Hak Cipta Naruto sepenuhnya milik Masashi Kishimoto. Fanfiksi ini dibuat untuk event bulanan Fanfiction Addict yang bertemakan Bosan Hidup. Bukan untuk kepentingan komersil.
.
.
.
People come and go. In the end of the day, you'll be all alone.
Residu
ix
.
"Pacarku marah lagi," keluh Sasuke sambil merebahkan diri di kasur kamar asrama.
Naruko tergelak singkat, lalu memutar kursi belajarnya agar ia bisa menatap wajah sang kawan yang amat menyedihkan. "Kali ini gara-gara apa?" tanya gadis itu.
"Dia nonton video dokum acara festival kampus bulan lalu. Aku nge-MC bareng Ino di situ. Cemburu."
"Tumben sebulan baru diamuk?" Naruko mendengkus. "Biasanya ketahuan main bareng gua sama yang lain, besoknya Mbak Pacar datang dari kampus sebelah buat marah-marah tuh?"
Sasuke menjawabnya dengan gumaman tak jelas.
"Daripada galau, mending kita ke arkade aja kuy!"
Sebuah bantal melayang tepat mengenai kepala Naruko.
"Kalau ketahuan main berdua sama lu dia lagi ngambek gini, bisa-bisa gua diputusin woi!"
"Ya bodo amat! Suruh siapa lu pacaran sama pencemburu kronis gini!? Gua mau ngajak main aja kudu sembunyi-sembunyi segala kek selingkuhan!"
Sasuke mengerang panjang. "Maaf," katanya kemudian.
Jujur saja, Naruko muak mendengar kata maaf dari Sasuke. Dia sudah jengah mencoba membuat Sasuke sadar kalau kekasihnya adalah tipe kekasih yang dilabeli "toxic" oleh kaum milenial. Kawannya ini selalu bersembunyi di balik kata-kata "masih sayang" dan "terlanjur janji mau serius".
Berapa kali dia menghubungi Naruko pakai ponsel punya Kiba karena ponselnya sedang diambil alih oleh Mbak Pacar?
Berapa kali dia dan Naruko dituduh melakukan perselingkuhan?
Berapa kali dia galau dan menyalahkan diri padahal tak punya salah apa-apa?
Sungguh, Naruko muak.
Bukannya ia tidak peduli pada sang kawan yang sudah dianggap seperti kembaran sendiri. Jangankan mengurusi masalah percintaan si pantat ayam, Naruko saja sering lari dari masalahnya.
Naruko tahu dia bukan kawan yang bisa dijadikan panutan. Tapi, dia berusaha selalu ada ketika Sasuke membutuhkannya. Selalu sedia untuk memberi motivasi atau menertawakannya dalam canda. Siap mendengar keluhan apa saja. Seperti saat ini.
Itu sudah cukup, bukan?
.
viii
.
"Nar, izin block nomormu beberapa hari ini ya."
Naruko mengernyit, tak jadi melakukan suapan ramen nikmat. "Kenapa lagi Mbak Pacar? Fase nuduh gua selingkuhan or punya perasaan sama lu? Lagi?"
"Iya."
"What the fuck, Suke!? Chat lu ama gua aja gak mencurigakan! Belakangan ini banyak chat gara-gara gak kelar mulu debatin Avengers mana yang paling kuat, 'kan!? Cewek lu ngapa sih!? Akrab salah, gelud salah!"
Sasuke mengusap wajah. "Gua juga sementara ga bakal main dulu ke asrama."
" … ya elah. Ya udah, sono minggat lu! Jangan lupa titipin jatah ramen gua ke Kiba."
"Oke. Aku pamit, Nar."
Setelah itu, Sasuke hilang kabar sebulan penuh.
.
vii
.
"Aku akan selalu ada di sini untukmu," ucap Sasuke saat Naruko terjebak di fase tergelap hidupnya.
Untuk sesaat, Naruko percaya. Ingin percaya.
Dan mungkin ketika diucapkan, itu bukan bualan.
Sekarang? Omong kosong, ha ha.
.
"Maaf." Sasuke bersimpuh di depan Naruko, pasrah menerima hukuman apa saja.
Naruko menggeplak kepala Sasuke sepenuh hati. "Resek banget lu sebulan ngilang! Gua samperin ke gedung fakultas lu, ngehindar pula! Sampe ngirim Kiba buat ngusir gua itu maksudnya apa!?"
"Maaf."
Kursi berderit menahan beban tubuh Naruko yang duduk menyandar—lelah. "Udah waras lagi Mbak Pacar?"
Sasuke meringis. "Udah."
"Main yuk? Kak Itachi kemaren tf duit buat main berdua. Refreshing kelar UTS, katanya."
"Kak Itachi transfer padamu? Adiknya itu aku atau kau sih?"
"Kita berdua adeknya. Tapi gua favorit Kak Itachi."
"Damn."
"Hahaha!"
.
Tidak.
Naruko yakin Kak Itachi melakukan itu hanya untuk meyakinkan Sasuke kalau dia memang diterima di keluarga mereka seperti permintaan sang kawan.
.
vi
.
"Kemarin ada yang ember kalau kita main berdua."
Naruko lanjut menyeruput jus jeruk. Sebelah alisnya terangkat, seolah bertanya, "Lalu?"
"Pacar ngambek."
"Ya terus? Lu mau ngilang lagi?"
"Janji, cuma seminggu."
"Sas, wtf. Lama-lama gua laporin juga ke Mami Mikoto nih!"
"Kau jangan ikutan ember gitu dong!"
"Ya biarin! Biar Mami tahu lu bikin pusing anak pungutnya ini!"
"Jangan lapor Mami lah! Kutraktir makan siang dah entar!"
"Sebulan?"
" … kau hobi amat sih menguras uang bulananku?"
"Take it or leave it."
"Iya, iya! Sebulan! Ku-block dulu ya. Kalau ada apa-apa titip pesan aja ke Kiba."
.
v
.
"Biar satu dunia melawan, kau bisa mengandalkanku."
Itu adalah kalimat paling bullshit yang pernah Naruko dengar.
.
"Maaf, Nar. Kata Kiba kau memintaku menghubungimu? Ada apa?"
Naruko menimang-nimang, haruskah ia banting pintu asramanya di depan wajah Sasuke sekarang juga. Ataukah dia hajar dulu yang bersangkutan baru mengunci pintunya.
"Telat lu, bangsat. Itu gua bilang ke Kiba tiga hari yang lalu. Ke mana aja lu?"
"Maaf, kelupaan."
Naruko tertawa lepas. "Kelupaan atau sibuk melayani Sang Ratu?"
Sasuke menjengit. "Itu—"
"Gak usah dibahas. Gak penting-penting amat sih."
"Oh." Sasuke terdiam. Matanya turun, lalu agak membola. "Tanganmu kenapa diperban gitu?"
"Abis jatoh. Dah, ya! Gua banyak tugas. Bye!"
Naruko menutup pintu kamar asramanya tanpa memedulikan protesan Sasuke di luar.
.
Oh, ya. Omong-omong, Naruko berbohong.
Perban di tangannya tidak dibalutkan untuk menutupi luka jatuh. Tetapi, luka sayat.
.
iv
.
"Maaf, aku gak bisa nganter hari ini. Pacarku minta jalan," ujar Sasuke dari sambungan telepon.
"Lah?" Naruko mencengkram kartu berobatnya. "Hari ini 'kan jatah gua babuin lu sebagai sohib!"
"Maaf, maaf! Aku bingung juga. Tadi dia nyamperin ke kosan sambil nangis-nangis. Sampai nyuruh milih antara kau atau dia."
Naruko menarik napas dalam-dalam. Giginya mengertak sejenak. "Terus? Lu bilang lu milih dia, gitu?"
"Ya kau pikir aku harus gimana!?"
"Putusin, goblok!" Naruko sudah tidak tahan lagi. Ke mana sosok sahabatnya yang selalu bisa diandalkan ketika dia butuh sandaran? "Gak sepantasnya dia nyuruh lu milih antara kita! Gua tuh bukan simpenan lu!
"Gua sohib lu dari jaman megalitikum! Emak lu jelas nganggep gua anak pungutnya! Abang lu nganggep kita kembaran beda rahim! Ni cewek cemburuan segini amat sih? Gak ngotak!
"Gua sayang sama lu, iya! Sama kaya rasa sayang gua ke Mami Mikoto! Kalo nanti lu beneran jadi sama dia, dia technically bakal jadi ipar gua! Apa gua kudu jadi lesbi biar dia percaya gua gak naksir lu!?"
"Nar—aku—maaf."
"Basi."
"Maaf, Nar."
"Gua capek, Sas."
"Maaf. Gua izin block lagi, ya? Demi kepentingan bersama."
Ha ha. Kepentingan bersama, katanya.
Naruto mem-block nomor Sasuke sebelum yang bersangkutan sempat mem-block kontaknya.
.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Naruko?" tanya sang psikiater dengan senyum hangat.
Naruko tertawa lepas. "Aku baik, Dok!"
Tentu saja, itu bohong.
Tetapi, siapa peduli? Sasuke tak ada di sini untuk membongkarnya.
.
iii
.
"Kib, kalo gua mati … barang-barang gua lu jualin aja. Hasilnya sakuin dah, buat nambah-nambah jajan rokok. Tapi laptopnya jangan dijual, pake aja buat nugas."
"Apaan si lu?" Kiba menabok punggung Naruko sambil tertawa lepas. "Lagian napa ke gua? Gak diwarisin ke si Sasuke aja noh? 'Kan dia bro lu?"
"Sasuke mah aman, laptopnya gak kentang kaya lu."
"Sianying."
"Ha ha ha!"
.
ii
.
"Sasuke titip 'sori'." Kiba melapor di suatu hari yang cerah.
Naruko mendecih. "Apaan titip-titip maaf? Gak guna! Titip duit, kek!"
Kiba mendengkus menahan tawa. "Lu bedua kenapa sih? Lagi ada masalah ya?" tanyanya.
"Bukan masalah sih. Lebih ke … gua nyadar diri aja, Kib."
"Nyadar diri?"
"Iya. Sadar diri kalau gua tuh gak sepenting yang gua kira."
"Gua gak ngerti kenapa Sasuke masih pertahanin cewek itu."
"Yah—" Naruko angkat bahu. "—orang bilang, cinta dan rasa sayang bisa bikin otak jadi bego. Bomat, lah. Kalo dia ngerasa bahagia, gua bisa apa selain bantu dia mempertahankan kebahagiaannya?"
.
Karena, tak peduli bagaimana pun perlakuan Sasuke padanya kini … bagian dari diri Naruko akan selalu berterima kasih atas canda-tawa yang dihadirkan sang sahabat selama ini.
Ya, Naruko hanya ingin Sasuke bahagia.
.
i
.
"Brengsek lu!"
Satu bogem mentah dilayangkan oleh Kiba, tepat tiga jam setelah berita geger penemuan jasad di asrama putri menyebar ke seantero kampus. Tanpa banyak bicara pun mengindahkan Sasuke yang masih tersungkur di tanah, Kiba melempar sebuah gulungan kertas.
Jika gulungan itu dibuka, bisa terlihat tulisan yang diwarnai beberapa bercak kecoklatan.
Gua capek idup, Sas. Lu tau itu. Lu denger sendiri dari mulut gua.
Lu juga denger apa kata psikiater gua.
Gua capek.
Tapi waktu itu lu bilang lu gak mau kehilangan gua. Lu minta gua bertahan demi elu sampe gua nemu sendiri alasan buat hidup.
Gua belum nemu, lu-nya udah oke aja ngilang dari hidup gua.
Moga aja dengan gini lu gak kebebanin lagi dan bisa bebas bahagia sama Mbak Pacar.
Bilangin ke Kiba. Tawaran gua gak bercanda. Laptop gua beneran buat dia. Dah gua installin aplikasi yang dibutuhin buat dia nugas juga. Langsung dari dosen ybs, ori, jadi gak akan crash aplikasinya.
Thanks and Goodbye, Sas.
Makasih udah mau jadi keluarga gua saat gak ada yang nganggep gua ada. Sayang banyak-banyak, pokoknya.
.
.
.
Don't make promises you don't intend to keep.
I beg you.
Because, you'll never know how much your words mean to someone.
And how much it would broke them when you tore it apart.
The End
Berkenan meninggalkan jejak?
Sekian terima gaji.
Salam Petok,
Chic White.
