"Ini markas baru kita?" Naki menatap datar mansion yng baru saja dibelikan oleh Gai untuk mereka.

"Kok kaya kenal ya tempatnya..." Horobi menumpu dagu sambil memperhatikan sekitar.

"Ini markas atau kita mau pamer kalau Metsuboujinrai tinggal disini?" komen Aruto penuh tanda tanya.

"Ga ngerti." Ansatsu geleng-geleng kepala.

"Gimana? Baguskan?" dengan wajah minta ditabok dan efek cling-cling disekelilingnya. Sang pembeli mansion, Amatsu Gai.

"Kalian ga nyadar kalo kita masih di komplek Heiwa?" Yua mijit dahi frustasi.

"Walaupun gua baru aja masuk ke komplek ini, gua merasa ikut goblok setelah masuk ke komplek ini." gumam Raiden.


"PANTES TADI JIN LIAT VILLA AGITONGKOL!" teriak Jin sambil loncat-loncat dan menujuk villa Agitongkol berlantai 5.

Gai membenarkan jas putihnya, lalu menunjuk ke rah kanan. "Kalau kalian kesana kalian akan masuk Agitongkol no Sekai."

"Serah om aja serah om." kata Naki.

Gai menatap tajam Naki.

"Maap Daddy, Naki khilaf."

"Ehem, jadi mulai hari ini kalian akan tinggal di dalam mansion ini, kalau ada apa-apa telepon Yua aja." kata Gai dengan santainya, padahal Yua udah ngeliatin Gai kesel.

Dia selalu saja dijadikan polisi siap jalan 24 jam, dan Gai pun pergi bersama Yua setelah menjelaskan fasilitas mansion yang menjadi markas baru mereka di dunia abstrak ini.

"YEEEE RUMAH BARUUUU!" Jin langsung masuk ke dalam mansion.

"Tunggu Jin, jangan ngancurin mansion baru kita..." Horobi tidak sempat untuk menahan Jin untuk tidak masuk ke mansion.

PRANGGG!

BRUK!

MEOWWWW!

"Kak Jin udah bikin mansion ini jadi kapal pecah dalam sekejap." kata Naki, lalu dia berjalan mauk ke dalam mansion diikuti Aruto dan Ansatsu dibelakang.

"Tetangga baru target baru."

Raiden membalikkan saat mendengar suara seseorang dibelakangnya, Raiden menganalisis orang misterius itu dan entah kenapa Raiden menemukan info orang itu adalah maling profesional yang tinggal di komplek bernama Daiki Kaito. Dia pernah memenangkan medali emas saat marathon khusus maling satu komplek diadakan 100 abad yang lalu.

Setelah orang itu melewati mansion, Raiden akhirnya masuk ke dalam.

"MAMA ARUTO AYO KITA MAIN AIR!"

"Jin gapapa main di kolam? kalau korslet gimana?" tanya Aruto.

"Tenang saja Mama, kami semua sudah menjadi tahan air tetapi kita tidak bisa lama-lama didalam air juga." kak Naki yang baru aja selesai keliling halaman.

"Maksimal 4 jam." lanjut Ansatsu. "Itu yang dikatakan oleh Tante Yua."

Aruto mengangguk-ngangguk tanda mengerti. "Abis aku makan kita main."

Jin menggembungjkan kedua pipinya, lalu melepaskan tangan Aruto. Aruto menghela nafas leg, Jin mendengar dan menurut. Tak lama kemudian datang Horobi dengan apron putih seperti baju sambil membawa sepiring nasi kare.

"Nih."

Aruto bingung, sejak kapan Horobi bisa masak?

"Tadi pas ke dapur, aku nemu kare instan di lemari."

"Ma-Makasih..." Aruto masih agak bingung, sejak kapan juga Horobi perhatian sama dia.

"Papa modus sama Mama." celetuk Naki.

Ansatsu noel-noel tangan kiri Raiden. "Kak Raiden modus itu apa?"

"Modus itu mencari angka yang paling banyak."

Naki yang mendengar penjelaan modus dalam pelajarn matematika cuman geleng-geleng. "Kakak jelasinnya yang bener."

"Lho?! Modus emang angka yang banyak keluar dalam satu deret bilangankan?"

"Itu modus dalam matematika."

Ansatsu menyimak pembicaraan Naki dan Raiden dengan serius dan akhirnya dia bisa menyimpulkan kalau modus itu kegiatan sering dilakukan oleh para laki-laki untuk menggaet hati sang pujaan. bagaimana dia bisa menyimpulkan sampai seperti itu. Hanya Ansatsu dan Tuhan saja yang tau.

"Horobi jangan modus terus sama Mama Aruto, jangn terlalu deket sama Mama Jin cemburu." celetuk Jin, dia menatap Horobi dengan ekspresi cemburu.

Aruto terbatuk-batuk setelah mendengar pernyataan Jin, dia masih tidak biasa dipanggil Mama oleh Jin, sama mereka semua.

"Oh iya disini cuman ada 7 kamar tidur dan itu udah papan nama dengan nama kami, terus Mama tidur sama siapa?" tanya Naki, tadi dia sempet keliling alias mengecek kamar tidur yang ada di dalam mansion dan di setiap pintu kamar ada papan kayu yang menempel dan di papan itu bertuliskan nama sang pemilik kamar. "Naki udah keliling-keliling tapi ga nemu kamar buat Mama."

Mereka semua kecuali Naki menunjuk dirinya sendiri.

"Sama saya, tentu saja." tiba-tiba Gai muncul dibelakang Aruto terus memeluknya.

Aruto yang sedang makan langsung berhenti dan tidak bergerak, membeku di tempat.

"KAKEK GAI JAUH-JAUH DARI MAMA ARUTO!" Jin yang duduk santai disebelah Arutolangsung ngamuk, seperti eorang anak laki-laki yang cemburu kalau Ibunya sibuk merhatiin yang lain.

Yua berdeham sok keren. "Ehem, tolong nyadar diri, Aruto jadi Mama kalian tanpa terikat janji nikah."

"Kita nikah sekarang."

Yang terjadi selanjutnya setelah Gai mendeklarasikan hal itu kelima anaknya langsung menyatakan perang agar hal itu tidak terjadi, Aruto berusaha untuk mengabaikan apa yang terjadi di halaman, dia fokus untuk kembali menghabiskan kare instan buatan Horobi.

"Aku ga nyangka Horobi bisa bikin kare instan dengan sempurna."

"Aruto jangan lupa ada peperangan terjadi karena ulahmu." bisik Yua.

"Kok jadi nyalahin guaaa sih?! Gua yang diculik sama kaleyan."

"Pokoknya sekarang bantuin gua buat melerai mereka semua."

"Aku kalo berubah jadi Metal Cluter kalian semua yang ada K.O."

"Tenang aku udah nyuruh Fuwa kesini untuk melepas paksa 01 Driver."

"Iya deh ... gimana Tante Yua aja."

.

.

.

Hanya pembukaan gaje :v