Naruto melihat itu. Darah yang mengalir, rintihan kesakitan dari sisa kesadaran, dan Sakura yang terduduk lemah menatap dirnya dengan putus asa. Emeraldnya bahkan tak sampai setengah terbuka. Sementara kedua telapak tangan kecil itu mencoba menutupi perut yang terlindung seragam penuh darahnya, berusaha menghalau rasa sakit meski percuma jika dilakukan.
Ia melihat dengan jelas, bagaimana darah itu menggenang dari balik rok sekolah Sakura. Menggiring Naruto pada kenyataan bahwa ia terlambat. Terlambat untuk menghentikan Sakura, terlambat untuk membuat Sakura mengubah pikirannya, serta ia yang terlambat menjaga mereka berdua dalam keadaan baik-baik saja.
"Sa-sakit ..." Rintihan terakhir Sakura, sebelum emerald itu menutup sempurna.
"SAKURAAAA!"
Brukh!
Naruto jatuhkan kedua lututnya di samping tubuh lemah gadis itu. Berusaha membalikan kesadaran Sakura, dari usaha telapak tangan besarnya yang menepuk-nepuk pelan pipi pucat kekasihnya. Lantas merengkuh sosok itu untuk membuat ia tetap berada di posisi yang sama. Mencegahnya terjatuh.
"Sakura-chan, kau harus kuat," Naruto sugar helaian rambut yang menutupi wajah Sakura dengan gemetar. Ketakutan itu jelas kentara mengalir dari suaranya. "Bertahanlah! Ku mohon bertahan. Kau gadis kuat, tak boleh menyerah begitu saja. Kita akan segera pergi, tolong bertahan," ujarnya parau. Ia berusaha menenangkan hatinya lewat perkataannya sendiri. Meski pun dengan segenah hati, ia berharap gadis yang berada di dalam rengkuhannya ini benar-benar mendengar ucapannya. Dan melakukannya.
Sementara ia mulai mengangkat tubuh Sakura untuk ia benahi di punggungnya. Meski dengan tangan gemetar, Naruto ambil kedua lengah gadis itu agar melingkari lehernya, memastikan Sakura aman dalam posisi ini.
Naruto pun bangkit. Walau getaran di lututnya belum juga berhenti, ia berusaha keras untuk melangkah. Membawa gadis bersimbah darah itu dalam gendongannya. Keluar dari rumah pohon kesayang mereka, dan segera menuruni tangga tergesa-gesa. Ia bahkan melupakan kalau mereka tengah berada di ketinggian, meski pun tak terlalu jauh dari permukaan tanah.
Ia terus berlari, sembari merapalkan berbagai kalimat yang ditujukan untuk Sakura. Hanya agar gadis itu tetap mempertahankan kesadaran, meski Naruto tak begitu yakin jikalau emerald itu masih terbuka.
Seperti deja vu, 40 hari lalu ia pun mengalami hal persis seperti ini. Membawa Sakura yang menutup mata dalam gendongannya, dari rumah pohon mereka. Kala itu ia tidak tergesa-gesa, tidak pula merasakan perasaan yang kacau dengan ketakutan layaknya sekarang.
Saat itu, yang ia sadari hanyalah rasa senang memadati hati. Tidak seperti ini. Kala itu perasaannya menghangat, meski tidak sepenuhnya mengerti, namun ia bahagia telah melakukannya dengan Sakura. Kala itu, kala itu dan hanya kala itu... ia tak berpikir bahwa akhirnya akan seperti ini.
Flashback
"Ne, Sakura-chan?" Naruto menatap ke depan, sementara tubuh Sakura masih ia tahan di punggungnya."
Hm?" Sakura membalas. Gumamannya membuat Naruto mengerti jika gadis itu sudah habis tenaga dan ingin segera beristirahat. Namun ia harus menanyakan ini.
"A-apa masih sakit?" ia bertanya hati-hati.
"Hm..."
Naruto menangkap jawaban Sakura sebegai 'ya'. Hal itu membuat ia meringis, sementara hatinya diliputi perasaan bersalah. "Maafkan aku Sakura-chan," ujar Naruto lirih.
"Baka," Sakura mendengus setelahnya, tapi Naruto masih bisa manangkap kekehan kecil yang terselip dalam nada gadis di gendongannya itu.
Ia mengerti. Sakura mungkin berpikir ia bodoh karena memganggap dirinya sendiri yang melakukan kesalahan sehingga membuat perempuan itu jadi begini. Meski pun memang pada dasarnya benar, penyebab rasa sakit Sakura adalah ia, dalam arti sebenarnya, akan tetapi Naruto mengabaikan fakta bahwa tak ada satu pun pihak yang terpaksa atau dipaksa. Maka tidak berlaku status 'pelaku' dan 'korban' di antara mereka. Sebab sepesang remaja itu bertindak atas dasar keingingan satu sama lain.
Senyum tipis pun timbul dari bibir yang memerah alami itu. Ia tengadahkan wajah untuk melihat cahaya keemasan memenuhi pandangannya. Entah mengapa, senja saat ini terasa begitu hangat dan nyaman, begitu juga perasaan pemuda 16 tahun itu. Mereka selalu bisa menyusup setiap kali kilasan beberapa jam lalu terlintas, mengantarkan rasa senang walau sedikit abstrak untuk tau dengan pasti alasannya.
Ia tidak mengerti, sepenuhnya tak mengerti mengapa hatinya bisa sesenang ini. Karena entah kenapa rasa hangat yang menyenangkan tiba-tiba mengembang begitu saja setelah ia sadar, mereka telah melakukannya.
Kemudian Naruto tundukan kembali pandangan, membiarkan safirnya mengikuti setiap gerakan langkah kaki berbalut sepatu sekolah itu. Dan satu senyuman sekali lagi terlukis.
"Sakura-chan..." bersama semburat merah di kedua pipinya, Naruto melanjutkan ucapan, "aku bahagia."
Ia segera diserang oleh rasa gugup menantikan apa yang akan Sakura katakan untuk membalas ucapannya. Tapi di luar itu, ia merasa lega dan seakan kebahagiaannya menjadi sangat jelas setelah diungkapkan.
Hanya saja 1 menit berlalu tanpa suara Sakura yang Naruto tunggu. Ia bingung mengapa gadis itu tak kunjung menimpali atau menanggapi walau tidak dengan perkataan? Naruto hampir mencapai kesimpulan jikalau Sakura tidak merasakan perasaan yang sama sepertinya, bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah seistimewa itu bagi Sakura, sampai ketika ia merasakan sesuatu menjatuhi bahunya, lalu mendapati kepala Sakura yang terkulai di sana. Tertidur.
Entah kenapa, rasa tidak percaya diri itu segera sirna. Tergantikan kekehan kecil yangtak ia sadari keluar begitu saja dari celah bibirnya.
Namun kini, ia tak sedikit pun merasa bahagia. Pikirannya dipenuhi kekalutan dan kecemasan yang tak berujung. Ini menyakitkan saat harus mendapati Sakura bersimbah darah dengan rintihan kesakitan yang memilukan.
Dan ia semakin kalut ketika bayangan-bayangan buruk akan kondisi Sakura tak berhenti menghantui isi kepalanya. Membuat langkahnya kian cepat, bersamaan semakin eratnya ia menahan tubuh perempuan itu di punggungnya.
"Bertahanlah!" Nada yang terdengar terasa begitu putus asa. Nafas yang terengah pun tak bisa menutupi kekhawatiran dan ketakutan akan kehilangan. "Sakura-chan, aku mengerti rasa sakitmu. Tapi kumohon bertahanlah, kita akan segera sampai. Kalian... harus baik-baik saja." Ia tidak peduli lagi jika suaranya tercekat oleh rasa sesak. Juga tak menghiraukan seragamnya yang mulai memerah ternodai darah Sakura. Karena hal itu, membuat langkahnya semakin menggila.
Naruto berlari, membawa mereka menjauhi rumah pohon, tempat di mana semua ini bermula. Namun ia tidak berharap bahwa di sana jugalah akhir dari mimpi mereka. Ia meyakinkan dalam hati tentang kesempatan yang mungkin saja masih bisa mereka dapatkan.
Ya, mungkin saja.
.
.
.
Nafas pemuda itu terengah. Wajahnya dipenuhi bulir keringat seakan menggambarkan telah berapa lama ia berlari. Namun dibanding itu, secercah harapan tercipta kala safirnya melihat bangunan besar bercat putih tak jauh dari ia yang menggendong Sakura.
Maka Naruto pun kembali berlari mengabaikan tatapan orang-orang yang dipenuhi rasa ingin tau, juga rasa lelahnya. Dan saat ia sudah begitu dekat dengan pintu masuk, seorang perawat segera menyadari masalahnya. Mereka lantas pergi dan kembali membawa bankar berjalan, lalu tanpa diperintah ia segera meletakan tubuh lemah Sakura di atasnya.
Tak dapat dipungkiri melihat kondisi Sakura sejelas ini membuat ia merasakan lagi kekalutan itu. Semuanya nampak mendukung prasangka negatif akan kondisi Sakura saat ia benar-benar dapat melihat betapa lemahnya tubuh yang terbaring di atas bankar yang masih melaju ini.
"Tenangkan dirimu!" Namun seseorang berhasil menyadarkan Naruto dari kekalutannya. Lelaki dewasa dengan seragam perawat itu dapat membaca keadaan yang terjadi walau masih sebatas perkiraan saja.
Tetapi Naruto tidak memberi balasan. Ia balas menatap sang perawat dengan tatapan hampa, meski kemudian kepalanya mengangguk. Perawat itu benar. Saat seperti ini bukan hal bagus jika ia terus terlarut dalam kekalutan. Semua orang pasti merasa cemas dan takut bila ada di posisi layaknya sekarang, dan bukan hal bagus jika sampai rasa cemas itu berhasil mendorong diri untuk bersikap di luar kendali.
Maka ia mencoba menenangkan hati. Berusaha meraih akal sehatnya kembali yang memungkinkan ia dapat berpikir secara jernih. Naruto pun mengambil satu tarikan nafas, lalu dihembuskan. Tatapannya terjatuh untuk ke sekian kali pada tubuh terbaring seorang Sakura. Menatap wajah rupawan gadis itu lekat. Walau kecemasan dalam diri membludak lagi, tetapi ia dapat meyakinkan hati bahwa keadaan ini akan segera berlalu. Ya, Sakura-chan pasti bisa melewati ini. Sakura-chan akan baik-baik saja.
.
.
.
Naruto termangu dalam duduknya. Bersama hati yang diliputi keresahan dan ketidaksabaran, menatap benda bercahaya merah itu berganti warna. Ia tak bisa menjelaskan dengan pasti sebesar apa kekhawatirannya kali ini, meski ia sudah mengingatkan berkali-kali pada dirinya sendiri untuk berpikir dengan tenang dan dingin.
Di ruangan tunggu ini, Naruto tak sendiri. Ada orang tua mereka. Dua pasang manusia yang sama sakitnya melihat kondisi mereka, ia dan Sakura. Setelah sang ayah memberinya satu tamparan. Sungguh hal yang tidak pernah pemuda itu sangka akan terjadi dalam hidupnya.
Melihat kekecewaan yang sangat mendalam dari dua pasang mata kedua orang tuanya itu.
"Kami-sama ... maafkan aku, maafkan Sakura-chan, kumohon berikan Sakura-chan keselamatan." Ia panjatkan dalam hati.
Namun mengetahui kondisi Sakura yang ternyata tidak baik-baik saja, nyatanya berhasil memancing ia kembali ke dalam kekalutan tak berdasar itu. Naruto takut, sangat takut sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi pada Sakura, dan dia.
Ia hembuskan satu nafas frustasi. Teringat lagi pada percakapan sebelum Sakura diputuskan untuk memasuki ruangan di depannya ini.
"Pasien mengalami pendarahan, kami harus segera mengambil tindakan operasi."
Bola mata Naruto terbelalak. Ucapan lelaki berjas putih itu mampu mengguncang jiwa Naruto selama sepersekian detik, sebelum ia tersadar untuk segera membenahi pertahanannya lagi. Ia harus tegar. Maka sebelum berucap, Naruto keluarkan satu helaan nafas, "Lakukan apapun yang terbaik untuk Sakura-chan," ujarnya."
Baik. Jika kau mengetahui sanak keluarga pasien, segeralah hubungi mereka," dokter itu berucap.
"Ya, akan saya lakukan," jawabnya.
Ia sudah selemas ini saat mengetahui kondisi Sakura seserius itu, membuatnya berpikir jika kabar selanjutnya menjadi lebih buruk, sangat mungkin hal tersebut mampu menumbangkannya.
Naruto rasakan sosok lelaki dewasa berjas putih itu hendak pergi setelah sebelumnya mengingatkan ia untuk tenang. Namun ucapan sang dokter bagai angin yang tak bisa menembus tubuhnya. Berlalu begitu saja.
Akan tetapi sebelum sang dokter benar-benar meninggalkan tempat ini, ia mencoba menahanya untuk mengatakan sesuatu.
"Dokter," ujar Naruto.
Tubuh berjas putih itu kembali berbalik menghadap Naruto. "Ya?" Tersimpan tanda tanya dalam sorot mata sang dokter. Namun dalam mata itu yang terekam hanyalah kerapuhan remaja di depannya kini. Dan ia mengerti alasannya.
"Aku mohon, selamatkan mereka. Selamatkan Sakura-chan, aku tak ingin dia seperti ini. Maafkan aku tapi, berjanjilah dokter, kau akan menyelamatkan mereka." Kentara terdengar keputusasaan dalam setiap kalimatnya. Sedangkan safir itu, tetap berusaha keras menghalau air mata yang setengahnya sudah mengaburkan pandangan.
Selama beberapa detik, dokter itu terkesiap dan seakan lupa untuk kembali bernapas. Ia tak menyangka ucapan remaja di depannya ini berhasil sedikit mengguncang dirinya. Sebagai dokter yang telah menghabiskan waktu belasan tahun untuk mengabdi, tentu saja momen seperti ini sudah terlalu banyak ia hadapi. Tapi mampu merasakan jauh lebih dalam perasaan mereka, dokter itu tak percaya bahwa saat ini ia kembali diingatkan lagi bagaimana rasanya. Namun apa pun itu, sudah selayaknya ia dapat memberi rasa tenang pada setiap orang yang berada di posisi seperti pemuda ini.
"Kami tak bisa berjanji, tapi percayalah, Nak, kami akan berusaha dengan keras. Bantu kami dengan do'a-mu. Kau mau?" Dokter itu bahkan meninggalkan keformalan ucapannya.
Naruto menatap nanar kedua mata hitam di hadapannya, kemudian mengangguk kecil. Tidak ada gunanya ia memohon dengan sangat saat ini. Ia hanya akan membuat Sakura semakin lama tersiksa oleh rasa sakit itu. Maka kemudian Naruto sekali lagi mengangguk. "Ya, Dokter, akan aku lakukan."
Lampu merah menyala itu berganti warna. Cahaya hijau yang dari satu setengah jam lalu mereka tunggu. Namun entah kenapa menjadi susatu yang tiba-tiba Naruto takutkan. Ini tentang kabar seperti apa yang akan dokter itu sampaikan.
Semua orang di ruang itu serempak berdiri, menatap sang dokter penuh harap. Mereka terlalu sibuk berharap jika lelaki berpendidikan tinggi itu, menyampaikan kabar baik. Mereka bahkan tak dapat sedikit pun memikirkan apapun lagi selain menunggu jawaban darinya. Sehingga mereka tidak bisa melihat tatapan sendu itu, sorot kecewa dan rasa bersalah yang kentara dari sang dokter.
Dalam kebungkaman yang Naruto benci, hanya ia satu-satunya yang menyadari itu. Bahkan semakin berarti kala sang dokter juga beralih menatap netranya dalam, seakan menyalurkan secara langsung.
"Dokter, aku sudah berdo'a, kumohon jangan beri aku kabar buruk."
Namun sayang, sang dokter malah semakin menyendukan tatapannya.
Di scene flashback, entah kenapa jadi kayak gitu. Paragraf per paragraf yang sudah diatur jadi acak-acakan. Ga tau kenapa. Mungkin eror dari FFN-nya. Ini udah w benerin. Aman ga? Kalau eror lagi, acak-acakan lagi, komen ya. Nanti w coba nyari tau kenapa hal itu bisa terjadi :v
Owya, baru di FFN aja yang w upload ini cerita. Di wattpad belum, mau diselesaikan dulu :D
