I'm Bored and It'll Be Over

Rate; T

Bungou Stray Dogs milik Harukawa-sensei dan Sango-sensei. Author tidak berhak apapun, kecuali jalan cerita ini.

WARNING! OOC, Typo, Tidak jelas, Suicidal Thought, Suicidal Tendencies, Suicide Attempt, Suicidal.

Diketik untuk event bulanan grup Fanfiction Addict di wa dengan tema Bosan Hidup dan hastag #9LastSeconds.

Happy Reading!

.

.

.

Kadang-kadang hidup yang tadinya menyenangkan bisa mendadak berubah menjadi sangat membosankan. Terutama jika semua yang sudah istimewa untuk dilakukan mendadak mejadi hal yang biasa dan berubah menjadi kebiasaan memuakkan.

Bangun tidur, sarapan, berangkat bekerja, pulang, tidur. Kegiatan yang terus menerus berulang hingga jiwa raga terasa seperti sistem yang memang dibentuk untuk melakukan hal serupa terus menerus.

Kadang-kadang, disaat-saat tertentu, akan ada perubahan dalam kebiasaan sehari-hari. Tapi bagaimana jika 'perubahan' itu pun lama kelamaan menjadi sesuatu yang tidak lagi istimewa?

Bahkan tidur disaat bekerja—atau membolos—yang dikatakan orang-orang sebagai suatu kemalasan tidak lagi menjadi 'perubahan' yang terjadi. Rasa malas yang dilakukan seakan-akan menjadi semakin dalam, semakin buruk dan menggumpal didalam jiwa tanpa bisa keluar ataupun hilang.

Hidup seolah tidak ada artinya lagi. Tujuan yang dulunya dimiliki—suatu keinginan yang hendak dicapai—kini sudah hilang tidak berbekas.

"Aah, aku bosan." Adalah kata yang sering terucap.

Bosan mungkin bukanlah sebuah kata yang tepat. Tapi Dazai Osamu sekalipun tidak dapat menemukan kata yang cocok untuk dirinya sendiri. Karena, walaupun sudah ratusan 'perubahan' yang dicobanya, tetap saja dia tidak bisa lagi merasakan 'kebahagiaan' yang pernah dirasakan.

Atau jangan-jangan sejak awal dia memang tidak pernah mengecap rasa bahagia itu?

Dazai Osamu memang selalu berkata bahwa dia memiliki hobi bunuh diri. Tapi sesungguhnya dia hanyalah ingin membunuh 'kebosanan' yang menyebar di dalam jiwanya. Dia hanya ingin mencari kebahagiaan lain yang tidak bisa didapatkannya di dunia yang membosankan ini.

Tapi tindakannya selalu gagal. Entah karena dia hanya setengah-setengah dalam melakukannya atau neraka dan surga menolaknya.

"Aku ingin melihat sesuatu yang cantik sebelum mati... tapi apa?" Gumaman setengah peduli itu dibalas oleh cahaya bulan yang memantul di riak air laut. Gemerlapan dan cantik. Seolah-olah kali ini keinginannya akan benar-benar terkabulkan. Seolah-olah... kali ini dewa-dewi menerima nyawanya.

Kepala mengadah, disuguhi sinar bulan yang terang. Putih keperakan dengan bintang-bintang kecil yang tidak kalah gemerlap di sekelilingnya.

"Cantik sekali..."

Tapi dibanding memerhatikannya lekat-lekat, Dazai Osamu memilih menutup mata, mendengarkan deburan ombak air laut yang menenangkan. Dia tidak ingin memerhatikannya terlalu lama karena rasa hambar akan segera memenuhinya. Lalu, dengan bom waktu di tubuhnya, dia melompat kedalam dinginnya air laut.

'Tenang dan sunyi... dan dingin... aku ingin tahu apakah kegelapan tetap akan menemaniku bahkan di detik-detik kematianku?' Pemikiran itu sirna saat Dazai Osamu membuka mata—hanya untuk melihat cahaya bulan yang sinarnya bahkan menembus gelapnya lautan. Kilaunya berpadu dengan air dan membuatnya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik. 'Indah... ah... aku tidak menyesal...'

Otaknya yang jenius menghitung detik dalam sunyi. Dia memasang lima belas detik sebelum melompat kedalam air. Sekarang tersisa sembilan, yang diisinya dengan memerhatikan cahaya bulan lekat-lekat.

'Delapan...'

Cahaya yang tadinya bersinar terang perlahan-lahan hilang seiring dengan napasnya yang sesak.

'Tujuh...'

Semakin dalam dia tenggelam, semakin redup cahaya yang bisa dilihatnya. Tapi kenapa hal itu malah membuatnya semakin terlihat cantik?

'Enam...'

Ah... Dazai Osamu bersyukur dapat melihat keindahan ini sebelum kematiannya.

'Lima...'

Dia bersyukur, untuk pertama kalinya karena walaupun sudah beberapa detik berlalu, cahaya bulan itu tetap terlihat indah di matanya.

'Empat..'

Ini adalah pertama kalinya dia tidak merasa bosan.

'Tiga...'

Ataukah karena dia tahu bahwa sebentar lagi dia akan mati, sehingga Dazai Osamu bisa benar-benar menikmati keindahan yang mungkin tidak akan pernah dilihatnya lagi?

'Dua...'

Sebuah kurva terbentuk di bibir. Sebuah senyum kelegaan. Setelah ini, mungkin dia bisa menemukan apa yang dicarinya tanpa harus merasakan rasa 'bosan' yang memuakkan.

'Satu...'

BOOOM!

.

.

.

Keesokan paginya, koran pagi memberitakan tentang terbunuhnya seorang pria muda berusia dua puluh lima tahun yang mati karena bom bunuh diri di sekitar dermaga.

End.

A/n:

Uh... jadi begini, ini ide buat aku sebenernya. Tapi karena cocok buat tema bulan ini, ya aku pakai aja.

Laut adalah penggambaran dari kolam renang dan cahaya bulan adalah penggambaran dari cahaya matahari.

Ya, kurasa mati karena tenggelam bukanlah hal yang buruk, bukan? Ditemani cahaya gemerlap dari pantulan matahari, ditemani dinginnya air kolam, ditemani sesak dan sunyi. Terdengar sangat indah...