Malam itu adalah malam yang cerah karena bulan sedang penuh menguasai langit. Cahayanya berpendar kekuningan, begitu terangnya hingga tak ada bintang yang berani mengusik. Yoongi sedang melamun, duduk memeluk sekeranjang kecil bahan masakan ketika Jimin membuka pintu gerbang rumah dan masuk dengan langkah yang sempoyongan. Suaminya itu melempar senyum dan seketika jatuh memeluk erat ketika ia berdiri.
"Aah bahagianya aku menemukanmu," racau Jimin, kemudian sekecup bibir dia berikan.
"Heh, kau mabuk?"
"Hmmm… apakah aku terlihat mabuk?"
"Sangat."
"Aku minum dengan Sungwoon dan lainnya, dan mengutuk para centeng di tiap gelas, dan—nnhh…"
"A-ah, apa yang kaulakukan?"
Jimin menciumi leher Yoongi dan menyusupkan tangannya ke pakaian yang dikenakan istrinya itu. Pinggul lebar Yoongi dielus-elus, bolak-balik, selagi bibirnya dijarah. Napas Jimin begitu berat, bau arak. Dia juga berkeringat. Yoongi merasakan ereksi Jimin jadi ganjalan. Tanpa melepas ciuman, ia lalu menyentuh kejantanan suaminya itu dan meremasnya. Jimin melenguh, tautan bibir itu terlepas sejenak. Tanpa mau ambil banyak jeda, ia kembali melahap bibir tipis istrinya beberapa kali, lalu berhenti hanya untuk melihat sepasang mata onyx itu.
"Apa yang terjadi?" Yoongi mencoba memancing, namun Jimin tidak memberinya jawaban melainkan ciuman yang lain. Ia memegangi kepala suaminya, menaruh jari-jari panjangnya di antara rambut hitam Jimin yang berantakan. Lelaki itu lagi-lagi melepas ciuman duluan, sehabis membuat mulut dan dagu Yoongi belepotan air liur.
Jimin menempelkan bibir basahnya di telinga Yoongi lalu berbisik kasar, "Aku ingin…"
Ia lalu mengangkat istrinya dan menggendongnya ke kamar. Yoongi yang sudah mendarat di kasur lalu dilepas pakaiannya. Dengan tergesa, Jimin kemudian melepas pakaiannya sendiri. Lelaki itu lalu merangkak dan menempatkan dirinya di antara dua kaki Yoongi yang terbuka. Tanpa ragu ia mencium perut istrinya itu dan menyusurinya sampai ke bagian dada. Yoongi seketika memekik sewaktu Jimin menyedot putingnya. Di bawah sana, kepala penis Jimin menyodok-nyodok, walau belum masuk ke lubangnya. Mulut basah Jimin dipakai untuk meludah di atas tangannya sendiri. Air liurnya banyak dan encer. Ia lalu menggunakan itu untuk penetrasi sebelum memasuki sarang.
Yoongi tidak segan untuk mengeluarkan suara keras ketika dirinya sedang dimanja. Ia tahu Jimin tidak suka kalau ia menahannya. Ia tahu suaminya itu akan senang mendengar apapun yang keluar dari bibirnya. Jimin suka suara erotis Yoongi yang serak dan patah-patah.
"Aku masuk, ya."
Yoongi mengangguk, lalu Jimin memasukkan penisnya sembari memeluk. Di punggung sang suami, Yoongi tancapkan kukunya. Ia melenguh panjang, merasakan betul-betul ketika benda keras nan besar itu menerobos dan melewati tiap titik dalam lubang senggamanya. Tidak butuh waktu lama sampai batang penis itu tertelan, karena itu pula, Jimin segera saja menggerakkan pinggulnya.
"Jimh… Jiminh…"
"Nde…?"
"Nnghh… ahhhh…"
"Lihatlah betapa cantiknya mata ini…"
Jimin mengecup mata kanan Yoongi lama, tepat di atas bekas luka yang melintang dari alis hingga sedikit ke pipinya. Diam-diam perasaan Yoongi menghangat, karena dia merasa sangat dicintai. Jimin merasakan asin, lantas ia pun memundurkan kepalanya sedikit. Ternyata Yoongi, istrinya yang cantik jelita itu, sedang menangis sambil tersenyum.
.
moonshadow
BTS fanfiction
BTS belongs to Bighit, characters belong to themselves
Inspired by Daechwita MV
Mpreg/LEMON/Explicit
Don't like don't read!
.
Jimin dan Yoongi adalah sepasang suami istri yang tinggal di rumah kecil sederhana di sebuah desa. Mereka hanya orang biasa, bukan bangsawan atau apa pun. Sehari-hari Jimin bekerja sebagai pelayan restoran di kota, sementara Yoongi tinggal di rumah. Mereka hidup berdua tanpa anak. Walau sudah hampir satu windu bersama, tidak pernah ada tanda-tanda kalau akan ada bayi kecil di keluarga mereka setelah Yoongi mengalami keguguran beberapa tahun lalu.
Suatu ketika Yoongi pernah berkata kalau ruh bayinya mungkin takut melihat ia yang memiliki bekas luka lebar di wajah sehingga memilih untuk pergi dan tidak pernah kembali. Walau terdengar konyol, Jimin paham bahwa ketakutan Yoongi begitu besar, sejalan dengan kebenciannya pada luka itu sendiri.
Yoongi adalah pribadi yang tertutup. Ia tidak pernah pergi kemana pun kecuali tempat-tempat tertentu di sekitar desanya seperti ladang atau bukit. Ia takut berada di kerumunan dan merasa tidak nyaman jika orang lain memerhatikannya. Ia menyerah untuk pergi ke pasar bersama Jimin, apalagi untuk ke kota. Maka dari itu, dari pagi sampai malam, setiap hari, ia hanya berdiam di rumah, di balik pintu yang tertutup rapat, menunggu suaminya pulang.
Pagi itu, Yoongi terbangun dengan badan yang sakit di beberapa bagian, terutama selangkangannya. Suaminya masih mendengkur, tidur lelap seperti tak ingat kalau hari ini dia masih harus bekerja. Yoongi kemudian memilih untuk mengenakan pakaiannya, lalu mencuci muka dan setelah itu memasak. Dia akan kembali untuk membangunkan Jimin setelah sarapan siap.
Yoongi menimba air, mengisi ember kayu ceper yang lebar untuk cuci muka. Saat ember itu telah penuh, ia duduk di atas batu lalu membungkuk dan melihat refleksi dirinya di sana. Ia menyentuh wajahnya sendiri. Bekas lukanya masih ada dan nyata. Semalam ia mimpi kalau luka itu hilang, dan dia berbahagia. Dalam mimpi itu dia hendak memberitahu suaminya untuk berbagi kesukariaan, hanya saja ia melihat Jimin memunggunginya dan berjalan menjauh. Seseorang berdiri di tempat yang Jimin tuju tapi Yoongi tidak ingat bagaimana wajahnya. Mimpi itu kabur, hanya patahannya yang masih dapat Yoongi ingat. Ia menggeleng lalu buru-buru membasuh muka untuk melupakannya. Ya, ia merasa lebih baik lupa.
"Yoongi…"
Ia berbalik ketika mendengar suara suaminya. Di ambang pintu kamar, Jimin berdiri dengan mata yang masih rapat. Lelaki itu menggaruk-garuk kepalanya dan membuat rambutnya semakin kusut. Ia hanya mengenakan celana sementara bagian atas tubuhnya tidak tertutupi apa-apa. Yoongi mengelap muka lalu bangun. Ia berjalan menghampiri suaminya yang telah duduk menggantung kaki.
"Aku lupa membangunkanmu," kata lelaki itu, sembari memeluk dan menyungkurkan wajah di perut Yoongi.
"Tidak apa. Toh masih cukup waktu untukku memasak sarapan. Lagipula aku merasa tidak ada gunanya kalau kau bangunkan aku kemudian tidur lagi dan baru benar-benar beranjak dari kasur setelah aku berteriak sarapan sudah jadi."
Jimin mengangkat wajahnya lalu mencebik sebal, tidak mau mengakui kalau perkataan istrinya adalah benar. Kebiasaannya adalah mencolek sang istri untuk membangunkannya, lalu setelah Yoongi bangun Jimin akan tidur kembali.
"Kau mau masak apa?"
"Aku mau masak kongnamulguk saja, kau kan habis mabuk."
"Ah, iya, betul. Semalam aku mabuk. Kepalaku masih sakit rasanya."
"Kau jarang minum sampai mabuk, lho. Apa yang terjadi semalam sampai kau mau pergi minum dengan teman-temanmu?"
"Sshh," Jimin mendesis, "kau tahulah. Para centeng itu berulah lagi. Mereka makan di restoran kami dan tidak mau membayar, lalu mereka berbuat onar walau Tuan Jang sudah menyerahkan upeti. Katanya itu kurang, jumlah upeti yang harus diserahkan bulan ini sudah naik."
"Mereka mengacau?"
"Hm. Dan siapa yang harus mengurusi bekas kekacauan itu? Kami, pelayan restoran. Saking capeknya, kami kemudian sepakat untuk minum untuk meluapkan stres."
"Kau harus berhati-hati dengan centeng-centeng itu. Mereka bisa saja melukaimu. Lebih baik kau kabur kalau melihat mereka."
"Ehh, aku masih beruntung karena aku berada di lantai dua ketika kekacauan itu terjadi. Kalaupun mereka mau cari masalah denganku, aku akan lari supaya selamat."
"Kau ini laki-laki macam apa, sih? Kok lari!"
"Tadi katamu aku lebih baik kabur?"
"Kupikir kau akan menyanggah lalu bilang kalau kau akan melawan mereka andai orang-orang itu muncul di hadapanmu!"
"Ha ha ha ha! Jadi kau maunya bagaimana?"
"Tidak tahu!" Yoongi memukul pelan bahu Jimin dan mendorongnya menjauh.
"Tunggu, apa itu?" Jimin mencondongkan tubuhnya ke samping kemudian mengulurkan tangan untuk menggapai sebuah keranjang kecil. "Siapa yang meninggalkan kentang di luar?"
Yoongi mendengus sembari menutup matanya. "Aku." Ia merebut keranjang itu lalu berjalan ke dapur. "Gara-gara kau menyerangku semalam, kentang ini jadi terlupakan."
Jimin tergelak. Ia menyusul Yoongi lalu dengan iseng menampar pantatnya yang kencang.
.
moonshadow
.
Di lain tempat, seorang Raja tengah bersiap untuk menghadiri pertemuan dengan para menteri.
Raja itu bernama Yoongsun. Ia lahir dengan rambut pirang pucat yang jelas-jelas sangat berbeda dari orang Korea lainnya. Satu tetua dukun mengatakan saat itu naga emas terbang meliuk-liuk di atas istana, dan bisa jadi naga itu menjelma menjadi dirinya.
Ia adalah satu-satunya raja yang tidak memiliki ratu atau juga selir. Sejak masih berstatus sebagai wangja, perempuan-perempuan yang diangkat sebagai pendampingnya selalu berakhir mati tak wajar tepat sehari sebelum upacara pernikahan dilaksanakan. Ada desas-desus yang beredar bahwa Yoongsun dikutuk untuk tidak bisa memiliki pendamping atau juga keturunan. Beredar juga isu lainnya yang mengatakan bahwa Yoongsun memiliki ilmu hitam dan mengambil saripati kehidupan perempuan-perempuan itu untuk mempercantik diri. Sejak muda, ia memang dikenal sebagai pangeran tercantik di istana. Dia bisa membuat perempuan atau laki-laki jatuh cinta dalam pandangan pertama.
Beberapa pihak tak menyukainya karena ia dinilai arogan dan memiliki potensi untuk memberontak, alasan lain, tentu saja karena gosip-gosip mengenai kutukan dan ilmu hitam itu. Mereka sengaja ingin menyingkirkannya dan membuat Hansung (wangja kandidat raja selain Yoongsun) naik tahta. Namun mereka tidak berhasil melakukan itu karena Hansung kalah di duel pedang dengan Yoongsun dan berakhir menjadi gila. Ia kemudian dikurung di penjara dan tidak pernah dikeluarkan selama bertahun-tahun.
Tidak lama setelah duel berdarah itu Permaisuri meninggal dunia disusul dengan Raja yang mati karena serangan jantung. Yoongsun otomatis naik tahta. Kekacauan mulai terjadi setelah Yoongsun dinobatkan menjadi raja karena ia dengan gamblang menyampaikan pada seluruh kabinet istana bahwa ia akan menjalankan pemerintahan seperti yang ia mau, bukan seperti yang menterinya mau. Dengan kekuasaan itu, Yoongsun bersikap semena-mena. Menteri yang berani melawannya langsung dieksekusi mati. Setiap habis memenggal, Yoongsun akan mengadakan pesta. Dari sini, orang-orang menjadi takut untuk berurusan dengannya. Mereka hanya bisa patuh, kalau tidak mereka akan mati dan kepalanya akan digantung sebagai trofi.
"Namjoon, apa kau tahu? Semalam aku memimpikan seorang lelaki. Aku tidak tahu siapa dia karena aku tak ingat wajahnya, tapi dia berhasil membuatku bangun dalam keadaan gerah. Luar biasa lelaki itu."
Perkataan Yoongsun membuat para pelayan yang sedang mendandaninya seketika menjadi kikuk dan malu. Mereka semua perempuan dan ia menujukkan kepada perempuan-perempuan itu bahwa dia adalah seorang homo.
Ya, Yoongsun tidak tertarik kepada perempuan. Alih-alih mengawini dayang dia malah memanggil para jenderal atau juga pangeran untuk tidur dengannya. Dalam hal seks, dia lebih suka melampiaskan nafsunya kepada lelaki karena mereka kuat, tangguh dan dinilai dapat memuaskannya.
"Jeonha."
Jenderal Namjoon, pengawalnya, menyahut tapi tidak mengiyakan atau apa pun. Nadanya yang datar membuat Yoongsun menyeringai.
"Apa menurutmu aku harus menemukannya?"
Yoongsun mengangkat dagu, melihat pantulan wajahnya di cermin dengan angkuh. Seorang pelayan baru saja selesai menusukkan hiasan di kepalanya. Kini giliran pelayan lain untuk memasangkan giwang di kedua telinganya. Yoongsun memilih giwang emas yang menggantung panjang.
"Jeonha, hamba pikir itu hanya sekadar mimpi. Orang yang Anda lihat mungkin juga tidak nyata. Terlebih lagi, Anda tidak mengingat seperti apa wajahnya."
"Jadi maksudmu mimpiku hanya omong kosong dan kau menyuruhku untuk melupakannya, begitu?"
"Tidak, Jeonha."
Yoongsun mendecak.
Setelah selesai didandani, ia meminta para pelayannya untuk keluar dari ruangan. Hanya dirinya dan Namjoon yang tersisa. Ia membalik badan membelakangi meja rias. Ujung pakaiannya disibak ke samping supaya dia bisa duduk dengan bebas. Ia menyandarkan punggung ke tepi meja. Satu tangannya dipakai untuk tumpuan dan satunya menjangkau sebuah wadah manisan.
"Kau tahu kenapa aku suka manisan ini?" Yoongsun memasukkan satu buah ke dalam mulutnya lalu mengunyah. "Karena dia punya rasa asam, sehingga mulutku becek."
Namjoon berdiri di situ, tidak berekspresi, tidak merespon. Yoongsun tertawa remeh, merasa sebal karena candaannya tidak ditanggapi. Ia kemudian mengangkat tangannya dan menunjuk lelaki itu. Ia bertitah, "Duduk."
Namjoon duduk, tapi Yoongsun belum puas. Masih ada beberapa meter jaraknya di antara mereka.
"Tidak seperti itu. Duduklah di depanku."
Lelaki itu menurut, dan dia kini duduk di hadapan rajanya. Tapi karena Yoongsun masih juga belum puas, ia sendirilah yang mendekat pada Namjoon. Badannya dicondongkan ke depan, sehingga wajahnya dan wajah pengawalnya itu menjadi sangatlah dekat. Yoongsun menatap nyalang pada Namjoon yang melulu melihat ke bawah.
"Angkat kepalamu. Tatap aku. Kenapa kau jadi begini, huh? Kau seolah-olah enggan melihatku padahal terakhir aku bertemu denganmu kau menggagahiku setengah mampus."
"Jeonha."
"Tatap aku, Jenderal Kim Namjoon," tegas Yoongsun.
Namjoon mau tak mau menatap lelaki itu.
"Ada yang ingin kaukatakan?"
"Maafkan hamba, Jeonha… hamba hilang kendali, hamba sangat menyesal."
"Iya, ya, kau mana sadar? Memang aku sengaja memasukkan obat ke dalam minumanmu sehingga kau tidak bisa bertahan duduk lama mengawasiku menulis rumusan. Aku senang waktu kau jatuh ke perangkapku dengan mudahnya. Kau suka melihat rambutku yang tergerai bebas, kan? Betapa beruntungnya kau malam itu."
"Jeonha…"
"Buka mulutmu lebar-lebar."
Yoongsun memasukkan sebuah manisan ke dalam mulut Namjoon, kemudian menyambar bibir itu tanpa aba-aba. Namjoon yang terkejut hilang keseimbangan. Untunglah ia sempat menaruh tangan sebagai tumpuan. Yoongsun melahap bibirnya dengan tak sabaran. Ia bahkan naik ke pangkuan Namjoon dan menarik kerah pakaian pengawalnya itu untuk mendapat ciuman yang lebih dalam.
"Ah sialan kau Namjoon! Kenapa kau tidak mau makan manisan itu?!"
Yoongsun berteriak seraya menghempaskan Namjoon dan tak lagi mencengram kerah bajunya. Ia berdiri lalu meludah, membuang manisan yang sudah tak berbentuk itu ke lantai. Yoongsun marah karena Namjoon tidak mau menelan manisan yang sengaja ia dorong ke dalam tenggorokannya dengan lidah. Namjoon mengelap bibirnya yang basah. Ia membenarkan duduknya ke posisi semula lalu bersujud.
"Maafkan hamba, Jeonha—"
"Bangun."
Ketika bangun, Namjoon dilempar wadah manisan. Benda keras berbahan keramik itu mengenai tulang pipinya. Manisan yang semula berkumpul rapi kini berceceran di lantai. Ia sedikit mengulum bibir untuk menahan sakit. Di hadapannya Yoongsun berdiri sambil berkacak pinggang.
"Jangan dipungut. Biarkan saja para pelayan yang membersihkannya. Kau ikut aku sekarang. Aku sudah siap untuk bertemu dengan para menteri."
Namjoon bangkit berdiri setelah Yoongsun membalik badan dan berjalan ke pintu. Hanya saja, baru beberapa langkah, rajanya itu malah berhenti dan menoleh ke belakang. Yoongsun tiba-tiba saja tertawa.
"Aku senang kau melihat mataku." Dia berjalan pada Namjoon, lalu menangkup wajah lelaki itu dan menariknya untuk menaruh sekecup bibir. "Malam ini, kau tidur denganku, ya."
.
moonshadow
.
Yoongi mengelap keringat dengan punggung tangan. Baru setengah jalan sampai ke puncak bukit, ia sudah berpeluh dan kelelahan. Matahari bersinar terik, untung saja angin berembus membawa kesejukan. Ketika sedang melamun di rumah, ia terpikirkan untuk membuat hwajeon untuk suaminya itu, berhubung ia dan Jimin belum merayakan datangnya musim semi. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke bukit dan memetik beberapa tangkai azalea untuk pelengkap.
Ia berhenti sejenak untuk merasakan embusan angin. Agak kencang memang, tapi ia butuh itu. Anak-anak rambutnya tersapu. Ia dapat dengan jelas mendengar suara serangga atau juga gemerisik dedaunan yang saling bergesek. Kebetulan, tidak ada siapa pun di tempat itu. Ia merasa lega karena tidak harus menutupi wajahnya dengan melulu menunduk.
Yoongi kembali berjalan setelah merasa lelahnya berkurang. Langkahnya jadi tidak terlalu berat. Mengingat Jimin membuat semangatnya tumbuh kembali. Di puncak, Yoongi melihat bebungaan berwarna keunguan. Azalea sedang mekar sempurna hari itu. Yoongi senang karena ia tak sia-sia datang ke sana. Karenanya, segeralah ia memetik mereka.
"Kalian benar-benar cantik," ucapnya pada bunga-bunga itu.
Dia berjongkok sembari memandangi mereka dengan tatapan yang teduh. Yoongi tentu saja ingin menjadi sempurna seperti bunga. Namun apa yang bisa ia lakukan dengan lukanya yang membekas?
Ketika melihat langit yang megah dan ladang yang terbentang luas, ia teringat pada masa kecilnya di mana ia tidak bisa mendapatkan pemandangan seperti ini. Yoongi selalu dikurung di rumah dan tidak dibiarkan keluar sama sekali. Orangtuanya bilang di dekat rumahnya hidup seorang penyihir yang suka memakan anak kecil. Dulu Yoongi percaya itu, hingga setiap kali ditinggal orangtuanya bekerja ia akan bersembunyi di ruang yang tertutup dan tidak berani mendekati pintu gerbang. Namun setelah beranjak dewasa ia mulai menganggap bahwa ucapan orangtuanya hanyalah bualan.
Di usianya yang ke-13 tahun, ia mulai suka kabur diam-diam dan pergi berkeliling desa, lalu kembali ke rumah sebelum matahari terbenam. Suatu ketika ia pergi agak jauh sampai ke pasar. Kebetulan pasar itu sedang ramai sekali karena festival. Yoongi takjub melihat banyaknya mainan dan pernak pernik yang dijajakan. Ada banyak pula pedagang makanan dan camilan. Anak kecil itu memandang kertas-kertas berwarna-warni yang digantung melintang menghiasi jalanan, dari satu bangunan ke bangunan lain. Ia berjalan sembari terus melihat ke atas, tidak sadar kakinya tersandung. Ia terjatuh. Seorang lelaki tua membantunya berdiri. Yoongi berterimakasih dan hendak berlalu, tapi lelaki itu menahannya dengan cengkraman kuat di pergelangan tangan. Lelaki itu menaruh jari telunjuk di bibir dan menatapnya dalam-dalam. Yoongi ketakutan hingga tidak mampu berbicara. Kemudian dengan cepat Yoongi digendong, dan ketika dia hendak berteriak bibirnya dibungkam. Yoongi dibawa menjauh dari keramaian ke gang sempit yang gelap. Di situ, Yoongi hendak diperkosa, tapi teriakan histerisnya menghentikan lelaki itu. Kepala Yoongi didorong hingga badan mungilnya terjatuh di tumpukan kayu bekas. Wajahnya mengenai bagian tajam dari sepotongan kayu hingga kelopak mata sampai pipinya tergores. Lelaki itu kabur entah ke mana. Yoongi kecil ditinggal dengan darah yang bercucuran dan rasa sakit yang tak tertahan. Sambil menangis ia berjalan tertatih untuk pulang. Saat itu ia melihat seorang anak lelaki berlari tergesa menghampirinya. Dia tidak mengenal anak itu sama sekali, tapi tidak menolak ketika diberi selembar kain bekas ikat kepala untuk menutupi wajahnya yang berdarah.
"Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang."
Itulah saat di mana dia bertemu dengan Jimin, yang kemudian menjadi suaminya sekarang.
Setelah kejadian itu ia tidak pernah berani lagi keluar rumah, namun pertanyaan mengenai ia yang melulu disembunyikan tetaplah ada. Setelah ayahnya menghilang dan dikabarkan mati, ibunya memberitahu bahwa sebetulnya Yoongi adalah anak raja yang terbuang.
"Kami dititipi amanat oleh Permaisuri untuk menjaga Anda, Pangeran."
Ibunya berbicara dengan nada yang berbeda dari biasanya dan tiba-tiba bersujud di hadapannya. Dunia Yoongi serasa jungkir balik saat itu. Ada sebuah fakta besar yang tak diketahuinya selama belasan tahun.
Yoongi merupakan saudara kembar dari Raja Yoongsun yang sedang berkuasa. Ia adalah anak yang diputuskan untuk disingkirkan, karena jika terlahir anak kembar, hanya satu yang boleh hidup atau mereka akan menyebabkan perubahan dunia. Raja memilih untuk mempertahankan Yoongsun karena ia diberkati oleh naga emas, sementara ketika Yoongi lahir, naga itu pergi, meninggalkan langit yang gelap dan bulan yang tertutupi awan. Karena Raja yakin kalau Yoongi akan membawa petaka, maka pada malam setelah ia dilahirkan, ia mesti dibunuh. Namun Permaisuri diam-diam tidak menyetujui itu. Jadi alih-alih menyerahkan bayinya untuk dijagal, ia menitipkan Yoongi kepada salah satu jenderal kepercayaannya untuk disembunyikan, dan memalsukan kematian anaknya. Ia mau Yoongi tetap hidup, walau harus terpisah dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk kembali.
Yoongi kemudian diasuh oleh kerabat dari jenderal itu dan tumbuh besar di desa terpencil yang jauh dari ibu kota. Ia tidak boleh menampakkan dirinya sama sekali dan orang-orang tidak boleh tahu kalau ia masih hidup.
Semua itu membebaninya hingga hari ini. Jimin tidak mengetahui kebenaran tentangnya dan Yoongi memilih untuk tetap bungkam. Suaminya lebih baik tidak tahu apa-apa. Ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika Jimin tahu. Bagaimana jika Jimin meninggalkannya? Bagaimana jika Jimin mati karenanya?
Jujur saja Yoongi merasa bersalah. Ia mencintai Jimin dengan tulus dan tidak mau kehilangan lelaki itu. Tapi apa yang bisa ia perbuat selain terus berbohong?
Tanpa sadar air matanya menetes di atas kelopak bunga azalea yang telah ia petik. Yoongi menghapusnya segera dan menahan tangisan itu agar tidak keluar. Ia buru-buru memetik beberapa tangkai, tapi terhenti kemudian saat pandangannya jatuh di suatu titik yang jauh di garis meridian.
Jika memang saudara kembarnya hidup di istana, apa yang kiranya sedang ia lakukan? Bagaimana kehidupannya di sana?
.
moonshadow
.
"Jeonha, Anda melamun?"
Yoongsun duduk di tahtanya, dengan satu tangan memainkan bibir. Rapat telah selesai dan semua menteri telah pergi. Ruangan itu menjadi sepi karena tidak ada yang berjaga di dalam. Yoongsun mengusir mereka dan menitahkan untuk berjaga di luar saja. Ia tidak terlalu suka seruangan dengan banyak pelayan dan penjaga yang hanya diam menunduk seperti patung.
"Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Apa itu?"
"Rasa bosan ini melanda, dan aku tak lagi berminat pada apa yang ada. Aku ingin pergi ke luar istana dan melihat apa yang anjing-anjing itu lakukan di jalanan. Bagaimana menurutmu?"
Namjoon tahu yang Yoongsun maksud adalah orang-orang miskin dan para budak. Mereka adalah anjing di negeri ini.
"Hamba tidak akan melarang, tapi tolong pikirkan dengan matang jika Anda hendak melakukan itu."
"Aku tidak akan mendengarkanmu." Yoongsun terkekeh. Ia hanya bertanya untuk mengerjai Namjoon, bukan benar-benar meminta pendapat. "Besok, aku akan pergi. Siapkan kuda untukku."
.
.
.
moonshadow
part 1: END
