Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning! OOC, typo, absurd, receh, garing, bahasa tidak baku, Amatir.

Semua hanya karya fiksi buah imajinasi gabut Sky.

Tidak ada unsur kesengajaan bila ada kesamaan kata-kata, setting, maupun alur. Pun tidak bermaksud menjatuhkan karakter lain.


A LOVE FOR RENT

©Skyzofrenia

.

.

.

"AAAAAAKKKK-!"

Sebuah teriakan frustasi datang dari sudut perpustakaan Konoha Bussiness School, membuat seluruh pengunjung tak pelak mengarahkan atensi ke pucuk kepala pirang acak-acakan yang terkubur di atas meja. Seakan tak perduli, si pirang itu masih menanamkan wajahnya bagaikan berharap kayu persegi itu dapat menyerap presensi-nya dari muka bumi ini.

Dia, si pirang itu—Yamanaka Ino sedang pusing memikirkan tugas akhirnya sebagai prasyarat sebelum memasuki dunia magang. Tak hanya dia sendiri, mungkin semua mahasiswa tahun terakhir pun juga pasti sedang berada di fase yang sama sepertinya. Fase-fase kritis dimana kau lebih memilih membakar semua buku modul mu dan putus asa ingin menikahi pria kaya bahkan jika kau dijadikan istri kelima, daripada menjadi salah satu dari mahasiswa abadi penghuni kampus—

Kami-sama, berikan aku pria lajang yang kaya!

Yamanaka Ino. Siapa yang tidak kenal gadis cantik itu? Karena nyatanya wajah ayu nya terpampang di hampir semua brosur program beasiswa Konoha Bussiness School, universitas paling elit dan juga paling prestisius. Untuk itulah sebisa mungkin ia harus bekerja keras agar tidak kehilangan satu-satunya hal yang bisa membuatnya menuntut ilmu tanpa mengeluarkan sepeser uang pun dan juga membesarkan namanya itu. Dalam kata lain, meskipun orang menganggapnya idola sebenarnya Ino adalah gadis kutu buku dengan lingkup pergaulan yang sangat minim. Yang artinya, hampir mustahil untuknya mendapatkan pria lajang yang kaya dalam kurun waktu singkat.

Cih, pacar saja kau tak punya. Batinnya mencela.

Meh, lupakan. Masih ada banyak hal yang ia harus pikirkan selain mencari sugar daddy. Menghela napas panjang, perlahan ia bangkit dari posisinya sambil merapikan rambut panjangnya. Lantas ia membereskan peralatannya untuk keluar dari perpustakaan, seakan seluruh pandangan mata yang diarahkan padanya sama sekali bukan masalah besar. Well, menjadi pusat perhatian sudah merupakan makanan sehari-harinya.

Baru saja kaki jenjangnya yang dibalut jeans melangkah keluar dari gedung perpustakaan, ponselnya berdering singkat tanda pesan masuk.

Dari : BakaTen

'Barbie-chan, selamat! Aku menemukan klien pertama untukmu! Mampir ke rumahku, dan aku akan membicarakan detailnya. Merindukanmu~'

Yah, pesan Tenten mengingatkannya akan pekerjaan paruh waktu yang gadis bercepol itu tawarkan padanya. Bukannya apa-apa, Tenten bilang dia sedang kekurangan orang. Sejujurnya Ino pun tidak tahu detail seperti apa pekerjaan paruh waktu ini, Ino baru setuju setelah Tenten membujuknya berkali-kali dan meyakinkan bahwa pekerjaan ini tidak akan menyita banyak waktunya. Ingatkan dia untuk membakar semua koleksi video game milik gadis itu jika dia berani membual.

.

- Love For Rent -

.

Sementara di belahan bagian Konoha yang lain, tepatnya di salah satu gedung perkantoran—kepala pirang lain juga sedang mencium permukaan meja, berharap meja marmer itu bisa mendinginkan isi otaknya yang serasa ingin pecah. Sindrom bawaan para pemilik kepala pirang kah? Tergeletak malang di atas sisi meja lain adalah sebuah ponsel pintar yang masih menampilkan panggilan masuk dari kontak bernama Nyonya Rumah, namun tak diperdulikan pemuda itu yang malah menekan tombol volume untuk masuk ke mode diam. Biar saja nanti ia beralasan tidak bisa mengangkat telepon karena sedang rapat.

Perkenalkan, si kepala pirang yang kedua ini bernama Namikaze Naruto. Pria muda yang masih berada di puncak kariernya, namun sayangnya memiliki ibu dominan yang sudah memintanya untuk segera menikah. Karena itu juga lah ia tidak mau mengangkat panggilan dari sang ibunda, pasti ujung-ujungnya mengenalkan pada partner kencan buta yang baru. Karena demi Kami-sama, ia masih berusia seperempat abad! Sama sekali bukan bujang lapuk! Sahabatnya yang lain saja masih asyik berkeliling dunia, separuhnya lagi malah sibuk mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

So, kenapa hanya dia yang dikejar-kejar urgensi untuk segera menikah? Tentu saja karena sahabat ibunya yang menyombongkan cucu mereka di arisan! Ketika dirinya membanggakan pencapaian Naruto, teman-temannya sudah membual akan kelucuan cucu mereka. Cucu ku begini, cucu ku begitu, cucu ku sudah tumbuh gigi, dan lain-lain. Maklum, Nyonya Namikaze adalah yang paling muda di perkumpulan mereka. Jadi mau tak mau Naruto kita yang malang menjadi tumbalnya.

Kalau boleh jujur, Naruto sudah pasrah dan tidak keberatan sebenarnya jika memang ia harus menikah muda. Hanya saja iya tak punya pacar! Ia masih dengan setia menunggu gadis pujaan yang juga merupakan teman kuliahnya menjawab perasaannya, atau setidaknya memberikan lampu hijau untuk Naruto melakukan pendekatan lebih dari sekedar teman. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa mengenalkan ke orang tuanya saat ini? Setidaknya ia butuh sesuatu untuk menahan pemaksaan Nyonya Rumah sampai sang gadis pujaan menerima perasaanya.

Lama setelah panggilan terakhir Kushina yang sepertinya sudah menyerah memaksa anak semata wayangnya untuk hari ini, layar ponsel mahal itu kembali berkedip menampilkan pesan masuk dari teman sekolahnya.

Dari: Inuzuka Kiba

Oi. Aku menemukan sesesuai kriteria yang kau mau. Dia bersih, tenang saja. Biodatanya akan ku kirim nanti, kau berhutang Château padaku.

Oh, ini dia sang malaikat penyelamatnya sudah ditemukan. Ia tak perduli seperti apa wujudnya, bahkan jika itu malaikat maut pun akan ia terima asalkan bisa membantunya keluar dari serangan bertubi-tubi sang ibu. Sungguh ia lelah setiap hari diterror oleh wanita yang telah melahirkannya. Bahkan setelah ia memutuskan untuk keluar dari rumah utama dan tinggal sendirian di apartemen pun, Kushina masih saja memaksanya. Setidaknya ia harap malaikat ini bisa membantu mengulur waktu sampai si pemeran utama siap.

Semoga saja keputusannya tidak menjerumuskan ia ke masalah yang baru.

.

.

.

TBC


Selanjutnya..

"Naruto-san, mau pinjam sapu tangan ku?" terlihat dari mata biru Naruto, tangan ramping gadis itu mengulurkan sapu tangan berwarna lilac manis kepadanya.

Naruto sungguh ingin menarik kata-katanya. Persetan! Ia menyesal, sungguh.


A/N:

HALOOOOO~~~~~

Singkat yhaa? HEHEHEHEHE x3

Hayooo tebak mereka mau ngapain, mari menggibah di kolom review HEHEHEHEHEHEHE

Semoga suka~~~ muah

Sampai bertemu di chapter selanjutnya. Kecup kecup :*

Skyzofrenia.