Disclaimer:
Aku bukan pemilik dari semua karakter yang akan dan terlibat dicerita ini. Aku hanya meminjam/menggunakan karakter milik pengarang mereka.
Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.
[Arc 1: Kisah yang menghilang]
[Chapter 7: Hakuryūkō]
Berberapa hari telah berlalu sejak pertemuan Naruto dengan Ophis. Naruto saat ini sedang berada di hutan dibelakang rumah kayu buatannya yang dijadikan tempat tinggal oleh tiga malaikat jatuh perempuan. Hutan itu diselimuti oleh penghalang ilusi yang membuat siapapun tidak bisa menemukan keberadaannya saat ini, di hutan itu juga ada ketiga malaikat jatuh yang sekarang sudah menjadi pengikutnya.
Naruto berdiri menatap ketiga malaikat jatuh yang tengah membentangkan sayap mereka, dia melihat sayap Raynare sudah berwarna putih seutuhnya sedangkan dua yang lainnya masih abu-abu. Naruto terdiam saat dia merasakan energi suci ketiganya terasa berbeda dari sebelumnya seakan mereka kembali menjadi mahluk suci namun berbeda disaat yang bersamaan.
'Mereka, terutama Raynare tidak kembali menjadi malaikat. Mereka menjadi mahluk yang berbeda namun mirip dengan malaikat.'
Naruto terdiam memikirkan hal itu, dia sudah hidup puluhan ribu tahun lamanya dan dia sudah merasakan aura dari banyak mahluk hidup di dunia lamanya termasuk malaikat, namun aura dari ketiganya tidak terasa seperti malaikat pada umumnya, itu terasa seperti mahluk yang berbeda namun sama.
Selagi Naruto terdiam, ketiga malaikat jatuh itu juga ikut terdiam dengan wajah memerah malu karena terus diperhatikan oleh tuan baru mereka, bagi mereka diperhatikan oleh tuan baru mereka itu terasa seperti ditatap oleh seorang penguasa besar yang mampu memerintah dunia. Raynare berusaha menjaga perasaannya agar tidak terusik oleh tatapan tuannya yang seperti sedang menilai dirinya dan teman-temannya.
Raynare melirik teman-temannya yang terlihat gugup dan dia pun membatin.
'Naruel-sama, tolong jangan menatap kami seperti itu atau kami akan pingsan!'
Dirasa tidak memiliki informasi apapun untuk aura baru yang dia rasakan, Naruto akhirnya sadar akan perasaan ketiga malaikat jatuh dihadapannya itu yang terasa gelisah entah karena apa, Naruto menghela nafas ringan dan tersenyum tipis lalu berbicara.
"Kalian bertiga tenanglah, tidak perlu gugup ataupun gelisah seperti itu, aku hanya memikirkan tentang aura kalian yang baru pertama kali ini aku rasakan."
Mendengar ucapan tuannya ketiga malaikat jatuh itu mulai menenangkan diri mereka, setelah tenang mereka menatap Naruto dengan wajah bingung.
"Baru pertama kali Naruel-sama rasakan? Bukankah kami adalah malaikat jatuh?"
Kalawarner bertanya bingung sedangkan dua yang lainnya mengangguk mendukung pertanyaan temannya karena mereka memiliki pertanyaan yang serupa.
"Bagiku kalian sebelumnya adalah malaikat hanya saja aura kalian ternoda, namun sekarang setelah aku coba rasakan dengan teliti, ada perbedaan yang membuat kalian seperti menjadi mahluk baru dan bukan malaikat pada umumnya, mungkin kalian mirip denganku."
Naruto menatap ketiga bawahannya itu dengan ekspresi datar sedangkan ketiga wanita dihadapannya itu terdiam berusaha mencerna penjelasan dari tuan mereka tentang aura mereka saat ini. Apa itu artinya mereka bukan kembali menjadi malaikat tapi mereka berevolusi jadi mahluk baru? Terlebih lagi mirip dengan tuan mereka? Apa tuan mereka bukan malaikat?
Pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan dikepala mereka mengenai diri mereka dan tuan mereka saat ini, apa mereka telah dibodohi lagi?
Kalawarner menggelengkan kepalanya saat pikirannya mulai memiliki keraguan lagi, dia kemudian melirik Raynare yang terlihat sangat senang akan informasi yang baru saja disampaikan oleh tuan mereka. Kalawarner memejamkan matanya dan tersenyum penuh keyakinan.
'Kalau Raynare percaya dan yakin pada Naruel-sama, tidak ada alasan bagiku untuk ragu. Tidak masalah meski bukan malaikat, asalkan kami bertiga bersama itu sudah cukup.'
Kalawarner membuka matanya dan dia memandang Naruto dengan yakin tanpa keraguan dihatinya lalu berbicara.
"Kalau begitu bukannya kami bertiga menjadi mahluk baru? Jika seperti itu mungkin Naruel-sama bisa memberi ras kami nama baru dan menjadikan ras kami sebagai simbol pengikut Naruel-sama."
Ucapan Kalawarner membuat Raynare dan Mittelt menoleh menatapnya dengan wajah terkejut tidak percaya. Raynare yang berpikir dengan rasa senang dihatinya karena tuannya mengatakan dirinya dan teman-temannya menjadi mirip dengan tuannya tidak menyangka temannya itu, Kalawarner berpikir jauh lebih baik dari dirinya padahal biasanya Kalawarner selalu mengikuti perintah tanpa ragu namun tidak pernah berani mengutarakan pendapatnya sendiri, Raynare merasa temannya itu sudah memiliki keyakinan sehingga mulai berani mengungkapkan pendapatnya sendiri dan itu membuat dirinya tersenyum tulus dalam hatinya.
'Kala-chan.'
Naruto terdiam mendengar ucapan Kalawarner dan dia juga memiliki pemikiran yang sama sebelumnya tapi dia tidak bisa asal memberi nama jika ketiga pengikutnya itu ingin jenis mereka menjadi simbol mereka sebagai pengikutnya meski dirinya tidak menganggap ketiganya sebagai pengikut mungkin lebih tepat jika dirinya menganggap mereka bertiga seperti anak meski tidak dia katakan.
Naruto menghela nafas dan berbicara.
"Untuk nama mungkin lain kali, aku membutuhkan informasi tentang hal itu karena mungkin saja ada ras yang sama seperti kalian namun bersembunyi disuatu tempat, lagi pula hanya aku yang bisa menyadari perbedaan aura kalian sedangkan mahluk lain sepertinya tidak bisa karena mahluk-mahluk lain terkadang salah mengira bahwa aku ini manusia meskipun aku adalah seorang malaikat yang berbeda dengan malaikat pada umumnya."
Naruto selesai menjelaskan, dia tentu tidak mungkin mengatakan pada mereka bahwa dia adalah malaikat spesial yang tentunya berbeda dengan malaikat pada umumnya karena jika dia mengatakannya akan mulai bermunculan pertanyaan yang tidak akan ada ujungnya dan dia akan kesulitan untuk mengurusnya nanti. Naruto menatap ketiga wanita didepannya yang masih memproses penjelasannya, dirasa sudah diterima ketiga wanita itu saling pandang dan mengangguk.
"Naruel-sama, jika Naruel-sama tidak keberatan kami ingin Naruel-sama melatih kami agar kami bisa berguna bagi Naruel-sama. Kami ingin berguna bagi Naruel-sama, kami mohon latihlah kami, Naruel-sama!"
Mendengar ucapan mereka bertiga yang disertai tekad kuat dimata mereka, Naruto tersenyum tipis lalu berbicara.
"Baiklah jika kalian memang ingin aku latih, namun aku akan melatih kalian dengan beban yang berat."
"Ha'i, kami akan menerima latihan apapun yang diberikan oleh Naruel-sama."
'Bahkan jika itu harus merusak tubuh kami.'
•
Malam hari, setelah Naruto melatih ketiga malaikat jatuh bawahannya seharian, Naruto akhirnya pergi meninggalkan rumah tempat tinggal mereka dan berjalan menuju ke tempat Azazel untuk bertanya lebih lanjut tentang peristiwa masa lalu dunia barunya ini. Beberapa hari sebelumnya dia sudah berbicara dengan Azazel dan sudah mendapatkan informasi tentang dunia barunya ini dari malaikat jatuh itu, namun beberapa hal belum Azazel ceritakan padanya seperti tentang Great War yang terjadi dimasa lalu dan sesuatu yang disebut Sacred Gear.
Naruto berjalan dengan santai sambil menikmati berbagai perasaan orang-orang yang ada di kota Kuō ini sampai dia merasakan sebuah perasaan hampa dari seseorang yang sering sekali menemuinya, namun kali ini orang itu tidak sendirian karena Naruto merasakan perasaan lain yang menurutnya milik seseorang yang gila akan pertarungan.
'Ini cukup merepotkan, anak itu tidak turun tangan langsung menghadapiku tapi membawa orang lain. Semoga saja tidak membuat kota ini hancur.'
Setelah membatin seperti itu sebuah penghalang muncul mengurung dirinya, beruntungnya dia dari tadi hanya berjalan santai sehingga rumah-rumah penduduk tidak masuk dalam cakupan penghalang berwarna ungu itu, tidak lama setelah itu seorang gadis kecil berwajah datar muncul bersama seorang pemuda berambut perak yang sedang terbang dengan sepasang sayap mekanik berwarna biru.
"Kali ini bergabunglah denganku, Malaikat."
Ophis entah kenapa sangat ingin malaikat dihadapannya bergabung dengan organisasi miliknya dan juga ada sesuatu tentang malaikat dihadapannya itu yang terus mengganggu pikirannya seakan-akan malaikat itu dan dirinya pernah bertemu di suatu tempat yang sudah dia lupakan. Bukan hanya itu saja sepertinya alasan gadis perwujudan Ōroboros Dragon itu ingin malaikat dihadapannya bergabung, ya ada hal yang lain yang membuatnya sangat penasaran dengan malaikat itu dan itu adalah...
"Nak, bisakah kau berhenti mengajakku bergabung? Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa aku bisa memberimu bantuan jika kau butuh, jadi kau tidak perlu terus-terusan datang untuk mengajakku karena itu sia-sia, Nak. Jawabanku tetap saja sama, aku menolaknya."
Ophis yang mendengar ucapan Naruto terdiam dengan wajah datarnya dan berkata.
"Aku tidak akan berhenti. Vali."
Setelah mengatakan itu Ophis memanggil pemuda berambut perak yang sedang terbang itu lalu menghilang dan muncul ditempat tinggi yang cukup jauh dari Naruto. Ophis duduk dan menyaksikan pemuda yang dia panggil Vali itu memasuki mode Balance Breaker yang membuat tubuhnya diselimuti oleh armor naga putih dengan permata biru dibeberapa bagian armornya, itu adalah wujud Balance Breaker dari pemegang Sacred Gear Divine Dividing yang dihuni oleh seekor naga bergelar Hakuryūkō.
Vali langsung mencoba sebuah serangan dari kemampuan Sacred Gearnya pada musuhnya yang hanya diam menatapnya dengan wajah datar. Vali merentangkan tangan kanannya kearah Naruto dan suara mekanik terdengar dari sayap Vali.
[Half Dimension]
Vali menggerakkan tangannya seperti meremas sesuatu dan dimensi ditempat Naruto mulai tertekan ke dalam yang berpusat pada Naruto yang tetap diam ditempatnya seakan tekanan dimensi dari serangan Vali tidak terasa olehnya.
"Vali, ini hanya perasaanku saja atau memang malaikat itu tidak terkena efek seranganmu."
Vali yang mendengar suara berat dari patner nya terdiam sambil menatap lawannya yang berdiri tenang, Vali menyipitkan matanya saat melihat tanah yang dipijak oleh lawannya itu tidak terdistorsi seperti yang lainnya.
"Sepertinya dia memang tidak terkena seranganku. Menarik! Aku baru pertama kali ini melihat seseorang tidak terpengaruh serangan itu. Terlebih lagi Ophis sampai benar-benar tertarik padanya, mari kita coba melawannya sepertinya dia lebih menarik dari Sekiryūtei."
Setelah mengatakan itu Vali membatalkan serangan pertamanya karena itu telah gagal, lalu dia langsung terbang melesat kearah Naruto yang hanya diam dan dalam hitungan detik Vali melayangkan tinju berlapis armor miliknya ke wajah Naruto yang berhasil menangkap tinjuan Vali dengan tenang namun gelombang kejut menyebar dengan kuat menerbangkan debu dan benda-benda kecil dari sekitar mereka.
Vali yang serangannya kembali gagal mencoba menyerang lagi dengan tinju tangan kirinya namun itu juga gagal dan ditangkap oleh Naruto dengan mudah, tidak cukup sampai disitu Vali kemudian menendang Naruto dengan kaki kanannya dengan kuat tapi lagi-lagi serangan itu gagal karena Naruto tidak bergerak sedikitpun meski tendangannya berhasil mengenai rusuknya dan ada semacam energi suci yang kuat melindungi rusuknya hal itu membuat serangan Vali tidak terasa sama sekali oleh Naruto.
"Nak, bisakah kau berhenti? Aku tidak ingin menyakitimu."
Mendengar ucapan lawannya yang meremehkannya membuat Vali menaikkan intensitas aura naga miliknya dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman lawannya yang begitu kuat, dia seperti tidak bisa melepaskan cengkraman lawannya itu.
"Sepertinya kau tidak akan tenang sebelum aku menghukummu, ya. Baiklah, aku akan melawanmu tapi tolong setelah itu pergilah dengan tenang."
Setelah mengatakan itu Naruto melepaskan tangan kiri Vali dan melayangkan tinju tangan kanannya ke perut berlapis armor Vali membuat armor naga putih itu retak saking kuatnya pukulan Naruto.
"Ghaaah!"
Syuuut! Blaar!
Vali terlempar dengan sangat cepat hingga menembus sebuah bangunan terbengkalai dan berhenti setelah berguling-guling beberapa meter dari bangunan itu. Armor naganya hancur dibagian perutnya namun itu kembali normal setelah Vali berhasil berdiri. Disisi Naruto dia sedang bersiap melemparkan sebuah tombak chakra berwarna emas dan Naruto melemparkan tombak chakra itu dengan kuat menembus bangunan terbengkalai yang ditabrak Vali sebelumnya dan lagi-lagi Vali tidak bisa bereaksi saat tombak chakra suci itu menembus perutnya dan terus melesat dengan kecepatan tinggi hingga membentur penghalang yang dibuat oleh Ophis menciptakan ledakan besar yang menggetarkan area sekitar.
Duuuuaaar!
Vali terhempas oleh gelombang kejut yang dihasilkan ledakan besar akibat serangan tombak chakra suci milik Naruto. Armor naga Vali hancur dan Vali terkapar karena tubuhnya tertembus tombak suci. Dia mungkin setengah manusia tapi darah iblisnya tidak mungkin bisa menahan efek merusak dari kekuatan suci yang begitu menyakitkan baginya.
"Vali, kau baik-baik saja?"
Vali yang masih sadar hanya bisa merintih kesakitan sambil memegangi perutnya yang berlubang.
"A-albion, a-apa a-aku ter-lihat ba-baik-baik sa-saja?"
Albion, naga putih itu terdiam mendengar balasan dari inangnya yang berusaha menjawab meski merasakan sakit di perutnya.
"Serangan tombak suci itu bukan sekedar suci, tombak itu terbuat dari energi yang sangat suci, kau yang seharusnya memiliki sedikit kekebalan terhadap sesuatu yang suci berkat darah manusiamu tidak mampu menahan efek suci dari serangan malaikat itu. Siapa dia sebenarnya?"
Ophis yang melihat kejadian itu dari kejauhan merasa tidak asing dengan serangan yang dilakukan malaikat misterius itu, dia merasa pernah melihat cara malaikat itu melemparkan tombaknya dimana malaikat itu menarik tangan kanannya yang memegang tombak kebelakang, memundurkan kaki kanannya dan merendahkan tubuhnya lalu melemparkan tombaknya dengan kuat hingga kecepatannya sulit diikuti oleh mata dan hanya sebuah cahaya emas yang lewat yang bisa terlihat olehnya padahal dirinya adalah salah satu mahluk terkuat di dunia ini. Ophis tidak mengerti kenapa dia merasa pernah melihat serangan itu, tidak bukan hanya itu saja, dia bahkan merasa pernah bertemu dengan malaikat itu disuatu tempat, tapi dimana?
Mengabaikan pemikirannya, Ophis menghilang dan muncul ditempat Vali. Tidak lama setelah itu Naruto sampai ke tempat Vali dan menatap Ophis dan Vali dengan datar.
"Maafkan aku, Nak. Dengan ini kau bisa pergi dengan tenang."
Setelah mengatakan itu Naruto menggunakan kemampuannya untuk menyembuhkan Vali, setelah selesai dia kembali berbicara.
"Dengarkan aku kalian berdua, aku tidak akan pernah bergabung dengan organisasi kalian tapi jika kalian membutuhkan bantuan dariku datang saja temui aku tapi aku hanya bisa membantu jika tujuan kalian baik, jika tidak maka... Aku terpaksa harus menghapus kalian berdua dan aku tidak ingin itu terjadi, aku tidak ingin membunuh anak-anak yang kebingungan seperti kalian."
Setelah mengatakan itu Naruto melangkah pergi dan menghilang begitu saja, baik dari wujud dan hawa keberadaannya benar-benar hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun ditempat itu.
Vali yang kembali pulih berkat kemampuan penyembuhan misterius dari Naruto mendudukkan dirinya. Dia terdiam mencoba mencerna kata-kata yang diucapkan oleh malaikat misterius yang tidak diketahui namanya itu yang telah mengalahkannya dengan sangat mudah. Vali mendongak menatap Ophis yang terdiam menatap kearah lokasi dimana malaikat itu menghilang.
"Ophis, siapa sebenarnya malaikat itu? Aku tidak pernah mendengar fraksi malaikat memiliki seseorang seperti dia yang bahkan berani menyebutmu anak-anak."
Ophis terdiam masih menatap lokasi menghilangnya Naruto, dalam pikirannya lagi-lagi dia merasa pernah mendengar kalimat "Aku tidak ingin membunuh anak-anak seperti kalian" dari seseorang yang tidak bisa dia ingat siapa orang itu. Ophis kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Vali datar.
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya aku pernah bertemu dengannya disuatu tempat ribuan tahun yang lalu."
Vali yang mendengar jawaban datar dari Ophis terdiam sambil berpikir.
'Bertemu dengan Ophis ribuan tahun yang lalu? Siapa dia, entah kenapa keinginanku untuk melawannya hilang setelah dia mengalahkanku. Maafkan aku, Nak. Dengan ini kau bisa pergi dengan tenang.'
Kalimat itu seakan menjawab sesuatu yang dia tanyakan pada dirinya sendiri mengenai keinginannya untuk melawan malaikat itu yang menghilang. Vali terdiam lalu kembali mengingat ucapan awal malaikat itu sebelum bergerak menyerangnya.
'Sepertinya kau tidak akan tenang sebelum aku menghukummu, ya. Baiklah, aku akan melawanmu tapi tolong setelah itu pergilah dengan tenang.'
Vali kembali terdiam mengingat itu, malaikat itu sejak awal hanya bermaksud menghukumnya agar dia bisa tenang? Dia tidak mengerti bagaimana caranya malaikat itu menghilangkan rasa haus akan pertarungan yang berasal dari darah iblisnya tapi mungkin sekarang dia bisa sedikit lebih tenang agar suatu saat dia bisa memenuhi tujuannya, membalas iblis tua itu.
"Vali kita kembali."
Mendengar ucapan Ophis membuat Vali tersadar dari pemikirannya dan merespon ucapan Ophis dengan mengangguk pelan.
'Sampai bertemu lagi, Malaikat.'
•
Surga.
Disebuah ruangan terlihat seorang pria berambut pirang pucat menatap sebuah surat di tangannya, di ruangan itu juga terdapat beberapa orang yang sedang duduk di sebuah sofa, mereka semua adalah para petinggi malaikat yang dimana pria berambut pirang pucat yang memegang surat itu merupakan pemimpin fraksi malaikat saat ini, dia bernama Michael sedangkan beberapa orang yang sedang duduk disofa itu bernama Raphael, Uriel, Metatron dan satu perempuan yang merupakan adik dari Michael, dia bernama Gabriel.
Michael saat ini sedang berdiri memegang surat yang memiliki simbol lingkaran sihir malaikat jatuh, ya, surat itu adalah surat dari pemimpin malaikat jatuh entah untuk apa pemimpin malaikat jatuh itu mengirim surat ke gereja Vatikan, apa ada sesuatu yang penting? Dia tidak tahu. Michael perlahan membuka amplop yang berisi surat dari pemimpin malaikat jatuh itu. Michael mengeluarkan kertas yang terlipat itu lalu menoleh kearah para petinggi malaikat yang lainnya.
"Aku tidak menyangka Azazel akan mengirim surat ke Vatikan. Michael apa isinya?"
Michael terdiam sejenak dan menatap sebuah tulisan kecil yang dibaca "Surprise" tulisan itu ada diluar lipatan kertas itu.
"Aku tidak tahu Raphael, disini sepertinya Azazel ingin memberi sebuah kejutan."
Mendengar ucapan Michael membuat semua yang ada disana menaikkan sebelah alisnya bingung kecuali Gabriel yang nampak memiringkan kepalanya dengan ekspresi polos di wajahnya.
"Kenapa malaikat jatuh mesum itu mengirim surat mencurigakan seperti itu?"
Michael menatap malaikat yang baru saja bertanya dengan wajah yang mengatakan dia tidak tahu.
"Buka saja Michael, kita lihat isinya apa, Azazel tidak mungkin mengirim surat lelucon seperti melamar Gabriel misalnya."
Semua terdiam menatap malaikat yang baru saja bicara itu, dia adalah Uriel.
"Apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Melihat semua teman-temannya menatapnya membuat Uriel sedikit heran, dia tidak sedang mengatakan sebuah lelucon, dia hanya mengatakan yang sebenarnya. Azazel tidak mungkin mengirim surat seperti itu, malaikat jatuh mesum itu akan langsung pergi mengintip Gabriel mandi saat Gabriel berkunjung ke dunia manusia.
Michael menghela nafas lalu membuka lipatan kertas yang Azazel kirim itu dan membaca isinya. Dan terdiam.
Michael, kau mungkin tidak akan percaya dengan apa yang aku temukan di dunia manusia, jadi datanglah ke kota Kuō dan carilah orang yang memiliki ciri-ciri seperti ini. Dia berambut pirang, bermata biru, memakai kimono berkerah tinggi dengan simbol magatama dikerahnya, lalu terdapat tiga pasang garis halus di pipi nya. Kau akan terkejut setelah bertemu dengannya.Tertanda Azazel si calon suami Gabriel.
Michael yang telah selesai membaca isi surat dari Azazel terdiam. Seseorang yang akan membuatnya terkejut setelah bertemu? Siapa? Michael menatap tulisan yang menjelaskan ciri-ciri orang yang Azazel maksud.
"Onī-sama, apa isi surat itu?"
Michael tersadar dari pemikirannya saat mendengar suara adiknya yang terdengar penasaran. Michael menatap adiknya itu lalu kearah teman-temannya yang lain yang juga menunggu jawaban darinya.
"Azazel sepertinya menemukan sesuatu di dunia manusia, dan dia ingin aku datang ke kota Kuō untuk menemui seseorang."
"Kau pasti bercanda, Kuō adalah wilayah iblis, jika kau datang kesana tanpa meminta izin dari iblis merah itu kau akan membuat perselisihan."
"Aku tahu itu Raphael, tapi entah kenapa aku merasa harus menemui orang ini."
Michael berbicara sambil menatap tulisan yang menjelaskan ciri-ciri orang yang dimaksud oleh Azazel yang katanya akan membuatnya terkejut.
"Mungkin kau bisa melakukannya jika ada kesempatan, sekarang kita tidak mungkin turun ke wilayah yang bukan teritori kita atau itu akan mengakhiri genjatan senjata ini."
Michael menatap kearah malaikat yang baru saja bicara itu dan tersenyum kecil.
"Kau benar Metatron, aku bisa menemui orang ini jika ada kesempatan."
Setelah mengatakan itu mereka memulai rapat mengenai sesuatu yang merupakan tujuan awal diadakan pertemuan itu.
•
Naruto saat ini sedang duduk bersama Azazel, setelah meninggalkan Ophis dan Vali, Naruto langsung berteleportasi ke lokasi Azazel biasa memancing tentu saja dia datang kesana karena untuk memenuhi tujuannya yaitu informasi mengenai Great War dan Sacred Gear. Setelah beberapa jam Azazel bercerita mengenai perang tiga fraksi dan Sacred Gear, Azazel dan Naruto duduk memancing dengan tenang ditemani oleh suara-suara malam hari. Azazel tentu melewatkan cerita mengenai Tuhan yang sudah... yah begitulah.
"Tidak dimana pun, semua mahluk hidup mencari perdamaian tapi tidak sedikit yang menginginkan peperangan. Dunia memang sejak awal diciptakan untuk menjadi panggung semua itu."
"Yah kau benar, Naruel. Aku sampai lelah mengurusi masalah perang yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan selesai."
Naruto terdiam memandang langit malam penuh bintang, dia kemudian menghela nafas dan berbicara.
"Perdamaian. Azazel, kau ingin dunia ini damai?"
Mendengar pertanyaan itu dari malaikat di sampingnya tentu saja menarik perhatian Azazel yang memang menginginkan perdamaian, dia menoleh menatap Naruto dengan ekspresi serius.
"Tentu saja aku menginginkan perdamaian, karena jika dunia ini damai, aku bisa melakukan sesuatu yang paling aku inginkan."
"Dan apakah itu?"
Naruto menatap Azazel yang memasang wajah serius namun saat jawaban keluar dari mulut malaikat jatuh itu, Naruto hanya bisa terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tentu saja mengintip Gabriel mandi, hehehe~"
'Malaikat ternoda ini sepertinya mirip dengan seseorang...'
[To Be Continue]
Author Note:
Halo, aku kembali!
Etto, bagaimana dengan chapter kali ini? silakan direview.
Oh ya aku mau bilang kalau kekuatan dan sejarah di fanfiksi ini gak akan sama persis kayak di canon nya. Aku akan membuat kekuatan dari karakter di fic ini menggunakan imajinasi anehku jika aku gak tau kekuatan karakternya, sifat tiap karakter juga akan sedikit atau malah ooc.
Bukannya aku malas untuk mencari informasi tentang tiap karakter yang akan terlibat dalam fic ini, aku gk bisa gara-gara aku cuma pake kuota gratisan 10 mb :v buat nulis n update. Yah intinya gitu.
Untuk beberapa review seperti mengenai Elsha, ya dia gak akan ikut Naruto untuk saat ini.
Naruto vs Mao? Gk ada alasan Naruto bertarung dengan para mao kecuali yah latih tanding? tapi mungkin belum waktunya.
Baiklah mungkin segini aja kali ya, Terima kasih udah dukung fic ini n ngasih semangat buat aku.
N
Cyaaa In Next Chapter!!!
Azking's v2 Out!!!
