himejima Akeno itu mengangguk pelan.

Gadis bersurai merah atau yang bernama lengkap Rias Gremory itu berdiri dari kursinya dan menatap semua orang atau lebih tepatnya iblis yang ada disana dengan wajah serius, setelah menatap satu-persatu anggotanya gadis itu angkat bicara.

"Semuanya, pertemuan pagi ini kita batalkan dan kita lanjutkan nanti sepulang sekolah. Sekarang, kita harus pergi memeriksa asal aura besar tadi, dan satu lagi bersiaplah dengan kemungkinan terburuknya."

Semua yang ada disana mengangguk dan disaat yang bersamaan Akeno membuat lingkaran sihir untuk berteleportasi ke lokasi terdekat dengan asal aura naga yang sebelumnya dia rasakan.

"Berkumpul."

Semua iblis disana berjalan menuju lingkaran sihir teleportasi yang telah Akeno buat dan setelah itu mereka menghilang dari ruangan bergaya Eropa itu.

Sesampainya di dekat lokasi sumber aura naga tadi, Rias dan peerage nya terdiam karena mereka tidak menemukan apapun disana kecuali retakan ditanah yang mereka asumsikan menjadi tempat pemilik aura naga tadi berdiri. Ditempat itu tidak ada orang lewat sama sekali gara-gara rasa takut yang teramat besar menyerang perasaan semua pejalan kaki yang sebelumnya lewat disana.

Rias mengerutkan keningnya karena dia samar-samar merasakan aura suci yang tertinggal ditempat itu dan rasanya sangat tidak nyaman seakan-akan dirinya bisa terbakar habis hanya dengan merasakan aura suci yang tertinggal disana.

"Kita kembali, sepertinya mahluk yang melepaskan aura besar tadi berhadapan dengan seseorang dan mereka sudah pergi. Malaikat?"

Rias terdiam selagi menunggu Akeno membuat lingkaran sihir teleportasi lagi, sambil memikirkan pemilik aura suci yang tertinggal ditempat itu dan sepertinya hanya dirinya yang merasakan aura suci yang tertinggal ditempat itu karena wajah semua anggotanya hanya menampilkan ekspresi bingung karena tidak ada siapapun disana.

'Aku harap tidak terjadi hal buruk dikota ini. Naga dan malaikat bertemu... Aku harus melaporkan ini pada Onī-sama nanti.'

Naruto yang telah meninggalkan Azazel sendirian direstoran, berjalan untuk ke tempat tujuan awalnya yaitu dipinggiran kota Kuō di mana disana dia telah membangun sebuah rumah kayu dan ditempati oleh seseorang yang telah dia selamatkan tadi malam dari kematian. Dirumah itu juga terdapat dua orang lainnya yang bergabung dengannya dimalam yang sama dia menyelamatkan seseorang itu, yang dia tahu merupakan teman dari Raynare.

Beberapa menit berlalu, Naruto akhirnya sampai ke pinggir kota dan sampai didepan rumah kayu buatannya disana. Naruto tersenyum tipis saat tiga sosok berhamburan keluar dari rumah kayu itu dengan terburu-buru.

"Naruel-sama, selamat pagi dan selamat datang!!!"

Ketiga orang atau lebih tepatnya malaikat jatuh wanita itu berbaris dan menyambut Naruto seperti layaknya maid menyambut tuan mereka. Mereka membungkuk selama beberapa saat lalu menegakkan tubuh mereka secara bersamaan.

"Maaf jika penampilan kami tidak sopan, Naruel-sama. Hanya ini pakaian yang kami punya."

Wanita yang telah Naruto selamatkan itu meminta maaf karena pakaiannya yang tidak sopan, wanita yang memiliki nama Kalawarner itu masih mengenakan pakaian yang biasa dia pakai yang sedikit ketat membuat dua gunung kembarnya tertekan dan terlihat sedikit dibagian atasnya.

Naruto yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan tidak disadari oleh ketiga malaikat jatuh itu. Naruto melangkah dan setiap langkah yang Naruto ambil membuat Kalawarner dan gadis pirang disebelahnya gugup seakan mereka sedang berhadapan dengan seorang raja besar. Naruto berhenti tepat di hadapan Kalawarner dan gadis pirang bernama Mittelt itu lalu menepuk kepala mereka dengan lembut.

"Tidak perlu gugup, untuk pakaian aku memiliki pakaian yang bisa kalian pakai yang akan menutupi tubuh kalian."

Setelah mengatakan itu, Naruto memunculkan beberapa pakaian yang dia simpan sejak lama di dalam jutsu penyimpanan yang dia miliki, pakaian itu adalah pakaian peninggalan istrinya Hyūga Hinata yang semuanya dia abadikan didalam jutsu penyimpanan miliknya agar tidak rusak termakan oleh waktu. Naruto menyerahkan pakaian itu pada ketiga wanita itu yang tidak lain adalah Raynare, Kalawarner, dan terakhir Mittelt sambil berkata.

"Pakaian itu adalah peninggalan istriku, tolong rawat dengan baik ya, Raynare, Kalawarner, Mittelt. Aku berikan pakaian itu pada kalian."

Raynare, Kalawarner dan Mittelt terdiam setelah menerima pakaian peninggalan Hinata. Mereka memiliki satu pertanyaan yang sama dibenak mereka. 'Malaikat bisa punya istri?'

Raynare menatap wajah Naruto mencoba meminta penjelasan, tapi saat melihat setitik kesedihan disorot mata sapphire tuan barunya itu, Raynare mengurungkan niatnya. Bukan hanya Raynare tapi kedua teman Raynare juga bisa melihat kesedihan Naruto meski hanya sekilas.

Tersadar dari pemikirannya, Raynare tersenyum dan mengangguk lalu membungkukkan badannya diikuti kedua temannya.

"Ha'i, aku, tidak, tapi kami akan merawat pakaian pemberian Naruel-sama dengan baik. Kami berjanji!"

Setelah mengatakan itu, Raynare menegakkan badannya yang diikuti kedua temannya.

"Naruel-sama, aku sudah berbicara semalaman dengan teman-temanku dan teman-temanku berkata mereka ingin menjadi pengikut Naruel-sama. Naruel-sama, tolong terima mereka menjadi pengikut Naruel-sama, aku mohon Naruel-sama!"

Raynare menundukkan kepalanya berharap sosok malaikat di depannya itu mau menerima teman-temannya menjadi pengikutnya. Kalawarner dan Mittelt terdiam sambil menunduk, mereka berdua gelisah akan kah malaikat dihadapan mereka itu menerima mereka atau tidak, perasaan gelisah itu semakin besar karena malaikat bernama Naruel itu tidak kunjung menjawab permohonan Raynare.

Naruto yang merasakan ke gelisahan mereka tersenyum dan berkata.

"Kenapa kalian ingin menjadi pengikutku?"

Kalawarner dan Mittelt mengangkat wajah mereka untuk menatap Naruto.

"Kami,"

Kalawarner dan Mittelt saling pandang dan mengangguk yakin. Naruto yang merasakan perasaan yang tidak asing baginya tersenyum tipis.

'Mereka sudah memutuskan, ya.'

"Kami ingin memperbaiki diri kami, dan juga kami ingin selalu bersama, karena kami bertiga adalah teman!"

Raynare menatap kedua temannya dengan perasaan hangat dihatinya, dia bersyukur karena berhasil menyadarkan mereka dari perbuatan mereka sebelumnya. Raynare mengembangkan senyum tulus sambil menatap kedua temannya yang juga menatapnya dengan senyuman yang sama tulusnya.

Naruto yang mendengar dan merasakan kehangatan hubungan mereka, perlahan memejamkan matanya dan menarik bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman yang terlihat sangat indah dimata ketiga malaikat jatuh itu hingga membuat pipi mereka bersemu merah dan terdiam menatap senyuman malaikat didepan mereka yang telah menghipnotis mereka hingga lupa bahwa mereka adalah bawahan dari malaikat yang sedang tersenyum indah itu.

Naruto membuka matanya karena merasakan perasaan cinta dari ketiga malaikat jatuh di depannya. Naruto menatap mereka dengan senyuman penuh kasih sayang seakan dia telah menemukan anak-anak terlantar yang bisa dia besarkan seperti puluhan ribu tahun yang lalu dimana dia merawat banyak anak yatim piatu yang terlantar di jalanan karena tidak memiliki tempat tinggal dan tidak ada yang mau menerima mereka di mana pun.

Naruto mengangkat tangannya dan menepuk pelan kepala mereka satu persatu membuat mereka tersentak dan bertambah merah wajahnya karena malu.

"Mari mengobrol lebih lanjut didalam, tidak enak berbicara didepan pintu."

Mereka bertiga mengangguk mendengar ucapan tuan mereka dengan wajah memerah malu karena mereka malah terpesona oleh senyuman tuan mereka.

Didalam, mereka duduk berbaris dengan Naruto yang duduk di hadapan ketiga malaikat jatuh itu, mereka duduk dilantai karena rumah kayu buatan Naruto dibuat dengan gaya ala rumah klan Hyūga, klan istrinya.

Naruto menatap ketiga malaikat jatuh di depannya dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat, dia memperhatikan ketiga wanita malaikat jatuh itu sebelum berbicara.

"Akan kah kalian bersedia untuk mengganti pakaian kalian terlebih dahulu?"

Mendengar itu ketiga malaikat jatuh itu saling pandang satu sama lain dan dengan cepat mereka bersujud.

"Maafkan kami, Naruel-sama, kami lupa berganti pakaian! Kami akan segera berganti pakaian!"

Dan dengan itu ketiga wanita malaikat jatuh itu bangun dan bergegas menuju ke sebuah kamar dan berganti pakaian dengan pakaian pemberian Naruto sebelumnya. Suara berisik saat mereka berganti pakaian dengan buru-buru terdengar dengan jelas oleh Naruto, yang ditanggapi dengan sebuah gelengan kepala pelan dan membatin.

'Mereka anak-anak yang masih polos akan kebenaran, dan aku adalah orang tua yang melupakan segalanya dalam kesendirian. Aku berharap, aku bisa menjaga anak-anak ini dengan diriku yang sekarang hanya memiliki sedikit kekuatan.'

Naruto memejamkan matanya mengingat kepingan ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berakhir dalam kesendirian. Hari dimana perang akhir dunia terjadi yang mengakhiri segala kehidupan didunia lamanya, menyisakan dirinya yang abadi seorang diri, mengawasi dunia kosong itu, menjaga bumi yang porak-poranda itu, dan memperbaiki pohon-pohon yang tumbang agar bumi bisa kembali hidup suatu saat nanti, namun sayang dirinya tidak bisa menunggu lebih lama lagi, karena dirinya sudah terlalu putus asa karena lagi-lagi hidup dalam kesendirian yang menyedihkan dan menyakitkan.

Naruto membuka matanya lalu bergumam pelan.

"Kapan takdirku ini berakhir..."

[To Be Continue]

Author Note:

Halo, aku kembali! Entah kenapa aku pengen nulis dan pengen update hehe.

Makasih buat kalian yang masih menunggu fanfiksi ini lanjut. Yah, aku gak tau ini bakal menghibur atau membosankan silakan direview chapter kali ini.

Etto untuk word aku masih samain kayak chapter sebelumnya, entah kenapa klo bikin banyak word malah hilang mood nulis ku, jadi ya 3k aja cukup n aku juga usahain update untuk fanfic ini jika ada ide. Aku juga sedang mencoba menulis cerita original ku sendiri meski baru coba-coba.

Untuk xenovia uzumaki, perasaan cinta tentu Naruto bakal punya tapi, akan sangat sulit untuk jatuh cinta antara pria n wanita karena Naruto akan cenderung menganggap dirinya sudah terlalu tua dan memandang mahluk hidup yang lainnya sebagai anak-anak. Tapi kita lihat aja dimasa depan akan jadi kayak gimana nasib Naruto yang udah putus asa dengan takdirnya itu :v

Mungkin segini aja untuk a.n kali ini, makasih udah dukung cerita ini dan ngasih semangat buat aku. Yah, rasanya cukup baik melihat respon kalian saat aku meng-update chapter sebelumnya.

kalau begitu sampai jumpa dimasa depan!

Cyaaaa In Next Chapter!Azking's v2 Out!!!