"tiga (idiot)"
A BoBoiBoy Fanfiction by Fanlady
Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.
Warning : AU, SMA!AU, no homo just two three idiots being bros
Untuk #nulisrandom2021 Day 3
.
.
.
"Fang."
Fang tidak mengangkat wajah dari soal Bahasa Inggris yang tengah dikerjakannya saat Taufan muncul dan langsung bergelayut manja di lengannya.
"Hari ini kamu jadi traktir di kantin, 'kan?" tanya Taufan, mencolek pipi Fang. Fang sudah terbiasa, tapi pemandangan ini mungkin masih terlihat ajaib di mata teman-teman sekelas mereka. " Fang, ayo, dong. Gopal udah nungguin tuh di kantin."
"Bentar lagi," kata Fang. "Aku belum selesai ngerjain ini."
"Itu 'kan tugas buat dikerjain di rumah Fang," ujar Taufan. "Lagian dikumpulinnya masih minggu depan. Kenapa malah dikerjain sekarang?"
"Ya biar nanti nggak kepikiran lagi."
"Oh, kamu maunya cuma aku yang ada di pikiran kamu, ya?" Taufan tersenyum genit, dan mencolek pinggang Fang. Fang kemudian menempelengnya dengan botol minum di atas meja.
"Faangg, ayo dong," Taufan masih terus merengek. "Aku udah lapar berat, nih. Kasihan bayi kita nanti."
"Bayi dari Hongkong?" Fang memutar mata dan berdecak. "Ya udah, ayo ke kantin."
Fang akhirnya menyerah oleh bujuk rayu Taufan. Baru dua bulan mereka duduk di bangku SMA, Fang tidak mau reputasinya sebagai cowok-ganteng-idaman-nomor-satu-untuk-dijadiin-pacar malah berubah menjadi cowok-ganteng-idaman-tapi-sayang-homo.
"Kamu beneran mau traktir, 'kan?"
Taufan berjingkrak-jingkrak di sepanjang koridor, melompati tiga anak tangga sekaligus, bahkan sempat berlari kembali ke atas untuk berseluncur di pegangan tangga. Fang tidak tahu makanan apa yang disajikan ibu Taufan di rumah yang membuatnya punya energi tak terbatas, pastinya bukan makanan manusia.
"Nggaklah. Bayar sendiri-sendiri," kata Fang.
"Lah, kok gitu?" Yang memprotes bukan Taufan, tapi Gopal yang tahu-tahu saja muncul di belakang mereka. "Kemarin 'kan janjinya mau traktir!"
"Tau nih, Fang," Taufan mencibir. "Ingkar janji aja taunya. Udah kayak Bang Toyib."
Fang memutar mata malas. "Kapan aku pernah janji gitu? Kalian aja kebanyakan halu."
"Nggak, nggak. Kamu emang udah janji, kok," ujar Gopal bersikeras. "Aku ada simpan bukti perjanjiannya."
"Bukti apa coba? Nggak usah ngaco—"
Gopal menodongkan ponsel ke depan wajah Fang, membuatnya mengernyit. Ekspresinya langsung berubah horor melihat gambar yang terpampang di layarnya.
"Nah," Taufan tersenyum puas melihat reaksi Fang. "Jadi, mau traktir kita nggak, nih? Atau mau foto itu kita pajang di mading? Ya nggak masalah, sih. Aku sama Gopal udah cetak beberapa lembar, tinggal ditempel aja."
"Iya, iya, aku traktir!" tukas Fang dongkol. Sialan, bisa-bisanya ia punya duo setan ini sebagai temannya. Awas saja, Fang pasti akan membalas mereka saat ada kesempatan nanti. "Ayo ke kantin."
Taufan dan Gopal bersorak. Keduanya menyeret Fang ke kantin, memesan makanan dengan porsi yang sungguh tidak tahu diri, lalu mengambil tempat duduk di meja sudut paling belakang.
"Fang murah hati banget, ya," Taufan tersenyum lebar, menerima porsi jumbo mi goreng yang baru dibawakan ke meja mereka. "Udah ganteng, tajir, nggak pelit lagi. Tipe sugar daddy idaman banget."
"Najis aku jadi sugar daddy kamu," ketus Fang.
"Duh, padahal aku nggak bilang maksudnya jadi sugar daddy aku. Pengen banget, ya?" Taufan berkedip menggoda.
"NAJIS!"
"Fang kok gitu, sih," Taufan memanyunkan bibir. "Udah lupa sama malam-malam yang kita lalui bersama dulu?"
"Heh, curut got, itu mulut dipakai yang bener kenapa, sih?" Fang mendelik jengkel. "Ngomong asal ceplas-ceplos aja. Kalau didengar orang nanti pada salah paham, gimana?"
"Nggak bakal ada yang salah paham," Gopal berucap tak jelas di balik tumpukan daging burger di mulutnya. "Semuanya udah tau soal kamu sama Taufan."
"Tau apaan?" Fang melotot.
"Yah." Gopal menelan burgernya. Ia mengerucutkan jari-jari kedua tangannya dan mempertemukan mereka. "Kamu taulah."
"Sembarangan aja kamu nyebarin gosip, gendut!" semprot Fang.
"Jangan salahin aku, dong. Kalian duluan yang bikin api, aku cuma ngipasin asapnya," kata Gopal enteng.
"Gopal bener," Taufan mengangguk-angguk. "Kamu duluan yang selalu nempelin aku ke mana-mana."
"Yang nempel duluan siapa, hah?!" Seandainya mata Fang bisa menembakkan laser, dua orang di depannya ini pasti sudah menjadi abu sekarang.
"Udah, Fang. Nggak usah malu-malu," Taufan mengibaskan tangannya. "Perasaan kamu nggak bertepuk sebelah tangan, kok. Tenang aja."
"Siapa juga yang bertepuk sebelah tangan? Aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu! Najis!"
"Fang kok ngomongnya gitu?" Taufan menatap Fang dengan sorot terluka. "Jadi ternyata kamu lebih milih Gopal daripada aku?"
"Nggak nyambung, idiot!"
"Maaf, Fang. Aku udah punya gebetan," kata Gopal. "Lagian aku nggak belok kayak kalian. Sori."
"SIAPA JUGA YANG BELOK, WOI!"
Kemarahan Fang sudah di ubun-ubun. Ia menggebrak meja dan bangkit, lalu menghentak langkah meninggalkan kantin. Tawa terbahak-bahak kedua temannya menggema di belakang punggung Fang.
Sialan, sialan, sialan! Awas saja, Fang benar-benar akan membalas mereka. Lihat saja nanti!
.
.
.
fin
Author's note :
Mepet banget, random banget. Tau, ah. Ada banyak ide sebenarnya, tapi akhirnya malah nulis tiga idiot ini aja biar ngga ribet wkwk
Makasih yang udah baca! Silakan mampir di kotak review kalau berkenan~
