Petrichor

By: baechiatto

Genre : Romance & Drama

Main Cast :

Kim Jungwoo

Jung Jaehyun

Warning : Typo(s), cheesy, BxB, incest

Disclaimer : All the character in this fanfiction belongs to themselves. I own the plot of the story. Please don't plagiarize this or I'll cry

.

.

Summary :

Jungwoo menemukan dirinya jatuh dalam perasaan yang seharusnya tidak pernah ada. Jungwoo tidak mampu berhenti. Ia tidak bisa. Ia tidak mau. Maka ia memutuskan untuk terus melangkah maju hingga ia tenggelam sepenuhnya.

.

.

Hal terakhir yang Jungwoo inginkan di dunia ini perihal kakaknya adalah penegasan bahwa ia berbeda. Sayangnya, hal itulah satu-satunya yang selalu keluar dari mulut kedua orangtua mereka.

Ia menghampiri Jaehyun yang meringkuk ketakutan di sudut kamar. Suara teriakan kedua orangtua mereka langsung teredam kala Jungwoo menutup pintu kamar. Ia berlutut di hadapan kakaknya itu.

"Halo," sapanya lirih. Jaehyun memberanikan diri mengangkat wajah ketika ia mendengar suara yang begitu familier.

"Woo?" Jaehyun mengenali adanya warna biru yang asing di beberapa bagian wajah Jungwoo.

"Tunggu sebentar lagi ya, Kak. I'll take you out from this fucking house. Please just wait a little bit more."

Adalah setahun setelah percakapan kecil itu, tepatnya, ketika Jungwoo berhasil merealisasikan janjinya. Ia berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan besar dan menyewa rumah di dekat kantor. Ia membawa kakaknya pergi, pada malam yang gelap gulita, menyeret dua buah koper seorang diri sementara kakaknya mengikutinya di belakang. Langkahnya tertatih tapi mulutnya membentuk senyuman lebar ketika ia berhasil membawa pergi kakaknya dari rumah lamanya.

"Itu siapa?" tanya teman sekaligus atasannya, Taeyong, suatu waktu ketika pemuda itu bertamu untuk mendiskusikan beberapa pekerjaan. Jungwoo melirik Jaehyun yang menatap kosong piano di hadapannya. Itu hanya piano usang pemberian Lucas, kekasih Jungwoo, beberapa waktu lalu. Jaehyun dengan cepat beradaptasi dengan piano, bahkan mampu memainkannya dengan baik dalam hitungan hari. Hari itu, Jaehyun hanya diam memandangi alat musik itu.

"Kakakku."

"Apa dia … sakit?" Taeyong menatap ragu pada Jaehyun yang tingkahnya tidak seperti orang-orang pada umumnya.

"Autisme," jawab Jungwoo singkat, berharap Taeyong cukup sensitif untuk tidak menggali informasi lebih jauh.

Ketika Taeyong pulang, alunan lagu terdengar dari tekanan tuts piano yang berasal dari jemari Jaehyun.

"Kenapa baru dimainkan ketika temanku pergi?" tanya Jungwoo, mengambil tempat duduk di samping kakaknya. "Aku yakin dia akan senang jika mendengar permainanmu. Dia juga sangat menyukai musik."

Jaehyun, tanpa menghentikan pergerakan tangannya pada permukaan piano, menoleh menatap Jungwoo lewat kedua mata coklatnya. Mata yang sama persis dengan milik Jungwoo—diwariskan langsung dari kedua orangtua mereka yang sayangnya sedikit bajingan.

"Hanya mau kau yang dengar," gumam Jaehyun lirih. Namun cukup membuat hati Jungwoo menghangat.

Di musim dingin di bulan Desember, Lucas mengakhiri hubungan mereka. Berkata bahwa ia berhenti mencintai Jungwoo. Jungwoo menghabiskan waktu sedikit lebih lama di tempat tidur, bergelung dengan selimut yang aromanya menyerupai aroma tubuh Jaehyun. Jaehyun masuk ke dalam kamar setelah selesai mandi, memandang sendu pada adiknya yang tidak berhenti menangis sejak kemarin.

Malam harinya, Jungwoo tidak bisa melepaskan pelukannya di lengan Jaehyun sementara satu tangan pemuda itu sibuk memainkan lagu dengan tempo lambat di piano di hadapan mereka.

"Aku benci piano ini. Aku akan menggantinya ketika uangku cukup," desis Jungwoo, tiba-tiba teringat bahwa piano itu merupakan pemberian Lucas.

"Aku suka piano ini," balas Jaehyun tanpa menoleh. Jemarinya masih bermain dengan apik di atas tuts putih piano. "Ada tulisanmu di sana. Aku tidak mau buang."

Jungwoo refleks menatap bagian sudut piano, menemukan sebaris kalimat yang ia tulis dengan spidol berbulan-bulan lalu.

Jung Jaehyun, you did well! – Jung Jungwoo, your brother

"Kelihatannya aku tidak akan bisa berkencan lagi," ucap Jungwoo. Air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. Bertahun-tahun menghabiskan hidupnya bersama Lucas membuatnya ragu bisa mencintai orang lain lagi. "Kelihatannya kau harus terjebak bersamaku selamanya karena aku tidak mau hidup sendirian."

Ia pikir Jaehyun akan menolak, karena bagaimana pun ia adalah pemuda dewasa yang suatu saat nanti akan menikah. Jungwoo yakin Jaehyun akan menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus, tidak peduli dengan penyakit yang diidapnya. Bahkan salah seorang koleganya, Sicheng, terang-terangan mengakui bahwa ia tertarik pada Jaehyun.

"Aku tidak keberatan." Jawaban Jaehyun diluar perkiraannya. Jungwoo melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuhnya.

"Kau akan menikah suatu saat nanti, Jae," kata Jungwoo. Jemarinya ikut-ikutan memainkan piano di hadapannya, meskipun hanya suara sumbang yang terdengar. "Kau akan menemukan orang yang menyayangimu dan menjagamu."

"Kau menyayangiku dan menjagaku."

"Tapi kau juga membutuhkan pasangan hidup."

Jaehyun menghentikan permainannya, lalu menoleh menatap Jungwoo tepat di mata. "Kalau begitu, kau saja yang menjadi pasangan hidupku."

Katakanlah Jungwoo gila. Rasa sakit yang masih berbekas jelas di hatinya membuatnya mencoba mencari jalan untuk berusaha melupakan. Bayangan Lucas berciuman dengan orang lain yang tak sengaja dilihatnya beberapa hari setelahnya membuat Jungwoo tak mampu mengendalikan perasaannya. Ia menemukan dirinya memeluk erat Jaehyun di atas tempat tidur, mempertemukan bibir mereka, membiarkan kakaknya mencium lehernya, dan melakukan seks yang begitu menggairahkan hingga air matanya mengalir. Ia hanya ingin lupa dan ia tahu ia memilih pelarian yang salah. Namun ia tidak mampu berhenti. Tidak, ketika Jaehyun membisikkan namanya dengan penuh damba, menatapnya dengan memuja, memanjakan tubuhnya seolah Jungwoo adalah orang paling berharga di dunia, dan menandai setiap inci kulitnya bagai lukisan.

Jungwoo tidak mampu berhenti. Ia tidak bisa. Ia tidak mau.

Sejak hari itu, setiap hari, ciuman dan pelukan tidak pernah absen diantara keduanya. Jungwoo menemukan rasa hangat yang menyenangkan kala ia terbangun dengan tangan Jaehyun memeluk pinggang telanjangnya. Ada rasa puas ketika melihat kissmark yang ditorehkan Jaehyun di sekujur tubuhnya, mulai dari tulang selangka hingga pahanya. Perihal Lucas, ajaibnya, ia sudah sepenuhnya lupa. Yang ia ingat adalah aroma petrikor yang kerap kali dihirupnya ketika ia menempelkan hidungnya ke ceruk leher Jaehyun, untaian kusut rambut Jaehyun kala ia menariknya di sela-sela kegiatan seks mereka, dan bekas cakaran yang tidak menyakitkan di punggung dan lengan Jaehyun—ulahnya, ketika seks mereka berlalu terlalu kasar.

Ia sadar ia sudah melangkah terlalu jauh ketika Jaehyun tidak mau lepas darinya. Ketika Jaehyun sudah mengklaim sepenuhnya bahwa Jungwoo adalah miliknya. Ketika pemuda yang lebih tua itu menangis sesenggukan hingga suaranya menggema di seluruh penjuru rumah karena Jungwoo ingin berhenti.

"Aku tidak mau berpisah darimu!"

Akhirnya, Jungwoo tahu bahwa ia tidak bisa lari lagi. Perasaan Jaehyun padanya sudah bukan lagi rasa cinta sesama saudara dan Jungwoo tahu ia juga sudah jatuh ke dalam perasaan itu. Maka ia memutuskan untuk terus melangkah maju hingga ia tenggelam sepenuhnya.

Mereka berpindah kota. Jungwoo diterima di sebuah perusahaan di sudut kota lain, membeli rumah kecil di dekatnya, dan tinggal bersama Jaehyun dengan melepas sepenuhnya status saudara diantara mereka.

"Itu kakakmu?" tanya Mark, teman sekantornya yang baru, saat ia datang berkunjung ke rumah Jungwoo pada akhir pekan.

Jungwoo melepas celemeknya setelah ia selesai memasak makan siang untuk mereka bertiga—untuk Mark, Jaehyun, dan dirinya sendiri—lalu melangkah mendekati Mark yang duduk di sofa ruang tamu.

"Bukan." Jungwoo menatap lurus sosok Jaehyun yang duduk diam di kursi piano. Di hadapannya, piano baru berdiri kokoh tampak berkilat dengan sebaris kalimat yang ditulis dengan spidol di sudutnya. Belasan purnama berlalu dan Jaehyun masih menolak memainkan piano di depan orang lain selain Jungwoo. "Dia kekasihku."

Jaehyun tersenyum.

Jung Jaehyun, you did well! – Jung Jungwoo, yours

END