Sai tidak bisa menguatkan hatinya. Sepucuk undangan berwarna pink dengan aksen bunga mawar yang berukir timbul di tangannya menjadi atensinya yang utama. Sebuah undangan pernikahan yang sejak dulu dia tolak kehadirannya.

Tidak, surat itu baru datang kemarin. Tertidur manis di kotak suratnya menunggu sampai di tujuan atas nama 'Sai'. Benaknya mengutuk nama pria yang terukir manis bertinta emas di atas kertas bermuka kasar. Mengutuk nama orang yang membuat dirinya harus bosan menjalani hidup yang awalnya berwarna menjadi suram hanya atas nama dijodohkan.

Ayolah, ini bukan jaman Siti Nurbaya? Kenapa acara seperti ini masih ada? Ini sudah dua ribu dua puluh lebih? Pemikiran kuno ini masih saja diadakan.

Walau nyatanya itu hanyalah dalih yang Sai gunakan untuk menolak realistis di depan mata. Menolak jati diri kenyataan kalau sang pujaan hati, Ying, dipasangkan dengan sahabatnya, Fang, secara terpaksa atas nama bisnis.

Sai sangat tahu, tidak ada dasar cinta di antara keduanya. Tidak ada dasar kasih sayang berembel hidup bahagia sampai mati di cerita mereka. Dua orang ini hanya memandang satu sama lain sebagai seorang teman. Sahabt sejati yang menjalani cerita bersama sejak SD. Namun apa daya, keputusan sang pemberi mereka kehidupan berkata lain.

"Sai, maaf. Aku dijodohkan." Hanya empat kalimat dari mulut gadis berkacamata bulat pewarna hidupnya sudah menghancurkan semua ekspetasinya.

Menggigit bagian dalam bibir yang tak mungkin berdarah, ya karena Sai tahu giginya tak setajam Fang yang pernah menggigit lengan Boboiboy sampai berdarah, dia menguatkan pita suaranya dan memberanikan bertanya, "Dengan siapa?"

"Fang."

Ah, dunianya yang berwarna mendadak kelam. Kebosanan menyerangnya sejak itu.

Biasanya dia yang pulang bekerja sebagai admin bank dipenuhi dengan bunga-bunga, bodoh amat dikira anak kecil pokoknya Sai bahagia, sekarang menjadi mendung bagai ada badai petir menghujaninya.

"Sai, dunia ini tak adil. Padahal aku tidak mencintai Ying. Tapi orang tuaku memaksa. Atas nama persahabatan dan bisnis kata mereka." Tutur Fang di kala sore berdua dengan Sai. Menyeduh kopi pahit tanpa gula. Ingin menghancurkan hatinya yang sudah hancur, "Harusnya kau yang bahagia bersama Ying."

Tangan Sai mengepal. Simpati temannya membuatnya bercampur aduk. Bogemannya entah ingin memilih jalur mana, menantang kedua orang tua belah pihak dan digeret ke penjara? Atau membogem mentah temannya agar berani melawan. Dia tak tahu yang mana. Karena kedua dia antaranya ingin berpihak pada Sai.

"Aku bosan hidup dikekang dan diatur seperti ini. Aku bukan Abang yang menjadi pewaris sah tahta. Aku tak pernah menginginkannya. Yang aku harapkan cuma bisa bebas dan menikmati hidup. Menurutku lebih baik bosan hidup sendirian sampai tua daripada dipaksa seperti ini."

Panjang, Fang tak menatap Sai juga, "Kau bisa melawan kan?"

Sebuah gelengan jawaban, "Abangku dan ayahku keras. Sekali mereka bertitah A, maka harus A. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika melawan. Rasanya seperti terkurung di penjara emas."

"Lalu mau bagaimana?" pertanyaan klise, namun memang itu yang ada di benak Sai.

Fang memejamkan mata. Dia mengangkat dagunya dengan manik lurus hanya tertuju pada Sai, "Aku akan lakukan apapun agar kau bisa bersama Ying."

"Lalu kau?"

Senyum terpatri, senyum abu-abu yang tak pernah Sai baca, " Sayonara."

Sejak saat itu Fang tidak ada kabar. Awalnya Sai kira anak itu nekat bunuh diri. Namun nyatanya dia pergi seakan ditelan bumi. Tidak tahu di mana dia sekarang, tidak tahu apa kabarnya, dan tidak tahu apa yang ada di benaknya sebenarnya. Hanya satu surat yang ditinggalkan bertulis,

'Sai, berbahagialah dengan Ying.'

Hanya itu kenangan yang tersisa dari ingatan sepuluh tahun lalu. Berkat itu Sai berterima kasih pada Fang karena dirinya dapat meminang Ying dan memiliki anak kembar yang imut namun nakal dan aktif. Perjodohan itu? Mendadak menjadi dongeng belaka saja dengan Kaizo masih menjadi pewaris resmi yang sah seakan eksistensi bernama Fang tak muncul di permukaan lagi.

Dilupakan? Tidak. Mereka masih mencari, bahkan Sai dan Ying masih mencari di mana sosok yang nekat berkorban dan menghilang begitu saja.

Mereka terus mencari dan mencari sampai bosan dan memilih menjalani hidup mereka yang sekarang.

Bahagia selamanya?

.

.

.

Menghilang

#MonthlyFFA #9LastSecond

END

.

.

Halo semua, Valky desu. No basa basi, review kalian sangat membantu memberi semangat pada author. Bye bye.

.

.

.

Rambut kelam segelap hitamnya galaksi tersebut tertutup topi. Manik delimanya menelitik dua sejoli yang sedang bermain bersama dua anak perempuan kembar yang manis. Sang ayah yang bermain kejar-kejaran ditemani kedua belah pihak kakek nenek dari sang sejoli. Kopi pahit di tangannya sudah menghangat, sementara sosok tegap bertopi dino jeruk duduk santai mensaku kedua tangannya pada kantong jaket yang hangat.

"Syukurlah mereka bahagia."

"Seperti dongeng di siang bolong." Ucap sang topi Dino menyambung. Boboiboy yang ikut tersenyum menonton kehangatan apa namanya keluarga.

"Tidak sia-sia pengorbananku."

"Pengorbanan untuk bahagia denganku?" tanya Boboiboy melirik.

"Bahagia bebas dari penjara emas."

"Ah, benar." Boboiboy mengangkat satu tangannya dan merangkul pundak pemuda berambut hitam itu.

"Apa?"

Senyum terpatri, jelas menerangkan di siang yang cerah, "Ayo pulang, Fang."

Senyum dibalas dengan senyum. Dia berdiri dan membenarkan topinya, "Ya."