IMPRIMARE

Wiell

Disclaimer :

Cerita ini milik saya, jika ada kesamaan bukan suatu kesengajaan. Apabila kalian melihat yang sama persis mohon beritahu saya.

Warning!

Typo. Boys Love. CHANBAEK


CHAPTER 4


"Hei!"

Baekhyun menarik tangannya lepas namun tak berhasil, seseorang menyeretnya menuju sebuah mobil yang terparkir apik di pelataran, "Naik!"

" Sunbae, apa yang kau lakukan? Bisa lepaskan tanganku?"

Pintu mobil dibuka kasar, Baekhyun didorong masuk. Chanyeol betul-betul keterlaluan.

"Baekhyun-sii!"

Baekhyun mendongak, menatap seorang wanita yang sepertinya ada di kelas yang berbeda dengan Baekhyun yang pasti ia bukan kakak kelasya, duduk di kursi depan dengan Chanyeol yang duduk di balik kemudi. Ia masih mengusap pergelangan tangan juga kakinya yang ngilu, tentu saja, ia ditarik paksa untuk masuk ke dalam mobil ini.

"Halo," Baekhyun tersenyum paksa, segera mengalihkan pandangan pada Chanyeol mulai menjauh dari area kampus, "apa yang kau lakukan? Bukankan aku sudah menolakmu untuk ikut? Kenapa kau memaksaku?"

"Diam lah, kau lelaki kenapa berisik sekali," Chanyeol memelankan kalimat akhirnya, ia lalu menoleh pada Seulgi dan memberikan senyum terbaiknya, tangannya terjulur guna mengusap helain rambut coklat yang bergelombang, "aku akan mengantarmu pulang,"

"Kenapa? Memangnya kau ada acara dengan Baekhyun?"

Chanyeol menggeleng pelan, tangannya turun pada jari kurus yang bertaut, "tidak, aku punya beberapa urusan dengan anak itu. Lain kali aku akan mengajakmu jalan-jalan."

Seulgi mengangguk saja, toh hari ini ia lelah, ingin istirahat dan menghabiskan waktu dengan ranjangnya. Jadi tak masalah jika Chanyeol hanya mengantarnya pulang. Mereka masih punya banyak waktu bersama, karena hubungan yang terjalin baru seumur jagung. "Tentu!"

Seulgi membalikkan tubuhnya, menatap Baekhyun yang menatap tak acuh pada pemandangan luar mobil. Wajahnya tertekuk tak semangat. "Baekhyun, apa kau sudah menemukan pasanganmu?" ia lalu melirik pada telapak tangan Baekhyun yang terbalut plaster.

Baekhyun melirik Chanyeol sekilas, "Belum. Aku belum bertemu dengannya."

"Benarkah? Lalu kenapa kau menutupi tanganmu?"

"Aku teriris pisau kemarin. Lumayan dalam dan aku harus memberinya perban sementara."

Seulgi mengangguk, "Lalu bagaimana kriteria pasanganmu? Kalau kau mau aku bisa mengenalkanmu dengan perempuan yang mungkin akan kau suka."

Chanyeol di sampingnya mendengus geli.

"Hanya seseorang yang lembut dan tidak pemarah. Yang paling penting ia mencintaiku." Chanyeol diam saja dengan jemari yang mengerat pada kemudi, memang apa yang di harapkan Baekhyun? "Lalu bagaimana denganmu?"

Wajahnya berubah murung, ia lalu mengusap sebuah tanda ditangannya. Ukiran rumit yang tak Baekhyun ketahui. "Aku harap pasanganku adalah Chanyeol," ia lalu tersenyum, "tapi ternyata bukan. Dia adalah teman kecilku yang menyebalkan."

"Aku pikir itu lebih baik daripada kau tidak mengenalnya sama sekali. Setidaknya kalian sudah mengenal bagaimana sifat satu dengan lainnya. Hubungan yang terjalin akan lebih mudah."

"Ya, dan aku tidak tahu bagaimana jika pasangan Chanyeol muncul. apakah ia akan cemburu jika aku bersama Chanyeol? Tentu saja ia adalah pasangannya."

Seulgi menatap pada Chanyeol dalam diam, dibelakang Baekhyun diam-diam berdecih. Ia kesal karena harus melihat drama murahan dari pasangan di depannya ini. Bagaimana jika pasangan Chanyeol muncul? Baekhyun adalah pasangannya kalau boleh mengatakannya. Sayangnya Baekhyun tak sudi.

"Istirahatlah, aku akan menghubungimu nanti. Sampai jumpa!" Chanyeol mengusap pipi Seulgi sebelum gadis itu keluar dari mobil, "Baekhyun, sampai jumpa dan Chanyeol hati-hati di jalan"

Baekhyun berdecak, ia merasa seperti orang bodoh dalam mobil ini. Apalagi jika bukan melihat pasangannya bermesraan dengan wanita lain, tepat di depan matanya. Tidak ada orang paling tak tahu malu kecuali Chanyeol.

"Duduk disini!"

Dari balik kaca Chanyeol melirik Baekhyun, namun lelaki bertumbuh lebih pendek itu melengos tak peduli, "Kenapa? Sudah jalan saja."

"Kau pikir aku supir mu?"

"Siapa yang mengatakannya? Kaukan?"

"Baekhyun, aku tidak akan mengulangi kalimatku. Maju!"

Dengan kesal Baekhyun membuka pintu dan menutupnya kasar, berpindah duduk dimana Seulgi duduk sebelumnya, rasanya tak nyaman.

Mobil melaju lebih kencang dari sebelumnya, melewati daerah rumah milik Baekhyun dan akhirnya berhenti di sebuah megah setelah 15 menit berlalu. Chanyeol telah keluar dari mobil, berjalan cepat menuju rumah miliknya.

Baekhyun mengikuti dalam diam, sesekali matanya menatap sekitar, jejeran mobil mewah yang ada di sisi kiri yang berperan sebagai parkiran, dimana Chanyeol meletakkan mobilnya dan taman di halaman rumah dengan berbagai tanaman yang indah.

Chanyeol bersendakap ketika melihat Baekhyun datang, ingin menceramahi tentang betapa leletnya Baekhyun karena membuat Chanyeol menunggu. Tapi di tahan.

"Aku pulang!"

Sahutan dari dalam membuat Baekhyun sedikit gugup, tanpa alasan yang jelas Chanyeol membawanya kemari. Sangat bodoh.

"Baekhyun kau kah itu?"

Seorang perempuan setengah baya datang dengan apron yang membalut tubuhnya. Ia adalah wanita yang sama dengan yang Baekhyun temui tempo hari di mall.

"Selamat siang," ucap Baekhyun membungkuk seraya tersenyum. Wanita itu begitu cantik dan ramah, membuatnya tak percaya jika ia punya anak macam Chanyeol yang kurang ajar.

"Duduklah. Maaf kalau mengganggu waktumu, aku hanya ingin mengenal impimare anakku saja. Aku harap kau tidak keberatan untuk berbincang denganku sebentar."

Baekhyun jadi tidak enak, ia tersenyum canggung, "tidak. Aku sudah tidak punya kelas lagi hari ini jadi bisa mampir ke sini."

Chanyeol telah pergi ke kamarnya di lantai dua begitu mereka sampai, tak repot untuk menyapa sang ibu yang mengabaikan kehadirannya. Ketika turun dari tangga, ia melihat Baekhyun yang turut serta berdiri di balik pantri dapur. Mengaduk sup yang membuat Chanyeol kelaparan karena aromanya.

Mereka berbincang hingga tak menyadari jika Chanyeol telah duduk di sana. Mengamati interaksi keduanya dalam diam. Apakah jika Seulgi disana, ibunya kan bersikap sama? "Ibu."

Sang ibu menoleh, ia lalu mendorong Baekhyun untuk keluar dari dapur, "Chanyeol, ajak Baekhyun ke kamarmu. Ibu akan memanggil kalian kalau makanan sudah siap."

Baekhyun menunduk, ia tak tahu harus melakukan apa lagi, untuk apa pula datang ke kamar Chanyeol? Namun yang ada adalah Chanyeol yang menarik tangannya lagi, menaiki anak tangga yang melingkar menuju sebuah pintu bercat putih dengan nama 'Yeol Room' dengan animasi boneka beruang yang manis. Baekhyun menggigit bibirnya menahan tawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

Chanyeol mendengkus tidak mendapati jawaban di sana, ia membuka pintu kamarnya lebih lebar. Menyuruh Baekhyun masuk dan menutup pintunya.

Rasanya Baekhyun canggung sekali. Tidak seperti di kampus di mana mereka bisa berdebat. Kamar ini punya ukuran yang tak jauh beda dengan milik Baekhyun dirumah, sebuah pintu yang diyakini kamar mandi ada di pojok ruangan. Tak jauh dari sofa yang didudukinya. Disamping ranjang ada lemari besar, dengan kaca full body. Lalu sebuah meja belajar dan sudut lainnya. Beberapa gitar berdiri rapi, menegaskan kalau ia seorang yang cinta dengan musik.

"Lakukan apapun terserah, aku mau tidur saja."

Pikirnya sang ibu akan lama karena masih banyak masakan yang belum jadi. Sementara Baekhyun mematung, tak tahu apa yang akan dilakukannya. Ia meletakkan tasnya di sofa depan ranjang dan duduk di sana. Akan lebih baik jika bisa membantu di dapur dari pada di sini.

Sebelum Baekhyun keluar ponsel Chanyeol bergetar, namun sang empu tak juga terbangun dari tidurnya. Ponsel kembali bergetar yang membuat Baekhyun penasaran. Ia mendekat ke nakas dimana Chanyeol tidur.

Sebelum tangannya menyentuh ponsel ada tangan lain yang menyentuhnya lebih cepat, matanya melotot terkejut ketika Chanyeol terbangun, tubuhnya di tarik ke ranjang, dihempaskan pada ranjang ber per. Chanyeol berada dalam jarak terlalu dekat, tubuh membungkuk hingga tanpa jarak.

Tatapan terkunci satu sama lain.

"Apa yang kau lakukan, lepaskan!"

Sudut bibir tertarik, "harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan dengan ponselku?"

"Aku tidak melakukan apapun."

Mata itu turun, meneliti bagaimana raut marah ada di sana, kening berkerut kesal hingga bibir yang mengoceh tiada henti. Terlihat ranum dengan warna pink segar yang membuat Chanyeol sejenak kesulitan bernapas. Saliva di telan paksa.

Ia mendekat, menutup jarak keduanya lebih dekat, tidak kurang dari 10 cm. entahlah tapi ia ingin mengecup bibir yang terlihat manis itu, ia pasti sudah gila. Hingga pandangannya turun ke bawah, menatap leher putih bersih dengan kedutan di sana. Apa Baekhyun gugup sama sepertinya?

"A-apa yang kau lakukan Chanyeol! Menjauh dariku."

Chanyeol mendengkus, melesakkan lebih jauh kepalanya pada leher Baekhyun yang menggodanya. Sial, dia harum sekali!

Bahunya didorong tapi tak membuat menjauh, lidah terjulur, menjilat permukaan leher yang berkedut di sana, mengigit kecil sebelum menghisapnya kuat.

"Chanyeol!"

"Berisik,"

Ia menatap puas pada tanda kemerahan disana. Tidak cukup lebar namun tidak juga kecil. Kontras dengan kulit Baekhyun yang putih. Napasnya tersenggal, ia cukup lengah hingga Baekhyun dapat mendorongnya menjauh.

Meninggalkan Chanyeol yang berdecak, mengusak kepalanya kasar.

Tak tahu perbuatan gila apa yang barusan dilakukan.


Bersambung –