Eh, aku lupa reviews nya udah pada q balesin pa belum X"D yodahlah kubales ulang semua ya. Kalo ada yg double reply ya maaf.
Makasih banyak buat yang udah nyampetin review :
Zhang Purnama : iyaa ini lanjut XD makasih banyak read reviewnya ya…
Buat yang udah log in uchihasrytherin31, loeybby, blossomblast, Micha kun07, ayumb31, LuBabyayu935 dibales lewat PM ya~
.
Disclaimer : Gege Akutami
A Fanfiction by Noisseggra
Pair : Gojo X Yuuji, Sukuna X Megumi, Gojou x Everyone (iya aing bucin Gojo :V), and maybe many other pair later
Genre : Drama, Romance
Warning : YAOI, BL, SHOUNEN AI, RATED M, maybe typo (s), probably OOC,
You have been warned !
Fanfic ini ditulis untuk kepuasan pribadi, jadi serah aing mau nulis apa :"V
Lagi frustasi fandom JJK angst mulu isi nya
.
.
Sensei ni shika kaiketsu dekinai mondai
(A problem that can only be solved by Sensei)
.
.
Chirp chirp…
"Sensei!" Fushiguro terbangun dengan nafas tersengal, matanya langsung terbuka lebar dan ia juga dalam posisi duduk. Ia menatap ke sekeliling, ia masih berada di kamar Gojou. Tapi keadaan sepi, Gojou tak terlihat di manapun. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah sempit gorden jendela, membuat pilar cahaya menembus ke ruangan itu.
"Kuso," Fushiguro mengacak rambunya sendiri.
Semalaman ia berada di kamar Gojou, takutnya pria itu kembali sewaktu-waktu, lagipula Gojou bakal tidur di mana? Tapi pada kenyataannya ia tak kembali. Fushiguro turun dari ranjang, ia meninggalkan dorm Gojou tanpa mengunci pintu karena memang ia tak punya kunci nya. Ia berjalan pelan menuju kamarnya sendiri dengan kedua tangan di dalam saku, pandangannya tertunduk.
"Hng?" saat tiba di dorm cowok, ia mendongak hanya untuk mendapati Yuuji berdiri di depan kamarnya.
"Kau tidak kembali semalaman, Fushiguro," ucapnya. "Apa terjadi sesuatu?"
Fushiguro melihat sedikit semburat merah di pipi Yuuji. Aaah, ya, kan Yuuji memang menyukai Gojou, dia pasti jadi kepikiran juga kalau Sensei yang disukainya bersama orang lain. How pure! How innocence! Tapi mood Fushiguro sedang jelek kali itu, dan hal tersebut justru membuatnya sedikit kesal.
"Yeah," hanya itu balasan Fushiguro. Ia melewati tubuh Yuuji untuk membuka pintu kamarnya.
Sniff…
"Eh…" entah apa, tapi Yuuji mengendus sesuatu.
"Aku mau mandi dan siap-siap ke sekolah," ucap Fushiguro. "Sebaikya kau juga—…"
Braakkk!
Tiba-tiba tubuh Fushiguro di desak ke dinding dan pintu kamar dibanting tertutup dengan keras. "Itadori, apa yang kau—…Sukuna…?!"
"Kenapa aroma Jujutsuhi itu ada di tubuhmu," ucap Sukuna dengan tampang marah. "Apa yang dia lakukan padamu?!"
"Argh…! Lepas!" Fushiguro berusaha melepas tangan Sukuna tapi percuma. "Bukan urusanmu kan!"
"Tch!" Sukuna mengeratkan gigi-gigi nya, lalu dengan kasar ia mencengkeram kerah baju Fushiguro, menyeretnya ke ranjang, lalu membantingnya di sana. Tanpa kata Sukuna menindih tubuh Fushiguro, menjilat lehernya. Satu tangan menahan kedua tangan Fushiguro di atas kepala, satu tangan lagi menelusup masuk ke baju Fushiguro.
"Hnghh! Sukuna, hentika—…anhhrg!" Fushiguro merinding. Ia ketakutan, mau bagaimanapun Sukuna adalah iblis, tekanan aura nya sangat kuat apalagi karena ia sedang marah. 'Aku akan dimakan,' pikir Fushiguro panik. "Sukuna, Sukuna…!" kaki nya memberontak berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Sukuna kuat sekali, dan kedua tangan Fushiguro tak bisa membentuk segel untuk memanggil shikigami atau menggunakan Jujutsu.
"Nnhh…aahrh…!" Fushiguro semakin ketakutan saat Sukuna menggigit lehernya. Apa dia betulan akan dimakan, apa ia akan mati? Di tengah kepanikan akhirnya ia terpikirkan sesuatu. "Itadori! Itadori bangun! Bertukar tubuh dengannya…arghh…!" tubuh Fushiguro berjengit saat Sukuna menekan nipple nya kuat. "Itadori…! Nghh…" perlawanan Fushiguro melemah, ia mulai lelah karena perlawanannya tak membuahkan hasil. Tapi beberapa saat kemudian ia merasakan cengkeraman di tangannya sedikit kendor.
Nafas Megumi terengah, ia melirik wajah Yuuji yang kini sudah tak memiliki tattoo. Sebagai ganti nya kini wajah menangis Yuuji lah yang ada di sana.
"Gomen, gomen," tangis Yuuji sesenggukan. Ia bangkit dari atas tubuh Fushiguro, duduk di tepi ranjang sambil menyeka air mata nya yang tak kunjung berhenti.
Fushiguro juga duduk, hanya saja tak beralih dari tempatnya di tengah ranjang. Ia mendiamkan saja Yuuji yang masih terisak. Ia tahu kenapa Yuuji menangis.
Perlahan tangis Yuuji mereda meski masih terdengar isakan kecil. "Fushiguro…" panggilnya pelan. "Apa benar yang Sukuna katakan? Kau…melakukannya dengan Sensei…?"
"…" Fushiguro tak langsung menjawab. "Tidak sampai selesai," ucapnya kemudian, ia sendiri merasa terluka dengan hal itu. "Dia menolakku."
"Menolak?" Yuuji memutar tubuhnya menghadap Fushiguro. "Apa itu artinya kau juga—…"
"Ya. Aku menyukai Sensei, sama sepertimu," Fushiguro menatap Yuuji lurus. Ia sama sekali tak berusaha menutupi apapun. "Bahkan sejak lama, sejak Sensei memutuskan mengurusku dan kakakku."
Mata Yuuji kembali berkaca-kaca, tapi bukan alasan bagi Fushiguro untuk berhenti menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Jadi tidak sepertimu, aku sudah menyiapkan hati sejak lama untuk mengambil kesempatan apapun agar bisa bersamanya," tambah Fushiguro. Ia mengacak rambutnya sendiri. "Dengan wajah seperti itu, ditambah dia juga dari keluarga kaya, tidak mungkin dia tidak popular. Mungkin saja Sensei juga playboy yang memperlakukan orang hanya sebagai mainan, tapi aku tidak peduli. Menjadi salah satu mainannya pun aku tidak masalah asal aku punya kesempatan bisa bersama nya. Aku sadar aku laki-laki, perbedaan usia kami juga sangat jauh, ditambah dia yang merawatku sejak aku SD. Bisa saja dia selamanya menganggapku anak kecil seperti yang biasa seorang kakak lakukan kepada adiknya. Kesempatanku mendapatkannya bahkan jauh lebih kecil darimu, sialan!"
Fushiguro memeluk lutut, menyembunyikan kepala nya di balik lengan. Tubuhnya bergetar halus. "Tapi sekarang…bahkan menjadi mainannya pun adalah hal mustahil bagiku," ucap Fushiguro dengan suara sedikit serak.
"…" Yuuji tak bisa membalas apapun. Ia hanya tertunduk, air mata meleleh tipis dari ujung mata nya. Untuk waktu yang cukup lama mereka berdua larut dalam keheningan masing-masing.
Fushiguro mengangkat wajahnya, beralih menatap Yuuji dengan mata yang sembab. "Meski aku tahu kau menyukainya aku tidak akan minta maaf padamu atas apa yang sudah kulakukan! Dan aku juga bukannya sudah menyerah soal Sensei."
"I-iya, tidak masalah," balas Yuuji.
"Lalu kau sendiri bagaimana setelah ini?"
"…" Yuuji tak langsung menjawab, ia menautkan jemari nya tak tau harus apa. "Aku juga…tidak tahu," ucapnya kemudian. "Berbeda denganmu Fushiguro, aku bahkan baru menyadari aku menyukainya belum lama ini. Hal-hal seperti menyatakan cinta, atau berpikir memiliki hubungan special dengan Gojo-sensei…aku bahkan belum pernah memikirkan itu," Yuuji tertawa kecil. "Sejauh ini aku malah masih bertanya-tanya kenapa aku merasa kesal pada Sensei saat melihatnya dekat denganmu. Aku baru tahu kalau itu adalah kecemburuanku."
Yuuji menumpu ke belakang dengan kedua tangan, wajahnya menatap ke arah langit-langit. "Aaah, aku juga tidak tahu harus apa sekarang. Saat merasa cemburu itu aku kesal sekali, yang kumau adalah Sensei hanya dekat denganku, hanya perhatian padaku. Tapi sekarang mendengar ucapanmu…aku tidak yakin lagi. Kurasa kau benar, dia itu pasti popular. Rasanya tak ada tempat untuk keegoisanku yang ingin Sensei hanya menyukai aku seorang saja."
Fushiguro menghela nafas lelah, menopang dagu nya. "Tapi itu hanya asumsiku loh. Bukan berarti dia betulan playboy, jadi jangan sepenuhnya percaya padaku."
"Haha wakkatteru," Yuuji kembali memutar tubuh ke arah Fushiguro. Ia merebahkan tubuhnya di hadapan Fushiguro, menumpukan siku untuk menyangga kepala nya. "Yeah, tapi dilihat dengan dia yang berhasil membuat dua muridnya gila seperti ini kurasa dia betulan playboy."
"Pfftt…!"
Mau tak mau mereka tertawa karena itu. "Aaah, aku merasa konyol sekali saat ini," Yuuji berbaring terlentang menatap langit-langit.
"Yeah," balas Fushiguro, tersenyum tipis. Ia menyentuh pipi Yuuji, menoel-noel nya pelan. Hanya gabut saja. "Ah, aku hampir lupa. Kurasa dia juga masih belum bisa move on dari mantannya."
"Eeeh, maji ka yo," balas Yuuji.
"Hm," Fushiguro mengangguk. "Dulu saat dia baru mulai merawatku, sepertinya mereka belum lama putus. Aku masih sering melihatnya murung. Dan sekarang sesekali aku masih melihat ekspresi yang sama di wajahnya."
"Wow, kau ini hebat sekali ya bisa membaca ekspresi orang," Yuuji meraih jemari Fuhiguro yang menoel pipinya, ia ganti berbaring miring memeluk tangan itu.
"Well, mungkin karena aku selalu memperhatikan Sensei setiap saat," Fushiguro menyeringai, ia puas melihat Yuuji menggembungkan pipinya cemburu.
"Terus, kau tahu siapa mantannya itu? Yang belum bisa Sensei lupakan."
"Kurasa teman sekelasnya dulu. Aku mendengar percakapan Sensei dengan Nanami beberapa kali. Tidak jelas sih, tapi aku bisa menyimpulkan."
"Teman sekelas? Huh, Ieiri-san?!" Yuuji terkesiap.
"Bukan, kurasa yang satu lagi, namanya Suguru Geto. Hora, kau lihat kan, di dorm nya banyak foto-foto saat Sensei masih sekolah?"
"Oh, cowok yang rambut hitam itu. Iya mereka terlihat dekat sih," ucap Yuuji. Fushiguro mengangguk. "Dia ke mana? Keluar dari KouSen?"
Fushiguro terdiam sesaat. "Kalau keluar dari KouSen…kurasa Sensei tidak akan berwajah seperti itu. Ia selalu menatap seperti kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali."
"…souka…" lirih Yuuji, mengerti apa yang Fushiguro maksud.
"Ah, sudahlah, ayo mandi. Kita harus segera berangkat ke sekolah," Fushiguro bangkit.
"Geez, malas sekaliii," teriak Yuuji tapi akhirnya bangun juga.
.
~OoooOoooO~
.
Semenjak pembicaraannya dengan Fushiguro pagi itu, Yuuji jadi berpikir keras bagaimana untuk ke depannya. Mungkin ia harus menyatakan cinta, ia merasa tertinggal dengan Fushiguro yang bahkan sudah pernah mengajak Gojou melakukan itu—meski ditolak. Kalau Yuuji juga mengajaknya, apa Gojou juga akan menolak?
Yuuji menggigit ibu jari nya seolah tengah berpikir keras. Tapi Gojou sudah beberapa kali membantunya melakukan onani, mereka sudah melakukan sesuatu yang mendekati itu kan? Apa Yuuji punya kesempatan? Mungkin ia bisa pura-pura lagi minta bantuan Gojou, lalu memanfaatkan situasi untuk lanjut ke tahap selanjutnya.
"Yosha, akan kulakukan itu saja," ucap Yuuji bersemangat, tapi dua detik kemudian pundung lagi. Masalahnya kan bukan melakukan itu dengan Gojou, yang ia mau adalah menyatakan cinta, dan bagaimana caranya supaya Gojou juga membalas perasaannya. Setelah itu, hal-hal semacam sex pasti akan mengikuti dengan alami.
"Ehe, ehehehe," Yuuji ketawa mesum sendiri. "Ah, cukup. Oke, mulai sekarang aku akan melancarkan operasi untuk membuat Sensei menyukaiku," ucap Yuuji bersemangat. "Langkah pertama yang harus kulakukan adalah…" dan Yuuji pun mengambil ponselnya untuk browsing dan bertanya pada mbah Guugle.
.
"Pertama-tama, berikan sesuatu yang dia suka ya," gumam Yuuji sambil membaca layar ponselnya. Itu jam istirahat sekolah. Ia tengah berjalan ke vending machine karena kalah main jan ken pon sama Kuugisaki dan Fushiguro. Saat mulai menekan-nekan minuman yang diminta teman-temannya, tanpa sengaja ia melihat sosok Gojou memasuki ruang staff. Sepertinya hari ini ia berdiam di KouSen tidak pergi misi. Yuuji menatap vending machine dan melihat minuman kesukaan Sensei nya ada di sana. Jadi dia malah membeli minuman itu, lalu pergi ke kantor guru.
"Senseeei," sapa nya riang. Hanya ada Gojou dan Nanami di sana, masing-masing sedang menghadap laptop di meja mereka sendiri.
"Yuuji," balas Gojou riang seperti biasa.
"Kau sudah makan siang? Aku bawakan minuman kesukaanmu nih," Yuuji menghampiri meja Gojou dan meletakkan minuman itu di meja. Sayangnya sudah ada sandwitch dan sekaleng minuman bersoda di sana.
"Yaaayy, makasih Yuuji. Aku memang sedang ingin minum ini, lidahku seperti terbakar karena minum soda," Gojou menerima minuman itu dengan senang hati. "Yuuji sudah makan siang?"
Yuuji mengangguk. "Lagi makan siang, tapi kalah main jan ken pon, jadi disuruh beli minuman."
"Ahaha ada bagusnya Yuuji kalah, jadi bisa membelikanku minuman manis."
Yuuji pun berbunga-bunga mendengar itu. Setelahnya ia pamit karena masih harus membelikan minuman untuk Kugisaki dan Fushiguro.
"Yosshh, sepertinya yang ini berjalan lancar," gumam Yuuji pada dirinya sendiri.
.
"Yang kedua, berikan perhatian lebih," lagi-lagi Yuuji membaca tips dari internet. "Hngg…perhatian lebih itu seperti apa?" ia bingung sendiri. Ia kembali membaca layar ponselnya, contoh yang tertera di sana misalnya mengirim pesan untuk menanyakan sudah makan atau belum, atau coba tanyakan sudah mengerjakan PR atau belum, supaya bisa berdiskusi bersama malah akan memperbanyak durasi chat. "Tanya makan kan sudah tadi siang, masa sekarang tanya makan lagi. Tanya PR…kan dia Sensei, mana ada PR. Aahh, skip skip," Yuuji menyecroll ke step selanjutnya.
'Sering-sering ajak keluar, misalnya untuk makan bersama, nonton bioskop, atau pergi karaoke. Supaya bisa lebih dekat.'
"Hng…tapi Sensei sibuk terus ya," Yuuji bergumam. "Tapi nggak ada salahnya dicoba," ia pun mengetik pesan untuk Gojou. 'Sensei, kapan-kapan makan di luar yuk, atau nonton, atau pergi karaoke,' dan…kirim.
"Yah, tinggal menunggu balasan," Yuuji berniat menyakukan ponselnya, tapi ponselnya sudah berbunyi tanda ada pesan masuk. Ada balasan dari Gojou.
'Ayoookk, Sabtu-Minggu ini Sensei lagi nggak ada misi. Ayo kita main keluar. Ajak Nobara sama Megumi juga.'
"Yattaaa…yosh, pasti menyenangkan," girang Yuuji. "Nanti ajak Fushiguro ke maid cafe lagi ah," ucapnya sambil mengetik pesan balasan.
'Iya Sensei! Nanti kubilang pada mereka berdua. Pasti seru. Yay!'
Setelah membalas itu Yuuji memasukkan ponsel ke saku nya dan berjalan setengah melompat menuju dorm. Jalanan mulai gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Saat sebuah lampu yang di dekat Yuuji menyala, ia menghentikan langkah karena baru menyadari sesuatu.
"INI SIH SAMA KAYAK HANG OUT BIASAAA," teriaknya frustasi. Mereka kan sudah sering keluar bareng untuk main, apa bedanya dengan yang sebelum-sebelumnya? Kalau dipikir lagi, Yuuji memberikan makanan manis untuk Gojou juga bukan hal baru lagi. Yuuji menghela nafas panjang dan mendadak lemas. "Heehh, rasanya semua usahaku percuma," gumamnya. "Sudahlah, siapa tahu besok pas main ada keajaiban atau apa."
.
.
Hari Sabtu pun tiba. Mereka betulan jalan-jalan berempat ke sebuah distrik hiburan. Tapi Kugisaki memisahkan diri untuk belanja, sementara Yuuji malah asyik sendiri dengan Fushiguro di game center, Gojou menghilang entah ke mana. Yuuji menghabiskan berjam-jam di game center bersama Fushiguro, setelah selesai main ia baru menangis sendiri karena lupa apa tujuan utamanya mengajak Sensei keluar.
"Aaahh aku bodoh banget siih," gumam Yuuji sambil pundung di pojokan. Ia mendapatkan banyak hadiah dari game center, tapi saat ini ia nggak bahagia sama sekali.
"Hei, sudah jam makan siang. Hubungi Sensei dan Kugisaki yuk, kita makan bareng," ucap Fushiguro sambil menekan-nekan ponselnya.
"Eh, iya juga ya," cengir Yuuji. "Aku sudah khawatir karena kita terpencar."
"Huh? Kau ini kenapa? Biasanya juga seperti ini kan. Daripada kita harus nemenin Kugisaki belanja, mending main sendiri. Sensei juga biasanya jalan-jalan ke tempat absurd, kapok sudah ngikutin dia."
"Ahaha, kau benar. Kenapa aku lupa ya. Ah, terakhir kita pernah ke maid café bareng gara-gara ngikutin Sensei ya. Mau ke sana lagi?"
"Ogah!" kesal Megumi.
Pada akhirnya mereka bertemu di sebuah tempat makan biasa. Saat mereka menentukan tempat makan itu dan menuju ke sana, ternyata Fushiguro dan Yuuji lah yang datang terakhir karena tempat itu lebih dekat dengan tempat di mana Kugisaki belanja, dan Gojou juga tiba duluan di sana entah teleport atau jalan biasa.
Yuuji sengaja memilih kursi yang berhadapan dengan Gojou, karena ia pikir dengan begitu ia bisa dengan bebas menatap wajah Sensei nya itu saat makan. Jadi yang duduk di sebelah Gojou justru Megumi.
"Tadi kalian main ke mana saja?" obrol Gojou saat mereka makan.
"Keehh, tadi ada discount besar-besaran," Kugisaki menceritakan dengan bersemangat bagaimana ia menghadapi rebutan perang discount.
Gojou hanya tertawa sesekali mendengarkan Kugisaki yang berapi-api.
"Kalau kalian?" tanya Gojou pada Fushiguro dan Yuuji setelah Kugisaki menyelesaikan ceritanya.
"Kami pergi ke game center. Seru sekali," giliran Yuuji yang bercerita dengan bersemangat, sementara Fushiguro makan dengan santai.
"Hng...?" Fushiguro batal menyuapkan makanan ke mulut saat sesekali ia melihat Gojou melirik makanannya. "Mau?" Fushiguro menawarkan.
"Aaaa," Gojou membuka mulutnya minta disuapi, dan Fushiguro pun memasukkan makanan ke sana.
Melihat itu Yuuji jadi iri. Harusnya ia tadi duduk di samping Sensei saja.
"Wah enak juga, mungkin kapan-kapan aku pesan," komentar Gojou setelah mencicipi makanan Fushiguro.
"Sensei, kau mau mencicipi punyaku juga. Ini enak loh," Yuuji tak mau kalah.
"Boleh boleh. Aaaaa," Gojou membuka mulutnya. Dengan pipi sedikit merona Yuuji pun menyuapi Gojou.
Kini gantian Fushiguro yang merengut. "Sensei, ini yang ini kau belum cobain loh. Nih aaa."
Yuuji manyun. "Sensei, coba yang ini juga dong. Aaaa."
Gojou hanya bisa sweatdrop.
"Woy! Kalian ini kalau tidak suka makanannya kenapa juga dipesan!" bentak Kugisaki yang kesal melihat kelakuan mereka.
"Ahahaha," Gojou hanya bisa sweatdrop.
.
~OoooOoooO~
.
Setelah makan siang, mereka memutuskan untuk hang out bersama, tidak pisah seperti tadi. Kali ini mereka memutuskan untuk pergi ke karaoke.
'Yosha, akan kugunakan kesempatan kali ini untuk lebih dekat dengan Sensei,' batin Yuuji. Ia tahu Fushiguro tak terlalu suka karaoke, maka dari itu Yuuji pikir ini adalah kesempatannya.
"Aku mau nyanyi lagu ini," Kugisaki ikutan bersemangat untuk karaoke. Mereka heboh nyanyi bersama, hanya Fushiguro saja yang memilih duduk sambil minum minuman bersoda. Yuuji bahkan sampai mengajak Gojou berdansa meski gerakannya asal jingkrak saja. Pokoknya karaoke itu berjalan menyenangkan.
.
Tapi malam sekitar pukul 8 setelah mereka pulang dari bersenang-senang, Yuuji pundung sendiri menyadari ia dan Gojou tak bertambah dekat. Kegiatan mereka tadi tak ada bedanya dengan yang biasa. Mereka biasa gila-gilaan begitu dan sudah seakrab itu. Lalu bagaimana cara supaya lebih dekat dengan Gojou dalam konteks romantis? Yuuji bingung sendiri.
Tapi ia lalu teringat dengan Fushiguro. Cowok itu pernah bilang kalau Gojou menolaknya kan? Itu artinya...Fushiguro sudah menyatakan cinta?
"Yoshhaa," Yuuji mengepalkan tinju ke udara. "Kalau begitu aku juga akan menyatakan cinta saja," ia pun langsung berlari tak jadi menuju dorm cowok, tapi menuju dorm Gojou.
Tok...tok...tok...
Yuuji mengetuk. "Senseii..." panggilnya. Tak ada jawaban. Yuuji pun menunggu beberapa lama sebelum memanggil dan mengetuk lagi. "Sensei...?" panggilnya ulang. Kali ini terdengar suara pintu terbuka dan tertutup lagi di dalam. Lalu terdengar suara langkah mendekat sebelum akhirnya pintu di depan Yuuji terbuka.
"Ada apa Yuuji?" Gojou muncul dengan tubuh yang basah, dan hanya mengenakan handuk di pinggang. Rambutnya yang lembab turun ke dahi. Manis sekali.
Doki...
Yuuji langsung terpanah hati nya melihat pemandangan itu.
"Ah...umm...a...etto..." Yuuji langsung nge blank.
"Haha ya sudah, masuk sini. Aku mau pakai baju dulu," ucap Gojou dan mempersilahkan Yuuji masuk. "Tunggu sebentar ya," ucap Gojou setelah Yuuji duduk di ruang tengah, sementara Gojou kembali ke kamar untuk berpakaian.
Kini Yuuji dag dig dug sendiri di sana. Ia bilang mau menyatakan cinta juga sebenarnya ia tak ada persiapan sama sekali. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ia juga tak membawa apapun sebagai hadiah. Bunga atau apa misalnya.
'Ugh...terus bagaimana dooong,' Yuuji pusing sendiri.
"Maaf lama menunggu Yuuji," ucap Gojou. Akhirnya ia keluar dari kamar dan duduk bersama Yuuji di ruang tengah. "Jadi...ada apa?" tanya Gojou.
"A...umm...ettoo..." Yuuji masih kelabakan sendiri.
"Kamu belum mandi dan ganti baju? Bukannya tadi ke dorm bareng Megumi ya?"
"..." mendengar kata Megumi keluar dari mulut Gojou, jantung Yuuji seakan diremas. Ia tidak mau kalah. "Sensei..." panggil Yuuji, menatap Gojou lurus. Ia sudah membulatkan tekad.
"Ya, Yuuji?"
"A...Aku mau bilang, kalau aku menyukai Sensei. Dan...aku ingin jadi pacar Sensei," akhirnya Yuuji mengatakan kalimat itu. Jantungnya berdebar keras sekali. Ia grogi menantikan apa jawaban Gojou.
"Ehh? Apa ini pernyataan cinta? Yuuji menyatakan cinta padaku? Kyaahh..." Gojou meletakkan kedua tangannya di pipi.
Tweng...!
Seketika nervous Yuuji lenyap semua. Rasanya kelakuan Gojou tak pernah berubah, apa yang ia grogi kan? Yuuji pun hanya bisa sweatdrop kini.
"Iya Sensei, aku sedang menyatakan cinta," ucap Yuuji. Ia melirik Gojou, meski begitu menatap wajah Gojou ia masih sedikit grogi juga. "B-bagaimana Sensei? Apa Sensei menerimaku? Apa Sensei juga menyukaiku?"
"Hmm...suka ya," balas Gojou. "Ya kalau suka ya tentu saja. Aku sangat menyukai Yuuji."
Yuuji tersenyum lebar mendengar itu, wajahnya sangat cerah.
"Tapi...Yuuji kan masih SMU, Sensei sudah dewasa. Nanti Sensei bisa masuk penjara haha," tawa Gojou. "Jadi bagaimana, kalau kita tetap seperti ini saja. Sensei akan bantu Yuuji kalau Yuuji kesusahan seperti waktu itu, tapi kita tidak usah pacar—..." ucapan Gojou terhenti saat melihat wajah Yuuji yang terhenyak. Matanya terbuka konstan tanpa berkedip, dan air mata mulai mengalir dari sudut matanya. "E-...ehh, Yuuji...?" Gojou kelabakan bingung.
"S-souka...jadi...aku ditolak ya..."ucap Yuuji dengan suara bergetar pelan.
"A-...ehh...bu-bukan begitu," Gojou kelabakan.
"Aah, jadi ini rasanya ditolak ya," Yuuji menatap telapak tangannya sendiri dengan mata berkaca-kaca. "Padahal ini pertama kali nya aku nembak seseorang. Uuuu..."
Kyuuunnn...!
Melihat ekspresi Yuuji yang seperti anak anjing terbuang Gojou tidak tahan untuk tidak memeluknya karena gemas. Gojou mendekap Yuuji erat, mengusap-usap kepalanya.
"Bukan begitu Yuuji, Sensei juga mencintai Yuuji kok," ucap Gojou. "Tapi tu—..."
"Eh, beneran? Sensei juga mencintaiku?" ucapan Gojou terpotong oleh suara Yuuji yang terdengar antusias.
"Umm...ettoo..." Gojou langsung sweatdrop. Tak tahu harus merespon apa dengan nada ceria Yuuji. Yuuji melepas pelukan dan menatap Gojou dengan tatapan bling bling. Rasanya Gojou tak tega untuk menghancurkan ekspresi manis itu.
"Umm," Gojo pun mengangguk sambil tersenyum.
"Yatta," ceria Yuuji. "Ne ne, jadi sekarang kita pacaran? Iya kan? Iya kan?"
"Umm...ettoo...i-iyaa..." sweatdrop bercucuran di kepala Gojou.
"Yattaaaa, aku mencintaimu Sensei," ucap Yuuji seraya memeluk Gojou lagi, sementara Gojou membalas pelukan Yuuji dengan awkward.
'Astagaa...apa yang telah kulakukan,' batin Gojou sweatdrop. Ia bukannya tidak menyukai Yuuji, hanya saja ia merasa segalanya masih terlalu cepat. Yuuji masih SMU, kelas satu pula. Gojo berencana menunggu Yuuji sampai usia legal dulu, sambil melihat perkembangannya nanti.
Sambil menunggu waktu itu tiba...Gojou juga berencana sambil memantapkan hati. Ia teringat ucapan Nanami, di mana pria itu mengatakan Gojou harusnya segera melupakan masa lalunya kalau ia ingin mencoba membuka hati untuk orang baru. Karena saat ini perasaannya masih bimbang. Meski mulai menyukai Yuuji, bukan berarti ia sudah bisa melupakan Suguru dari hidupnya.
Tapi yang terjadi sekarang...ia malah sudah jadian dengan Yuuji.
'Heeh, ya sudahlah. Sambil jalan saja,' batin Gojou seraya menepuk-nepuk pelan kepala Yuuji.
.
.
.
~TBC~
.
Support me on Trakteer : Noisseggra
