Kau Yang Bercerita Setelah Kematianmu
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC parah, pov 1 tidak memadai, gak jelas banget, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Sampai sekarang bahkan aku masih bertanya-tanya, bagaimana bisa kau meninggalkanku dengan cara seperti ini? Bahwa bisa-bisanya kau menceritakan segala-galanya ketika kau mati, lalu pada hujan aku harus melihat nisan sebagai dirimu. Aku yang tidak boleh menganggap makam bukanlah kau walaupun aku enggan, sebab kuburmu hanyalah dirimu yang baru. Sementara aku ...
Di manakah aku setelah kematianmu, Shimazaki? Secara nyata memang aku tengah menghadap makammu, tetapi aku selalu berpikir aku ini hilang, ketika kau bukan melihatku menggunakan matamu. Saat aku sekadar seolah-olah menganggap, kau masih menatapku padahal tidak–ternyata kesepian adalah dekat denganku, dan itu kau seorang sewaktu kau menghilang dari duniaku.
Memangnya bagaimana bisa kau memandangku, sewaktu aku bahkan tak dapat mendapati kau merefleksikanku menggunakan sepasang netramu? Aku yang tidak akan pernah tahu apakah diriku ini sedih, atau bagaimana, sebab matamu kini semata-mata terpendam di dalam kenangan yang terlampau lalu. Terlalu lalu sampai-sampai kembali pada bermimpi pun, aku tiada diizinkan ataupun mengetahui caranya.
Dunia seperti apakah itu, Shimazaki?
Dunia apakah ini yang ataukah mungkin, yang kurasakan adalah dunia di dalam diarimu? Dunia di mana sebenarnya kau tinggal, selalu kautempati, dan memang bukanlah di sampingku, di depan ataupun di belakangku saat kau masih kasatmata sebagai Shimazaki Touson?
Diarimu kudapatkan dari kunjunganku ke kamarmu, omong-omong, makanya aku sebegitu melankolis hanya karena tatapanmu bahkan tidak bisa kukhayalkan. Benar-benar membuatku frustrasi, sebab pada akhirnya dirimu paling terasa saat aku membaca-baca tulisanmu saja. Tetapi bolehkah aku membencinya? Soalnya aku tak mau kau sebegini menyedihkannya, Shimazaki.
Tentu saja menyedihkan, ketika aku membacamu berkata-kata bahwa di hadapanmu selalu neraka. Di belakangmu ada yang mendorongmu, agar senantiasa kembali pada neraka kehidupan. Kau yang merasa tidak pernah ke mana-mana lagi sejak hidup. Sebatas terjebak di dalam hidup yang menurutmu bermakan, kau hidup untuk hidup, dan bukannya, "Aku ini hidup demi apa?"
Lantas, kau turut menuliskan Dewa begitu menyia-nyiakan keajaibannya, karena membiarkanmu memiliki napasmu dan menjadi Shimazaki Touson.
Bahwa kau pun takut menjadi tidak berguna. Gagal sebagai anak, mahasiswa, sahabat, harapan keluarga, terutama manusia. Yang dari sanalah ide mengenai kau selalu menyia-nyiakan hidupmu, sebaik apa pun hal yang kauperbuat, semakin menguar. Membuatmu lama-kelamaan turut menatap ngeri pada kemungkinan, kau memang akan menjadi seperti kakakmu yang sekadar menganggur, pergi makan, minum, kemudian gundah jua sebab ia benar-benar beban.
Kakakmu stres seperti halnya dirimu. Namun, di satu sisi kau pun takut untuk menunjukkan sakitmu, karena jika dua orang ternyata depresi, Shimazaki mempertanyakan bagaimanakah hati orang tuamu? Cukup kakakmu yang adakalanya menggila dengan berteriak-teriak, sedangkan kau tampak baik-baik saja supaya nasib buruk ayah-ibu tiada bertambah.
Aku tidak mengetahui semua itu, Shimazaki. Yang kuketahui hanyalah kau tersenyum, setelah aku berkata beban hidup akan selalu ada. Kemudian kau menjawab, "Ya. Selama hidup pasti terus terasa."
Pada akhirnya aku tidak membantumu. Kata-kataku hanyalah kekosongan, semakin sering Shimazaki mendengarkannya. Lama-kelamaan melemah dibandingkan kalimat, "Aku ingin mati" milikmu yang terus bersamamu, karena itu berasal dari dirimu sendiri, sedangkan aku tak melulu mengisi sampingmu.
Akhir kata, setidaknya aku harus mengucapkan terima kasih, bukan karena sekiranya kau masih mau bercerita setelah meninggal?
Pasti kusimpan diarimu baik-baik. Duniamu yang sesungguhnya yang mana, itulah kehidupanmu–bukan kau yang tersenyum kepadaku, mengerjakan tugas denganku ataupun yang menggila bersama Katai serta Kunikida. Meskipun baik-baik saja milikmu hanyalah topeng, aku senang Shimazaki mau menunjukkannya. Aku akan selalu menghargai apa pun yang kau miliki, sekaligus yang ingin kau miliki tetapi tanganmu terlalu merasa mustahil meraih.
Walaupun kau tertinggal di neraka, sebab yang Shimazaki pilih adalah gantung diri, aku tetap mendoakanmu untuk memperoleh tenang. Bahkan kalau bisa ... bolehkah aku menyusulmu? Setidaknya aku ingin menemani Shimazaki, dan dari sanalah aku tetap mengingatkanmu bahwa kau berharga. Berada di sana bukanlah sepenuhnya salahmu, melainkan juga karena kebodohanku–untuk membuatmu sesederhana mengingat namaku saja, aku tiada berdaya.
Tamat.
A/N: Ini cuma sesampahan buah pikiran aja sih, karena beberapa hari terakhir emang lagi down banget. Karena gak ada yang baca harusnya aman. Seenggaknya meski ada yang baca, gak ada yang review wkwkw. Kalo dibilang malu ya … gimana ya. Aku juga bikin ini mikirin diksi, meski buat karakteristik lumayan dilewat. Asal lega aja deh intinya mah, dan ini ada campuran realitas juga.
