(Doppo, dunia adalah luas. Maka sebenarnya jika tidak diruang sempit seperti kedai mie kocok pun kita masih bisa bertemu, kan?)


Nostalgia Bumi Pasundan

Bungou to Alchemist belongs to DMM games

Character: Kunikida Doppo, Tayama Katai, Shimazaki Touson, Tokuda Shuusei

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dalam fic ini. Hanya semata-mata untuk kesenangan pribadi.

Warning! kinda ooc, lokal!AU

Enjoy!


Ia telah mempelajari bahwa semesta telah memiliki rencana. Bagaimana ia turun dari bisingnya kendaraan beroda, membeli roti dengan harga tidak manusiawi, dan tentang dia yang berputar tak tentu arah di jalan bernama Braga pun telah diketahui. Setelah bertahun-tahun ia tinggalkan, kini ia dapat bertemu lagi bersama kepingan kenangan yang seharusnya dibuang jauh-jauh saja, atau bisa ia sekadar jadikan masa lalu, namun langkah telah menuntunnya.

Dulu, dia sering merengek ricuh kepada keempat kawannya untuk hanya bisa bermain disekitar sini. Menggunakan angkutan umum, membawa uang yang telah dikumpulkan jauh-jauh hari dan habis dengan sebungkus plastik cilok Bapri. Rasanya pedas, Katai selalu mengeluhkannya meski tak pernah membiarkan makanan itu bersisa, menghabiskan semuanya sendirian. Shuusei pun pernah sekali terjatuh saat hujan turun dan terpaksa membuat mereka terhenti diantara lukisan-lukisan bunga yang mulai dipindahkan. Meski tangisannya teredam air hujan, Touson tetap memberi pengobatan.

Tidak pernah terlintas dibenak mereka untuk pergi ke dalam mewahnya cafe jika masih ada Indomie untuk diseduh. Kunikida sesekali menjahili Katai dengan mengambil bumbu cabai nya, membuat lekaki itu mengerucutkan bibir sampai penjualnya menengahi.

Braga malam adalah pemandangan SMA, dimana honda yang dinaiki lelaki dengan surai oranye itu sengaja diberhentikan, menjadi saksi bagaimana keadaan jalan di malam hari. Mata sembab Katai adalah yang pertama kali menjadi fokus Kunikida ketika melepas pelindung kepalanya, spontan mendekat dan memegang pundak Katai erat, meski akhirnya lelaki itu tetap menangis parau, menangisi kota romansa yang telah berdusta. Patah hati kala itu disaksikan Kunikida, Katai, dan Braga itu sendiri.

(Doppo sendiri tidak pernah bercerita, selalu mengelak tentang indahnya romansa, jadi hanya aku sendiri yang bersedih.)

Tolol. Kata-kata umpatan seperti itu biasa Kunikida ucapkan ketika Katai sudah tak lagi mengingat bagaimana ia telah diselamatkan, dijadikan tujuan oleh Kunikida itu sendiri. Malam pun sebenarnya tak pernah selalu sedih, hanya saja kala itu Bandung tak berkawan padanya.

Kosambi pun mampir di ingatannya ketika angkutan umum berwarna biru sengaja melewati harinya yang abu. Teringat bagaimana awal pertemuan dengan si lelaki oranye yang disinggung nya sedari tadi. Peluh keringat saat itu bisa dirasakan kembali ketika senyum nostalgia terpampang. Dia tersesat, langit jingga pun membuatnya semakin mengeluh. Meski diteguk sekian kali jus yang ia beli, tak dapat menyurutkan gundah nya.

Berkeliling pun tiada guna, lalu satu yang menarik perhatiannya. Itu kedai kecil dengan menu familiar. Mie kocok Bandung, selalu diingat bahwa Kunikida tak pernah menyukai kulit yang menjadi taburan ciri khas disitu. Namun sekali lagi semesta telah menuntun, mempertemukan ia bersama gurihnya kuah saat itu. Tayama Katai, anak sekolah lain yang sama-sama belum dijemput pada masanya. Mengingat didepan samping kedai itu ada sebuah gedung teater besar. Berkenalan sewajarnya tak membuat pertemuan mereka hanya sekedar itu.

Awal dari semuanya, Kunikida tidak pernah menyangka bahwa Bandung adalah asing baginya sebelum berkenalan dengan Katai. Ia selalu tersesat, namun kawannya selalu kembali menariknya, dan Bandung adalah saksinya. Tak satu pun ia minta selain Katai untuk disini, bersamanya mengenang nostalgia bumi pasundan.

(Lain kali emang harus bawa banyak uang, ya?)

"Mengapa harus membawa harta jika kau saja sudah berharga?" gumamnya pada diri sendiri di depan nisan melapuk.

Katai. Waktu mu fana, namun kau adalah abadi, yang selalu dikenang bersama Bandung di segala hari.


A/N: Udah lama gak post apa-apa disini. Akhir-akhir ini saya writer block jadi gak banyak nulis juga. Tapi mungkin ini bisa jadi penyegar(?), setelah udah lama gak nulis. Makasih yang udah mampir. 3