Disclaimer:
Aku bukan pemilik dari semua karakter yang akan dan terlibat dicerita ini. Aku hanya meminjam/menggunakan karakter milik pengarang mereka.
Naruto milik Masashi Kishimoto dan High School DxD milik Ichiei Ishibumi.
[Arc 1: Kisah yang menghilang]
[Chapter 8: Pembasmian iblis liar bagian I]
Hyōdō Issei menghela nafas lelah karena dari tadi dia terus-terusan kepikiran tentang malaikat jatuh yang membawa kabur Sacred Gear gadis mantan biarawati yang sekarang menjadi iblis dari keluarga bangsawan Gremory yaitu keluarga Rajanya.
Sudah satu minggu berlalu sejak hari penyelamatan gadis berambut pirang itu dan selama itu juga gadis itu merasa tertekan gara-gara dia tidak berguna bagi teman-temannya meski tidak ada yang keberatan tentang hal itu. Issei menatap keluar jendela dari tempat duduknya dikelas 2-B, dia mengabaikan guru laki-laki yang sedang menjelaskan pelajaran yang sedang berlangsung saat ini karena pikirannya tertuju pada ingatan sehari sebelumnya.
Flashback
Di sebuah bangunan bergaya Eropa terlihat beberapa orang sedang berkumpul, seorang gadis berambut merah yang menjadi pemimpin kelompok itu duduk dikursi kepemimpinannya sambil menatap semua yang ada di ruangan itu dengan wajah serius.
"Baiklah karena kalian semua sudah datang, aku akan menjelaskan kenapa aku memanggil kalian di jam pelajaran sedang berlangsung seperti ini."
Gadis berambut merah bernama Rias Gremory itu mengambil selembar kertas yang memiliki simbol lingkaran sihir merah khas keluarganya. Dia melihat kertas itu sejenak lalu kembali menatap anggotanya.
"Baru saja Maō Lucifer-sama mengirimkan informasi bahwa ada bangsawan iblis dari Meikai yang terbunuh oleh para budaknya. Lucifer-sama menginformasikan bahwa para budak iblis dari bangsawan yang terbunuh itu melarikan diri ke kota Kuō sebagian sedangkan sebagian yang lainnya berhasil ditangkap."
Rias menghentikan penjelasannya dan membiarkan para Peerage miliknya itu mencerna informasi yang baru dia sampaikan. Rias menoleh saat seorang pemuda berambut pirang mengangkat tangannya.
"Buchō, jika tuannya saja sampai terbunuh bukan kah para budaknya itu kuat?"
Rias tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari pemuda yang menjadi Knight dalam kelompoknya itu, dia kemudian kembali melihat kertas ditangannya yang menjelaskan penyebab bangsawan iblis itu bisa terbunuh. Setelah selesai membaca penjelasan yang tertulis disana, Rias manatap pemuda pemegang bidak Knight itu.
"Disini dikatakan tuan mereka dibunuh saat sedang tidur jadi dia tidak sempat untuk melakukan perlawanan. Tapi kita harus tetap berhati-hati saat menjalankan misi ini."
Merasa pertanyaannya sudah terjawab, pemuda bernama Kiba Yūto itu mengangguk mengerti.
Rias kemudian menatap semua anggotanya satu persatu menunggu apa ada lagi yang ingin bertanya atau tidak, ketika dia merasa tidak ada lagi yang ingin bertanya Rias akan melanjutkan penjelasannya tapi kemudian dia urungkan ketika anggota terbarunya itu mengangkat tangan dengan ragu-ragu.
"Ada apa, Asia?"
Gadis mantan biarawati itu menurunkan tangannya kembali ketika semua pasang mata tertuju padanya, dia yang memang pada dasarnya orang yang pemalu menjadi gugup dalam situasi saat ini, tapi dia harus menyampaikan apa yang ingin dia katakan karena bagaimana pun dia tidak ingin menjadi beban dari teman-temannya itu.
"A-ano... Apa aku harus ikut?"
Rias yang mendengar pertanyaan itu menghela nafas dan tersenyum.
"Asia, tentu kau harus ikut agar kau terbiasa dengan lingkungan barumu. Apa ada alasan yang membuatmu bertanya seperti itu?"
Rias tahu apa alasan gadis mantan biarawati itu bertanya seperti itu, namun dia tetap harus bertanya agar gadis itu setidaknya mengatakan padanya secara langsung alasan yang membuatnya bertanya seperti itu.
Asia terdiam menunduk saat mendengar jawaban dan pertanyaan dari pemimpinnya itu, dia berpikir dia tidak akan berguna meski dia ikut dalam misi yang akan mereka jalankan itu, jika sebelumnya dia mungkin bisa sedikit berguna tapi sekarang dengan dirinya yang telah kehilangan berkahnya memangnya apa yang bisa dia lakukan kecuali hanya merepotkan mereka saja nantinya.
Cukup lama Rias menunggu jawaban dari Bishop nya itu, namun karena tidak kunjung ada jawaban dari gadis itu membuat dia kembali menghela nafas.
"Asia, dengar,"
Asia yang sebelumnya terdiam dengan kepala tertunduk kembali mengangkat wajahnya dan menatap sang gadis bersurai merah itu dengan ekspresi yang seakan mengatakan bahwa dirinya sangat menyedihkan saat ini. Gadis mantan biarawati itu menunggu gadis bersurai merah itu melanjutkan ucapannya berharap dia tidak mendengar kata-kata menyakitkan hati dari gadis itu dan itu terkabulkan saat gadis itu melanjutkan ucapannya.
"Kau sekarang bagian dari keluargaku, tidak peduli selemah dan setidak berguna apapun dirimu saat ini, pasti suatu saat nanti kau akan berperan penting dalam keluarga ini. Jadi Asia, jangan pernah berpikir bahwa dirimu adalah beban, berpikirlah bahwa kau bisa dan pasti bisa melakukan sesuatu yang membuatmu berguna, bukan untukku, bukan juga untuk Issei ataupun yang lainnya, tapi untuk dirimu sendiri, Asia."
Asia yang mendengar ucapan tulus penuh makna dari gadis yang menjabat sebagai pemimpin klubnya itu, perlahan matanya mulai menjatuhkan air asin yang selalu coba dia tahan. Dia tidak menyangka gadis itu akan mengatakan hal yang seperti itu, dia selalu berpikir negatif tentang dirinya sendiri tapi lihatlah gadis berambut merah itu, gadis itu tidak berpikir bahwa dirinya itu bernilai negatif, justru malah sebaliknya gadis itu berpikir positif dan dia tidak menyangka hal itu. Asia, gadis mantan biarawati itu menghapus air matanya yang mengalir mulus tanpa bisa dia tahan. Asia menoleh menatap kearah pemuda berambut coklat yang saat ini menatapnya khawatir, dia perlahan mengembangkan senyuman penuh rasa syukur atas segala yang pemuda itu lakukan untuknya, Asia kemudian kembali menatap sang raja dalam kelompok itu dan dia berbicara.
"Arigatō, Buchō-san. Aku... aku akan berusaha agar aku bisa berguna untuk Buchō-san, dan juga... untuk diriku sendiri."
Asia tersenyum berterima kasih pada gadis berambut merah itu sambil menghapus air matanya, teman-temannya yang mendengar ucapan gadis itu tersenyum terutama sang pion satu-satunya dari kelompok itu.
"Jangan khawatir Asia, aku, Hyōdō Issei pasti akan melindungimu! Mari berusaha bersama, Asia!"
Issei mengepalkan tangannya disertai semangat yang membara dimatanya, dia menatap Asia dengan senyuman yang menurut gadis pirang itu sangat menawan, tanpa sadar kedua pipi Asia merona dan hal itu membuat gadis itu menundukkan kepalanya malu.
"H-ha'i, ayo berusaha, Issei-san!"
Asia mendongak dan membalas ucapan semangat pemuda pemegang bidak pion tersebut disertai senyuman manis yang mengembang dibibir gadis itu yang membuat sang pemuda terpesona.
Melihat anggota terbarunya dan sang pion saling pandang membuat Rias tersenyum melihatnya, dia kemudian pura-pura batuk untuk menarik perhatian dari semua anggotanya.
"Uhuk uhuk! Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin ditanyakan, kan?"
Rias tersenyum saat melihat sang pion dan sang bishop saling mengalihkan pandangan mereka gara-gara mendengar suara batuknya, Rias menatap serius setiap anggotanya dan berbicara.
"Baiklah, akan aku jelaskan mengenai misi ini sebelum kita berangkat."
"Sekarang!?"
Rias yang mendengar sang pion berbicara membuat dia menghela nafas.
"Ara ara, Issei-kun. Jika kita dipanggil sekarang dengan alasan mendesak memang kapan kita akan berangkat, hem?"
Issei yang mendengar sang Queen dari kelompok iblisnya itu berbicara hanya mampu cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya, tentu saja sekarang, haha."
Issei menjawab disertai tawa hambar yang terdengar bodoh. Rias yang mendengar itu malah tambah menghela nafas pusing dengan kelakuan pemuda coklat itu.
"Lupakan itu, kita akan berangkat setelah ini, jadi dengarkan baik-baik... kita diminta untuk membasmi mereka jika mereka sudah kehilangan akal, namun jika mereka masih memiliki kesadaran tentang diri mereka, Lucifer-sama meminta kita untuk menangkap mereka dan mengirim mereka ke Meikai agar bisa diinterogasi. Baiklah, sekarang kita akan berangkat untuk mencari keberadaan mereka sebelum mereka menyerang manusia dan menyebabkan jatuhnya korban. Apa kalian siap!?"
Rias berdiri diikuti oleh semua Peerage nya yang menjawab serentak "Ha'i, Buchō!" lalu setelah itu Rias menyuruh Queennya membuat lingkaran sihir teleportasi untuk keluar dari lingkungan Kuō Gakuen agar tidak menarik perhatian mengingat saat ini pelajaran sedang berlangsung.
Setelah sang Queen selesai membuat lingkaran sihir teleportasi khas keluarga Gremory, Rias menyuruh semua anggotanya berkumpul dan mereka pergi dari sana.
•
Di sebuah bangunan terbengkalai terlihat Issei dan Kiba sedang mengobservasi setiap ruangan yang ada dibangunan itu. Mereka berdua berpisah dari anggota mereka yang lain karena target misi mereka bukan hanya satu melainkan lebih dari dua, saat ini Issei menatap kearah sebuah pintu yang sedikit terbuka, disamping Issei pemuda Knight berambut pirang itu sudah siap dengan pedang dipinggang siap dia tarik kapan saja jika ada serangan dari target mereka.
Issei menoleh kesamping menatap rekannya itu yang dibalas anggukkan oleh pemuda knight itu.
"Yosh, aku akan membukanya, kau bersiaplah Kiba."
"Aku sudah siap dari tadi, Issei-kun."
Dengan itu Issei menendang kuat pintu yang sedikit terbuka itu hingga terdengar suara keras akibat pintu itu yang lepas dari engselnya dan terlempar kedalam ruangan.
Braak!
Issei dan Kiba memperhatikan ruangan itu dari sudut ke sudut tapi tidak ada apapun diruangan itu.
"Sepertinya dibangunan ini juga tidak ada, ayo ke tempat lain, Kiba."
Issei yang tidak melihat ada tanda-tanda dari targetnya berbalik untuk pergi tapi pemuda pemegang bidak knight itu tidak bergeming seakan pemuda itu tidak mendengarkan perkataannya, merasa ada yang aneh dengan pemuda itu, Issei akhirnya berbicara lagi.
"Kiba? Ada apa, ayo pergi disini tidak ada."
"Issei-kun, dia ada disini."
"Hah? apa maksudmu? jelas-jelas disini tidak ada apa-apa."
Issei yang mendengar perkataan rekannya itu bingung karena dia tidak melihat apapun diruangan itu kecuali...
"Sepertinya sudah ada yang menjadi korban."
Issei terdiam saat pandangannya terarah ke pojok ruangan dimana pemuda pirang rekannya itu sedang menatap kearah sana dan disana Issei bisa melihat bercak merah dan beberapa potongan tubuh seseorang. Issei meneguk ludahnya, dia menatap horor pemandangan itu, tidak ingin berlama-lama menatap tempat itu, dia kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kita harus berhati-hati, sepertinya iblis liar ini bisa menyembunyikan dirinya dengan baik."
Kiba perlahan menarik keluar pedangnya, dia berjalan masuk ke dalam ruangan itu diikuti oleh Issei yang sudah mengaktifkan Sacred Gear miliknya yang sampai sekarang masih dia anggap sebagai Twice Critical. Kiba memposisikan pedangnya di depan dengan memegangnya dengan dua tangannya waspada, dia menatap dengan teliti setiap inci dari dinding ruangan itu yang penuh dengan coretan cat yang sudah lama sampai matanya melihat sesuatu yang bergerak di langit-langit ruangan itu.
"Issei-kun, diatas!"
Issei yang mendengar ucapan Kiba mendongak menatap langit-langit ruangan itu, dia mencari dengan teliti apa ada pergerakan diatas mengingat rekannya itu memperingatinya, tidak butuh waktu lama untuk Issei menemukan apa yang mereka cari, disana, dipojok atas terlihat sesosok mahluk berwujud laba-laba seukuran anak manusia berumur empat tahun, mahluk itu saat ini sedang memakan sesuatu yang menyerupai tangan manusia.
"Seperti yang diharapkan dari iblis liar, Kiba ada satu dipojok atas!"
"Sepertinya ada dua, yang satunya bisa menghilang, berhati-hatilah, Issei-kun!"
[Boost]
Issei mencari cara untuk menjatuhkan iblis liar berwujud laba-laba itu karena dia tidak mahir bertarung di udara, belum lagi dia masih belum memiliki kekuatan yang memadai untuk menjatuhkan mahluk itu dengan kemampuan Sacred Gearnya. Issei melihat sebuah bongkahan puing bangunan yang berserakan diruangan yang sudah memiliki dinding yang berlubang itu, dia kemudian mengambil satu bongkahan yang cukup besar.
[Boost]
"Turunlah dari sana, Laba-laba iblis! Hyaaa!"
Syuut! Duak!
Issei melemparkan bongkahan itu tepat mengenai tubuh laba-laba yang sedang makan itu membuat mahluk itu menjatuhkan makanannya.
"Geerrr!"
Mahluk itu menggeram marah, dia kemudian menembakkan benang lengket dari bokongnya kearah Issei yang berhasil dihindari oleh pemuda itu.
"Ayo turun sini kalau berani, Laba-laba jelek!"
Mendengar ucapan Issei membuat Kiba semakin waspada karena setelah ucapan Issei yang mengejek laba-laba wujud iblis liar itu, muncul tekanan hawa membunuh yang cukup besar dari arah pojok ruangan, Kiba menatap tajam asal hawa membunuh itu dan dia semakin mengeratkan genggamannya pada pedangnya saat sesosok mahluk berwujud manusia namun memiliki enam tangan.
"Sepertinya yang satu itu cukup kuat."
Kiba melesat setelah melihat mahluk itu melesat kearahnya, Kiba melancarkan tebasan vertikal kearah mahluk itu namun berhasil ditahan dengan kuku panjang mahluk itu yang sekeras logam.
Trank!
Kiba melompat mundur saat tangan mahluk itu yang lainnya mencoba mencabik perutnya, dia langsung melesat lagi untuk menebas mahluk itu lagi.
Trank! Trank! Trank!
Setiap serangan yang dilancarkan oleh Kiba berhasil mahluk itu tahan dan tangkis, sekali lagi Kiba melompat mundur mengambil jarak aman dari mahluk itu.
'Cepat, sepertinya dia adalah knight.'
Berbeda dengan Kiba yang waspada terhadap lawannya, Issei justru malah terlihat main kejar-kejaran dengan laba-laba yang menjadi lawannya, pemuda berambut coklat itu lari keluar ruangan gara-gara laba-laba yang jadi lawannya itu ternyata bisa menembakkan benang juga dari mulutnya alhasil dia harus kabur saat mahluk itu mengejarnya sambil menembakkan benang-benang lengket yang jika dia sampai terkena serangan benang itu dia bisa jadi makanan mahluk itu.
Tidak ingin terus-terusan dikejar, Issei berlari menuruni tangga ke lantai satu karena dia saat ini berada di lantai dua, setelah sampai dibawah Issei mengambil sebuah bongkahan puing-puing bangunan dan melemparkan bongkahan itu kearah mahluk itu yang sedang menuruni tangga. Tidak ingin terkena lemparan iblis berambut coklat di bawahnya, laba-laba itu melompat kesamping dan berlari dengan ke delapan kakinya dipagar pembatas tangga.
"Yang benar saja, dia bisa berjalan di manapun. Berpikir, apa yang harus aku lakukan!"
[Boost]
Sudah kesekian kalinya Sacred Gearnya berbunyi tapi dia tidak tahu harus melakukan apa sampai sebuah ingatan tentang ucapan sang king dari kelompoknya itu teringat olehnya.
'Sihir bergantung pada imajinasi penggunanya, tidak perlu terlalu sulit cukup bayangkan saja hal terkuat yang pernah kau lihat di TV mungkin kau akan mewujudkannya, Issei.'
"Hal terkuat di TV..."
Issei memutar memori otaknya hingga dia ingat dvd yang pernah dia tonton.
"Mungkin kah?"
Issei dengan sedikit ragu mulai berkonsentrasi, dia kemudian mengarahkan telapak tangan kirinya kearah iblis liar yang saat ini sedang bergerak kearahnya.
[Dragon Shocker]
Issei menarik tangan kirinya kebelakang dan dengan tanpa ragu dia melakukan gerakan mendorong sesuatu dengan tangan kirinya itu kedepan, dari telapak tangan kirinya itu muncul bola energi merah kecil yang kemudian melesat dengan cepat kearah iblis liar yang sudah semakin dekat dengan posisinya saat ini.
Blaar!
Sebuah ledakan kecil tercipta saat bola energi itu mengenai tubuh iblis liar berwujud laba-laba itu, Issei yang melihat usahanya berhasil mengepalkan tangannya dan bersorak senang.
"Berhasil! hahaha, rasakan kekuatan Hyōdō Issei-sama yang hebat itu. Buchō, Arigatō!"
Issei membayangkan gadis berambut merah yang menjadi king nya itu tengah tersenyum kearahnya.
Debu yang menutupi tubuh iblis liar itu perlahan menghilang dan terlihatlah tubuh laba-laba itu baik-baik saja meski sudah terkena serangan Issei barusan. Issei yang sudah sadar dari imajinasinya menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini, lawannya itu sama sekali tidak terluka meski terkena serangannya dengan telak, dia kemudian menyadari bahwa terlalu awal untuk senang, karena...
'Sialan, dia terlihat mengerikan!'
Yap, saat ini iblis liar itu tengah membuat dirinya terselimuti oleh benang-benang lengket miliknya dan tidak lama setelah itu wujud dari laba-laba itu barubah digantikan oleh wujud seorang wanita setengah laba-laba yang memiliki mata cukup banyak serta mulut yang memiliki gigi runcing yang bisa menghancurkan tulang manusia dengan mudah.
Issei menelan ludahnya melihat wujud iblis liar itu sekarang yang lebih besar dari sebelumnya.
'Hiii! Kiba tolong aku!'
Issei berteriak dalam hatinya ngeri saat melihat wujud baru mahluk itu yang lebih menyeramkan dari pada yang pertama.
Di tempat Kiba, pemuda itu saat ini sedang jual beli serangan berkecepatan tinggi dengan lawannya karena lawannya dia duga sama-sama seorang knight seperti dirinya. Kiba melompat jauh dari lawannya saat setiap serangannya berhasil ditahan dan ditangkis, dia kemudian melepaskan sebuah serangan menggunakan Sacred Gear yang dia miliki.
[Sword of Birth]
Kiba menghentakkan telapak tangan kanannya ke lantai dan dari bawah lantai itu muncul pedang-pedang besar yang mengarah kearah iblis liar bertangan enam itu dengan cepat. Iblis liar itu menebas pedang-pedang itu dengan kukunya namun karena tidak membuahkan hasil yang berarti, iblis liar itu melompat ke dinding dan menempel di dinding selayaknya laba-laba.
'Dia lebih merepotkan dari iblis liar yang biasanya, tipe Spider Knight memang sulit dikalahkan karena tipe itu bisa bergerak di dinding dengan bebas, tapi... aku tidak akan kalah!'
Kiba melesat melewati pedang-pedang yang dia ciptakan dengan Sacred Gearnya, dia melompat kearah iblis liar itu saat sudah dalam jarak jangkau lompatannya.
Trank!
Kiba menebaskan pedangnya vertikal dan lagi-lagi hanya suara benturan logam dengan logam yang bisa dia dapatkan karena lawannya lagi-lagi menangkis serangannya, Kiba melompat mundur dan berdiri diantara pedang-pedang yang dia ciptakan tadi, dia menatap tajam lawannya itu karena merasa iblis liar itu tidak memiliki celah untuk diserang, lawannya itu seperti memegang enam pedang di tangannya dan itu benar-benar membuat lawannya itu sulit untuk dilukai olehnya, disaat dia melakukan serangan, satu tangan lawannya bisa menahannya, menangkisnya dan tangan-tangan yang lainnya berusaha mencabik-cabik isi perutnya, jika saja dia tidak segera mundur setelah menyerang maka sudah dapat dipastikan perutnya akan terkoyak oleh tangan-tangan yang memiliki kuku-kuku panjang dan sekeras logam itu, membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri, tapi sebagai knight kebanggaan Rias Gremory, pantang baginya untuk menyerah, dia harus mencari celah untuk menyerang iblis liar itu dan mengalahkannya secepat mungkin setelah itu dia bisa berkumpul dengan anggotanya yang lain.
Kiba mengeratkan genggamannya pada pedangnya sampai sebuah ide terlintas dikepalanya.
'Patut dicoba.'
Kiba kemudian menciptakan beberapa pedang yang semuanya dia tembakkan kearah iblis itu yang kemudian menangkis serangan itu, disaat yang bersamaan dengan serangan pengalihan itu Kiba melesat dengan kecepatan tingginya sebagai seorang knight dan dia muncul dibawah lawannya itu yang sibuk menangkis serangan pengalihan darinya itu.
Jraashh!
Bruk!
Kiba berhasil menebas kaki kiri iblis liar itu membuat iblis liar itu jatuh dari dinding, Kiba yang melihat kesempatan untuk menghabisi iblis liar lawannya itu tidak menyia-nyiakannya, dia kemudian langsung menancapkan pedangnya ke lantai.
[Sword of Birth]
Pedang-pedang langsung bermunculan dari lantai seperti tadi dan semuanya menembus tubuh iblis liar itu membuat iblis liar itu meraung kesakitan sebelum akhirnya hancur menjadi debu.
"Akhirnya selesai juga."
Kiba menghela nafas sejenak, lalu dia mengalihkan pandangannya kearah lain dan terdiam saat dia tidak melihat pemuda berambut coklat temannya itu, menyadari temannya butuh bantuannya, Kiba segera berlari keluar ruangan itu dan setelah kepergian Kiba pedang-pedang yang memenuhi ruangan itu menghilang seakan tidak pernah ada pedang disana.
Issei harus mengutuk dirinya sendiri yang malah menjauh dari sang knight, seandainya dia saat ini tetap bersama knight berambut pirang itu dia pasti tidak akan berada dalam situasi berbahaya seperti sekarang, bagaimana tidak, saat ini dia sedang terpojok di dalam sebuah ruangan di lantai satu dan lawannya saat ini berjalan kearahnya dengan membawa sebuah benang-benang yang dibentuk mirip jaring dikedua tangannya, jika dia tertangkap oleh jaring lengket itu berakhir sudah hidupnya sebagai iblis.
'Kiba, cepatlah tolong aku!'
Issei berteriak dalam hatinya, dia menoleh ke kirinya dan berlari mengambil sebuah balok kayu dan menggunakannya sebagai senjata.
"Menjauh dariku!"
Issei mengibaskan balok kayu itu dengan gerakan mengusir, namun sayang lawannya bukannya mundur justru dia semakin mendekat.
[Boost]
'Tepat waktu, aku bisa menggunakan serangan tadi lagi.'
Mendengar suara mekanik dari Sacred Gearnya membuat Issei sedikit memiliki harapan untuk bertahan hidup, dia kemudian melakukan gerakan yang sama seperti sebelumnya dan dia lemparkan balok kayu yang dia ambil kearah lawannya yang menghindari lemparan itu dengan mudah, bersamaan dengan itu Issei melepaskan serangan yang sama seperti tadi yaitu...
[Dragon Shocker]
Blaar!
Issei langsung saja berlari meninggalkan iblis liar itu karena serangan itu tidak cukup kuat untuk melukai iblis liar itu. Saat Issei berlari kearah pintu, dari kepulan debu yang menutupi lawannya melesat sebuah benang berbentuk jaring yang menghantam tubuh Issei membuat tubuhnya terlempar ke dinding di samping pintu dan dia menempel disana dengan kuat.
"Sialan! mahluk itu benar-benar kuat. Ugh, aku tidak bisa bergerak, benang-benang ini merekat dengan kuat ke dinding, sial!"
Issei berusaha melepaskan benang yang menjeratnya itu namun hasilnya nihil, benang berbentuk jaring itu menempel dengan sangat kuat ke dinding membuatnya tidak bisa bergerak kecuali kepalanya saja yang masih bisa bergerak. Issei menatap kedepannya saat sesuatu melesat kearahnya dan dia membulatkan matanya saat melihat lawannya sudah sangat dekat dengannya bersiap dengan tangan kanannya yang berubah menjadi runcing seperti kaki laba-laba untuk menyerangnya.
"Kiba!!!"
Saat iblis liar itu ingin menusukkan tangannya yang runcing itu ke tubuh Issei, seseorang melesat dari arah pintu dan menebas tangan iblis liar itu hingga putus.
Crass!
Bruk!
"Aargggg!"
Iblis liar itu melompat menjauh tapi seseorang yang menyerangnya itu telah ada di depannya sambil mengayunkan pedangnya secara horizontal dan...
Jraash!
Craass!
Seseorang yang tidak lain adalah Kiba itu terus menebas iblis liar itu mengabaikan teriakan kesakitan dari iblis liar itu hingga pada akhirnya iblis liar itu hancur menjadi debu setelah pemuda pemilik Sacred Gear Sword of Birth itu menebas kepalanya hingga putus.
Issei yang melihat kejadian itu hanya bisa diam mematung, dia pikir dia akan mati tadi tapi ternyata dia masih belum diizinkan untuk mati oleh sang takdir. Issei menghembuskan nafas lega karena dia untuk yang kesekian kalinya berhasil selamat dari yang namanya kematian. Issei kemudian menatap kearah Kiba yang sedang menebaskan pedangnya untuk membuang darah iblis liar itu dari pedangnya, dia kemudian melihat knight dari kelompoknya itu berbalik dan berjalan kearahnya sambil menyarungkan pedangnya.
"Yo, Issei-kun, kau baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan dari pemuda di depannya membuat Issei mendengus lalu dia menjawab.
"Kau terlambat Kiba! aku hampir mati oleh mahluk itu."
"Maaf, maaf. Lawan yang diatas cukup merepotkan."
Kiba kemudian membantu Issei lepas dari jaring laba-laba yang memerangkapnya, setelah berhasil dilepaskan dia tersenyum kearah Issei.
"Kalau begitu ayo ke tempat lain, disini sudah selesai."
"Cih, sialan. Kenapa aku selalu merasa cuma jadi umpan tiap melakukan pembasmian, kapan aku bisa membunuh monster itu sendiri!?"
"Yah, kalau kau ingin membasmi iblis liar sendirian, kau harus jadi kuat lebih dulu, Issei-kun. Berjuanglah."
"Iya, iya, aku tahu itu, Hah~"
Dengan itu kedua Pion dan Knight itu akhirnya berjalan pergi meninggalkan bangunan terbengkalai itu yang menjadi saksi bisu pertarungan antara dua iblis dari keluarga Gremory melawan dua iblis liar yang melarikan diri dari Meikai karena telah membunuh tuannya.
[To Be Continue]
Author Note:
Yah halo! kembali lagi dengan chapter 8 dari fic ini hehe.
Di chapter kali ini aku hanya menampilkan kelompok Rias terutama Kiba n Issei guna memicu alur yang berhubungan dengan Issei n Asia. Naruto di fic ini bisa dibilang masih santai-santai aja karena memang belum ada konflik untuk dia kecuali Si Naga Loli yang lupa ingatan :v dimana itu merupakan pusat dari Arc pertama ini.
Untuk chapter depan masih akan berfokus dengan kelompok Rias, lalu Naruto tidak akan terlibat langsung dengan kelompok iblis penghuni kuō karena ada yang bisa menanganinya dan siapa dia? hm, tunggu aja chap-chap berikutnya. Untuk Naruto sendiri kemungkinan akan berada di lingkungan yang sama dengan Ophis, apa maksudnya itu? entahlah :v
Oke sampai disini aja dulu untuk a.n kali ini, untuk kalian semua Terima kasih...
N
Cyaaa In Next Chapter!
[𝕂𝕒𝕥𝕒𝕪𝕠𝕜𝕦𝕟𝕠𝕥𝕖𝕟𝕤𝕙𝕚]
Azking's v2 Out!!!
