Our © Baby Pandaxx

Moriarty The Patriot © Ryosuke Takeuchi

AU | BxB | Romance | Mpreg | Typo(s) | OOC | OC

Note : Bagi yang homophoblic tolong silahkan close cerita ini dan cari cerita yang sesuai sama selera kalian. Cerita ini murni dari ide author dan cuma mengambil beberapa kata dan kejadian dari alur aslinya.

.

.

Happy reading~

.

Hari sudah terlalu malam untuk mendengar teriakan dari dua anaknya yang masih berumur tiga tahun, si kembar yang tadi sudah mau memasuki alam mimpi jadi terbangun lagi saat sang Ayah yang baru pulang kerja langsung masuk ke kamar mereka sambil berteriak membawa mainan baru.

William menghembuskan nafas pasrah, ia melirik ke arah ruang tengah dimana suami dan anak-anaknya sedang bermain dengan begitu ceria. Bibirnya tertarik ke atas, rasa kesalnya tadi sirnah begitu saja saat melihat senyuman dari orang-orang yang sangat ia cintai. Si kembar yang bagaikan copy-paste dirinya dan sang suami terlihat begitu bahagia saat memainkan mainan barunya.

Arthur dan Daisy, nama buah cintanya dengan Sherlock. Si kembar berbeda jenis kelamin, berbeda warna rambut dan berbeda kepribadian. Arthur Holmes, si sulung laki-laki. Memiliki surai berwarna biru gelap mewarisi sang Ayah, dan netra merah menyala mewarisi sang Papa, memiliki kepribadian yang ceria dan percaya diri persis Ayahnya. Dan si bungsu perempuan, Daisy Holmes. Mewarisi surai blonde dan manik merah milik Papanya, namun kepribadiannya lebih kalem dan anggun dibanding Kakaknya.

Kata orang-orang, Arthur copy-pastenya Sherlock dan Daisy copy-pastenya William.

"Mainnya lima menit lagi, ya, sayang. Abis itu bobo, besok masuk sekolah." Ujar William yang bergabung ke ruang tengah sambil membawa segelas kopi susu untuk Sherlock, ia duduk di samping suaminya lalu tersenyum begitu hangat pada tiga orang yang memusatkan atensi padanya.

"Ayay, Captain!" Arthur menegakkan tubuhnya, berpose hormat pada Papanya bagai prajurit yang patuh pada perintah rajanya. William dan Sherlock yang melihatnya tertawa gemas, detik berikutnya si kembar kembali asik dengan dunianya. Mobil-mobilan berwarna biru dan boneka barbie berambut panjang, hanya mainan yang berharga tidak lebih dari seratus ribu.

Sherlock menyesap kopi buatan sang istri, memberi suara cecapan diakhir sebagai khas bapak-bapak ngopi. Ia menoleh ke samping saat sebuah tangan melingkar di lengan kirinya, manik ruby sang istri yang menatapnya lembut menyalurkan sebuah rasa ke dalam dada, turun hingga ke lebih bawahnya lagi.

Ingin.

Sherlock menaikkan alisnya saat tangan William dengan nakal mengusap paha dalamnya. Ia bergeser merubah posisi duduknya, mencari posisi yang aman agar si kembar tidak melihat aksi dewasa mereka. William tersenyum penuh kemenangan saat melihat Sherlock gusar sendiri, antara ingin membalas tapi dua anak mereka ada di depan mata.

"Nakal," Bisik Sherlock. Ia semakin mendempet ke istrinya, membelakangi si kembar dan menerima tiap-tiap gerakan yang si surai kuning lakukan. Ia menopang wajah dengan satu tangan bertumpu di atas paha, menampilkan senyuman tak kalah manis pada William yang mulai mengerti arti raut mukanya. "Tidurin anak-anak," pintanya.

"Tadi udah mau tidur, lho. Suruh siapa kamu ganggu?" Jawab William, ia menghentikan gerakan tangan nakalnya. Menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pas, ia mengingatkan anak-anaknya untuk segera berhenti bermain dan segera tidur. Arthur dan Daisy menurut, mereka meletakkan mainannya pada rak khusus dan kembali ke kamar diikuti sang Papa.

Sementara William menidurkan dua anaknya, Sherlock berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi. Tidak ingin istrinya mencium aroma tidak sedap dari dirinya, ia tersenyum lebar saat otaknya memutar adegan dewasa yang mereka lakukan hampir setiap harinya. Siapa sangka, William yang dikenal misterius dan sinis ternyata seseorang yang begitu ahli di atas ranjang? Oh, betapa beruntungnya Sherlock.

Pantulan diri di depan cermin lemari baju mengingkatkan kalau dirinya sudah tidak muda lagi, kerutan mulai tampak di wajah, juga kantung mata yang lebih besar dibanding dahulu. Meskipun tidak mengurangi kadar ketampanannya, ia bersyukur karna William mencintainya apapun dan bagaimanapun keadaannya.

Ingatannya memutar pada sepuluh tahun lalu, saat dirinya pertama kali bertemu dengan William di sekolah menengah atas. Kalau kata orang cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, bagi Sherlock, hal itu benar-benar ada. Dia sendiri buktinya, jatuh cinta saat pertama kali manik sapphirenya beradu dengan manik ruby William.

Saat itu, saat jam istirahat. Teman sebangkunya yang bernama John harus menghadiri rapat calon anggota OSIS, dirinya yang bosan menghabiskan waktu sendirian akhirnya menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Saat menuju rak fisika, tanpa sengaja. Entah bagaimana ceritanya, ia menabrak William di persimpangan rak dan membuat tumpukan buku yang dibawanya jatuh ke lantai.

Bagai adegan picisan di sinetron, Sherlock yang mau membantu mengambil buku William ternyata mengambil satu buku yang sama dengan si surai kuning. Detik berikutnya, adegan tatap-menatap terjadi, hatinya berdesir saat manik merah itu menatapnya lurus. Bulu mata lentik yang membingkainya, hidung mancung dan lancip, model rambut berponi yang membuatnya nampak cantik dibanding laki-laki lain.

Sherlock jatuh cinta pada William detik itu juga. Di jumpa pertama. Di jam istirahat. Di perpustakaan.

Dimatanya, William adalah sosok yang lemah lembut. Sesuai dengan wajahnya yang anggun dan terlihat kalem, setidaknya pikiran itu ada sampai tiba-tiba tatapan William berubah jadi tajam dan sinis. Begitu menusuk, membuat si bungsu Holmes merinding tiba-tiba.

"Jalan tuh pake mata!" Bentak William, buru-buru mengambil buku-bukunya dan menatap Sherlock tajam sebelum berlalu keluar ruangan. Sherlock yang masih shock dengan perubahan William yang tiba-tiba, masih mematung di tempat. Menatap punggung si surai kuning yang semakin menjauh dan hilang di balik pintu.

Pikiran Sherlock terpecah sejak itu, ia masih penasaran dengan sosok William yang menarik hatinya. Bagaimana bisa ada seseorang yang begitu tampan dan cantik dalam satu waktu? Bagaimana bisa ada seseorang yang terlihat kalem dan galak dalam satu waktu? Sungguh, si kuning itu sangat membuatnya penasaran.

Dewi fortuna berpihak padanya saat itu, di saat pulang sekolah dan ia harus pulang paling akhir karna piket kelas. Baru juga menapaki kaki di kooridor menuju parkiran motor, hujan turun tanpa aba-aba. Membuatnya berdecak sebal dan mau tidak mau harus menunggu sampai reda. Kakinya melangkah berbalik, menuju kelas kosong di ujung kooridor.

Sherlock bersorak gembira dalam hati saat melihat si surai kuning ternyata ada di dalam kelas, tengah membaca buku tebal di pojok dekat jendela seorang diri dan terlihat begitu damai. Hanya melirik saat pintu tiba-tiba terbuka, kemudian kembali menatap deretan huruf di buku. Tidak merasa terganggu dengan kehadiran si surai gelap.

Dari sekian banyaknya bangku yang kosong, Sherlock memilih duduk di barisan samping William. Dalam jarak sedekat ini, ia merasa ada dinding bernama canggung yang menjulang tinggi diantaranya. Setelah lebih dari dua puluh menit sama-sama diam dan melakukan kegiatan masing-masing, Sherlock memberanikan diri membuka suara.

"Nama lo siapa?" Tanyanya. William tidak menjawab, tidak merubah raut mukanya atau melirik walau sedetik. Hanya berdiam diri seolah tidak mendengar adanya suara yang mengudara, membuat Sherlock malu dalam hati. "Heh, denger nggak?" Namun tetap sok.

Akhirnya William melirik, dengan tatapan tajam dan begitu menusuk. Hanya dua detik, kemudian kembali menatap halaman bukunya. Namun anehnya, tatapan itu membuat Sherlock senang karna direspon oleh pujaan hati. Ia kembali melontarkan pertanyaan yang sama, dan berkali-kali diberi tatapan serupa oleh sang puan. Dalam hati terkekeh sendiri, sosok di depannya benar-benar menggemaskan kalau di goda begini.

Merasa terganggu, William memasukkan bukunya ke dalam tas dan berjalan keluar kelas. Sherlock yang sudah tau itu, buru-buru berlari untuk menghalangi pintu. Alis William bertaut, manik merahnya berkilat bagai diberi efek animasi. Ia mengutuk sang Kakak yang ada rapat OSIS dan menyuruhnya menunggu di ruang kelas, sebenarnya hal ini sudah biasa dan ia tidak masalah. Tapi, si bungsu Holmes menganggu ketenangannya.

"Minggir." Ketus William.

Sherlock tersenyum manis, sebelah tangan ia ulurkan. "Nama lo dulu?"

William hanya menatap uluran tangan Sherlock, tidak berniat membalasnya dan bahkan tidak mau membuka suara sama sekali. Makhluk pemilik ahoge di depannya akan masuk dalam daftar orang-orang yang ia hindari seumur hidup, berisik.

"Yaudah kalau nggak mau, lo sama gue terus di sini berduaan." Sherlock menarik uluran tangannya, memberi penekanan pada kata terakhirnya. Mati-matian ia menahan agar sudut bibirnya tidak tertarik keatas karna si surai kuning sekarang menatapnya lagi, dengan wajah datarnya dan kedipan mata yang pelan. Boleh cium nggak, sih?

Senyuman miring di bibir William membuat Sherlock lupa cara bernafas, terpanah sekaligus merinding karna tau itu bukan senyuman tanda persahabatan. Dan benar saja, detik berikutnya pintu di dobrak dari luar. Lelaki yang mirip dengan William tiba-tiba masuk dan memberinya tatapan membunuh, langsung berdiri di depan William untuk melindungi.

"Ngapain lo sama Kakak gue?" Tanyanya ketus.

Oh, adiknya.

"Kak, diapain sama manusia antena itu?" Sherlock tersinggung dengan ucapan adik William barusan yang menyebutnya manusia antena. Baru mau protes, tapi ucapannya tertahan di pangkal lidah saat melihat senyuman William yang sangat lembut pada Adiknya. Angin yang datang dari arah luar mengibas surai kuningnya dengan dramatis, membuatnya berlarian kesana-kemari sebelum kembali pada tempatnya.

Cantik.

Kalau disuruh mendeskripsikan William, Sherlock hanya terpikirkan kata cantik. Tidak ada yang lain, si manik ruby di depannya bagai mentari pagi yang bersinar menghangatkan. Memberikan warna dan merupakan sebuah kebutuhan untuk hidup.

"Ngapain natap Kakak kayak gitu?" Kesadarannya kembali saat Adik William kembali bertanya, matanya menatap tiap inci yang ada di dirinya. "Jangan deket-deket, manusia antena." Ketusnya lagi.

Perempatan imajiner muncul di dahi Sherlock, bisa-bisanya ahoge lucu begini dibilang antena. Memangnya dia televisi berjalan?

"Diem lo, adik ipar." Jawab Sherlock yang tentu membuat Louis berkacak pinggang. Terkekeh dalam hati, ternyata adik-kakak ini memang seru untuk digoda. "Gue cuma mau kenalan, kali aja naik pelaminan."

"Ngomong sama bakul bayem!" Louis emosi, ia menggandeng William dan menyeretnya keluar kelas. "Nggak usah deket-deket lagi, atau gue laporin guru BK atas dasar pembullyan."

"Kalau gitu gue lapor balik, atas dasar pencemaran nama baik." Jawab Sherlock tak mau kalah.

"Bacot banget manusia antena, urusin sana hutang lo di kantin!" Ucapan Louis membuat Sherlock malu, bisa-bisanya ia ketahuan punya hutang di depan gebetannya. "Jangan deketin Kakak kalau lo masih miskin."

"Adik ipar ngomongnya jahat banget," Sherlock menyingkir dari pintu. Ia menghirup udara banyak-banyak saat William lewat di depannya, wangi teh hijau memasuki indra peciuman. Aroma menenangkan yang memabukkan, ingin menghirupnya lebih banyak dan lebih lama.

Hari-hari berikutnya, Sherlock lebih gencar melakukan pendekatan pada William. Tidak tanggung-tanggung, ia sering datang ke kelas William saat jam istirahat selama si surai kuning ada di sana. Membuat teman sekelas William kebingungan karna tumben-tumbennya si jenius Holmes mau datang ke tempat orang lain.

Sherlock memang terkenal sebagai murid pintar yang mampu membaca orang lain hanya dengan tatapan mata, karna kehebatannya itu ia disegani murid-murid lain dan hanya John yang mau berteman akrab dengannya. Waktu istirahat biasa mereka habiskan di kelas kalau sedang membawa bekal, dan kadang di halaman belakang sekolah kalau sedang mau mencari suasana baru.

Pada hari ke tiga puluh ia mengejar si surai kuning yang selalu dihantui Adiknya yang galak, akhirnya ada waktu dimana ia bisa berduaan lagi dengan pujaan hati. Di tempat pertama kali mereka bertemu, di tempat dimana semuanya bermula. Perpustakaan, persimpangan rak, buku tebal di tangan masing-masing. Bedanya, kali ini tidak ada insiden tabrakan seperti dulu.

Mereka sama-sama diam, saling memandang. Entah hanya perasaan Sherlock atau bukan, tapi semakin lama tatapan William padanya semakin melembut dan jarang menatapnya dengan sinis seperti dulu. Tidak jarang juga ia dapati William tertawa kecil saat dirinya sedang beradu mulut dengan Louis.

"Mau baca buku juga?" Basa-basi Sherlock.

"Nggak, mau jualan." Jawab William, membuat Sherlock mengerjap berkali-kali. Barusan William melontarkan candaan? Tolong katakan ini bukan mimpi.

"Bisa aja lo-" Sherlock mendesah pelan, sudah sebulan ia mengejar tapi masih belum tau nama si surai kuning. Si Adik yang malah memberikan namanya duluan, menyuruh orang-orang terdekat untuk tutup mulut kalau si bungsu Holmes bertanya tentang Kakaknya. "Nama lo siapa, sih? Lo nggak kasian, apa? Gue udah ngejar lo sebulanan, tapi nama lo aja gue masih nggak tau." Sherlock memasang ekspresi sedih yang dilebihkan.

William tersenyum tipis, ia mendekat satu langkah. "Inget baik-baik, saya cuma ngomong sekali." Ucapnya, Sherlock berdebar dan memasang telinganya tajam. "William James Moriarty." Sambungnya.

Sherlock tersenyum puas, sangat bahagia. Ia menatap William yang juga memberikan senyuman lebar hingga matanya tertutup, langkahnya berbalik dan berjalan menuju pintu. Bias cahaya yang menembus masuk membentuk siluet indah tubuh ramping si surai kuning, bagai manekin berjalan yang harus dijaga dengan hati-hati.

"Liam," Panggilan dari Sherlock membuat William menghentikan langkah. Untuk beberapa detik ia diam, sebelum akhirnya membalikkan badan saat Sherlock memanggil namanya lengkap.

Manik mereka saling bertatapan, menyalurkan sebuah rasa tak biasa di dalam dada. William yang bediri agak jauh dan terkena cahaya terlihat begitu cantik dan indah, bagai mahakarya paling agung yang harus dijaga keindahannya.

"Kamu tadi manggil saya?" Tanya William akhirnya. Mau meyakinkan diri sendiri kalau dia tidak salah dengar.

Sherlock mengangguk, "Iya, kan tadi gue ulangi panggil pake nama lengkap." Jawabnya. Raut William yang bertanya ada-apa tanpa suara membuatnya berdeham sekali, mengumpulkan keberanian untuk bicara. "Nikah, yuk."

?

William tertawa. Iya, tertawa. Tertawa karna kebadutan yang diucap si surai gelap, begitu menggelitik perutnya yang ada kupu-kupu terbang. Sherlock yang tadi menyesali ucapannya yang terlalu jujur, sekarang bersyukur banyak-banyak karna bisa melihat pujaan hatinya tertawa. Bukan tertawa terbahak, tapi tertawa kecil dengan begitu anggunnya.

Kalau begini adanya, boleh nggak minggu besok langsung nikah?

"Catch me if you can, Mr. Holmes." Tutur William, memberi senyum di ucapan terakhirnya dan berlalu keluar ruangan.

Sherlock tersenyum puas, merasa ditantang. Lihat nanti, Mr. Moriarty.

kedekatan mereka semakin intens sejak saat itu, para murid yang melihat bungsu Holmes jalan beriringan dengan Moriarty bersaudara berdecak kagum karna matanya dimanjakan oleh ketampanan mereka. Walau berbeda keadaan financial, tapi otak jenius Sherlock sepadan dengan kejeniusan Moriarty.

Selulus mereka dari sekolah menengah akhir, William memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Sementara Sherlock mendapat pekerjaan tetap sebagai detektif di kantor polisi. Namanya terkenal di kepolisian karna sang Kakak, Mycroft Holmes bekerja sebagai Kepala Kepolisian dan menyarankan nama sang Adik yang saat itu ada satu kasus yang memiliki teka-teki rumit. Sherlock yang berhasil memecahkan kasus itu pada akhirnya mendapat tawaran sebagai detektif dan langsung ia setujui.

Empat tahun ia dan William tidak bersua, sama-sama sibuk dengan agenda masing-masing. Tidak saling tahu di mana rimbanya, hanya sesekali mendengar kabar burung yang tidak sengaja memasuki telinga saat berjalan di kota.

William yang lulus S1 lebih cepat dan menjadi dosen di kampusnya.

Sherlock si detektif muda yang kompeten dan memecahkan banyak kasus.

Sudut bibir mereka tertarik ke atas saat mendengar perkembangan karir masing-masing, turut senang karna teman semasa sekolah berhasil dikenal masyarakat sebagai orang yang berguna. Tapi ada satu pertanyaan yang menggelayuti pikiran, tentang kehidupan percintaan keduanya. Kerap kali, saat berbaring di atas kasur yang diselimuti malam. Pikiran tentang dia sudah menemukan pendamping menggusak pikiran, membuat rasa kantuk lenyap seketika berganti dengan overthinking yang membuat malam itu berakhir dengan membakar lintingan tembakau.

Tahun baru di hari Minggu pagi, saat baru saja memasuki musim salju. Disaat orang-orang memilih berkemul dengan selimut dan menyesap secangkir teh hangat, Sherlock dengan setengah hati berjalan membelah kota. Merapatkan mantel saat udara berhasil menembus hingga menyapa kulitnya, memasukkan kedua tangan ke kantung mantel karna sarung tangan tak cukup menghangatkan.

Kalau bukan karna kewajibannya sebagai detektif, ia tidak akan mau meninggalkan kasurnya dan mengharuskan diri bekerja dibawah guyuran salju. Kasur ukuran single bednya seakan memanggil untuk terus tinggal di sana, tapi secarik kertas yang terletak di atas nakas membuatnya sadar akan tugas negara.

Tapi, kalau saja ia menuruti rasa malasnya, manik sapphirenya tidak akan beradu dengan manik ruby yang sudah lima tahun menghilang dari pandangan. Di lampu merah, di sebrang jalan sana, ada seseorang yang berdiri dengan memakai mantel coklat susu dan kupluk yang menyembunyikan sebagaian surainya. Lalu-lalang mobil sesekali menghalangi pandangan, tapi netra mereka saling terkunci, tidak mau melepaskan satu sama lain barang sedetik.

Begitu lampu berwarna merah, Sherlock berjalan di zebra cross. Melangkah dengan langkah yang semakin lama semakin cepat, ingin segera menghampiri surai blonde yang begitu ia rindukan.

"Liam?" Panggilan darinya membuat sang empu tersenyum, tatapan matanya begitu hangat hingga melunturkan rasa dingin yang tadi menusuk kulit. "William James Moriarty?" Ulanginya, untuk memastikan. Padahal, tanpa diulang pun ia tau kalau yang di hadapannya adalah anak kedua dari Moriarty. Si manik merah yang ia cari selama ini, si manik merah yang menganggu fokusnya, si manik merah yang membuatnya berdecak kesal saat pikiran negatif memasuki pikiran.

"Tuan detektif, Sherlock Holmes." Jawab William. Hening di antara mereka, hanya saling menatap untuk menyalurkan sebuah rasa bernama rindu. Hingga lampu kembali berwarna hijau, suara knalpot mobil saling bersahutan bagai musik yang mengalun antara mereka.

Butiran salju yang turun semakin deras mengharuskan keduanya meneduh di kafe tidak jauh dari mereka bersua tadi, dengan ditemani dua cangkir hot chocolate untuk keduanya mereka duduk berhadapan di pinggir kaca besar. Dalam cuaca seperti ini, mana mungkin Sherlock memaksakan diri tetap berjalan menuju kantor? Dan William, mengurungkan niatnya untuk pergi ke perpustakaan karna di ajak kawan lamanya meneduh di sini.

Satu sesapan menghangatkan tenggorokan Sherlock yang mengering tiba-tiba, kedua tangannya menggenggam erat cangkir putihnya untuk merasakan kehangatan. Sembari memikir topik apa yang akan ia udarakan, Sherlock menghirup aroma minumannya banyak-banyak. Menenangkan.

"Jadi, gimana kerjaan? Lancar?" Akhirnya ia membuka suara, menatap William yang menarik maniknya dari arah luar.

"Lancar, kamu gimana?" Tanyanya balik. Sherlock berdegup karna William menggunakan kamu sebagai pemilihan kata, melupakan fakta kalau William memang menggunakan saya-kamu sedari sekolah.

"Ya, gitu, deh. Kasus yang aku tanganin akhir-akhir ini cuma kasus rumahan, bosen banget." Jawab Sherlock, setengah bercerita tentang yang dirasanya selama sebulan terakhir. Setelah menjeda cukup lama, ia kembali bercerita tanpa diminta. Sosok yang ada di hadapannya juga tidak merasa keberatan mendengar si surai gelap, malah aneh kalau tiba-tiba Sherlock jadi pendiam.

Obrolan mereka larut dengan topik silih berganti, hampir semua hal yang mengganjal selama lima tahun sudah mereka tau jawabannya. Hanya satu pertanyaan terakhir, pertanyaan paling besar yang sering mengganggu waktu tidur. Tentang kehidupan percintaan, memang tak etis rasanya menanyakan hal itu pada orang lain. Tapi rasa penasaran yang sudah lima tahun di rasa mengalahkan rasa segan mereka.

"Kamu ... Udah nikah?" Baru saja Sherlock mau membuka mulut, si surai kuning sudah bertanya terlebih dulu. Ia mengikuti arah mata William yang turun menatap tangan kanannya, lebih tepatnya pada jari manis yang dililit cincin perak.

Sherlock tertawa kecil, ia mengangkat tangannya, mengusap cincin dengan tangan kirinya. "Ini cincin dari client yang kasusnya berhasil aku tanganin, sebagai hadiah katanya. Aku nggak minta, udah aku tolak juga. Tapi dia paksa aku buat nerima," Jawabnya. "Aku masih sendiri."

Jangan bilang Sherlock kepedean, manik birunya yakin betul wajah William berubah lebih tenang saat mendengar jawabannya.

"Kamu gimana?" Tanya Sherlock, tangan kirinya menopang pipi. Menatap tiap inci wajah cantik lelaki di depannya. "Udah punya anak berapa?"

Senyuman khas William tercetak sebelum menjawab, senyuman yang selalu mampu mengacak tempo detak jantung Sherlock. "Mukaku setua itu?" Tanyanya menjawab pertanyaan gurau Sherlock, membuat mereka tertawa ringan bersama. "Aku belum punya anak."

"Kalau istri?"

"Belum juga."

"Kalau punya anak dari aku, mau nggak?"

"... Sorry?"

Sherlock tertawa puas melihat William yang kebingungan, padahal otak cerdasnya cukup mengerti maksud Sherlock. Hanya saja, ia ingin memastikan kalau gendang telinganya tidak salah menangkap kalimat.

"Bercanda, lagian mana mungkin kamu mau sama aku." Sherlock menyesap minumannya setelah puas tertawa, alisnya terangkat saat melihat William yang masih menatapnya lurus.

"Kalau aku mau, gimana?" Pertanyaan William sukses membuat si bungsu Holmes tersedak, ia terbatuk hingga keluar air mata. William membantu menepuk-nepuk punduk Sherlock, tertawa kecil karna pertanyaan sederhananya memberi efek besar pada lawan bicaranya.

"Kamu serius mau sama aku?" Tanya Sherlock langsung saat sudah bisa mengontrol diri, ia menarik nafas saat merasa ada cairan yang mau menetes dari hidung. Ya, jadi pilek gara-gara tersedak.

"Kamu anggap itu beneran?"

"Maksudnya?"

"Aku mau tease kamu aja padahal."

"Kok kamu jahat, sih, sayang?" Sherlock menarik nafas lagi, suaranya jadi tertahan karna gumpalan cairan bening mengendap di pangkal hidung.

"Ingusan, ih." William memberi sekotak tissue pada Sherlock, tertawa kecil karna suaranya jadi berubah dan hidungnya memerah.

"Gara-gara kamu, kan." Jawab Sherlock sambil menarik selembar tissue, lalu menundukkan diri ke bawah dan mengeluarkan gumpalan yang menghambat penafasan. Setelahnya, ia kembali menatap William. Wajah si surai kuning yang sudah lebih tegas dibanding dulu tidak pernah membosankan untuk dipandang. "Liam, will you marry me?"

Manik ruby di depannya terbelalak kaget, menatap tak percaya atas penuturuan yang baru mengudara antar mereka. Manik merah itu mencari suatu kebohongan di sebrang sana, namun tak ada yang ia dapati selain tatapan serius dan menunggu jawaban dari dirinya.

"Kita udah nggak muda lagi, Liam. Kamu salah kalau anggap aku cuma bercanda, dan bukan di mata aku kalau kamu cari keseriusan. Tapi di sini," Sherlock menggenggam tangan William, sebelah tangannya merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak merah kecil yang di dalamnya terdapat satu cincin bermata berlian. "Di jari manis kamu, di depan altar." Sambungnya.

Untuk pertama kalinya, William James Moriarty si dosen jenius tidak mampu mencerna apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan air matanya lolos di depan orang lain. Untuk pertama kalinya, ia percaya pada sosok Sherlock Holmes.

Satu anggukan kecil dari William membuat Sherlock menarik sudut bibirnya lebar, cincin berkilau yang tadi di kotak berpindah pada jari manis William. Ukuran yang pas, warna yang pas, model yang tidak berlebihan terlihat begitu sempurna saat melingkar di sana. Seakan memang di sanalah harusnya ia berada, di sanalah harusnya ia melingkar. Di sana, di jari William James Moriarty.

Suara tepuk tangan mengalihkan atensi mereka, pengunjung kafe dan pegawai yang melihat mereka memberi ucapan selamat. Sembraut merah menjalar di pipi William, malu karna jadi pusat perhatian tanpa sadar. Sementara Sherlock, tersenyum menang melihat Williamnya bersemu begini.

Cantik.

Kata itu akan selalu mengiringi William sampai kapanpun.

Hari itu, yang harusnya Sherlock pergi ke kantor untuk memecahkan kasus orang lain, berhasil memecahkan kasusnya sendiri. Kasus yang sudah lima tahun menjadi teka-teki, kasus yang sudah lima tahun tidak pernah ketemu benang merahnya di mana. Sekarang, semua sudah tuntas terbahas.

Selang tiga bulan kemudian, setelah bertemu dengan Kakak dan Adik William untuk menyatakan keseriusannya. Sherlock dan William berdiri di depan altar, private wedding bertema outdoor di tepi pantai dengan jas putih yang membalut tubuh keduanya membuat seluruh pasang mata yang memandang terpukau kagum.

Bahkan Louis yang notabene musuh abadi Sherlock, yang pada awal kedatangan Sherlock ke rumah setelah lima tahun lamanya ia sambut dengan lemparan bantal sofa karna tidak menerima tamu yang memiliki ahoge. Sekarang diam-diam tersenyum tipis, mengakui ketampanannya sepadan dengan sang Kakak, tubuhnya yang lebih besar juga pasti bisa melindungi sang Kakak yang lebih kecil.

Private wedding yang hanya di hadiri keluarga dekat membuat suasana semakin khidmat saat dua insan yang berdiri di altar perlahan mendekatkan wajah, menempelkan bibir mereka untuk pertama kali. Kecupan sederhana yang panjang, menyalurkan rasa sayang, menandakan kalau mereka memiliki satu sama lain. Setelahnya, suara tepukan tangan dan suitan dari Moran dan Herder membuat William tersipu malu.

Ia menunduk saat manik rubynya bersinggungan dengan manik zamrud sang Kakak di ujung sana, Albert tertawa kecil melihat Adiknya yang sudah besar ditemani Mycroft di sampingnya.

Sherlock menarik tubuh William dalam dekapan, mengusap penuh afeksi surai kuningnya yang ditata rapih. "Finally, i've caught you now." Bisiknya lembut.

William teringat ucapannya saat sekolah dulu, saat dirinya menantang si bungsu Holmesdengan kalimat Catch me if you can, Mr. Holmes. Dan Sherlock benar-benar memenuhi tantangan itu.

"Aku kalah, Sherly." Tutur William masih dalam dekapan suaminya, membuat mereka tertawa pelan bersama.

Hanya Sherlock Holmes yang mampu meluluhkan William James Moriarty.

Decitan pintu yang dibuka menarik Sherlock dari pikirannya yang melambung jauh, sang istri yang memakai piyama motif beruang menyapa penglihatan. Surai kuning yang mulai panjang dan diikat asal-asalan membuat sesuatu dalam dirinya terbangun, dan senyuman sang istri yang sengaja menggodanya membuat Sherlock ingin buru-buru.

"Cantik banget istri aku," Satu kecupan mendarat di puncak surai William seraya tubuhnya ditarik dalam pelukan sang suami. Wajahnya mendongak, menatap Sherlock yang lebih tinggi darinya. Bibir ranumnya membuat sang suami menempelkan miliknya di sana, ciuman yang menuntut balasan. Lambat laun semakin panas dan panas. "Mau ..." Ucap Sherlock saat ciumannya terputus, sorot matanya memohon minta dikasihani.

William terkekeh, "Iya, sayang."

Dan malam itu berakhir dengan Sherlock yang dibuat gila oleh William.

FIN_