Disclaimer: Vampire Knight belongs to Matsuri Hino
I'll be Loving You
Prolog
Satu bulan berlalu sejak kejadian penyerangan Rido Kuran dan kepergian Kelas Malam. Cross Academy sudah kembali normal setelah sempat ditutup beberapa waktu untuk perbaikan. Murid Kelas Siang tidak ada yang mengingat kejadian itu dan tentang Kelas Malam karena ingatan mereka telah dihapus. Zero Kiryuu menjalani kehidupan normalnya kembali tanpa status sebagai Prefek karena Kelas Malam sudah tidak ada. Dia baru saja selesai pelajaran sesi pertama saat seorang murid menghampirinya dan memberitahu bahwa Kepala Sekolah Kaien Cross memanggilnya. Dia mendengus, rencana tidur siangnya saat jam istirahat batal. Dia pergi menuju kantor Kaien meski sedikit enggan. Sayori Wakaba, Kasumi Kageyama dan Rin Maeda mengawasinya ketika dia pergi. Zero tidak acuh, jika dia menatap mereka dia akan ditanyai tentang Yuuki dan itu membuatnya kesal. Ketiga murid itu terlalu keras kepala tak ingin ingatan mereka hilang sehingga Aidou Hanabusa tidak menghapus ingatan mereka bertiga.
"Zerorin anakku!" seru Kaien saat Zero muncul di pintu kantornya. Kaien berusaha memeluk Zero tapi tinjunya lebih dulu mengenai wajah Kaien.
"Jika kau memanggilku hanya untuk ini, aku pergi," kata Zero.
"Tunggu, jangan pergi," tahan Kaien. "Aku memanggilmu karena kau dapat surat."
"Dari Asosiasi?" tanya Zero.
"Bukan." Kaien tersenyum penuh arti. Dia lalu mencari surat yang dimaksud diantara tumpukan kertas dan surat di meja kerjanya. Zero mengernyit. Dia berpikir siapa yang mengiriminya surat jika bukan dari Asosiasi.
"Kau punya teman perempuan bernama Juno?" tanya Kaien tersenyum jahil. Di tangannya ada sepucuk surat dengan amplop kertas warna putih gading dengan segel lilin merah di belakangnya.
"Huh? Siapa?" tanya Zero.
Kaien bertingkah konyol. "Anakku Zerorin diam - diam punya pengagum atau jangan - jangan ini pacarmu, heh?"
"Jangan konyol, berikan suratnya!" Zero menyahut surat itu dari Kaien yang masih tersenyum seperti orang gila.
Zero membaca bagian depan amplop itu. Namanya dan alamat Cross Academy tertulis di bagian penerima. Di bagian pengirim tertulis nama Juno, dia tidak punya kenalan dengan nama Juno. Zero membuka surat itu dan membaca isinya.
Kepada Zero Kiryuu-san,
Saya berduka cita atas musibah yang menimpa Anda beberapa waktu lalu. Saya turut menyesal atas apa yang terjadi kepada Anda dan keluarga. Semoga Anda selalu tabah dalam melewati musibah ini dan doa saya menyertai Anda.
Surat ini mungkin membingungkan Anda, karena Anda tidak mengenal saya. Tetapi melalui surat ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesarnya karena telah membebaskan Rido Kuran. Beliau telah banyak melakukan kesalahan dan kejahatan tidak bermoral yang tidak dapat di maafkan tapi saya akan tetap memohon maaf atas kesalahannya dan juga atas ketidakmampuan saya.
Saya harap Anda akan baik dan sehat selalu Kiryuu-san. Sekali saya mohon maaf yang sebesarnya dan terima kasih banyak.
Hormat Saya,
Juno
Zero tertegun, dahinya mengernyit membaca surat itu. Dia terkejut. Dia mendapat ucapan duka cita dari seseorang yang tidak dikenalnya dan juga ucapan terima kasih sudah membebaskan Rido Kuran. Tak pernah terpikir olehnya mendapat surat semacam ini.
'Apa ini ejekan?' batinnya.
Kaien masih tersenyum melihat Zero membaca suratnya meski ekspresi yang dilihat di wajah laki - laki bersurai perak itu terlihat sangat kaget. "Apa dia menyatakan cinta?"
Zero melotot pada Kaien. "Kau gila?" kata Zero frustasi dengan tingkah konyol Kaien. "Pengirimnya mengucapkan duka cita."
"Hah?" Sekarang ganti Kaien yang terkejut. "Dia bilang apa?"
Zero menyodorkan suratnya agar di baca Kaien. Dahi Kaien mengernyit membaca surat itu. "Ini⦠dia berterima kasih telah membebaskan Rido Kuran. Siapa orang ini?"
"Kau pernah dengar vampir dengan nama Juno?" tanya Zero kesal.
"Tidak," kata Kaien. "Tidak ada nama marganya, apa di amplopnya ada?"
Zero menggeleng. "Apa maksudnya mengirimiku surat ini?"
"Aku tidak merasa dia berniat buruk tapi pilihan katanya sedikit mencurigakan. Dia menuliskan 'membebaskan' menggantikan 'membunuh'," kata Kaien. "Ada alamat di amplopnya?"
"White Lake No. 5," jawab Zero. "Kau tidak berniat mengunjunginya, kan?"
"Bukan aku tapi kau, Zero," kata Kaien. Zero menggeram tidak setuju.
"Abaikan saja," kata Zero. "Aku tak mau bertamu ke rumah vampir."
Zero pergi meninggalkan kantor Kaien. Dia tak mau berurusan dengan vampir kecuali untuk membunuh mereka. Yang benar saja dia harus mengunjungi vampir, ramah tamah menanyakan perihal surat yang dia kirim, menanyakan hubungannya dengan Rido Kuran, ujung - unjungnya membahas Kuran lagi. Dia muak dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kuran.
